Sore harinya Taeyong benar-benar datang ke tempat tinggal Jaehyun. Satu kantong plastik besar penuh bahan makanan menggantung di tangannya. Berdasarkan informasi yang Mark katakan laki-laki itu tinggal seorang diri di apartemennya. Maka Taeyong menduga Jaehyun pasti terlalu lemas untuk melakukan segala hal dengan tubuhnya yang demam itu. Niatnya Taeyong akan memasakkan sesuatu begitu dia datang.

Begitu Taeyong sampai di depan bangunan bola matanya langsung membulat. Taeyong lantas mengerti kenapa Mark menceritakan segala sesuatu tentang Jaehyun saat dia berkunjung waktu itu dengan nada kagum. Lobby-nya saja sudah bisa menunjukkan bahwa apartemen ini dikhususkan untuk orang-orang berduit. Kepala Taeyong sampai berkedut memikirkannya.

Taeyong buru-buru memasuki lift, lalu menekan nomor lantai tujuannya. Sebelum ke sini tentu Taeyong sudah mengingat-ingat nomor apartemen Jaehyun. Lantai 4 Nomor 401. Akan konyol jika Taeyong sudah datang ke sini dan malah tak tahu arah layaknya anak kecil kehilangan ibunya.

Di dalam lift hanya ada Taeyong dan seorang pria setengah baya yang sibuk mengetuk-ketuk ponselnya. Taeyong gugup sendiri ketika menatap pantulan dirinya pada lantai lift yang bagaikan kaca. Bayangan Jaehyun terus muncul di kepalanya. Perutnya terasa menggelitik, seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalamnya. Taeyong bahkan merasa dapat mendengar detak jantungnya sendiri, entah dia sedang berdelusi atau tidak.

Taeyong tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Setiap kali memikirkan laki-laki Jung itu ada perasaan aneh yang datang padanya. Taeyong benar-benar dibuat kebingungan karenanya.

Kira-kira bagaimana reaksi Jaehyun begitu melihatnya di depan rumahnya? Terkejut? Senang?

Taeyong tak sabar melihat air mukanya ketika ia datang nanti.

Bunyi lift yang menandakan Taeyong sudah sampai di lantai 4 membuyarkan lamunannya. Begitu pintu lift terbuka Taeyong segera keluar dan mencari pintu nomor 401. Ternyata letaknya hanya beberapa langkah dari lift.

Taeyong menelan ludahnya gugup. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan oksigen sebanyak-banyaknya untuk menjernihkan pikirannya. Begitu dihembuskan, Taeyong menekan bel intercom.

.

This Love

Characters: Jung Jaehyun x Lee Taeyong, etc.

NCT milik SM, kami cuma pinjam nama artis-artisnya

Warnings: Typo(s), BL! DLDR!

.

"Hyung!"

Jaehyun begitu terkejut melihat Taeyong yang berdiri di depannya. Apa dia sedang bermimpi? Jaehyun berharap ada seseorang yang membangunkannya saat ini juga.

Bagaimana tidak? Ini sangat sulit dicerna. Apa yang membuat seorang Lee Taeyong tiba-tiba saja bertandang ke apartemennya? Terlebih lagi yang membuat Jaehyun uring-uringan adalah darimana Taeyong tahu dia tinggal di sini?

"Jung Jaehyun-ssi, kau tak mau membiarkanku masuk?" Jaehyun lantas mengerjap-ngerjapkan matanya. Baru sadar kalau selama beberapa menit mereka hanya saling tatap di tengah-tengah pintu masuk. Agaknya Jaehyun sedikit tahu Taeyong menyindirnya lewat panggilannya itu.

Jaehyun menggeser badannya, memberi ruang untuk Taeyong agar laki-laki yang lebih kecil darinya itu dapat masuk ke dalam. Jujur saja, sebenarnya badannya masih belum bugar, bahkan kepalanya terasa makin berdenyut-denyut walaupun dari tadi pagi yang dilakukannya hanya berbaring di ranjang kesayangannya.

Taeyong yang menyadari gelagat Jaehyun segera menariknya ke sofa di ruang tamu. Jaehyun yang ditarik hanya bisa pasrah begitu tubuhnya terhempas ke sofa empuk. Taeyong menempelkan tangannya pada dahi Jaehyun, dan menariknya cepat-cepat begitu merasakan panas menyengat yang menyalur ke telapak tangannya.

"Astaga, badanmu panas sekali! Bagaimana bisa kau sampai sakit begini, sih?" gerutu Taeyong. Sepertinya mode keibuannya mulai aktif.

Jaehyun hanya bisa facepalm. Teringat apa yang membuatnya demam seharian. Tapi ia lebih memilih untuk diam, sementara Taeyong kembali memegangi sikunya dan membuatnya berdiri. "Ayo, kuantar kau ke kamarmu. Sebaiknya kau tiduran dulu saja. Setelah ini aku akan membuatkanmu bubur."

Taeyong menggeretnya meninggalkan ruang tamu, memegangi lengannya erat-erat seolah-olah dapat memperkirakan kalau Jaehyun bisa tumbang kapan saja.

Jaehyun tidak bisa protes dan kembali menuruti hyung-nya itu. Bagaimanapun tubuhnya memang menolak untuk melakukan aktivitas apapun. Rasa sakit di kepalanya juga semakin parah. Matanya terasa berat sekali. Jadi, Jaehyun pikir apa yang dianjurkan Taeyong memang benar. "Kamarku sebelum dapur, hyung." Mengerti Taeyong sedikit bingung ketika melintasi ruang santai, Jaehyun memberitahunya.

