Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. Di larang mengcopy tanpa seijin author.

.

Catatan :

Fic ini terinspirasi dari anime movie tahun 2012, judulnya fuse teppo musume no torimonocho, meskipun alurnya akan sangat berbeda

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

Don't like Don't Read

.

.

[Memoirs of the Hunter ]

~ Chapter 6 ~

.

.

[Kerajaan Konoha]

Heee...! Ini kerajaan Konoha, kenapa kita malah datang ke istananya? Pria bertopeng itu berhenti sejenak di sebuah hutan dekat kediaman istana, mereka hanya membuka jubah mereka dan aku bisa melihat pakaian yang layaknya seorang bangsawan di kenakan, mereka membuatku penasaran, siapa sebenarnya mereka ini? Sayangnya, pria bertopeng itu tidak membuka topengnya, penampilannya sekarang seperti seorang pangeran, apa benar dia seorang pangeran?

"Selamat datang kembali Yang mulia." Ucap beberapa pengawal saat kami memasuki gerbang utama istana ini.

Apaaaa! Dia benar-benar seorang pangeran! Bagaimana bisa seorang siluman rubah adalah pangeran kerajaan ini!

"Yang mulia! Apa anda tahu posisi anda? Kenapa masih berkeliaran di luar istana, Sugietsu! Kau sebagai penasehatnya, kau harus tegas padanya!" Ucap seorang nenek tua pada pria bertopeng dan Suigetsu.

Lagi-lagi aku tak percaya jika Suigetsu yang cerewet dan menyebalkan ini adalah seorang penasehat pangeran.

"Dan lagi, siapa yang anda bawa ini Yang mulia?" Ucapnya dan menatap tidak senang padaku.

"Dia adalah dayang pribadiku, jangan pernah mengusiknya." Ucap pria bertopeng itu.

Dayang katanya? Kenapa aku harus menjadi dayang pribadinya! Menatap kesal padanya, lagi pula untuk apa dia membawaku ke istana Konoha?

Kami dan Suigetsu berpisah, nenek tua itu pergi bersama Suigetsu, apa mungkin nenek tua itu kepala dayang? Mungkin saja, sedang pria bertopeng ini mengajakku ke sebuah kamar.

Kamar?

"Ma-mau apa kau? Aku tidak pernah setuju jadi dayang pribadimu." Ucapku.

"Hanya sebuah alasan agar kepala dayang tidak mengusirmu atau melaporkan pada raja, akan sangat repot jika raja tahu putri Kumo berada di kediamanku." Ucapnya.

"Aku masih tidak percaya, bagaimana seorang sil-hmp!"

"Jangan pernah mengucapkan hal itu disini."

Aku sampai terkejut, tiba-tiba saja dia bergerak lebih cepat ke arahku dan menutup mulutku, jadi apa benar tak ada yang tahu jika dia dan Suigetsu adalah siluman rubah? Bagaimana mungkin seorang pangeran adalah siluman? Apa yang terjadi jika warga di kerajaan Konoha mengetahuinya?

Mengangguk perlahan dan tangan itu akhirnya terlepas.

"Istirahatlah, aku tidak bisa membawamu begitu saja masuk ke area Kumo, dengan berita yang sudah di beredar, kemungkinan penjagaan di Kumo akan di perketat seperti dulu, akan sangat sulit masuk ke sana, aku sudah meminta kakakmu yang datang sendiri ke sini untuk membawamu pulang, aku tak mau mengambil resiko jika harus berhadapan dengan raja Kumo." Ucapnya.

Itu adalah alasan kenapa dia membawaku ke istana Konoha.

"Apa seluruh penghuni istana 'makhluk' sepertimu?" Ucapku.

