Ano. Konnichiwa Minna-san. *membungkuk dalam-dalam selama lima belas menit.

Hehehe, pertama-tama izinkanlah author untuk meminta maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan update chapter ini, padahal author udah janji mau update cepet *nunduk malu-malu.

Ketika hendak mempublish chapter ini, author sempet baca lagi fic ini dari chapter 1, dan author sadar ada buanyaaak sekali kata-kata yang salah diketik. Kayak kelas Neji-tachi yang harusnya masih kelas XI, atuhor ketik kelas XII. Terus yang mengenai Ino dan Deidara, sebebernya siapa sih kakaknya? di chapter 1 Ino, eh di chapter berikutnya Deidara, mana yang betul ini? *dihajar Ino dan Deidara

Jadi, author mau konfirm saja kalau Deidara itu anak yang paling tua. Ino tuh dedeknya.

Author hanyalah mannusia biasa yang tak sempurna, bisa berbuat kesalahan ketika mengetik. Maafkanlah author jika reader-tachi malah jadi bingung dengan kesalahan ketik ini.

Baiklah, mari kita balas dulu review dari chapter lalu.

Pertama-tama, ada review dari neng Sabila Foster, yang dipukul Sasuke pake pentung. Terimakasih atas komentarnya, author senang neng Sabila puas dengan chapter lalu. And here is the next chapter. Hope you like it :D

Lalu berikutnya, dari rinazure. Hmm, siapa yang orang tua Sakura *sok misterius* Ikuti terus chpapter-chapter ke depan untuk menemukan jawabannya, hahaha. Ini udah update, hope you like it.

Next hanazono yuri. Maaf author tidak bisa update kilat, padahal author sudah janji T^T. Semoga kedepannya author bisa lebih pintar-pintar ngatur waktu untuk menulis kelanjutan fic ini.

Selanjutnya, review dari Kyou PinkyCe. Terimakasih atas pujiannya *senyum malu-malu* author sudah berkomitmen untuk terus melanjutkan fic ini, jadi tidak perlu khawatir. Author hanya masih kurang yakin mengenai konsistensi author dalam meng-update fic ini. Semoga author bisa update lebih cepat lain kali.

Lanjut ke review dari nakhla dan Nakhla-chan (apakah kalian orang yang sama?). Hahahaha, maaf sudah membuat nakhla-san menunggu. Jujur author sempat kehilangan motivasi untuk melanjutkan fic ini, tapi author janji author akan meneruskan fic ini sampai tamat. Walau mungking agak ngaret update-annya. Hehehehe.

Review berikutnya dari Kimaru-Z. Ini sudah lanjut :D Semoga chapter ini memuaskan.

Lanjut lagi ke review Harry Hyuuga. Terimakasih atas ucapan semangatnya. Author jadi dapat energi tambahan buat nulis chapt ini. Hehehe

Terakhir adalah review dari omygod. Tenang saja omygod-san, author tidak akan membiarkan kisah Sakura berakhir disini *dipeluk Sakura*. Ini lanjutannya sudah author update. Semoga memuaskan.

Sekali lagi terimakasih minna-san masih setia menunggu kelanjutan fic ini. Semoga chapter ini memuaskan.


Sakura sangat tidak bersyukur ketika ia mendapati suasana parkiran sekolah sangat ramai. Masalahnya saat ini ia sedang dibonceng Gaara –si murid baru yang langsung menjadi pusat perhatian cewek-cewek-. Sakura sudah bilang lebih baik ia berangkat sendiri naik bus, tapi Gaara tetap kukuh mau mengantarnya.

Ketika motor sport merah Gaara telah terparkir dengan rapi, Sakura segera melepas helm nya kemudian turun dari motor.

"Terimakasih untuk semuanya, Gaara" katanya sambil menyodorkan helm itu pada Gaara.

"Sama-sama" balas Gaara sambil mengambil helm-nya dari Sakura. Ia sendiri ikut turun dari motornya kemudian mengaitkan asal helm-helm yang dipakainya dan Sakura ke stir motor.

"Aku duluan ya" Gadis itu sudah bersiap berlari sekencang-kencangnya, akan tetapi baru saja ia mulai melangkahkan kakinya, tangan Gaara lebih dahulu meraih lengannya.

"Sama-sama saja. Kita kan sekelas" ujar pemuda itu.

Sakura menghela nafas berat. Pemuda ini benar-benar tidak peka dengan suasana disekelilingnya. Sakura saja bisa merasakan aura membunuh yang menguar dari tatapan murid-murid cewek di parkiran. Ada yang berbisik-bisik lah –Sakura tidak bisa mendengar bisikkan mereka, namun Sakura yakin mereka tidak sedang membisikkan hal-hal positif tentangnya-, ada yang melotot pada mereka, bahkan murid-murid cowok pun memperhatikkan mereka berdua.

Tidak terkecuali sosok dua orang bersaudara yang baru saja sampai di sekolah.

"Sakura!" panggil salah satu sosok itu.

Sakura membalikkan badannya. Ia mendapati si Yamanaka bersaudara sedang memandangnya disamping mobil BMW mereka. Rupanya Deidara lah yang memanggilnya.

Sakura tidak segera menjawab panggilan Deidara. Ia masih bingung apa yang harus ia lakukan. Memori ketika ia membentak Inari, menghancurkan guci mahal mereka, dan kemudian kabur dari rumah masih terekam jelas di otaknya.

Mendapati Sakura malah melamun, Deidara akhirnya menghampiri gadis itu.

"Hey" Ia menepuk bahu Sakura pelan, namun cukup untuk membuat Sakura teresadar dari lamunannya. Sakura menatap Deidara takut-takut.

