.
.
ESTROUS CYCLE
.
.
.
Chapter 6
.
.
.
.
"Bertemu orang tuamu…?"
Luhan merasa tubuhnya tiba-tiba kaku. Pipinya memanas tapi di depannya, Sehun hanya tersenyum.
Apartementnya mendadak terasa sempit karena ia tidak bisa melarikan diri ke mana-mana. Ia mulai merindukan café tempat ia bisa berkumpul dengan Minseok dan Yixing, belakangan karena mereka bertiga sibuk dengan kegiatan masing-masing, mereka jarang pergi ke café yang berakibat Sehun jadi mengunjunginya di apartmentnya. Berdua bersama Sehun artinya banyak pembicaraan privat yang kadang membuat Luhan tidak nyaman.
Seperti saat ini, ketika Luhan sedang mengerjakan tugasnya di meja kopi, duduk bersila di lantai, sedang Sehun berbaring di atas sofa di belakangnya. Ia pikir Sehun sedang asyik menonton series di televisi ketika tiba-tiba saja ia melempar isu yang membuat Luhan langsung berhenti mengerjakan tugas.
"Ibuku menyuruhku mengajakmu makan malam di rumah," terang pemuda itu santai, memainkan rambut belakang leher omeganya, "ia sudah berkali-kali memaksaku untuk membawamu pulang. Sebenarnya waktu siklusmu kemarin, Ibu bahkan mengusulkan untuk menghabiskannya di rumah."
Luhan mengernyit, membayangkan menghabiskan siklus di tempat yang sama dengan orang tua Sehun. Betapa memalukan.
Apa seharusnya ia menolak? Pikir Luhan keras. Ia menoleh ke belakang, menatap ke arah Sehun yang balas menatapnya dengan tatapan lembut dan ia pikir ia tidak bisa menolak. Hubungan mereka—walaupun ia masih tidak bisa mengakuinya—tampak akan bertahan lama. Dan bukan hal yang aneh untuk menemui keluarga alpha-nya.
"Kapan?"
Semoga mereka tidak membencinya karena ia lebih tua. Sehun seharusnya memilih omega atau beta perempuan yang manis, dengan rambut panjang yang lembut, mungil dan lebih muda atau seumuran dengannya. Bukan Luhan yang empat tahun lebih tua dan tidak manis ataupun mungil, sama sekali tidak cocok untuk pemuda enam belas tahun itu.
Sehun tersenyum lebar dan mengecup keningnya.
"Sabtu minggu depan sehabis ujian?"
Luhan menggigit bibirnya, namun menganggukan kepala. Afirmasi.
Ekspresi senang di wajah Sehun mengingatkannya pada anak kecil yang mendapat kado natal. Ia merasa hangat di dadanya, memikirkan bahwa ia dapat membuat alphanya mengeluarkan ekspresi seperti itu hanya dengan satu anggukan.
Sehun memegang lehernya, menarik Luhan mendekat. Wajahnya dihujani ciuman dan ia hanya bisa merintih pelan.
"Mereka akan sangat menyukaimu," ujar Sehun di telinganya, bibirnya menyentuh daun telinga Luhan dan membuat omega itu merinding. "Tidak akan sebesar aku, tidak ada orang yang lebih menyukaimu daripada aku, tapi—" Sehun mengulum bibir bawahnya, ada rona merah di pipi sang alpha yang membuat Luhan teringat pada pemuda canggung yang ditemuinya berbulan-bulan yang lalu, "—mereka akan sangat menyukaimu."
Tangan di lehernya menggosok kelenjar aromanya, membuat sang omega mulai merasa hangat di dasar perut.
"I love you, Lu."
Luhan mendesah di mulut Sehun, membuka mulutnya sedikit lebih lebar ketika merasakan lidah pemuda yang lebih muda itu masuk.
.
.
.
.
.
Akhir semester, setelah badai ujian dan deadline berlalu, selalu terasa seperti kebebasan. Luhan langsung memeluk Minseok begitu ia keluar dari ruang ujian terakhirnya dan menemukan sahabatnya di depan gedung kampus. Minseok hanya tertawa dan menepuk-nepuk punggungnya.