Namun Jaehyun tak tahu bahwa dia baru saja membawa petaka yang akan menghampirinya. Ketika Taeyong berhenti di depannya tiba-tiba barulah Jaehyun merasa badai menghampirinya.

Oh, crap. Dia lupa.

"Jung, apa maksudnya semua ini?" Di sana Taeyong menatap dinding kamarnya yang penuh poster idolanya itu.

Keringat dingin seketika turun dari dahinya. Jaehyun dapat merasakan genggaman Taeyong pada lengannya mengendur. Tak peduli pada Jaehyun yang limbung begitu dia melepasnya.

Taeyong membalikkan badannya. Kepalanya menunduk dalam-dalam. Kedua tangannya mengepal erat sampai urat-urat nadinya terlihat mau keluar. Taeyong merasakan rahangnya mengeras.

Suasana tiba-tiba berubah mencekam. Jaehyun yang merasakan energi negatif keluar dari sekitar tubuh Taeyong berinisiatif mengambil langkah. "Hyung, aku bisa jelaskan."

Tapi sepertinya Taeyong tidak sependapat dengan Jaehyun. Bahkan uluran tangan Jaehyun yang hendak menahan bahunya ia tepis keras-keras. Lama-lama Jaehyun dapat melihat bahunya bergetar. Dan Taeyong yang menggigit bibir bawahnya membuat hati Jaehyun semakin mencelos.

"Kau tidak pernah menceritakan hal ini? Kenapa kau menyembunyikannya?!" nada suaranya meninggi.

Jaehyun memejamkan matanya, semakin merasakan dunia berputar cepat dan memukul ubun-ubunnya. "Maafkan aku, hyung. Aku tahu aku seharusnya memang memberitahumu tentang diriku yang sebenarnya, hyung." Jaehyun menanti-nanti tindakan dari Taeyong. Berharap hyung-nya itu mau memaafkannya. Berharap hyung-nya kembali mengamit lengannya seperti beberapa saat yang lalu. Berharap hyung-nya mau menatapnya. Tapi doanya tidak terkabul.

"Kau menjijikan, Jung." Taeyong berjalan tak peduli melewati Jaehyun yang terpaku. Kata-kata yang terlontar dari bibir mungil itu bagaikan panah beracun yang menembus jantungnya. Membuat Jaehyun sekarat. Tapi baru beberapa langkah lengan Taeyong ditarik dan tubuhnya menubruk Jaehyun, membawanya ke pelukan laki-laki yang lebih muda tersebut.

Di sisi lain Jaehyun tak mengerti apa yang baru saja ia lakukan. Secara refleks Jaehyun memeluk si artis. Instingnya mengatakan untuk tak membiarkan Taeyong pergi meninggalkannya untuk kedua kalinya. Jaehyun tak mau hal itu terjadi lagi.

Napasnya terasa berat tiap kali ia merasakan Taeyong menggerak-gerakkan tubuhnya gelisah, meminta untuk dilepaskan. Tapi Jaehyun malah semakin mempererat pelukannya, menahan Taeyong untuk tetap bersandar di bahunya. Jaehyun tidak tahu darimana dia mendapat tenaga sebesar itu.

Beberapa saat kemudian Taeyong berhenti memberontak, membiarkan tubuhnya berada dalam dekapan Jaehyun. Taeyong menyadari tenaga Jaehyun lebih besar darinya. Dia tidak bisa melawan.

Taeyong dapat merasakan hembusan napas Jaehyun di dekat telinganya. Menimbulkan sensasi geli yang aneh. Kepalanya menyandar di bahu lebar milik Jaehyun, mencium harum tubuh Jaehyun yang seperti orang sakit. Memang kenyataannya seperti itu, sih.

Tangan Jaehyun mengusap-usap rambutnya, membuat Taeyong semakin terlena di dadanya. Taeyong dapat merasakan kedua tubuh mereka benar-benar menempel satu sama lain. Tak ada jarak yang memisahkan mereka berdua. Yang anehnya bagi Taeyong sangat menyukainya. Jaehyun seperti sedang menyalurkan suhu tubuhnya untuk Taeyong.

"Hyung, tolong maafkan aku. Aku tahu aku memang salah. Aku hanya takut kau akan memandangku dengan cara yang berbeda kalau aku memberitahumu dari awal. Percayalah padaku, hyung."

Tak sedetikpun Jaehyun melonggarkan lengannya. Pipinya semakin menyandar di kepala Taeyong. Menghirup dalam-dalam bau shamponya. Ia berusaha mempertahankan Taeyong tetap di posisinya. Jaehyun tak akan pernah melepaskan Taeyong. Tak akan pernah.

"Tapi kau membuatku lebih takut. Aku hampir saja berspekulasi kalau kau sama saja dengan fansku di luar sana. Mereka menyeramkan." Kali ini Taeyong yang mendekatkan dirinya, meremas kaos yang Jaehyun kenakan pada punggungnya.

Taeyong semakin tak mengerti dengan hatinya. Harusnya dia tidak perlu menyentuh Jaehyun lagi. Selama masa karirnya Taeyong berusaha untuk menghindari kontak dengan fansnya. Tidak, Taeyong tidak membenci mereka. Taeyong hanya berusaha melindungi diri. Mengingat berapa banyak fangirl yang terlalu liar.

Tapi pemuda Jung di hadapannya ini benar-benar membuat Taeyong kalut. Padahal mereka baru kenal selama beberapa hari. Belum genap satu minggu, bahkan. Rasanya seperti ada sesuatu dalam diri Jaehyun yang menariknya untuk tetap di dekatnya. Jaehyun terasa istimewa. Lain dari yang lain. Entahlah, Taeyong tak bisa mendefinisikan perasaannya.