"Bisa ikut denganku sebentar?" tanyanya.

Sakura awalnya ragu untuk menjawab. Hanya saja ia sadar bahwa ia tidak boleh terus menerus lari dari masalahnya.

"Um. Yah. Baiklah" jawab Sakura akhirnya.

Deidara tersenyum. Ia kemudian berjalan duluan, membelah kerumunan murid-murid di parkiran, sementara Sakura mengekor dibelakangnya.

"Tunggu dulu Sakura!" Teriakan Gaara tidak hanya menghentikan Deidara dan Sakura, akan tetapi mengangetkan orang-orang di parkiran.

"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi disini. Tapi aku yakin ketika kau kabur dari rumah, itu artinya ada sesuatu yang tidak beres diantara kalian" Gaara menunjuk Deidara dan Sakura bergantian. Bisikkan para murid makin mengeras mendengar kata 'kabur dari rumah'.

Deidara memutar bola matanya sebelum menjawab. "Itu sebabnya aku berusaha menyelesaikan masalah ini bersama Sakura"

"Lagian ini kan masalah keluarga. Kenapa kamu malah ikut campur? Memangnya kamu siapanya Sakura?" Ino -yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping Deidara dan Sakura- menambahi.

"Aku teman Sakura" jawab Gaara tegas. "Dan aku tidak bisa melihat temanku-"

"Gaara" Potong Sakura sebelum pemuda itu bisa menyelesaikan perkataannya.

Gaara menatap Sakura. Memberikan gadis itu tatapan 'aku sedang berusaha membelamu disini'. Sakura tersenyum. Ia menghampiri Gaara yang masih berdiri disamping sepeda motornya.

"Terimakasih sudah menampungku semalam. Dan terimakasih atas tumpangannya hari ini. Tapi, biarkan aku menyelesaikan masalah ini. Aku.. aku tidak boleh terus lari dari masalahku. Aku tidak mau menghindar"

Gaara terdiam. Perkataan Sakura memang ada benarnya. Ia tersenyum ketika mendengar resolusi Sakura untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Tanpa sadar ia tersenyum. Tangannya menepuk puncak kepala Sakura dengan lembut, membuat murid-murid perempuan memandang iri.

"Baiklah. Tapi kalau kau perlu bantuan, kau harus segera bilang padaku. Mengerti?"

Sakura tertawa mendengar perkataan Gaara. Ia mengangguk sebelum akhirnya meninggalkan parkiran bersama Deidara.

Gaara mendesah. Tidak habis pikir dengan tindakannya. Sejak kapan ia bisa begitu peduli dengan masalah orang lain selain dirinya. Gadis itu sudah benar-benar membuat dunia Gaara yang sunyi menjadi berwarna.

Sementara pemuda itu masih terlarut dalam pikirannya, ia tidak menyadari sosok Yamanaka lain yang masih ada di parkiran.

Ino menatap punggung Deidara dan Sakura yang makin kecil dan akhirnya menghilang ketika mereka berdua menaiki tangga. Dia tidak tahu apa yang akan dibicarakan Deidara pada Sakura. Jujur ia punya niat untuk menguping. Tapi kalau sampai ketahuan kakakknya, bisa habis riwayatnya.

Ketika Sakura kabur dari rumah, Ino paling takut apabila gadis itu memutuskan untuk membeberkan mengenai perlakuan keluarga Yamanaka padanya selama ini. Tapi melihat pandangan murid-murid Konoha Gakuen yang masih belum berubah padanya, ia yakin gadis itu belum buka mulut mengenai hal ini. Pada akhirnya ia hanya bisa berdoa semoga Deidara bisa meyakinkan Sakura untuk tutup mulut

LIFE OF A BLOOMING SAKURA

CHAPTER 6

Written By Seraphina Hall

Sakura dan Deidara terdiam. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Bahkan sura cicitan burung-burung yang singgah diatas atap sekolah pun dapat terdengar. Sakura menyender tak nyaman pada dinding, sementara Deidara memandang langit dengan tenang.

"Ano.." Sakura akhirnya buka suara.

Deidara menutup matanya. Menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Sakura yang berdiri dibelakang Deidara hanya dapat menatap punggung pemuda itu.

".. jadi… apa yang ingin kau bicarakan?" tanya gadis musim semi itu ragu.

"Maaf"

"Hah?" Sakura tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Kalau dia tidak salah dengar, Deidara baru saja mengutarakan kata maaf padanya.

Deidara membalikkan badan, menatap Sakura. Walaupun jarak mereka berdiri sekarang ada sekitar dua meter, Sakura yakin ia bisa melihat mata Deidara –yang sedari dulu tenang, tanpa emosi- bergejolak. Seolah ia bisa mengerti semua perasaan yang ditahan kakak angkatnya selama ini hanya dengan menatap mata itu lebih lama

"Maafkan aku" Deidara mendekati Sakura. Langkahnya pelan, namun pasti. "Selama sepuluh tahun ini, melihatmu ditindas dan disiksa keluargaku sendiri. Aku tidak bisa berbuat apa-apa"

Deidara berhenti keika wajhanya hanya berjarak beberapa senti dari Sakura.

"Aku tidak mengerti maksudmu" Sakura membuang muka. Jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat ketika dia merasakan napas Deidara menerpawajahnya.

Pemuda Yamanaka itu tersenyum maklum. Ia tidak berharap Sakura menanggapi permintaan maafnya dengan serius, mengingat perlakuan dingin yang dia berikan pada adik angkatnya itu selama sepuluh tahun belakangan. Deidara menjauhkan wajahnya, kemudian menyenderkan badannya disamping Sakura.