"Perayaan di tempatku?" tanya Minseok sambil nyengir, "Yixing sudah di sana, menyiapkan bir, jajjangmyeon dan samgyeosal."
"Bagus," ujar Luhan seraya melepaskan tangannya dari Minseok, merenggangkan tungkainya dengan menggerakannya ke samping, "aku butuh minum setelah mengerjakan semua soal itu."
Minseok tertawa.
"Oh," Luhan tiba-tiba berkata, "Yifan baru sampai ke Seoul kemarin malam. Apa kau keberatan kalau aku mengundangnya?"
"Yifan?"
Luhan mengangguk bersemangat. "Yap. Dan partnernya juga ada, Zitao. Aku ingin mengenalkan dia padamu. Ini pertama kalinya dia datang ke Seoul." Ada kerutan di keningnya sebentar. "Walaupun Bahasa Korea-nya masih terbatas… tapi toh ada aku, Yifan dan Yixing."
Wajah Minseok terlihat sedikit ragu dan Luhan menatapnya bingung.
"Kenapa?"
"Kau ingin mengajak Yifan?"
"Ya… Kenapa? Biasanya juga dia ikut."
"Lalu Sehun? Kau tidak akan mengajaknya?"
Oh. Luhan menggosok tengkuknya.
"Dia juga," gumam omega itu pelan, lalu tersenyum kecil, "Kupikir kami sudah seperti satu set sekarang. Aku tidak perlu meminta izin untuk mengajaknya kemana pun."
Minseok masih terlihat ragu.
"Kau ingat terakhir kali Yifan dan Sehun bertemu…"
"Tidak apa-apa," ujar Luhan, senyum di wajahnya masih bertahan. Ia tahu kondisi mungkin akan canggung, tapi Zitao juga ada di sana. Yifan dan Sehun sama-sama penting untuknya, ia tidak bisa memilih salah satu. "Aku yakin semua akan baik-baik saja."
.
Baik-baik saja, setidaknya tidak ada perkelahian. Soal canggung, itu lain cerita.
.
.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Apartment Minseok yang ditempatinya dengan juniornya di kampus, Jongdae, cukup luas. Yixing dan Jongdae sudah menyiapkan makanan dan berkaleng-kaleng bir di ruang televisi. Luhan datang bersama dengan Minseok, langsung ikut menyerbu makanan dan menyalakan The Conjuring di televisi. Sehun datang sekitar satu jam kemudian, setelah sekolahnya usai. Selain perdebatan kecil karena Luhan tidak mengizinkan alphanya minum bir, semuanya baik-baik saja.
.
"Tidak," ujar Luhan sambil merebut kaleng bir dari tangan Sehun, "kau masih harus menunggu tiga tahun lagi."
"Jadi aku terlalu muda untuk minum bir tapi tidak terlalu muda untuk seks?" suara Sehun terdengar jengkel dan Luhan langsung merasakan mukanya panas. Hanya Sehun yang bisa dengan mudah mengumbar kehidupan pribadinya di depan teman-temannya.
"Jangan diteruskan, bocah," Minseok melempar bantalnya ke kepala Sehun, "aku tidak mau tahu apa saja yang sudah kalian lakukan."
Luhan mendelik ke arah alphanya, tapi Sehun hanya menatapnya. Masih jengkel.
Akhirnya omega itu menghela nafas dan meneguk bir di tangannya sedikit. Ia lalu menarik kerah seragam Sehun dan mencium partnernya itu, membiarkan sedikit bir masuk ke dalam mulut Sehun. Ia mendengar suara 'ew' dan Jongdae berteriak. Mukanya panas tapi melihat Sehun juga sama merahnya membuat ia lega. Sedikit.
"Hanya itu," gumam Luhan pelan, memegang lengan Sehun, "sisanya kau harus menunggu sampai berumur sembilan belas."
