.
.
.
Sudah hampir tiga jam Jaejoong terdiam seraya memandangi jendela, air matanya terus turun membasahi pipinya dan sesekali namja cantik itu mengusapnya sambil terisak-isak.
Dia tidak peduli kalau Tuan Choi menganggapnya namja lemah, tapi Jaejoong sudah berada di titik terendah. Menangis adalah hal yang saat ini ia bisa.
Tuan Choi hanya melihatnya dan tidak ingin menganggunya. Dia bisa melihat beban berat yang dialami namja rapuh itu, meskipun dia belum tahu seperti apa kehidupan Jaejoong yang sebenarnya.
"Hungh..." Jaejoong memegangi perut dan mulutnya bersamaan, dia merasakan perutnya sangat mual.
Tuan Choi tidak tinggal diam, dia langsung menghampiri namja yang baru ditemuinya itu.
"Kau kenapa?"
Jaejoong menggelengkan kepalanya, mencabut paksa infus yang terpasang di tangannya menyebabkan darah langsung keluar dari tangan pucatnya, lalu ia turun dan berlari terseok-seok menuju kamar mandi.
"Hoek! Uhukh hah hah..." Jaejoong mengeluarkan isi perutnya seketika.
Tuan Choi yang melihat keadaan itu langsung menekan tombol darurat memanggil Dokter, kemudian menyusul Jaejoong ke kamar mandi.
Darah yang keluar dari tangan Jaejoong sangat banyak dan menetes ke lantai. Dengan sigap Tuan Choi mengambil tissue dan menutupnya, berharap darah itu berhenti keluar.
"OMO kau ini nak."
"Hoek! Hah hah..." Jaejoong berdiri dengan lemas, badannya hampir limbung.
Beruntung Siwon datang tepat waktu dan langsung menghampiri mereka, menggendong Jaejoong yang kini melemah akibat muntah-muntah serta banyaknya darah yang keluar ditangannya.
"Beoji kenapa bisa begini?"
"Tadi dia mual dan mencabut paksa infusnya, Siwon-ah." Tuan Choi mengikuti Siwon, sementara Dokter muda itu langsung membaringkan Jaejoong di tempat tidurnya.
Siwon menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, tindakan itu tidak boleh dilakukan sembarangan dan akibatnya seperti ini.
Siwon dengan cepat mendahulukan mengobati tangan Jaejoong dan memasang kembali infus ke tangan Jaejoong yang satunya.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Tuan Choi.
Siwon menghela nafas, "Aku belum tahu pasti, Beoji. Tapi mungkin saja dia mulai mengalami mual-mual karena kehamilan mudanya. Nanti aku bersama Dokter yang lainnya akan memeriksa lebih lanjut."
"Semoga saja ini bukan karena penyakitnya." Tuan Choi menggenggam tangan Jaejoong yang kini sudah tertidur.
"Aku harap begitu, Beoji."
"Biarkan dia istirahat dulu, Siwon-ah."
Siwon mengangguk,"Iya Beoji, aku juga masih banyak pasien."
.
.
.
"Eunghh..." Jaejoong terbangun dari tidurnya, sesekali matanya kembali terpejam karena rasa kantuk yang masih terasa.
Matanya kembali terbuka dan mengedar, mencari dua orang yang tadi pagi begitu panik. Namun Tuan Choi maupun Dokter Siwon tidak ada disana, kemana mereka?
Perlahan Jaejoong bangun untuk bersandar, namun rasa sakit ditangannya membuatnya meringis, salahkan dia yang sembarangan mencabut infus ditangannya. Tapi tadi dia benar-benar mual.
Mual? Sejenak dia merenung, apa karena calon bayinya? Dia ingat kata-kata Junsu sewaktu dia berpura-pura hamil dan mengatakan, pertanda orang hamil itu adalah mual-mual.
Jaejoong mengusap perutnya pelan, "Tumbuh yang sehat sayang, walau bagaimanapun Eomma akan mengutamakanmu."
Jaejoong kembali tersenyum, dulu dia begitu geli mengatakan kata 'Eomma' yang ditujukan pada dirinya, namun sekarang dirinya merasa bangga mengatakan itu.
'Kriet
Pintu ruangan terbuka, Dokter Siwon datang dan tersenyum kepada Jaejoong dan dibalas senyuman manis oleh namja cantik itu.
"Kau sudah bangun, Jae?"
Siwon menghampiri Jaejoong dan memeriksa kondisi calon Eomma itu.
"Kurasa kau lebih baik dari sebelumnya, tadi dokter kandungan juga sudah memeriksamu."