"Jujur aku tidak pernah membencimu, Sakura. Mungkin kau berasumsi demikian karena sikap acuh tak acuh yang aku berikan padamu. Tapi percayalah, aku tidak pernah sedikit pun membencimu" kata Deidara.

Sakura terdiam. Ini pertama kalinya ia mendengar isi hati Deidara. Sakura menatap Deidara yang sedang memandang lurus ke langit. Sakura tahu ketika seseorang berbohong, anggap saja itu kekuatan supernya. Dan Sakura sangat yakin bahwa pemuda disampingnya tidak berbohong.

"Kalau begitu kenapa kau selalu mengacuhkanku?" tanya Sakura.

"Aku.. mungkin aku takut" Deidara mendesah. Ia mengepalkan tangannya erat-erat. Sakura bahkan bisa mendengar suara tulang pemuda itu. Tapi gadis itu memutuskan untuk membiarkan Deidara melanjutkan perkataannya. "Aku takut mengecewakan ibu karena bersikap baik padamu. Walaupun jujur bagiku perilaku ibu dan bahkan Ino padamu sangat tidak logis"

Sakura termenung. Ingatannya kembali pada secarik kertas yang diberikan Kurenai padanya. Mungkinkah perilaku Inari padanya ada hubungan dengan masa lalunya?

'Tidak' gadis itu menggelengkan kepalanya. Ia sudah bertekad untuk tidak menyelidiki masa lalunya lagi. Ia tidak peduli pada orang tua kandungnya, yang membuangnya. Ia hanya ingin hidup bebas sekarang. Bebas dari kekangan keluarga Yamanaka dan masa lalunya.

"Kau kenapa?" Deidara bertanya heran ketika ia melihat Sakura terus menggelengkan kepalanya.

"Ah. Hehehe. Tidak apa-apa" Sakura menjawab malu. "Oh ia. Mengapa sekarang kau berhenti mengacuhkanku?"

Deidara tersenyum tipis. Ia membalikkan wajahnya pada Sakura, sehingga kini mereka berdua saling bertatapan. "Aku melihat semuanya kemarin. Saat kau membentak ibuku, dan menghancurkan guci kesayangannya"

Wajah Sakura memerah. Ia pikir hanya Inari yang menjadi saksi perilaku barbar-nya. Ia tahu cepat atau lambat seluruh keluarga Yamanaka akan tahu apa yang ia lakukan kemarin, tapi ia sungguh tidak menyangka bahwa Deidara menyaksikan aksi premannya kemarin. Ia jadi malu sendiri.

"Tidak usah malu begitu. Kau keren sekali kemarin" perkataan Deidara setidaknya membuat Sakura merasa lebih baik. "Tindakanmu lah yang memberikan aku alasan untuk mencoba membantumu. Kau.. mencoba melawan ibuku, dan aku rasa itu memang hal yang benar untuk dilakukan. Oleh karena itu aku akan membantumu"

Sakura menoleh cepat. Matanya menatap Deidara penuh terimakasih. "Benarkah?"

Deidara mengangguk yakin. "Tentu saja. Mengenai masalah tempat tinggal dan pekerjaan. Kau tentu tidak akan kembali ke rumahku lalu memohon ampun pada Ibu bukan?"

"Tentu saja tidak" jawab Sakura yakin. Yah, semalu-malunya dia dengan perilakunya kemarin, Sakura yakin keluar dari kediaman Yamanaka adalah pilihan yang tepat.

"Bagus kalau begitu. Aku akan meminta Ayame-san untuk mengepak baju-baju dan barang penting dari kamarmu"

"Siapa Ayame-san?"

"Oh. Dia pembantu baru. Ibu baru memperkerjakannya tadi pagi" Sakura menggumamkan kata 'Oooh'.

'Mereka mencari pembantu baru sehari setelah aku minggat? Sepertinya mereka sudah tahu aku tidak akan kembali' batinnya.

"Hey, fokus!" Deidara menjetikkan jarinya didepan wajah Sakura, ketika ia melihat gadis itu melamun lagi dan tidak mendengarkan penjelasannya.

"Ah, maaf" gadis itu meminta maaf sambil memberikan cengiran tak bersalahnya.

"Haah. Kau ini. Aku ini berniat membantumu. Dengarkan dong penjelasanku" keluh pemuda itu. Sakura sekali lagi meminta maaf. "Ya sudahlah. Oh ia, ini.." Deidara memasukkan tangannya ke dalam saku celananya kemudian menarik dompetnya. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompet itu lalu menyodorkannya pada Sakura.

"Senju Tsunade?" Sakura membaca nama yang tertera di kartu nama putih polos itu. Dibawah nama Senju Tsunade tertera tulisan Manajer Café Sanin. "Apa ini?"

"Itu adalah alamat Tsunade-san. Manajer café tempatku sering manggung dengan teman-teman bandku. Dia bilang dia masih kurang staff jadi aku menyarankan kau untuk melamar disana. Dia juga punya kost-an, kau bisa tinggal disana sementara waktu. Aku sudah menghubunginya tadi. Untuk bayaran bulan ini biar aku yang urus"

Sakura menatap haru kartu nama di tangannya. Air matanya sudah siap mengalir dari balik pelupuk matanya. Ia juga berusaha menahan isakannya yang dapat didengar Deidara.

"Oi. Kau kenapa? Kenapa malah menangis?" Deidara bertanya panik ketika ia mendengar isakan Sakura. Dan ketika ia menundukkan wajahnya untuk menatap wajah Sakura, ia bertambah panic ketika melihat air mata yang sudah siap keluar itu.

