CHAPTER 4


Piip piip piip piip

Mata Luhan perlahan terbuka mendengar suara berisik dari ponsel Baekhyun. Astaga alarm apa lagi itu? Bel sekolah yang terdengar dipenjuru sekolah sudah cukup membuat tidur Luhan terganggu pagi tadi. Bel berbunyi pada jam 7 di pagi hari, di hari sabtu. Sungguh menyebalkan. Fikir Luhan.

Luhan menggeliat seperti anak kucing yang baru bangun tidur lalu duduk ditempat tidurnya. Matanya menangkap Baekhyun yang sedang berkaca sambil mengenakan rompinya.

"Hey. Sedang apa?" Tanya Luhan. Baekhyun menoleh, "Ah, sudah bangun ya. Syukurlah alarm itu berfungsi." gumam Baekhyun sambil tersenyum.

"Jadi kau yang memasang alarm itu?"

"Ya. Agar kau bangun lebih cepat."

"Ini Jam berapa?"

"Jam 7. Cepat mandi sana."

"Mandi? Untuk apa? Ini kan hari sabtu."

Baekhyun menghela nafas lalu berbalik menatap Luhan. "Ya! Kau ini lupa, atau pura-pura lupa?"

"Apa?"

"Hari ini ekskul fotografi. Cepatlah, kelasnya dimulai jam 8. Cepat mandi!"

Oh ya. Luhan baru ingat. Ekskul fotografi yang sudah direncanakan oleh Baekhyun secara sepihak. Luhan menghela nafas. "Kau tau, kepalaku tiba-tiba—"

"Jika kau ingin pura-pura sakit, Maka berhentilah. Karena aku tau kau baik-baik saja." Sela Baekhyun langsung. "Cepatlah bangun!" ujar Baekhyun sambil menarik tangan Luhan. Luhan akhirnya menyerah, ia mengambil handuk dan keluar kamar untuk mandi.


Baekhyun dan Luhan sudah keluar dari asrama mereka menuju ke kelas fotografi di Gedung utama.

Luhan menguap, "Baek, aku masih mengantuk." keluh Luhan.

Baekhyun memutar bola matanya lalu mendorong bahu Luhan dari belakang, "Berisiik kau pemalaas. Cepat saja jalan dan diamlah."

Luhan hanya mengikuti perintah Baekhyun, masih pagi dan ia malas berdebat.

Akhirnya mereka sampai depan kelas fotografi. Baekhyun membuka pintunya dan mereka berdua melangkah masuk.

Didalam sana sudah terdapat beberapa murid. Dan dipojok kelas, ada Sehun, Kai, dan Chanyeol. Chanyeol sedang membersihkan lensa kameranya, Kai sedang mengganti lensa, dan Sehun... ia sedang memotret barang-barang kecil disekitarnya. Sesekali ia tertawa dan menunjukannya pada Chanyeol atau Kai.

Tanpa sadar Luhan menahan nafasnya melihat pemandangan itu. Cara Sehun memotret dengan kameranya sangat...keren. fikir Luhan.

"Hey." gumam Baekhyun tiba-tiba membuyarkan lamunan Luhan. "e-eh? ya? Apa?"

"Ayo cari tempat duduk, kenapa diam saja?"

"O-oh, ya. Ayo" Luhan masih belum bisa bernafas dengan normal karena pemandangan tadi. Oh Luhan, Jangan berlebihan. gumamnya pada dirinya sendiri.

"Chanyeol!" sapa Baekhyun, sambil menghampiri Chanyeol, Kai, dan Sehun. Tidak hanya Chanyeol yang menoleh, tapi Sehun dan Kai juga.

Chanyeol tersenyum lebar, "Hi Baek!" lalu matanya beralih ke Luhan, "Oh, Hi juga pencuri coklat!" sapa Chanyeol dengan nada bercanda.

Luhan tertawa, "Coklatnya enak." gumam Luhan santai. Sementara Baekhyun mem-pouts-kan bibirnya, "Jangan membicarakan coklat itu lagi."

Luhan merangkul pundak Baekhyun, "Jangan seperti itu lah."

"Hey, Luhan." Panggil Sehun. Luhan menoleh, dan...

Klik.

Luhan mengerjap, "Y-ya! Jangan memotret orang sembarangan!"

Sehun tertawa, "Tenanglah, hasilnya bagus kok." jawabnya santai.

"Attention please!" teriak seorang namja tiba-tiba.