Setelahnya Sehun tidak mencoba mengambil bir lagi. Biarpun Luhan tahu bahwa alphanya itu benci diperlakukan seperti anak-anak, tapi agaknya Sehun mengalah kali ini. Bahkan, dari cengiran yang terpatri di wajahnya, ia tampak senang-senang saja harus jadi satu-satunya yang minum jus.
.
Ketika pukul delapan Yifan datang, keadaan jadi berbeda.
Suara bel terdengar dan Minseok bergegas ke pintu untuk melihat siapa yang datang. Berikutnya Luhan mendengar seseorang meneriakan 'Lu-ge!' dan detik berikutnya ia sudah dipeluk erat oleh sosok tinggi yang sibuk bicara cepat dalam bahasa Mandarin. Ia hanya menangkap sepenggal-sepenggal tentang pesawat yang terlambat, Yifan-ge menyebalkan, aku kangen, dan Seoul menakjubkan tapi di mana mall terdekat?
"Hai, Zitao," sapanya dalam bahasa Mandarin, membuat sosok yang memeluknya tersenyum lebar dan mengeratkan pelukannya hingga Luhan hampir tidak bisa bernafas. Setidaknya sampai ia mendengar suara menggeram dan detik berikutnya Zitao sudah terhenyak di atas sofa dan Sehun melingkarkan lengannya di pinggang Luhan.
"Dia temanku, Sehun," ujar Luhan pelan, membelai punggung tangan Sehun dengan jarinya, "Jangan berlebihan."
Ia merasakan Sehun di belakangnya mulai melunak, tidak lagi tegang. Tapi aroma alphanya tetap mengancam, membungkus Luhan seperti selimut tebal.
"Gege!" seru Zitao gembira seakan ia tidak baru saja dilempar ke sofa, "ini partner barumu yang disebut-sebut oleh Yifan-ge?"
"Ya. Namanya Sehun."
"Oh," mata omega bertubuh tinggi itu berbinar ketika ia mendongak menatap Sehun. Ia tersenyum polos saat menyapa dengan Bahasa Korea-nya yang beraksen, "Salam kenal, Sehun-hyung."
Beberapa detik berlalu sebelum Minseok terdengar menahan tawa dan Yifan mendengus.
"Dia lebih muda darimu, Zitao," ujar Yifan dingin, mengerling sekilas ke arah Sehun. Ia tidak terlihat ingin terlibat lebih lanjut karena kemudian ia berjalan ke arah Yixing dan bercakap-cakap tentang entah apa.
Zitao terlihat terkejut.
"Lebih muda? Tapi aku saja baru tujuh belas tahun, artinya…" Ia menatap Luhan dengan mata terbelak, "Gege! Aku tidak percaya alpha-mu masih anak sekolah."
Luhan terlihat canggung dan hanya bisa mendelik ke arah Minseok yang tertawa puas tanpa ditahan-tahan. Ia mengeratkan pegangannya di pergelangan tangan Sehun, ketika ia mendongak menatap alphanya, wajah Sehun terlihat merah dan rahangnya mengeras. Ekspresinya antara kesal dan malu dan tidak suka. Sangat tidak suka.
"Sehun, ini Zitao, partner Yifan," ujar Luhan buru-buru, berusaha mencairkan suasana. Zitao tersenyum lebar, tapi Sehun hanya mengangguk kaku. Lengan Sehun masih melingkari Luhan, seperti tidak ada niatan untuk melepasnya.
Ia berusaha mengalihkan pembicaraan pada brand baju yang dimodeli Yifan yang (sama sekali bukan kebetulan) juga adalah merek favorit Zitao. Omega yang lebih muda itu dengan cepat terdistraksi dan mulai bicara panjang lebar tentang koleksi musim dingin yang ingin ia beli semua.
Sehun masih terlihat marah, bahkan ketika Luhan duduk dengannya di sofa. Jari mereka bertautan tapi Sehun tidak bergeming sampai mereka pulang.
