"Berapa orang yang memintaku hari ini?" Kyungsoo menghampiri meja resepsionis dan bertemu dengan seorang laki-laki sebayanya. Setelah pertanyaan itu terlontar, dia segera melihat daftar dibuku catatannya. "Ya, Jaehyun-ah, jadi?"

Dia berdeham, lalu melepas kacamata minus-nya dan beralih meneliti wajah Kyungsoo. "Hyung, sepertinya ada lima kamar?"

"Kau terdengar tidak pasti. Apa itu pernyataan?" Kyungsoo mengetukkan jemarinya, bosan menunggu.

"Kalau aku? Coba cari namaku, Jaehyun-ah." Baekhyun menyela Kyungsoo dan Jaehyun yang tampak berpikir terlalu lama. "Ah, aku ada kencan dengan Chanyeol. Bagaimana kalau tunda sebagian pemesanan?"

"Bertingkahlah yang masuk akal, Baek. Mana bisa kau berbuat seenak hati? Aku tahu kau memuja Pangeran Chanyeol-mu, tapi-"

"Ya, ya, maafkan aku Kyungsoo ahjumma. Hanya bercanda. Lagipula aku masih sayang nyawa, dan tidak akan kubiarkan Seungbin itu sembar-"

"Ya!" Jaehyun mengeraskan volumenya, mengingat mereka ada disuasana disko. "Kenapa jadi berdebat, sih?" Ia memutar bola matanya, lalu mematut diri agar tampak tegak.

"Kami tidak berdebat." Kyungsoo dan Baekhyun sama-sama melempar tatapan.

"Baiklah, akan aku perjelas." Jaehyun akhirnya mengalah, ia menulis beberapa kalimat dikertas-kertas itu. "Kyungsoo Hyung, maaf ada ralat, malam ini kau dipesan enam kamar." Kyungsoo mengangguk, tidak membantah. Memang ini konsekuensinya, dan Seungbin selalu meforsir tenaganya pada pria-pria berkantung emas itu. "Baekhyun Hyung, kau seperti biasa, cukup tiga kamar dan mungkin salah satunya adalah Park Chanyeol." Tentang ini, Baekhyun tampak girang. Ia meninju udara saking senangnya.

"Kau dengar, Kyungsoo? Kubilang aku dan Chanyeol memang sudah dipertemukan oleh takdir dan Tuhan menghendakinya. Yay!" Baekhyun bahkan tidak sungkan memeluk Kyungsoo yang kelabakan beberapa saat.

"Baekhyun," Kyungsoo melepas hura-hura Baekhyun, lalu senyumnya tampak terpaksa. "A-aku cukup senang kau bisa mendapatkan Chanyeol." Tapi Baekhyun sadar, wajah itu mulai berubah di mode deritanya.

Jaehyun hanya memperhatikan gelagat keduanya, sampai ia tak enak hati jika harus menginterupsi mereka. "Baiklah, selamat bekerja, Hyungdeul." Jaehyun mengembangkan senyum seraya berisyarat dengan kepalan tangan.

"Terimakasih, Jaehyun-ah. Oh ya, kalau beg-"

"Kyungsoo," Kalimat Baekhyun terputus saat panggilan itu beraura seram. Seungbin ada diantara mereka. "Maaf Baekhyun dan Jaehyun, aku harus bicara dengannya."

Kyungsoo sempat ingin memprotes ajakan itu, tapi bisikan Seungbin ditelinganya benar-benar tidak bisa dianggap enteng. Maka, ia berpamitan pada Baekhyun dan Jaehyun yang berulang kali mengangguk. Seungbin mengajaknya ke bar, duduk di dua kursinya dan menghadap salah satu bartender disana. Mereka terdiam selama beberapa menit sebelum akhirnya bartender bertanya tentang pesanan.

"Ah, Vodka dan Rum. Tidak banyak Rum, tambahkan Mirin sedikit." Bartender menyanggupi permintaan Seungbin. Ia menunggu Kyungsoo menyambung pesanannya, tapi pemuda itu malah memainkan asbak. "Kau tid-"

"Aku tidak minum alcohol."

Seungbin mendengus, "Kau sudah bergelut disini selama bertahun-tahun dan masih bersikukuh tidak ingin meminum alcohol? Munafik." Lalu ia mengusir Bartender dengan kibasan tangan dan melirik lawan bicaranya yang terus merapatkan jubah.

"Aku tidak suka lama-lama disini. Banyak yang memperhatikanku dan aku risih. Bisakah-"

Seungbin menyulut cerutunya, lalu menghisap batang nikotin itu. "Memang sudah tugasmu dipandangi dan dinikmati seperti ini, kan?" Seungbin mengedarkan tatapannya dan mendapati bahwa pengunjung bar-nya benar-benar membludak malam ini.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan? Apa ada pelanggan yang komplain? Aku sudah agresif dan tidak menampakkan ekspresi datar." Kyungsoo merasakan tawa Seungbin, sekaligus sebelah tangan pria itu yang tiba-tiba melingkar dipinggangnya. "Ja-jangan menyentuhku."

"Jangan? Oh, tapi ini bukan tentang pelanggan yang komplain." Kyungsoo menelengkan kepalanya, merasa bingung. "Ini tentang seseorang yang akhir-akhir ini..ehm, aktif mengejar-ngejarmu."

Tentu saja Kyungsoo tidak punya kandidat lain selain Jongin. Tubuhnya tegang, dan kedua tangannya saling meremat. Bagaimana bisa Seungbin mengurusi seluk-beluk kehidupan pribadinya?

"Kau tampak terkejut, hm?" Seungbin mengucap terima kasih saat minuman kerasnya sudah diantarkan. Ia menggoyangkan gelas cantik itu baru menyesapnya sedikit demi sedikit. "Aku hanya ingin tahu kalau dia tidak berniat macam-macam pada penghasil uangku ini."

Kyungsoo memalingkan wajah, mencari-cari oksigen yang sengaja kabur saat ia sedang sekarat. Tidak, hanya, jangan biarkan Seungbin mencelakai Jongin.

"Jangan menja-oh, dia tidak berbahaya. Aku bisa jamin itu. Dia teman semasa sekolah Baekhyun." Disela grogi, Kyungsoo merasakan suaranya bergetar. "Kau tidak perlu khawatir, dia orang baik."

"Ah, jadi teman Baekhyun? Aku tidak perlu khawatir karena dia orang baik?"

Kyungsoo mengangguk, lemah. "Aku tidak akan kabur darisini. Kau tahu sendiri aku tidak bisa hidup diluar sana tanpa bantuanmu." Baiklah, biarkan sekali ini Kyungsoo mengemis asal Seungbin tidak menginterogasinya tentang Jongin.

"Aku tahu. Aku tidak sanksi kalau kau memang bergantung padaku. Aku akan mencari tahu namanya."

Mata bulat itu mendelik kentara, jika saja temaram ruangan luas ini tidak menyamarkannya. Keterkejutan Kyungsoo tak ubah karena Jongin harus dilindungi. Ia hanya tidak ingin seseorang yang bisa membuatnya tersenyum harus dijauhkan darisini jika bukan karena ulah Seungbin.

"Dia tidak akan berulah dan kau tidak perlu tahu namanya."

Sangkalan spontan itu membuat Seungbin heran sedetik. "Kenapa? Apa kau mulai mencintainya?"