Sakura mengangkat wajahnya tiba-tiba, membuat Deidara kaget setengah mati. Baru saja Deidara ingin bertanya lagi, Sakura tiba-tiba sudah memeluknya. Jantung Deidara semakin cepat berdetak ketika ia merasakan tangan Sakura melingkari pinggangnya. Apalagi ketika ia mencium wangi shampoo Sakura ketika gadis itu menyandarkan kepalanya di dadanya. Mulut Deidara megap-megap, seakan ia kurang oksigen. Mukanya sudah semerah tomat.

"Deidara.. Nii-san.. Terimakasih. Sungguh. Terimakasih" perkataan Sakura membuat Deidara tersenyum. Pelan-pelan pemuda itu berusaha mengatur kembali detak jantungnya, kemudian membalas pelukan adik angkatnya.

"Aa. Sama-sama"


"Haruno Sakura, kau dari mana saja? Apa yang dilakukan keluarga Yamanaka padamu kali ini?" Tenten langusng menghujani Sakura dengan berbagai macam pertanyaan ketika gadis itu memasuki kelas. Tenten selalu berkesimpulan, kalau Sakura terlambat, artinya ada masalah lagi dengan keluarga Yamanaka.

"Tidak ada apa-apa kok" Sakura menjawab dengan senyum bahagia.

"Lalu kenapa telat?"

Sakura hendak menjawab pertanyaan Tenten, tetapi bel sekolah lebih dulu berbunyi. Para murid buru-buru memasuki kelas, meningat jam pelajaran pertama adalah biologi dari si guru killer Mitarashi Anko.

"Nanti saja aku jelaskan" kata Sakura yang diangguki Tenten.

Tidak sampai lima menit kemudian, sosok killer yang sudah ditunggu itu pun memasuki kelas. Suasana kelas semakin sepi ketika guru yang masih muda itu membanting setumpuk kertas diatas meja.

"Aku benar-benar kecewa dengan kelas ini" tidak ada yang berani menanggapi perkataan Anko. "Bagaimana bisa nilai rata-rata kuis kelas ini paling rendah diantara enam kelas lainnya? Selama ini apa yang kalian pelajari hah?" Kelas semakin sepi ketika Anko semakin mengamuk. Ada yang menundukkan wajahnya pasrah, ada yang meneguk ludah sendiri saking takutnya, dan ada yang sudah menahan tangis. Sakura sih santai saja. Dia yakin nilainya bagus, karena materi kuis itu sangat dikuasainya. Sakura melirik Tenten yang memainkan jarinya gugup. Ia tertawa kecil mendapati sikap teman dekatnya itu.

"Lihat ini. Lagi-lagi hanya Haruno Sakura saja yang nilainya memenuhi standar" Anko menunjukkan kertas kuis Sakura yang dihiasi angka 100.

Gaara tersenyum. Ia menatap punggung Sakura dari tampat duduknya. Rupanya Sakura pintar juga. Gaara sendiri belum mengikuti kuis tersebut karena ia pindah ke Konoha Gakuen setelah kuis ini, jadi Gaara enteng-enteng saja menanggapi amukan guru biologi ini.

"Aku sudah tidak tahu bagaimana lagi cara memperbaiki nilai kalian" erangnya putus asa. Ia berkali-kali menghela napas dalam-dalam berusaha untuk mengurangi amarahnya. Masalahnya adalah sudah berkali-kali kelas X-4 meraih nila rata-rata teranjlok diantara kelas-kelas lainnya. Dan berkali-kali pula ia ditegur kepala sekolah karena tidak ada peningkatan.

"Begini saja. Kalau sampai nila rata-rata kalian tidak naik saat kuis berikutnya, aku akan mengalihkan kelas kalian pada Orochimaru-sensei. Mungkin dengan bimbingannya, nilai kalian akan jadi lebih baik" putus Anko.

Wajah murid-murid kelas X-4 menegang seketika. Bahkan Sakura pun melotot tidak percaya dengan keputusan Anko. Gaara heran mendapati perubahan raut wajah teman-teman kelasnya. Ia menyenggol Hinata yang duduk disampingnya.

"Siapa Orochimaru-sensei?" bisiknya pada Hinata.

"Ano.. itu… Orochimaru-sensei adalah pembimbing klub olimpiade biologi di sekolah ini. Rumornya, beliau itu suka berbuat tidak senonoh pada murid laki-laki dan suka menyiksa murid perempuan dengan tugas-tugas berlebihan. Katanya, mungkin karena beliau gay" jawab Hinata dengan wajah memerah. Tentu saja karena wajah Gaara hanya beberapa senti dari telinganya.

"Oooh" gumam Gaara kemudian menarik wajahnya. Pantas saja seisi kelas jadi takut tiba-tiba.


Siang itu, ketika bel istirahat telah berbunyi, seisi kelas X-4 memilih untuk mengadakan rapat dadakan didalam kelas. Morino Idate –ketua kelas X-4- berdiri didepan kelas sambil menyilangkan tangannya didepan dada.

"Baiklah. Untuk tidak membuang waktu lagi, rapat dadakan ini aku mulai" ujarnya memulai diskusi. "Jadi saat ini kelas kita sedang dihadapkan pada mara bahaya, yaitu pengalihan guru biologi. Bagi kalian yang merasa oke-oke saja jika kelas dialihkan ke Orochimaru-sensei silahkan angkat tangan"

Sesuai perkiraan, tidak ada satu murid pun yang mengangkat tangan. Namun ketika Idate bertanya siapa yang keberatan, semuanya mengangkat tangan –bahkan Sakura dan Gaara-.

"Kalau begitu, kita harus mencari cara menaikkan nilai biologi kita pada kuis minggu depan"

"Tapi apakah itu masuk akal. Maksudku, bagaimana caranya kita menaikkan nilai biologi kita hanya dalam waktu satu minggu?" tanya seorang siswa yang duduk di pojok belakang.

