"Eunghhh…"akhirnya hanya erangan penuh desahan yang sayup-sayup keluar dari mulutku untuk menggambarkan kenikmatan tiada tara yang menjalar ke sekitar tubuhku. Menjalar semakin rata ketika Kyuhyun menurunkan ciumannya di sekitar leherku. God, ini begitu indah. Ciuman pertamaku akhirnya berhasil terpecahkan di bawah sinar rembulan dan tempat yang tak jauh dari kata menyeramkan. Entahlah. Ini justru terlihat romantis dimataku.

"Kyuhhh…"aku tak bisa menahan keresahanku ketika Kyuhyun berusaha membaringkanku di atas rerumputan yang terasa lebat namun lembut.

liciousnam

Present~

.

.

.

The Ring

Genre : Romance, Fantasi, Horror

Rating : T

Cast : Lee Sungmin, Cho Kyuhyun, Zhou Mi, Kim Ryewook, Kim Jongwoon –Yesung-

Pairing : Kyumin and slight Haehyuk, Yewook

Length : Series

Disclaimer : All cast in my fic are belong to God and themselves. This fic absolutely mine.

Warning : Abal|OOC|EYD tidak sesuai|Typo|Boys Love|YAOI|GAJE|Membosankan|Kyumin's Centric

Summary : Gara-gara hampir tertimpa rak buku di perpustakaan sekolah Sungmin jadi berurusan dengan dewa egois yang menyebalkan….

Don't Like Don't Read!

.

.

Enjoy~

.

.

.

.

Chapter 4 : Hypocrisy and The Tale is Revealed

Dulu bagi sebagian anak dongeng sangat dibutuhkan untuk menemani tidur mereka. Mengantar mereka ke alam tidur yang damai. Dongeng seolah bekal tidur mereka untuk menuai mimpi indah. Tapi seiring perkembangan jaman, dunia mulai kehilangan malaikat-malaikat kecil pecinta dongeng. Malaikat-malaikat kecil itu berkembang terlalu cepat. Mereka mulai mengerti bahwa dongeng hanya bualan tidur semata. Dongeng bukan lagi hal keren. Sekarang yang anak-anak modern itu inginkan hanya game, handphone atau benda canggih lainnya untuk memanggil rasa kantuk mereka.

"Umma, kenapa ketiga dewa itu membagi kekuasaan untuk mengasuh dunia? Bukankah lebih baik kalau diasuh bersama? mungkin kiamat tak akan ada."bibir polos seorang bocah SD terdengar penasaran dengan dongeng mitologi yunani yang baru saja selesai dibacakan Ummanya. Ah, ternyata satu dari ribuan anak hasil jaman modern ini masih ada yang sudi mendengar 'bualan tidur' dari Sang Umma.

"Ne, chagi. Agar peperangan tak lagi terjadi. Sekarang pejamkan matamu dan bayangkan kau adalah dewa dalam mimpi indahmu. Dewa yang hebat untuk Umma, arra?"yeoja paruh baya yang dipanggil 'Umma' berkata lembut seraya mengelus surai hitam anak laki-lakinya.

"Ne, umma. Aku ingin menjadi Thanatos."

"Waeyo, nae aegya?"

"Karena…walaupun Thanatos dewa pencabut nyawa, ia pasti masih punya nurani untuk tidak menyakiti orang yang disayanginya. Dan aku tidak akan mencabut nyawa orang yang ku sayang."

"Itu tidak ada dalam cerita, chagi."

"Arraseo, umma. Hanya membuat para tokoh dalam dongeng jadi lebih baik dalam mimpiku."

"Anak pintar! Begitu lebih baik. Sekarang tidur dan bermimpi indahlah"sang umma mencium lembut dahi anaknya. Perlahan yeoja itu menaikkan selimut yang menutupi tubuh putranya. Yeoja paruh baya itu mengulum senyum tipis sebelum akhirnya meletakkan buku dongeng pengantar tidur di tangannya kembali ke meja nakas.

"Ternyata putra manisku masih begitu polos. Masih saja menyukai dongeng serumit ini."gumam yeoja berumur itu seraya berlalu pergi untuk kembali ke kamarnya.

Sepertinya ada yang salah dari kalimat yang yeoja itu gumamkan. Kalimatnya yang menyatakan mitologi yunani hanya dongeng rumit pengantar tidur belaka. Ya, kalimat itu. Kalimat itu tak benar.

Memang banyak orang yang mengatakan kalau imajinasi manusia sama seperti jagat raya ini. Luas dan tanpa batas. Tapi taukah si penulis buku dongeng mitologi yunani itu? Ia bukan sedang menuliskan 'imajinasi tak terbatas'nya menjadi suatu dongeng pengantar tidur yang keren. Ia hanya mengolah suatu kisah se-apik mungkin untuk dinikmati berbagai kaum manusia. Mengolah kisah yang sebenarnya bukan murni hasil imajinasinya belaka. Melainkan kisah nyata yang sudah mempengaruhi alam bawah sadarnya.

Ya, dewa dan dewi yunani itu ada, menjalankan tugas mereka dengan hikmat tanpa memperlihatkan wujud indah mereka. Mereka juga berbaik hati berbagi dunia dan menjaga bumi bersama manusia. Kalian tak percaya? Hei! bukankah kalian sudah berkenalan dengan dua dari mereka? Sang Hermes dan Sang Thanatos. Ya, dewa keberuntungan dan sahabatnya itu, dewa pencabut nyawa.

-o00o-

Sungmin POV

"Hyukkie, sejak kapan kau disini?"

"Waeyo, hyung? Kau marah aku mengganggumu pacaran?"