"Ti-tidak. Ka-kami hanya teman biasa dan tidak ada hubungan apapun."

Sekalipun Kyungsoo berusaha menyembunyikan gelagapannya, Seungbin tetap teliti memperhatikan segala reaksi itu. "Tenang saja, Kyungsoo. Aku akan mencari info tentangnya, sama seperti aku mencari info Chanyeol yang memacari Baekhyun."

Tidak bisa lega yang Kyungsoo rasakan saat ini. Cara Seungbin memeriksa Chanyeol dulu mungkin bisa berbeda dengan caranya memeriksa Jongin sekarang. Kyungsoo patut gelisah akan hal ini. Tapi satu, ia tidak boleh terlihat jatuh semengenaskan ini.

"Baiklah. Terserah apa yang kau lakukan. Kau yang mengatur hidupku, bukankah kau adalah Tuhanku?" Kyungsoo sengaja melengos, tampak seolah tak gentar dengan ancaman mucikarinya ini. "Aku hanya ingin hukumanku berhenti minggu ini, sesuai dengan perjanjianmu."

Seungbin terkekeh, "Oh, hari Rabu? Tentu, Kyungsoo. Aku akan memberimu waktu luang untuk bertemu dengan kekasihmu, hm?"

Demi Tuhan, Kyungsoo seakan ingin melempari mulut itu dengan pecahan beling. "Aku tidak peduli dengan anggapanmu."

Seungbin mengepulkan asap dan beralih meneguk cairan berwarna-warni yang membuat Kyungsoo harus menahan mualnya. "Baguslah kalau kau masih menurut padaku."

Kemudian alunan musik beat dari komposisi DJ diujung sana, benar-benar menghentak semua orang didalam sini. Tapi tidak dengan Kyungsoo yang merasa telinganya pengang, dan Seungbin yang tampak tidak memedulikan keadaan sekitar.

"Tentang pekerjaanmu." Kyungsoo pikir percakapan ini telah usai. Tapi laki-laki itu masih mengoceh dan membuat atensinya terbagi antara Jongin dan tetek-bengek lain. "Kontrak pemotretan pornomu akan aku perpanjang. Striptease-mu menjadi Sabtu dan Minggu. Lalu pelanggan, tidak ada batasan sampai subuh."

Ya, karena Kyungsoo sedang malas mendebat. Karena ia malas mencari masalah dan berakhir dengan tuduhan bersalah. "Terserah. Asal kau memberi honor yang pantas untukku. Aku harus mengirimkan uang untuk orangtuaku." Ia menggumam, tapi Seungbin pasti masih bisa mendengar setiap katanya.

Karena selama ini ia tahu, Seungbin menyuruh anak buahnya untuk mengantar uang-uang yang dihasilkan Kyungsoo ke rumah orangtuanya. Kyungsoo yakin itu sampai ke tangan yang benar, oh atau tidak setelah ia melihat perubahan wajah itu. Makna ini mulai terasa janggal saat Seungbin tak juga mengeluarkan suara. Ia pasrah saja saat honornya hanya seperempat dan seperempatnya lagi untuk orangtuanya, sesuai dalih Seungbin. Lalu sisanya bisa diembat perusahaan lacur ini.

Tidak, ini semua mulai terkuak. Kenapa ia sebodoh ini? Kenapa ia tidak memikirkan kemungkinan semacam ini? "Kau tidak mengantarkannya pada orangtuaku? Benar?!" Bahkan suara Kyungsoo sudah meninggi, bersama gebrakan kecil dimeja. Seharusnya ia bisa mengira Seungbin akan melakukan kebejatan ini. Menipunya telak-telak.

"Tsk. Kurasa orangtuamu baik-baik saja tanpa uang dari anaknya." Seungbin berujar santai seolah ini bukanlah polemik besar.

Kyungsoo tentu saja geram, kemarahan yang ia pendam tentang harga dirinya tak seberapa dibandingkan ketidakwarasannya mempercayai Seungbin. "Kau boleh memperlakukanku serendah binatang, tapi tidak saat kau membawa orangtuaku ke kehidupan menyakitkan! Jangan samakan aku dengan mereka! Dasar biadab!"

Tidak ada lagi kalimat-kalimat kasar yang mampu diucapkan Kyungsoo. Karena pada dasarnya, hatinya lebih sakit. Pengkhianatan yang didapatnya. Bahkan mengingat atas pengorbanannya untuk orang itu, sangatlah sia-sia tanpa imbalan apapun.

Kyungsoo mendorong kursinya kebelakang, ia berdiri bersama nafas berat. "Aku tidak memberimu perhitungan, selama ini aku sudah menghormatimu. Dan aku hanya tidak menyangka hatimu sudah membusuk dan lama mati. Apa ini balasan untuk pekerja yang selalu kau perlakukan seenak jidat?!" Selanjutnya, Kyungsoo benar-benar pergi dari sana, menghilang dari Seungbin yang kini tertawa sendiri.

Tidak. Tidak ada airmata yang bisa diteteskan Kyungsoo. Dirinya terlalu kebal dengan segala kenyataan pahit yang bertahun-tahun dihadapinya. Kyungsoo hanya butuh menenangkan diri, ia hanya butuh ruang tersendiri untuknya memohon kebaikan Tuhan. Tsk, ini berkat kebodohannya. Sungguh, ini karena kepolosan dirinya yang begitu menaruh setitik percaya pada pria kurang ajar itu.

Sayang saja, tidak ada waktu untuk itu semua. Kyungsoo sudah sangat terlambat mendatangi kamar pelanggannya. Tapi kalau pelanggan itu mengamuk, salahkan saja Seungbin. Ya, salahkan dia. Kyungsoo menaiki tangga menuju lantai dua, membaca catatan kecil yang diberikan Jaehyun. Ada enam kamar, tsk, banyak sekali. Ia bukannya mengeluh, ini hanya sebatas kerakusan hati yang mulai memberontak. Sudah lama Kyungsoo bertahan ditempat ini, dan ia sendiri yang tidak memutuskan untuk keluar. Jadi, ini salah siapa?

Deretan pintu disisi kanan dan kiri, membuat matanya harus jeli memeriksa nomor yang tertera disana dan sesuai dicatatan kecilnya. Tidak ada yang boleh terlewat akan urutannya. Kyungsoo melangkah perlahan, sekalipun matanya sudah berkaca dan ulu hatinya memar, ia harus professional. Oh, inikah rasanya bekerja? Kyungsoo hanya tidak pernah bermimpi bekerja menjadi lacur.

"1345, 1347, 1349, Oh ya!" Seruan itu muncul manakala ia sampai ditempat tujuan. Ah, hanya terlambat lima menit. Ia mengetuk, merapikan jubahnya—dalam hal ini agak menyingkap jubah—demi memamerkan lekuk tubuh yang mereka sewa.

Tidak lama, bunyi-bunyian kenop terputar mulai terdengar. Kyungsoo memasang tudung kepalanya, agak menunduk dan menemukan kaki telanjangnya memijak lantai dingin. Ia tak ingin bertemu tatap dengan pelanggan sebelum pelanggan itu sendiri yang memintanya.

"Ah, kau lama sekali." Oh, Tuhan. Kyungsoo membatin tentang semua pelanggannya yang selalu ingin keperfeksionisan. Lalu, tangan besar pria tambun itu mengangkat wajahnya, mencengkeram dagunya dan segera Kyungsoo temukan sepasang iris yang mengkilat penuh sirat mesum. Ia benci tatapan itu. "Ayo, masuk."