Itu Kim Myungsoo songsaenim. Guru yang akan mengajar mereka di kelas fotografi ini. Sehun, Chanyeol, dan Kai sudah mengenalnya. Tapi tidak dengan Baekhyun dan Luhan yang baru saja mengikuti kelas ini dengannya.

"Selamat pagi semua. Seperti biasa, hari ini kita akan memulai kegiatan fotografi. Saya mengucapkan selamat bergabung pada murid-murid yang baru masuk kelas ini." ia berhenti sebentar lalu melanjutkan, "Berhubung banyaknya murid baru yang masuk ke kelas ini. Hari ini kita akan memotret dari hal-hal dasar yang mudah."

Myungsoo Songsaenim berjalan ke tengah-tengah lalu menunjuk ke arah meja panjang yang ada di sebelah kanan. "Disana ada 10 kamera DSLR. Satu kamera dipakai oleh 2 orang. Bawa buku dan pulpen untuk mencatat objek apa saja yang harus kalian potret."

Chanyeol berbisik pada Baekhyun, "Kau denganku ya?"

Baekhyun menoleh lalu mengangguk semangat, "Tentu saja."

"tunggu, tunggu. Kalau kau dengan Baekhyun, aku dengan siapa?" sela Luhan.

"Tentu saja denganku." sahut Sehun. Luhan melirik Sehun tajam. "Kau fikir aku mau?" jawabnya sinis.

"Kai, aku denganmu saja!"

"Aku dengan kyungsoo." jawab Kai simple. Luhan menghela nafas sementara Sehun terkekeh pelan. "Kau itu jodoh denganku"

"Diamlah!"

Lalu Myungsoo songsaenim berdehem, "Oh ya. Seperti biasa, Chanyeol, Kai, dan Sehun membawa kamera mereka sendiri. Jadi 10 kamera disana bisa untuk 20 orang."

Semua murid mengangguk mengerti.

"Ada 20 objek yang akan kalian foto. 6 berada di dalam sekolah, dan yang 14 berada di luar sekolah. Ini listnya." Myungsoo songsaenim menggeser papan tulis itu dan beberapa nama objek muncul disana. "Catat. Lalu cari objek-objek ini. Saya beri kalian waktu 3 jam. Jam 11 kalian sudah harus kembali ke sekolah lalu cetak foto-foto yang sudah kalian ambil dan berikan hasilnya pada saya. satu orang potret 10 objek dan beri nama pemotret pada bagian belakang foto yang sudah dicetak. Sudah jelas?"

"Jelas." jawab para murid serempak.

"Baiklah, Catat list ini, dan Selamat memotret!"

Semua murid segera mengeluarkan buku dan pulpen mereka untuk mencatat list yang ada di papan tulis.

Luhan dan Baekhyun kebagian menulis sementara partner mereka asik dengan kameranya.

"Sudah." gumam Baekhyun senang. "Sudah? Baiklah, kalau begitu ayo!" ajak Chanyeol, lalu mereka berdua berjalan keluar kelas.

Sementara Luhan yang mencatat dengan malas itu belum kunjung selesai. Sehun memperhatikan Luhan lalu... Klik. Memotretnya.

Luhan menghela nafas lalu memberikan list itu pada Sehun, "Ini, sudah."

"Baiklah, kalau begitu ayo!" ujar Sehun semangat lalu berjalan keluar kelas dengan Luhan mengikuti di belakang.


Sehun memberikan kameranya pada Luhan, "Ini, pakailah untuk memotret objek yang ada di sekolah. Aku sudah pernah melakukannya, jadi sekarang kau saja"

Luhan mengangguk lalu mengambil kamera Sehun dan mengalungkannya dileher. Ia menatap kamera itu sejenak. Kamera seperti ini mengingatkannya pada ibunya yang suka sekali memotret, banyak foto-foto Luhan yang diambil sendiri oleh ibunya.

Sehun mengangkat alisnya, "Kau tidak tau cara memakainya?"

"e-eh? Tentu saja aku tau!" Lalu Luhan mulai mengarahkan kameranya ke objek pertama yaitu Gedung utama sekolah.

Luhan mundur selangkah lalu mulai mengatur zoom dan pencahayaannya. Kemudian, klik.

Luhan memamerkan hasilnya pada Sehun, "Bagaimana?"

Sehun mengangguk, "Tidak terlalu buruk." komentarnya. Luhan tertawa, "Ini bisa dibilang bagus untuk pemula sepertiku." katanya sombong. "Baiklah, ayo potret yang lain!" gumam Luhan semangat lalu berlari.