Dirasakannya elusan pada punggungnya, membuat Taeyong semakin rileks. Berada sedekat ini dengan Jaehyun terasa menenangkan.

"Sshh… Tenanglah, hyung. Aku tidak sama seperti mereka." Jeda sejenak. "Kau percaya padaku kan, hyung?"

"Apa yang membuatku menyukaiku?" Rupanya Taeyong masih menguji Jaehyun. Mencoba untuk membuktikan bahwa pemuda Jung ini tak memiliki niat buruk.

"Kalau kukatakan bisa makan waktu berhari-hari, hyung." Taeyong dapat merasakan Jaehyun sedang tersenyum. "Tapi yang paling penting adalah kau segalanya bagiku, hyung. Tidak ada yang bisa menandingi dirimu di hatiku. Tak ada yang lain, hyung." Taeyong dibuat merona karenanya.

"Aku menyukaimu bukan hanya sebagai Lee Taeyong yang selalu bersinar di atas panggung. Tapi aku juga menyukaimu sebagai Lee Taeyong yang saat ini bersamaku, Lee Taeyong yang berada di kehidupan orang-orang biasa." Jaehyun mengucapkannya lamat-lamat. Seolah sedang memantrai Taeyong di pelukannya. Berharap hyung-nya mau menerimanya.

"Kau percaya padaku, hyung?"

Taeyong awalnya ragu, tapi akhirnya dia mengangguk. Nalurinya berkata untuk mengiyakan.

Ah, Taeyong tidak tahu sampai kapan mereka berhenti dalam posisi seperti itu. Sudah berapa menit? Tapi, terus begini juga tidak apa kok, pikir Taeyong. Lagipula tubuh Jaehyun enak dipeluk.

Pikiran Taeyong buyar ketika merasakan bobot yang dipanggulnya semakin berat. "Jaehyun-ah?"

"Hyung, kepalaku—"

Taeyong tak kuat menahannya. Kakinya goyah.

Akhirnya mereka jatuh ke lantai dengan Taeyong yang jatuh terlentang. Dan Jaehyun yang pingsan di pelukannya.

.

.

.

Pertama kali yang Jaehyun lihat ketika terbangun adalah langit-langit kamarnya. Nyeri di dahinya mulai mengusik lagi. Tangannya refleks menempel di sana dan menemukan sebujur kain basah yang sudah dingin. Jaehyun menilik jendela di samping ranjangnya, menyadari langit berpendar oranye kemerahan.

Seingatnya tadi dia bersama Taeyong. Jaehyun tidak pikun, tentu saja. Mengingat betapa lamanya mereka saling mendekap seperti sepasang kekasih. Bahkan Jaehyun masih merasakan Taeyong di lengannya.

Wajahnya tiba-tiba memanas. Bukan karena demamnya. Tapi perasaan pada hyung-nya itu semakin tidak bisa ia kontrol. Dan hal itu membuatnya frustasi.

"Kau sudah bangun?" Suara Taeyong datang dari arah pintu, yang membuat Jaehyun tak berhenti berdebar-debar. Hyung-nya itu datang dengan apron putih yang melekat di badannya. Sungguh, Taeyong yang memakai apron dapurnya membuat Jaehyun berpikir yang aneh-aneh.

"Hyung." desah Jaehyun.

Taeyong melangkah semakin dekat. Sampai Jaehyun sadar di tangannya ada nampan yang berisi bubur dan segelas air putih. Jaehyun menelan ludahnya, teringat bahwa dari tadi pagi dia belum makan sama sekali.

Taeyong meletakkan nampan di atas meja kecil yang ada di sana, lalu duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap Jaehyun intens. "Kau pasti belum makan. Isi kulkasmu sangat menyedihkan, kau tahu."

Jaehyun hanya diam saja. Perkataan Taeyong memang tidak salah.

Menyadari Jaehyun yang tak bergerak, Taeyong akhirnya mengambil mangkuk dan berkata, "Mau aku suapi?"

Sialan, Jaehyun merutuk dalam hati. Bikin jantungan saja. Wajahnya pasti terlihat jelek saat ini.

Andai Taeyong mengatakannya saat dia tidak dalam keadaan sakit, apakah hyung-nya ini akan menawari hal yang sama?

"Hyung, aku bukan anak kecil. Aku bisa sendiri." Jaehyun mengerucutkan bibirnya sambil memposisikan diri untuk duduk menyandar di kepala ranjang. Jadilah Jaehyun memegang mangkuk dengan tangannya yang gemetaran. Rupanya tubuhnya masih belum mau bekerjasama.

Taeyong memandanginya dengan alis yang mengkerut, lalu merebut mangkuknya begitu saja. "Menyerahlah. Kenapa keras kepala sekali, sih?" Taeyong mulai menyendok sesuap, membawanya ke depan mulut Jaehyun yang langsung dilahap olehnya.

"Kau seperti ibuku, hyung. Aku jadi rindu padanya." lantur Jaehyun ditengah kunyahannya. Tidak perduli pada Taeyong yang berbicara tentang sifatnya itu.

Sambil terus menyuapi si bayi besar, Taeyong menimpali. "Memangnya ibumu di mana?"

"Amerika. Ayahku juga. Jadi hanya aku sendiri yang di Korea." Well, Taeyong jadi sedikit tahu tentangnya. Pantas saja apartemen sebesar ini terasa sepi sekali. Tidak seperti rumahnya yang walaupun hanya dihuni dirinya dan adiknya tapi setiap hari kalau mereka bertemu mungkin akan ada perang dunia ketiga.

