Title : The Future I Have Drawn
Disclaimer : Inspiration of Fate - Series. I'm not own Fate-series. Fate is Type Moon own.
Author : Nafa
Character : Arturia Pendragon, Gilgamesh, Diarmuid Ua Duibhne, and the others
Genre : Drama, Romance, family, Hurt/Comfort
.
^.^ Happy Reading ^.^
Cerita Sebelumnya
"Aku ingin kita-um... mengajakmu pergi bersama saat natal nanti," kata Diarmuid dengan gugup.
Kelopak mata Arturia melebar, memperjalas warna emerald di matanya. Dia tidak dapat menyangka bahwa Diarmuid akan mengajakanya, meskipun dia memang pernah mempunyai harapan seperti itu. Namun, harapan itu sudah ia ibaratkan sebagai mimpi yang tidak mungkin terjadi. "Bukankah masih terlalu awal untuk mengajakku -Maksudku, natal kan masih cukup lama?" jawab Arturia tersenyum, ia ingin membuat suasana kembali normal dan rileks.
"Ya, karena aku ingin menjadi yang pertama untuk mengajakmu pergi. Apa kau tahu? kamu menjadi sesosok idola di sekolah ini, jadi akan ada banyak orang yang mengajakmu," jawab Diarmuid dengan sedikit bercanda. Dia menggaruk belakang lehernya, walau itu tidak terasa gatal. Itu hampir menjadi kebiasaannya ketika ia gugup.
"Itu tidak benar, Diarmuid!" kata Arturia tersenyum.
"Jadi bagaimana?" tanyanya lagi.
^.^.^
Chapter 5: Reiki Part 2
"Um... aku... aku...-dimana kita akan pergi?" tanya Arturia yang masih belum tahu jawaban atas ajakan Diarmuid.
"Bagaimana jika kita pergi ke taman hiburan?"
"Jam?"
"Itu belum aku pikirkan. Tapi, mungkin akan baik jika pukul 7 malam. Bagaimana?"
"Malam? Eeto ..." Arturia bingung. Dia berfikir cukup keras.
Diarmuid diam. Terlihat kekhawatiran diwajahnya. Dia takut bahwa Arturia akan menolaknya. Padahal sebelumnya, dia sudah mempersiapkan mentalnya. Dia sudah siap atas semua jawaban Arturia. Lagipula, mengajaknya di malam hari? tentu saja dia akan menolaknya, pikirnya. "Kamu tidak bisa ya? Kalau begitu-"
"Bisa... aku bisa," jawab Arturia dengan menganggukkan kepala.
Sungguh tak terduga. Diarmuid tidak bisa memikirkan yang lain. Dia benar-benar senang akan datangnya hari ini. Akhirnya, setelah beberapa hari berpikir bagaimana cara mengajaknya pergi bersama di hari natal, itu terwujud dan berhasil sekarang. Terlihat wajah syukur di wajahnya. "Terimakasih Arturia!"
^.^.^
Arturia dan ketiga temannya berjalan bersama menuju kediaman keluarga Emiya. Terdapat keheningan diantara mereka. Arturia terus saja memikirkan apa yang telah terjadi. Dia mengkhawatirkan Gilgamesh, bagaimana jika dia tahu bahwa dirinya menyetujui untuk pergi dengan Diarmuid. Sedangkan, ketiga temannya sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi dengan Arturia dan seniornya, Diarmuid. Mereka bertiga juga enggan untuk bertanya kepada Arturia.
Tanpa terasa, perjalanan yang penuh kesunyian itu lenyap. Mereka berempat sudah sampai di tempat tujuan.
"Tadaima!" Shirou masuk ke rumahnya dengan diikuti teman-temannya.
"Okaeri!" jawab seorang gadis kecil yang mempunyai rambut putih dan mata merah."Eh... Okaa-san! Onii-chan pulang membawa tiga gadis," Dia berteriak dan berlari menemui ibunya.
Shirou terkejut dan berbalik menghadap tiga gadis yang menatapnya bingung. "Oh maaf, dia adikku, Ilyasviel. Baiklah, masuklah."