"Bagaimana kalau kita tanya pada Sakura. Kan selama ini hanya dia yang nilainya bagus" usul Tenten sambil memandang Sakura.

"Usul bagus. Baiklah Sakura-san. Silahkan utarakan pendapat anda" tambah Idate. Seisi kelas otomatis memandang Sakura penuh harap. Membuat gadis itu bertambah gugup.

"Ahaha. Bagaiamana ya, nilaiku bagus kan karena aku belajar. Mungkin teman-teman perlu menambah jam belajarnya lagi" Sakura tidak tahu harus berbicara apa. Pada akhirnya hanya kalimat itu lah yang lolos dari kerongkongannya.

"Tapi biologi itu kan susah sekali, Sakura-san. Jujur saja penjelasan Anko-sensei sangat sulit dimengerti" keluh Chouji, seorang siswa tukang makan berbadan bulat yang duduk ditengah kelas.

"Kalau begitu bagaimana kalau Sakura mentutori kita semua" usulan Gaara bagaikan mata air di padang pasir bagi seisi kelas. Kebanyakan mengangguk-ngangguk setuju.

"Benar itu. Aku pernah ditutori Sakura, dan penjelasannya lebih mudah dimengerti" tambah Tenten. Murid-murid X-4 semakin antusias.

"Iya, Sakura-san. Tolong bantu kami"

"Ajari kami Sakura-san"

"Sakura-san, nasib kami bergantung padamu"

Sakura semakin berkeringat gugup mendengar permintaan penuh harap teman-teman sekelasnya. Ia menoleh pada Gaara dan memberikan tatapan 'awas kamu' yang ditanggapi Gaara dengan juluran lidahnya.

"Sakura-san!"

Sakura terkejut ketika tahu-tahu Idate sudah beridri didepan mejanya. Pemuda itu kemudian berlutut didepannya.

"Eh, Idate-san?"

"Sakura-san! Aku mohon. Tidak. Kami mohon, selamatkan kelas ini!" teriaknya sambil berlutut dalam. Beberapa murid pun langsung ikut-ikutan berlutut didepan meja Sakura. Dengan kompak mereka berseru.

"Kami mohon Sakura-san!"

Sakura melongo tidak percaya dengan pemandangan didepannya. Kalau sudah begini dia tidak punya pilihan lain lagi.

"Baiklah. Aku akan mentutori kalian semua"

"YOSSSSHH!" seisi kelas berteriak bahagia mendengar jawaban Sakura. Mereka saling berpelukan, dan tertawa bahagia. Sakura bahkan bersumpah ia melihat Idate menyeka air matanya.

"Terimakasih banyak Sakura-san" ucap Idate tulus. "Teman-teman! Mulai hari ini kita memperjuangkan kebahagiaan kita dibawah pimpinan Sakura-san. Hidup X-4!"

Sakura hanya bisa tertawa melihat tingak teman-teman kelasnya.


Suasana kantin siang itu memang ramai seperti biasanya. Tapi tidak dengan meja yang biasanya diduduki keempat pangeran Konoha Gakuen itu. Hari ini, hanya Sasuke dan Sasori saja yang tampak disana.

Sasuke menatap malas makan siangnya. Tidak ada niatan sama sekali untuk memakannya. Sejak pembicaraan mereka tadi pagi, sepertinya Neji dan Naruto menghidnarinya. Ketika bertemu di koridor, Naruto cepat-cepat berputar arah. Ketika mengerjakan tugas kelompok di kelas, Neji malah tidak menatapnya sama sekali.

'Haah. Ini semua gara-gara Haruno Sakura itu' Sasuke bersungut dalam hati.

"Tenang saja, Sasuke. Semuanya akan baik-baik saja" ujar Sasori seakan mengetahui beban pikiran bungsu Uchiha itu.

"Begitukah menurutmu?" Sasuke bertanya tak yakin.

Sasori mengangguk. "Tentu saja. Mungkin hal ini masih baru, karena kita tidak pernah membicarakan masalah cewek sebelumnya. Tapi kita sudah bersahabat sejak kecil. Hal ini tidak akan menghancurkan persahabatan kita. Naruto dan Neji hanya butuh waktu"

Sasuke tersenyum. Benar juga kata Sasori. Ini adalah pertama kalinya mereka berkelahi karena masalah perempuan, jadi mungkin masih terasa aneh. Tapi ini akan sama saja dengan perkelahian mereka yang lalu-lalu, bukan? Seperti saat Naruto mogok bicara dengan Sasuke karena Sasuke tanpa sengaja membakar dompet kodok kesayangannya. Atau seperti saat Neji dan Sasuke mencueki Sasori selama seminggu penuh karena pemuda Akasuna itu memasukkan nama mereka berdua ke Osis. Semuanya akan baik-baik saja bukan? Perkelahian ini akan segera berakhir bukan? Sasuke terus berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Lagipula apa yang ia katakan benar adanya. Dan ia katakan demi kebaikan Neji dan Naruto sendiri.

Sasuke tersadar ketika ia merasakan getaran dari balik saku celananya. Ia meraih android-nya dari sana kemudian menghela nafas berat ketika tahu bahwa ada panggilan masuk dari kakak-nya. Belakangan ini Sasuke selalu merasa bahwa setiap kali Itachi menelponya, selalu saja ada masalah yang akan terjadi setelahnya. Dengan berat hati Sasuke akhirnya mengangkat panggilan itu.

"Sasu-chan? Hallo!"