"Tidak, aku bukan pangeran yang sesungguhnya, selama ini mereka pikir aku adalah pangeran yang hampir tewas di medan perang, sebelumnya masih ada perang kecil yang terjadi di beberapa wilayah Konoha, sang pangeran asli tak bisa bertahan, aku menemukannya dengan keadaan sekarat, memakan hatinya akan membuatku bisa seperti dia, para tabib sudah memeriksaku dan mengatakan jika benar aku adalah pangeran, namun itu hanya karena mereka memeriksa sesuatu yang sudah aku makan dari sang pangeran." Ucapnya.

Apa dia tidak sadar dengan apa yang di ucapkannya? Meskipun tidak seperti yang di katakan rumor tentang mereka, dan seperti yang di ucapkan Suigetsu jika mereka bukan kanibal, tapi tetap saja mereka memakan sesuatu dari tubuh manusia dan itu adalah hati.

"Ada apa?" Ucapnya, kali ini suaranya terdengar lebih dalam dan berjalan perlahan mendekat ke arahku.

"Ti-tidak, aku tidak takut padamu." Ucapku dan mengalihkan tatapanku darinya, aku tidak takut, aku tidak takut, meskipun dia akan memakanku.

"Hoo, itu terdengar sangat baik, bagaimana jika aku memakan hatimu, putri?" Ucapnya dan tangan itu bergerak menunjuk bagian tempat dimana hatiku berada.

"Coba saja jika kau berani, seluruh keluargaku tidak akan memaafkanmu."

"Hn? Padahal saat di hutan kau sudah bersiap untuk mati, kenapa sekarang berubah pikiran?"

"Jangan menggodaku!" Ucapku, kesal, menatapnya dan aku tidak peduli jika dia marah dengan tatapan kesalku ini padanya.

Hening, pria bertopeng itu tak berbicara apapun lagi dan sepertinya kami saling bertatapan, aku bisa melihat sorot mata itu dari lubang topengnya.

"Apa karena kau sedang menyamar menjadi pangeran kau menggunakan topeng?"

"Aku tidak perlu menjawabnya."

Ah dasar pria menyebalkan!

"Apa aku bisa melihat wajahmu?"

"Kau sungguh ingin melihatnya?"

"Kenapa? Apa kau takut jika aku mengejekmu jelek atau kau punya sebuah tanda lahir yang sangat besar di wajah atau wajahmu rusak?" Ucapku.

Dia tidak menanggapi ucapanku, aku jadi semakin penasaran, bahkan di istana ini mereka tak mempermasalahkan seorang pangeran yang menggunakan topeng. Tangannya mulai bergerak dan membuka topengnya, dia akan memperlihatkan wajahnya padaku.

"Aku kembali, dasar! Nenek tua itu sangat cerewet dan menyebalkan." Suigetsu tiba-tiba datang dan apa yang ingin di lakukan pria di hadapanku ini terhenti, kenapa dia tidak segera membuka topeng? "Apa yang terjadi? Kenapa kalian terdiam?" Tambahnya.

"Tidak, aku akan kembali sebentar lagi, Suigetsu, beri pakaian untuknya." Ucap pria itu dan pergi.

Tunggu! Kau belum memperlihatkan wajahmu padaku! Aku sudah penasaran sejak tadi!

"Jadi sekarang karena mengetahui statusnya, kau ingin menggodanya yaa? Apa sudah berhasil?"

"Katakan saja jika kau ingin berkelahi denganku." Ucapku.

"Tidak-tidak, ini kediaman istana yang sangat tenang, kalau ada yang membuat kegaduhan, akan sangat sulit membuat kami tetap berada di sini."

"Paman bertopeng itu sudah mengatakan segalanya. Jadi kalian selama ini hidup sebagai pembohong?" Ucapku.

"Kami tidak berbohong, ini keinginan sang pangeran asli, dia memintanya untuk menggantikan posisinya."

"Kenapa pangeran itu percaya pada kalian? Padahal dengan mudah kalian bisa mengambil takhtanya."

"Hey putri mahkota, kami tak selicik dan tak serakah seperti itu, kau hanya mengetahui dari luarnya saja tanpa tahu apa yang sebelumnya pernah terjadi pada kami."

