Disguise on the still water

jasmineforme

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto.

/AU/Post 4th Shinobi World War/

"Sakura-chan, kurasa Sasuke bukanlah Uchiha yang terakhir."

Kalimat Naruto mendorong Sakura melakukan penyelidikan di balik misi utama untuk menemukannya. Seseorang yang dikatakan telah tewas sepuluh tahun silam. Seseorang yang tak pernah jatuh ke dalam 'Kutukan Kebencian'

"Sakura-chan, apakah seseorang pasti mati bila terjun ke sungai?

Warnings : alur lambat di chapter awal, typo, unedited, tanpa beta. mungkin OOC.

4. Potamophobia II.

Pagi ini, selain melakukan survei tanaman obat di sekitar sungai dekat penginapannya, Sakura memutuskan untuk segera mencari klinik desa terdekat. Setiap kali ia menjalankan misi mencari persediaan untuk rumah sakit di desa lain, Tsunade menugaskannya untuk bekerja sama dengan klinik terdekat. Sakura dapat menawarkan untuk menjadi tenaga medis tambahan atau mengajarkan petugas di sana dengan kemampuan yang ia miliki. Biasanya, klinik yang berada selain di 5 Negara Besar bukanlah klinik yang besar, bahkan kekurangan tenaga medis. Sebagai gantinya, mereka seringkali memberikan Sakura persediaan yang dibutuhkan oleh Konoha atau informasi terkait obat yang ia butuhkan.

"Ini sebuah kehormatan bagi kami untuk menerima Sakura-san di sini!" ujar Yurie, kepala klinik desa itu merespon permintaan Sakura dengan antusiasnya. Wanita paruh baya itu langsung mengajak Sakura untuk berkeliling klinik, mengenalkannya pada staf dan fasilitas yang ada.

"Terima kasih, Yurie-san." Sakura membungkuk. Lega, setidaknya beban pikiran akibat 'misi utama'nya dapat berkurang sedikit dengan bertugas di klinik.

"Tidak, tidak," Yurie mengibaskan tanganya, "Kami yang berterima kasih kepadamu dan Tsunade-sama yang telah mengirimmu ke sini. Klinik kami kekurangan petugas medis yang berpengalaman, kamu pasti tahu akan masalah ini kan?"

Sakura mengangguk. Selain Yurie, ada dua dokter lain dan empat perawat. Namun, hanya Yurie yang bisa melakukan ninjutsu medis dasar, karena pengalamannya bekerja di Rumah Sakit Sunagakure sepuluh tahun silam.

"Meskipun sekarang sudah memasuki era yang damai dengan adanya aliansi shinobi, tapi itu tidak mengurangi jumlah orang yang sakit. Justru klinik ini menerima makin banyak pasien shinobi dari desa lain yang kebetulan melintas," jelas Yurie, "Ayo, Sakura-san, aku akan mengenalkanmu pada semua staf."

Setelah sesi perkenalan, ia dan Yurie mendiskusikan shift dan pekerjaan yang akan ia tangani. Sakura akan melatih para perawat ninjutsu medis dasar dan membantu untuk menangani pasien. Sebagai gantinya, Yurie memberi daftar lokasi di mana tanaman obat biasanya tumbuh dan upah seperti pekerja lainnya. Tentu Sakura menolak, namun Yurie memaksa dan Sakura terpaksa untuk menerimanya.

Sakura pun meninggalkan klinik pada sore harinya. Perutnya lapar, ia bergegas menuju rumah makan yang terletak di area pertokoan. Jaraknya hanya sekitar 10 menit berjalan kaki.

Sesampainya di sana, Sakura menyadari area ini cukup ramai di sore hari. Ia berpikir, mungkin ia dapat mencari informasi tentang orang yang ia cari. Meskipun bukti yang ia miliki tidak banyak, Sakura tetap memutuskan untuk berusaha mencarinya. Terlebih, sejak mimpi yang ia alami tadi malam. Sakura tidak bisa berhenti memikirkan segala kemungkinan yang dapat terjadi, walau apa yang ia lihat di mimpi adalah segala hal buruk dari kemungkinan tersebut.