"Tidak perlu teriak begitu, baka aniki. I heard you just fine" Sasuke mengeluh ketika ia merasakan dengungan di telinganya akibat teriakan Itachi.

"Hahaha. Soalnya disana berisik sekali kedengarannya. Sasu-chan lagi di kantin ya?"

"Berhenti berbasa-basi dan katakan maumu"

"Baiklah, baiklah. Begini, sore ini kamu punya waktu kosong?"

"Tidak" Sasuke menjawab cepat. Ia sudah merasakan firasat buruk ketika Itachi bertanya seperti itu.

"Wow, that was fast" Diseberang sana Itachi berkomentar tak percaya. "Ayolah Sasu-chan, kali ini aku tidak akan memintamu mengantikkanku untuk berpidato"

Sasuke mengernyit jijik mendengar nada rayua Itachi yang berusaha terdengar manja. Sasori tertawa melihat ekspresi Sasuke.

"Lalu apa maumu?"

"Aku akan manggung dengan Akatsuki hari ini. Masa Sasori tidak memberitahumu?"

"Tidak. Dan lagipula apa yang kau lakukan. Bukankah kau baru sampai dari Korea?"

"Manggung adalah salah satu caraku menghilangkan penat. Anyway, datang ya Sasu-chan. Kau kan sudah lama tidak melihat aksi kami. Sekalian kita makan diluar"

"Aku bisa makan diluar tanpamu"

"Ini namanya quality time Sasu-chan. Ayolah"

"Baiklah. Aku akan datang nanti" putusnya karena ia sudah capek mendengar rengekan Itachi.

"Okey deh. Di tempat biasa ya, jam lima. Dadah"

Sasuke memasukkan kembali Samsung Galaxy Mega-nya kedalam saku celana-nya setalah memutuskan panggilan.

"Itachi?" tanya Sasori, walaupun sebenarnya dia yakin jika telepon barusan memang dari Itachi.

"Ya. Dia bilang dia ingin aku datang ke konser kalian nanti" jawab Sasuke. Pemuda itu sebenarnya tidak habis pikir bagaimana bisa sahabatnya Sasori, bisa menjadi anggota band Akatsuki. Memang sih Akatsuki itu cukup terkenal di Konoha. Tapi setengah membernya bahkan sudah bekerja. Sebut saja Om Kisame, si peternak ikan, atau Om Tobi si dosen seni, ada juga Tante Konan si pengrajin kertas, kakaknya Itachi –walaupun umur Itachi masih seperti umur mahasiswa kebanyakan-, Om Hidan si pendeta, Om Kakuzu si bendahara kantor, dan Om Pain si penindik anting. Sementara Sasori? Kelas tiga saja belum.

Sasuke pernah bertanya alasan dibalik terciptanya Akatsuki. Kata Sasori, awalanya memang hanya ia dan Deidara –anggota lain Akatsuki yang masih seumuran dengannya- yang awalnya ingin membuat band. Karena mereka dikelilingi mahluk-mahluk lain yang tidak mengerti musik –sebut saja Sasuke, Neji, Naruto dan Ino- mereka akhirnya merekrut orang dari luar. Dan kebetulan saja yang memiliki bakat adalah mereka-mereka yang sudah agak berumur. Jadi ya mau bagaimana lagi? Lagipula yang paling penting mereka merasa nyaman dengan anggota mereka.

"Hey" Tiba-tiba Naruto dan Neji muncul di samping meja mereka.

Sasori tersenyum, sementara Sasuke memandang mereka datar, walaupun dalam hati ia sangat berharap Neji dan Naruto sudah mau bicara lagi dengannya.

"Boleh kami duduk disini?" Neji bertanya sambil menunjuk kursi-kursi kosong di meja itu dengan dagunya.

"Kalian bahkan tidak perlu bertanya" Sasori segera menepuk kursi kosong disebelahnya yang langsung didudukki Naruto, sementara Neji menududukkan dirinya disamping Sasuke.

"Mengenai masalah hari ini…" ujar Naruto. Ia dan Neji menatap Sasuke. ".. kami minta maaf Sasuke. Tidak seharusnya kami mencuekimu"

Neji mengangguk. "Hn. Bukan berarti kami setuju dengan perkataanmu –tentang menjauhi Sakura- hanya saja kami rasa sikap kami agak kekanakan"

"Ya. Aneh bukan? Ini pertama kali kita berkelahi gara-gara cewek. Padahal dulu kita bahkan digosipkan gay" Naruto mengenang masa-masa SMP mereka. Ketika banyak teman-teman mereka yang menyanakan perihal ketertarikan mereka terhadap sesama jenis. Bahkan ada yang menggosipkan bahwa mereka berempat malah sudah lama menjalin hubungan terlarang.

"Yah, walaupun mereka lebih sering menggosipkan Sasuke dan Neji. Aku dan Naruto jelas-jelas menunjukkan ketertarikan pada perempuan" koreksi Sasori.

Keempat pemuda single itu tertawa meningat kejadian itu. Sudah lama sekali rasanya hal itu terjadi.

"Wah, kapan ya itu, sekitar empat tahun lalu bukan sih?" tanya Naruto memastikan.

"Hahaha. Ya, sepertinya" jawab Neji di sela tawanya.

"Haah. Jadi ternyata kita sudah bersahabat lebih lama dari empat tahun ya" Sasori berkata, membuat Naruto, Neji dan Sasuke menghentikan tawanya. Mereka bertiga mulai merasa seperti bernostalgia.

"Tentu saja kita kan sudah bersama sejak TK" tambah Sasuke.

