Chapter 6: Kabar Berita
Keriuhan sudah bermula di detik-detik jam perlajaran pertama dimulai. Di jam pelajaran Kakashi, semua murid mengambil kesempatan untuk bermain sepuasnya. Mengingat kebiasaan yang sudah mendarah daging pada guru Sejarah itu, kebiasaan terlambat.
Para murid di kelas XI-C mulai berani berlari-lari, mengobrol dan tertawa keras. Karena tahu, mereka tidak akan kena marah oleh kepala sekolah kejam mereka, Tsunade. Melainkan Kakashi.
Biasanya, ada seorang gadis yang gerah oleh sikap telat Kakashi. Dan gadis itu mulai berkeluh kesah atau membuat tindakan untuk menyusul guru pelajaran Sejarah itu di kantor guru dengan membawa buah tangan berupa makian. Tapi tampaknya, gadis itu tidak bersemangat di hari musim panas ini. Wajah gadis itu pun terlihat pias.
Bukan karena hawa panas yang menyerang semangatnya. Ada suatu hal yang dia pikirkan sehingga ia terus menopang dagunya, melamun.
Sesekali ia mengerling ke arah gerombolan Fans Girls Sasuke yang mengerubungi meja Sakura. Mereka menanyakan pasal pernyataan cinta Sakura pada Sasuke kemarin malam.
Ternyata ada salah satu Fans yang mendengar beritanya. Padahal Hinata yakin, Sakura pasti menutupinya dan berusaha tidak ada orang yang tahu selain dia.
Karena pernyataan cinta adalah suatu hal yang privasi, begitulah menurut Hinata. Alasan mengapa Sakura memberitahukan rencana pernyataan Sakura pada Hinata adalah karena Sakura menganggap Hinata adalah temannya yang sama-sama menyukai seseorang.
Bukan berarti Fans Girls Sasuke bukanlah teman Sakura hanya saja Sakura merasa kalau Hinata adalah orang yang bisa menjaga rahasia dan Hinata menyanggupinya. Tidak seperti Fans Girls yang tidak bisa berhenti membicarakan orang.
Seolah-olah, bergosip adalah sebagian dari hidup mereka. Sakura membicarakannya kepada Hinata dari hati ke hati agar tidak menyakiti perasaan Hinata. Tapi jauh di lubuk hati, Hinata merasa sakit.
Hinata sudah menebak kalau Sakura senang karena cintanya telah di balas oleh pujaan hatinya yang juga 'mantan' pujaan hatinya, Sasuke.
Ia teringat perkataan Sakura kemarin di rumahnya dan perkataan Fans Girls yang mengatakan Sasuke menyukai Sakura dari kecil, membuat ia harus menggigit bibirnya, menahan tangis.
Hinata merasa down, tidak bergairah, tidak memiliki semangat hidup oleh karena... patah hati. Ia berusaha menguatkan diri tapi tetap saja susah.
Ia ingin tahu, apa sekarang Fans Girls Sasuke akan berubah namanya? Atau membubarkan komunitasnya yang sudah berdiri selama dua tahun itu?
Hinata menyelungkupkan kepalanya di balik lipatan tangannya di meja. Untuk apa dia memikirkan itu? Itu bukanlah urusannya, selamanya pun bukan.
Ia menulikan telinganya dari perbincangan gila dan cempreng Fans Girls meski sulit tatkala mendengar salah satu orang bertanya dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu.
"Apa Sasuke-kun membalas cintamu?"
"Tidak. Dia menolakku," jawab Sakura lirih. Rasa malas yang mengelilingi Hinata seketika menguap ke atas yang bergantikan nuansa semangat baru.
Hinata segera berdiri dan terdengar helaan nafas darinya.
Do I Love You or I Hate You © Chiharu Kazawa
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
Pairing : Naruto and Hinata, slight a bit Hinata and Sasuke, slight a bit Sakura and Sasuke
.
Genre : Romance, Friendship
.
Warning : OOC, Typo (s), AU, Hinata RTN (Road To Ninja), dsb
.
Don't Like, Don't Read!
.
Happy Reading~!
