Halo, minna ^^
trims buat yang masih setia menunggu fic anri ini.
Anri bingung, sebenernya awal publish ini pengenny chapny pendek ajj, tapi gag tau kenapa malah makin panjang ajj ceritany, #sweatdroop biarlah yang terjadi terjadilah~
Chap ini kita banyak masuk ke kisah Haruto yah~ selamat membaca (^o^)/*
-Thanks to Reviewers #deepbow
-maap kalau ada namany yg kurang, ada kesalahan teknis
Azure'Czar : ayo kasii semangat buat Naru biar dia gag galau ^o^9
.9 : tenang, ini lanjuut~ walau telat sih, hehe, makasii anggap ajj Haruto kea Minato kecil gituh, siapakah yang dia piliiiih ~
Himawari Wia : wao~ so sweet kan ? gyaaaaa~ #plakk sebulan sekali nih update, tapi sering telat, hehe, maklumlah~ siip, chayo~
Uzumaki Prince Dobe-Nii : wah, anri hanya mengikuti alur hati, wkwkwk, walaupun Naru yg harus dijadiin tumbal, chap ini masih kisah haru, semangat ;)
BlackRose783 : iyah, ini dilanjuut~
kkhukhukhukhudattebayo : semoga sajalah, kasian nanti Naru galau terus, Haru mah happy happy ajj dia, belum :D
Balasoka Acapati : anri suka OC sih, wkwk, makasii ya Balasoka san ^^ yup, Minato and the only one, semangat ^^9
hanazawa kay : makasii ya hanazawa chan XD sekarang sih masinh nganggepny Haruto, tapi kita tunggu kedepannya :D
deEsQuare : siapa hayooo~ wkwkwk, salah salah, Haru tadi mau ngomongin Sasuke tp gag jadi, jadinya ngegantung deh~ sabar yah naru #pukpuk anri semangat ;)
collitha : nah, karena pas seru ituh harus digantung #plakk Ino emang jahil nih, sepertinya kalau itu masih agak jauh dikit collitha chan, sabar yah ;)
Nisasanqpemimpi : diusahakan Nisa chan, word anri emang dikit sih, hehe :D
destiq sasunaru : siip~ anri semangat~ ^o^
Juniel Is A Vampire Hybrid : sabar ya Juniel, kasian matany tuh jangan dipaksain, ntar kea anri jadi minus gara" keseringan baca fanfic #plakk
.10 : iyah, ini lanjuuuut~ ;)
Ringo Kouichi : salam kenal juga ringo :D makasii ya~ siip, chap ini dikasih liat haruny XD
Angel Muaffi : ini lanjut~ maap ya telat, hehe, iyah, tenang ajj, kalo Sasu gag mau bakalan anri paksa kok sampe mau, hoho ^^
yurika46 : "oh, abang Suke~ andai hati ini bisa~ tapi tak mengijinkan~" Naruto mewek. Wkwk, kasian dia. Sip ! Anri semangat :D btw HaruNaru emang sodara kembar XD
Guest : iyah~ ini dilanjut~ ;)
.
.
.