Aku memang tak tahu apapun, tapi berbicara padanya hanya membuatku ingin memukulnya, mengabaikan Suigetsu dan menyuruhnya mengambilkan pakaian untukku seperti yang di katakan pria bertopeng itu, aku ingin segera mengetahui namanya, jika dia sedang menyamar sekarang, artinya nama pangeran yang mereka panggil bukan nama aslinya.

Setelah adu ribut lagi dengan Suigetsu, akhirnya pria itu pergi, kenapa dia tidak bisa berbicara lebih baik padaku? Menatap Yukata yang di berikan padaku, Yukata ini sangat indah, bahannya pun terasa nyaman di gunakan.

Terkejut saat menatap pintu dan pria bertopeng itu masuk tanpa bersuara.

"Se-setidaknya katakan sesuatu saat kau masuk ke kamar seorang gadis!" Ucapku, malu.

"Ini kamarku, dan aku tidak perlu mengatakan apapun."

"Jika ini kamarmu, lalu aku akan tidur dimana?"

"Di lantai sangat luas, tidur dimana pun kau suka."

"Apa? Aku akan tidur di ranjang!"

"Oh jadi kau sedang menggodaku putri mahkota?"

"A-a-aku tidak menggodamu! Dasar mesum! Ingat kau sudah terlalu tua untukku!" Tegasku, menatap marah padanya, namun tatapanku seketika berubah saat topeng yang terus menutupi wajahnya terlepas, mata onyx dan tatapan yang terlihat begitu dingin, umurnya mungkin sama dengan kakak, aku pikir dia benar-benar pria yang tua.

Tampan..~

Dia ternyata sangat tampan! Jangan tergoda Sakura! Dia hanya siluman yang mungkin pandai membuat wajahnya terlihat jauh lebih baik.

"Sudah puas menatapku?"

"Si-siapa yang menatapmu!" Ucapku dan segera mengalihkan tatapanku, dia tipe orang yang terlalu narsis.

"Aku harus terus menggunakan topeng ini untuk menutupi identitasku."

"Jadi bukan karena wajah yang terluka, atau semacamnya."

"Kau bisa lihat sendiri, aku tak seperti raja Senju, ini akan berdampak buruk dan menjadi pembicaraan orang-orang jika salah satu pangeran di Konoha tidak mirip ayah atau ibunya."

"Akhirnya aku paham."

"Sekarang tidur di lantai dan jangan bicara." Ucapnya.

Dasar! Dia sama sekali tidak punya rasa kasihan untuk seorang putri sepertiku.

.

.

.

.

Pagi harinya.

Membuka mataku dan ini bukan lantai yang aku tiduri, padahal jelas-jelas semalam aku sampai harus bertengkar dengannya hanya untuk tidur, sekarang aku berada di atas ranjang, apa! Jangan-jangan pria aneh itu.

"Sudah bangun?" Ucapnya, dia sudah terlihat rapi dengan pakaiannya pagi ini dan kembali menutupi wajahnya dengan topeng rubah itu, sejujurnya aku jauh lebih suka saat dia tidak mengenakannya, mikir apa aku ini! A-a-aku hanya risih dengan topeng rubah itu, bukan karena suka melihat wajah tampannya.

"Bagaimana bisa aku ada di atas ranjang?" Ucapku, aku yakin jika dia yang sengaja melakukannya.

"Kau sendiri yang naik dan mengusirku."

"Bo-bohong! Aku bukan orang yang akan jalan saat tertidur."

"Bersiaplah, sementara itu kakakmu masih dalam perjalanan menuju kesini."

"Iya." Ucapku.

Mendatangi sebuah ruangan, di sana ada dua dayang yang membantuku menyiapkan air mandi dan lagi sebuah yukata indah di berikan padaku, setelahnya, para dayang menunjukkan sebuah ruangan, di dalam sana beberapa sarapan telah tersedia, aku bertemu kembali dengan Suigetsu.

"Kau jadi terlihat berbeda dengan pakaian itu, ada apa dengan rambutmu?" Tanya Suigetsu, dia sangat cerewet.