"Kau tidak punya kakak atau adik?"

"Tidak, hyung. Aku anak tunggal. Yah, aku juga tidak mengerti kenapa orangtuaku tidak menginginkan anak lagi."

Taeyong tersenyum geli. Sepertinya demamnya membuat Jaehyun tidak berpikir panjang ketika berbicara. "Ada kau saja sudah repot, apalagi kalau kau punya adik."

"Lalu kenapa kau ke sini, hyung? Kau hanya merepotkan dirimu sendiri kalau kau merawatku seperti ini."

"Ya! Kau seharusnya senang aku ada di sini. Aku sampai meminta bantuan adikku untuk mengosongkan jadwalku, lho." Kali ini giliran Taeyong yang memajukan bibirnya. Mengggoda Jaehyun untuk menciumnya.

Astaga. Sepertinya otak Jaehyun memang sedang tidak bisa berpikir jernih.

"Jangan memasang wajah seperti itu, hyung. Aku… Aku bisa melakukan hal yang tidak-tidak kalau kau tidak berhenti." Jaehyun menutup kedua matanya dengan lengannya. Tak sanggup menatap Taeyong yang bertingkah imut.

Sementara Taeyong sudah merah padam, ia meletakkan mangkuk yang sudah tak bersisa isinya, dan menimpuk Jaehyun dengan guling yang ada di dekatnya. "Jangan macam-macam! Sudahlah, sebaiknya kau tidur saja. Siapa tahu otakmu jadi beres setelah kau bangun."

Taeyong pergi meninggalkan Jaehyun yang kembali berbaring, berharap untuk bermimpi indah di tidurnya.

.

.

.

Begitu kembali ke kamar Jaehyun, Taeyong malah melihat anak itu membuka matanya lebar-lebar, menolak untuk tidur seperti apa yang Taeyong katakan tadi. Taeyong berkacak pinggang di depannya. "Tidur, Jaehyun."

"Tapi aku tidak bisa tidur, hyung."

Taeyong menaikkan sudut bibirnya. "Apa aku perlu menyanyikan lagu nina bobo untukmu?"

"Pfft. Aku tidak separah itu, hyung." Jaehyun tertawa kecil. Membuat Taeyong ikut mendengus geli. "Berapa lama aku pingsan, hyung?"

"Hanya setengah jam. Yah, tidak terlalu lama. Tapi badanmu benar-benar berat, tahu. Aku susah payah menggotongmu ke sini." Taeyong mengalihkan pandangannya ke sekeliling kamar. Melihat poster-poster yang bergambar dirinya itu tertempel di sana. Entah kenapa Taeyong merasa aneh sendiri ketika melihat bermacam potret dirinya itu.

Tiba-tiba Jaehyun berceletuk. "Hyung, aku sudah mendengarnya. Tentang kau dan Kang Seulgi."

Taeyong menatap Jaehyun heran yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Sedangkan tubuhnya mulai bergerak menduduki pinggir tempat tidur.

"Kau tahu, hyung. Sebagai fansmu ada saatnya aku tidak bisa terima idolaku menyukai seseorang, apalagi kalau pasangannya sama-sama berkecimpung di dunia hiburan. Rasanya ada yang sakit, hyung. Seperti tubuhmu ditusuk ribuan jarum." Jaehyun menatapnya. Mencari poros dunianya di balik iris Taeyong. Menikmati keindahan yang terpampang di depannya.

Taeyong tidak tahu harus berkata apa. Tatapan Jaehyun seolah menguncinya. Membuatnya tak bisa berpaling dari namja satu itu.

"Itulah yang kurasakan ketika tahu bahwa malam itu kau pergi untuk bertemu dengannya, hyung." Jaehyun melemparkan senyum masam. Ingatannya kembali melintas pada saat dirinya menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri di mana foto-foto yang tersebar di media massa semakin membuat dadanya sesak. Terutama Taeyong dan Seulgi yang berciuman.

Jaehyun tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa dia akan begitu menyukai Taeyong. Perasaan yang tidak bisa ia bendung begitu besar. Jaehyun tahu seharusnya ia tidak memiliki perasaan yang seperti itu. Apalagi status Taeyong sebagai seorang penyanyi semakin memperlebar jarak mereka.

"Maafkan aku tentang itu, Jaehyun-ah. Aku begitu menyesal telah pergi begitu saja. Tapi mau bagaimana lagi? Skandal itu harus segera diselesaikan." Lidah Taeyong terasa kelu. Menelan ludah saja jadi terasa susah. Sejujurnya Taeyong tidak mau mengungkitnya lagi. Dia tidak suka.

"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Kang Seulgi. Foto itu tidak benar. Dan aku tak pernah menciumnya. Para netizen saja yang berlebihan." Taeyong mengatakannya setenang pandangan matanya terhadap Jaehyun. Jaehyun merasa Taeyong sepertinya bisa menghipnotis. Matanya benar-benar memikat.

Jaehyun refleks menggenggam tangan Taeyong, menyalurkan harapan yang tinggi di sana. "Benarkah, hyung?"

Taeyong mengangguk-aggukan kepalanya gugup. Sungguh, pemuda di hadapannya ini kenapa mampu membuatnya seperti ini? Taeyong dapat merasakan ada kejutan listrik pada sentuhan Jaehyun di kulitnya. Membuatnya bergidik sendiri.

"Kalau begitu aku lega, hyung."