Kyungsoo hanya membiarkan dirinya diseret kedalam kamar, lengan kanannya yang otomatis memerah akibat cekalan kuat itu. Saat ia yakin pria ini akan membanting tubuhnya ke ranjang lalu menelanjanginya, praduga itu malah ditepis. Kyungsoo berpikiran jika pelanggannya ini suka bermain lembut. Ah, ini bukan pada kebiasaan Seungbin. Ia selalu menyerahkan dirinya ke pria berangasan, sadistik dan kelainan lainnya. Ini kesalahan, oh atau ini karena Jaehyun yang salah memberinya catatan? Ataukah, kemungkinan terbaiknya pria ini hanya ingin mengobrol, sama seperti yang dilakukan Jongin?

Belum sempat Kyungsoo bersorak gembira, karena pria itu sudah membuka tudung kepala Kyungsoo, membuatnya bisa melihat keseluruhan ruangan. Kesenangannya buyar sudah saat ia menghitung jumlah orang disana. Satu, dua, tiga, empat. Seungbin sialan!

"Bu-bukannya harus ada satu orang dalam satu kam-"

"Oh, kenalkan, mereka teman-temanku. Seungbin bilang jika membawa orang banyak, maka ada potongan harga."

Mereka melambai dan mulai tersenyum menjijikkan. Dan Kyungsoo bersumpah akan menjebloskan Seungbin ke neraka dengan tangannya sendiri.

-ooo-

Don'tJudgeMeLikeYou'reRight

Proudly Present

Do Kyungsoo and Kim Jongin

As Starring

SM ENTERTAINMENT

As Productions

EXO and EXO-L

They Belong to It

© 2015

~Happy Reading~

Author POV

Jongin masih setia menanti detik dan menit mulai berganti jam. Bahkan selansir matahari mulai tampak diufuk timur. Bersama tumpukan kardus dan dinding kusam, ia berani mendudukkan diri berteman sepi. Ini hampir subuh, dan apakah Kyungsoo melupakannya?

Tidak menutup kemungkinan jika jawabannya benar. Karena semalaman suntuk, Kyungsoo pasti sibuk melayani banyak pelanggan kaya raya, karena semalaman suntuk itu ia akan mendesah dan meraung dibawah kungkungan pria-pria itu. Lalu disini Jongin, merasa tak seberuntung mereka yang bisa menyewa Kyungsoo dengan harga diatas langit, lalu disini pula Jongin saat dirinya merasa kesal dalam bayang-bayang Kyungsoo yang mengintainya.

Sungguh, Jongin tidak ingin penderitaan pelacur itu semakin tidak wajar. Jika saja Kyungsoo mau dibebaskan, maka tidak akan sesulit ini keadaannya. Dalam benak Jongin, Kyungsoo pasti sedang kelelahan. Belum lagi rektumnya yang dimasuki habis-habisan. Pasti membuatnya kesulitan berjalan dan tidak mampu menopang tubuh. Itu artinya, ia benar-benar lupa dengan Jongin?

Tapi prasangka terburuknya itu segera menguap bebas, tepat setelah suara-suara gemeresak yang berisik ada didekat pendengarannya. Jongin berdiri, melangkah perlahan menuju asal suara. Seseorang sedang mencoba membuka pintu, susah payah karena gebrakan tangan dan kakinya tidak membuahkan hasil. Jongin mendekat, kemudian mengintip lewat lubang kecil dipintu itu. Matanya membelalak senang hingga ia terburu membukakan pintu itu.

Kyungsoo menepati janjinya. "Oh Jongin. Kau mengajakku bertemu ditempat seperti ini? Aku tahu kau tidak bisa menyewaku dan tidak mau tahu aku harus bertemu denganmu, kan? Astaga, bukan digudang seperti ini juga." Kyungsoo memandangi langit-langit ruangan pengap itu, sawang laba-laba merajut disana. "Banyak debu." Ia lalu masuk, sengaja menabrak Jongin yang masih tertegun.

"Jangan cerewet. Sekali-kali pelacur kelas tinggi harus datang ke tempat kotor semacam ini, kan?"

"Pekerjaanku sudah kotor, Jongin." Kyungsoo membuka jendela, angin pagi pun berembus kencang setelahnya. "Kau ingin mengobrol lagi? Tsk. Pelangganku akan mengikuti caramu kalau mereka tahu membawaku kesini tidak memerlukan uang."

"Dengan senang hati aku tidak akan memberitahukan markas ini. Ah, anggap saja, kita bisa rutin bertemu disini."

Kyungsoo mengesah, "Kau bukan pacarku, Jongin." Ia bahkan tidak sadar mengatakan kalimat blak-blakan seperti itu. "Mm, jadi untuk apa kita rutin bertemu?"

"Karena aku ingin selalu melihatmu. Aku cukup tidak percaya kau datang kemari, kukira kau sedang kelelahan dan sengaja melupakanku."

"Oh, aku masih punya hati." Kyungsoo meniup debu halus ditangannya. Lalu berbalik dan mendapati Jongin melekatkan pandangannya. "Apa yang kau lihat? Tertarik dengan tubuhku?"

"Kalau kau tidak keberatan satu ronde denganku. Ah-ah, eh, maaf, bukan. Aku sedang melantur." Jongin mulai kelabakan, merutuki ketololannya salah bicara. Ia buru-buru menutup mulut dan membuat Kyungsoo menarik sudut bibirnya.

Kyungsoo pikir, kepolosan Jongin sudah ternodai. "Silahkan mengganti topik kalau begitu."

"Ini sudah subuh, kau tidak mengantuk?"

"Kau yang menyuruhku kemari, hei. Ingat?" Kyungsoo memutar bola matanya lalu bersedekap.

"Maksudku, mm, ya, ya. Aku sedang speechless."

"Kau hanya terlalu grogi berhadapan dengan pelacur berharga satu rumah, Jongin."

Jongin melotot kali ini, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Jadi, ha-hargamu yang sebenarnya adalah- oh, astaga, Baekhyun memberiku banyak diskon." Kemudian sebelah tangannya digunakan untuk menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal.

Mereka mendudukkan diri dibawah jendela, membiarkan sepoian udara pagi menyejukkan wajah. Jongin berdampingan dengan Kyungsoo, memperhatikan bagaimana Kyungsoo berusaha merapatkan jubahnya dan Jongin tidak bisa tidak meneguk ludah saat menyaksikannya tanpa hasil.

"Kau mau mendengar ceritaku lagi, Jongin?" Kyungsoo menawarkan kegelisahan hatinya agar bisa terbagi.

Jongin menyanggupi dengan satu anggukan, "Itulah gunanya aku rela menunggumu sampai subuh. Mm, lagipula aku yang memintamu untuk bersikap terbuka, kan?"

"Ah, ya, benar." Ketidaksengajaan Kyungsoo bersinggungan dengan siku Jongin sempat menghentikan detikan waktu. "Ah, maaf. Mm, mm, jadi, ah bagaimana memulainya, ya?"

Jongin menengadah, menumpu dua tangannya diatas lutut yang tertekuk. Sementara Kyungsoo meluruskan kakinya, kegugupan mulai merambah.

"Kau ingin aku peluk lagi supaya bisa leluasa bercerita?"