Telinga yang tertutupi oleh rambut halusnya, berdengung cukup lama tapi sama sekali tidak di hiraukan oleh Hinata bahkan sama sekali tidak menganggunya. Satu-satunya yang menjadi pemusatan perhatiannya adalah, Sakura.
Kakinya bergerak tanpa kendalinya. Kakinya terasa ringan seakan terbang menuju kerumbunan di meja Sakura. Sebuah tarikan ghaib yang kuat membuat ia menerobos kerumbunan dengan mudah. Tanpa terasa, ia sudah berada di samping Sakura.
Gadis iris emerald itu menyadari kedatangan Hinata. Ia tersenyum kepadanya lembut dan mengabaikan Fans Girls Sasuke sejenak. Hinata membalas senyum dengan kaku. Ia masih syok setelah mendengar kalau Sakura di tolak oleh Sasuke. Bagaimana bisa? Sasuke menyukai Sakura, kan?
Lidahnya kelu hanya untuk mengucapkan 'hai' atau bertanya tentang pembicaraan yang sedang di bahas oleh Fans Girls pada Sakura. Ia seperti orang bodoh disini, berdiam diri tanpa jelas. Mengapa bisa dia kesini? Ia ingin pergi dari sini tapi ia sudah kepalang berada disini. Lagipula, ia ingin mendengar pembicaraan ini.
Pada akhirnya, pertanyaan Fans Girls lain yang mewakili rasa penasarannya terhadap kejadian yang paling mendebarkan bagi Sakura kemarin malam. Seperti pertanyaan...
"Mengapa bisa Sasuke menolakmu?"
"Sasuke bilang, dia tidak mencintaiku," Hinata senang bukan main. Ingin rasanya ia mencium kucing kesayangannya di rumah sebagai wujud rasa bahagia. Hinata masih ada kesempatan untuk mendekati Sasuke.
Tapi, bukankah kalau Sasuke menyukai Sakura seperti yang di katakan oleh salah satu Fans Girls? Ah, Hinata harusnya sadar, apa yang di bilang oleh orang lain itu belum tentu benar adanya.
"Apa kau masih mencintainya?"
"Sekarang dan selamanya, aku masih mencintainya dan aku yakin aku pasti akan memilikinya seutuhnya meski kalian mencegahku," Sakura bergurau, itu bisa terdengar dari nada bicaranya. Semua orang di dekatnya tertawa tapi tidak dengan Hinata. Hinata merasa perkataan itu seolah sangat nyata. Tak heran kalau badannya bergidik setelah mendengarnya.
"Kudengar, Naruto Uzumaki di kelas ini telah me-nembak-mu kemarin malam, ya?" tanya salah satu Fans Girls berpakaian seragam agak ketat sehingga dadanya yang besar melebihi milik Hinata itu menonjol. Hinata perkirakan dari warna dasi hijau yang terpasang di tengah kerah, dia adalah murid kelas XII. Kenapa dia ada di sini? Apa dia membolos?
Sakura dan Hinata sama-sama terperangah. Ia lupa tentang Naruto. Apa Sakura menerima cinta Naruto atau menolaknya?
Sakura tergelak pada awalnya. "Bagaimana bisa kalian tahu hal itu? Aku terkejut sekali. Ya, Naruto mengakui kalau ia cinta padaku," akui Sakura dengan pelan.
Apa kau menolaknya? Hinata ingin menanyakan itu tetapi lidahnya belum bisa di gerakkan. Hinata mulai jengah oleh lidahnya sendiri.
"Apa kau menolaknya atau menerimanya?" Hinata merasa bersyukur sekaligus lega mendengar salah satu orang bertanya sama dengan yang ada di pikirannya.
Sakura terdiam beberapa detik. "...aku menolaknya." jawab Sakura dengan tegas dan mantap.
Hinata terbelalak. Semua orang yang mendengarnya takjub dan melafalkan kata 'oohhh' dengan serempak, kecuali Hinata.
Sakura menolak Naruto? Benar juga, Sakura bilang kalau ia masih mencintai Sasuke, sekarang dan selamanya. Meski pun di telinga orang terdengar hanya sebuah gurauan, Hinata tidak percaya itu.