"Dan masalah seperti perempuan tentu tidak akan menghancurkan persahabatan kita. Benar kan?" Naruto merangkul Sasori yang duduk disebelahnya. Niatnya sih merangkul Neji dan Sasuke juga. Tapi tangannya cuma ada dua, dan posisi duduk mereka hanya memungkinkannya merangkul Sasorui.

"Tentu saja tidak" Sasuke menjawab yakin. Mereka berempat saling bertukar senyum.

"Bagus. Suasananya bagus sekali. Kita harus merayakan ini" Naruto berkata setelah melepas rangkulannya.

"Apanya yang mau dirayakan?" Neji berkomentar. Ia merasa tidak ada yang perlu dirayakan. Toh ini kan bukan pertama kalinya mereka bertengkar.

"Yah, Neji menghancurkan suasana saja" protes Naruto sementara Neji mendelik tidak terima.

"Tapi aku setuju dengan Naruto. Bagaimana kalau kita ke Sanin? Sasori mau manggung sore nanti" usul Sasuke.

"Setuju. Sudah lama tidak lihat Akatsuki manggung" Naruto menjawab cepat.

"Hn" Neji mengangguk setuju.

"Baiklah" Sasori juga ikut mengangguk.


Sepulang sekolah, Sakura langsung menuju ke Café Sanin, yang terletak di pusat perbelanjaan Konoha Leaf City. Setelah tiga puluh menit menaiki bus dan lima menit berjalan kaki, Sakura akhirnya tiba di depan café bergaya eropa itu.

"Ah, maaf kami baru buka jam lima nanti" seorang wanita berambut pirang sepinggang menyambut Sakura ketika gadis itu membuka pintu cafe.

"Oh, saya hanya ingin mencari Tsunade-san" ujar Sakura.

"Saya Tsunade" jawab wanita pirang itu. Pandangannya meneliti Sakura dari kepala hingga ujung kakinya. Sakura terenyum gugup ketika wanita yang ternyata adalah Tsunade itu menelitinya lekat. "Kamu pasti Haruno Sakura bukan? Deirdara sudah menceritakan semuanya"

"Iya. Nama saya Haruno Sakura" Sakura membungkukkan badannya singkat.

"Senju Tsunade, itu namaku" balas Tsunade. Dilihat dari rok Sakura yang tidak kelewat pendek, seragamnya yang tidak kelewat ketat, dan rambut yang dikuncir rapi, Tsunade dapat menyimpulkan jika gadis ini adalah gadis baik-baik, persis seperti yang dikatakan Deidara. "Mulai hari ini kamu boleh bekerja paruh waktu disini"

Mata Sakura berbinar bahagia. Ia pikir ia harus interview dulu sebelum diterima, tapi agaknya ia menyadari bahwa mungkin saja Deidara sudah lebih dahulu menjelaskan keahlian serta latar belakangnya pada Tsunade. "Terimakasih, Tsunade-san. Saya akan berusaha"

Tsunade tersenyum simpul. Ia menyukai nada penuh antusiasnisme Sakura. "Baiklah. Sekarang biar aku tunjukan seluk beluk café ini. Seperti yang kamu lihat, café ini tidak terlalu besar. Hanya ada tiga puluh meja di lantai bawah dan lima belas meja di lantai atas"

Jemari Tsunade yang dipolesi kuteks merah menunjuk rentetan meja dan kursi café yang diatur dilantai satu. Satu meja kaca bundar dikelilingi empat kursi. Di ujung kanan dan kiri ruangan, terdapat tangga melingkar yang menghubungkan lantai satu dan dua. Tataan kursi dan meja di lantai dua hampir sama, hanya saja meja di lantai dua terbuat dari kayu dan berbentuk segi panjang dan sudah dilapisi taplak meja cantik berwarna merah marun.

"Hati-hati ketika membawa pesanan ke lantai dua" Tsunade menasehati yang diangguki Sakura. "Dan juga ada panggung yang digunakan band langganan kita untuk manggung"

Sakura mengikuti pandangan Tsunade ke panggung yang terletak dibagian depan. Ada dua orang pria paruh baya yang sedang berkutat dengan berbagai macam alat musik dan speaker-speaker besar, sehingga mereka tidak menyadari ketika Sakura dan Tsunade menghampiri mereka.

"Nah, mereka adalah Izumo dan Kotetsu. Mereka berdua adalah koki café ini" Tsunade memperkenalkan. Tetapi Izumo dan Kotetsu nampak masih sibuk mencolok kabel-kabel gitar ke tempatnya.

Tsunade berdeham keras, membuat perhatian Izumo dan Kotetsu teralih seketika. Mereka berdua segera menghentikkan kegiatan mereka lalu menghampiri Sakura dan Tsunade yang berdiri dibawah panggung.

"Izumo, Kotetsu, perkenalkan ini Sakura. Mulai sekarang dia akan berkeja disini" ujar Tsunade sambil menujuk Sakura yang berdiri disampingnya.

Izumo memberikan senyum andalannya –yang menurutnya bisa menggait hati wanita mana pun- "Hallo, Sakura. Namaku Izumo. Salam kenal" ia berjalan penuh percaya diri menuju Sakura, kemudian menngulurkan tangannya, mengajaknya bersalaman. Sakura hendak membalas, namun Kotetsu sudah lebih dulu menyela.

"Dasar bujang lapuk" cela Kotetsu sambil menyenggol Izumo kasar. Izumo melotot tidak terima, namun tidak digubris Kotetsu. Pria tiga puluh tahun itu malah langsung memperkenalkan dirinya pada Sakura. "Namaku Kotetsu. Salam kenal"

"Salam kenal, Izumo-san, Kotetsu-san. Mohon kerjasamanya" Sakura membungkuk singkat.