Naruto sedang galau. Ya ! Benar ! G-A-L-A-U ! Kenapa ? tentu saja karena apa yang dikatakan oleh Ino kemarin pada saat mereka berbicara dengan Haruto. Sasuke titik tidak pakai koma. Naruto menghela nafas berat. Keadaan hatinya benar-benar berbalik dengan pikirannya. Pikirannya yang tidak ingin memikirkan si uchiha itu tetapi hatinya berkhianat. 'Damn it ! Kenapa kata-kata Ino tidak bisa lepas dari pikiranku !? aku benar-benar harus mengalihkannya ke hal lain,'
"Haruto… Haruto…" tersadar dari alam pikirannya Naruto menoleh dan mendapati Neji dan Sasuke yang sudah bersiap-siap untuk mennggalkan kelas,
"Eh ? Sudah selesai ?" Neji mengangguk sedangkan Sasuke berguman 'dobe' andalannya. Mengacuhkan gumannan Sasuke yang tidak penting, Naruto membereskan buku-bukunya lalu menyusul Sasuke dan Neji yang kini menunggunya di depan pintu kelas. Ia berlari-lari kecil menuju kedua temannya, "Gomen,"
"Tidak biasanya kau melamun di kelas, Haru." Ucap Neji sambil mengeluarkan handphonenya,
"Hanya sedang bosan," jawab Naruto sambil memperlihatkan cengiran tiga jarinya,
"Ino sudah menunggu di tempat biasa,"
Neji dan Sasuke pun berjalan menuju parkiran untuk mengambil kendaraan mereka sedangkan Naruto mengekor dibelakang. Ia duduk di sebelah kursi kemudi Sasuke. Setelah sampai di sebuah café yang lumayan luas yang terletak di samping jalan raya, mereka menuju meja dimana Ino, Hinata dan Shikamaru duduk. Mereka ternyata memilih tempat diluar café dengan pemandangan dimana manusia berlalu-lalang. Waktu sekitar menunjukkan pukul 4 PM, udara di sekitar cukup sejuk karena pohon yang ada disekitar café itu cukup rindang membuat suasana nyaman untuk nongkrong bagi muda mudi di kota besar Tokyo.
"Kalian mau pesan apa ?" tanya Ino seraya menyerahkan dua buah buku menu pada Neji. Sebelum Neji sempat membuka mulutya sebuah suara mengalihkan perhatian mereka,
"Sasuke !"
Mata Naruto sedikit membelalak melihat seseorang yang berdiri di sebelah meja mereka. Seorang gadis bersurai merah. Rambut merah gadis itu digelung seperti gadis-gadis di film drama jepang lama dengan tusuk konde perak yang menyerupai pisau (*anri lupa namanya apa). Gadis itu memakai baju atasan transparan berwarna senada dengan rambutnya yang menyerupai kimono dengan tanktop sewarna merah hati sebagai dalaman dipadu dengan rok mini yang senada dengan atasannya juga tas kecil yang menggantung dibahu kirinya. Gadis itu tersenyum manis pada mereka semua dan hal itu membuat bulir-bulir keringat menuruni pelipis Naruto.
'Karin !? Sedang apa dia disini ?' batinnya horror
.
.
.
Blue Shappire
Naruto © Masashi Kishimoto
Runriran
Chapter VI
WARNING : AU, OOC, OC, Typos, Gajeness, Yaoi, slight Straight
.
.
.
Someone POV's
Aku tidak tau apa yang salah dariku ? Aku tahu sudah lama diriku seperti ini… sejak di panti asuhan dulu… saat aku menyadari bahwa aku menyukai Genyumaru nii-san… tapi, seharusnya tidak seperti ini ? sejak kapan aku berubah ?
Aku memijat pelipis kepalaku pelan. Rasa pusing tiba-tiba menjalar begitu aku mulai memikirkan hal ini. Ada yang salah ! Aku tau itu… tidak seharusnya aku merasakan perasaan ini…
Ini… tidak benar…
Dia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri… Naruto…
Someone POV's End
•
•
•
Haruto sedang pusing… Ia bingung… Bingung dengan apa yang harus dilakukannya dengan keputusan Naruto—tidak tidak—ia tidak masalah dengan keputusan pemuda itu namun, ada hal lain yang membuatnya… umm… sedikit bimbang…
Haruto adalah orang yang sangat peka dengan keadaan sekitar. Menjadi anak dari salah satu pengusaha terbesar di Tokyo mau tidak mau membuatnya selalu waspada dalam mengawasi lingkungan sekitarnya. Perusahaan saingan ayahnya pernah beberapa kali mencoba menculiknya untuk menjatuhkan Namikaze Minato dan dari hal itu Haruto belajar untuk menjadi dirinya yang sekarang ini. Pengalaman memang guru yang paling baik.
