Beautiful Prince(ss)

.

Byun Baekhyun as Hisahito no miya Bekkyon shinno denka

Park Chanyeol as Mafia Phoenix

.

SUMMARY

Baekhyun tidak mengerti saat seseorang membawanya ke tempat yang asing, istana mafia Phoenix. Dia hanya seorang pangeran penerus takhta kedua dari Jepang dan ia tak mengenal Chanyeol sama sekali. Lantas ia bertanya-tanya tentang apa yang Chanyeol rencanakan dengan menculiknya hingga ia tahu dan menyadari bahwa dunia memang tak pernah berpihak kepadanya.

.

WARNING : BOY X BOY (YAOI)! MATURE CONTENTS! Abuse! Mafia!

Don't bash! Don't plagiat!

.

Chapter 6

Tak dapat diingat ia sudah duduk di kursi taman ini berapa lama. Yang pasti bokongnya sudah terasa pegal dan mati rasa. Tapi itu bukanlah masalahnya.

Ia sudah melihat berita di televisi, setiap channel menayangkan berita tentang penemuan mayat pangeran Hisahito di Kyoto, Jepang. Bukan itu pula masalah yang sebenarnya. Masalahnya terletak pada pamannya yang sangat sialan. Setelah berita penemuan jenazahnya yang habis terbakar dengan identitas yang bisa dipastikan dari dompet, segala pertanyaan muncul di muka publik. Salah satunya adalah 'sedang apa pangeran Hisahito di Kyoto?' Pihak kekaisaran menyatakan bahwa sang pangeran tidak memiliki jadwal yang mengharuskan ia berada di Kyoto, jadi publik berpikir pangeran sedang pergi untuk berlibur. Sampai sana masalahnya masih biasa. Yang membuat ia meradang adalah pernyataan pamannya di media saat di wawancarai. Pria haus kekuasaan itu mengatakan pada publik bahwa ia kabur pada saat penobatan dirinya sebagai kaisar Jepang yang baru. Masih ia ingat betul rangkaian kalimatnya yang sengaja di lebih-lebihkan dan dengan nada yang sangat dramatis ;

"Sang pangeran itu kabur sehari sebelum penobatanku. Jika dia datang, dia seharusnya di nobatkan menjadi putra mahkota yang baru. Saat itu kekaisaran menutupi masalah dengan mengatakan bahwa pangeran berhalangan hadir dikarenakan kesehatannya sedang menurun. Kendatipun memberi kabar, mengatakan akan pergi kemana pun dia tidak, jadi jelas dia itu kabur dan sengaja menghindar."

Ada satu ucapannya lagi di media yang membuat ia semakin meradang dan semakin terobsesi untuk merobek mulut pria itu.

"Sejujurnya pangeran Hisahito sangatlah berubah sejak kecelakaan yang menimpanya belasan tahun silam yang menyebabkan orang tuanya meninggal. Dia selalu bersikap arogan dan sinis, aku tak tahu apa yang menyebabkan dia begitu berbeda. Itu sangat menyakitkan untukku padahal aku sangat sangat menyayanginya sebagai harapan masa depan Jepang, satu-satunya keponakan laki-lakiku."

Ingin rasanya ia menangis sambil mencakar wajah Chanyeol. Ya, wajah Chanyeol. Karena Chanyeol sudah terlibat dalam hal ini. Paman sialannya itu sudah membuat citra nya buruk dimata rakyatnya. Sekarang rakyatnya pasti mulai membencinya, menganggap bahwa dirinya bukanlah seorang pangeran yang berperangai baik. Dan menganggap kematian tragisnya adalah sesuatu yang pantas ia dapatkan.

Ia beralih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang masing-masing sikunya bertumpu di lutut. Lalu ia merasa seseorang duduk di sebelahnya akibat decitan kursi yang memberitahunya.

"Sudahlah, Baekhyun. Jangan terlalu di pikirkan" itu suara Joonmyeon. Dia menepuk-nepuk bahu Baekhyun prihatin, mengira Baekhyun tengah menangis. Saat remaja itu mengangkat wajahnya, Joonmyeon tahu bahwa Baekhyun tidaklah se-frustasi itu.

"Bagaimana bisa kau berkata demikian? Aku hampir mati saat melihat beritanya! Aku masih menerima soal pemalsuan kematianku. Tapi aku tidak terima saat aku mati dikenal sebagai pangeran yang buruk. Dia tak bisa berbicara seenaknya tentangku!" Teriak Baekhyun murka yang mendarah daging. "Setidaknya aku ingin rakyatku mengenangku sebagai pangeran yang mereka cintai saat aku tak dapat lagi muncul secara nyata di hadapan mereka." Suara Baekhyun melemah. Ia mengusap wajahnya kasar beberapa kali sebagai pelampiasan. Beralih mengacak rambutnya sendiri hingga tak beraturan.

"Hey, bagaimana jika kita buat bajingan itu memperbaiki image mu yang sudah ia rusak?" Penawaran Joonmyeon terdengar menggiurkan. Namun ia tak yakin. Jadi ia menatap Joonmyeon dengan segenap rasa ragu di matanya.

"Phoenix selalu punya rencana" Joonmyeon menggedik samar, "mari kunjungi Chanyeol di kantornya"

Kali ini Baekhyun membuang muka, jelas sekali bahwa ia tidak menyetujui usulan mengerikan Joonmyeon. "Aku sedang tidak mau berurusan dengannya."

"Apa kalian bertengkar lagi?"

"Apanya yang kau sebut 'lagi'? Aku dan dia bahkan tak pernah berbaikan" Baekhyun jelas-jelas menolak untuk menggunakan pronomina 'kami', seolah menegaskan pada Joonmyeon bahwa mereka memang berbeda. Punggungnya kembali bersandar, dan wajahnya terlihat semakin kusut dari menit ke menit.

"Kali ini kenapa?" Tanya Joonmyeon yang masih tertarik dengan objek apa yang kali ini membuat mereka bertengkar lagi. Baginya ini memang 'lagi'. Karena keterdiaman Baekhyun dan Chanyeol yang biasa bukanlah bagian dari pertengkaran menurutnya.

Baekhyun memulai dengan helaan nafas, agak ragu untuk mengatakannya pada Joonmyeon. Ia agak malu sebenarnya. "Aku bertanya padanya apakah dia sudah bertunangan atau menikah." Mulainya.

"Lalu?" Joonmyeon yakin itu bukanlah akar permasalahannya, untuk itu ia bertanya.

"Dia mengatakan bahwa ia tak akan pernah menikah. Aku bertanya tentang bagaimana dengan penerus Phoenix dan bisnis bersihnya. Lalu dia menjawab dengan enteng bahwa tidak menikah bukan berarti tidak memiliki keturunan. Itu sangat menjengkelkan kau tahu? Dia terdengar seperti bajingan"

"Memang"

"Apa?" Baekhyun menoleh secepat Joonmyeon menjawab opininya barusan. Pria itu terlihat tanpa beban saat menjawabnya dan malah tersenyum simpul.

"Sebutlah Chanyeol bajingan."

"Yeah, kau benar... dia memang begitu" akhirnya ia mengiyakan karena apa yang Joonmyeon katakan memanglah sebuah kenyataan. Kenyataan yang sangat dibencinya. "Yang membuatku tak habis pikir adalah dia berkata bahwa ia meninggalkan hatinya di peti mati ibunya belasan tahun silam. Itu terdengar gila." Baekhyun tertawa linglung. Ekspresi mengernyitnya justru membuat tawa Joonmyeon pecah.

"Aku sudah terbiasa mendengarnya," pria itu menyeka keringat sebesar biji jagung yang meluncur di pelipisnya. Merasa kepanasan karena matahari mulai naik sepenuhnya ke atas. Merasa heran juga kenapa Baekhyun terlihat baik-baik saja padahal sudah sejak tadi ia berdiam diri disini. "Chanyeol membunuh ayahnya sendiri"

"Apa?" Baekhyun nyaris terjungkal dari tempat duduknya jika tidak ada pegangan di pinggiran kursi. Wajahnya terlihat pucat pasi dengan mata yang melebar seakan ingin meloncat dari sana. Joonmyeon dapat melihat remaja itu menelan ludahnya dengan gugup.

"Ceritanya sangat rumit," ujarnya, "intinya Chanyeol membalaskan kematian ibunya."

Diam-diam Baekhyun mencerna ucapan Joonmyeon dan berakhir pada satu kesimpulan yang lagi-lagi membuat ia tercekat, "ayahnya membunuh ibunya?"

Ia berharap Joonmyeon menggeleng, tapi sayangnya pria itu justru mengangguk tanpa ragu. Keluarga macam apa mereka? Saling membunuh tanpa belas kasihan. Dan Chanyeol... bagaimana mungkin pria itu dapat membunuh ayah kandungnya sendiri? Ini benar-benar gila.

