Percayakan Padaku

Chapter 4.

Sebuah Boboiboy Fanfic karya LightDP AKA LightDP2.

Author note:

-Warning: Chapter ini mengandung sex scene.

.

.

.

Satu persatu, para murid atau lebih tepatnya alumni Sekolah Menengah Pulau Rintis mulai membubarkan diri. Beberapa nampak masih berkumpul, bercengkrama mungkin untuk terakhir kalinya setelah dinyatakan lulus sekolah.

Namun ada juga yang mengerubungi selebriti lokal sekolah itu untuk sekedar selfie, pura-pura kenal dekat, atau curi-curi foto. Tidak jarang sang selebriti lokal itu terpaksa lari menghindari kejaran fans mereka. Dua orang yang mengalami hal seperti itu adalah Fang dan Halilintar.

Bahkan image tsundere Halilintar tidak mampu lagi mengusir para mantan siswi yandere yang berebutan untuk mengambil apa saja yang bisa dijadikan souvenir. Sang kakak tertua BoBoiBoy bersaudara itu terakhir kali terlihat berlari melintasi lapangan dengan kemeja yang sudah koyak, dan sebelah sepatunya hilang.

Mungkin saat itu adalah pertama kalinya raut muka panik menghiasi Halilintar. Tidak pernah sebelumnya ia menunjukkan reaksi yang baginya adalah ekstrim.

Wajah Halilintar memucat ketika kerumunan mantan siswi itu semakin mendekat dengan tangan yang menggapai-gapai. Ia sudah membayangkan dirinya dicabik-cabik sampai berkeping-keping oleh lusinan siswi yandere.

Dari sudut matanya, Halilintar melihat sebuah mobil butut kecil berwarna ungu mendekatinya. "FANG !. TOLONG !" Teriak Halilintar di sela-sela napasnya yang sangat terengah-engah.

Mobil itu mendekati Halilintar dan pintu belakangnya terbuka. "Kak Hali, masuk !" Teriak Taufan yang berada di dalam mobil itu dan menahan pintu itu terbuka supaya kakaknya bisa meloncat masuk.

Tidak perlu disuruh dua kali, Halilintar langsung meloncat ke dalam mobil itu. "Gas, Fang, cepat !" Teriak Halilintar sambil memukul-mukul jok depan dimana Fang duduk dan mengemudi.

Fang langsung menginjak pedal gas mobil itu sedalam-dalamnya.

"Huf... Selamat... Thanks, Fang... Dasar yandere gila..." Desah Halilintar yang terduduk lesu di jok belakang mobil milik Fang.

"Bilang ke adikmu tuh, ini idenya" Sahut Fang sembari menunjuk Taufan dengan jempolnya. "Aku sih lebih suka melihatmu dikeroyok iblis-iblis yandere itu...".

"Setan kau Fang..." Kutuk Halilintar sembari menendang jok depan dimana Fang berada.

"Eh, Fang, bagusnya kita berhenti di Seven Eleven terdekat deh... Pasti Kak Hali haus, ya kan ?" Tanya Taufan yang melihat kondisi kakaknya yang kelelahan dan compang-camping.

"Ya sudah, itu di depan ada Seven Eleven".

Fang menghentikan mobilnya persis di depan sebuah outlet Seven Eleven. Ia dan Taufan segera masuk ke dalam outlet itu dan kembali dengan beberapa minuman kalengan dan botolan.

"Thanks..." Gumam Halilintar sembari membuka sebuah minuman kemasan botol. "Eh ? Koq segelnya rusak ?".

"Aku minum sedikit tadi... Haus.." Jawab Taufan.

"Dasar adik durhaka... Kakak koq dapat sisa..." Gerutu Halilintar namun tetap meneguk minuman dalam kemasan botol sisa dari adiknya. 'Toh tidak mungkin Taufan meracuniku...' Pikirnya.

"Siapa tahu, Kak... Sifat tsundere mu hilang terus jadi ceria kalau minum bekas minumanku".

Sebuah jawaban yang tidak masuk akal dan membuat Taufan mendapat hadiah deathglare dari sang kakak tercinta. "Aku bukan tsundere... Hanya... Selektif kalau bicara" Timpal Halilintar. "Mana Gempa ? Dia ngga ikut ?".