Mereka berjalan mengikuti Shirou. Terlihat keluarga Shirou yang duduk bersama menonton televisi. Keluarga itu terlihat damai. Seorang pria duduk disamping istrinya yang tersenyum bahagia. Anaknya yang sedang heboh menarik-narik baju mereka, tanpa mereka sadari. Hingga anaknya tidak sabar dan berteriak.
"Nah, itu dia!" Ilyasviel berteriak dan menunjuk kearah kakaknya.
"Sst... Ilya, tidak boleh begitu," kata lembut dari seorang wanita yang sangat mirip Ilya. "Silahkan masuk, tumben sekali Shirou mengajak temannya kesini. Yah, kecuali Sakura-chan," katanya tersenyum ramah.
"Kita akan mengerjakan tugas bersama. Ibu, ayah perkenalkan dia Rin Tohsaka, dan dia Arturia Pendragon," Shirou memperkenalkan kedua temannya yang lain. Sedangkan Rin dan Arturia menundukkan kepalanya dengan sopan.
"Pendragon?" tanya ayah Shirou, menatap Arturia dengan tatapan tajam. Dia terlihat sebagai seorang pria paruh baya, berambut hitam dan berwajah dingin.
Arturia tersentak pada penyebutan nama keluarganya. "Ya?"
"Apakah kamu anak Uther?" tanyanya.
"Ya," Arturia mengangguk.
"Kiritsugu, apakah kamu mengenalnya?" tanya wanita berambut putih disampingnya.
"Tentu saja, Iri. Dia adalah anak dari direktur perusahaan tempatku bekerja. Aku juga yang mengurusi pemindahan sekolahnya," katanya tenang.
Shirou terkejut. Arturia bahkan lebih terkejut, Seorang pria yang bernama Kiritsugu ini tahu mengenai dirinya. Ia berpikir bahwa mungkin Kiritsugu juga tahu mengenai ibunya. Dia hanya diam dan tidak tahu bagaimana meresponnya. Ketegangan menyelimuti mereka.
"Baiklah minna, silahkan kerjakan tugas kalian! Hora, Shirou antar teman-temanmu ke ruang tengah," kata ibu Shirou, atau Irisviel yang berusaha memecahkan ketegangan.
Mereka berempat meninggalkan ruangan, menuju ke tempat yang dimaksud. Ruangan tersebut cukup besar. Ada beberapa tongkat kayu yang diletakkan di sudut ruangan. Sudah dapat dipastikan bahwa ruangan ini sebelumnya digunakan untuk dojo. Entah mengapa, Arturia merasa nyaman berada di ruangan ini. Mereka menuju ke tengah ruangan, dimana terdapat meja dan karpet yang digelar.
"Ah... Arturia! tersenyumlah... ayo, aku ingin melihat senyumanmu lagi. Sebuah senyuman yang dapat mencerahkan hatiku!" kata Rin berteriak frustasi.
Arturia hendak tersenyum karena ungkapan Rin, namun menahannya disaat yang sama. "Apa itu?" katanya heran. Memang benar, dia belum tersenyum sama sekali sejak kejadiannya bersama Gilgamesh pagi tadi, belum lagi Diarmuid yang juga mengajaknya pergi saat malam natal. Itu menjadikan suatu beban di pikirannya.
"Sejak kau dibawa pergi Diarmuid-senpai, kau belum tersenyum sama sekali. Kenapa? apa senpai menembakmu?" tanya Rin dengan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Arturia yang dan Sakura juga menjadi penasaran dan menatap Arturia dengan serius.
"T-tentu saja tidak," kata Arturia gugup.
"Lalu? apa yang terjadi?"
"T-tidak ada!"
"Bohong! ayo ceritakan kepada kami! jika tidak, berarti kamu tidak menganggap kami teman."
"kegarawashii!" Arturia mengambil nafas berat, karena kalah. "Diarmuid mengajakku pergi saat malam natal."
"DATE!" kata ketiga temannya serentak.
"B-bukan! itu hanya seperti aku-..." Arturia tidak dapat meneruskan kata-katanya. Ia ingin menyangkalnya, namun tidak tahu apa yang ia ingin benar-benar ungkapkan, Wajahnya berubah memerah.
"Ehehehe..." tawa Rin yang dibuat-buat. Terdapat tanduk evil mencuat diatas kepalanya. *imagination*
"Sudah aku bilang bukan seperti itu!" teriak Arturia frustasi.