"Kejadiannya 17 tahun yang lalu jika aku tak salah. Saat Chanyeol berusia 10 tahun" Joonmyeon terlihat berpikir, "dunia mafia itu sangat kejam. Aku tak tahu pasti apa alasan ayah Chanyeol membunuh ibunya. Yang pasti kejadian itu terjadi satu tahun sebelum Chanyeol membunuh ayahnya."

Mulut Baekhyun terbuka dan tertutup beberapa kali seperti ikan yang berusaha mengais oksigen di daratan. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Terlalu terkejut mendengar cerita Joonmyeon. Itu sangat mengerikan.

Ia kehilangan orang tuanya karena kecelakaan, sementara itu Chanyeol kehilangan orang tuanya karena perbuatan keji nya sendiri. Ia mulai mengerti kenapa Chanyeol berkata bahwa ia meninggalkan hatinya di peti mati ibunya. Itu sebabnya ia dapat membunuh ayahnya sendiri tanpa ragu, karena ia tak punya hati nurani lagi. Meskipun ia akui bahwa ayah Chanyeol itu bersalah, tapi tetap saja tindakan Chanyeol tidak bisa dibenarkan. Betapa berdosanya pria jangkung itu.

"Kau pasti berpikiran bahwa Chanyeol sangat keji," Joonmyeon tersenyum miris, "ketahuilah bahwa ayahnya itu pantas mendapatkan hal yang setimpal. Godfather Phoenix sebelumnya begitu kejam, dia ayah Chanyeol. Sebutlah Chanyeol pendendam, tapi kami para anggota Phoenix selalu percaya bahwa Bos kami melakukan itu atas keyakinan yang kuat."

Baekhyun menggeleng, "bagaimana dia hidup di usia 10 tahun tanpa orang tua? Dan.. di dunia mafia yang kejam."

"Tentu saja karena Chanyeol kuat. Chanyeol menjadi godfather Phoenix di usianya yang ke-11, setelah beberapa bulan lalu membunuh ayahnya. Usianya memang masih belia tapi tak pernah ada yang berani menentangnya. Semua orang tahu bahwa anak itu memiliki jiwa iblis yang sangat kuat" Joonmyeon menyeringai seolah bangga dengan diri Chanyeol. Sedangkan Baekhyun mengernyit ngeri dengan itu. Chanyeol ternyata jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan. Betul-betul seorang psikopat gila.

"Dia monster."

"Jika kau mencintainya, cobalah untuk meraih kembali hatinya. Hati Chanyeol hanya beku, tak benar-benar hilang seperti apa yang ia katakan" suara Joonmyeon melembut. Ia menatap Baekhyun lamat-lamat tapi justru Baekhyun membalasnya dengan kernyitan jijik.

"Apa-apaan. Aku tidak mencintainya!" Ia menyangkal dengan ekspresi yang sebaliknya, "menaruh secuil rasa suka pun tidak!"

Keheningan terjadi beberapa saat setelahnya sampai Joonmyeon mengatakan sesuatu lagi, "jadi bagaimana dengan 'mari menemui Chanyeol di kantornya'?"

Kening Baekhyun sedikit berkerut dengan sebelah alisnya yang agak miring, memikirkan sesuatu. Setelah melewati perdebatan panjang dalam dirinya ia pun mengangguk, "baiklah. Tapi kau yang bicara"

Kali ini Joonmyeon yang mengerutkan dahi, "kenapa aku?" Dia menunjuk dirinya sendiri dengan penuh rasa tidak percaya.

"Karena ini ide mu" remaja delapan belas itu tersenyum penuh kemenangan yang terlihat seperti iblis kecil kemudian berdiri tegak dengan kedua kakinya, "ayo pergi" ajaknya dengan wajah penuh senyum. Senyum yang bahkan Joonmyeon pun tak tahu apa makna dibaliknya.

e)(o

"Jadi Feon benar-benar miliknya" Baekhyun bergumam pada dirinya sendiri ketika kedua kakinya berdiri secara nyata di depan gedung perkantoran milik Chanyeol, Feon Group. Sangat besar dan sangat megah, mirip dengan aset kakeknya di Jepang yang seharusnya menjadi miliknya kelak, tapi ya sudahlah, semuanya sekarang sudah berubah.

Di belakangnya berdiri Joonmyeon dan Sehun yang mereka temui di basement. Joonmyeon bilang semua kepala divisi Phoenix juga ikut andil dalam usaha bersih Chanyeol, termasuk Minseok dan dirinya sendiri.

"Apa maksudmu dengan Feon benar-benar milik Chanyeol?" Tanya Sehun yang bersamaan dengan langkah kaki mereka bertiga memasuki gedung perusahaan. Setiap karyawan membungkuk penuh hormat pada Joonmyeon dan Sehun, tidak padanya karena ia adalah orang asing, lagipula ia memakai penyamarannya.

Ketiganya memasuki lift yang sama, Joonmyeon menekan tombol lantai teratas ㅡdua puluh empatㅡ, sedangkan Sehun menekan angka delapan belas.

Pandangan Baekhyun sempat tertuju pada CCTV yang berada di atas lift sebelum ia bersuara, "saat aku bertemu dengannya pertama kali di hotel Feon, dia bilang itu adalah miliknya" jawabnya setelah memilah-milah kata yang tepat dan pas untuk di dengar. Tidak lucu jika ia mengatakan bahwa Chanyeol mencuri ciuman pertamanya di toilet hotel Feon.

"Pertama kali? Kau pasti bercanda" Sehun tertawa kecil dan layar di atas lift menunjuk ke arah angka 6 yang artinya mereka sudah seperempat dari perjalanan.

"Apanya?"

"Kau pasti melupakan saat kau bersinggungan dengan Bos di restaurant Korea waktu itu" Sehun mengalihkan perhatiannya untuk melihat ekspresi kebingungan Baekhyun, keningnya terlihat berlipat-lipat dengan alis menukik tajam, "itu adalah saat pertama kali kau bertemu Bos."

Ekspresi Baekhyun berubah menjadi congkak, "orang itu.. pantas saja dia tidak minta maaf. Bajingan" umpatnya dengan penuh kekesalan. Lift berhenti di lantai delapan belas dan Sehun keluar dari kotak bergerak itu setelah melambai singkat padanya.

"Jadi apa yang terjadi?" Tanya Joonmyeon setelah pintu lift kembali tertutup.

"Dia bersinggungan denganku dan tak minta maaf, dengan bodohnya dia hanya menatapku dibalik kacamatanya yang gelap. Hanya itu"

Pintu lift kembali terbuka, Joonmyeon melangkah lebih dulu untuk menunjukkan jalan selagi Baekhyun sibuk menggerutu setelah menyadari bahwa wajah pria di restaurant itu memang mirip dengan wajah si bajingan ketua Phoenix.

"Daepyeo-nim ada di tempat?" Seorang wanita cantik di belakang meja berdiri dan membungkuk sopan ke arah Joonmyeon ketika pria itu menghampirinya bersama seorang lelaki aneh yang berpakaian seperti artis yang takut diburu paparazi.

"Beliau ada di ruangannya, tetapi sekarang beliau sedang kedatangan tamu"

Kening Joonmyeon berlipat heran saat melihat ekspresi meringis asisten Chanyeol tersebut. "Tamu? Siapa?"

"Dia... errr... nona Jinri"

Bola mata Joonmyeon bergerak memutar ke atas dengan sendirinya saat mendengar nama tersebut. Ia menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuk saat kepalanya sibuk memikirkan sesuatu. Ia tengah menimang apakah ia tetap pergi kesana dan membiarkan Baekhyun melihat kemungkinan terburuk apa yang sedang terjadi didalam sana atau mereka pergi saja dari sana.

Namun pada akhirnya ia jatuh pada pilihan pertama. Ia membawa Baekhyun menuju ruangan Chanyeol dengan segala kemungkinan yang akan terjadi nanti.

Begitu pintu rangkap berdaun dua itu terbuka lebar, pemandangan panas Chanyeol dan Jinri lah yang menyambut mereka.

Bahkan diameter bola mata Baekhyun melebar seiring dengan hentakan pinggul Chanyeol diantara paha wanita jalang yang menungging tidak tahu malu di meja kerja Chanyeol dengan mini dress yang tersangkut di pinggulnya.

"Oh, pemandangan buruk" Joonmyeon mengalihkan perhatiannya dengan rasa kesal sedangkan Baekhyun justru tidak berkedip, terlalu kaget bahkan hanya untuk berkedip saja.

"Apakah ini yang kau kerjakan di kantormu, Bos?" Suara Baekhyun terdengar sinis dan penuh sindiran. Dia menarik tudung hoodie yang menutupi kepalanya juga membuka masker yang membuat hidungnya terasa pengap hingga sekarang paras cantiknya yang luar biasa terpampang begitu nyata.

Dapat dilihatnya tubuh Chanyeol yang masih berpakaian lengkap itu sedikit bergetar dengan mata yang tertutup sempurna dengan geraman erotisnya ketika pria itu menghentakkan pinggulnya dengan keras demi mengejar klimaks.