"Gempa masih beres-beres di sekolah. Kan dia panitia acara perpisahan tadi" Jawab Fang. "Mau kita tungguin atau gimana nih ?".

"Tungguin lah, Fang. Kasihan GemGem, masak pulang jalan kaki ?" Pinta Taufan. "Ya kan, Kak Hali ?".

"Terserah... Kalian... Saja..." Desah Halilintar dengan suara yang tercekat.

"Eh ? Kak Hali, mukamu kenapa merah ?"

Halilintar tidak dapat melihat wajahnya, namun ia merasakan kalau sekeliling lehernya berangsur menjadi hangat. "Entah... Aku... Merasa... Agak pusing... Serasa demam".

"Wah, iya, Halilintar, mukamu merah tuh !" Ujar Fang yang langsung menempelkan tangannya di dahi Halilintar. "Tapi koq ngga demam ya ?".

"Aku merasa ngga enak..." Gerutu Halilintar. "Antarkan aku pulang dulu, aku mau rebahan...".

Merasa khawatir, Fang sebagai sahabt menawarkan opsi alternatif. "Duh, rumahmu itu jauh... Begini saja, kalian aku drop di rumahku deh. Biar kamu dan Taufan menunggu di rumahku sambil aku jemput Gempa".

"R.. Rumahmu ya..." Halilintar memejamkan matanya. Kepalanya terasa berdenyut-denyut dan pandangan matanya mengabur. "Ya.. Ya sudah, aku mau istirahat..."

"Kak ? Kak Hali oke kah ?" Tanya Taufan yang semakin khawatir.

"Oke darimana ? Kamu lihat mukaku kan ?" Dengan tangan gemetaran, Halilintar menunjuk pada wajahnya sendiri.

"Eh.. Mukamu sih masih sama jeleknya, kak..." Goda Taufan.

"Mukaku jelek... ?" Dengus Halilintar sembari melempar deathglare yang samasekali tidak fokus ke arah Taufan. Terlihat kedua bibir Halilintar bergetar, semakin lama semakin kuat.

"Kak Hali ?".

"Hah... Hahahahaha" Tawa Halilintar membahana di dalam mobil kecil itu yang membuat Taufan keheranan dengan perubahan sikap kakak tertuanya itu. "Hahaha... Kalau aku jelek, kamu juga sama... Muka kita kan mirip".

"Uh... Fang... ?" Taufan meneguk ludahnya dan mengetuk-ngetuk pundak Fang dengan jarinya.

"Biarkan saja, nanti kujelaskan di rumah".

Di sepanjang perjalanan, Halilintar terlihat seperti orang yang benar-benar bertolak belakang dengan sikapnya sehari-hari. Sorotan matanya yang dingin menghilang, bahkan boleh dibilang menjadi ceria. Taufan yang ketakutan dengan perubahan sikap drastis kakaknya ini mencoba duduk sejauh mungkin.

Sesampainya di rumah Fang, Halilintar langsung dipapah ke sebuah kamar kosong dan dibaringkan di atas ranjang.

"Kau temani kakakmu ini... Aku jemput Gempa...".

"Duh... Katamu tadi kelemahan Kak Hali itu kalau dia punya sisi yang bertolak belakang..." Keluh Taufan sambil memperhatikan Halilintar yang tersenyum lebar.

"Memang... Kalau dia mabuk..."

"Hah ?!" Taufan jawdrop mendengar jawaban Fang. "Mabuk ?".

Fang cengar-cengir saja sambil menggaruk kepala. "Ya... Beginilah kalau Halilintar mabuk... Minuman jeruk tadi itu isinya kuganti sebagian dengan ini..." Sebuah botol kecil ditarik keluar dari saku celana Fang. "Ini, Cointreau, namanya".

Taufan mengambil botol kecil yang sudah kosong dari tangan Fang. Dibuka tutupnya dan diendus-endus bau dari dalam botol itu. "Astaga..." Desah Taufan sembari mengedipkan matanya. "Kau beri Kak Hali minuman keras ?".

"Yap, kadar delapan puluh persen" Jawab Fang enteng. "Rasa jeruk... Makanya ngga ketahuan sama dia".