Sehun menghela nafasnya yang tanpa sadar ditahannya sedari tadi. Itu pertama kalinya ia melihat Luhan tertawa, dan ... entahlah, sehun tidak bisa mengerti ada apa dengan dirinya. Melihat Luhan tertawa membuat dadanya berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya.

"Heey Sehuun! Cepat kesinii!" teriak Luhan yang sudah berada agak jauh dari Sehun.

"Y-ya!" sahut Sehun, lalu berlari ke arah Luhan.


Luhan tidak pernah menyangka memotret adalah kegiatan yang mengasyikan. Ia sudah memotret 6 objek yang ada disekolah dan hasilnya tidak terlalu buruk. Sekarang Luhan dan Sehun sedang berjalan menuju parkiran untuk mengambil motor Sehun dan menggunakannya untuk keluar sekolah.

"Sehun, memangnya boleh mengendarai motor keluar area sekolah?"

"Tidak apa-apa, santai."

Lalu ketika mereka sampai, Sehun memberikan sebuah helm pada Luhan. "Pakai ini."

Luhan menurut dan memakainya. "Kau ini seenaknya sekali ya." gumam Luhan tiba-tiba.

Sehun melirik kearah Luhan, "Kenapa?" tanyanya sambil memakai helm miliknya.

"Kau selalu melakukan sesuatu seenaknya."

Sehun terkekeh pelan lalu menaiki motornya, "Kau lupa aku ini siapa."

Luhan memutar bola matanya, "Ya, ya. Kau Oh sehun." gumam Luhan acuh.

"Naiklah." perintah Sehun. Luhan menaiki motor Sehun dengan ragu lalu berpegangan pada bagian belakang motor Sehun.

"Siap?"

Luhan mengangguk, "Ya."

Lalu tiba-tiba Sehun menarik gas dan membuat Luhan terkejut dan sontak berpegangan pada Sehun. "OH SEHUN!"

Sehun hanya tertawa sambil mengemudikan motornya.

Sekitar 10 menit kemudian, mereka akhirnya sampai. Begitu melihat gerbang masuk karnival, Luhan mendadak bersemangat. Ia turun dari motor dan berlari, "Whoaa! Sehun Lihat!" gumamnya seperti anak kecil.

Sehun melepas helmnya lalu berdecak pelan, "Lepas dulu helm mu." gumamnya pelan.

Luhan segera tersadar, lalu terkekeh pelan. "Lupa" gumamnya, lalu melepas helm dan memberikannya pada Sehun.

"Sehun ayo cepat masuk kesana!"

"Kau lupa tugas kita ya?" kata Sehun. Lalu menunjukan listnya pada Luhan, "Kau harus memotret gerbang masuk karnival."

Luhan terkekeh lagi, ia terlalu bersemangat hingga melupakan tujuan sebenarnya kesana. "Iya, iya, aku mengerti."

"Kalau begitu potret, aku akan membeli tiket."

Lalu sehun membeli tiket sementara Luhan memotret gerbang masuk.

Setelahnya, Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam karnival. Mata Luhan berbinar melihat wahana-wahana yang ada didalam sana. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia pergi ke tempat semacam ini. Luhan baru hendak berlari ketika Sehun cepat-cepat menahannya. "Berikan kameranya padaku."

Luhan mengangguk dan tanpa basa-basi memberikannya pada Sehun. Sehun menerimanya dan mengalungkan dileher. Sementara Luhan langsung berlari seperti anak kecil.

Sehun tersenyum melihat tingkah Luhan. Luhan yang seperti ini lebih baik daripada Luhan yang kemarin-kemarin. Luhan yang suka marah-marah, berteriak, membentak-bentak, sekarang berubah menjadi Luhan yang suka tertawa dan bertingkah seperti anak kecil.

"Luhan, Kita harus masuk ke Rumah aneh, objek selanjutnya disana." gumam Sehun sambil menghampiri Luhan yang sedang berdiri didepan kotak kecil dengan patung kurcaci kecil dan bola ramalan didalamnya. "Kau sedang apa?"

Belum sempat Luhan menjawab, sebuah kartu keluar dari slot yang berada disana. Luhan segera mengambilnya dan membacanya. "Musim dingin datang, membawa kebahagiaan. Angin dingin tak terasa karena kehangatan senyumnya. Tapi ketika dingin itu hilang, kehangatan itu juga hilang. Berubah menjadi kedinginan diantara dua hati yang hancur."