Diam. Diam berarti setuju. Maka Jongin seolah mendapat lampu hijau, dan Kyungsoo membiarkan Jongin merengkuh dirinya dalam dekap hangat.

"Masalahku kali ini lebih pelik, Jongin. Aku-aku, ah, aku tidak tahu harus bagaimana."

Jongin meremas bahu Kyungsoo yang ada ditangannya, menyalurkan sebuah ketenangan berbentuk sentuhan lembut. "Aku siap mendengarkan dan kalau aku bisa aku akan membantumu."

"Seungbin mencurigaimu, Jongin. Kemungkinan besar dia akan melarang kita bertemu lalu kita akan dijauhkan satu sama lain. Kau tahu sendiri seberapa eksklusifnya aku bagi dia. Aku, aku tidak ingin kehilangan sandaran, juga-juga, ah, aku juga tidak mungkin keluar darisini kecuali Seungbin yang mendepakku, Jongin."

Suara serak dan nafas pendek itu tidak teratur, bergetar disetiap kata dan terbata setiap penggal. Jongin berkedip sebentar, mengusir kantuk yang datang disaat tak tepat. "Seungbin siapa?" Dan hal konyol semacam itu yang malah keluar dari mulutnya. Bukannya memberi masukan dan solusi, tapi, hei, Jongin rasa ia tidak salah menanyakan peran utama dalam masalah Kyungsoo ini. "Maaf, tapi aku asing dengan nama itu."

Kyungsoo menepuk jidatnya, lalu memberengut. "Oh ya, aku lupa. Seungbin adalah Tuhanku. Dia yang memilikiku dan mengendalikan hidupku. Aku membencinya, Jongin."

"Tuhan?"

Jongin masih tidak mengerti, raut bodohnya begitu membuat Kyungsoo kegelian. "Dia adalah mucikari. Pemilk semua pelacur disini, termasuk aku dan Baekhyun."

"Ohh~" Jongin manggut-manggut. "Aku sudah bilang aku bisa mengeluarkanmu darisini. Aku akan mengumpulkan uang seharga lima rumah untuk membelimu."

"Mana bisa? Semalam saja kau tidak mampu." Kyungsoo menjawil hidung Jongin, gemas. Tapi candaannya tidak mengalami perubahan berarti akan kecanggungan tanpa sebab ini. "Aku tidak mau keluar karena aku tidak mau merepotkanmu. Kau sudah membeliku, menampungku, dan lain sebagainya. Bukankah itu terdengar seperti aku yang berperan antagonis karena sudah merampas harta hidupmu? Lagipula..aku membutuhkan Seungbin. Aku tidak mungkin meninggalkan Baekhyun."

"Aku tidak masalah, tahu. Tapi, ah, yasudah. Terserah kau saja. Selama itu tidak terlalu membebanimu, kurasa ini memang hidupmu, keputusanmu."

Ini sangat membebaniku, dan kapan saja bisa merenggut nyawaku. Meski itu hanya tersuara dibatin Kyungsoo, ia cukup senang mendapati senyum Jongin yang terasa damai.

"Kita harus mengurangi intensitas bertemu." Kyungsoo mengangkat alisnya, Jongin berubah serius. "Tentang masalahmu tadi, supaya Seungbin tidak curiga."

"O-oh ya, aku sampai lupa lagi, Jongin."

"Karena kau terlalu grogi berhadapan denganku." Jongin terkekeh, merasa menang dengan membalikkan kata-kata Kyungsoo sebelumnya. "Mm, kau bilang hari Rabu adalah hari bebasmu?"

Kyungsoo mengangguk, "Hanya sampai siang hari tiba aku kembali kemari."

"Kenapa tidak kabur?"

"Aku bilang aku tidak mau, Jongin."

"Padahal ada kesempatan terbuka luas."

"Seungbin punya banyak koneksi, ia bisa dengan mudah menemukanku."

Jongin pasrah saja, Kyungsoo memang keras kepala rupanya. "Jadi, kita bisa bertemu di hari itu? Benar, sekaligus menunggu tabunganku penuh supaya sekali waktu bisa menyewamu tanpa diskon." Tawa itu turut mengundang tawa Kyungsoo, ia memukul dada Jongin tanpa tenaga.

"Hanya, berhati-hatilah. Seungbin berbahaya, kau bersamaku lebih berbahaya." Desis Kyungsoo, seakan memberi kesan dramatisir.

"Dia bukan mafia, Kyungsoo." Jongin membunyikan retak lehernya, merasa pegal. "Kau tidak capek?"

Kyungsoo menggeleng, "Sudah hilang saat aku berjalan kemari dan terbayang wajahmu saat mereka menyetubuhiku."

Lagi-lagi. Kyungsoo kerepotan sendiri. Mengapa ia bisa bicara sefrontal itu? Jongin diam, begitupun dia. Tidak ada yang membalas timpalan-timpalannya yang terdengar ambigu.

"Mm, Jongin?" Jongin menoleh, memenuhi panggilan Kyungsoo. "Maaf, aku tidak bermaksud berkata khas lacur seperti itu."

Sebenarnya Jongin tidak terlalu masalah. Ia sudah memaklumi kalau hal ini kerap terjadi karena Kyungsoo seorang pelacur, yang dituntut memuaskan pelanggan dengan daya tarik Dirty Talk-nya sebagai sampingan servis tubuh.

"Berbicaralah sesuka hatimu." Tangan Jongin beralih mengusap puncak kepala Kyungsoo. Ia hanya tidak menyangka sinyal-sinyal aneh mulai tumbuh saat berdekatan dengan pelacur seperti ini. Karena apa? "Kau semenarik itu, Kyungsoo."

Karena tidak mengerti dengan maksud ucapan Jongin, Kyungsoo beranggapan bahwa ini saatnya mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin larut dalam kesenggangan waktu tanpa ada kalimat dan kata yang menjadi memori.

"Jongin, mm, apa kau mau membantuku?"

"Aku tidak pernah keberatan membantumu."

Kyungsoo kembali dalam mode gugupnya. Tanpa sadar ia memilin kain jubahnya, belum lagi pelintiran-pelintiran jemari Jongin dirambutnya, benar-benar menambah kadar kegugupannya saat ini. Tapi Kyungsoo ingat bagaimana Baekhyun menawarkan Jongin agar menolongnya.

"A-apakah Rabu besok kau sibuk?"

"Oh! Kau mengajakku kencan?" Jongin memekik dan itu membuat Kyungsoo merubah ekspresinya. "Tidak, aku tidak sibuk."

"Aku bilang aku meminta bantuanmu, bukan berkencan, Jongin."

"Oh, oke. Jadi, apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?" Jongin kembali pada ketertarikannya semula. "Aku hanya terlalu bersemangat tadi."

"Kau seperti Chanyeol, kalau begitu."

"Chanyeol? Siapa lagi dia?" Pikiran Jongin berkecamuk. Mungkinkah-

"Dia pacar Baekhyun. Tingkahnya sulit dikenali, ah, maksudku, dia agak absurd. Entah bagian mananya yang membuat Baekhyun jatuh cinta."

Fuh. Jongin merasa dadanya longgar setelah sesak menunggu jawaban Kyungsoo. "Baekhyun sudah punya pacar? Oh yaampun, aku sebagai sahabatnya merasa bersalah tidak mengetahui itu."