Geraman marah lolos dari sela bibir tipis Baekhyun. Kedua tangannya saling terkepal keras seakan siap melayangkan pukulan pada wajah brengsek Chanyeol.

Pemandangan menjijikan itu berubah menjadi sangat menjijikan saat Chanyeol menarik keluar miliknya hingga tampaklah sebuah penis basah dengan warna kemerahan. Baekhyun langsung membuang wajahnya dengan penuh amarah sedangkan Chanyeol menyimpan kebanggannya kembali kedalam sangkarnya.

"Pergilah"

Jinriㅡ atau sebut saja Sulli, membelalakkan matanya. Ia bertumpu pada ujung meja dan menatap Chanyeol dengan penuh protes, "Chanyeol! aku bahkan belum kliㅡ"

"Kubilang pergi!" Suara Chanyeol meninggi dan sedikitnya membuat Sulli bergetar ketakutan. Dengan gerakan cepat ia membenarkan posisi mini dress serta merapikan rambutnya yang tak beraturan. Ketika ia menoleh ke arah pintu, matanya terbelalak seperti ingin keluar dari sana.

"D-dia.." tangannya menunjuk pada sosok Baekhyun, "d-dia... bukankah dia... pangeran Hisahito?"

Baekhyun tidak tahu apakah ia harus merasa tersanjung atau tidak. Ia sekarang semakin terkenal di Asia, terkenal karena kematiannya serta kata-kata pamannya yang sangat sensasional.

Sulli menatap pahatan sempurna bak boneka itu dengan cemas sebelum ia mengalihkan pandangan penuh tanya nya pada Chanyeol, "kenapa dia disini, Chanyeol? Bukankah diaㅡ"

"Jangan banyak bicara dan pergilah, Choi!" Rahang Chanyeol mengeras seiring dengan Sulli yang berjengit kaget, lantas ia mundur beberapa langkah dan segera pergi sebelum Chanyeol benar-benar murka. "Dan..." langkah Sulli yang hampir mencapai pintu terhenti. Wanita itu tak berbalik, namun justru malah menatap wajah Baekhyun dengan lekat seakan memastikan apakah itu sungguh pangeran Hisahito atau hanya sekedar mirip, "jangan mengatakan apapun jika kau masih menyayangi nyawamu."

Setelah mendengar untaian kalimat ancaman dari Chanyeol, wanita itu pun pergi meninggalkan ruangan.

Baekhyun masih berdiri di dekat pintu dengan Joonmyeon yang juga berdiri tak jauh darinya. Mata amber cantik remaja delapan belas itu menatap Chanyeol dengan caranya yang sangat bengis. Ia merasakan kemarahan itu menelusup ke dadanya bahkan terasa sampai ke tulang-tulang.

"Ayo kita pulang saja Joon hyung. Aku sudah tak memiliki niat lagi" ia mendelik pada Chanyeol untuk terakhir kalinya sebelum ia berbalik pergi dengan bantingan pintu yang sangat keras.

Joonmyeon hendak berlari menyusul langkah cepat Baekhyun tetapi suara baritone Chanyeol menginterupsi, "biar aku yang mengurusnya"

Rahangnya mengeras dan kilatan amarah terlihat sangat jelas di sepasang violet memabukkan miliknya. Pria yang beberapa saat lalu melakukan sex kilat itu berdiri dari kursi kerjanya, melangkah lebar-lebar untuk menyusul Baekhyun dan segala sikap kekanakannya.

Baekhyun tak lebih cepat dari Chanyeol pada realitanya karena pada saat ia hendak masuk kedalam lift, Chanyeol terlebih dulu menarik tangannya untuk menjauh.

"Jangan bersikap kekanakan" peringatan pertama meluncur dari bibir kissable sang mafioso dan Baekhyun mengabaikannya. Ia justru mendengus kasar sambil mencoba melepaskan cengkeraman tangan Chanyeol.

"Aku memang anak-anak! Berhenti beranggapan bahwa aku sama dewasa nya seperti dirimu!" Mata serigala Baekhyun menatap nyalang pada violet Chanyeol yang indah. Banyak kilatan aneh di matanya, Chanyeol dapat menangkap salah satunya ㅡcemburu.

"Kembali ke ruanganku. Aku tahu ada yang ingin kau bicarakan"

Kali ini si remaja tersenyum sinis, "kau tahu segalanya, kenapa kau tidak dapat mengetahui apa yang ingin ku bicarakan?"

Lambat laun ekspresi Chanyeol berubah semakin dingin dan tajam. Matanya menggelap dan itu bukan pertanda bagus. Cengkeramannya di lengan Baekhyun semakin mengencang seakan ia ingin meremukkan tulang-tulang yang lebih kecil.

Puppy kecil itu mengerang, menyuarakan protesnya namun kabut emosi membuat telinga Chanyeol tuli. Pria tinggi dengan paras luar biasa tampan itu menyeret Baekhyun bagaikan seorang budak untuk kembali ke ruangannya, lalu membanting tubuh si mungil ke lantai hingga Joonmyeon menatapnya terkejut.

"Aku sudah pernah memperingatkanmu bahwa aku bukanlah seorang penyabar, Byun!" Chanyeol mendesis keji, tak mempedulikan keadaan Baekhyun sama sekali. Hakikatnya adalah tak bisaㅡ atau mungkin tak ingin di bantah. Tak seorang pun boleh melakukannya, tidak bahkan dengan bocah Byun itu.

"Maaf menyela, tapi kami kesini untuk berbicara padamu, Yeol" Joonmyeon menampilkan senyum kaku nya. Bagaimanapun juga Chanyeol yang sedang di kuasai emosi bukanlah sesuatu yang bagus. Pria itu biasanya selalu bersikap tenang dan penuh dengan kontrol diri. Terakhir kali ia melihatnya marah seperti ini adalah ketika Zhou nyaris berhasil menembakkan pelurunya ke kepala Sehun beberapa bulan silam.

Mata Chanyeol menyalang padanya, dan Joonmyeon beberapa kali menelan ludahnya sendiri hingga jakunnya naik turun seirama. Ia tahu ini bukanlah waktu yang tepat untuk berdiskusi. Tapi jika ia tak melakukannya maka nyawa si kecil Baekhyun akan terancam.

"Kau tahu... berita kematian Baekhyun di iringi dengan gosip tidak menyenangkan" Joonmyeon memulai, "ini soal apa yang dikatakan pamannya," kali ini dia mengangkat bahu, mencoba untuk bersantai sejenak selagi Chanyeol dapat menangkap maksud pembicaraannya, "itu membuat Baekhyun tidak senang. Dia tidak mau rakyatnya menyambut kematiannya dengan senang karena berita buruk itu."

"Kenapa dia tidak mengatakannya sendiri?" Bibir Chanyeol menyunggingkan sebuah seringai licik. Batang rokok yang entah sejak kapan menyala itu kini terapit di belahan bibirnya. Lalu sesaat setelahnya asap rokok mengepul ke udara selagi ia mematikan AC.

Dilain sisi Baekhyun mendengus, mengumpat dalam hati dan melayangkan puluhan sumpah serapah yang ia dapat dari perpustakaan sumpah serapah di kepalanya. Ia ingin sekali memukul Chanyeol dengan tongkat baseball saat melihat ruam merah yang melingkari pergelangan tangannya. Pria brengsek itu sudah membuat pergelangannya sakit, dan sebentar lagi akan muncul memar disana.

"Aku akan melakukan sesuatu jika dia menjaga sikapnya padaku" Chanyeol berdesis, terselip kemarahan yang ia tekan dalam nada suaranya yang lebih terdengar seperti sebuah geraman.

Lalu Baekhyun berdiri di tengah ruangan, mengabaikan rasa linu di pergelangan tangannya. Ia menatap Chanyeol penuh tantangan dan itu membuat sesuatu yang berada di balik punggung pria itu ingin menempel di dahi Baekhyun moncong pistol.

"Tidak akan pernah! Kau tak pantas untuk itu!"

Tapi tidak, hal itu tidak boleh terjadi lagi. Cukup satu kali saja ia tak dapat mengendalikan emosinya di hadapan anak itu. Baekhyun akan merasa menang jika dirinya bersikap meledak-ledak.

"Kau boleh pergi, Joonmyeon. Dia akan disini sampai aku tak menginginkannya lagi"

Baekhyun terhenyak. Ia menatap Chanyeol sendu. Hatinya berdenyut sakit mendengar perkataan Chanyeol yang sangat kejam menurutnya.

Chanyeol menatapnya sekilas, dengan tatapan rendah yang begitu menyakitinya. Setelahnya pria itu kembali pada pekerjaannya tanpa mengindahkan Baekhyun yang masih berdiri di tengah ruangan.