Kening Luhan berkerut, "Apa maksudnya?"

Sehun menggeleng, "Mana aku tahu. Sudahlah, ayo. Masih banyak objek yang harus kita foto." gumam Sehun lalu menarik kerah Luhan dan menyeretnya seperti anak kucing.

Di dalam rumah aneh, Luhan menoleh ke kanan dan kiri dengan bingung. "Sehun, ini tempat apa?"

"Rumah aneh, disini banyak orang aneh."

Luhan mengerutkan kening tidak mengerti. Sampai akhrnya mereka berbelok mengarah ke sebuah lorong dengan kaca besar di sebelah kiri. Luhan menoleh dan melompat kaget. "WHAA!"

Sehun tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Luhan, "Tenanglah Luhan, ini bukan hantu." gumamnya disela-sela tawa.

"Lalu apa?!"

"The Skeleton Man. Disebut seperti itu karena tubuhnya kuruuuus sekali hingga tulang-tulangnya kelihatan. Kau lihat sendiri kan?"

Luhan mengangguk. Lalu perlahan mendekati kaca itu dan mengetuk-ngetuknya. "Hai" sapanya sambil melambaikan tangan.

Sehun segera mengarahkan kameranya dan memotret Luhan.

"Hey. Kau harusnya memotret orang aneh ini, bukan aku."

"Salah fokus." elak Sehun. Lalu ia mengarahkan kameranya ke orang aneh itu dan memotretnya. "Nah, ayo lanjut."

Mereka berdua berjalan lagi, masih di lorong yang sama di sebelah kanan mereka terdapat kaca besar dengan wanita gendut dengan makanan berserakan disekitarnya sedang menonton tv.

Luhan mengerutkan keningnya. "Apa itu sehun?"

"The Fat, Ugly, Bearded Woman. Disebut seperti itu karena...ya, kau lihat sendiri kan bagaimana dia?" Lalu sehun memotret wanita itu. "Ayo."

Dilorong selanjutnya, mata Luhan melebar. "Sehun! Apa itu nyata?!"

Sehun memotret dua wanita kembar yang berada dalam satu tubuh itu lalu mengangguk, "Tentu saja. Mereka The Siamese Sisters."

"Mengerikan.." gumam Luhan pelan.

Selanjutnya ada Midget Wrestling. Dua petinju kerdil sedang bertarung di dalam sebuah ruangan dengan ring yang dihalangi kaca besar. Luhan tertawa. "Sehun, Lihat! Lucu sekali!"

Sehun mengangguk lalu memotretnya, "Mereka biasanya dijadikan bahan taruhan. Kau memilih salah satu jagoan dan jika menang kau akan mendapatkan uang dua kali lipat dari yang kau taruhkan."

"Benarkah?"

"Ya."

"Kalau begitu aku bertaruh 10₩ untuk yang merah!"

Dan 10 menit kemudian jagoan Luhan kalah. Luhan terdiam, "Menyebalkan." gumamnya pelan lalu berjalan ke lorong lainnya begitu saja.

Ada The Crazy Painted Man. Seorang laki-laki dengan tatto di seluruh tubuhnya. Ia dipenjara. Luhan menatapnya ngeri, "Cepat potret dan ayo pergi dari sini."

Sehun mengangguk dan memotretnya lalu mereka berjalan lagi.

Yang terakhir, ada The Last Mermaid. Kali ini Luhan menatapnya takjub, "Wow. Putri duyung!"

Sehun tersenyum, lalu mengarahkan kameranya ke Luhan. Memotretnya lagi.

"Ini yang terakhir. Ayo, waktu kita tidak banyak."


Dua jam berputar-putar. Akhirnya Sehun dan Luhan menyelesaikan tugas mereka.

Kalau boleh jujur, Luhan merasa senang. Sangat senang. Ternyata apa yang Baekhyun bilang itu benar, Sehun tidak seburuk yang ia bayangkan. Sehun tidak menyebalkan—mungkin kadang-kadang. Ia juga baik pada Luhan. Tapi bukan berarti Luhan jatuh cinta padanya. Tidak! Tidak!

Sehun dan Luhan berjalan dari parkiran menuju ke asrama untuk mencetak hasil jepretan mereka. "Sehun, aku lapar." keluh Luhan.

"Makanlah." jawab Sehun singkat, ia masih sibuk dengan kameranya melihat-lihat hasil jepretan ia dan Luhan.

"Sehun? Luhan?"