Ketika acara selesai dan mereka semua berpamitan hampir tengah malam, Yifan dan Zitao mengecup masing-masing pipi Luhan sebelum pergi. Itu kebiasaan mereka dan Luhan lupa sama sekali bahwa Sehun mungkin tidak akan menyukainya. Ia hanya mendengar geraman sebelum Sehun tiba-tiba pergi meninggalkannya.
"Sehun!"
Ada suara terkejut dari beberapa orang dan dengusan yang sangat Yifan, tapi Luhan tidak menghiraukan semua itu. Ia cepat-cepat berlari mengejar partnernya.
.
"Sehun, tunggu!"
Luhan meraih tangan alphanya, dan Sehun berhenti.
"Sehun…"
Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak begitu mengerti apa yang terjadi, apa Sehun cemburu karena Zitao dan Yifan? Tapi Sehun tidak pernah keberatan melihat Luhan dan Minseok.
Luhan menyentuh pipi pemuda itu, memaksa Sehun untuk melihat ke arahnya. Sehun terlihat kacau, sedih dan kecewa, dan begitu muda. Sehun masih memakai blazer seragam sekolahnya dan Luhan kembali menyadari bahwa seberapa dominan pun pemuda itu, ia masih bisa bersikap kekanakan. Matanya keemasan, terlihat marah hingga berkaca-kaca, Luhan merasa hatinya ikut sakit.
"Apa aku bukan partnermu, Lu?" suara Sehun terdengar parau, "Apa aku tidak pantas jadi partnermu?"
"Tidak ada yang pernah mengatakan itu," jawab Luhan seraya menghela nafas. Tangannya bergerak turun hingga sampai di leher Sehun, membelai nadinya dengan sayang. "Kau partnerku, Sehun."
Sehun tidak terlihat mempercayainya, matanya masih penuh keraguan, kemarahan dan Luhan tidak bisa melakukan apa-apa.
"Lu, aku mencintaimu."
Sehun menunduk untuk mencium bibirnya.
Luhan menutup matanya.
.
.
.
.
Selama beberapa hari, Sehun bersikap sedikit aneh. Tidak begitu kentara, tapi ia lebih menempel daripada biasanya. Ia selalu menyentuh Luhan, tidak memberikan jarak sedikitpun di antara mereka. Tangannya selalu menyentuh jari Luhan, atau pinggangnya, atau lutut, atau bahunya. Luhan membiarkannya, tahu bahwa Sehun membutuhkan sentuhan itu. Ia mungkin masih merasa cemburu, merasa perlu melakukan klaim atas Luhan. Dan omega itu tidak keberatan.
Yifan dan Zitao tidak muncul lagi dan Sehun mulai bersikap biasa lagi. Ia kembali tersenyum dan bersikap manja, bersikeras ingin Luhan untuk kado natalnya. Lalu hari Sabtu tiba, dan Luhan mulai ketakutan.
.
Ia tiba di rumah Sehun pukul setengah tujuh, mengenakan kemeja biru muda dan sweater abu-abu yang dipilihkan Minseok setelah Luhan mengacak-acak lemarinya, merasa semua bajunya terlalu formal atau terlalu jelek. Ia mondar-mandir di depan pintu selama beberapa menit, mempersiapkan diri untuk masuk, berpikir apa sebaiknya yang ia katakan, bagaimana ia harus bersikap, apa saja jawaban yang perlu ia persiapkan.
Lalu pintu terbuka dan wajah Sehun terlihat penuh senyum.
"Lu, aku bisa mencium aromamu sejak sepuluh menit yang lalu," guraunya sembari menyentuh pipi sang omega dan memberikan kecupan singkat di pipinya, "apa yang kau tunggu?"
Mulut Luhan terbuka dan ia hanya bisa menggelengkan kepalanya, tidak mempercayai suaranya.
Ia tidak manis, apalagi cantik. Ia tidak punya tubuh mungil yang terkesan minta perlindungan, atau rambut panjang yang menunjukan kecantikan klasik Korea. Ia tidak pantas untuk Sehun, alphanya masih terlalu muda dan mungkin memiliki kesempatan mendapatkan seseorang yang jauh lebih cocok dengannya ketimbang Luhan.