Aku masih punya kesempatan untuk mendapatkanmu. Jaehyun tersenyum puas. "Hyung, bisakah kau mengabulkan permintaanku yang satu ini?" Jaehyun melemparkan tatapan puppy eyes.

"Huh?"

Jaehyun menyeringai. Begitu cepat ia menarik pergelangan tangan Taeyong, membuatnya terjatuh di atasnya.

"Temani aku tidur, hyung. Kurasa kalau ada seseorang di sisiku akan lebih mudah membuatku tertidur." Dasar modus.

Tindakan Jaehyun mendapat reaksi yang tak terduga. Wajah Taeyong layaknya kepiting rebus, tubuhnya terkulai membebani Jaehyun. Taeyong serasa mendapat serangan jantung.

Menyadari Taeyong tak membalasnya Jaehyun menangkup pipi Taeyong, mencoba menyadarkannya. "Hyung?"

"Huh? A-Apa?" Taeyong mendongakkan kepalanya, dan menemukan wajahnya yang sangat dekat dengan wajah Jaehyun. Keduanya sama-sama membeku. Merasakan napas hangat masing-masing menerpa wajah mereka.

Taeyong segera bangkit, tak menyadari sikutnya menekan ulu hati Jaehyun. Jaehyun yang merasakan serangan di bagian tubuhnya itu mengaduh kesakitan.

Tentu Taeyong jadi salah tingkah. Segala hal yang ada sangkut pautnya dengan Jaehyun selalu membuatnya salah tingkah. "Ah! Maaf, Jaehyun-ah!"

"Sikumu tajam sekali sih, hyung. Benar-benar, deh. Duh.. duh.. duh…" Jaehyun kembali meringis karena cubitan Taeyong pada lengannya. Walaupun Taeyong lebih kecil darinya tapi tenaganya tak bisa dipungkiri. Sakit sekali.

"Itu balasan yang pantas untukmu, Jung Jaehyun." cibir Taeyong.

"Hahaha… Ampun, hyung. Ampun…."

"Cepatlah tidur! Atau kau kutinggal di sini!" Jaehyun kicep. Tapi ia mengerling jahil pada Taeyong, tangannya menepuk sisi ranjang yang kosong. "Hyung, ayo tidur bareng." rajuknya.

Jaehyun bisa melihat hyung-nya itu tiba-tiba gugup, ragu-ragu untuk memilih iya atau tidak. "Ranjangku cukup luas untuk berdua kok, hyung. Dan aku tidak akan membiarkanmu tidur di sofa."

Masalahnya bukan itu yang membuat Taeyong jadi uring-uringan. Peluk-pelukan saja lututnya sudah lemas. Apalagi ini. Tidur sekamar. Seranjang. Berdua. Dengan Jung Jaehyun yang mempesona. Oh, ya, Taeyong memang mengakui kalau fansnya yang satu ini tampan. Sangat. Taeyong pun sampai iri.

Untuk kedua kalinya lengannya ditarik, sukses membuatnya terjerembap di kasur super empuk.

Akhirnya Taeyong memilih untuk meladeni Jaehyun. Percuma saja melawan, anak itu benar-benar keras kepala. "Iya… Iya… Aku akan tidur di sini."

Kata-kata Taeyong membuat Jaehyun bagaikan terbang menuju langit ketujuh. Bagaimana tidak. Ini kesempatan emas untuk berada sedekat itu dengan Lee Taeyong. Jaehyun merasa dirinya fans paling beruntung yang dimiliki Lee Taeyong.

Lihat diriku, fangirls. You lose.

Tapi sayang, niatan untuk skinship dengan idolanya itu musnah ketika Taeyong mengambil guling satu-satunya yang ada di sana dan meletakkannya di tengah-tengah mereka. Jaehyun melongo.

"Jaljayo, Jaehyun-ah. Semoga besok kau sudah sembuh." Taeyong tersenyum padanya sebelum membalikkan badannya memunggungi Jaehyun. Lalu menarik selimut yang sama-sama dikenakan Jaehyun. Untung selimutnya lebar, kalau tidak Taeyong bingung harus bagaimana menghadapi malam yang dingin di Seoul ini.

Well, seorang Jung Jaehyun tidak menyerah begitu saja. Ide jahil kembali melintasi otaknya. Ia mengambil guling itu dan melemparnya ke sembarang tempat, mungkin jatuh mengenaskan di lantai. Lalu memeluk Taeyong dari belakang. Kaki kirinya menindih tungkai sang artis, mengunci gerakannya agar tidak pergi ke mana-mana.

Taeyong berjengit kaget mengetahui tingkah seseorang yang mendekapnya ini. Apalagi tangan dan kakinya tak bisa bergerak. Dan sumpah demi siapapun bagian tengkuknya terasa geli. Jaehyun bernapas tepat di belakangnya, membuat setiap karbondioksida yang dia keluarkan mengenai leher Taeyong yang sensitif.

"Jae-Jaehyun-ah." Taeyong tidak mengerti kenapa suaranya lemah begini.

"Hmm?"

"Ke mana gulingnya?"

"Gulingnya hilang, hyung."

"Jangan bercanda. Cepat kembalikan gulingnya."

"Aku serius, hyung."

"Tidak. Tidak. Aku tidak percaya."

"Taeyong-ie hyung, padahal tadi kau menyuruhku untuk tidur. Tapi kalau kau berbicara terus aku tambah tidak bisa tidur. Pejamkan matamu, hyung. Aku akan menghangatkanmu."

Serius. Taeyong merasa jantungan untuk kedua kalinya. Setelah ini mungkin dia harus pergi ke dokter untuk memeriksa kondisi tubuhnya.