"Aisshh.."dengan sigap ku tarik pergelangan tangan roh namja blonde itu dan membawanya sedikit menjauh dari satu-satunya dewa yang ada di ruangan ini.

"Darimana kau tau dia dewa pencabut nyawa? Kau tak takut padanya, eoh?"tanyaku kesal seraya berbisik pelan agar suaraku tak terjangkau pendengaran dewa pencabut nyawa itu. Jika boleh jujur, aku agak kesal dengan Eunhyuk yang tidak takut pada Kyuhyun barang sedikitpun. Aku saja sudah di buat mandi keringat dingin berulang kali dalam satu hari ini.

"Beberapa hari yang lalu aku melihatnya 'memutuskan' nyawa seseorang dengan Evil Scissors-nya itu, hyung. Lagipula tadi kulihat kau memeluknya tanpa rasa takut jadi kupikir ia tak membahayakan,"cetus Eunhyuk dengan nada enteng. Pipiku sedikit memanas mendengar kata 'memeluk'. Entahlah. Aku juga tak yakin sudah memeluk dewa menyebalkan itu. "Seharusnya aku yang heran dan bertanya padamu, hyung. Kau 'kan hanya manusia biasa kenapa kau jadi bisa melihatku dan dewa pencabut nyawa itu? Hahhhh…sepertinya banyak sekali perubahan yang terjadi padamu saat kau ku tinggalkan, hyung,"Eunhyuk menghela napas seraya menatapku nanar. Entah kenapa aku jadi merasa bersalah melihat ekspresi Eunhyuk yang terkesan berlebihan itu.

"I-itu karena aku–"

"Dimana ragamu? Apa tak ada psychopomp yang menjemputmu?"belum siap aku menjelaskan semuanya kepada Eunhyuk, sebuah suara bass yang mulai akrab dengan telingaku bergabung dalam percakapan antara aku dan Eunhyuk. Aku menoleh sejenak. Kyuhyun berdiri di belakangku dengan menatap ramah Eunhyuk. 'Sialan, ternyata hanya padaku ia bersikap dingin?' makiku dalam hati.

"Pscychopomp? Maksudmu dewa pengantar roh, eoh?"Kyuhyun mengangguk. Respon singkat dari pertanyaan yang dilempar balik oleh Eunhyuk. "Ani. Tidak ada dewa yang mau mengantarku–"

"Kau mau aku antarkan?"dengan cepat Kyuhyun memotong pernyataan Eunhyuk yang terlihat mulai memasang mimik sedih yang begitu kentara. Mendengar pertanyaan Kyuhyun mata namja bernama lengkap Lee Hyukjae itu membulat sempurna.

"Omo! Kau mau mengantarku kembali ke ragaku? Aigooo…kau baik sekali, hyung,"Eunhyuk terkekeh ringan seraya memukul lengan Kyuhyun dengan akrab. Tadi dia bilang apa? Hyung? Astaga anak ini benar-benar!

Aku menoleh ke Kyuhyun lagi. Memastikan mood yang tergambar di raut wajah dewa tampan itu. Kyuhyun menatap Eunhyuk datar, entah kemana senyum ramah yang tadi terpatri indah di wajahnya. Tunggu dulu! Sepertinya–

"Aniyo. Aku akan mengantarmu ke dunia bawah –neraka-. Bersedia, eoh?"pertanyaan Kyuhyun membuat Eunhyuk mendadak menghentikan aksi sok akrabnya. Tangannya yang tadi menepuk lengan Kyuhyun dengan akrab kini perlahan beringsut dari lengan berbalut kemeja putih bersih itu.

"A-ani! A-aku hanya bercanda, hyungnim. Aku sedang tak ingin diantar kemanapun,"nada suara Eunhyuk terdengar bergetar. Ia bergerak menjauhi Kyuhyun yang sepertinya memamerkan senyum jahil di wajah stoicnya. Senyum jahil? Entahlah. Wajah datar itu cukup sulit di tebak ekspresinya. Aku terkekeh kecil tanpa sepengetahuan Eunhyuk. Namja monyet itu mendekatiku dengan wajah yang agak memucat.

"Hy-hyung, se-sebaiknya aku kembali ke rumah sakit saja, ne? Hyung, jaga diri ya."

"Andwae! Aku masih ingin melepas rindu padamu!"tanganku menahan Eunhyuk setelah memberikan deathglare terbaikku pada dewa yang ternyata mempunyai sifat jahil itu. Dewa berambut ikal dengan warna caramel itu memalingkan muka tak peduli.

"A-ani, hyung. Aku sedang terburu-buru. Kalau hyung mau mengobrol denganku hyung datang saja ke rumah sakit, ne? Annyeong!"setelah mengucapkan kalimat perpisahan roh blonde itu langsung melesat pergi begitu saja.

Aku menghela napas kecewa begitu bayang Eunhyuk tak terjangkau mataku lagi. " Kenapa kau mengusirnya? Aku masih ingin mengobrol dengannya,"ujarku mencoba sedikit egois dengan memprotes dewa yang kini ada di hadapanku. Dalam waktu beberapa menit ia menatapku dalam. Manik matanya yang membentur tepat di manik mataku seolah menenggelamkanku dalam sebuah danau hitam yang begitu gelap. Aku merasa terhanyut sampai suatu kilatan tajam di manik coklat itu membuatku tersadar.

Tatapannya. Tatapan dengan kilatan tajam itu begitu menakutkan. Tatapan yang juga sering aku dapatkan sejak awal bertemu dewa ini. Mungkin tatapan tajamnya yang seperti ini merupakan salah satu factor kenapa Eunyuk bisa langsung takut padanya.