Joonmyeon sudah pergi, jadi ia hanya bisa mengepalkan tangannya penuh emosi. Dia berjalan dengan langkah berat ke arah sofa yang ada di sisi barat ruangan. Mendudukkan dirinya disana lalu mengangkat kedua kaki untuk memeluknya di atas sofa. Kepalanya ia tenggelamkan di antara lipatan kaki, merenungkan perkataan Chanyeol yang begitu membekas dalam hatinya.

Itu seperti sebuah mantra, mantra yang dapat menyadarkannya bahwa Chanyeol memang tak pernah berniat memungutnya. Pria itu mungkin saja hanya menginginkan tubuhnya, memanfaatkan kelemahannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Apa yang bisa ia harapkan dari bajingan macam Chanyeol? Tidak ada, tentu saja.

Diam-diam air matanya jatuh, terakhir kali ia menangis adalah saat kakeknya meninggal. Selebihnya, ia adalah orang yang sukar menangis. Ia bukan anak cengeng, tapi ucapan Chanyeol sungguh menyakitinya. Bagaimana pria itu dengan mudah mengatakan hal semacam itu.

Waktu terus berjalan dan Chanyeol tidak menyadari bahwa si kecil tengah menangis dalam diam sampai akhirnya telinga lebarnya menangkap sebuah suara isakan kecil yang tak sengaja lolos dari bibir yang lebih muda.

Remaja cantik itu lantas menutup bibirnya rapat-rapat. Jantungnya bertalu-talu tidak menyenangkan saat suara hentakan yang ditimbulkan alas kaki Chanyeol menggema semakin mendekat padanya.

Lalu ia merasakan sebuah sentuhan dominasi di punggungnya disertai deheman suara berat yang sudah jelas siapa pemiliknya, "ada apa?"

Pria itu menginginkan agar Baekhyun mengangkat kepalanya meski ia sudah jelas tahu bahwa remaja labil ini tengah menangis oleh suatu hal yang belum ia sadari.

"Baekhyun. Katakan apa yang salah."

Kali ini Baekhyun tak lagi menahan isakannya. Ia membuat itu terdengar jelas oleh Chanyeol. Hatinya jengkel saat Chanyeol justru menanyakan hal bodoh semacam itu. Apa yang salah katanya?

Sikap Baekhyun selalu terlihat kekanakan di matanya, jadi saat Baekhyun tak kunjung melakukan apa yang ia inginkan, ia menarik kedua kaki Baekhyun dengan hentakan kuat hingga kedua kakinya itu jatuh ke lantai. Hampir saja kepalanya juga ikut terantuk keras jika saja Chanyeol tidak cepat menahannya.

Remaja itu berusaha membuang mukanya dari Chanyeol tapi tentu saja sang dominan tidak membiarkan hal itu terjadi.

"Jangan sentuh aku" dia menepis tangan Chanyeol yang menangkup wajahnya. Tetapi tenaganya tak cukup kuat untuk itu. Chanyeol berlutut didepannya dan itu terlihat sangat luar biasa karena dia adalah Phoenix yang hebat.

"Baekhyun. Aku tak suka melihatmu menangis"

"Lalu apa yang kau suka? Melihatku membuka paha didepanmu seperti jalang-jalangmu itu?!" Suaranya meninggi dan itu jelas membuat Chanyeol terganggu. Baekhyun bahkan tidak tahu berapa banyak jalang Chanyeol diluar sana. Yang ia tahu baru satu, dan ia sudah tidak tahan dengan itu.

"Kenapa kau tidak membunuhku saja? Buat apa kau memungutku seperti sampah. Kau membuatku terlihat sangat tidak berharga" ia tak tahu apa yang ia ucapkan. Hanya saja itu membuat hatinya sedikit lega ditengah isakannya yang masih tetap berlangsung. Ia tersiksa dengan posisinya yang tak jelas di lingkungan ini. Apa ia tahanan? Atau ia jalang Chanyeol?

"Aku hanya ingin memulai hidup baru diluar Jepang. Aku ingin melakukan hal yang ku inginkan tetapi kenapa aku justru malah berakhir di kandang Phoenix" ia terisak lagi, kali ini lebih keras. Bahkan isakannya membuat asisten Chanyeol diluar ruangan bingung dan ingin mengetuk pintu untuk mengetahui apa yang tengah terjadi.

Chanyeol masih terdiam, ia menatap Baekhyun lekat dan ia menangkap berbagai macam emosi dalam sorot mata Baekhyun.

"Kau sudah memulainya"

Baekhyun menatap lelaki yang luar biasa tampan itu tidak mengerti.

"Kau sudah menjadi bagian Phoenix. Kau keluarga kami. Kau berada dibawah sayapku, dibawah perlindunganku"

Mata mereka saling bertatapan, membuat sebuah jalinan yang tak dapat dijelaskan secara ilmiah.

Perlahan kepala Chanyeol mendekat, bahasa tubuhnya mengatakan bahwa sebentar lagi ia ingin menguasai tubuh Baekhyun namun tak diduganya anak itu justru berpaling hingga bibir tebal Chanyeol menyentuh pipinya. Hal itu membuat Chanyeol menggeram, nyaris murka.

"Aku tidak mau"

Pria itu memejamkan matanya dengan begitu rapat, menakan emosinya dalam-dalam. "Kenapa? Kau tidak pernah menolak"

"Kau kotor" Baekhyun menatap Chanyeol nyalang. Matanya berkilat jijik dan itu membuat jiwa dominan Chanyeol merasa terinjak-injak. "Kau baru saja mencicipi jalang itu. Aku tidak suka bekas orang lain"

Matanya beralih ke direksi lain. Amber itu mulai berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. Chanyeol bangkit dari posisinya dengan sepasang violet yang menatap Baekhyun dingin.

Perhatiannya teralihkan ketika ponselnya bergetar didalam saku. Ia mengira itu adalah rekan kerjanya tapi ternyata itu hanya Joonmyeon.

"Apa?" Sapanya ketika sambungan mulai terhubung.

"Kau sudah melakukan hal yang pernah kubicarakan denganmu?"

Kening Chanyeol sedikit berkerut. Ia agak kesal karena pertanyaan Joonmyeon. Lelaki itu seolah tidak tahu bahwa ia tak hanya memikirkan satu hal. "Yang mana?"

"Tentang memeriksakan Baekhyun. Kau bisa pergi pada Kai sekarang. Ini shift nya"

"Aku sibuk"

"Sibuk?" Pertanyaan itu terdengar mengejek, "kau bahkan tak memiliki rapat apapun siang ini. Ayolah Bos, lakukan sebelum terlambat. Atau kau akan mendapati perut Baekhyun membesar dan seorang anak yang akan memanggilmu daddy"

"Kau terlalu berisik. Urusi saja pekerjaanmu dan serahkan ke mejaku" Chanyeol menggeram sebelum ia menutup teleponnya.

Lalu ia mengalihkan perhatiannya pada Baekhyun yang sibuk mengusapi air matanya. Ia menghela nafas, anak itu menangis lagi. Yang jadi pertanyaannya adalah kenapa anak itu menangis? Dia bahkan sudah berusaha membuat tangis remaja itu berhenti, dia hanya berusaha untuk menenangkan Baekhyun lewat ciuman, lalu anak itu menolak. Lantas sekarang apalagi kesalahannya?

"Kita akan menemui Kai sekarang"

"Untuk apa?"

"Dia seorang dokter, dia akan memeriksamu"

"Aku tidak sakit" langkah Chanyeol terhenti di depan pintu.

"Kau harus tetap diperiksa"

Hidung Baekhyun mengernyit, ia mengikuti langkah Chanyeol setelah ia memakai kacamata serta maskernya. Ia lelah seperti ini, ia ingin pergi ke manapun dengan bebas tanpa penyamaran, seperti dulu.

Dia dapat mendengar suara-suara wanita penggosip di belakangnya saat ia melangkah mengikuti Chanyeol.

"Siapa dia? Kenapa dia datang ke kantor tuan Park dan mengikutinya seperti itu?"

"Kurasa dia artis di agensi milik Park daepyeonim. Lihat saja penyamarannya"

Baekhyun bahkan baru tahu bahwa salah satu anak cabang Feon adalah sebuah perusahaan entertainment.

"Atau dia mungkin simpanannya tuan Park?"

"Simpanan apanya? Park daepyeo bahkan belum menikah. Yang ada juga dia kekasihnya, bukan simpanan"

Suara-suara itu mulai menghilang saat mereka memasuki lift. Dia menatap lantai di bawahnya dengan tatapan kosong dibalik kacamata hitamnya.

Mereka sampai di basement dan Chanyeol membawanya untuk memasuki mobil grand SUV berwarna silver yang terlihat sangat jantan.

"Aku carrier jika kau ingin memeriksakan itu"

Ucapannya membuat Chanyeol cukup tersentak, lelaki jantan itu menoleh padanya sebelum mesin mobil dinyalakan, menuntut penjelasan lebih.