Bagaimana perasaan Naruto setelah di tolak oleh Sakura? Hinata memanjangkan lehernya dan berjinjit di antara Fans Girls yamg menghalau pandangannya untuk mencari sosok jangkung Naruto di seluruh areal kelasnya. Ia mendapati Naruto tengah mengobrol dengan Kiba dan Chouji.
Ia ingin menghampiri Naruto tapi, tunggu mengapa ia harus peduli pada Naruto? Itu bukanlah urusannya apakah Naruto di tolak atau di terima cintanya oleh Sakura. Otaknya memang berkata demikian tetapi hatinya menolak keras.
Ia tidak bisa mengelak kalau ia... mulai peduli pada Naruto.
Ia mulai melangkahkan kakinya sebelum suara pintu terbuka dan terpampanglah wajah pria bermasker dengan mata malas khasnya berdiri di ambang pintu, Kakashi Hatake.
Hinata terperanjat ketika mendengar geraman dari guru Sejarah itu. Beda Hinata, beda Fans Girls. Mereka berteriak ketakutan termasuk senpainya, ia berlari menerobos keluar meski ada Kakashi menghadangnya.
Tapi tidak semudah yang di harapkan, pergelangan senpainya cepat di pagut kuat oleh Kakashi dan sudah di tebak oleh Hinata, senpainya dalam bahaya. Hinata mengacuhkannya dan tidak peduli. Toh, itu salah dia sendiri.
Kakashi keluar kelas sembari membawa senpainya ke ruang BP setelah menyuruh ketua kelas untuk tidak membiarkan kelasnya berisik seperti tadi. Ketua kelas mengangguk antara paham dan ketakutan.
Hinata mengubah pemikirannya tentang guru Kakashi yang malas dan mengabaikan tugasnya. Hinata juga mulai berpikir, Kakashi tidak cocok di jadikan guru tapi lebih pantas jika di jadikan security di sekolahnya.
.
.
.
Hinata sudah memantapkan niatnya untuk berbicara pada Naruto setelah bel istirahat berbunyi. Dan saat itu tiba, Hinata tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya.
Lantas, ia berjalan ke meja tempat Naruto dan sesekali memanggil Naruto. Yang di panggil, menoleh dengan cepat. Hinata menisyaratkan untuk berbicara berdua di luar. Naruto bimbang sekaligus penasaran. Jarang sekali, Hinata mengajaknya bicara berdua di luar. Mau tidak mau dia berjalan mengekori Hinata menuju suatu tempat. Taman belakang.
"Kenapa kau memanggilku hanya untuk berbicara di sini? Kalau tidak terlalu penting, di kelas juga bisa, kan?" Naruto menyahut setelah Hinata duduk di kursi kayu sedangkan Naruto memilih menyender di batang kayu pohon Sakura yang daunnya masih hijau, ia menghadap Hinata. Mereka berdua telah berada di taman belakang.
"Aku hanya tidak ingin berbicara di tempat keramaian, itu mengganggu," balas Hinata sekenanya, tangannya mengelus bangku panjang yang dia duduki. Bangku itu terbuat dari kayu mahoni yang sudah di kikir indah dan di beri warna coklat kemerahan.
"Jadi, cepatlah, kau ingin bicara apa?" Naruto melirik arlojinya. Kakinya mengetuk-ngetuk tanah yang di pijakinya dengan gemas. Ia ingin cepat-cepat pergi ke kantin. Suara gemuruh sudah terdengar dari perutnya.
Hinata menatap Naruto lurus. Hatinya mengurai perasaan berkecamuk tidak nyaman yang aneh saat menatap mata sapphire itu.
"Apa... kau baik-baik saja setelah di tolak oleh Sakura?" Hinata menundukkan wajahnya, tidak kuat menatap pria di depannya lama-lama.
Naruto tercenung. Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah kolam. Melihat ikan-ikan berwarna-warni berenang damai. Lalu, "Mengapa kau bertanya itu?"
"Tidak ada salahnya kalau aku ingin tahu. Kue yang kau buat kemarin, apa sudah kau berikan oleh Sakura atau kau buang?" Hinata melempar pertanyaan lain. Kepala Naruto berkedut.
"Tidak ada pria yang tidak sakit di tolak oleh perempuan yang di sukainya. Dan masalah kue itu, aku masih menyimpannya. Kukira, kue itu bisa bertahan selama berbulan-bulan selama berada di toples dan di tutup rapat," akhirnya Naruto menjawab.