Mereka berdua terhenti. Mata Sehun melebar ketika melihat orang yang ada didepannya. Itu Ayahnya. Gawat! Bisa-bisa ketahuan kalau ia anak dari pemilik sekolah ini.

Sehun cepat-cepat membungkuk, berpura-pura hormat dengan sangaaat hormat selayaknya murid yang lain. "Anyeonghaseyo, Mr Oh."

Luhan ikut membungkuk dan menyapa kepala sekolah dengan hormat, "Annyeonghaseyo—Mr ..Oh?" lalu ia menoleh ke arah Sehun.

Oh Sehun ... Mr Oh ...

AHH! Luhan mengerti sekarang. Pantas saja Sehun bisa bertindak seenaknya. Jelas, ia adalah anak dari kepala sekolah alias pemilik sekolah ini.

"Kalian dari mana?"

Luhan segera menjawab, "Memotret objek-objek untuk kelas fotografi."

"Oh, begitu ya.."

Luhan mengangguk, lalu tangannya menepuk pundak Sehun. "Anak Mister pandai

sekali memotret!" gumamnya, dengan wajah n_n

Sehun terperanjat. Sial! Ketahuan. "A-ah.. Tidak, biasa saja."

Mr Oh tertawa, "Sehun memang hobi memotret."

Luhan tertawa, benar kan. Dia ini anak Mr Oh. Gumam Luhan dalam hatinya sambil melirik ke arah Sehun.

"Kalau begitu, aku dan Luhan pergi dulu ya. Kami sibuk!" pamit Sehun lalu menarik Luhan pergi menjauh dari ayahnya.

Tanpa mereka sadari, Mr. Oh tersenyum melihat tingkah mereka berdua.

"PANTAS SAJA KAU BERTINDAK SEENAKNYA! TERNYATA KAU ANAK DARI PEMILIK SEKOLAH INI HUH?!" Teriak Luhan, ketika mereka sampai di kamar Sehun untuk mencetak foto-foto mereka.

Sehun sebenarnya agak terkejut. Ia kira Luhan akan meminta maaf atas perbuatan kurang baiknya selama ini kepada Sehun. Tapi ternyata tidak. Ia malah berteriak seperti orang kesetanan. "Hey, tenanglah. Memangnya kenapa kalau aku anak dari pemilik sekolah ini?"

"Menyebalkan. Kau itu sok berkuasa."

"Tidak." sangkal Sehun, lalu menyalahkan laptop dan memasukan memori kamera untuk memindahkan foto-foto mereka.

"Ya, kau menyebalkan, suka berbuat seenaknya—"

"Luhan diamlah. Berisik." sela Sehun. Menakjubkan bagaimana Luhan bisa berubah dari sangat imut menjadi sangat bawel dan menyebalkan. fikir Sehun.

"Cetaklah foto itu sendiri! Aku lapar." gumam Luhan, lalu pergi meninggalkan Sehun.

Sehun menoleh, Luhan benar-benar pergi. "Hah.. Sudahlah, biarkan saja." kata Sehun pelan. Lalu kembali sibuk dengan foto-fotonya.

Matanya menangkap beberapa foto Luhan yang ia ambil. Bibirnya melengkungkan senyum melihat foto-foto tersebut. "Seandainya kau selalu tersenyum seperti ini padaku.." gumam Sehun pelan.

Lalu matanya kembali melihat-lihat foto yang lain. Sepertinya lebih banyak foto Luhan dibandingkan dengan objek yang mereka foto. Sehun memilih beberapa foto Luhan untuk sekalian dicetak. Sebuah ide muncul begitu saja diotaknya.


Jam menunjukan pukul 3 sore. Luhan sedang berada di taman bersama Baekhyun dan Chanyeol. Menikmati angin sore sambil bernyanyi-nyanyi dan Chanyeol bermain gitar. Walaupun angin dingin menerpa, mereka tetap menikmatinya. Sehun tidak disana karena Chanyeol bilang ia sedang tertidur dikamarnya.

Syukurlah, dunia sedikit nyaman jika tidak ada Sehun disekitarnya. Fikir Luhan.

"Ngomong-ngomong, apa kalian dapat sesuatu dari orang tua kalian? Ya berhubung ini musim dingin, orang tua ku mengirimkan sweater." kata Chanyeol, masih sambil memetik gitarnya pelan.

Baekhyun mengangguk, "Kemarin ibuku mengirimkan jaket. Bagus sekali."