"Untuk apa aku berbicara denganmu tentang rambutku ini, terserah jika aku memotongnya atau tidak." Ucapku.

"Jangan memulai pertengkaran lagi." Tegur pria bertopeng itu, sampai detik ini dia tidak mengatakan siapa namanya padaku. "Suigetsu, ajaklah putri Sakura berkeliling." Perintahnya.

"Ha? Untuk apa aku mengajaknya berkeliling?" Ucap Suigetsu dan dia terlihat tidak senang.

"Hanya untuk membuatnya tak perlu berada di dalam istana, mungkin putri sangat bosan di dalam istana, maka dari itu dia malah kabur." Ucapnya, itu adalah sebuah sindiran, aku sangat memahami itu pangeran palsu, aku tidak kabur dari istana Kumo karena bosan.

"Tidak perlu, aku disini saja hingga kakakku datang." Ucapku.

Setelah dua jam berlalu dan berada di dalam istana, lebih tepatnya di kediaman pangeran palsu ini.

Bengong, hanya itu yang aku lakukan, aku tak bisa seenaknya berkeliaran seperti di rumah sendiri, ada banyak dayang dan pengawal yang akan menatap aneh itu padaku dan curiga, lagi pula kenapa pria bertopeng itu tetap tenang membaca sesuatu di bukunya tanpa terganggu? Apa dia tidak punya pekerjaan lain? Atau dia memang sengaja berada di ruangan ini.

"Aku bosan." Ucapku.

"Aku sudah katakan pada Suigetsu untuk mengajakmu berkeliling, kenapa kau malah menolaknya? Sekarang Suigetsu sedang sibuk dan dia sedang berada di luar istana."

Menyebalkan, lagi-lagi memarahiku, aku tahu aku salah tapi di dalam ruangan ini sangat membosankan.

"Kenapa kau tidak membuka topengmu saja? Apa kau nyaman menggunakan topeng itu terus-menerus?" Ucapku.

Dia menatapku sejenak dan kembali menatap bukunya, hening, dia tak menjawab pertanyaanku.

"Bisakah aku tahu namamu?"

"Tidak."

"Apa namamu itu sangat berbahaya sehingga tak ada yang boleh tahu?"

Hening.

Aku seperti berbicara sendiri, dia tipe yang cuek dan sulit untuk berbicara banyak padanya.

"Jika kau seorang pangeran, di umurmu sekarang kau pasti sudah punya permaisuri." Ucapku.

Lagi-lagi tak menanggapiku.

"Sebaiknya aku pergi dari sini, katakan pada kakakku jika dia datang, adiknya telah kembali kabur." Ucapku.

"Jangan keluar dan tetaplah disini." Perintahnya.

"Apa hakmu untuk memerintahku? Aku akan tetap pergi." Ucapku.

Tetap berjalan keluar dari kediamannya, dia bukan ayahanda yang mudah memerintahku, kakak saja jarang untuk mengucapkan sebuah perintah untukku.

Sebuah genggaman erat pada tanganku, pria itu sudah berdiri dan menarikku untuk masuk.

"Aku tidak mau tinggal di sini! Kau tidak mau berbicara denganku, aku juga tidak ingin kembali pulang dan tak akan ada yang mendengarkanku." Tegasku.

Pria bertopeng ini tak mengatakan apapun, dia hanya diam dan diam, aku tidak suka jika dia seperti ini, setidaknya dia harus menjawab apapun yang aku tanyakan padanya, bukannya seperti sebuah patung atau menganggapku tak ada, aku sudah cukup bersabar di perlakukan seperti ini.

"Aku akan menemanimu keluar." Ucapnya.

"Benarkah?"

"Hn, ganti pakaianmu, setidaknya yang tak mencolok, mintalah pada para dayang." Ucapnya, tiba-tiba saja dia menjadi baik seperti ini.

.

.

TBC

.

.


update...~

.

.

see you next chap..~