Kembali ke masalah awal. Haruto menyadari ada hal yang berbeda beberapa hari ini dengan anak itu. Manusia yang stoic seperti Sasuke itu kini sering memandangnya dalam frekuensi yang cukup lama. Bukan berarti Haruto menangkap basah bahwa dia sedang memperhatikannya—tidak—Haruto sangat berpengalaman masalah hal ini—sangat malah—karena itu ia bingung—bingung diantara mengatakan kebenaran situasi ini atau tidak.
"Hhhh,"
"Ada apa ?" Haruto sontak menoleh, ia sedikt terkejut melihat seorang gadis bersurai pink pucat panjang duduk disebelahnya seraya tersenyum padanya. "Pagi-pagi tidak baik mengeluh,"
"Hei, aku tidak mengeluh," gadis itu tertawa renyah. Baru pertama ini Haruto memperhatikan wajah gadis itu dan menyadari bahwa gadis yang duduk disampingnya ini memiliki paras yang cantik, 'tidak salah bila gadis ini menjadi primadona kelas' batinnya,
"Aku tau, aku cuma bercanda." Gadis itu mengulurkan tangannya, "Perkenalkan, Tayuya. Haruno Tayuya." Haruto menyambut tangan gadis itu,
"Uzumaki… Naruto…"
"Salam kenal yah, Naru-kun,"
"Salam kenal juga, Tayu-chan," Haruto menyeringai kecil,
"Hei, aku bukan geisha !" Haruto tertawa kecil,
"Aku tau, aku cuma bercanda. Salam kenal juga Tayuya," mulai hari itu Haruto sering menghabiskan waktunya dikelas bersama Tayuya. Suatu hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Sepulang kuliah Haruto kembali ke rutinitas biasanya. Karena Sai hari ini ada jam di kelas bisnis maka Haruto memutuskan untuk pergi ke toko kue TenTen sendiri. Diperjalanan dia melihat sesuatu yang mencurigakan, ada beberapa pria yang mengelilingi seorang gadis. Karena penasaran Haruto mencoba melihat lebih dekat dan matanya sedikit membulat melihat gadis itu.
Sakura !
Salah satu laki-laki itu memegang tangan Sakura.
"Hei, lepaskan dia !" Haruto berlari melewati pria berbadan besar itu, dengan cepat ia melepaskan tangan pria itu dari Sakura dan menarik gadis bersurai pink itu sedikit menjauh dari mereka. Melindungi Sakura dibelakangnya.
"Naruto, apa yang kau lakukan !? Aku bisa mengatasi mereka sendiri, baka !" ucap Sakura seraya menggeser tubuh Haruto,
"Ohoho, nona Sakura memiliki penolong sekarang, hm." Ucap pria itu sambil tertawa meremehkan melihat Haruto. "Uzumaki,"
"Kongo, urusanmu hanya denganku," ucap Sakura dengan nada mengancam.
"Aku ragu dia menjadi penolong, Kongo. Uzumaki kecil ini bahkan tidak tahu cara menggunakan jutsu, membosankan." Gadis kecil bersurai putih maju mendekati Kongo.
'Jutsu ?'
"Dia hilang ingatan, Karenbana." Ucap pria bersurai merah pucat dengan beautiful mark di bawah mata kanannya. "Sepertinya untuk hari ini sudah cukup. Ayo,"
"Bye bye, Sakura-chan. Kami akan datang lagi lain waktu," dengan kalimat terakhir yang diucapkan Kengo mereka semua pun meninggalkan Haruto dan Sakura. Haruto lalu berbalik meghadap Sakura, ia memegang bahu gadis itu pelan—memeriksa bila ada yang terluka.
"Naruto baka ! Ap-"
Haruto menarik Sakura ke dalam pelukannya, gadis itu hanya bisa terbelalak shock. "Syukurlah kau tidak apa-apa," gumannya pelan.