"Oh, apa itu Luhan, Sehunnie?"
Suara keibuan terdengar dan Luhan melebarkan pupilnya, panik. Tapi Sehun hanya tersenyum dan menuntunnya masuk.
Rumah Sehun besar dengan taman rumput yang dipangkas rapi. Bagian dalamnya didominasi perabot kayu, lukisan-lukisan bunga menghiasi dinding. Luhan tahu Sehun berasal dari keluarga berada, ia bersekolah di salah satu sekolah swasta termahal di Seoul.
"Luhan?"
Pandangannya dengan cepat beralih pada sumber suara, seorang wanita cantik dengan rambut sebahu. Melihatnya sekilas pun Luhan tahu bahwa wanita itu adalah orang yang melahirkan Sehun. Bentuk wajah, mata dan mulut mereka mirip.
Luhan membungkukan tubuhnya cepat-cepat, nyaris terjatuh ketika melakukannya.
"Selamat malam, Nyonya Oh."
Tubuhnya gemetar. Ia mendengar suara langkah mendekat, lalu sentuhan di dagunya dan ia melihat versi dewasa, versi wanita dari Sehun.
"Luhan, kau benar-benar manis," gumam wanita itu pelan, "pantas saja Sehun tidak bisa berhenti bicara tentangmu."
Luhan merasakan wajahnya memerah. Manis? Apanya? Ia tidak manis, ia bukan perempuan.
Wanita itu tersenyum, menepuk pipi sang omega pelan.
"Ia bilang kau terlihat seperti malaikat, dan kuakui ia benar."
Luhan menundukan kepalanya, tidak yakin dengan apa yang terjadi.
"Ibu," suara Sehun terdengar merengek, "Jangan mengatakan yang aneh-aneh."
"Apa?" bahkan nada menantang wanita itu pun terdengar seperti Sehun, "Ibu hanya mengulang apa yang selalu kau katakan."
Sehun mengeluarkan suara menggerutu tidak jelas dan Luhan merasakan dirinya mulai bisa tersenyum. Ia merasakan lengannya ditarik ke ruang makan, Sehun menatapnya dengan cengiran lebar di wajah.
Ayah Sehun sudah duduk di ruang makan, membaca Koran dengan ekspresi serius. Tapi ia tersenyum ketika melihat kedatangan mereka.
"Luhan, aku dengar kau mempelajari sastra di universitas?"
Lalu mereka memulai diskusi tentang semua karya Gao Xingjian, memperdepatkan apakah Soul Mountain memang buku terhebatnya dan apakah kualitas karyanya setelah mendapat Nobel mulai menurun.
Makan malam disajikan dan Luhan pikir bahwa malam ini tidak seburuk yang ia pikirkan. Ayah Sehun terdengar tertarik dengan kehidupannya di Cina, tentang apa yang dipelajarinya di universitas. Sementara ibu Sehun senang menggoda mereka berdua, mengatakan bahwa Sehun terobsesi padanya dan tidak bisa diajak bicara hal lain selain Luhan, mengatakan bahwa Luhan begitu manis sampai ia tidak tahu kenapa Luhan mau menerima Sehun.
Sehun mengaitkan tangan mereka di bawah meja dan Luhan merasa suhu tubuhnya naik. Tapi ia mengeratkan pegangannya pada tangan Sehun.
.
.
.
.
.
Ibu Sehun memberikan ultimatum bahwa Luhan harus makan malam di rumah mereka setiap hari Sabtu. Luhan terkejut awalnya, mengira itu pasti hanya bercanda, tapi wanita itu serius dan sejak saat itu ia menghabiskan Sabtu malamnya di rumah Sehun. Kedua orang tua Sehun bersikap baik padanya, dan Luhan tidak mengerti kenapa. Sehun baru berusia enam belas tahun, alpha muda yang seharusnya masih bisa melihat dunia bukan tersangkut pada omega sepertinya.
.