Sakura tidak pernah menyukai mimpi. Baginya, mimpi itu jauh lebih buruk dari genjutsu yang bisa ia lepaskan. Ia tahu, sebagian orang dapat mengendalikan mimpi dan membuatnya menyenangkan, tapi tidak baginya. Hidup dalam angan-angan seperti itu melelahkan, seperti genjutsu. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk membuktikan kemungkinan terkecil itu ada dan sebuah realita.

--

Sakura sedang melihat-lihat menu di depan sebuah restoran ketika seseorang memanggil namanya. Ia pun menoleh, dan mendapati sekelompok shinobi Iwagakure di sampingnya. Salah satu diantara mereka yang memanggil Sakura barusan pun menghampirinya. Tunggu, sepertinya ia pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya….

"Benar, ternyata Sakura-san. Apa kabar?" Shinobi itu mengulurkan tangannya, namun Sakura tidak segera menyambutnya. Di mana ia pernah bertemu dengan orang ini ya?

"Ah, tentu saja. Aku belum pernah menyebut namaku sebelumnya. Aku Morio, kau pernah mengobatiku saat perang waktu itu," Morio menggaruk kepalanya sambil tersenyum malu.

"Oh ya! Morio-san, kau yang waktu itu memberiku surat…." Sakura pun teringat momen di mana Morio memberinya surat cinta di tenda medis. Nyaris saja Sakura menyebut soal surat cinta itu di hadapan rekan-rekan Morio. Wajah Morio sudah sedikit memerah, tepat di saat tiga shinobi Iwagakure lain menghampiri mereka.

"Hee, kenalan Morio ya?"

"Wah cantiknya, apa kau seorang kunoichi?"

"Bodoh. Dia Sakura-san, murid dari Godaime Hokage dan rekan Naruto, pahlawan perang kemarin!"

"Astaga, maafkan aku!"

Sakura hanya bisa tertawa kecil melihat rekan tim Morio. Meskipun pertemuan ini tidak diduga, Sakura tidak mempermasalahkannya. Ia berpikir setidaknya ia tidak akan makan malam seorang diri hari ini.

"Apakah kalian ingin makan malam bersama?"

--

"Jadi, kau sedang membantu klinik di sini ya," ujar Morio sambil mengambil sumpit.

"Begitulah. Bagaimana dengan kalian?" Sakura mengaduk udon pesanannya. Asap dari mangkuk mengepul tebal.

"Kami baru saja menyelesaikan misi untuk mengawal saudagar dari desa ini. Dua hari ini kami diizinkan untuk beristirahat dulu, sebelum kembali ke desa," sahut Morio.

"Wah, mengawal dari Iwa? Jauh sekali ya," komentar Sakura. Pada umumnya warga biasa akan meminta pengawalan shinobi dari desa terdekat. Tanigakure sendiri lebih dekat dengan Konoha dan Suna daripada Iwa. Meminta pengawalan dari Iwa, merupakan hal yang tidak biasa.

"Kebetulan klien kami memang ada keperluan di Iwa. Namun, karena merasa perjalanannya kurang aman, dia meminta shinobi Iwa untuk mengawalnya selama beberapa waktu," Asahi, salah satu rekan Morio menjelaskan.

Sakura mengangguk. Melihat ransel yang mereka bawa cukup besar, ia menyimpulkan misi yang mereka jalani juga cukup panjang. "Misi yang cukup lama ya," ujarnya.

Mendengar respon Sakura, Morio menahan tawanya. Sementara Asahi tersedak. Touma, rekan mereka yang lain, tersenyum, "Kami sudah satu setengah bulan berada di desa ini, Sakura-san. Ditambah lagi dengan perjalanan dari Iwa, jadi total dua bulan kami tidak pulang."

Astaga! Untuk ukuran pengawalan, itu termasuk sangat panjang. Bahkan lebih lama daripada mengawal Tazuna di Nami.

"Orang penting desa?"

"Tidak juga. Hanya saudagar kaya yang paranoid," sahut Isao sedikit sarkastik, rekan terakhir dari Morio. Lalu shinobi Iwagakure itu tertawa. Morio meringis, tatapan matanya pada Sakura seolah mengatakan 'maafkan kelakuan rekan timku'.