"Ba-baka ! Aku bisa melindungi diriku sendiri !" Sakura merasakan pipinya terbakar. Ia lalu mendorong dada bidang Haruto pelan, "Kau kenapa Naruto ? Tidak biasanya kau bersikap seperti ini, ini aneh…" Sakura tetap bersikukuh mendorong Haruto untuk melepaskan pelukannya tapi tenaga Haruto cukup kuat untuk tetap mempertahankan posisi mereka.
"Kenapa kau tidak minta bantuan, Sakura ? Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk padamu." bisik Haruto ditelinga Sakura. Sakura merasakan nafas Haruto yang hangat dan itu membuat gadis bersurai pink itu bagai kepiting rebus yang sudah siap disantap.
"A-aku bisa mengatasi mereka sendiri." Haruto melepaskan pelukkannya, ia merasakan amarah mulai menguasainya.
"Walaupun kau bisa mengatasi mereka sendiri, tetap saja kau itu perempuan, Sakura !" Sakura tersentak mendengar nada suara Haruto, pemuda blondy didepannya ini tidak pernah meninggikan suaranya sebelumnya.
"Go-gomen…" Sakura menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah, karena ia merasa kata-kata Haruto memang benar. Melihat Sakura yang menundukkan kepalanya menyesal kemarahan Haruto perlahan menghilang. Ia mengelus surai pink itu lembut. Sakura mendongak dan mendapati Haruto yang sedang tersenyum memandangnya.
"Lain kali jangan menghadapi mereka sendirian, ok ? kau tidak sendiri." Sakura mengangguk pelan. Haruto lalu meraih tangan Sakura, "Ayo, TenTen pasti sudah menunggu," Sakura mengangguk singkat.
'Ini pertama kalianya ada laki-laki yang menganggapku sebagai seorang wanita…'
Selama perjalanan Haruto tidak pernah melepaskan tangan Sakura, mereka berdua berjalan bergandengan tangan. "Sakura…" panggil Haruto. Gadis itu menoleh,
"Apa itu jutsu ?" Haruto merasakan gadis disebelahnya tersentak, suasananya menjadi sedikit awkward.
"Tidak di sini, Naruto." Haruto mengangguk mengerti. Sakura lalu melepaskan genggaman tangannya dari Haruto.
"Sakura ?"
"Aku bukan anak kecil yang harus digandeng terus, baka." Haruto tersenyum simpul lalu mengikuti Sakura yang sudah berjalan mendahuuinya.
Sesampainya mereka di toko kue milik TenTen, mereka disambut dengan Kiba dan Sara yang sedang berargumen kecil namun berhenti begitu mereka mendengar suara pintu toko terbuka. TenTen seperti biasa meyapa mereka begitu mereka masuk.
"Kalian berdua kenapa ?" tanya Haruto pelan hal itu membuat Sara dan Kiba didepannya merasa tidak enak, bingung antara meberitahukan masalah argumen mereka atau tidak. Haruto merasa ada sesuatu yang aneh, teman-teman Naruto menyembunyikan sesuatu darinya. Ia yakin itu.
"Ten, Sai mana ?" gadis bersurai coklat itu menoleh,
"Sebentar lagi dia datang,"
"Sai sebentar lagi datang," Haruto mengangguk mengerti maksud Sakura. Mereka menunggu Sai untuk menjelaskan apa yang ditanyakan oleh Haruto pada Sakura beberapa menit lalu. Sambil menunggu kedatangan Sai, Sakura dan Haruto masing masing memesan minuman dan kue. Selang beberapa menit kemudian pemuda yang ditunggu mereka datang.
"Ten, aku pesan espresso," ucap Sai begitu menginjakkan kakinya di toko kue milik TenTen.
"Sai," Sai menoleh ke arah suara yang memanggilnya,
"Sakura ?"