Lalu berkas-berkas cahaya mentari mulai menelusup masuk. Memberikan penerangan bagi gudang terbengkalai yang kini mereka huni berdua. Kyungsoo tak habis pikir darimana Jongin mengetahui adanya tempat ini.

"Yah, begitulah." Kyungsoo membenamkan kepalanya didada Jongin. Ia sudah mulai berani semenjak pertemuan mereka yang tak terduga berulang kali terjadi, membuat keduanya sama-sama berasumsi bahwa Tuhan menakdirkan waktu untuk mendekatkan diri. "Jadi, hari Rabu besok aku ingin kita bertemu di Taman Kota. Kau mau?"

"Aku pengangguran, jadi, tentu saja aku bisa kesana. Ada apa memangnya? Seingatku tidak ada festival yang diadakan Walikota disana."

Kadang, Kyungsoo jengah dengan kolotnya cara berpikir Jongin. "Aku ingin menemui orangtuaku, dan aku butuh bantuanmu atas rekomendasi Baekhyun. Kuharap kau mau mencari rumahku yang dulu, aku ingin bertemu orangtuaku yang sudah lama tertinggal." Ingatan Kyungsoo berkilas balik seolah pemutar film. Adegan dimana dirinya sampai disini lewat perantara Sehun, juga ucapan-ucapan selamat tinggal yang direkan lewat tape recorder. Ini terlalu menyakitkan untuk diingat.

"Mm, tentu saja. Saat mendengar ceritamu malam itu, aku juga jadi merindukan orangtuaku di Apgujeong."

Jongin mengelus sisian wajah Kyungsoo, jemari hangat itu bertemu dengan kulit pipinya yang dingin. "Terima kasih, Jongin. Aku tidak tahu bagaimana seorang Kyungsoo tanpa bertemu seorang Jongin."

"Kau berlebihan, Kyungsoo."

Sekali lagi, kecanggungan kembali menyergap dalam hening tak berujung. Tidak lagi setelah Jongin tiba-tiba menangkup wajah Kyungsoo, membingkainya dengan kedua telapaknya yang besar dan terasa lembut.

"Aku..aku tidak bisa memendam ini, Kyungsoo."

Setelah ucapan itu, Jongin mencium Kyungsoo. Pelan menyapu bibir tebal itu sebagai kontradiksi dari kecupan. Kyungsoo mendelik, kaget bukan main. Sebaliknya, Jongin merasakan kontrol dirinya mulai pudar. Tidak berlangsung lama, karena tautan itu dilepas Jongin. Ia menanti reaksi Kyungsoo yang malah terdiam. Kali ini, Jongin tahu ia baru saja melakukan kesalahan.

"Ma-maaf, ah, aku kelepas-mmph~"

Kyungsoo yang menarik Jongin kini. Mereka sama-sama memiringkan kepala dan lidah keduanya yang berupaya mendominasi. Ciuman panas secara spontan. Begitu selesai, saliva-saliva yang menyambung itu segera terputus, pertukaran rasa bibir itu benar-benar sensasi tak terduga bagi keduanya.

"Aku kira kau sepolos itu, Jongin."

"Dan aku kira kau tidak mau disentuh."

"Bagaimana dengan sekarang?" Kyungsoo memajukan diri, menyerang Jongin secara serantan. Benar saja, sesuai permintaan Seungbin, Kyungsoo seagresif ini meski Jongin bukan terhitung sebagai pelanggannya. "Diam, dan aku yang akan memuaskanmu."

Kalimat itu adalah penanda dimana adrenalin Jongin terasah dan miliknya mulai tegang mengeras. Kyungsoo terlalu lihai mempermainkan tubuhnya, tidak salah jika ia dinilai harga tinggi dan sebagai satu-satunya pelacur terampil. Lalu Jongin membuktikannya sendiri pada pukul enam pagi saat ini.

Kyungsoo sudah menggapai kepala Jongin, menekannya hingga mulut mereka kembali beradu dalam pagutan-pagutan memabukkan. Secapat kilat pula Kyungsoo menyampirkan jubahnya dan melucuti satu-persatu pakaian Jongin. Jongin hanya membiarkan Kyungsoo yang aktif sampai saatnya tiba nanti, biar ia rasakan bagaimana pelacur mahal memanjakan dirinya.

Kemudian, Kyungsoo sudah menjilati dada Jongin, terus turun hingga mulutnya bertemu kejantanan dibawah perut. Kyungsoo mengulum milik Jongin, terasa penuh dan nikmat disaat yang bersamaan. Jongin yang mendesah, sementara Kyungsoo menyeringai. Beberapa menit setelah blowjob Kyungsoo terselesaikan, Jongin menyemburkan cairannya agar tertelan tenggorokan partnernya.

"Ngh..ssh, Kyungsoo, uuh~"

"Hah, hah, Jongin, mmh~"

Keadaan berbalik karena Jongin berada diatas Kyungsoo sekarang. Jongin memberi tanda sebanyak mungkin dileher Kyungsoo, tetapi dorongan kecil didada membuatnya terusik sebentar. Jongin bertanya-tanya, tapi Kyungsoo tampak sulit berbicara.

"Ja-jangan ada tanda, mmh, Seungbin bisa tahu."

"Dia bisa mengira itu tanda dari pelangganmu."

"Tidak, Jongin. Dia cukup cermat tanda ini dibuat pagi ini bukan malam tadi."

Baiklah, Jongin tidak mau ambil pusing. Ia memberi kecupan-kecupan lagi diseluruh wajah Kyungsoo. Terus berlanjut hingga tanpa persetujuan apapun, lubang melonggar Kyungsoo sudah merasakan jemari Jongin disana. Hanya tiga detik sampai tercabut kembali, lalu Jongin melebarkan kaki Kyungsoo, belahan rectum Kyungsoo begitu menggiurkan.

"Kau siap?"

Kyungsoo mengangguk, "Terlalu siap dibagian ini. Oh ayolah, aku sudah terbiasa, Jongin."

"Aku hanya memberi aba-aba."

Selebihnya, Jongin telah mengarahkan kejantanannya dilubang Kyungsoo, mendorong-menarik agar terbenam seluruhnya. Berikut hentakan yang diciptakannya dan membuat seseorang dibawah sana tersentak-sentak mengikuti tempo dan ritmenya.

"AH! JONGIN~!" Kyungsoo melenguh bersama teriakan kerasnya. Jongin terus menumbuk prostat Kyungsoo tanpa henti. Jongin bahkan memejamkan matanya, tak ingin kehilangan setiap kenikmatan cuma-cuma ini. "Nghh~ Jongin, aaaah~"

"Sssh, Kyungsoo, uuh~ Kita ber-bersh-bersamh-aaah~!"

Karena setelah erangan itu, Jongin tidak bisa menahan cairannya agar meluber kepantat dan perut Kyungsoo, meski sebagian besarnya tenggelam bersama kedut berkerut lubang surgawi itu. Jongin melemas, begitu pula Kyungsoo. Keduanya sama-sama terengah. Tak menyadari hingga kegiatan ini benar-benar menguras keringat.

"Kau pintar memilih tempat, hm? Terpencil dan memojok." Jongin menempelkan hidungnya dengan hidung Kyungsoo. Lalu tersenyum didetik yang sama.

"Karena aku tahu kegiatan panas ini akan kita lakukan tanpa rencana."