Ia balik menatap Hinata. Tersirat rasa kecewa bercampur luka di mata biru langit itu. Hinata merasa bersalah telah menanyakannya. Ia egois, hanya karena rasa keingintahuannya, ia malah melukai perasaan orang lain. Perasaan orang lain yang tidak pernah ia pedulikan sebelumnya.
"Maaf..." Naruto jelas terkejut dengan permintaan maaf Hinata, selama ini gadis itu tidak pernah mengatakan kata itu kepadanya.
Naruto ingin tahu ekspresi gadis di depannya tapi terhalang oleh poni rata Hinata. Tangannya mengangkat perlahan poni gadis yang pernah ia katai 'waria' itu, dua buah bola mata perak bak rembulan malam menatap Naruto kaget. Naruto juga sama terkejutnya tapi enggan untuk melepaskan genggamannya.
Naruto masih tetap posisi berjongkok sembari memegang poni Hinata. Sunyi seolah bertahta di antara mereka. Hanya terdengar degupan jantung masing-masing. Saling bertukar tatapan. Mata bertukar mata berkolaborasi dengan nafas mereka yang bersatu padu.
Perlahan, mata biru langit itu memancarkan sinar kelembutan dan teduh. Aura hangat membelenggunya. Hinata terpana di buatnya. Di bandingkan mata onyx tidak berekspresi milik Sasuke, mata biru langit teduh itu mampu membuat jantung Hinata gempa. Bergemuruh hebat seolah rongga-rongga jantungnya akan lepas dari tempatnya.
Bahkan, gemuruh degup jantung ini melebihi saat ia menatap mata Sasuke langsung. Hinata ingin menepis tangan Naruto sekuat tenaga lalu memarahinya seperti biasa yang ia lakukan.
Tapi, hanya sebuah tundukkan kepala yang ia bisa lakukan. Cara agar menyembunyikan kekagumannya yang terbilang cukup besar pada mata Naruto itu.
"J-Jangan... ta-tap aku..." bukanlah bentakan atau makian yang keluar dari sepasang bibir mungil Hinata. Hanya gumaman lirih terbata-bata yang terdengar. Ia menoleh ke sisi lain agar genggaman Naruto di poninya terlepas. Dan benar.
Naruto tidak menuruti kemauan Hinata. Ia makin menatap Hinata lama sekali. Wajah gadis di hadapannya membara. Keringat dingin meluncur bebas dari dagu kecil milik Hinata. Naruto berpikir kalau Hinata demam. Ia hendak mengulurkan tangannya kembali, ingin memeriksa suhu tubuh Hinata tapi Hinata melenggang pergi sebelum Naruto menyentuhnya.
Naruto hanya terdiam di posisi yang sama, berdiri menatap punggung Hinata yang semakin lama menghilang dari pandangannya. "Kenapa... dengan dia...?"
.
.
.
Hinata berjalan cepat. Ia terus menekan-nekan dadanya sesekali ia menepuk keras ke dadanya, tepat jantungnya berada. Berharap degupan jantungnya berhenti, Hinata bahkan berpikir jantungnya ingin meledak dari tempatnya juga.
Ia pergi ke toilet perempuan untuk mengusap wajahnya. Poninya yang ia tidak di benahkan dahulu akhirnya ikut basah dan lepek. Air dingin itu seketika bagaikan obat penyejuk jantung dan perasaannya. Ia merasa lega dan menghirup udara bebas yang entah kenapa begitu sesak di hirup sebelumnya.
Ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Tercetak jelas, pipinya merona merah hebat, pipinya bagaikan telah di bubuhkan blush on merah darah. Warna di wajahnya ternyata belum menghilang juga sejak dia pergi dari taman belakang tadi. Sejak Naruto menatapnya dengan mata sapphire miliknya.
Ingin rasanya Hinata menghilangkan warna di wajahnya itu. Ia basuh mukanya dengan air berkali-kali, ciprakan air terlihat dimana-mana. Pada akhirnya, seragam dan rok hijau merah kotak-kotaknya terkena imbasnya. Hinata mengacuhkannya.