"Itulah kenapa aku sempat menolakmu waktu itu. Karenaㅡ karena aku bisa saja..." Baekhyun melarikan bola matanya kesana kemari dengan gugup, "...hamil"

Wajah Baekhyun merona dengan sendirinya. Membayangkan dirinya memiliki seorang anak dari Chanyeol adalah hal paling terakhir yang ia pikirkan. Itu tidak mungkin. Chanyeol punya banyak jalang, jadi dia pasti akan memilih salah satu dari mereka untuk menjadi ibu dari anaknya.

Perjalanan ke tempat Kai terasa begitu hening. Hingga akhirnya ia sadar bahwa Kai itu adalah seorang dokter yang bekerja di sebuah rumah sakit besar di Seoul.

"Ini rumah sakit Park, milik Phoenix" itu penjelasan singkat Chanyeol sebelum mereka turun dari mobil dan berjalan memasuki gedung rumah sakit untuk menemui Kai di lantai 5.

"Wow wow wow. Suatu kehormatan bagiku kedatanganmu disaat shift ku di rumah sakit, Bos"

Kai menyambut mereka dengan baik, lalu menyediakan dua tempat duduk didepan meja kerjanya.

"Jadi... ada apa?" Ekspresi Kai terlihat amat kekanakan, lihat saja dari pancaran matanya yang berbinar seperti anak anjing. Baekhyun bahkan sempat ragu bahwa Kai adalah salah satu dari yang terkejam di Phoenix. Kenapa pria itu berprofesi sebagai dokter jika dilain sisi ia adalah seorang pembantai?

"Aku ingin kau memeriksa kesehatan Baekhyun"

Beberapa detik terlewatkan dengan suara jarum jam di dalam sana hingga Kai menatap Chanyeol nakal sambil menunjuk-nunjuknya ala gadis centil.

Astaga, itu yang dipikirkan Baekhyun.

"Baiklah. Ayo darling masuklah ke ruang pemeriksaan"

Chanyeol menatapnya tajam saat mendengar panggilan Kai untuk Baekhyun. Tetapi pria itu justru semakin menjadi-jadi dengan merangkul bahu Baekhyun kedalam ruang pemeriksaan.

"Maafkan aku karena memaksakan peruntunganku Bos!" Dia berseru dengan kekehan gila dari bibirnya sebelum menutup pintu dan memulai check up seluruh kesehatan Baekhyun.

Sekitar 40 menit Baekhyun menghabiskan waktunya untuk check up bersama Kai. Lantas mereka keluar dengan sebuah clipboard yang berada di genggaman Kai. Baekhyun duduk di sebelah Chanyeol sedangkan Kai di belakang mejanya, seperti tadi.

"Baekhyun sehat, tentu saja. Tak ada masalah dengan itu. Matanya sehat, giginya terawat, jantungnya baik, paru-parunya baik, Baekhyun perokok pasif, organ-organ dalamnya sehat, begitupun dengan rahimnya. Dan yang terpenting..." Kai menggantung ucapannya membuat Baekhyun penasaran dan Chanyeol menatapnya tajam. Pria berkulit sedikit kecoklatan itu tersenyum lebar lalu melanjutkan ucapannya; "Baekhyun siap untuk di buahi meski usianya masih delapan belas. Kurasa tidak buruk memiliki anak di usia delapan belas atau sembilan belas."

Baekhyun menatap Kai tidak percaya sedangkan Chanyeol menyeringai mendengarnya. Lantas lelaki berfostur tubuh tinggi itu berdiri dengan menyertakan Baekhyun dalam genggamannya.

"Terimakasih atas bantuanmu, Kim Kai"

"Tidak masalah, Bos. Kuharap seorang anak yang akan memanggilmu daddy segera datang ditengah-tengah Phoenix" Kai melambai padanya. Tak mempedulikan bagaimana merahnya wajah Baekhyun, entah ia malu, tersinggung atau marah. Yang pasti Chanyeol tak berhenti menariknya hingga mereka kembali masuk kedalam mobil.

"Aku ingin pulang"

Chanyeol mengalihkan tatapan tajamnya pada Baekhyun ketika mobil yang ia kendarai sudah melaju cukup jauh dari rumah sakit tempat Kai bekerja dengan 3 mobil lain yang mengikuti di belakang.

"Maksudku ke rumah Phoenix, tentu saja" Baekhyun memutar bola matanya malas saat melihat tatapan tajam Chanyeol, "aku ingin makan coklat."

"Jangan terlalu banyak memakan coklat. Kau bisa diabetes"

Ia mendelik pada sang dominan, "apa-apaan!"

"Besok aku harus pergi ke Hongkong" ujarnya, sekedar untuk memberikan informasi dan tanpa disadarinya Baekhyun menunjukkan wajah tidak setuju, namun itu hanya beberapa saat. Selebihnya ia terlihat tidak peduli.

"Akan lebih baik jika kau pergi ke neraka saja" Baekhyun bergumam dengan ekspresi muak. Sayangnya Chanyeol mendengar hal itu dengan jelas. Pria itu menyeringai sebelum mengangkat tangannya pada Baekhyun. Ia kira Chanyeol akan memukul atau menamparnya, tapi ternyata pria itu hanya mengacak rambutnya seperti tengah mengacak bulu anak anjing. Itu sangat menjengkelkan bagaimanapun juga. Kepala adalah bagian paling berharga bagi Baekhyun setelah bagian selatan tubuhnya. Kepalanya adalah sesuatu yang harus dihormati dan tak sembarang orang bisa menyentuhnya secara cuma-cuma. Di kepala itu lah dia meletakkan mahkotanya sebagai pangeran dan Chanyeol sekalipun tak berhak menyentuhnya.

"Jangan lakukan itu lagi! Kau tidak sopan!"

"Kata-katamu jauh lebih tidak sopan, nak" Baekhyun menggeram atas panggilan Chanyeol untuknya. Itu seolah mengatakan dengan jelas bahwa ia jauh berada dibawah Chanyeol. "Biar kuingatkan bahwa aku 10 tahun lebih tua darimu dan kau tak pernah menunjukan rasa hormatmu seolah kau dibesarkan di jalanan"

"Aku tidak!" Tanpa sadar anak itu berteriak, sangat nyaring hingga gelombang suaranya itu hampir memecahkan gendang telinga Chanyeol.

"Nah, itu salah satunya"

Chanyeol bersikap tenang dan itu adalah poin pentingnya. Ia selalu kesal akan sikapnya, termasuk itu. Jadi sebenarnya ia tak pernah suka dengan apapun yang Chanyeol lakukan. Chanyeol itu menjengkelkan dan menakutkan dan mengerikan dan dan dan sebagainya, masih banyak dan di kepalanya hingga ia tak bisa menjabarkannya.

"Baiklah, paman"

Chanyeol mengerutkan keningnya, matanya menyipit penuh peringatan tapi itu justru membuat Baekhyun tertawa bahagia. Tertawa karena ia bisa menjadikan ucapan Chanyeol sebagai bumerang baginya.

"Apa? Ada apa? Kau yang menyuruhku menunjukkan rasa hormatku" suaranya terdengar mengejek namun juga polos.

Chanyeol memilih mengabaikan sikap kekanakan Baekhyun yang sedang 'naik daun'. Ia membiarkan anak itu berceloteh dan memanggilnya 'paman'sepanjang perjalanan menuju rumah. Ya, dia mengantarkan Baekhyun pulang, dengan tangannya sendiri.

Dan ketika mobilnya memasuki pekarangan rumah Phoenix yang begitu luas, Baekhyun meloncat turun dari mobil Chanyeol lalu bergegas masuk setelah berkata; "sampai jumpa paman!"

Selebihnya remaja delapan belas itu tertawa terbahak sambil masuk kedalam rumah, mengabaikan para pelayan yang menyambutnya dan bertanya tentang apa yang ia butuhkan seperti cemilan atau air hangat untuk mandi. Dia terlalu senang hingga telinganya seolah tuli.

"Kau terlihat bahagia" loncatan-loncatan kecil yang ia lakukan berhenti ketika sebuah suara yang cukup tak asing menyapa di belakangnya. Saat ia berbalik ia menemukan Kris berdiri disana dengan penampilan ala gangster. Pria itu terlihat berkeringat dan kelelahan dari rambutnya yang lepek dan menempel di keningnya.

"Hai, Kris" sapanya ceria. Tak lupa dengan senyum lima jari. Ia ingat pertemuan pertamanya dengan Kris tidak begitu baik karena suasana hatinya yang sangat buruk.

Kris tersenyum dan berjalan ke arahnya, mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya yang ternyata adalah coklat, entah darimana pria itu mendapatkan hal manis semacam itu.

"Untukku?"

"...kurasa"

"Oke, terimakasih Kris" Baekhyun mengambil coklat itu dan membuka bungkusannya detik itu juga. Sangat bersemangat, sesuai dengan usianya yang masih belia.

"Mau minum coklat panas di rumah tanaman?" Tawarnya. Baekhyun kelihatan berpikir keras sebelum akhirnya ia mengangguk setuju; "coklat memang agak aneh di rumah tanaman. Tapi aku suka coklat"

Dan mereka berakhir dengan menikmati secangkir coklat panas di dalam rumah tanaman yang sangat hijau dan segar. Ia tidak tahu jika Chanyeol mempunyai hal semacam ini di tempat tinggalnya.