Sabtu berikutnya malam natal, dan Sehun meminta izin untuk melewatkan acara makan malam agar mereka bisa merayakan natal berdua saja. Prosesnya memalukan karena Ibu Sehun memberikan komentar sugestif dan bicara soal pengaman, tapi pada akhirnya mereka berdua bisa pergi.
Tidak bisa disebut pergi sebenarnya, karena mereka menghabiskan malam natal di apartment Luhan.
.
"Aku masih tidak percaya ibumu bicara soal—" Luhan menggelengkan kepalanya, "maksudku, aku tidak akan ingin anakku yang masih belasan tahun diapa-apakan."
Sekilas wajah Sehun terlihat gusar, tapi kemudian ia tertawa (Luhan pikir agak dipaksakan, tapi mungkin itu hanya perasaannya saja), membenamkan wajahnya di leher Luhan.
"Karena ibuku tahu bahwa aku alpha, dan aku yang melakukan apa-apa kepadamu. Kau tidak dengar apa katanya tadi? 'Sehunnie, jangan menyakiti Luhan'."
Luhan mencubit pinggang alpha itu, membuat Sehun meringis dan balas menggigit lehernya. Luhan merintih namun menggerakan kepalanya ke samping agar Sehun bisa lebih leluasa mencumbu lehernya.
"Baumu sedikit berbeda," ujar Sehun lirih, menjilat telinganya, "Sabun?"
"Hmm," gumam Luhan mengiyakan, tangan Sehun menyelip masuk ke dalam kaus yang dipakainya dan ia mulai tidak bisa berpikir, "sabun favoritku yang dijual di Beijing, oleh-oleh dari Yifan dan Zitao."
Sehun menggigit keras kelenjarnya dan Luhan merintih.
Tangan Sehun tiba-tiba menjadi kasar, menjentikan putingnya dan meninggalkan bekas jari kemerahan di pinggangnya. Luhan melenguh, tubuhnya menggeliat, ingin menghindar tapi juga tidak ingin pergi karena sentuhan Sehun terasa memabukan biarpun rasanya sakit.
"Sehun…"
Tangan Sehun terasa ada di mana-mana. Siklusnya sudah dekat, Luhan pikir, karena tubuhnya jadi lebih sensitif semakin dekat dengan siklus. Tempat-tempat yang disentuh oleh Sehun terasa terbakar.
Lehernya terasa sangat sakit dan ketika ia menunduk, ia melihat darah mengalir ke bahunya. Luhan merintih ketika Sehun bergerak dari leher ke dadanya, menggigit keras putingnya. Ah! Luhan meringis dan berusaha mendorong alpha itu menjauh, Sehun tidak pernah sekasar ini sebelumnya.
"Sehun, sakit—" ucapannya terputus ketika Sehun meremas kemaluannya keras-keras, Luhan tidak tahu mana yang lebih kuat, sakit atau nikmat. Sehun tidak menghiraukannya, terus meninggalkan bekas gigitan di seluruh tubuhnya, mencengkram pahanya kuat-kuat hingga Luhan yakin akan meninggalkan bekas.
"Sehun, tunggu—berhenti…"
Ia menggerakan kakinya, berusaha mendorong Sehun. Tapi alpha itu hanya menggeram dan melebarkan kedua kaki Luhan dengan kasar, tangannya meremas penis Luhan sekuat tenaga hingga omega itu berteriak kesakitan.
Ini bukan Sehun.
Luhan menggerakan tubuhnya lagi, kali ini sekuat tenaga. Ia mendorong Sehun dengan kedua tangannya, membuat alpha itu jatuh dari tempat tidur. Tapi sebelum ia bisa bernafas lega, Sehun sudah kembali berada di atasnya, memeluknya erat-erat. Luhan mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Lu," bisik Sehun di telinganya, "aku cinta kamu."
Luhan merasa tenggorokannya tercekat. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar hingga akhirnya ia hanya mengeratkan pegangannya di lengan Sehun. Ia membenamkan wajahnya di bahu Sehun.
"Kau tidak merasakan apa-apa, Lu?"
Suara Sehun terdengar dingin dan Luhan mulai merasa khawatir.