Luhan terdiam. Ibunya tidak pernah menelponnya akhir-akhir ini. Apa ibu lupa denganku?

"Bagaimana denganmu, Luhan?" tanya Baekhyun.

"eh? Tidak. Ibuku tidak memberikanku apapun." jawabnya pelan. "Bukan tidak, tapi belum." gumam Chanyeol.

Luhan tersenyum samar, "Ya, belum.."

Tanpa mereka sadari, seseorang mendengarkan percakapan mereka dari balik pohon. Dan orang itu tersenyum menatap Luhan.

Chanyeol melanjutkan, "Oh iya, sebentar lagi valentine kan?"

Baekhyun mengangguk, "Ah, benar juga! Sekarang sudah akhir januari."

"Apa Bullworth akan mengadakan pesta?" tanya Luhan. Chanyeol mengangkat bahu,

"Entahlah. Tapi kurasa ya. Karena itu sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya."

"Tentu saja ya." sela Sehun yang tiba-tiba datang. "Ayah selalu suka valentine." Lanjut Sehun.

Luhan memutar bola matanya, "Oh, ya. Aku lupa kalau kau anak dari pemilik sekolah ini."

Baekhyun dan Chanyeol terkejut. "K-kau sudah tau?" Tanya Baekhyun. Luhan mengangguk, "Ya."

"B-bagaimana bisa? Siapa yang memberitahumu?" tambah Chanyeol.

Luhan berdiri lalu menatap Sehun, "Aku ini Xi Luhan. Jangan remehkan aku." gumamnya. Lalu menjulurkan lidahnya pada Sehun dan pergi.

Sehun hanya terdiam ditempatnya lalu mendengus dan tersenyum. "Xi Luhan.."


Luhan terkejut ketika ia kembali ke asramanya. Sebuah kotak cantik tergeletak diatas kasurnya. Ia membukanya, sebuah sweater berwarna hijau dengan gambar rusa berada didalam kotak itu.

Baru saja ia membicarakan soal hadiah dengan Baekhyun dan Chanyeol tadi, dan sekarang ada hadiah untuknya?

"Dari siapa ya..." tanya Luhan pada dirinya sendiri.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka, dan Baekhyun melangkah masuk. "Sedang apa?" tanyanya, lalu menghampiri Luhan. "Wow! Hadiah?"

Luhan mengangguk, "Ya. Tapi.. Siapa yang mengirimkannya ya."

"Tentu saja ibumu. Siapa lagi?"

Luhan mengangguk. Benar juga.. Fikirnya. Lalu ia mengambil ponselnya dan menelpon ibunya, semoga kali ini diangkat. Karena dari kemarin ponsel ibunya selalu saja sibuk ketika Luhan mencoba menghubunginya.

tuut.

tuuut..

"Luhan?"

Mata Luhan seketika berbinar ketika mendengar suara ibunya. "Ibu!"

"Oh nak, apa kabar?" Tanya ibunya, dengan nada yang sama excitednya dengan Luhan.

"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan ibu?"

"Ibu baik. Maaf ibu jarang menghubungimu akhir-akhir ini, ibu sibuk."

"Tidak apa. Oh ya, Aku ingin berterima kasih."

"Untuk apa?"

"Sweater dari ibu, bagus sekali!"

Ibunya terdiam sejenak. "Sweater apa?"

Kali ini Luhan yang terdiam. Loh.. Kenapa ibunya malah bertanya balik?

"Sweater rusa warna hijau. Ini pasti dari ibu kan?"

"Luhan sayang, ibu tidak mengirimkanmu sweater atau semacamnya."

Luhan jawdropped. Lalu... siapa?

Baekhyun melihat perubahan ekspresi wajah Luhan ketika sahabatnya itu selesai menelpon ibunya. "Kenapa?"

"Bukan ibuku yang mengirimkan sweater ini." jawab Luhan lesu.

"eh? Lalu siapa?"

"Entahlah..."

Baekhyun berfikir sejenak, lalu menjentikan jarinya. "Sehun?"

Luhan mendongak, keningnya bekerut ketika Baekhyun menyebutkan nama Sehun. "Sehun?"


Sesuai rencana Baekhyun, hari ini Luhan memakai sweater barunya agar Sehun melihat. Dan mereka ingin melihat reaksi Sehun nanti, jika Sehun senang berarti memang dia yang memberikannya.

Pelajaran pertama adalah olahraga, dan gilanya, materi hari ini adalah renang. Musim dingin dan mereka harus berenang? Ini gila. fikir Luhan.