"Alamak..." Mendadak Taufan merasa lelah, sangat lelah.

"Nah, aku pergi dulu. Kau jagalah kakakmu ini".

"Aih..." Taufan sweatdrop.

.

.

.

Memang Taufan pada dasarnya tidak bisa diam dan boleh dibilang cerewet. Namun kali ini ia kalah cerewet dengan Halilintar yang meracau berceloteh kesana kemari dalam keadaan mabuk dan membuat Taufan semakin pusing.

"Sudah !" Taufan yang kehilangan kesabaran membentak. "Aku pusing mendengar Kak Hali merepet..." Gerutunya sembari melepaskan jas blazer dan topinya. Ditumpuknya pakaian itu diatas sebuah meja sembari kemejanya dilonggarkan sedikit. Leher dan sedikit dada Taufan yang putih tersibak.

"Maaf..." Lirih Halilintar sambil menunduk dalam posisinya yang masih terbaring. Sesekali matanya melihat ke arah leher dan dada adiknya itu.

'Hah ? Kak Hali minta maaf semudah itu? Dunia mau kiamat...' Batin Taufan. "Ah, sudah, ngga apa-apa kak... Aku cuma lelah saja...".

"Hali merepotkan Taufan yah ?" Tanya Halilintar. "Hali... Sedih...". Wajah murung lengkap terpampang.

'Alamak, kenapa dia jadi mirip Thorn ?!' Jerit Taufan dalam hati. 'Co... Comelnya Kak Hali kalau begini...".

"Ah.. Ngga koq...Kak Hali mungkin lelah".

"Panas... Tolong dong, lepas kemeja Hali..." Pinta Halilintar dengan tampang memelas yang membuat denyut jantung Taufan semakin kencang tidak beraturan.

"Ah ?... Iya... Sebentar..." Dengan tangan gemetaran, Taufan melepaskan kancing-kancing yang tersisa pada kemeja yang dipakai kakaknya itu. Selembut mungkin, kemeja yang dipakai Halilintar ditarik lepas. 'Aih !... Kak Hali... ' Batin Taufan yang tidak menyadari mukanya sudah memerah.

"Ah.. Lega... Terima kasih, Fan..." Desah Halilintar yang kini meletakkan kedua tangannya ke arah samping badannya seperti seekor bintang laut.

'Huaaaa !' Pekik Taufan dalam hati. 'Mimpi apa aku semalam ?!... Kak Hali... Telanjang dada... Di depanku ?'.

"Kenapa mukamu merah, Fan... ?" Tanya Halilintar dengan sebuah senyuman hangat.

"Ah... Ngga... Ngga apa-apa koq..." Jawab Taufan yang semakin tersipu malu.

"Taufan... Aku tahu apa yang kamu mau..." Desah Halilintar penuh isyarat. "Kamu mau aku, kan ?".

Taufan meneguk ludah mendengar pertanyaan sang kakak yang mengalir lancar bagaikan air. "Kakak... Tahu... ?".

"Ya... Tunggu apalagi, Taufan... Aku milikmu...".

"Kak... Hali..." Kedua mata Taufan langsung berbinar-binar. Tanpa permisi, Taufan langsung menindihkan badannya di atas badan kakaknya. "Aku mau Kak Hali" Desahnya lembut sembari membenamkan wajahnya di dada sang kakak yang terbuka. Aroma natural badan Halilintar terasa seperti parfum yang sangat wangi di hidungnya.

Erangan lembut mengalir dari mulut Halilintar ketika Taufan menjejakkan bibir pada lehernya. Erangan bertukar menjadi desahan lembut ketika jari tangan kanan Taufan menjepit lembut putingnya yang sudah membulat dan mengeras seperti biji jagung.

"Ah... Tau.. Fan..." Halilintar mendesah tertahan ketika ujung jari Taufan melingkari putingnya yang semakin mengeras. Tidak tahan lagi, Halilintar melepaskan celananya. Kejantanannya sudah menegang, bergesekan dengan paha adiknya.

"Kak Hali udah ngga sabar ya... "Goda Taufan yang mulai melepaskan kemeja dan bajunya sendiri.