"Kamu kenapa, Sehun?"
Suara nafas Sehun terdengar berat.
"Sudah lebih dari delapan bulan sejak aku menandaimu. Sudah lebih dari empat bulan, sejak kita memulai ini," bisik alpha itu di telinganya, terdengar parau seperti ia kesulitan bicara, "Apa kau masih belum juga mengakui bahwa kau memiliki perasaan padaku, Lu? Sudah hampir tiga bulan sejak aku menyatakan perasaanku pertama kali, apa kau tidak bisa—"
Suara Sehun pecah.
"—setidaknya, mengakui perasaanku. Jangan menepisnya seperti apapun yang kurasakan sama sekali tidak penting untukmu."
"Sehun…" panggil Luhan lembut, ia menyentuh leher Sehun hati-hati.
"Apa aku bukan partnermu, Lu?" suara Sehun mengeras, ia mengangkat kepalanya dan meletakan keningnya di milik Luhan, "Apa menurutmu Yifan dan Zitao lebih penting? Apa karena aku baru enam belas tahun lantas menurutmu perasaanku tidak penting?"
Luhan merasa nafasnya tercekat ketika mata keemasan Sehun menatapnya.
"Sehun—" ia mencoba lagi, tapi Sehun memotongnya dengan suara geraman kasar.
"Berhenti mengucapkan namaku seakan aku anak kecil!"
Luhan tidak tahu mana yang lebih sakit, bekas gigitan Sehun di lehernya, paru-parunya yang sulit bernafas, atau hatinya ketika Sehun menatapnya dengan murka.
Ia tidak mengatakan apa-apa, tidak ingin mengatakan sesuatu yang bisa membuat Sehun semakin marah. Tapi tampaknya itu juga salah karena kemudian Sehun melepaskan pelukannya, berdiri tanpa melihat ke arahnya lagi. Luhan ingin menghentikannya, ingin memeluknya dan mengatakan bahwa mereka baik-baik saja—ia tidak mengerti apa yang salah—tapi Sehun memunggunginya.
"Aku perlu waktu sendiri."
Luhan merasa matanya kabur ketika sosok Sehun pergi setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.
.
.
.
.
.
"Minseok?" ujarnya begitu mendengar suara temannya di seberang telepon, "Apa kau mendengar kabar dari Sehun?"
"Hah?"
Luhan menggigit bibirnya. Ia mencoba mengatur nafasnya dan menjelaskan dengan lebih perlahan. "Aku tidak bisa menelponnya…" Ada nada frustasi yang terdengar dalam suaranya biarpun ia berusaha sedapat mungkin untuk tetap tenang. "Aku bertanya ke rumahnya dan mereka juga tidak tahu dia ada di mana."
Dua puluh empat jam tidak ada kabar dari Sehun. Luhan pikir ia akan gila kalau ini berlangsung lebih lama.
Sesaat tidak ada jawaban dari seberang telepon. Lalu Minseok menghela nafas. Luhan punya perasaan bahwa temannya itu bisa menebak apa yang terjadi tanpa ada yang memberitahunya, bisa menebak bahwa mereka berdua sedang bertengkar dan penyebabnya lagi-lagi karena ia, Luhan, tidak bisa mengambil keputusan.
"Kau tahu dia bukan anak kecil…" suara Minseok terdengar tenang, "Mungkin dia perlu waktu sendirian. Berpikir."
Berpikir apa? Menyesali keputusannya—cintanya pada Luhan?
Luhan meringis. Ia merasakan ada tangan tidak kasat mata yang meremas jantungnya, membuat dadanya terasa sakit.
"Baiklah. Kalau kau mendengar kabar apapun… Hubungi aku."
"Tenang saja, Lu."
Mulutnya terkunci. Ia mengangguk biarpun tahu bahwa Minseok tidak bisa melihatnya.
Ketika panggilan diakhiri, masih ada perasaan tidak enak bercokol di dadanya. Memikirkan bahwa Minseok mendapat kabar dari Sehun duluan membuat ia kesal, tapi juga lebih baik karena setidaknya ia jadi bisa tahu di mana alphanya berada.