"Minna, ada yang ingin Naruto tanyakan," serempak empat pasang mata terjutu pada pemuda blondy di sebelah Sakura,
"Kau mau tanya apa, Nar ?" tanya Sara mengawali,
"Apa itu jutsu ?" mereka saling bertatapan mendengar pertanyaan Haruto,
"Ayolah, Nar. Aku tau kau tidak sebodoh itu !" ucap Kiba bosan,
"…" Haruto hanya diam, matanya menatap lurus ke mata pemuda bersurai coklat itu. Merasakan tatapan tajam yang tidak biasa dikeluarkan pemuda blondy itu membuat Kiba berkeringat dingin.
"Naruto," panggil TenTen, "Kalau kau benar-benar ingin tahu, kau harus bersumpah untuk tidak memberitahukan hal ini pada orang lain. Bagaimana ?"
Haruto mengangguk, "Kau bisa pegang kata-kataku, Ten,"
"Baiklah. Kau tau masa samurai dan ninja mulai pudar pada masa kejayaan Kaisar setelah klan Tokugawa, kan ?"
"Ya, restorasi meiji," TenTen mengangguk,
"Pada saat itu ninja menjadi sejarah legenda dan juga cerita rakyat. Lalu, semakin bertambahnya waktu dan juga kemajuan teknologi ninja tidaklah menjadi suatu eksistensi lagi di jepang. Orang-orang sudah terbiasa hidup modern, tidak ada lagi perang dan hal-hal lainnya." TenTen berjalan menuju meja Sai untuk menyajikan pesanannya,
"Dahulu banyak desa-desa ninja yang tersembunyi dan sekarang sudah hilang ditelan waktu," tambah Sara,
"Tapi, ada sebuah desa yang tetap bersikukuh untuk mempertahankan budaya mereka," ucap Sakura,
"Leaf hidden village, Konohagakure."
"Ya, laki-laki yang membangun desa itu adalah laki-laki terhormat yang namanya dikenal di dunia ninja. Tekadnya yang kuat diwariskan pada generasi-generasi penerusnya dan hal itulah yang membuat desa itu tetap bertahan setelah beribu tahun lamanya," TenTen lalu duduk disamping Sai, "Para ninja yang sudah kehilangan rumah, tempat tinggal dan kampung halaman mereka ada yang memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ada pula yang menetapkan takdir mereka untuk tetap menjadi seorang ninja dan memutuskan untuk bergabung dengan desa itu,"
"Dan desa itu…adalah…" ucap Haruto ragu-ragu,
"Ya, desa ini adalah Konoha. Leaf hidden village, Konohagakure."
•
•
•
Haruto POV's
Aku menenggelamkan kepalaku ke dalam air. Sudah hampir satu jam aku berendam, kepalaku terlalu penuh hingga mau pecah. Sungguh ini diluar pengendalianku. Aku tidak menyangka desa seperti ini masih ada ? Oh God, ini 2014. Bagaimana bisa desa ini masih bertahan ? Pencampuran antara desa ninja dan modernisasi ? Ninja ? Kunoichi ? Assasins ?
End Haruto POV's
FlashBack
"Maksudmu profesi penduduk di sini adalah…" Haruto mengantungkan kalimatnya, lagi.
"Ya, kurang lebih seperti itu,"
"Tapi, ada juga beberapa yang hanya orang biasa."
"Bagaimana dengan keluargaku ?" mereka semua menoleh ke arah Sara mendengar pertanyaan Haruto,
"Keluarga kita—Uzumaki—memiliki kekkei genkai (kemampuan yang diturunkan secara genetik dalam klan tertentu), begitu juga klan Kiba." jelas Sara, "Klan Uzumaki memiliki keunikan dengan chakra (sumber energi dasar yang diperlukan oleh ninja) yang berlebih juga kemampuan penyembuhan tubuh yang cepat, selain itu klan Uzumaki terkenal dengan Fūinjutsu (teknik penyegel)"
"Jadi… aku…" guman Haruto 'Jadi, Naruto…'
"Tidak," Haruto mengerutkan alisnya mendengar ucapan Sara,
"Kau memang memiliki kekkei genkai, tapi kau memilih untuk hidup sebagai orang biasa Naruto. Setidaknya itu yang diinginkan Kushina-san,"
"Maksudmu ?"