"Kau baru mengenalku dalam beberapa malam, dan seliar ini saat bercinta?" Kyungsoo menerima lidah Jongin yang lagi-lagi meminta akses masuk.

"Ini pertama kalinya untukku? Dan aku mendapatkanmu secara gratis? Ah, tidak kupercaya semalam mimpi apa."

Kyungsoo merasakan kesempurnaan mulai memeluknya saat mendapati senyuman Jongin. Mata teduh Jongin, kulit eksotis Jongin, dan milik Jongin yang ajaib. "Apa aku terburu-buru? Aku hanya bisa agresif seperti didepanmu."

"Tidak, kau sangat memuaskan." Kening Jongin dan kening Kyungsoo menyatu, mendapati kemesraan dipagi hari berteman kicau burung. Ini semua terasa indah. "Karena kau melakukannya dengan cinta jika bersamaku."

Kyungsoo kehilangan kata-katanya. Benar. Benar sekali, Jongin.

-ooo-

Sesuai dengan perjanjian, masa hukuman Kyungsoo berakhir minggu ini. Baekhyun yang membebaskannya, sementara serenteng kunci itu benar-benar membuat Kyungsoo agak trauma dengan jeruji sel.

"Selamat datang di hari Rabu-mu yang bebas, Kyungsoo." Baekhyun mengantar Kyungsoo menuju pintu keluar 'labirin' prostitusi ini. "Kau mau kemana?"

"Taman Kota." Setelah berada dipintu utama, Baekhyun yang membuka pintu besar itu dan mempersilahkan Kyungsoo melewatinya. "Terima kasih, Baekhyun."

"Aku tahu kau menemui seseorang." Baekhyun sedikit berteriak karena Kyungsoo hampir menjauh. "Salam untuk Jongin! Hari ini aku juga akan menemui Chanyeol~"

Kyungsoo tidak menghentikan langkah, tapi ia berbalik dengan senyuman. "Semoga sukses dengan kencanmu, Byun Baekhyun! Salam untuk Chanyeol Hyung, jugaa~" setelah membalas lambaian Baekhyun, Kyungsoo menghilang dari sejauh mata Baekhyun memandang.

Bus sudah bersiap dihalte, menunggu penumpang agar memenuhi tempat dan berbaik hati menunggu Kyungsoo pula yang sudah berlari dari ujung tikungan. Dalam pertama kali hari Rabu-nya yang bebas, Kyungsoo tidak membawa buku untuk dibacanya di Taman Kota, dan untuk pertama kalinya lagi, Kyungsoo tidak akan sendirian disana. Ada Jongin.

Kyungsoo memandangi jendela disamping wajahnya, agak tidak peduli dengan hiruk-piku penumpang lain yang bising. Tidak bertahan lama, karena ia merasakan tangan kecil sedang menarik ujung mantelnya.

"Op-ppa." Dia memenggal sebuta itu, terdengar lucu dan terlihat menggemaskan. Gadis itu masih anak-anak, dan Kyungsoo rasa ia tidak asing dengannya. "Masih ingat aku?"

Kyungsoo tampak berkutat dengan pikirannya. Bagaimana awalan ia menemukan bocah cantik ini? Tapi ingatannya sedang bekerja dengan baik, ia lalu cepat memangku bocah itu agar tidak tertabrak orang-orang dewasa didalam bus.

"Eunmi? Astaga. Kau mau kemana? Kenapa sendirian?" Mata bulat Eunmi membuat tawanya pecah. Ia mencubit pipi gembul bocah itu seraya mendumel sendiri.

"Aku ingin pulang. Aku tidak tersesat, kok, Oppa. Aku tahu rumahku." Tidak perlu Kyungsoo khawatir berlebihan, karena Eunmi tampak lebih mandiri sekarang, semenjak pertemuan terakhirnya beberapa minggu lalu yang masih menunjukkan sisi manja bocah itu. "Aku sudah berumur tujuh tahun kemarin, Oppa."

"Waaah~ Saengil Chukae, Eunmii~" Sayangnya, ini membuat Kyungsoo bernostalgia dengan masa lalu. Kapan terakhir kali ia mendapat ucapan selamat dihari ulangtahunnya? "Kau sudah semakin besar."

Eunmi tersenyum, "Itu semua berkat buku yang Oppa belikan. Eunmi belajar banyak darisana. Buku ceritanya memberi amanat yang bagus, Oppa." Lalu tangan-tangan kecil itu melingkar dibahu Kyungsoo, bermaksud untuk memberi pelukan.

"Benarkah? Baguslah. Berarti Oppa tidak sia-sia membelikanmu buku itu." Kyungsoo mengusak helai rambut pendek Eunmi, yang terlihat berkilau tertimpa sinar matahari. "Kau darimana memangnya?"

Eunmi melepas pelukannya, lalu memandangi wajah Kyungsoo. "Oppa sudah lelah. Oppa ingin pergi."

"Hm?" Kyungsoo yang tak mengerti ucapan Eunmi, mencoba mendekatkan diri atau menyalahkan pendengarannya yang mungkin bermasalah.

Eunmi mengulang kalimatnya, "Oppa sudah lelah. Oppa ingin pergi." Pada akhirnya, Kyungsoo sadar anak ini berucap tanpa tahu maksudnya.

"Ke-kenapa, Eunmi?" Mungkin Kyungsoo berpikiran jikan Eunmi adalah cenayang. Dia memang benar jika kini Kyungsoo sedang lelah dan ingin pergi. Tapi ia tidak tahu, sangat tidak tahu mengapa rasa itu datang pada dirinya dan ditangkap oleh Eunmi. Semakin mengejutkan jika kalimat itu, Eunmi katakan dengan raut datar menghadap jendela. "Da-darimana kau tahu?"

"Eunmi merasakannya. Oppa kasihan."

Sialan. Kalau sudah begini jadi Kyungsoo sendiri yang mengasihani diri.

"Tidak apa-apa, Eunmi. Oppa baik-baik saja."

Eunmi menggenggam tangan Kyungsoo, lalu membawanya pada tangkupan tangan-tangan kecilnya. Lalu anak itu mengatupkan mata dan seolah sedang berkomat-kamit melafalkan bahasa asing.

"Semoga Oppa bahagia. Semoga Oppa tidak sakit. Tuhan selalu melindugi Oppa."

Tidak dipungkiri, berkat kalimat mengharukan itu, airmata Kyungsoo sukses luruh. Ia menyekanya sekilas lalu beralih memeluk Eunmi seerat yang ia bisa.

"Aku harap, kita bisa bertemu lagi. Dikehidupan yang lain atau dimanapun. Terimakasih, Eunmi, doamu berharga sekali dan semoga Tuhan mengabulkannya."

Karena Tuhan tidak tidur. Kyungsoo yakin semua ini akan berakhir dengan penyelesaian yang telah terkonsep.

-ooo-

Kyungsoo tidak akan menceritakan perihal pertemuannya dengan Eunmi, karena Jongin tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Kyungsoo menemukan laki-laki tan itu sedang duduk dibangku panjang, posisinya mendukung karena pohon rindang yang rimbun dedaunan itu melindungi kepala mereka dari terik matahari. Jongin tampak bermain ponsel saat Kyungsoo menutupi mata laki-laki itu menggunakan dua telapak tangannya.

"I know who you are."