Luhan tahu kemungkinan besar Sehun baik-baik saja. Ia tidak akan melompat ke Hangang hanya karena seorang omega yang tidak bisa membalas afeksinya. Tapi walaupun ia memang mengkhawatirkan keselamatan partnernya, Luhan lebih takut bahwa Sehun akan mengubah pikirannya. Ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat seandainya Sehun tiba-tiba memutuskan untuk meninggalkannya.
.
Luhan merapatkan jaketnya dan berjalan ke area pertokoan. Ia mengecek layar smartphone-nya sekali lagi, melihat jam sudah menunjukan pukul sembilan. Belum ada kabar dari rumah Sehun.
Helaan nafasnya terdengar. Langkahnya terasa semakin berat.
Lalu perasaan yang familiar muncul.
Awalnya hanya rasa tergelitik di punggungnya. Lalu menyebar ke bahu dan leher. Perutnya memanas dan seluruh tubuhnya tiba-tiba menjadi sensitif. Ia bisa merasakan angin menggelitik lehernya seperti tangan yang dingin. Tubuhnya gemetar dan pupilnya melebar.
Tidak. Ini tidak boleh terjadi.
Siklusnya seharusnya masih minggu depan. Luhan memeluk tubuhnya, ekspresinya ngeri. Nafasnya memburu dan ia terpaksa menyenderkan tubuhnya ke tembok karena kakinya lemas. Kulitnya terasa terbakar dan gesekan baju ke kulitnya memperparah semuanya.
Tidak. Tidak. Tidak.
Kumohon.
Jantungnya berdegup cepat. Ia menahan tangannya agar tidak menyentuh dirinya sendiri. Aroma omega saat siklus bisa menarik perhatian semua orang. Jalanan saat itu tidak seberapa ramai tapi tidak ada orang yang melihat ke arah Luhan. Aroma omeganya tidak sepekat dulu setelah aroma Sehun membungkusnya, mungkin itu yang membuat orang-orang tidak mempedulikannya.
Tubuhnya terbakar. Ia memejamkan matanya dan berdoa, tapi pikirannya semakin kalut dan rasa yang menari-nari di bawah kulitnya membuat ia tidak bisa berpikir. Ia tidak menyadari suara langkah yang mendekat ke arahnya, baru menoleh ketika ada tangan dingin yang menyentuh pergelangan tangannya.
"Hai, omega," suara serak yang tidak dikenal berbisik di belakangnya, "mana alpha-mu?"
Bukan Sehun.
Luhan berusaha untuk melepaskan diri, tapi lalu ada tangan yang menyentuh lehernya dan kakinya terasa lemas. Ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya yang otomatis mencari sentuhan. Ada suara tawa yang menakutkan dan ia merasakan tangan yang kasar menyentuh kulit di balik bajunya. Dan ia membiarkan. Tubuhnya bergerak sensual mengikuti gerakan tangan yang menyapu punggungnya, terus ke bawah—
Samar-samar Luhan tahu bahwa ia seharusnya pergi, lari dari sini secepatnya. Tapi ia tidak bisa menolak tangan yang bermain-main di pinggangnya, ujung jari yang mulai menyelip ke dalam celana (tidak). Luhan membenci tubuhnya, jijik pada mulutnya yang mengerang begitu ada tangan yang memijat bokongnya (jangan). Pandangannya kabur dan samar-samar ia sadar dibawa ke sebuah gang kecil di antara pub (Sehun…). Celananya terasa terlalu ketat dan seluruh tubuhnya terbakar (jangan). Kulitnya masih terasa panas dan terlalu sensitif. Kesadarannya mulai menghilang. Yang ia ingat terakhir adalah senyum asing penuh nafsu, mulut di lehernya dan
"Jangan khawatir. Aku akan menggantikan alphamu…."
.
Sehun, tolong…!
.
.
.
tbc
.
.
I'm sorry.
(perkiraan kasar cerita ini sampai chapter 10 by the way)