Tapi ketika sampai ditempat kolam renang, ternyata kolam tersebut terletak di dalam ruangan alias Indoor. Jadi mereka tidak terkena angin musim dingin diluar sana.

Luhan dan Baekhyun memasuki ruang ganti, disana ada Kai dan Chanyeol. Tidak ada Sehun.

"Hey." sapa Chanyeol pada Baekhyun dan Luhan. "Hi." sapa Baekhyun dengan senyum lebar. Sementara Luhan menengok ke kanan kiri mencari sosok oh sehun.

"Oh sehun tidak disini, dia dibangku penonton." gumam Kai, seperti bisa membaca gerak-gerik Luhan. "A-apa? Aku tidak mencarinya!"

"Merindukanku?" gumam Sehun yang tiba-tiba muncul dibelakangnya. Luhan segera menoleh, "Apa?! Merindukanmu? Cih."

"Kau suka malu-malu." ledek Sehun. Luhan memutar bola matanya, lalu berbalik ke arah Chanyeol dan Kai. "Chanyeol, Lihatlah. Seseorang memberiku sweater ini!" pamer luhan, sekaligus memancing reaksi Sehun yang kebetulan ada disana.

"Benarkah? Wah bagus!" puji Chanyeol.

"Aku bisa membelikanmu yang lebih bagus dari itu." sela Sehun.

Luhan dan Baekhyun terkejut. Lalu mereka saling berpandangan, Jadi bukan Sehun yang memberikan sweater ini?

Luhan berdehem. "Masa bodoh. Baekhyun ayo ganti baju." ajak Luhan lalu menarik tangan Baekhyun. Baekhyun berbisik, "Bukan dia.."

"Lalu siapa?"

Chanyeol melirik ke arah Baekhyun dan Luhan. "Kenapa bicara bisik-bisik seperti itu."

"Tukang gosip." gumam Sehun lalu berbalik pergi.


Baekhyun, Chanyeol, Kai, Luhan dan beberapa murid lainnya sudah siap dengan baju renang mereka. Sementara Sehun, ia hanya memperhatikan dari pinggir kolam sambil sesekali menengguk colanya.

Mentang-mentang dia anak pemilik sekolah ini, dia bisa bertindak seenaknya, termasuk tidak mengikuti pelajaran? gumam Luhan dalam hatinya.

Sekitar satu setengah jam mereka diberi arahan dan pelatihan, akhirnya bel berbunyi. Semua murid naik dari kolam. Sehun berdiri dan melemparkan handuk pada Luhan.

"Ya! Begitukah caramu menolong orang?" bentak Luhan.

"Begitukah caramu berterima kasih?"

Luhan mendengus kesal lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk dari sehun. Baekhyun, Chanyeol dan Kai hanya terkekeh pelan, sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu.

"Ngomong-ngomong, Sehun, apa tidak bosan hanya memperhatikan seperti tadi hm?" tanya Chanyeol dengan nada mengejek.

"Lucu." jawab Sehun pelan. Lalu Chanyeol dan Kai tertawa.

Luhan tidak mengerti dengan pembicaraan mereka. "Sehun kan anak pemilik sekolah, jadi dia bebas melakukan apapun." celetuk Luhan.

Sehun melirik Luhan, "Bukan begitu."

"Lalu? Kenapa kau tidak berenang?"

Sehun tersenyum, "Kenapa? Kau kesepian aku tidak berenang?"

Luhan tertawa hambar "Haha." lalu wajahnya kembali flat, "Tidak."

Sehun berjalan mendekat, "Jujur saja, kau menyukai ku kan?"

Luhan menatap Sehun dengan mata disipitkan lalu sedetik kemudian mendorongnya ke dalam kolam.

"WAAAAAA!"

Byuuurrrr

"Sehun!" teriak Kai dan Chanyeol hampir bersamaan.

Luhan tertawa, "Aku suka melihatmu dikolam!"

Sehun kelabakan didalam kolam. "Luhan—Cha—Toloong!" teriak Sehun sambil berusaha naik ke atas.

Dia ... Tenggelam?!

"LUHAN! SEHUN TIDAK BISA BERENAAANG!" Teriak Chanyeol panik.

Luhan terdiam. "B-benarkah?" Lalu ia menatap ke arah Sehun yang memang sedang kesusahan di kolam. "SEHUN! JANGAN BERCANDA!"

Tidak, dia pasti bisa berenang. Dia kan Oh Sehun. Fikir Luhan.