"Aku tak mengusirnya. Aku hanya menyadarkannya kalau aku ini dewa yang suatu saat nanti akan 'memutuskan' rohnya. Kalau ia takut padaku itu wajar. Kau juga begitu 'kan? Semua makhluk pabbo di dunia ini harus takut padaku,"sosok Kyuhyun yang egois dan menyebalkan kembali lagi. Aku menghela napas sejenak. Kalimat dingin yang namja berwujud dewa ini lontarkan seolah kalimat final yang tak boleh dibantah.

Aku memutuskan untuk bungkam sebelum akhirnya bingung harus melakukan apa pada dewa yang masih santai berdiri di dekatku. Apa aku usir saja dia? Aishh..ani! seperti orang tak tau diri saja! Aku masih ingat kalau tadi dia sudah berbaik hati menghiburku dengan berjanji akan menolongku dari jerat cincin di jariku ini.

"Aku merasakan sesuatu,"tiba-tiba Kyuhyun berujar seraya menutup kedua kelopak matanya perlahan. Aku mengernyit tak mengerti.

"Mwo?"

Perlahan ia kembali membuka kedua kelopak matanya memperlihatkan onyx indah yang tadi sempat tersembunyi di balik kelopaknya. "Sepertinya kau sudah bisa bisa membantuku sekarang,"

-o00o-

Seorang namja tinggi berambut merah tampak berdiri di depan bangunan besar yang mempunyai lima belas pilar. Bangunan besar dengan pilar yang tak bisa dibilang sedikit itu merupakan bagian dari negeri Underworld -dunia bawah atau neraka tepatnya-. Negeri yang seharusnya tak boleh dipijak namja itu untuk dimasukinya lebih dalam. Dari seragam dan cara berdirinya yang angkuh sudah di pastikan kalau namja itu adalah salah satu bagian dari makhluk suci yang berkuasa terhadap salah satu aspek kehidupan alam.

"Apa kau menunggu cukup lama, Hypnos Zhoumi?"namja berstatus dewa itu menyadari kehadiran orang yang ditunggunya. Ia tak berani mendongak sebelum membungkukkan badan untuk memberi hormat.

"Aniyo, Yang Mulia."jawab dewa yang berjulukan Hypnos Zhoumi dengan sangat sopan. Dewa kematian yang berdiri tepat di depan Zhoumi mengulum sebuah senyum tipis.

"Apa yang kau inginkan, Zhoumi Sang Hypnos? Tak biasanya kau mau menunggu lama untuk menemui orang yang dunianya tak boleh kau pijak,"dewa penguasa dunia bawah sekaligus dewa kematian itu tetap menyunggingkan senyum wibawanya. Senyum yang terlihat mengerikan jika diambil dari sudut pandang berbeda. Senyum dengan aura kematian yang begitu pekat.

"Ada pelanggaran yang dilakukan oleh salah satu penghuni dunia bawah, Eubuleus,"ujar Sang Hypnos mempertahankan image sopan terhadap dewa yang ada di depannya. Dewa kematian dengan image wibawa yang begitu kentara itu tersenyum tipis. Sekalipun pernyataan Sang Hypnos sedikit menyinggungnya, ia tetap berusaha memamerkan senyum wibawanya.

"Ada roh atau setan yang kabur dari dunia bawah? Begitu maksudmu, Hypnos Zhoumi? Maaf, tapi aku tak pernah melepaskan mereka dari pengawasanku sedetikpun. Kalaupun ada itu sudah mendapat izin dariku,"kali ini sang penguasa kematian tak bisa menahan murka yang tergaris jelas dari nada bicaranya. Dewa dengan ukuran kepala yang sedikit lebih besar itu mulai kehilangan wibawanya.

Namun belum sempat dewa tidur berjulukan Hypnos Zhoumi itu menjelaskan lebih lanjut, sebuah tangan mungil mengelus lengan sang dewa kematian dengan begitu lembut.

"Ulljima, chagi. Dengarkan dulu apa yang akan dijelaskan dewa tidur ini. Aku tau kau tidak akan melakukan kekeliruan dalam tugasmu,"ujar dewa mungil yang sedari tadi berdiri agak tersembunyi di belakang sang dewa kematian. Dewa kematian dengan julukan Hades Yesung itu tampak sedikit tenang dengan belaian lembut dewa mungil yang ada di sampingnya.

"Mianhae, Eubuleus. Aku tak bermaksud menyinggungmu. Hanya saja yang aku maksudkan itu adalah assistentmu yang memiliki derajat sama sepertiku."ujar Zhoumi sedikit merasa takut dengan kemurkaan yang sempat tersirat. Namun tenyata bukan hanya sang dewa kematian saja yang terkejut mendengar penuturan Zhoumi.

"Apa maksudmu Thanatos Kyuhyun, Hypnos Zhoumi?"dewa mungil dengan julukan Hermes Ryeowook lebih dulu melemparkan tanya sebelum dewa kematian yang berstatus kekasihnya -Yesung- itu melakukan hal yang sama.

"Ne, Hermes Ryeowook. Aku melihat banyak roh yang terperangkap dalam raga mereka sendiri hingga aku memutuskan untuk membuat mereka tertidur sebelum akhirnya melaporkan hal ini kepada Hades Yesung,"Ryeowook tak bisa menyembunyikan keresahannya begitu mendengar penuturan Zhoumi. Ia tau lambat laun kecerobohan Kyuhyun akan tercium oleh dewa lain tapi ia sama sekali tak menduga kalau hal tersebut akan terungkap begitu cepat apalagi yang membocorkan hal itu adalah Zhoumi, rekan sekaligus musuh Kyuhyun.

"Kau kenapa, chagi? Ada hal yang kau tau?"suara merdu Yesung menyadarkan Ryeowook dari pikiran kalutnya. Bagaimanapun juga Kyuhyun adalah sahabatnya dan ia tak mau terjadi sesuatu yang tak di inginkan pada dewa pencabut nyawa itu.