"Aku memang sudah merasa lebih baik, Dokter." Jaejoong tersenyum kemudian.
"Kau masih merasakan mual sekarang?" yang dibalas gelengan pelan dari namja cantik itu.
"Hei, kalau kau merasa mual jangan sembarangan mencabut infusmu, Arra?" Siwon menggerakkan tangannya seakan ingin memukul Jaejoong, namun kemudian mengacak rambut hitam namja cantik itu.
"Rambutkuu..." Jaejoong tidak sadar mempoutkan bibirnya karena tindakannya itu, membuat Siwon terkekeh pelan.
Dokter tampan itu duduk dan memperhatikan Jaejoong, membuat namja cantik itu salah tingkah.
"W-wae?"
"Kau begitu mirip dengan kekasihku."
"Kekasihmu?" entah kenapa Jaejoong merasa penasaran kepada cucu Tuan Choi itu.
"Tapi sebelum aku menjawab, jadilah sahabatku." Siwon menunjukkan jari kelingkingnya.
"Kau mau tidak?"
Jaejoong hanya menatap Siwon, bukannya tidak percaya pada Dokter muda itu. Namun namja cantik itu heran, Tuan Choi maupun Cucunya begitu baik hati padanya. Padahal mereka baru bertemu.
Bahkan sekarang menawarkan persahabatan padanya.
Apakah malaikat-malaikat ini sengaja dikirimkan Tuhan untuknya?
Siwon yang melihat wajah namja cantik itu membuyarkan lamunan Namja cantik itu, menggerak-gerakkan kelingkingnya.
"Aku mau." Jaejoong menautkan jari kelingkingnya dan seperti biasa tersenyum manis.
Siwon tersenyum, "Baiklah aku akan memulai bercerita padamu."
"Jadi aku memiliki kekasih dan namja sepertimu." Siwon memulai ceritanya.
Ternyata bukan hanya dia yang mencintai sesama namja, Jaejoong mulai tertarik dengan cerita Siwon.
"Dia sangat manis, baik hati dan tutur katanya halus sepertimu Jae."
"Jika aku menganggunya atau mengacak rambutnya seperti yang kulakukan padamu, dia akan membulatkan bibirnya."
"Yah, aku jadi merindukannya."
Jaejoong menatap Siwon, "Memang dia sekarang dimana?"
"Sedang melanjutkan pendidikkannya di Amerika. Terakhir aku dapat kabar, 3 bulan lagi dia akan kembali." Siwon tersenyum.
"Aku jadi penasaran dengan kekasihmu. Namanya siapa?" Jaejoong kembali bertanya.
"Kim Kibum." senyum itu masih belum pudar dari bibirnya.
"Kim..." raut wajah Jaejoong berubah sedih, dia juga memiliki marga Kim. Tapi tidak dengan sekarang.
Siwon yang sadar dengan perubahan ekspresi wajah Jaejoong lalu menatap namja cantik itu.
"Aku sampai lupa, margamu sendiri apa Jae?"
"Aku... Aku..."
"Ceritakanlah padaku, pelan-pelan saja. Aku ini sekarang sahabatmu Jae." Siwon mengusap punggung kurus Jaejoong.
"Aku boleh bercerita padamu?"
"Tentu saja, mungkin dengan begitu bisa mengurangi beban yang kau tanggung. Aku tahu, kau sepertinya mempunyai masalah yang sangat besar."
Jaejoong mulai membuka mulutnya, "Aku terlahir dengan marga Kim, setelah menikah berganti dengan Jung, marga suami yang sangat aku cintai..."
Siwon mendengarkan cerita Jaejoong dengan seksama, namja cantik itu menceritakan semua yang dialaminya, mulai dari mengejar-ngejar cintanya Jung Yunho, berpura-pura hamil, menikah, tidak dianggap oleh Yunho, diperkosa, Noonanya yang merebut Yunho, terbongkarnya kebohongan dia sampai dirinya yang memutuskan pergi dari keluarganya untuk selamanya.
Dia tidak merasa malu menceritakan itu pada sahabat barunya, Jaejoong merasa Siwon dapat dipercaya.
Siwon sendiri tidak menyangka, namja cantik ini mempunyai masalah yang sangat berat seperti ini. Pantas saat mengetahui dirinya hamil Jaejoong begitu bahagia dan hancur seketika saat mengetahui penyakit yang dideritanya.
"Won-ah apa kau tidak merasa jijik padaku? Aku tidak seperti yang kau katakan, aku seorang pembohong dan akupun sekarang tengah hamil. Aku orang jahat."