"Kupikir kau melupakan aku" pancing Kris, ia ingin memulai sebuah obrolan karena dari yang ia dengar dari Joonmyeon bahwa Baekhyun adalah pembicara yang baik. Cara berpikirnya realistis, seperti apa yang diharapkan dari seorang pangeran terdidik. Selain itu Joonmyeon berkata bahwa Baekhyun orang yang santai untuk diajak berbincang, dia cukup berisik dan lucu.

"Aku memiliki poin yang bagus dalam mengingat nama orang asing" jawabnya, tanpa menatap Kris dan masih betah dengan brosur yang ia temukan di atas meja. Itu brosur dari tempat semacam toko tanaman. Ia pikir mungkin semua tanaman hidroponik ini didapatkan dari tempat itu.

"Kau pergi dengan Bos?"

Baekhyun mengangguk lalu berkata; "hm, Joonma dan aku pergi untuk mendiskusikan sesuatu dengannya, lalu dia membawaku ke Kai untuk memeriksa kesehatanku. Aku berkata padanya bahwa aku carrier tapi dia tetap membawaku pada Kai untuk diperiksa. Dia benar-benar orang yang tak mudah percaya"

"Joonma? Siapa itu Joonma?"

"Oh, aku lupa. Itu panggilanku untuk Joonmyeon," lalu ia mendekatkan wajahnya pada Kris hanya untuk berbisik, "jangan katakan padanya. Dia belum tahu"

Lalu keduanya terkikik seolah mereka sudah saling mengenal, "kau seorang carrier?" Sesuatu yang lain dari perkataan Baekhyun tadi menarik perhatiannya dan ia benar-benar penasaran.

"Ya, aku carrier" Baekhyun tersenyum lebar, tapi kemudian senyum itu mulai mengecil seiring waktu berjalan, "tak seharusnya seorang penerus takhta adalah carrier. Mungkin itu yang membuat pamanku berpikir bahwa aku tidak pantas duduk di atas takhta dan akhirnya memutuskan untuk menyingkirkanku"

"Hey, itu bukan salahmu jika kau terlahir sebagai carrier. Kau cantik dan Bos beruntung memilikimu"

"Aku bukan milik siapapun Kris, tidak dengan Chanyeol atau Phoenix. Aku hanya tahanan yang bisa kapan saja di singkirkan"

"Jangan berpikiran seperti itu" Kris memberinya harapan, "kau adalah bagian dari Phoenix"

Lalu akhirnya Baekhyun kembali tersenyum, "Chanyeol juga mengatakannya tadi" mereka terdiam untuk beberapa saat hingga ia terpikirkan oleh sesuatu yang ganjal dari Kris, "kenapa kau tidak pergi bekerja di Feon Group? Joonma bilang seluruh kepala divisi di Phoenix bekerja disana"

"Apa yang membuatmu berpikir demikian?" Kris menatapnya penuh tanya dan itu sempat meragukannya. Tapi ia yakin bahwa Kris adalah salah satu dari kepala divisi. Atau paling tidak orang penting di Phoenix.

"Karena kau duduk disana saat membicarakan rencana penyerangan Zhou Feng Le" ujarnya, kemudian melanjutkan dengan lucu; "mendiang maksudku"

Kris tertawa terbahak. Joonmyeon benar soal Baekhyun. Bahwa anak itu lucu dan berisik, "yeah. Aku adalah kepala divisi pencari informasi, kau bisa menyebutnya pekerja bidang IT. Dan kurasa kau benar soal kau yang memiliki ingatan bagus tentang nama orang asing."

Baekhyun bergumam 'wow' dan tersipu akibat pujian Kris untuk sesaat. Lalu ia teringat lagi, "Luhan berada dibawah perintahmu?"

"Begitulah" Kris mengangkat bahunya, "Joonmyeon dan Kai adalah contoh yang lain. Masih banyak kepala divisi di Phoenix. Lain waktu kau akan bertemu dengan mereka satu persatu"

"Bagaimana dengan Sehun? Apakah dia bukan kepala divisi?" Baekhyun masih penasaran. Dan Kris terlihat berpikir sejenak, mencari kata yang tepat agar Baekhyun dapat memahaminya meski ia yakin dengan kata serumit apapun Baekhyun tetap dapat memahaminya. Baekhyun adalah bocah yang cerdas, ingat?

"Tidak, tapi dia orang penting di kelompok. Maksudku, dia adalah orang yang bekerja di divisi paling vital dan merupakan kombinasi dari divisi lain yang dipimpin oleh Joonmyeon. Sehun dan Yixing juga perwakilan terbaik dari divisi 3."

Wajah Baekhyun terlihat semakin penasaran, "vital dan kombinasi? Maksudmu kelompok Joonmyeon terdiri dari bebeberapa orang yang berada di divisi lain? Mereka merangkap di dua divisi?"

"Betul sekali" Kris tersenyum bangga seolah baru melihat anaknya bisa menyelesaikan soal yang rumit, "divisi Joonmyeon adalah eksekusi, divisi satu. Tanpa mereka semuanya tak akan berjalan sesuai rencana. Bagian kelompoknya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan paling baik di bidangnya. Seperti Luhan yang menjadi hacker terbaik di kelompok kami serta Kai si dokter bedah kematian yang mengerikan"

"Oh, aku tidak akan memeriksakan diriku lagi pada Kai. Bagaimana jika dia membuatku mati" Baekhyun merinding lalu tertawa bersama Kris karena keduanya tahu bahwa itu adalah gurauan, "kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau tidak pergi ke Feon?"

"Aku sedang memperbaiki sistem keamanan diluar pagar rumah. Dan memasang beberapa ranjau disana"

"Hey, itu tidak baik" Baekhyun mencibir, "bagaimana jika ada hewan hutan yang tak sengaja berjalan-jalan disana?"

"Itu tidak akan terjadi, mereka hidup jauh didalam hutan dan tak akan mendekat kesini. Percayalah"

"Baiklah, itu terdengar bagus"

Kris hendak membuka mulutnya kembali saat salah satu anak buahnya berteriak memanggilnya; "bos! Ada masalah dengan ranjau di sebelah timur!"

Pria tinggi dengan wajah campuran Barat-Asia itu menghela nafasnya, lalu ia bangkit untuk pamit pada Baekhyun, "aku harus pergi. Mungkin aku akan kembali untuk mengobrol denganmu lagi"

"Ya tidak apa, terimakasih atas coklatnya Kris" Baekhyun melambaikan tangannya pada Kris hingga punggung lebar pria itu menghilang dibalik air mancur.

Udara berhembus cukup baik sore ini jadi ia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar taman. Tak banyak orang disana. Hanya ada beberapa penjaga kebun yang sedang mengecek tanaman. Mereka membunguk ke arahnya ketika melihat keberadaannya disana dan ia balas mengangguk dengan ramah.

Ia berjalan menyusuri taman bunga yang sangat luas hingga matanya tak sengaja menangkap keberadaan sebuah bulu tebal yang menyembul dibalik bunga-bunga dandelion yang belum mekar. Bulu itu bergerak-gerak seolah memancingnya untuk mendekat. Itu bukan ulat, ulat tak akan terlihat menggemaskan dan sebesar itu.

Ketika langkahnya semakin mendekat ia mendengar suara gemerincing lonceng dan anak anjing itu keluar dari sana dan berlarian di taman seperti mengajaknya untuk bermain. Ya, ternyata itu seekor anak anjing menggemaskan berbulu seputih salju. Ia tak pernah melihatnya disini jadi ia berlari untuk menangkap anak anjing menggemaskan itu yang mengingatkan ia pada Chiko-nya di istana.

"Tuan muda tolong berhati-hati disana adaㅡ"

Terlambat, peringatan itu terlalu terlambat hingga Baekhyun tersandung oleh akar dan jatuh menimpa bunga mawar dengan duri-durinya yang tajam.

"AAAAH!" Teriakan itu menggema ke seluruh penjuru istana Phoenix. Bahkan Kris yang berada di luar pagar tinggi Phoenix masih dapat mendengar suara jeritan melengking itu. Burung-burung gagak yang tengah menikmati matahari sore di atas pagar rumah pun beterbangan ke langit dengan suara mereka yang keras saat mendengar teriakan lantang Baekhyun.

Baekhyun terjatuh diantara tumpukan duri mawar. Ia menjerit karena merasakan sakit luar biasa yang menimpa telapak tangan dan lututnya, celana army selututnya benar-benar tak dapat melindungi kakinya. Beberapa penjaga kebun berlarian ke arahnya untuk membantunya menyingkir dari sana dan Baekhyun kembali menjerit keras kala ia menarik dirinya dari duri bunga mawar, beberapa masih tertinggal di tubuhnya dan itu membuat Baekhyun menangis kencang sambil terduduk di tanah kebun yang kotor.