"Kita di sini semua memiliki hak untuk memilih, Naruto. Jadi, walaupun kau memiliki kekkei genkai tapi memilih untuk hidup sebagai orang biasa itu bukanlah masalah," jelas TenTen,
"Jadi…" Haruto menoleh ke arah Sakura, "Sakura… kau…"
Sakura mengangguk, "Keluargaku adalah orang biasa, namun aku memutuskan untuk hidup sebagai ninja—ninja medis tepatnya."
"Kalau TenTen sih multiple." celetuk Kiba,
"Ya, keluargaku membuat beberapa senjata. Tapi, aku memutuskan untuk menjadi penjual kue sebagai prioritas utama dan ninja prioritas kedua," Haruto mengangguk mengerti,
"Apa kekkei gankaimu, Kib ?"
"Keluargaku selalu menggunakan anjing dalam pertempuran, Nar. Akamaru bahkan bisa berubah menyerupai diriku loh," Kiba tersenyum bangga, Haruto lalu beralih pada Sai.
"Tidak ada yang khusus dariku, hanya bisa membuat lukisan menjadi hidup." ucap Sai seraya tersenyum pada Haruto,
"Oh, ayolah Sai. Kami tau kau anak klan Uchiha," mata Haruto sedikit terbelalak mendengar ucapan Kiba,
'Uchiha… Sasuke… ?' Haruto lalu memandang Sai meminta penjelasan,
"Aku yatim piatu dari kecil dan diangkat anak oleh Danzou-sama, jadi aku bukan bagian dari keluarga Uchiha." ucap Sai, "Dan lagi aku tidak memiliki sharingan, karena aku bukan murni dari klan Uchiha." jelasnya,
"Sharingan ?"
"Kekkei genkai dari klan terkuat di Konoha. Uchiha. Pemilik sepesialis jutsu api dan mata mereka bisa menghasilkan ilusi ataupun semacam hipnotis. Mata ini berwarna merah dengan tiga tanda koma ditengahnya, Nar." jelas Sara,
"Jadi, klan Uchiha berasal dari desa ini ?" tanya Haruto,
"Yah, banyak klan diluar sana yang berasal dari Konoha." Sakura meminum macchiatonya,
"Apa mereka sudah menjadi orang biasa ?" TenTen menggeleng,
"Aku yakin walaupun mereka sudah membaur dengan dunia luar yang modern, mereka pasti masih melestarikan kekkei genkai mereka."
Sara mengangguk, "Karena itu merupakan identitas dan kebanggan tersendiri,"
"Ah, bagaimana dengan Yamanaka ?" tanya Kiba, Haruto mulai mengenakan poker facenya, menyembunyikan ekspresi terkejutnya. "Hyuga ? Nara ? Namikaze ?"
"Tu-tunggu !" sela Haruto, "Namikaze juga ?"
"Ya," jawab mereka berlima serempak,
Haruto memijat keningnya pusing, "Bagaimana dengan Senju ?"
Mereka semua terdiam.
"Begitu, jadi Senju bukan klan ninja."
Kiba menggeleng, "Apa yang kau katakan sih, Nar ? Klan Senju itu nama klan dari laki-laki yang membangun Konoha. Hashirama Senju."
Dan seketika semuanya menjadi gelap…
04:40 PM… Namikaze Haruto tidak sadarkan diri…
FlashBack End
.
.
.
.
.
.
Chap VI owari,
°•(^┌┐^)•°
Mind to Review minna ^^