Siwon mengacak rambut Jaejoong lagi, "Dengar, bahkan aku merasa jijik kepada kelakuan suamimu itu. Jika aku jadi dia, mungkin aku akan memenggal kepalaku dan tidak pantas dicintai orang setulus dan sebaik dirimu."
Mendengar itu Jaejoong langsung terisak, Appanya saja tidak berpikir seperti Siwon dan malah memukulinya.
"Maaf aku tidak bermaksud mengungkitnya, aku tidak akan bertanya lagi soal ini."
Jaejoong menggeleng dan menghapus air matanya, "Anni, aku justru berterimakasih kepadamu, ketika orang-orang yang kucintai membenciku, masih ada kau yang menerimaku bahkan menawarkan persahabatan padaku."
Siwon tersenyum kemudian, "Karena kau memang tidak pantas untuk dibenci, aku bisa merasakan ketulusanmu. Meskipun kau pernah melakukan kesalahan, tapi itu demi memperjuangkan cintamu. Bagiku itu bukan kesalahan besar dan kau tidak jahat."
Jaejoong menatap Siwon, "Gomawo."
"Ne, sekarang kau istirahat. Aku masih banyak pekerjaan, jika ada waktu lagi kita mengobrol lagi."
Jaejoong mengangguk dan tersenyum, perasaannya sekarang lebih lega.
"Won-ah." panggil Jaejoong seraya menarik tangan Siwon.
"Ne, ada yang ingin kau katakan lagi?"
Jaejoong mengigit bibir bawahnya ragu, "Aku ingin memakan kue pedas Park Ahjussi, kau bisa membelikannya untukku?"
Siwon terkekeh, apa calon Eomma itu tengah mengidam?
"Untuk sahabatku aku pasti belikan, kau istirahat saja."
Jaejoong mengangguk, Siwon benar-benar orang yang sangat baik sebaik Choi Ahjussi.
Siwon keluar dari ruangan Jaejoong, rupanya Tuan Choi sudah berada didepan, menunggu cucunya.
"Bagaimana Siwon-ah?"
Siwon menarik nafasnya dan menghembuskannya secara kasar, "Kau benar Beoji, kau memang benar."
"Maksudmu Siwon-ah?"
Siwon memberikan ponselnya yang ternyata diam-diam merekam semua yang Jaejoong katakan.
"Beoji dengarkan ini dan akan tahu semuanya."
Tuan Choi menerima ponsel Siwon, lalu duduk mendengarkan percakapan cucunya dan Jaejoong.
Memang tadi Tuan Choi sengaja menyuruh cucunya melakukan itu semua, tapi Siwon juga memang penasaran pada Jaejoong dan ingin lebih dekat dengan namja cantik itu sebagai sahabat dan semuanya terjawab sudah.
Tuan Choi mengepalkan tangannya ketika mendengar semua yang Jaejoong katakan.
"Kenapa masih ada orang-orang seperti mereka."
Siwon duduk dan mengusap punggung Kakeknya, "Bagaimana Beoji?"
"Siwon-ah, aku akan menjadikannya cucuku."
"Cucumu? Dengan begitu aku akan mendapatkan Dongsaeng, Boeji?"
Tuan Choi mengiyakan, "Tentu saja, aku ingin menjaga dia seperti aku menjagamu Siwon-ah."
Siwon tersenyum lega, bukan hanya sahabat Jaejoong sekarang adalah adiknya juga.
"Ah aku lupa, aku mau mencari makanan yang diinginkan Jaejoong."
Tuan Choi tersenyum, Siwon terlihat bersemangat, mungkin karena selama 25 tahun ini anak itu hanya tinggal bersamanya. Tidak mempunyai saudara.
Sementara Siwon sedang membeli makanan, Tuan Choi masuk ke ruang rawat Jaejoong.
Namja cantik itu tidak istirahat, namun tengah asik mengajak bicara calon bayinya.
"Oh sepertinya aku menganggu kalian."
Jaejoong mengangkat kepalanya dan mendapati Tuan Choi tengah tersenyum.
"Aa-niyaa, Ahjussi masuk saja."
Tuan Choi masuk dan menghampiri Jaejoong, lalu duduk dikursi samping tempat tidur namja cantik itu.
"Bagaimana keadaanmu, nak?"
"Aku merasa sangat baik, Ahjussi." Jaejoong tersenyum, seraya mengelus perut ratanya.
"Aku akan mengutamakan bayiku, Ahjussi."