Sakura pun teringat sesuatu. Kalau shinobi Iwagakure sudah berada di desa ini selama sebulan, mungkin saja mereka tahu….

"Ah, Morio. Aku teringat sesuatu. Kebetulan temanku di Konoha memintaku untuk mencari kakaknya yang hilang. Menurut perkiraannya kemungkinan dia berada di desa ini. Berhubung kalian sudah cukup lama di desa ini, mungkin kalian bisa membantuku sedikit?" pinta Sakura sedikit memohon.

"Tidak masalah, kami punya waktu sebelum pulang ke desa. Apakah dia kau punya fotonya, Sakura-san?" tanya Morio.

Oke bagus Sakura. Sekarang kau melibatkan shinobi dari desa lain….

"Sayang sekali tidak," Sakura berbohong. Sejak bertemu dengan shinobi Iwa, Sakura sedikit menekan chakranya agar tidak bergetar saat melakukan hal seperti ini.

"Dia bukan seorang shinobi. Dia hanya warga biasa dan seorang tunanetra. Menurut salah seorang warga dia sudah tidak ada di desa sejak orang-orang terbangun dari Mugen Tsukuyomi. Sepertinya, genjutsu itu tidak berpengaruh pada dirinya. Mungkin dia panik dan kebingungan, lalu pergi untuk mencari adiknya. Saat temanku –Sai, pulang ia segera mencarinya di penjuru Hi no Kuni, tetapi tidak menemukannya. Kalaupun masih hidup, kemungkinan dia ada di desa terdekat dengan Konoha, Tanigakure salah satunya."

Dalam hati, Sakura memohon maaf pada Sai karena meminjam namanya untuk ini. Tentu saja Sakura tidak bisa terus terang kalau ia mencari Shisui. Kepada Kakashi saja ia tidak berterus terang, apalagi dengan shinobi dari desa lain.

"Sedih sekali mendengarnya. Siapa namanya?" Morio bersimpati. Sakura pun menyebut asal nama, lalu mendeskripsikan ciri-cirinya.

"Dia laki-laki. Temanku bilang, tingginya sekitar 170 cm. Tubuhnya, proporsional seperti Touma-san, mungkin sekarang lebih kurus. Rambutnya ikal, seperti Asahi-san, namun warna hitam. Kulitnya seperti Sai, pucat. Dia tunanetra, memakai kacamata hitam dengan frame kotak dan biasanya membawa tongkat berwarna perak. Sebenarnya dia sangat ramah, pada anak-anak khususnya. Ia juga senang berbicara, tapi agak tertutup dengan orang baru," jelas Sakura.

Morio mencatat semua keterangan yang diberikan Sakura, sementara ketiga rekannya mengangguk-angguk.

Sebenarnya hal ini membuat Sakura merasa sedikit bersalah. Ia sengaja tidak memberikan ciri-ciri Shisui apa adanya, bahkan sedikit menambahkan hal yang tidak dia ketahui. Seorang Uchiha yang sangat ramah dan senang berbicara? Rasanya seperti terkena Mugen Tsukuyomi untuk membayangkannya.

Tapi Sakura tahu, ia perlu melakukan hal itu. Kalaupun ia berkata jujur dan memberikan ciri-ciri Shisui apa adanya, meski ia tidak menyebutkan nama aslinya, ada risiko di sana. Pertama, kalau Shisui memang benar masih hidup, shinobi Iwa akan bertanya ke banyak orang dan menyebarkan ciri-ciri yang ia tinggalkan bertahun-tahun lalu. Ia akan tahu bahwa seseorang mencarinya dan dapat melarikan diri. Kedua, bahkan kemungkinan yang lebih buruk. Ada shinobi musuh yang menyamar dan mendengarnya, dapat memanfaatkan informasi itu untuk hal yang tidak diinginkan.

Sakura hanya ingin berjaga-jaga.

"Aku belum pernah melihat orang yang seperti Sakura-san jelaskan, tapi kurasa kami bisa membantu untuk menanyakan pada orang-orang di desa ini," ujar Morio.

"Benar, kebetulan setelah sebulan tinggal di sini, kami mengenal cukup banyak orang. Mereka juga bisa membantu kita," Asahi menambahkan.