Beberapa menit pun berlalu. Masih dalam keadaan mereka yang seperti itu.

Oke. Sekarang malah giliran Taeyong yang tidak bisa tidur. Selama hidupnya dia tidak pernah tidur dengan seseorang sambil main peluk-pelukan. Dengan Mark saja tidak. Apalagi ini dengan makhluk yang sepantaran dengannya. Taeyong tidak pernah membayangkan ini sebelumnya.

Taeyong ingin menyingkirkan lengan Jaehyun. Tapi usahanya sia-sia. Yang ada setiap kali dia berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya, Jaehyun semakin mempererat pelukannya. Mencoba menjadikan Taeyong pengganti gulingnya khusus malam ini.

Taeyong akhirnya menghela napas berat. Menyerah. Taeyong mulai memejamkan matanya saat kantuk menyerang. Dan membiarkan Jaehyun memeluknya sepanjang malam.

.

.

.

.

Bugh!

Ugh. Jaehyun merasakan ada tangan yang menampar wajahnya. Seketika Jaehyun terbangun. Sayup-sayup matanya melihat Taeyong yang masih terlelap. Pelukannya tadi malam sudah terlepas. Meninggalkan Taeyong yang posisi tidurnya sangat tidak enak dilihat.

Ternyata seorang Lee Taeyong punya sisi liar juga. Heh.

Jaehyun menyingkirkan tangan Taeyong. Lalu melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi. Waktu berlalu begitu cepat sampai Jaehyun tidak merasakannya.

Jaehyun melirik Taeyong. Mengamati wajah tidur cantiknya.

Astaga. Wajahnya benar-benar memukau. Lalu Jaehyun secara tak sadar menempelkan telapak tangannya pada pipi mulus itu. Mengusap ibu jarinya di setiap inci kulit putih milik Taeyong. Menjawil hidung bangirnya. Dan turun di bibir merah mudanya.

Jaehyun jadi ingin menciumnya. Lantas dirinya berharap mendapatkan morning kiss ketika Taeyong bangun nanti. Ckckck.

Suatu pagi yang wah mendapati seseorang yang kau sukai berbaring di sebelahmu. Jaehyun mengangguk-anggukan kepalanya setuju.

Tiba-tiba Taeyong melenguh. Sepertinya mulai merasakan ada tangan asing yang meraba-raba bibirnya. Otomatis Jaehyun menarik tangannya. Dan pura-pura tidur.

Lalu Taeyong membuka matanya, mulai mengumpulkan kesadarannya. Taeyong menengok ke arah Jaehyun dan mendapati Jaehyun yang masih memejamkan matanya. Jaehyun tidur seperti bayi. Dan Taeyong tidak bisa menahan rasa gemasnya untuk tidak mencubiti pipi tembem Jaehyun.

"Hentikan, hyung." Jaehyun mencekal tangannya dan membuka mata. Membuat Taeyong terkejut setengah mati.

"Kau… sudah bangun dari tadi, ya?" Taeyong menyipitkan matanya pada Jaehyun. Yang dibalas eye smile andalannya.

"Hahaha. Tapi itu kan juga ulahmu, hyung."

"Maksudmu?"

"Saat kau tidur tanganmu memukul wajahku, hyung. Aku jadi langsung bangun."

Taeyong yang mendengarnya langsung tertawa terpingkal-pingkal. Bukannya minta maaf, tapi namja itu malah senang atas perbuatannya itu.

"Rasakan. Makanya tadi malam jangan memelukku seenaknya. Dasar mesum."

"Ya! Hyung! Aku tidak mesum!"

"Iya. Kau Mesum."

"Hyuuuuung."

Astaga, bayi mesum satu ini. Ya, Taeyong memutuskan untuk menyebutnya begitu.

"Berhentilah merengek. Aku mau masak. Kau mau sarapan apa?" Taeyong mulai bangkit, merapikan bajunya yang kusut sana-sini.

"Aku mau bulgogi, dan kimchi. Aku juga mau roti, yang dipanggang lalu diberi telur mata sapi." Taeyong yakin dia bisa melihat Jaehyun menerawang sambil membayangkan berbagai macam makanan.

Terserah deh, batin Taeyong. Ia jadi tahu kenapa Jaehyun terasa berat sekali. Wong makannya saja banyak.

Taeyong jadi teringat sesuatu saat akan melangkah ke dapur. "Ah, Jaehyun-ah. Bukannya kulkasmu kosong? Kurasa aku harus membeli daging kalau kau mau bulgogi."

"Hmmm benar juga, hyung. Kalau begitu ayo kita ke supermarket. Jaraknya juga tak jauh dari sini." timpal Jaehyun.

Taeyong mengiyakan. Karena yang dikatakan Jaehyun memang ada benarnya.

Sementara Jaehyun mulai merapikan dirinya. Dan mengambil dua jaket yang menggantung di lemari bajunya. Ia menyerahkan salah satu pada Taeyong.

"Pakai jaketku, hyung. Di luar pasti lebih dingin."

Taeyong hanya diam memandangi jaket pemberiannya. Jaehyun yang melihatnya menghela napas, mulai memasangkan jaketnya pada tubuh hyung-nya. "Jangan diam saja, hyung. Apa kau benar-benar ingin aku memakaikannya untukmu?"

Taeyong lantas mendelik padanya, mengirim sinyal-sinyal mematikan melalui sinar matanya.

"Tidak. Jangan ge-er kau." Lalu menarik resleting sampai atas dada. Bau khas yang dimiliki Jaehyun langsung menguar begitu Taeyong memakainya. Entah kenapa terasa memabukkan.