Tapi, warna itu masih enggan menyingkir dari wajahnya. Ia menggeram kesal membuat siswi lain yang berada di toilet itu terkejut.
Hinata ingin memakai topeng sekarang juga. Ia tidak suka dengan warna merah di wajahnya, itu mengingatkannya pada masa lalu. Masa lalu saat ia masih malu-malu dan penakut. Ia benci dia yang dulu. Ia cinta dirinya yang sekarang. Berani. Tapi kesepian. Persetan dengan kesepian!
Benarkah itu? Apakah ia baik-baik saja bila dia kesepian? Dia tidak akan baik-baik saja.
Ia menundukkan kepalanya, membiarkan kepalanya terkena guyuran air keran. Ia tidak peduli rambutnya basah atau seragam dan roknya yang basah pula bila setelah berada di kelasnya dan menjadi tontonan bagi orang lain.
Hinata hanya ingin mendinginkan kepalanya. Sejuk. Itulah yang dia rasa. Sejuk seperti mata biru langit yang sebelumnya berusaha ia enyahkan dari pikirannya. Kini, gambaran mata itu terlintas kembali di benaknya. Mata itu, pemilik mata itu, Naruto.
"Naruto..." ia gumamkan sebuah nama yang dulu ia benci. Nama itu yang membuat hatinya panas dari dulu hingga sekarang karena amarah dan kesal tapi sekarang beda, rasa panas ini bukan karena amarah dan kesal tapi suatu hal yang tidak ia mengerti.
Dingin di badannya berangsur-angsur hilang. Hangat mengelilingi bahunya. Sebuah rengkuhan lembut dan hangat itu membuat Hinata terpejam. Hinata berpikir kalau ia bermimpi.
Tapi suara yang memanggil namanya tepat di telinga kanannya membuat Hinata terjaga. Ia terbelalak ketika iris emerald milik Sakura pertama kali yang ia lihat. Ia tidak tahu, handuk putih sudah tersampir di bahunya dan Sakura merengkuhnya, membagi kehangatan yang sebenarnya Hinata butuhkan. Ia kedinginan.
Dari ujung rambut dan kaki Hinata menggigil. Seiring dengan bahunya yang gemetar. Jari-jari tangannya yang berada di sisi wastafel, mengeriput. Wajahnya pias karena kedinginan, warna merah di wajahnya telah menghilang.
Sakura tersenyum pilu melihat kondisi Hinata yang mengerikan. Ia melepaskan pelukannya dan membawa Hinata ke UKS. Hinata hanya mengikuti kemana Sakura membawanya pergi. Hinata sangat kedinginan bahkan dengan susah payah ia paksa untuk berjalan.
.
.
.
Ketukan pintu menyadarkan seorang wanita bersurai hitam seleher yang sedang memeriksa laporan di meja kerjanya. Entah, laporan apa itu. Ia menggumamkan kata masuk dan tak lama pintu itu berderit terbuka berbarengan dengan Sakura dan Hinata yang memasuki ruangan yang di beri plang nama 'UKS' di atas pintu.
Aroma khas obat langsung menguar masuk dan menyesakkan hidung mungil Hinata. Nuansa serba putih memanjakan matanya. Matanya berhenti di ranjang putih yang tertutupi oleh horden putih pula. Sprei putih itu masih sama, putih bersih tanpa noda sekecil apapun.
Guru Shizune tampaknya sangat menjaga kebersihan sprei, bukan hanya sprei tapi semua barang-barang di ruangan ini sampai sekat-sekat ruangan ini pun tidak pernah luput dari pengawasannya.
Ia lihat, Sakura menghampiri Shizune. Mereka berbincang. Hinata tidak tahu mereka sedang membincangkan apa. Ia mendudukkan dirinya di kursi kayu. Angannya melayang.
Disinilah, tempat awal mula ada seorang lelaki memperhatikannya untuk pertama kalinya, dia adalah Sasuke. Serta awal mula ia jatuh cinta pada Sasuke, cinta pertamanya. Dan awal mula ia mengetahui apa itu cinta.
Ia mengerjap lalu menaikkan dagunya keatas. Sedang apa Sasuke-kun sekarang?