"A-ani. Aku hanya tak percaya dengan kata-kata yang dewa tidur ini katakan. Aku sangat yakin kalau Thanatos Kyuhyun sangat mengagungkan tugasnya. Kau juga percaya itu 'kan chagi?, Hypnos Zhoumi?"

"Ne, aku percaya dengan penuturan Hermes Ryeowook tapi apa yang aku lihat bukanlah kesalahan yang terletak pada mataku, Eubuleus. Aku juga tidak berniat licik terhadap Thanatos Kyuhyun. Ini hanya demi keutuhan alam semesta,"dewa penguasa alam tidur berjulukan Hypnos Zhoumi kembali berujar dengan nada sopan. Ia sedikit mengeram dan mengumpat dalam hati melihat ke-peka-an Ryeowook yang begitu cepat menebak isi pemikirannya. Tapi bagaimanapun juga ia masih tak punya nyali untuk membantah kasar dewa mungil itu berhubung kekasih dewa itu masih ada di dekatnya. Ya, namja berstatus dewa kematian dengan nama julukan Hades Yesung adalah tuannya. Tuan ia dan Kyuhyun. Dan ia sangat menghormati tuannya.

"Mungkin sebaiknya kau pastikan pernyataanmu itu, Hypnos Zhoumi. Aku sangat percaya pada asisstent-asisstentku yaitu kau dan Thanatos Kyuhyun,"Yesung berkata tegas dengan bijak dan bernada final. Sedangkan kekasih dewa kematian itu terlihat resah mendengar penuturan singkat itu. 'Aku harus mengadukan hal ini pada Kyunnie,'tekad Ryeowook dalam hati.

"Ne, Yang Mulia Eubuleus. Aku tak keberatan dengan sarat yang di ajukan,"ujar sang dewa tidur yang memiliki rambut indah berwarna merah itu. Meski senyum sopan tercetak di wajah tampannya tapi hatinya berekspresi lain. Ia mengumpat dalam hati menyadari sang tuan tak percaya —ah belum percaya tepatnya dengan kata-katanya. Tapi ia mulai memaklumi ketika melihat gurat resah di wajah dewa mungil yang berdiri di sebelah tuannya. Dewa berpostur tubuh tinggi itu menyeringai. 'Aku semakin yakin kalau aku benar ketika melihat raut wajahmu itu, Ryeowook-ah. Kau pasti tau sesuatu soal ini,'kecamnya dalam hati.

-o00o-

Sungmin POV

"Kau yakin ada roh yang terperangkap di tempat seperti ini, Kyuhyun-ah? Aku bahkan tak bisa melihat apa-apa disini,"ujarku setengah berbisik seraya merapatkan tubuhku pada siluet dewa pencabut nyawa yang berdiri di dekatku. Aku semakin takut ketika menyadari tak ada respon dari namja bertubuh kurus itu.

"Ya! Kyuhyun-ah! Jawab aku! Jangan membuatku semakin takut!"teriakku seraya memukul pelan bagian tubuh yang mungkin adalah lengannya. Entahlah. Tempat ini lumayan gelap karena tak mendapat asupan sinar rembulan yang sedang begitu terang.

Terdengar helaan napas Kyuhyun yang membuatku sedikit lega. "Entahlah, pabbo. Aku juga tak yakin. Tapi sepertinya aku sudah mulai kehilangan kekuatan alamiah di tubuhku. Aku semakin yakin kalau cincin di jarimu itu berpengaruh besar kepadaku,"suara Kyuhyun terdengar penuh kekecewaan dan penyesalan.

Aku mencoba merapatkan tubuhku pada dewa yang terlihat putus asa itu. Awalnya aku hanya memeluk lengan kurusnya saja namun lambat laun aku beringsut untuk memeluk tubuhnya yang terasa dingin. Merasa tak ada perlawanan aku semakin mengeratkan pelukanku berharap namja ini mau membagi kegelisahannya melalui pelukan hangat. Namun ternyata hal itu tak berlangsung lama ketika Kyuhyun mencoba berontak dan menjauhiku dari tubuhnya.

"Lepaskan aku! Kau pikir aku lemah dan membutuhkan belas kasihmu,eoh?"suara dingin Kyuhyun membungkamku namun membuatku tetap bertahan untuk memeluknya. Aku yakin kalau saat ini ia tengah rapuh dan butuh seseorang untuk menjadi sandarannya. Dan orang yang tengah berada di dekatnya saat ini hanya aku. Setidaknya itu yang bisa aku simpulkan.

Kyuhyun menarik tanganku hingga tautan jariku di pinggangnya terlepas. Dalam keadaan minim cahaya aku masih bisa melihat tatapan tajamnya yang menusuk manik mataku dengan telak. Aku menunduk merasa tak sanggup untuk menentang onyx yang mengkilat penuh murka itu.

"Kau kira aku lemah dan pabbo sepertimu, eoh?"pertanyaannya berakhir dengan tawa remeh yang menggelegar di sekitar tempat sunyi dan gelap ini. Namja yang berkodrat dewa itu mundur perlahan menjauhiku dengan tawa yang terus terkembang di wajahnya. Ia tertawa sinis bermaksud menghina kekhawatiranku akan dirinya. "Aku ini dewa! Dewa pencabut nyawa! Aku tidak lemah dan tidak punya naluri bodoh sepertimu! Aku ini dingin, kejam dan mematikan. Jadi untuk apa kau cemaskan aku, hah?"