"Ya ampun, hyung. Kau lucu kalau sedang marah."

Taeyong semakin menggembungkan kedua pipinya, sebal dengan perkataan Jaehyun. Tapi Jaehyun yang melihat Taeyong bertingkah imut malah semakin ingin menggodanya terus.

Jadilah Jaehyun mencubit pipi Taeyong, yang mendapat respon berupa keluhan dari hyung-nya itu.

Jaehyun tertawa puas.

.

.

.

.

Begitu keluar dari gedung apartemen, Taeyong dapat merasakan hawa dingin yang melanda tubuhnya.

Jaehyun benar. Di luar terasa sangat dingin, walaupun mereka sudah mengenakan jaket tebal untuk menghalau udara dingin tersebut. Padahal ini sudah bukan musim dingin lagi.

Uap-uap putih yang mengepul terlihat setiap kali ia melakukan ekspirasi. Kontan ia merapatkan tubuhnya, mencoba menghangatkan tubuhnya dalam balutan jaket yang membalutnya. Tidak diragukan lagi, jaket itu benar-benar nyaman.

Di sisi lain Jaehyun tersenyum kecil melihat Taeyong. Tak percaya kalau pujaan hatinya sedang memakai jaket favoritnya itu.

"Hyung, kemarikan tanganmu."

Taeyong menurut. Tak tahu kalau Jaehyun akan menggenggamnya dan membawanya ke saku jaketnya. Otomatis membuat Taeyong mendekatkan tubuhnya pada Jaehyun.

"Jaehyun-ah." Perasaan itu mengalir begitu saja. Begitu hangat dan menenangkan.

"Aku tahu kau kedinginan, hyung." ujar Jaehyun. Tangannya yang bertautan dengan Taeyong dapat merasakan tiap ujung jemarinya yang awalnya sebeku es menjadi meleleh.

Jaehyun sering melihat ini di film-film. Dan menurutnya itu terlihat romantis sekali. Sekali ini saja biarkan dia mencobanya dengan Taeyong hyung.

Taeyong tidak melawan. Hatinya berkata untuk membiarkan tangannya berada dalam saku jaket yang Jaehyun kenakan. Dimana udara dingin yang mengganggunya tiba-tiba saja pergi. Hanya ada panas menjalar sampai ke telinganya yang memerah.

Jaehyun terus membawanya menyusuri trotoar yang sepi. Sampai sepuluh menit kemudian tibalah mereka di supermarket yang disebut-sebut Jaehyun.

.

.

.

Seperti yang sudah mereka duga, suasana di dalam supermarket lebih bersahabat. Jaehyun melepaskan tangan Taeyong dan mengambil keranjang belanja di dekat pintu masuk.

Taeyong sangat menyayangkannya ketika Jaehyun memisahkan kedua tangan mereka.

Mereka mulai memilih-milih mana yang harus dibeli dan yang tidak. Sampai Jaehyun menggeretnya menuju bagian minuman dan menemukan orang itu berdiri di sana.

"Tae?" Orang itu memanggilnya.

Taeyong seketika membeku. Merasakan kuku-kuku jarinya seolah menggenggam es. Dingin menusuk sampai tulangnya. Refleks tangannya memegangi ujung jaket Jaehyun.

"Benar, kan? Kau Lee Taeyong? Ya ampun. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini."

Jaehyun memandang mereka tak mengerti. Siapa orang ini?

Tiba-tiba orang itu berpaling kepadanya. "Ah. Apa kau kesini dengan pacarmu?" Orang itu tersenyum padanya. "Romantis sekali."

Hah? Jaehyun jadi bingung sendiri. Dia butuh penjelasan Taeyong. Tapi Taeyong seolah menatap orang itu dengan pandangan tak percaya. Apa Jaehyun juga tak salah lihat hyung-nya itu memancarkan raut muka sedih?

"Yuta, sedang apa kau di sini?" Taeyong akhirnya membuka suara.

"Apa kau tidak rindu padaku?" Oke. Jaehyun pikir orang ini percaya diri sekali.

Taeyong menelan ludahnya dengan susah payah. "Apa yang kau bicarakan? Kau bahkan tak menjawab pertanyaanku." nadanya berubah sedingin es.

"Baik, baik. Aku sedang berlibur di sini. Mumpung aku sedang punya waktu luang dan tak ada kontrak kerja." Yuta menorehkan senyum maut. Dirinya benar-benar terkejut ketika melihat Taeyong ada di sini. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu.

"Oh. Selamat bersenang-senang kalau begitu. Aku duluan. Ayo, Jaehyun." Taeyong hendak berputar arah kembali ke kasir. Tapi sebuah tangan mencegatnya.

"Tunggu! Apa kita bisa bertemu lagi? Maksudku, pergi bersama ke suatu tempat di Seoul? Aku ingin jalan-jalan denganmu. Seperti yang pernah kita lakukan dulu." Taeyong melemparkan pandangan aneh pada Yuta, membuatnya gelagapan.

"Ah! Maksudku hanya sekadar jalan-jalan saja. Bukan dengan hubungan yang seperti itu. Kali ini cuma sebatas teman lama." Lalu Yuta menatap Jaehyun dan meneruskan kalimatnya. "Kau juga bisa mengajaknya. Aku akan mengajak pacarku juga."

What the hell.

"Maaf, tapi jadwalku padat. Sepertinya aku tak bisa menemanimu. Sampai jumpa." Dan mereka segera pergi meninggalkan supermarket sesudah membayar semua barang belanjaan mereka di kasir. Juga membiarkan Yuta yang terus menatap Taeyong sampai menghilang di balik pintu masuk.