Tuan Choi tersenyum, keputusan memang ada ditangan namja cantik itu. Dia tidak bisa melarangnya, asalkan Jaejoong tersenyum seperti ini. Soal pengobatan Jaejoong ia akan memikirkannya nanti bersama cucunya.
"Jaejoong-ah." Tuan Choi memegang tangan kurus Jaejoong dengan pelan.
"Ne Ahjussi."
"Maukah kau menjadi cucuku?"
Mata Jaejoong membola, ada apa dengan mereka, tadi Siwon menawarkan persahabatan, sekarang Choi ahjussi menawarkan menjadi kakeknya.
"Ahjussi..."
"Jika kau tidak mau tidak apa-apa nak."
Jaejoong menggeleng, "Bukan seperti itu, apa kau yakin menjadikanku cucumu, sedangkan kita baru saja bertemu, Ahjussi."
Tuan Choi tersenyum, "Apa arti pertemuan sebentar, aku bisa melihat dari wajahmu nak. Kau anak yang baik. Siwon tidak punya saudara, kekasihnya sedang di Amerika. Kupikir dengan mengangkatmu, Siwon akan ada teman yang seumurannya. Bukan hanya ditemani orang tua sepertiku."
Jaejoong berpikir sejenak.
"Aku banyak merepotkanmu, Ahjussi."
"Kubilang kau tidak merepotkanku sama sekali."
"Tapi, kau tahu bukan aku tidak punya barang berharga lagi, bahkan tempat tinggal, setelah aku sembuh aku berniat membayar semua kebaikanmu ini dengan menjadi pembantu dirumahmu, tapi kau malah menawarkanku yang tidak aku duga."
Tuan Choi tertawa, mana mungkin dia tega membiarkan Jaejoong menjadi pembantu di rumahnya.
"Jadi apa keputusanmu nak?"
"Aku mau menjadi cucu anda."
.
.
.
Jauh dari keberadaan Jaejoong, Yunho dan Soojin kini tengah berbahagia. Tentu saja berbahagia diatas penderitaan Jaejoong.
Keluarga Jung bersama Keluarga Kim kini bertemu kembali, bukan saling emosi tetapi membicarakan hubungan Yunho dan Soojin.
"Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi, Tuan Kim."
"Ne, yang kemarin itu adalah kesalahan." Appa Kim tertawa.
"Sekarang bukan masalah lagi, yang penting anakku normal dan menikah dengan anak perempuan anda bukan laki-laki." Appa Jung ikut tertawa setelahnya.
"Anak tidak tahu malu itu lagi pula sudah pergi."
"Sungguh? Baguslah agar dia tidak menganggu hubungan anak kita."
Appa Kim kembali tertawa, "Aku sudah mengurus perceraian mereka dengan cepat, jadi Yunho dan Soojin bisa cepat bertunangan."
Eomma Kim yang menyaksikan ini hanya meringis, mengigit bibir bawahnya. Seharusnya mereka tidak menjelek-jelekkan Jaejoong. Anak itu sungguh tidak bersalah.
Tiba-tiba bunyi bel kediaman keluarga Kim berbunyi, mungkin ada tamu.
"Sebentar, kalian lanjutkan saja. Aku akan melihat siapa yang datang." Eomma Kim berdiri dan pamit untuk membuka pintu.
Siapa yang bertamu ke rumahnya?
"Apa benar ini rumahnya Kim Jaejoong?"
Eomma Kim langsung kaget, "Ne, saya Eommanya."
"Ini saya menemukan tas anak anda dijalan."
"Lalu kemana Jaejoong anakku?"
"Saya tidak tahu nyonya, saya hanya menemukan tas anak anda." ucap orang tersebut.
"Tolong katakan pada saya dimana anak saya!" Eomma Kim meraih kerah baju orang itu dan mengguncang-guncangkan badannya.
"Nyo-nyonya maaf saya tidak tahu."
Mendengar keributan itu Appa Kim datang dan menanyakan apa yang terjadi.
"Siapa yang datang? dan ada apa ini?"
Eomma Kim mendelik, "Jaejoongku hilang. Ada orang yang menemukan tasnya di jalan, bagaimana dia bisa makan? Bagaimana dia bisa hidup diluaran sana sendirian! Jika terjadi sesuatu padanya aku tidak akan memaafkan kalian."
.
Tbc...
Terimakasih yang sudah membaca, fav, follow dan review, aku menerima masukan-masukannya.
Maaf jika chapter ini kurang berkenan.
Maaf juga belum bisa balas reviewnya satu persatu, karena aku pakai hp. Kapan-kapan aku balas /smile/
Jika ff ini masih ada yang suka, sampai jumpa di chapter selanjutnya.