Aku merasa menyesal menyadari kemurkaan Kyuhyun terhadap perbuatanku yang hanya bermaksud memberikan ketenangan padanya. Kyuhyun semakin larut dalam tawanya dan kata-kata yang menegaskan kalau ia begitu kuat untuk menghadapi hal ini. Tubuh kurusnya bergerak mundur semakin jauh dengan tawa dan kalimat yang berulang kali terlontar dari mulutnya itu. Hal itu justru semakin meyakinkanku kalau Kyuhyun sangat rapuh bahkan terkesan stress dengan masalah yang dihadapinya saat ini.

Aku bisa melihat Kyuhyun yang begitu asiknya menertawakanku hingga tak menyadari sungai yang ada di belakangnya. Lewat rembulan malam aku bisa melihat sungai itu yang terletak tepat di belakang Kyuhyun yang masih saja tertawa. Eh? tunggu dulu! sungai?..

"KYUHYUN-AH!"

BYURRRR

Belum sempat aku memperingatkan, mataku langsung terbelalak saat melihat tubuh kurus itu jatuh ke dalam sungai dan pemilik tubuh itupun tampak sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Baju dan tubuh Kyuhyun terlihat basah kuyup. Begitupun dengan rambut ikal berwarna caramel yang melengkapi ketampanannya itu. Rambut indah itu kini berantakan dan menutupi sebagian wajahnya.

Aku menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku. Sebisa mungkin tak tertawa karena aku tahu dewa egois itu pasti merasa malu dan benci jika ditertawakan. Namun epertinya rasa prihatin hampir tak bisa menandingi rasa geli yang begitu menggelitikku.

"Bersumpahlah kau tak akan tertawa, Lee Sungmin!"ancam Kyuhyun dengan masih terduduk di dasar sungai dangkal itu.

Namun ancamannya yang sama sekali tak menakutkan itu justru mengundang tawaku untuk lepas begitu saja. Aku tak tahan melihat kondisinya yang sungguh tidak 'dewa pencabut nyawa' sekali. Aku tertawa terbahak-bahak dan membiarkan dia berdiri sendiri dan melangkah keluar dari sungai.

"Kubilang tutup mulutmu, pabbo!"geramnya lagi seraya menghampiriku yang masih tertawa.

"Mianhae, Kyuhyun-ah. Tapi itu lucu sekali,"ucapku berusaha menahan geli. Ia semakin mendekat dan sedikit membungkuk ketika berdiri tepat di depanku.

"Lucu, eoh? Kalau begitu aku tak mau disalahkan kalau aku sendirilah yang akan menutup mulutmu itu!"belum sempat aku mencerna kalimat yang dewa itu lontarkan, mataku kembali membelalak kaget ketika merasakan bibir Kyuhyun menyentuh bibirku lembut. Hanya sebuah sentuhan, seakan dewa itu takut untuk melakukan yang lebih.

Akal sehat dan segala logika terlempar jauh dari pemikiranku. Setidaknya seperti itulah hal yang tengah melandaku sebelum menggapai leher namja yang memberi setuhan lembut dibibirku. Kedua tanganku melingkar sempurna di leher berkulit pucat itu. Tepat ketika kedua kelopak mataku tertutup perlahan mencoba meresapi lebih dalam apa yang tengah kami lakukan, Kyuhyun merasa mendapat izin untuk memperdalam ciumannya. Tanpa sadar tanganku mendorong pelan tengkuk dewa itu seolah mendukungnya untuk melaksanakan kegiatannya.

Aku tidak bisa memastikan apa yang tengah kami lakukan saat ini berdasarkan cinta atau napsu belaka. Namun pemikiran dengan segala hal yang meminta kepastian itu langsung enyah entah kemana. Aku merasa terbuai oleh ciuman lembut Kyuhyun yang seolah-olah atasnama cinta. Aku merasa gejolak di dadaku begitu hebat ketika benda tak bertulang milik Kyuhyun menyapu rongga mulutku. Aku semakin kehilangan kendali ketika saliva kami bertukar dengan cara yang begitu indah.

"Eunghhh…"akhirnya hanya erangan penuh desahan yang sayup-sayup keluar dari mulutku untuk menggambarkan kenikmatan tiada tara yang menjalar ke sekitar tubuhku. Menjalar semakin rata ketika Kyuhyun menurunkan ciumannya di sekitar leherku. God, ini begitu indah. Ciuman pertamaku akhirnya berhasil terpecahkan di bawah sinar rembulan dan tempat yang tak jauh dari kata menyeramkan. Entahlah. Ini justru terlihat romantis dimataku.

"Kyuhhh…"aku tak bisa menahan keresahanku ketika Khyuhyun berusaha membaringkanku di atas rerumputan yang terasa lebat dan lembut. Aku memang menyukai ciuman dan sentuhan yang Kyuhyun berikan, aku hanya masih terlalu takut untuk melakukan lebih dari ini. bercinta dengan dewa, eoh? Ini terdengar gila!

"Waeyo, Lee Sungmin? anggap saja ini pelajaran pertama sebelum melakukan tugas pertamamu sebagai assistentku,"mendengar penuturan Kyuhyun aku langsung beranjak dari posisiku. Kedua tanganku bergerak cepat mengancingkan kembali piyamaku yang tadi sempat dibuka Kyuhyun. Pernyataan Kyuhyun begitu menohok hatiku, begitu telak sampai nyaris membuatku kehilangan udara di paru-paruku.

Bukankah Kyuhyun sendiri yang mengatakan kalau dengan cara bercinta cincin di jariku akan lepas? Tapi kenapa ia menginginkan cincin ini lepas begitu cepat? Tidak inginkah ia lebih lama bersamaku menikmati permainan takdir ini? Muak 'kah dewa ini berada di dekatku walau hanya sehari? Begitu inginnya 'kah dia berpisah denganku?