.

.

.

Jaehyun dan Taeyong kembali menyusuri trotoar yang sepi. Menatap suasana jalanan berhembus angin musim semi.

Jaehyun mengalihkan pandangannya pada Taeyong, yang berjalan sambil menundukkan kepalanya. Menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

"Hyung."

Taeyong tak menjawab, hanya kembali meneruskan langkahnya.

"Hyung!" Lama-lama Jaehyun mencekal kedua bahu Taeyong, menghentikan langkah mereka berdua. Menjatuhkan kantong plastik yang daritadi dibawanya di tengah jalan.

Jaehyun menyentuh dagunya, membuatnya mendongak ke atas. Betapa terkejutnya ia ketika dilihatnya Taeyong yang seperti akan menangis.

"Ya ampun, hyung! Memangnya siapa si Yuta itu sampai membuatmu begini?" Jaehyun mengusap-usap pipinya, berharap dapat mencegah air matanya jatuh.

Bibir Taeyong bergetar tanpa dia mengerti sebabnya. "Namanya Nakamoto Yuta. Dulu aku pernah jadi model di video klipnya ketika aku masih menjadi trainee." Lalu Taeyong benar-benar menangis, menumpahkan kristal beningnya tanpa bisa dia kendalikan. Mengingat Nakamoto Yuta benar-benar menguras isi hatinya.

Jaehyun kontan saja membawa hyung-nya dalam dekapannya. Mencoba mengurangi perih di hati hyung-nya, juga pedih di hatinya melihat hyung-nya menangis seperti ini.

"Dia juga mantan kekasihku." gumam Taeyong.

Jaehyun tak tahu alasannya, tapi bagian dadanya jadi begitu sakit. Namun Jaehyun mengabaikannya, lebih memilih mengelus-elus punggung Taeyong yang masih bergetar.

"Jangan menangis, hyung. Lupakan dia. Dia hanya masa lalumu." Jaehyun terus membisikkan kata-kata itu di telinga Taeyong. Berusaha agar Taeyong bisa melupakannya dan berpaling padanya.

"Cobalah untuk menatapku, hyung. Ada aku di sini. Aku akan membuatmu melupakan semua kenangan pahit yang kau miliki dengannya." Jaehyun akhirnya mengucapkannya. Kata-kata yang sudah lama menetap di hatinya.

"Ta-tapi…."

"Shh… Tak apa, hyung. Kita bisa mencobanya."

Jaehyun tak tahu apa yang telah dilakukan laki-laki Nakamoto itu terhadap Taeyongnya. Tapi Jaehyun akan mencoba mengalihkan rasa sakitnya. Demi Taeyong hyung-nya, Jaehyun rela melakukan apa saja.

.

.

.

TBC

.

Hai para Jaeyong shipper! Kali ini Hana kembali bawain chapter baru This Love /yahuu

Aku tahu ini lama banget updatenya. Di bulan puasa aku bener-bener ga bisa mikirin ini. Susah banget rasanya. Jadi seminggu lebih aku kena WB :''D Maafkan Hana, kawan-kawan.

Udah, kita capcus aja ke balesan review ya.

Park Rinhyun-Uchiha : ini udah dilanjut yaaa

cehuns2 : udah ketahuan kan hahahaha. Udah lanjut yaw

restiana : garis keras buat uke!Tae :))

blakcpearl : ya amoeba masih sekerabat sama Hana *ketawa devil /ditampolHana/ Chittapon kan emang princessnya NCT www ultimate uke gitu

Shim Yeonhae : sudah~

suki-chan07 : tenang ya nak disini ga ada yg iya-iya wkwk. Hmm tentang mereka udah sedikit terungkap yaa di sini.

porororororong : gwaenchanayo~ aih, sama dong yuten juga pair kedua fav. Masa lalunya tiwai udah terungkap disini nyaaa

wangjeonim : haihai… selamat datang di kapal Jaeyong. Mari fangirling bersama :)

EunhyukJinyoung02 : sudah terungkap di sini yaaa

Freakfujo : iyaaa wakakak. Mark dedeq gemayysss kita bersama

Byunki : semoga harapanmu terkabul di chap ini. mereka lagi proses, yang sabar aja /digampar

nurulhanifah22 : eyy makasih. Ini udah lanjut

capungterbang : gimana baunya? Sedap nggaa /dilempargulingsamaHana sakit biar bisa modus ke ty wkwk.

dabeerrel : iyeee gpp, ada yang review aja udah seneng kok /kecup

troalle : kitapun dibuat tergila-gila sama mereka. Gomawo~ kakak baik banget /nangisbahagia/ ini udah diterusin ya

choidebwookyung1214 : ini udah lanjut vrooohh. Udah ketauan kan yuta siapanya taeyong *wink

.

Yap, itu yang balesin review kebanyakan Flow /tampol/ makanya isinya mandan sableng gitu wakakak

Oh ya, ngomong-ngomong tentang Flow dia bikin Jaeyong OS juga lho. Cek aja di akun kita, judulnya Love is Love. Iya, ini promosi wkwk

Maafkan Hana kalo chapter ini ga seperti yang kalian inginkan. Hana juga manusia :(

Aku agak sedih ngeliat yang dulu review pada ga review lagi. Kaya hantu aja. Udah pada ga minatkah sama ff ini? :')

But, sekali lagi makasih buat yang terus review, fav, follow story maupun akun kita /eaaa/ tanpa dukungan kalian semua kita ga akan bisa ngelanjutin fanfic ini.

Sampai jumpa di chapter depan~

Hana.