Tapi tidak, Sehun semakin lama semakin panik meminta pertolongan.

"LUHAN CEPAT SELAMATKAN DIAA!" Teriak Kai panik.

Wajah Luhan seketika pucat. Dia sungguh tenggelam! Tanpa pikir panjang, Luhan segera terjun ke kolam, berenang dan menarik Sehun ke pinggir kolam.

Sehun pingsan. Luhan menaikan Sehun ke pinggir kolam lalu menekan-nekan dadanya. "Sehun bangunlah! Sehun!"

Luhan menepuk-nepuk pipi Sehun tapi Sehun tidak menunjukan tanda-tanda kesadaran. Gawat! Kalau dia mati bagaimana?!

"Beri nafas buatan, Luhan!" teriak Baekhyun.

Luhan terdiam, "Apa?! Tidak!" Memberi nafas buatan untuk Oh Sehun?! Tidak. Luhan tidak sudi.

"Astaga Luhan, dalam keadaan seperti ini kau masih mementingkan gengsi?!" Teriak Baekhyun lagi.

Luhan berfikir sejenak, Baekhyun benar. Aku harus bertanggung jawab, biar bagaimanapun, Sehun begini karenaku. fikir Luhan.

Luhan menekan dada sehun sekali lagi berharap Sehun akan sadar jadi ia tidak perlu memberinya nafas buatan. Tapi nihil.

Akhinya perlahan Luhan membuka mulut sehun dan mendekatkan wajahnya pada Sehun.

Astaga ini mengerikan.

Tuhan tolong aku.

Luhan menutup matanya ngeri dan jaraknya tinggal beberapa senti lagi dengan mulut Sehun.

"ohok. ohok." Tiba-tiba Sehun terbatuk dan membuka matanya.

Luhan cepat-cepat menjauh dari Sehun.

TERIMA KASIH TUHAAANN. Teriak Luhan dalam hatinya.

"YA! MENYUSAHKAN! PAKAI ACARA PINGSAN SEGALA!" Teriak Luhan.

Sehun menatap Luhan, "Apa? Kenapa kau marah-marah, huh?"

Luhan berdiri. "Tunggu. Ini pasti ulah kalian semua kan?!"

"Apa?" Tanya Baekhyun bingung.

"Kalian pasti merencanakan ini supaya aku memberi nafas buatan untuk Sehun! Padahal sehun bisa berenang! Ya kan?!"

"Kau ini bicara apa?!" sahut Kai.

"Sudahlah! Aku ingin pergi dari sini. Aku muak!" tukas Luhan lalu pergi begitu saja.

Sehun masih terdiam dan terbatuk-batuk, air yang masuk ke hidung dan mulut nya cukup banyak. "Luhan kenapa?" tanyanya.

Baekhyun, dan Chanyeol menaikan bahu. "Entahlah."

Kai menjentikan jarinya, "Aku tau."

"Apa?"

"Dia mengira kita merencanakan ini semua. Kau jatuh ke kolam dan pura-pura tenggelam agar Luhan menyelamatkanmu dan memberimu nafas buatan. Mungkin itu yang ada difikiran Luhan."

"Dia gila. Aku hampir mati dan dia mengira aku pura-pura?!"

Baekhyun segera menyela, "Aku akan bicara padanya. Sampai nanti." Pamitnya, lalu pergi menyusul Luhan.


Chap.4!

Aku lagi punya banyak waktu makanya aku cepet update nih, muahahahaa :3

Di chap ini Luhan nunjukin sisi kekanak-kanakan dan girlynya, haha.

Oh ya, di chapter yang sebelumnya ada beberapa hal yang ilang. Penjaga perpustakaan itu Luna. aku ketik Mrs Luna, tapi disitu ilang.

Di review juga masih ada yg nanya "Sehun pake seragam apa?" dia pake baju seragam biasa sama kaya Luhan dan Baek. :3

Ini udah mau deket konflik, aku udah bisa bayangin kayanya FF ini sampe chap.7 deh. :3

Gak bosen bosen bilang makasiiiiih banyaaak yang se banyaaaaaaaaak banyaknya buat kalian yang udah luangin waktu kalian buat baca ff iniii. Terutama yang udah nge fav, follow dan review. Makasiihhhh banyaaaak :33

p.s. Happy birthday Taeng unnieee x3 lovelove xoxo.

p.s.s. Boleh narget? 50 review untuk ngelanjutin chap selanjutnyaa. Muehehehe :3