Bodoh memang menyadari Kyuhyun masih satu hari berada di dekatku namun perasaan ini sudah terlalu cepat aku sadari. Perasaan tanpa nama yang sangat egois, dimana aku tidak mau kehilangan namja berwujud dewa ini dari sisiku. Tidak, aku tidak ingin hal itu terjadi. Paling tidak jangan secepat ini.

"Ani! Aniya, Kyuhyun-ah! Aku tidak mau melakukan hal seperti ini tanpa alasan yang kuat. Aku tidak mau,"bantahku seraya bergerak perlahan menjauhi tubuh kurus Kyuhyun. Entah apa yang dewa itu rasakan sampai akhirnya ia memilih untuk terpaku sejenak di tempatnya. Tak berapa lama wajah pias itu memamerkan seringai yang tertimpa oleh sinar indah rembulan.

"Alasan kuat? Apa maksudmu alasan kuat yang biasa dipakai manusia untuk bercinta itu? Cinta,eoh? Cih! Apa yang ada di otakmu, Lee Sungmin? Kau jatuh cinta pada dewa pencabut nyawa?"

JDERRRR

Seperti ada kilatan petir imajiner yang langsung menyambar cepat tepat di dadaku. Aku merasa tertusuk begitu kuat dan dalam. Entah kenapa aku merasa sedih dan tersakiti dengan kata-kata Kyuhyun tapi aku tidak bisa memungkiri apa yang dewa itu katakan. Ya, Kyuhyun benar. Tak seharusnya aku mengatakan hal itu. Tapi ada satu ke-sanksi-an yang membuatku gundah. Tentang cinta yang Kyuhyun katakan itu. Benarkah? Benarkah aku mencintai dewa pencabut nyawa ini? entahlah. Semua yang menghampiriku terasa begitu cepat dan rumit.

Sedangkan sosok di seberang sana terlihat menatapku intens. Tatapan matanya di bawa sinar rembulan begitu dingin dan tajam. Ia mencoba menguliti dan meneror perasaan yang ia yakini tengah aku rasakan, perasaan cinta. Sosok itu beranjak bangkit perlahan. Seperti mengembalikan sikap aslinya sebagai dewa suci yang tak pantas berada di dekat hal-hal yang terkesan kotor, namja bertubuh kurus itu bangkit seraya menepuk kedua tangannya yang sama sekali tidak terlihat kotor. Ia melangkah mendekatiku perlahan.

"Hentikan omong kosong tentang cinta, Lee Sungmin. lupakan juga apa yang sudah aku lakukan padamu tadi. Aku tidak menduga otak pabbo-mu ternyata bisa dengan cepat mengetahui akal licikku. Jangan salah paham dengan hal-hal lembut dan terkesan penuh cinta yang ku lakukan kepadamu. Lupakan itu karena aku hanya sedang merayumu untuk bisa mendapatkan cincin berhargaku lagi! Hanya itu! Tidak lebih!"

God, bangunkan aku dari mimpi aneh ini. Seharusnya aku tidak merasa tersakiti seperti ini. Tidak! Aku tidak boleh merasa ditolak seperti ini. Tidak sampai aku mengatakan yang sejujurnya. Aku bahkan belum tahu pasti apakah yang tengah ku rasakan ini adalah cinta. Tapi entah kenapa ciuman itu serta sentuhan lembut yang Kyuhyun berikan padaku membuat perasaanku tersiram hangat dan penuh kebahagian. Aku merasa penuh oleh tatapan lembut Kyuhyun meski hanya sejenak. Aku merasa begitu di inginkan dan aku tak mau munafik kalau aku merasa senang akan perasaan itu. Tapi bolehkah semua itu diartikan sebagai cinta? wajarkah? Pantaskah?

"Jangan gunakan matamu untuk menatap rumput bodoh itu terus. Setidaknya lakukan pemanasan pada matamu untuk segera mencari roh bersamaku!"

-o00o-

Seorang namja mungil tampak merapatkan duduknya pada kekasihnya yang terlihat bergelut pada sesuatu yang ada di tangannya. Sebuah Kristal bulat terlihat bersinar di tangan namja berkepala besar itu.

"Aku akan menghancurkan kristal ini jika kau tak memperdulikanku terus, Hades Yesung,"kalimat dengan penekanan penuh pada julukan resmi –Hades Yesung- membuktikan kalau namja mungil berstatus dewa keberuntungan itu akan tidak main-main dengan apa yang ia ucapkan. Sang Hades hanya bisa menghela napas sebelum akhirnya memamerkan senyum termanis untuk kekasih tercintanya itu.

"Mianhae, chagiya. Aku akan memperdulikanmu. Sekarang serahkan kristal itu. Aku perlu membuktikan sesuatu,"namja dalam wujud dewa suci itu berusaha merayu kekasihnya dengan lembut. Ia tau Sang Hermes Ryeowook paling tidak suka jika ada orang yang tidak memperdulikannya terlebih kekasihnya sendiri.

Tapi sebenarnya bukan alasan konyol dan terkesan kekanak-kanakan itu yang menjadi faktor kuat atas tindakan Ryeowook menahan dan memberi ancaman kepada Yesung. Ia hanya takut kristal cantik itu memperlihatkan semua kesalahan assistant kekasihnya yang tak lain adalah sahabat terkasihnya sendiri. Setidaknya ia akan terus berusaha menutupi kecerobohan tersebut sebelum memberitahu dewa kematian itu.