Mata Sakura sedikit berkaca-kaca, namun hatinya berkata ini akan menjadi awal yang baik. Ia membungkuk, "Terima kasih banyak!"

--

Esoknya, Sakura memulai pencarian bersama shinobi Iwagakure di siang hari, sementara keempat shinobi itu telah memulai dari pagi. Sakura terlebih dahulu harus memberikan materi dasar pada perawat tentang chakra sebagai awal dari pelatihannya. Setelah itu, Sakura izin untuk meninggalkan klinik.

Mereka memulai pencarian dari pemukiman di sekitar klinik. Namun hasilnya nihil. Lalu mereka memutuskan untuk bertanya pada orang-orang di daerah pertokoan. Mulai dari toko kelontong, toko pakaian, hingga nyaris semua restoran yang pernah didatangi shinobi Iwa.

Hari kembali memasuki malam, namun pencarian mereka tidak kunjung membuahkan hasil. Sakura berpikir, mungkin perhitungan rencananya salah. Ia tahu, ia cukup berhati-hati namun ia tetap tidak secerdas Shikamaru. Atau kemungkinan terburuk lainnya adalah….

"Mungkin dia memang tidak ada di sini," ujar Sakura sedih. Ia tertunduk, mencengkram gelas jusnya. Malam ini ia memutuskan untuk mentraktir shinobi Iwa makan malam sebagai ucapan terima kasih, sebelum mereka meninggalkan Tanigakure besok pagi.

Sakura tahu ini adalah konsekuensi dari menjalankan misi tanpa perhitungan panjang dan tanpa keterbukaan, tentunya. Sakura juga tahu ini baru hari pertama. Tapi entah mengapa, perasaannya begitu campur aduk. Terutama dengan rasa bersalah.

"Jangan sedih, Sakura-san," ujar Morio.

"Kita bisa melanjutkan mencarinya besok sebelum kami pulang," hibur Asahi.

Keempat shinobi Iwagakure itu heran, mengapa Sakura bisa sesedih itu untuk mencari seseorang yang bahkan bukan keluarganya.

"Kalian mencari seseorang?"

Kepala mereka menoleh kepada seorang pria tua yang sedari tadi membersihkan restoran yang sudah sepi. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, dan hanya mereka yang masih berada di sana. Sepertinya, sebentar lagi restoran ini akan tutup.

"Kalian mencari siapa?" tanya pria tua itu lagi. Kali ini dia meletakkan sapunya di sebelah meja.

"Ah, apa Anda pernah melihat orang dengan ciri seperti ini?" Morio segera menyebutkan ciri-ciri yang Sakura berikan. Sementara itu, Sakura tidak mau berharap banyak.

Beberapa saat setelah keheningan, pria tua itu berkata, "Sepertinya aku pernah melihatnya."

"BENARKAH?" Keempat shinobi Iwagakure itu berseru bersamaan.

"Di mana, Pak?" Asahi bertanya.

"Apakah jauh dari sini?" Isao menimpali.

"Apakah Anda mengenalnya?" Touma tak kalah heboh.

"Tunggu, teman-teman. Biarkan Bapak ini menjelaskan," Morio melerai. Sakura bergeming, tidak percaya ada orang yang pernah melihat orang dengan ciri-ciri separuh buatan dirinya.

"Tapi, dia tidak sepenuhnya seperti yang kalian jelaskan," Pria tua itu berdeham, memberikan klarifikasi sebelum memberikan harapan palsu.

"Apa maksud Bapak?" tanya Isao.

"Sekitar dua tahun lalu, ada seorang pria tunanetra berambut hitam ikal yang bekerja di sini sebagai salah satu pelayan. Tapi, ada sedikit perbedaan dari ciri fisik yang kalian sebutkan. Pertama, dia tidak mengalami kebutaan biasa. Lebih tepatnya kehilangan kedua bola matanya…."

Sakura bersungguh-sungguh saat itu sekujur tubuhnya mendadak kaku.

"….sehingga dia memakai perban untuk menutupi kelopak matanya. Kedua, seingatku warna kulitnya tidak pucat, tapi cukup terang. Keempat perawakannya tinggi, sedikit kurus memang tapi badannya tegap, seperti anak muda ini," Pria tua itu menunjuk Morio.