"Ah... Iya..." Halilintar mengangguk pelan. Namun kekuatan tangannya jauh dari kata pelan. Taufan yang sudah telanjang langsung didekapnya kuat-kuat pada bagian punggung dan bokongnya.

"Ah... Kak Hali..." Taufan mendesah gila. Ia merasakan kejantanannya beradu dengan kejantanan kakaknya yang sudah sangat basah itu. "Lagi... Kak... La-"

Desahan Taufan terbungkam ketika Halilintar menarik bibir mungilnya ke dalam sebuah cumbuan panjang dan dalam. Lidah keduanya saling beradu di tengah cumbuan mesra itu.

Kepala Taufan serasa makin ringan karena tidak ada udara yang masuk ke dalam paru-parunya. Namun ia tidak perduli, yang ia inginkan hanyalah menjelajahi rongga mulut Halilintar dengan lidahnya.

Napas keduanya memburu ketika cumbuan mereka terputus. Taufan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil sebuah sachet berisi pelicin yang dibelinya tadi ketika membeli minuman. Seluruh isi sachet itu ditumpahkan pada kejantanannya dan liang milik Halilintar.

Diangkatnya kedua kaki Halilintar ke atas bahu dan perlahan-lahan, Taufan menempekan kepala kejantanannya di bukaan liang milik Halilintar.

"Ngh... Taufan... " Halilintar menarik napas dan menahan nyeri ketika dirasakannya kepala dari kejantanan Taufan tengah memasuki liangnya yang sempit. Sebisa mungkin Halilintar berusaha untuk tidak melawan reaksi otot pada liangnya dan serileks mungkin membiarkan kejantanan Taufan memasuki liangnya semakin dalam.

Taufan membiarkan kejantanannya berdiam di dalam liang Halilintar yang telah sepenuhnya dimasuki. Setelah beberapa saat, Taufan menarik keluar sebagian kejantanannya dari liang kakaknya sebelum kembali mendorong masuk.

"Ah... Hah... Hah... Taufan..." Desah Halilintar seirama dengan tempo pergerakan Taufan. Kejantanan Taufan terasa mengelitik sesuatu di dalam badannya yang membuatnya semakin bergairah. "Taufan... Aku milikmu..." Lirih Halilintar setengah meracau.

Keringat semakin deras mengucur, membasahi tubuh keduanya yang seakan berkilauan dibawah sinar lampu. Tempo pergerakan mereka semakin lama semakin cepat.

"Ngh... Ngrh... Hali..." Taufan melenguh ketika merasakan dirinya akan mencapai puncak sebentar lagi. Lenguhan Taufan berangsur mengeras sebelum lenguhan itu bertukar menjadi jeritan penuh kenikmatan. "Ah.. Aku... Hali... Aku mau.. keluar !" Pekik Taufan ketika ia menumpahkan seluruh isi kejantanannya di daerah selangkangan Halilintar.

Cairan berlendir yang berbau amis miliknya langsung digunakan Taufan untuk melumasi kejantanan milik Halilintar yang sudah lapar akan sentuhan. Digenggamnya dengan lembut kenjantanan kakaknya yang sudah mengeras itu dan dipijitnya dengan gerakan naik-turun.

"Lebih... Keras, Fan..." Pinta Halilintar yang punggungnya membentuk lengkungan.

Taufan menuruti permintaan Halilintar, dan sebagai bonus, lidahnya kini menjilati puting sang kakak yang masih membulat.

Hanya lenguhan panjang dan keras yang keluar dari mulut Halilintar ketika ia menumpahkan seluruh isi kejantanannya pada badannya sendiri.

"Huah... Hah... Hah... Hali... " Dengan napas tersengal-sengal, Taufan merebahkan diri di sisi Halilintar dan membiarkan dirinya ditarik ke dalam pelukan kakaknya.

"Taufan... Terbaik..." Desah Halilintar sembari memeluk adiknya yang masih tersengal-sengal. "Tadi itu... Terbaik...".

"Terima kasih, kak..." Gumam Taufan dengan senyuman yang lebar ketika kepalanya dibelai lembut oleh sang kakak.

"Aku milikmu seorang, Taufan..." Halilintar mendaratkan kecupan di kening Taufan sebelum membiarkan dirinya dan adiknya itu terlelap.

.