"Hee, Hyuuga-san melamun," ujar seorang wanita tinggi semampai berbasa-basi. Hinata sedikit membuka matanya lebar. Senyuman lembut Shizune menyambutnya. Dengan kikuk, Hinata menaikkan sudut bibirnya.
"Shizune-sensei..." Hinata berdiri untuk berojigi dan di balas ojigi oleh Shizune. Rambut Hinata yang masih basah, terciprat ke muka mulus Shizune. Wanita itu sedikit terkejut.
"Kau habis mandi, Hinata?" Hinata menggeleng cepat.
"Aku hanya membasuh wajah dan tidak sengaja mengenai rambutku," jawab Hinata jujur sembari menyelipkan rambutnya ke belakang cuping telinganya.
Shizune mengambil handuk yang sedari tadi tersampir di bahu Hinata yang tertutupi seragam sekolahnya. Tanpa beban, Shizune langsung mengeringkan rambut Hinata dengan lembut. Hinata merasa nyaman dengan belaian tangan Shizune di kepalanya.
"Sakura telah menceritakan semuanya padaku tentang kau berada di toilet berlama-lama. Apa kau punya masalah?" mata kelam Shizune menatap Hinata dengan rasa keibuan.
Hinata terdiam bisu. Masalah? Ia hanya teringat masa lalu saja. Kali ini, ia tidak ingin berbagi masa lalunya kepada Shizune. Bukan karena apa-apa, ia hanya tidak ingin mengingat masa lalu lagi. Ia lebih memilih diam dan menikmati belaian Shizune.
Shizune tersenyum tatkala melihat Hinata menggeleng lemas. "Tidak apa kalau kau tidak mau menceritakannya." terbersit rasa kecewa di suara Shizune. Guru yang masih single itu ingin membantu anak didiknya itu tapi apa boleh buat.
Sakura muncul dengan baju jersey di tangannya. "Hinata, pakai ini, kau bisa demam bila memakai seragam basah," ucapnya setelah duduk di ranjang dan menunjukkan baju jersey miliknya.
Shizune menghentikan kegiatan mengeringkan rambut Hinata. Handuknya masih tersampir di bahu Hinata. Wanita itu mempersilahkan Hinata mengambil baju jersey dari Sakura.
Hinata mengambil baju jersey itu, ia ragu-ragu bila ingin berganti pakaian di UKS. Di UKS tidak ada ruang di manapun. Meski bersama dengan sesama perempuan, ia tetap saja malu.
"Dimana aku harus berpakaian?" tanya Hinata kepada Sakura dengan sorot mata polosnya. Sakura terkekeh. Bahunya berguncang sedikit.
"Apa salahnya berganti pakaian di sini? Aku tidak akan mengintip kok, aku juga akan menjaga pintu agar tidak ada yang masuk. Kau tenang saja," Sakura menunjuk tempat berpakaian untuk Hinata. Di balik ranjang.
Hinata tertegun. Shizune menahan senyum melihat polosnya Hinata. Ia tidak menyangka, di balik sifat arogan Hinata terdapat sifat polos. Ia berjalan ke arah pintu.
"Sakura, aku tinggalkan kalian berdua disini, Tsunade-sama menungguku di kantornya, aku harus menyerahkan sebuah laporan kepadanya," Shizune menggoyangkan laporan yang dia baca sebelum Sakura dan Hinata datang. Sakura mengangguk mengerti.
Kedua gadis itu melihat Shizune memutar handel pintu dan menutup pintunya saat Shizune telah pergi. Hinata masih mendengar ketukan sepatunya menjauh dan menghilang.
Hinata mengalihkan pandangannya ke Sakura dan di dapati gadis musim semi itu balik menatapnya. "Tolong, jaga di pintu," perintah Hinata dan kedua kalinya Sakura terkekeh. Makhluk di depannya bagaikan badut, setiap perkataannya adalah hiburan bagi Sakura. Hinata bisa lucu kalau saat sedang polos-polosnya.
"Ha'i, Ha'i, ojou-sama," Sakura melebarkan senyumannya lalu berjalan menuju pintu. Ia membelakangi pintu seraya menyenderkan punggungnya di daun pintu.