Jantung Sakura berdegup kencang mendengar penjelasannya. Ini yang ia cari. Inilah mengapa ia sengaja mengubah beberapa bagian. Ia menunggu saat ini.

"Lalu seperti yang kalian katakan, dia sangat ramah, terutama kepada anak-anak. Ia akan banyak berbicara pada orang yang ia kenal, baik sekali anak muda itu. Tetapi, kalau entah mengapa dia selalu bersikap dingin kepada para shinobi….."

Sakura mengedipkan matanya. Tunggu, kenapa bagian yang ia sebutkan asal ini benar? Apa salah orang?

"Mungkin yang kusebutkan bukan orang yang kalian cari. Tapi kupikir, kalian bisa mencoba untuk menemuinya terlebih dahulu?" Saran pria tua itu.

Keempat shinobi Iwagakure itu menoleh pada Sakura. Mata mereka seakan mengatakan 'coba saja'.

"Apakah Bapak tahu keberadaannya sekarang?" tanya Sakura memberanikan diri.

Pria tua itu tersenyum tipis, "Setelah mengundurkan diri dari restoran ini, dia memutuskan untuk berada di tempat yang minim jarang dikunjungi shinobi. Kau bisa mencoba carinya di tenggara Kawa no Kuni, tepatnya di dekat danau dan hutan. Aku yakin dia masih tinggal di sana."

--

Keesokan harinya, seusai dari jadwal di klinik, Sakura memutuskan untuk pergi ke bagian tenggara Kawa no Kuni. Menurut peta yang dia miliki, tenggara Kawa no Kuni ini adalah daerah yang dipenuhi oleh sungai yang lebar dan danau. Area ini paling dekat dengan laut dan memiliki sungai yang ketinggiannya paling rendah, sehingga arusnya cenderung lebih tenang. Bahkan beberapa danau tapal kuda terbentuk di sana.

Karena jaraknya yang cukup jauh dari Tanigakure, Sakura tiba di sana ketika langit mulai berwarna oranye. Sebelum gelap, Sakura sudah harus menemukan orang yang pria tua di restoran maksud. Daerah ini memang tidak memiliki banyak pemukiman seperti Tanigakure, tetapi seperti bayangan Sakura sebelumnya yang sepi dan terpencil. Tidak jauh dari sungai, ada beberapa rumah warga, kedai kecil, hingga toko pakaian.

Sekelompok anak kecil juga berlarian di jalan sepanjang sungai, tertawa riang. Anak-anak perempuan membawa berbagai macam bunga, seperti bunga matahari dan mawar. Gerombolan anak laki-laki ada di depan mereka, salah seorang di antara mereka berseru, "Hei, kalian habis menemui si buta dari gua itu lagi?"

Sakura segera memasang telinganya. Sepertinya ia bisa mendapatkan petunjuk.

"Hisashi, tidak sopan menyebut Isui-Niisan seperti itu!" salah seorang anak perempuan berteriak lalu mengejar si anak laki-laki bernama Hisashi. Dua anak perempuan lain ikut mengejarnya.

"Oh, ayolah memang begitu kenyataannya!" Hisashi membela diri sembari mencoba menghindar dari serangan temannya.

Tidak salah lagi, pikir Sakura. Ia pun bergegas menghampiri seorang anak perempuan yang tidak berkejaran "Halo, bolehkah Oneesan tahu di mana kamu mendapatkan bunga yang cantik itu?"

Anak perempuan itu menjawab, "Oneesan tidak tahu? Aku mendapatkannya dari Isui-Niisan!"

Sakura memasang raut bingung, "Ah maafkan. Oneesan baru tinggal di sini. Apakah Isui-san itu, bekerja di toko bunga atau semacamnya?"

"Ya! Isui-san seorang fworist. Isui-Niisan tidak bisa melihat, tapi Isui-san sangat hebaat dan baik hati. Lihat, Oneesan, Isui-san memberiku bibit bunga matahari juga!"

Gotcha.

Florist ya.