"Jadi, apa jawabanmu ke Diarmuid-senpai?" tanya Sakura.
"Aku menyetujuinya," jawab Arturia malu.
"Sebentar lagi ujian lho... jangan sampai kamu lupa belajar karena memikirkan Diarmuid-senpai!" goda Rin lagi.
"Tapi Arturia pasti dapat mengatasinya, karena dia pintar. Bahkan dia dapat mengerjakan semua tugas-tugas dari sensei dengan nilai sempurna. Walaupun dia baru pindah kesini. Sungguh luarbiasa!" kata Shirou. Arturia hanya menggelengkan kepalanya.
"Shirou kenapa kau membelanya? Baka!" kata Rin memarahinya. "Ya, itu memang benar dia pintar, tapi apa dia pintar dalam hal percintaan? Tentu saja cinta akan mengalahkannya."
Mereka akhirnya terus bercanda dan menggoda Arturia hingga mereka tidak dapat menyelesaikan tugas kelompoknya. Arturia berkata kepada mereka bahwa ia akan menyelesaikannya dirumah. Dengan beberapa bujukan, mereka akhirnya setuju.
Ini sudah malam, mereka pun hendak pamit untuk pulang. Namun, Irisviel menyuruh mereka untuk makan malam dahulu. Mereka tidak enak untuk menolak kebaikan hati ibu Shirou. Apalagi karena mereka memang sudah merasa lapar, akhirnya mereka menyetujuinya.
Ketika mereka menuju ruang makan, Arturia ingat bahwa ia belum memberitahu ayahnya. Dia mengeluarkan ponsel, hendak menelepon ayahnya.
"Aku sudah memberitahu ayahmu," kata Kiritsugu yang tahu apa yang akan dilakukan Arturia. Kiritsugu berdiri tidak jauh darinya.
"Ya, Terimakasih," kata Arturia enggan, karena melihat ekspresi Kiritsugu yang dingin. Kiritsugu berjalan melewati Arturia, tanpa merubah ekspresinya. Arturia berjalan dibelakangnya.
Mereka makan bersama dalam keceriaan. Ilyasviel tak henti-hentinya membuat mereka tertawa.
"Kau! nyjanganmm... mmmelebut onii-chanku," kata Ilya dengan mulut penuh, menunjuk Rin dan Arturia. "Dia adalah onii-chanku, dan milikku satu-satunya."
Mereka semua telah menyelesaikan makan, dan hanya Ilya yang belum menyelesaikannya. Arturia tanpa sadar tersenyum karena ungkapan si kecil Ilya. Ilya yang melihatnya tersenyum menambahkan, "Kau benar-benar manis!" kata Ilyasviel dengan mata berbinar-binar. Arturia cukup terkejut dan malu. Namun, Ilya segera sadar. "Meski begitu, tidak akan ku biarkan kamu memiliki Shirou nii-chan,"
"Ilya, jangan bilang seperti itu. Itu tidak sopan!" kata Irisviel menenangkan anaknya.
"Lagipula Ilya, Arturia sudah memiliki seseorang yang ada di hatinya. Jadi itu tidak mungkin," kata Shirou. Terdapat penekanan di kata-katanya.
"Tidak-tidak, sudah aku bilang-" Arturia tidak dapat menyelesaikan kata-katanya.
"Itu benar!" kata Rin menambahkan. Sakura dan kedua orangtua Shirou hanya tersenyum.
Hari semakin larut. Rin, Sakura dan Arturia akhirnya memutuskan berpamitan pulang.
^.^.^
Salju tetap berjatuhan, menjadikan hawa semakin dingin. Di malam yang dingin ini, Arturia pulang ditemani Shirou. Kiritsugu memintanya untuk mengantarkannya. Selain karena rumah Arturia yang paling jauh, ini juga karena sudah sangat larut. Jam di ponsel Arturia sudah menunjukkan pukul 8.47 p.m.
"Shirou, aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu mengantarku hingga sampai rumah. Ini sudah semakin dingin. Kembalilah!" kata Arturia, bergetar dalam suaranya karena kedinginan.