Lalu tangan-tangan kokoh Jongin memegangi tangan Kyungsoo, ia sedikit menarik pemuda dibelakangnya agar bibir mereka bertemu dalam satu kecupan. "Ah, Jongin~" Hanya itu sebagai betuk protes saat banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Tapi keduanya sama-sama acuh.

"Kau sudah berani menjahiliku, hm?" Jongin meraih Kyungsoo agar duduk disampingnya dan saling berbagi pelukan disana. "Padahal kau bukan pacarku."

"Akan." Kyungsoo cepat menyambar. "Kita akan menyusul Baekhyun dan Chanyeol. Ah, tapi perbedaannya adalah kita tanpa persetujuan, Baekhyun sudah disetujui. Seungbin sudah seperti orangtuaku saja."

"Baiklah, kau memberiku harapan kalau begitu. Aku jadi penasaran dengan yang namanya Chanyeol. Pria seperti apa dia, yang mampu menekuk sifat kekanakan Baekhyun." Jongin menyentuh tengkuk Kyungsoo, merabanya pelan. "Aku juga jadi ingat pertama kali kita bertemu disini. Tidak saling mengenal."

Kyungsoo menerawang pandangannya ke langit cerah diatas kepala, lalu kembali mengadu tatap dengan iris legam milik Jongin. "Kau aneh, Jongin. Datang, duduk sebentar, lalu pergi. Apa maksudnya?"

"Karena aku yang merasa aneh denganmu. Mengucap salam untuk dirinya sendiri. 'Selamat Pagi, Kyungsoo.' Aku masih ingat wajahmu saat itu, haha, seperti orang gila!"

"Ya! Kau mengataiku gila?" Kyungsoo menyenda-guraunya, ia menjitak kepala Jongin meski tak timbulkan sakit apapun. Tapi pria itu malah mengaduh, berpura-pura. Pada akhirnya, tawalah yang meledak seiring Jongin menggelitiki Kyungsoo. "Haah~ ayo, Jongin, kita ke rumahku."

"Kau masih ingat jalannya?"

Mereka seolah baru tersadar tentang tujuan utama. Hingga Kyungsoo menarik tangan Jongin dan kini mereka sudah berjalan di trotoar. Menjadi pejalan kaki selama Kyungsoo sibuk celingukan dan Jongin sibuk meminta maaf karena bahunya menabrak bahu-bahu lain.

"Kalau jalannya tidak berubah sementara aku tidak pernah keluar."

Jongin masih menikmati tangan Kyungsoo yang menggengam tangannya. Tangan Kyungsoo terasa basah dan dingin, tidak seperti umumnya manusia. Apa dia sedang gugup?

"Memangnya selama hari Rabu kau tidak pernah mengunjungi orangtuamu? Apa yang kau kunjungi hanya Taman Kota?" Kyungsoo mengangguk demi balasan atas pertanyaan Jongin. "Apa kau sedang gugup?"

Mereka sudah berada disebuah gang sekarang, yang jalan setapaknya mereka ikuti agar sampai dipemukiman sederhana tak terjamah. Ah, bukankah Jongin seharusnya bersyukur, ia masih bisa tinggal di apartemen senyaman itu sebagai tempat tinggalnya? Sekalipun kini Jongin merasa bersalah karena tak kunjung mendapat pekerjaan dan otomatis hal itu membuat orangtuanya kecewa. Tapi ah, bandingkan dengan Kyungsoo. Jongin harus belajar banyak dari sosok rapuh serba kuat itu. Bekerja setiap hari, seharian penuh. Pekerjaan kotor sebagai lacur dan harga diri direndahkan. Bukankah itu menyakitkan? Belum lagi, ia tidak tahu bagaimana keadaan orangtuanya sekarang. Tsk, Jongin mulai mengiba.

"Aku tidak gugup, Jongin. Aku-aku takut. Aku takut jika-"

"Sssh, tidak akan terjadi apa-apa." Jongin yang tahu perasaan Kyungsoo, segera menariknya dalam pelukan. Mengusap-usap surai cokelat Kyungsoo dan turut membisikkan kalimat penenang baginya. "Yang ini rumahmu?"

Didepan keduanya, rumah berukuran lantai satu apartemen Jongin ini tampak tidak terawatt. Menandakan jika sudah lama tidak memiliki penghuni, tidak sebelum akhirnya Jongin mengetuk dan seseorang keluar darisana.

"Ahjumma!" Itu Bibi Kyungsoo, segera menghambur kepelukan wanita itu dan berpindah dari pelukan Jongin.

"Ky-Kyungsoo? Ini kau, Nak?" Bibinya menjauhkan diri Kyungsoo, dan mendapati wajah keponakannya telah berubah banyak. "Kau hidup dimana selama ini, astagaa~ Sayang, oh, Kyungsoo-ku yang malang."

"Hiks, maaf, aku-aku tidak berani mengnujungi kalian, karena aku takut, hiks, aku takut, merindukan kalian. Aku tidak bisa kembali, Ahjumma, aku tidak bisa pulang." Kyungsoo tak peduli lagi baju bibinya sudah basah oleh airmata yang membanjir. Jongin ada dibelakang sana, seketika mencelos saat ungkapan itu tercetus begitu saja. Dia bisa pulang, hanya dia yang tidak mau. Jongin membatin sendiri. "Jangan khawatirkan aku. Mm, aku hanya sebentar, Ahjumma. Ah ya, bagaimana ibu dan ayah?"

Tidak, inilah ketakutan Kyungsoo. Jangan sampai terjadi. Mata bibinya berubah sayu dan wajahnya seketika sendu. Ia mengajak Kyungsoo masuk kerumah, duduk disofa rombeng yang tak lagi layak pakai. Jongin juga mengikutinya, mengusap-usap punggung Kyungsoo demi aliran rasa tenang. Seharusnya, uang yang dihasilkan Kyungsoo bisa digunakan untuk biaya hidup orangtuanya, memperbaiki rumahnya, dan-dan, ah, dasar bajingan Seungbin. Kyungsoo jelas tak mampu menahan gemertak giginya, emosi yang tiba-tiba meluap karena hal itu.

"Ahjumma, di-dimana ayah dan ibu?"

Pengulangan itu membuat bibinya berani mengangkat wajah dan memandang Kyungsoo. "Kau terlambat, Kyungsoo."

"Te-terlambat? Ja-jangan, Ahjumm-hiks, jangan."

Lalu bibinya tak kuasa menahan tangis, Kyungsoo kembali berada dipelukannya. "Ya, maafkan Bibi, Kyungsoo. Umma-mu telah meninggal setahun lalu."

Tidak ada yang bisa mencegah puing-puing bumi meruntuhi Kyungsoo. Seketika ia terbayang bagaimana sosok ibunya, bagaimana mereka terakhir bertemu dan bagaimana Kyungsoo meninggalkannya. Ini sudah jelas salahnya.

Kyungsoo hanya diam, tapi isakannya mengencang, seduannya menggema. Ia tidak meronta, tapi mengeratkan pelukan seolah meminta perlindungan. "Hueee~hiks, U-umma, maafkan Kyungsoo, hiks. Bu-bukan salah Ahjumma, bukan, hiks~ Umma, hiks~" Kyungsoo tetap menangis sekalipun ada Jongin yang menenangkannya disana, bibinya memberi efek tangis yang sama pula. Hingga mereka terhanyut bersama, menyisakan Jongin bersama geledak petir yang dilintar seperti Kyungsoo mengalaminya. Jongin mencelos, sepahit inikah kenyataan?