"Sukses Taufan..." Gumam Fang yang sedari tadi memperhatikan keduanya dari lubang kunci pada pintu kamar dimana mereka berada.

"Apanya yang sukses, Fang ?" Tanya Gempa yang berada di belakang Fang.

"Lihat saja sendiri..." Fang menunjuk ke arah lubang kunci dan mempersilahkan Gempa untuk melihat sendiri.

Dengan wajah terheran-heran, Gempa mendekati lubang kunci tersebut dan memicingkan matanya untuk melihat ke dalam kamar itu.

"Astaga... Jadi... Taufan... Dia..." Gempa meneguk ludahnya begitu menyaksikan Taufan dan Halilintar yang berangkulan dan terlelap.

"Jangan tanya aku lah" Fang mengedikkan bahunya. "Taufan cuman minta tolong sama aku...".

"Tunggu... Kamu tahu darimana kalau Halilintar bakal jadi begitu ?". Tanya Gempa terheran-heran.

"Yah, sebut saja aku mengetahuinya dengan tidak sengaja... Dan Taufan ? Dia bukan orang pertama yang menggagahi Halilintar... Kau tahu maksudku kan ?" Fang mengedipkan sebelah mata.

Yang membuat Gempa menatap horror padanya.

.

.

.

Bersambung.

.

Omake.

.

.

Hari sudah hampir pagi meskipun diluar, langit masih terlihat gelap.

Halilintar masih terlelap di atas sebuah ranjang. Erangan-erangan lembut terdengar di antara dengkurannya.

"Uhh..." Lenguh Halilintar ketika ia berusaha membuka kedua matanya yang masih terasa berat. "Duh... Kepalaku serasa ditabok Gempa..." Gerutunya ketika merasakan denyut-denyut yang menyakitkan di kepala.

"Eh... Kenapa aku bugil begini ?" Desah Halilintar yang telah menemukan keadaan dirinya yang telanjang bulat.

Matanya membelalak horror ketika Halilintar melihat Taufan yang juga telanjang bulat tertidur lelap di sisinya.

"Astaga !" Pekik Halilintar yang membuat Taufan terbangun. Dengan selimut yang ada, Halilintar berusaha menutupi tubuhnya yang telanjang bulat.

"Pagi Kak Hali..." Tegur Taufan dengan senyum sumringah.

"Kenapa kau telanjang begitu ?!. Apa yang terjadi".

"Kamu sendiri juga telanjang kan...". Taufan menarik duduk dirinya dan menempelkan sebuah kecupan pada pipi Halilintar. "Hali lupa ya semalam ?. Kamu adalah milikku sekarang".

Halilintar baru saja akan protes ketika ia merasakan sedikit nyeri dan panas pada liangnya. Sekuat tenaga dicobanya mengingat apa yang telah terjadi. Butuh waktu bagi Halilintar untuk menyadari bahwa dirinya mabuk malam itu entah karena apa.

"Semalam... Kita tidur berdua... ?".

"Yap... Kamu mabuk semalam Kak Hali...".

"Lalu ?".

"Lalu, kau tanya ?. Lihat sendiri, batang dan selangkanmu lengket, kita berdua telanjang... Dan pasti pantatmu nyeri... Ya kan ?".

Kontan raut muka Halilintar berubah menjadi ketakutan. "Taufan... Kamu...?".

"Ya" Jawab Taufan enteng. "Kamu dan pantatmu itu sekarang milikku, Kak Hali..." Jelasnya lagi sembari beranjak melangkah ke kamar mandi.

"Aku... Digagahi... Taufan ?. Adikku sendiri ?. Ngga mungkin..." Halilintar menggumam tak percaya dan langsung membatin 'Oke cek realitamu Halilintar... Kau bugil, Taufan bugil...Pantatmu sakit, selangkanganmu dan selangkangan Taufan penuh lendir lengket berbau amis yang kemungkinan adalah sperma... Senyuman lebar Taufan itu sumringah sekali, hampir mesum malah...Alamak... Habislah aku...'.

Seketika itu juga Halilintar tertunduk lesu. Wajahnya dibenamkan dalam telapak tangan yang terbuka dan ia menarik kesimpulan "Aku... Digagahi... Adikku... Sendiri...".

.

.

.

Bersambung