"Tidak perlu, apa kau kedinginan?" tanya Shirou dalam kecemasan. Dia hendak melepaskan jaketnya.
"Jangan, aku baik-baik saja. Jika kau melepas jaketmu, kau akan membeku!"
"Aku tidak akan membeku. Aku memakai pakaian tebal di dalam jaketku. Jadi itu akan menghangatkanku. Tapi, kamu hanya memakai seragam musim dingin dibalik jaketmu, jadi kamu akan merasa kedinginan."
"Tidak. Aku benar-benar baik-baik saja."
"Arturia, bagaimana dengan belajar memasakmu?"
"Ya, aku sudah bisa membuat beberapa masakan dari resep yang telah kau berikan. Tapi aku tetap tidak yakin dengan rasanya."
"Syukurlah. Jika ada kesulitan, katakan saja padaku. Aku akan membantumu. Jadi, kapan aku bisa mencicipi masakanmu?"
"Eh... masakanku tidak enak, jangan berharap lebih. Meski resep yang telah kau berikan sangat rinci, aku tetaplah tidak ahli memasak."
"Tidak apa-apa. Jika kau sudah terbiasa, itu akan lebih mudah. Tapi Arturia, apa kau benar baik-baik saja? Aku pikir kau mulai menggigil."
"Aku baik-baik saja. Lagipula ini hampir sampai. Lihat, itu rumahku," Arturia menunjuk rumahnya yang mulai terlihat.
^.^.^
Arturia tidak langsung tidur setelah sampai di rumahnya. Dia segera mengerjakan tugas kelompoknya. Dia berusaha tidak mengeluarkan suara apapun. Dia takut membuat ayahnya terbangun, dan ayahnya akan memarahinya karena tidak cepat tidur.
Pukul 23.38, Arturia sudah menyelesaikan tugasnya. Ia segera menuju tempat tidurnya yang sudah ia rindukan. Kelopak matanya sudah sangat berat. Namun, dia tidak juga tertidur. Dia memikirkan kembali atas apa yang telah ia alami hari ini. Dia menjadi ingat, dia belum menulis di buku hariannya." Ah... malam ini begitu sunyi," desahnya sebelum dia akhirnya tertidur.
.
Tsuzuki no hanashi...
^.^.^
A/N :
Akhirnya aku dapat menyelesaikan ini di sela-sela waktu belajarku. Ujianku belum selesai... T.T aku sudah mendapati bosan dengan itu. Tapi, besok adalah hari terakhirku ujian. Aku harus semangat! Ujian matematika menungguku. Yosh!
.
Okaeri! : selamat datang!
Okaa-san: ibu
Onii-chan: kakak
Hora : nah
Dojo : tempat latihan
kegarawashii : Tidak adil, curang
Date : kencan
Baka : bodoh
.
Gil: Author! berani-beraninya kau tidak mengeluarkanku di chapter ini! Dasar kau Mongrel!
*{Artikan sendiri bagian 'mongrel', aku tidak mau menyebutnya. Terlalu kasar untuk diucapakan kepadaku.}
Me: Eh... kenapa Gil tiba-tiba muncul?
Gil : jangan mengalihkan pembicaraan! Aku benar-benar marah akan apa yang telah kau lakukan! Nasibku sungguh sial di cerita ini.
Me: Gomenasai! Aku akan mengeluarkan anda lebih di bab selanjutnya! (sujud di depan King Of Heroes)
Gil: Itu belum cukup untuk membayar kesalahanmu. (menyilangkan dada, marah)
Me : Apa? Lalu apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku?
Gil : Kau harus update lebih cepat dan jadikan Saber milikku! huahahahaha...
Saber : Jangan berani-beraninya memaksa Nafa seperti itu! (menghadapku dan membantuku berdiri) Nafa, aku menyukai ceritamu. Aku akan melindungimu dari raja arogan itu. Jadi, tulis apa yang kamu suka. Dan lakukan apa yang kamu suka. Aku akan menjadi pedangmu.
Me: (bersinar) Sabeeeeer...! hiks..hiks.. (terharu)
*sedikit bumbu di akhir catatan.
^.^
Bagaimana pendapatmu tentang chapter 5 part 2, ini? jika boleh tahu, siapa karakter favoritmu? Silahkan Review!