"Dia meninggal karena sakit keras, Kyungsoo. Kau tak kunjung kembali setelah beberapa orang itu mengantarkan uang untuk pelunasan hutang."

Benar. Kyungsoo memang sudah terlambat. Menyesal pun tak berguna, toh selama ini waktunya tak dimanfaatkan dengan baik. Dengan dalih, ia tak kuasa merasakan belati menyayat sembilu hatinya jika melihat wajah orangtua tanpa bisa kembali kerumah. Tidak ada kata lain selain menyesakkan. Ini benar-benar terlambat, dan-dan mungkin bukan salah Seungbin. Dalam teori ini, Kyungsoo menyimpulkan bahwa pihak yang salah tetap dirinya. Kecerobohan masa lalu.

"Hiks, ma-masalah terjadi, Ahjumma. Aku tidak bisa menjelaskannya, hiks, seharusnya kalian mendapat uang dariku. Tapi, hiks, karena masalah itu, uangku tidak sampai kesini dan-dan semuanya berantakan. Ayah dan ibu tak mendapat kabar tentangku-"

"Hingga mereka mengira kau telah meninggal." Bibinya menyambung kalimat Kyungsoo yang sengaja terpotong. "Tapi Bibi yakin, kau masih hidup. Benar, ternyata kau masih hidup. Masih sehat, ah, Bibi bersyukur, Nak."

"U-umma, hiks, umma, salahkan Kyungsoo, kutuk Kyungsoo, hiks~ Argh!" Kyungsoo terlalu hampa pada kekosongannya, ia tak kuasa menahan detak jantungnya yang melemah dan kepalanya yang pening bukan main. Ia terlalu memaksakan diri, hingga kini limbung. "A-ayah dimana? Satu-satunya harapanku, hiks~"

"Jangan seperti ini, Kyungsoo." Bibinya terbawa kepanikan, ia membawakan segelas air untuk diminum Kyungsoo. "Ayo, lihat ayahmu." Wanita itu membantu Jongin memapah Kyungsoo, sejak tadi ia tak banyak bertanya tentang siapa Jongin. Yang terpenting baginya adalah keadaan Kyungsoo didepan matanya baik-baik saja. Mereka menuju kearah belakang, seorang pria setengah abad tampak membelakangi ketiganya. "Itu ayahmu. Dia-hiks, dia mengalami gangguan kejiwaan, Kyungsoo."

"Apa?!" Kyungsoo merasakan kakinya melemas sekarang, hampir jatuh jika Jongin tak menangkap tubuhnya. Kenyataan pahit bertubi-tubi menghampirinya hari ini. Terlalu sakit, terlalu sesak. "A-ayah, gi-gila?"

Bibinya mengangguk, lalu berlalu darisana. Memilih memberi ruang untuk Kyungsoo dan Ayahnya. Ia sendiri tak kuasa melihat Kakak dan Keponakannya mengharu-biru disana, sudah cukup banyak ia menjadi saksi keluarga ini. Terlalu pedih.

Perlahan Kyungsoo berjalan menuju Ayahnya, yang duduk dikursi roda dengan tatapan nyalang bercampur nanar lurus-lurus. Kyungsoo berjongkok diikuti Jongin yang menjagai keseimbangan pemuda didepannya. Kyungsoo meraih tangan ayahnya, menciumnya lama sekali hingga setetes airmata kembali menetes dan kini membasahi kulit ayahnya yang mematung. Jongin merasakan pandangannya mengabur, dipenuhi airmata karena menyaksikan kehidupan Kyungsoo begitu memutilasi dirinya.

"Ap-ppa." Lirihan Kyungsoo tidak memberi perubahan gerak pada pria itu. Selain diam dan tak berkedip. "Ini aku Kyungsoo, kumohon, hiks, jangan seperti ini." Kyungsoo berusaha memeluk ayahnya, tetapi tepisan kasarlah yang ia dapat. Tidak, Kyungsoo tidak ingin ayahnya bereaksi sedemikian rupa. "Appa, aku anakmu, yang dulu pergi dank au pikir telah mati. Maafkan aku, Appa, aku, hiks, aku, menyayangimu."

Saat kecupan itu mendarat dikening ayahnya, ia malah meronta. Berteriak histeris, dan membuat semua yang ada disana segera memegangi lengan pria itu agar diam. Bibinya datang tergopoh, membawa suntikan yang tak dimengerti Kyungsoo dan Jongin, untuk kemudian memberikan cairan itu masuk lewat pori-pori ayahnya.

"Ini agar ayahmu tenang. Dia selalu mengamuk dan memanggil namamu dan ibumu."

Astaga. Setelak itukah godam raksasa menghantam jantungnya? Kyungsoo masih bertopang pada Jongin, sebelum akhirnya merosot dan menangis sejadi-jadinya.

"Hidup macam apa ini, keluarga macam apa ini, hiks~ Ayah gila, Ibu meninggal, dan anaknya pelacur. Hiks~ Tidak adakah keadilan yang mau berbaik hati padaku, Jongin? Hiks~"

Bahkan kalimat Kyungsoo telah mengentikan degup jantung bibinya selama beberapa detik. Jadi, keponakannya selama ini, menghilang karena ia bekerja sebagai pelacur?

"Bukan, hiks, bukan aku yang mau hidup seperti ini, hiks~ Ini hukuman Tuhan, aku telah menelantarkan orangtuaku, hiks, Jongin, aku manusia berdosa yang hina. Hiks, jangan sentuh aku, hiks~"

Kini Kyungsoo ada dititik terlemahnya untuk putus asa. Menganggap keberadaannya sama sekali tak berarti. Ia berulang kali meremas kepalanya, selalu dicegah Jongin hingga rambut-rambut itu terjatuh kelantai. Kyungsoo memandangi wajah ayahnya, terlalu menyedihkan. Hidupnya, keluarganya, semuanya menyedihkan.

Sebelum akhirnya ia melepas diri, dan ambruk dipangkuan Jongin. Pingsan dan tak sadarkan diri.

-ooo-

TO BE CONTINUE!

A/N :

Haloha!

Uh, yeah. Kyungsoo mendapat kenyataan pahit biar kelar sekalian masalalunya, hoho xD Jongin sudah tidak polos dan dia bener-bener kesengsem sama Kyungsoo, nih. Jongin sih latarbelakang keluarganya oke-oke aja, ngga bermasalah :p Nah, mau kutekankan, buat yang minta Kyungsoo dibebasin Jongin, tsk, itu emang nggabisa dikabulin. Soalnya, jalan ceritanya udh ada sendiri muehehe~

Yang sudah fav/foll kalo ngga review bikin nyesek tuh, PHP banget kesannya uuuh~ Ayo ya, Siders, review doong

Maaf kalau chapter diata kurang memuaskan, terus feel-nya pada ngga dapet. Author ngebut nih nyelesein ini xD Typo selalu cinta mati sama tulisan saya jadi dia ada dimanapun~Ohya, author ucapkan BIG THANKS buat yang sudah mereview, fav dan foll ._. Maaf lagi tidak bisa membalas satu-satu karena author sok sibuk waks tapi saya senang dengan respon kalian yang mendukung, terimakasiiih!

Mau bertanya seputar saya dan fanfic saya,

Ask aja di askfm :

DontJudgeMeLikeYoureRight

SEE YA ON NEXT CHAPTER!