"Kau tidak percaya pada assistentmu sendiri, Eubuleus? Bukankah itu terasa tak adil bagi Kyuhyun ketika kau berusaha mematai kinerjanya karena percaya begitu saja pada kata-kata Sang Hypnos itu? Aku tau sifatmu chagiya~ aku tau kau begitu menghargai privasi dan kejujuran yang keluar dari mulut assistentmu,"Ryeowook meletakkan bulatan kristal sebesar telapak tangan itu sedikit menjauh dari tempat duduknya. Ia kembali merayu Sang Hades dengan nada manja yang ia yakini tak mampu ditolak begitu saja oleh dewa kematian itu.

"Sudah saatnya aku memeriksa sendiri kinerja mereka, chagi. Aku tak mau menginterupsi pelaksanaan tugas mereka hanya untuk mendapat laporan kinerja,"nada suara Yesung yang begitu kalem tak mampu meredam sentakan hebat di dasar dada dewa mungil itu. Namun dengan terbutu-buru ia menghapus raut keresahan dan kekagetan itu, takut kalau kekasihnya curiga dan membuat kecerobohan Kyuhyun terungkap dengan mudah.

Ryeowook sangat mengenal sosok Yesung. Yesung yang penuh aura wibawa dan sedikit terkesan dingin. Dewa kematian itu terkenal tidak mau berhubungan dekat dengan dewa lainnya sehingga sikap angkuhnya itu justru di hormati kalangan dewa. Belum lagi tugasnya sebagai penguasa dunia bawah –neraka- dan penguasa kematian membuatnya terlihat wajar dengan sikap dinginnya itu.

Tapi tidak untuk Ryeowook, Sang Hades itu terlihat hangat dan begitu menyayangi Ryeowook. Meskipun begitu sikap bijak yang terlihat tegas di setiap tugasnya membuat Ryeowook tetap enggan untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi terhadap sang dewa pencabut nyawa. Ia tidak bisa berbagi cerita dan solusi pada kekasihnya yang sama-sama berstatus dewa itu. Karena yang sesungguhnya yang ingin di hindari dan takuti Kyuhyun akan terungkapnya hal ini adalah Sang Hades Yesung.

Ryeowook tau akan hal itu karena ia juga tahu kalau dewa kematian yang menjadi kekasihnya ini akan tetap bersikap bijak dan tegas terhadap sesuatu. Jadi tak memungkiri kenyataan kalau Sang dewa kematian ini akan langsung menghukum berat Kyuhyun begitu mengetahui kecerobohon dewa pencabut nyawa itu.

"Andwae! Kau bisa lakukan hal-hal berbau tugas dan pekerjaan saat aku tak berada di dekatmu, Eubuleus Yesung."nada manja kembali Ryeowook selipkan dalam kalimat yang ia lontarkan. Dewa mungil itu kembali melakukan usaha penuh untuk menolong sahabatnya. Yesung menghela napas membuat Ryeowook membaca helaan itu sebagai helaan menyerah. Dewa keberuntungan itu tak bisa menyembunyikan senyum leganya begitu sang kekasih mengangguk pelan dan beringsut untuk memeluk tubuh mungilnya.

"Jadi, apa yang kau inginkan dariku, Hermes Ryeowookie?"jemari tangan Yesung membelai lembut surai halus berwarna hitam milik kekasihnya. Ryeowook semakin menyusupkan kepalanya ke dada Yesung begitu merasakan belaian hangat di kepalanya. Belaian itu mengingatkannya pada peristiwa yang hampir sama dimana di saat posisi mereka juga dalam keadaan seperti sekarang. Dimana Yesung menceritakan sesuatu di antara belaian lembut itu.

"Ceritakan kembali tentang dewa yang pernah mencintai manusia itu. Aku ingin mendengarnya lagi."ungkap Ryeowook tak bisa menahan rasa ingin tahunya yang berhubungan tak langsung dengan cobaan yang menimpa dewa pencabut nyawa yang menjadi sahabatnya itu.

"Kenapa kau jadi teringat hal itu dan ingin tahu, chagi? Seingatku terakhir aku menceritakan itu kau tertidur dalam pelukanku,"Yesung mendaratkan ciuman-ciuman kecil di pucuk kepala kekasihnya. Tangan pendeknya tetap tak berhenti membelai lembut surai indah milik kekasihnya. Ia seperti ketagihan untuk merasakan tekstur lembut mahkota sang dewa keberuntungan yang menjadi miliknya.

"Aku baru menyadari kalau kisah itu menarik dan semakin menarik ketika keluar dari bibir indahmu, Eubuleus Yesung,"kepala dewa mungil itu sedikit mendongak untuk menatap ukiran sempurna wajah kekasihnya. Ukiran wajah dewa yang begitu tampan itu seolah menarik wajah Ryeowook untuk lebih mendekat.

Tak ingin sang kekasih terkesan agresif juga karena tak bisa menahan godaan dalam dirinya akhirnya bibir sang dewa kematianlah yang lebih dulu menyambut bibir mungil itu. Sentuhan-sentuhan yang begitu lembut dan penuh cinta membuat keduanya terbuai dalam dunia indah tanpa syarat yang mereka berdua miliki.

Kedua dewa yang terjerat cinta itu semakin terbuai kala Yesung, dewa yang mendominasi ciuman dalam itu berusaha menembus pertahanan Ryeowook agar segera membuka mulutnya. Namun Ryeowook tetap berusaha menutup rapat mulutnya. Ia tidak mau melakukan hal lebih jauh. Tidak. Tidak sebelum ia mendengar cerita yang sangat ingin di dengarnya lebih detail dari mulut sang dewa kematian yang menjadi kekasih abadinya itu.

Yesung menghela napas kecewa begitu dewa mungil yang masih berada dalam pelukannya melepaskan tautan bibir mereka begitu saja. Ryeowook terkekeh geli menyadari kekecewaan yang terlukis lucu di raut wajah tampan kekasihnya. Jemari tangan mungilnya menyentuh bibir indah Yesung dengan gerakan seduktif, "Aku sudah membayarnya. Sekarang ceritakan kembali kisah itu padaku,"pinta Ryeowook tetap membiarkan tangannya menjelajahi bibir indah itu.