--

Setelah mengucapkan terima kasih, Sakura segera bergegas berlari menuju arah yang ditunjukkan anak perempuan itu. Menurut penuturannya toko bunganya akan tutup pukul enam. Berarti, Sakura masih punya sekitar satu jam lagi. Waktunya masih cukup untuk jarak lima menit berjalan kaki, tapi Sakura sedikit tegang. Pasalnya, ia akan membuktikan besar yang menjadi kunci 'misi'nya.

Sakura dapat melihat papan bertuliskan 'Toko Bunga Madoka' dari jarak dua puluh meter. Bangunan toko itu cukup besar, sepertinya bergabung dengan rumah pemiliknya. Mengingatkan Sakura akan Toko Bunga Yamanaka di Konoha. Hal lain yang mencolok dari toko ini adalah keberadaan rak besi dengan beberapa pot bunga segar di depan toko, tidak seperti toko Ino yang hanya menyimpan bunganya di dalam ruangan.

Dari kejauhan itu, Sakura bisa melihat dua orang anak perempuan dan seorang pria yang menggunakan celemek hijau tua. Pria itu memiliki rambut ikal hitam yang acak-acakan dan perban yang menutupi matanya. Meskipun begitu, Sakura bisa merasakan aura yang dipancarkan pria itu kepada pelanggannya dari caranya berbicara dan tersenyum.

"Ooh, Minami-chan ya? Apakah kau datang untuk membeli bunga untuk ibumu?" tanya pria itu dengan suara yang lembut dan hangat.

Gadis kecil berkepang dua di hadapannya mengangguk malu-malu. Sementara itu, anak perempuan yang lebih besar—sepertinya kakaknya—berkata, "Aku juga, Isui-Niisan! Kenapa aku tidak ditawari?"

Isui itu terkekeh, lalu menepuk-nepuk kepala sang kakak, "Sabar, Suzu-chan. Tahun ini tahun pertama adikmu memberikan bunga untuk ibu kalian, jadi aku perlu memastikannya terlebih dulu."

Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya.

Dari balik pohon, Sakura mengintip sambil memegang foto lama Shisui Uchiha yang selama ini ia sembunyikan. Tidak salah lagi. Meski ia masih membutuhkan cek DNA untuk memastikan kebenarannya, Sakura memiliki keyakinan sebesar 75% bahwa pria di hadapannya ini Shisui Uchiha. Perawakan, bentuk wajah, rambut, warna kulit, segalanya sesuai dengan data. Terlepas dari perangainya yang tidak seperti Uchiha pada umumnya.

"Ini dia! Bunga matahari dan peony. Sayangnya, aku tidak bisa membuatkan rangkaian bunga kali ini. Tapi aku akan memberikan bibit bunga ini sebagai gantinya." Isui kembali dari rak dengan dua tangkai bunga matahari dan peony, serta sebungkus bibit bunga.

Sakura juga tahu pria ini pernah menjadi shinobi dari caranya berjalan dan gesturnya. Meskipun tanpa penglihatan, ia begitu terlatih. Tidak salah lagi…

Ketika kedua gadis kecil itu beranjak pergi, Sakura memutuskan untuk menemui Isui lebih dekat sebagai pembeli. Namun hal yang terjadi sungguh di luar dugaan Sakura.

Begitu Sakura hanya tinggal berjarak lima meter dari toko, Isui yang memunggungi Sakura menoleh ke belakang, seakan tahu Sakura ada di sana. Tanpa bicara apapun, pria itu bergegas masuk ke dalam toko, mengunci pintunya, dan membalikkan plang 'BUKA' menjadi 'TUTUP'.

Sakura melongo. Ia mengecek jam tangannya yang selalu tepat waktu. Masih ada tiga puluh menit lagi sebelum waktu toko tutup, seharusnya. Entah perasaannya saja, aura yang dipancarkan pria itu menjadi berubah sejak ia menoleh ke belakang. Dingin. Khas Uchiha.

Tapi, apa salahnya?

AN.

1.Halo aku kembali! Maaf terlambat dari estimasi yang aku janjikan. Meski sidang sudah selesai, urusan administrasi lain tugas akhirku belum selesai (sungguh, urusan adminsitrasi itu melelahkan), aku beusaha untuk menulis ini buat refreshing.

2. Akhirnya, 'dia' muncul. Apa salah Sakura? :"

3.Kutunggu review dari kalian!