Seisi penghuni istana Phoenix berlarian ke arah taman untuk melihat apa yang terjadi dan mereka menemukan tuan muda mereka terduduk ditanah dengan telapak tangan serta lutut yang mengeluarkan darah. Celakalah mereka.

"Astaga, Baekhyun!" Itu teriakan Kris. Dia panik dan berlari ke arah Baekhyun. Mencoba menenangkan tangisan remaja itu namun justru malah semakin parah.

"Biar kami mencabut duri-duri itu tuan mudaㅡ"

"Tidak!" Jeritnya seperti anak-anak, "huweee Chanyeollie! CHANYEOLLIE! AKU INGIN DIA!"

Mereka menutup telinga mereka kala gelombang audiosonik maksimal itu menyapa telinga mereka. Para pekerja rumah menatapnya kasihan, ingin menolong tapi Baekhyun jelas menolak semua pertolongan. Dia malah terus menjeritkan nama Chanyeol untuk menolongnya. Kenapa Chanyeol? Mereka juga tidak tahu. Mungkin karena tuan Park itu adalah kekasihnya, itulah yang mereka pikirkan. Baekhyun terlihat menggemaskan sebenarnya, tapi tentu saja tak ada yang berani tertawa untuk saat ini karena itu sangatlah tidak tepat.

"Mana Chanyeollie aku ingin dia! Huwee Chanyeollie!" Baekhyun terus merengek dan menangis merasakan perih pada luka-luka di tubuhnya.

Kris menggaruk batang hidungnya dengan jari telunjuk, kebingungan. Ia meringis sebelum akhirnya memutuskan untuk menghubungi atasannya atas apa yang terjadi pada Baekhyun atau Baekhyun akan terus menangis dan lukanya akan semakin parah karena tidak di obati.

Chanyeol mengangkat panggilannya pada nada tunggu ke-6 dan suara datar itu menyapa telinganya, "kuharap ini penting atau aku akan memotong sesuatu ditengah pahamu agar Joonmyeon tak dapat menikmatinya lagi. Kau tahu apa akibat jika mengganggu rapatku"

"Maaf bos," Kris meringis ngilu membayangkan kebanggaannya dipotong oleh Chanyeol dan dijadikan dessert untuk Monggu ㅡserigala peliharaan Kaiㅡ, itu sangat mengerikan, "aku berani bersumpah jika ini penting. Baekhyun terjatuh dan telapak tangan serta lututnya berdarah cukup banyak. Dia menangis, menolak di obati danㅡ"

"Jangan sentuh aku huwee! Chanlie dimana? CHANLIE! Aku ingin dia"

"ㅡdia terus memanggil-manggil namamu Bos" Kris melirik Baekhyun yang masih duduk di tanah tak jauh darinya. Ia yakin Chanyeol pasti mendengar teriakannya barusan dan ia tak cukup yakin apakah Bos nya itu akan meninggalkan rapat demi Baekhyun atau justru mengabaikannya. Ia rasa opsi kedua lah yang paling mungkin terjadi.

"Katakan padanya aku akan sampai disana dalam 10 menit dan hubungi Taeil untuk segera datang"

Kris belum sempat menyelesaikan keterkejutannya ketika Chanyeol lebih dulu menutup telepon. Oh, ini benar-benar sebuah kemajuan dimana Bos nya akan meninggalkan rapat berharganya hanya untuk seorang remaja yang sedang menjerit memanggil-manggil namanya.

"Baekhyun.. Chanyeol akan datang dalam 10 menit. Bersabarlah, oke?" Kris mencoba bernegosiasi dan Baekhyun tak mau mendengarnya karena yang ia inginkan adalah Chanyeol ada disini, sekarang.

Tangisan Baekhyun sudah membuat segala aktivitas di rumah ini terhenti begitu saja. Bagaimana tidak jika tangisan Baekhyun sangatlah keras hingga menarik perhatian orang-orang.

"Tuan muda, mari pindah ke dalam, disini kotor"

"Tidak mau! Aku ingin Chanyeol-ku"

Itu sangat manis, pikir Kris. Tapi ini keadaan genting hingga hal-hal seperti itu harus di lupakan sejenak. Bagaimana Baekhyun mengklaim lewat ucapannya bahwa Chanyeol adalah miliknya. Entah itu ia lakukan secara sadar atau karena terlalu sakit hingga tak bisa berpikir jernih.

Dokter Taeil datang sebelum Chanyeol, itu wajar karena Taeil memiliki tempat praktek tak jauh dari rumah ini. Pria itu juga sudah berusaha untuk membujuk Baekhyun untuk pindah namun Baekhyun kembali menolak dan mengatakan bahwa lututnya terlalu sakit untuk di gerakan. Itu wajar saja karena banyak duri mawar yang menancap disana seperti sebuah maha karya.

"Apa yang terjadi padanya?"

Suara tegas itu membuat semua orang menoleh dan menyingkir untuk memberikannya akses menuju Baekhyun. Tangis Baekhyun mereda saat ia melihat Chanyeol berjalan ke arahnya. Hatinya menjerit senang namun saat melihat raut marah Chanyeol ia langsung menunduk sedih. Chanyeol kemudian berjongkok di hadapan Baekhyun sambil melihat seberapa parah luka pada lututnya.

"Aku tidak tahu, aku sedang mengecek ranjau di luar pagar dan aku mendengar jeritannya." Kris yang menjawab.

"A-ano.. tadi tuan muda berlarian mengejar Vivi sebelum ia tersandung dan terjatuh di atas tumpukan mawar"

Chanyeol menggertakkan gigi-giginya marah. Vivi adalah anjing Sehun. Keparat, ayah dari anjing itu harus mendapat balasannya. Siapa lagi kalau bukan Sehun. Bagaimana bisa pria pucat itu membiarkan Vivi berkeliaran disini?

"Chanlie.. hiks" Baekhyun terisak sangat pelan hingga hanya Chanyeol saja yang dapat mendengar suaranya.

Entah bagaimana ekspresi keras pria itu berubah menjadi lebih lembut saat Baekhyun kembali memanggilnya dengan manis. Ia tak mengatakan apapun dan hanya mengangkat tubuh Baekhyun ala pengantin baru meski Baekhyun sempat berontak karena sakit pada lututnya saat melakukan pergerakan. Remaja itu kembali menangis di bahu Chanyeol dan mengeluh bahwa kakinya sangat sakit.

Chanyeol berbisik untuk menenangkannya lalu meletakkan tubuh seringan bulu milik Baekhyun di atas sofa di ruang belakang.

"Chanlie jangan pergi" suara Baekhyun bergetar dan terdengar menyedihkan, menahan Chanyeol yang kelihatan akan beranjak dari dekatnya.

Pada akhirnya Chanyeol melakukan apa yang remaja itu inginkan, duduk di sebelahnya dan membuat dirinya sebagai sandaran Baekhyun yang sedang di obati oleh Taeil. Kedua lengan berototnya melingkari tubuh Baekhyun tanpa menyakitinya, sesekali mengecup kepalanya ketika Baekhyun menahan pekikan sakit akibat duri-duri yang berusaha Taeil singkirkan dari kulitnya.

"Chanlie.. sakit" adunya dan Chanyeol hanya mengusap-usap punggungnya tanpa berkata apapun.

"Baekhyun, darling, apa kau memiliki hemofilia?"

Baekhyun berhenti menangis sejenak, mendengar pertanyaan itu dengan baik saat Taeil terus menghapus darah yang sukar berhenti mengalir dari luka Baekhyun.

"Tidak, jii-chan bilang darahku memang agak sulit berhenti saat terluka. Tapi dia bilang itu tidak parah dan tidak berlangsung lama"

"Aku khawatir jika kau penderita hemofilia. Tapi syukurlah jika bukan" ujar Taeil.

Luka di tangannya sudah selesai diberi perban jadi ia bisa memeluk Chanyeol dengan erat meski harus sedikit meringis saat merasakan perihnya masih ada.

"Sakit, hm?" Tanya pria jangkung itu seraya berbisik dengan suara rendah.

Baekhyun mengangguk cepat, "sangat sakit, Yeollie"

Sikap Chanyeol berubah lembut, sementara itu sikap Baekhyun jauh lebih aneh. Chanyeol tidak ingin menambah buruk keadaan dengan memarahi Baekhyun meski sebenarnya ia sangat ingin. Betapa cerobohnya anak itu hingga bisa terjatuh menimpa duri mawar. Dan ia sangat ingin mencekik Sehun untuk saat ini karena dia telah membiarkan Vivi berkeliaran di rumahnya. Anjing itu seharusnya di kandangi, bukan dibiarkan berkeliaran. Ia tak suka saat ada jejak hewan di rumahnya, tidak bahkan jika para pelayannya langsung membersihkan itu.