"Tenyata kekasih cantikku sangat pintar merayu dan mempermainkan aku,"ujar Yesung bersamaan dengan tawa lepas yang tak bisa di tahannya. Ryeowook hanya memasang senyum innoncent yang membuat orang tak yakin kalau yang menggoda Yesung dengan sikap begitu seduktif adalah dewa mungil itu.

"Kau ingin aku menceritakan kembali dongeng bersejarah di kalangan dewa itu, chagi?"saat itu juga Ryeowook tak bisa menutupi keterkejutannya. Tubuhnya tersentak kaget dan memandang horror sang kekasih.

"M-mwo? Do-dongeng? Apa maksudmu, Hades Yesung?"Ryeowook juga tak mampu menyembunyikan kemurkaannya mendengar penuturan sang dewa kematian. Seolah ada palu besar yang menghantam tepat ke kepalanya. "Katakan kau hanya bercanda!"kejar Ryeowook tak bisa menutupi kekagetan sekaligus perasaan bersalah yang langsung menghampirinya. Bagaimanapun juga ia sudah yakin seratus persen dengan cerita yang Yesung lontarkan. ia juga mendengar kalau Yesung sebelumnya mengatakan bahwa cerita itu adalah sejarah nyata kaum Thanatos dan hal itulah yang membuatnya menarik Kyuhyun untuk mempercayai dan mengikuti cerita itu.

"Hei! Ada apa denganmu, chagi? Kau tak perlu marah dengan berlebihan begitu. Dewa yang mencintai manusia itu hanya dongeng semata. Dewa yang sudah melakukan kesalahan seperti itu pasti 'mati' dan sejarah tak akan sudi menulis kisah mereka. Peraturan Vallas, chagi. Dewa yang mencintai dan berhubungan dekat dengan manusia harus dihukum 'mati',"

"Ta-tapi bukannya kau mengatakan kalau ini merupakan bagian dari sejarah sang Thanatos?"

"Ne, sebenarnya dongeng ini dibuat hanya untuk menghibur dan menakut-nakuti dewa semata tapi entah kenapa leluhur Thanatos yang tertarik dengan dongeng ciptaannya ini memilih menjadikan ini bagian dari sejarah. Dongeng yang menjadi sejarah bukan sejarah itu sendiri! Begitu pula pada semua keturunan berdarah Thanatos mereka salah paham dengan mengetahui hal ini sebagai sejarah. Hanya aku yang tau akan kebenaran sejarah yang sebenarnya hanya dongeng semata ini dan kebenaran ini tidak aku ungkap karena tak berniat merusak daya pikat cerita itu sendiri,"ujar Yesung tenang kembali menatap lembut kekasihnya yang tampak gemetar gelisah. Tanda tanya besar tercetak di pikirannya, namun ia menepis hal itu dulu. Ia memilih untuk menenangkan kekasihnya yang terlihat kesal.

"Bukannya aku juga mengatakan ini padamu saat aku menceritakan cerita ini sebelumnya? –ah ya, kau tertidur saat aku menceritakan bagian ini,"suara lembut yesung kembali terdengar.

"Brengsek, jadi ini hanya dongeng? bukan sejarah yang benar-benar terjadi? Aku telah tertipu ternyata!"Ryeowook berbisik geram tak menghiraukan kalimat bernada lembut yang Yesung lontarkan. Dahi Yesung mengerut kala mendengar bisikan kekasihnya.

"Mwo? Apa yang kau katakan, chagi?"

.

.

.

TBC

Eubuleus : artinya penasehat yang baik, merupakan julukan agung penuh kehormatan untuk Hades Sang dewa penguasa kematian.

Pscychopomp: artinya dewa pengantar roh, hanya dewa pengantar roh seperti ini yang di izinkan masuk ke Underworld –dunia bawah/neraka-,di pintu gerbang Underworld terdapat bangunan besar dengan lima belas pilar sebagai gerbang masuk dunia bawah sekaligus satu-satunya wilayah yang bisa di pijak penghuni lain.

.

.

.

Sebelumnya saya mau ngucapin jeongmal gomawo buat para readerdeul tersayang yang sudi membaca dan mereview ff nista saya ini. Saya juga mau minta maaf sama readerdeul sekalian karena gagal menaikkan rating dan menghadirkan NC di chapter ini *digilesreadersrame-rame* jeongmal mianhae,ne? jebal, jangan salahkan saya salahkan saja Kyuhyun hyung yang tiba-tiba berubah menjadi dewa labil di depan Sungmin hyung padahal udah mau tapi tuh dewa pabbo malah buang kesempatan emasnya ckckck *Kyu: ini juga gegara skrip lu, pabbo#diinjekKyu-hyungsamperata*

Oke, saya mulai menyadari ff ini semakin panjang, membingungkan dan membosankan. Maafkan saya readerdeul tapi saya hanya mencoba adil kepada kedua hyung saya. Kyuhyun hyung udah nangis kejer di pojokan kamar karena kisah hidup dia gak diceritai lebih detail di ff ini #elus-elusKyu-hyung

semoga enggak bosen dengan kisah dewa pabbo itu ya *kabuuuuuuuuur*

Oya, kali ini saya mau minta review yang berisi kritik dan saran dong, readerdeul. Saya menyadari ff saya ini jauh dari kata sempurna sehingga membutuhkan koreksi dari readerdeul sekalian. Jadi kritik dan saran dalam kotak review sangat disambut sepenuh hati. Akhir kata REVIEW pleaseee~