Hinata tidak bergegas ke balik ranjang, ia menatap Sakura diam dan lama. Sakura menghela nafas panjang, "Baiklah, aku mengerti," Ia membalikkan badannya dan menghadap daun pintu.
Senyum terulas di bibir pulam Hinata. Ia berjalan ke balik ranjang. Ia duduk di ranjang. Tembok putih berada di depannya. Sekarang, Hinata di kelilingi oleh horden dan tembok.
Perlahan-lahan ia membuka satu persatu kancing seragamnya dan membuka resleting roknya. Horden putih panjang yang menutupi seluruh ranjang itu membuat siapapun tidak bisa melihat Hinata berganti pakaian kecuali ada seseorang yang menyibak horden ranjang.
Di ruangan itu hanya terdengar denting jam dan suara kasak-kusuk tidak jelas dari ranjang, terkadang bunyi derit timbul dari sana. Sakura membuka mulutnya.
"Hinata..." panggilnya dan di balas gumaman oleh Hinata. Ia ingin bertanya tentang kejadian Hinata berada lama-lama di toilet. Sakura yakin, Hinata saat itu sedang tidak baik-baik saja.
Sedetik kemudian, ia urungkan. Ia sudah mendengar guru Shizune bertanya hal yang sama dan respon Hinata, gadis indigo itu tidak bicara. Jadi untuk apa ia bertanya lagi.
"Malam ini, pesta ulang tahun Sasuke-kun akan di adakan," imbuhnya. Hanya pembicaraan itu yang keluar. Tidak apa, lagipula dia juga ingin memberitahukan hal ini pada Hinata.
Hinata menghentikan gerakannya. Hinata tarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Pesta ulang tahun Sasuke. Malam ini?
Sakura melirik ke belakang, ia tidak mendengar Hinata memberinya respon dan ia juga tidak mendengar suara kasak-kusuk lagi di ranjang. Ia melihat bayangan Hinata yang terduduk diam membelakanginya di ranjang.
"Pestanya malam ini di rumah Sasuke-kun, kau mau datang?" tanya gadis musim semi itu. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap bayangan Hinata.
Hinata menunduk. Malam ini? Apakah bisa? Apakah ayahnya membolehkannya?
Ayahnya yang super tegas dan keras pasti tidak membolehkannya keluar malam hari. Tapi, Hinata ingin datang, ia ingin melihat Sasuke berpakaian setelan jas dengan celana panjang, Sasuke pasti terlihat tampan malam ini.
"Aku akan datang," jawab Hinata sekian lama, Sakura bisa melihat bayangan kepala Hinata menoleh ke arahnya. Sakura tersenyum kemudian.
Pergi di malam hari dengan alasan pesta reuni mungkin bisa mengelabuhi ayahnya. Ia akan pergi naik mobil sendiri meski tidak memiliki SIM, Hinata yakin ia tidak apa-apa. Ia sudah mahir mengendarai mobil sendiri dan ia juga akan mentaati peraturan lalu lintas.
Tapi, Hinata sudah beberapa kali membohongi ayahnya. Ia jadi merasa tidak enak pada ayahnya, ia serasa menjadi anak durhaka.
Ia telah di kelilingi rasa bersalah. Keyakinannya untuk bisa datang ke pesta ulang tahun Sasuke menyurut.
"Semoga..."
.
.
.
To Be Continued
A/N : Selamat ulang tahun Sasuke-kyun! ^^ Aduh, udah telat banget ya, telat bangeeeetttttt! nget! nget! *heheh*
Saya tuh sepertinya ketularan penyakit Kakashi deh, suka telat. Update telat, ngucapin HBD buat yayang tercinta Sasuke-kyun telat, berangkat sekolah aja telat *gak, gak!*
Kenapa? Pasti itu yang kalian tanya-tanyakan. *reader: kagak*
Kalau gak ada yang nanya, ya udah gak apa2. Saya akan tetap beritahu alasannya, karena saya... memiliki motto, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali *gak! bukan kayak gitu!* tapi lagi-lagi... dunia nyata. Dunia nyata! Kau kejam! O
Udah ah cap cis cus nya^^ terus pantengin fic nista ini ya, kalau tidak dipantengin maka saya... akan meneruskan fic ini (?)
Akhir kata...
R
E
V
I
E
W
See You~