"Kenapa kau mengejar Vivi, hm?" Bisik Chanyeol didepan telinga Baekhyun ketika dokter Taeil beranjak dan undur diri. Tugasnya sudah selesai dan ia mengatakan bahwa Baekhyun hanya harus mengganti perban itu minimal dua kali sehari dan menetesi lukanya dengan obat merah yang ia berikan.

Remaja itu masih nyaman berada dalam dada Chanyeol yang bidang dan hangat, jadi ia hanya merengek ketika Chanyeol bergerak, "aku hanya ingin menangkapnya, dia terlihat imut" akunya, jujur.

"Kau suka anjing?"

Dirasakannya Baekhyun mengangguk di dadanya, "um.. aku punya Chiko di istana" lalu dia terdiam untuk beberapa saat hingga suara deru nafas masing-masing terdengar begitu jelas. Sesekali ia meringis dengan perih di lukanya, "bisakah kau mengambilkan Chiko untukku?"

Chanyeol menggerakan kepalanya ke bawah saat Baekhyun justru mendongak ke atas hingga hidung mereka nyaris bertabrakan.

"Kenapa aku harus membawanya untukmu?"

Suara Chanyeol terdengar dingin dan tidak peduli, membuat Baekhyun merengut dengan bibir yang mengerucut imut, "karena kau sudah menculikku. Jadi kau juga harus membawa Chiko"

"Aku tidak janji" lalu sebuah kecupan ringan mendarat di bibirnya.

Suara getaran di ponsel Chanyeol terdengar dan itu adalah Minseok, kedua pria itu saling bercakap di telepon sebelum akhirnya Chanyeol menyimpan kembali ponselnya.

"Minseok? Kenapa dia menelepon? Apa dia menyuruhmu kembali ke kantor?" Bulu mata Baekhyun bergerak naik turun seiring kedipan matanya yang terlihat polos.

"Tidak ada yang berani menyuruh Phoenix, baby" wajah Baekhyun merona dengan panggilan Chanyeol untuknya. "Dia hanya mengatakan bahwa tiket pesawatku sudah siap" entah apa manfaatnya ia mengatakan itu pada Baekhyun. Hanya saja ia merasa ingin menjawab pertanyaan itu. Ia tidak bisa berbohong untuk mengatakan ia benci Baekhyun yang seperti ini, pada kenyataannya Baekhyun terlihat begitu manis saat bersikap manja. Meski itu sedikit mengganggunya karena Baekhyun terus mengusakkan kepalanya di dadanya seperti anak kucing.

"Kau akan pergi?"

"Aku sudah mengatakannya, di mobil"

Baekhyun terdiam, berpikir untuk mengulang kejadian di mobil tadi dan ia ingat bahwa Chanyeol mengatakan dirinya akan pergi ke Hongkong, besok.

"Jangan pergi" tiba-tiba ia menjadi protektif dan peduli. Pelukan tangan kecilnya di pinggang keras Chanyeol semakin terasa kencang.

"Kenapa aku tidak boleh pergi?" Chanyeol memainkan rambut di sekitar dahinya dan itu membuat Baekhyun nyaman entah bagaimana.

"Aku ingin kau disini, aku kesakitan Chanyeollie"

Dan sekarang Chanyeol menghadapi sesuatu yang lebih rumit dari klien nya yang rewelㅡ yakni Baekhyun yang merengek manja padanya untuk tidak pergi.

Ini cukup sulit.

.

Bersambung

.

Gue seneng banget baca komentar kalian masssaaaa..

Pada panjang-panjang lagi hehee. Pertahanin yahh sayang sayangkuuuhh. Komentar kalian bikin gue semangat loh seriusan.

Dan soal cincin Chanyeol itu...

Hmmm...

Itu cincin pertunangannya dia.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tapi boong! :p

Wkwkwk

Gadeng.. itu cuman cincin biasa, maksudnya gak ada makna apa-apa buat Cey. Dia cuma sekedar pake aja gitu. Dan oh ya gue bakal bales beberapa komen kalian nih hihihii~~

suikajiji : oke makasih saayyy koreksinya sangat membantu :* gue suka nih yg suka kasih koreksi kek gini wkwk.. keep review ya bebsss gue tunggu

n3208007 : insyaAllah deh gue gk hiatus nanti yakk wkwkk.. gue bakal hiatus dengan 1 alesan ; ujian praktek tingkat akhir cuyy :(( tapi kalo ff ini tamat sebelum gue ujian praktek (amin) gue pasti post kok.

AERI BYEOL : oke sama sama bebs! Gue sih tipe orangnya selalu mau berusaha bikin ff sampe tamat lah gitu soalnya gue ngerasain gimana rasanya jadi reader yang digantung, apalagi kalo republish ditengah jalan, wah parah deh itu pokoknya. Alesan gue g lanjutin sebuah story ya palingan karena kurangnya peminat, itu aja.

Baekbyours614 : itu masalah cincin udah gue jelasin diatas y sis. Soal yg dicari Cey itu mksdnya anak buahnya, org2 Phoenix yg ditawan sama Triad.

Azzuree : masalah panjangnya sih paling nyampe belasan chapter, tapi kalo gue niat sih bisa tembus 20ch an wkwk.. dan soal bertele-tele entahlah, itu tergantung penilaian kalian hehe.. gue harap juga alur cerita kedepannya g ngebosenin yaa..

Poppy20 : gue ngakak banget baca komen lo wkwkkkk ngehibur banget masssaaa :D keep review yang panjang panjang yakk gue like pokoknya. Soal komitmen Cey, kita liat aja kedepannya ya :D

VFlicka6104 : Sulli mati tidak yakkk? Hehee liat aja nanti ya~~~ btw yg ngomong gitu Jongdae loh bukan Minseok wkwk.. ttp komen yaaa sayy gue suka komen panjangnya

Mawar biru : oke gue usahain momen cb nya banyakin ya hehe.. gue pribadi sih soalnya lebih like pas ngetik scene action nya hehe soalnya imajinasi gue ngerambatnya sama maen pukul pukul ama bunuh bunuhan, sukak gue wkwkkwkkk.. oke salam juga dari author zyyeoliee yang abal abal ini hehe

D'Loey : kalo gue kasih gambaran gk surprise dong beb wkwkk.. keep review okaayyyy

pcyxbbh : kiww bisa aja sih muji nya wkwkk idung gue ampe ngelayang noh untung aja ada langit-langit jadinya jatoh lagi kebawah coba kalo kagak tar gua gapunya idung dong ya wkwkk.. okelah ttp review yaaa

YANG GAK GUE BALES REVIEW NYA BUKAN BERARTI GUE GABACA YA GUYSSS. Jan salah paham. Karena banyak pertanyaan yg sama yaudah gue ringkas di satu akun yg kebetulan pertama nanyain hal yg kalian tanya. Ngerti g? Berbelit belit ya gue? Hehehe pokoknya gitu lahh..

Btw, gue nangis kejer anjir pas liat acara fckn award shit MAMA. Tayik banget tau gk sih, gue sih masih strong y pas tau vote exo-l dituker sama duit, yg bikin gue nangis kejer tuh pas liat oppa oppa gue nangis anjir sakit banget ni ati. Apalagi pas Baek bilang jangan nangis padahal dia sendiri nangis pas udah turun stage. Goblok banget sih acara MAMA bikin gue emosi. Pengen gue santet aja rasanya. Mana suaranya yang nangis juga kek gueeee?

Habis gelap terbitlah terang.. and then gue bersyukur banget ngucap banyak alhamdulillah pas liat keceriaan mereka balik lagi di acara MMA dan gue terkenyodhh banget pas liat banyak CHANBAEK momen bertebaran. Kan gue kobam CB jadinya :((

Okelah intinya buat sekarang REVIEW guysss! Awas aja kalo kalian yg review di ch sebelumnya terus gk review di ch sekarang, gue santet online siahh. Gue baca uname kalian ya sayang sayangkuuuhh :)) sooo.. kalian musti review yang panjaaaaaaaaaaaaangggg ngalahin panjangnya anunya ceye :)))

Btw gue seneng banget baca komen kalian yg bilang penggambaran gue ttg mv lotto itu udah oke.. aseeek lah pokoknya gue seneng bat dahhhh.. Dan buat yg minta nc scene... hmmmm... gatau deh gue kalo yg secara frontal nya,panas dingin anjir gue ngetiknya masssaaaaa hehehee

Okefix sekarang pas udah baca cuap-cuap gue silahkan tulis isi pikiran kalian di kotak review...:))

See you beybehhhh :*

eh btw gue ada typo g sih? Kasih tau di kolom review ya.

And, buat yang dulu pernah nanya harus manggil gue apa silahkan panggil gue 'ZIO', itu nama samaran gue wkwk.. gue line 00 jadi kalo lo lebih tua bisa manggil gue dek/adek/zio aja/atau apa kek terserah, dan buat yang lebih cimit dari gue boleh manggil kak dsb. Yg penting nama gue ZIO

UP YANG MAU GUE NOTICE DI CH DEPAN?! (Dih sok penting banget yak gue)