"Sore ini akan ada yang manggung disini, jadi kami berdua harus menyiapkan panggung dan menyetel alat-alat musik ini" Izumo berkata tanpa diminta. Ia menunjuk panggung yang sedari tadi di settingnya bersama Kotetsu. Satu set drum ada di bagian tengah belakang panggung. Dua buah mic yang bertengger manis di microphone stand sudah diletakkan berjajar di bagian depan, dan ada tiga buah gitar yang sedang nangkring diatas speaker hitam besar.

Tsunade hanya bisa geleng-geleng melihat sikap Izumo yang menjelaskan secara panjang lebar tentang betapa tangkasnya ia dalam men-setting panggung itu. "Hush. Sudah Izumo. Sana lanjutkan pekerjaanmu. Gitar-gitarnya masih belum beres tuh"

Tidak ingin mendapat bogeman Tsunade jika ia tidak mengikuti perintah, dengan senyum pahit, akhirnya Izumo meninggalkan Sakura, kemudian diikuti Kotetsu. Kedua koki itu lantas melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.

"Begitulah Izumo. Lagaknya sudah seperti playboy kebelet kawin" kata Tsunade pada Sakura ketika kedua pemuda itu kembali terlarut dalam kesibukan mereka. Sakura tertawa membenarkan.

"Jadi apakah setiap hari ada band yang manggung disini?" tanyanya.

"Tidak. Biasanya hanya dua atau tiga kali dalam seminggu. Dan satu-satunya band yang aku ijinkan manggung disini hanyalah Akatsuki"

Sakura mengangguk mengerti.

"Nah, jadi Sakura mulai hari ini kamu akan membantu Haku untuk melayani para tamu. Istilah kerennya sih waitress"

"Siapa Haku?" gadis itu menengok kiri kanan untuk mencari sosok yang disebutkan Tsunade. Tapi ia tidak menemukan orang lain selain dirinya, Tsunade, Izumo dan Kotetsu.

"Haku belum datang. Munkgin sebentar lagi. Nah, sementara itu, aku akan men-briefing sedikit mengenai tugasmu"

Sakura mengangguk semangat. Mulai hari ini ia akan memulai hidup barunya. Mulai hari ini ia akan terbebas dari keluarga Yamanaka, dan masa lalunya. Ia harap hidupnya akan berjalan mulus setelah ini.


Setelah mendapat penjelasan singkat dari Tsunade mengenai tugasnya, Sakura bergegas mengganti seragam sekolahnya dengan seragam café yang sudah disiapkan Tsunade diruang ganti, sebuah kemeja berlengan pendek bewarna merah dengan tulisan kecil Café Sanin di dada bagian kiri, dan sebuah rok hitam selutut. Pakaian itu membalut pas tubuh mungil Sakura, membuat gadis itu bertanya apakah pemilik seragam ini sebelumnya masih seumuran dengan dirinya.

Setelah itu, gadis tujuh belas tahun itu membantu Tsunade membersihkan café. Ia membersihkan lantai, meja dan kursi café dengan cekatan, dan Tsunade berkali-kali memujinya. Beberapa menit kemudian, Haku datang. Ia sudah rapi dengan seragam seperti yang Sakura pakai, hanya saja ia menggunakan celana kain panjang. Sakura sendiri tidak yakin jika rekan kerjanya ini perempuan atau laki-laki. Oleh karena itu ia memandang Haku lekat-lekat ketika mereka berkenalan.

"Ada apa, Sakura?" Haku bertanya heran.

"Ano, Haku-san, maaf jika ini terdengar tidak sopan. Tapi apakah Haku-san ini laki-laki?"

"Tentu saja aku ini laki-laki" jawab Haku sambil tertawa. "Jangan khawatir, banyak yang bertanya seperti itu padaku"

"Ah, aku benar-benar minta maaf" Sakura membungkuk dalam-dalam.

"Hey, hey, aku kan sudah bilang jangan khawatir" pemuda itu lagi-lagi tertawa melihat tindakan Sakura.

"Ah ia, baiklah kalau begitu" putus Sakura canggung, kemudian membantu Haku menata buku menu diatas meja konter kecil yang terletak disamping pintu dapur.

"Sore semuanya!" Sakura dan Haku menghentikan kegiatan mereka ketika mendengar suara yang mucul dari balik pintu masuk café. Keduanya menoleh dan mendapati seorang pemuda berambut merah darah yang sudah sangat Sakura kenal berdiri disana.

"Sasori-senpai?" Sakura bertanya tak percaya. Beberapa menit yang lalu, Tsunade bilang anggota Akatsuki akan segera datang untuk cek panggung. Dan tiba-tiba senpai-nya itu muncul disini. "Apakah senpai anggota Akatsuki?"

Sasori mengangguk kemudian berjalan menghampiri meja konter. "Sore Haku-san" sapanya pada Haku yang membalas dengan anggukan. "Sore Sakura"

"Ah, sore" Sakura menjawab lemas.

Sasori menatap Sakura dengan cemberut. "Hey, apa-apaan ini Sakura. Mengapa kau jadi lemas begitu ketika melihatku?"

Sakura mengerucutkan bibirnya sebal. "Habis kalau senpai ada disini, berarti teman-teman senpai juga akan kesini bukan?"

"Biasanya sih mereka jarang melihatku manggung. Hampir tidak pernah malah. Soalnya mereka tidak terlalu tertarik dengan musik sih" jawaban Sasori membuat Sakura merasakan semangatnya kembali naik. "Tapi kau sedang beruntung Sakura. Karena hari ini kami berempat janjian akan berkumpul disini" dan Sakura merasakan semangatnya kembali merosot.

"Wah, wah, kalian sepertinya sudah akrab sekali ya?" pertanyaan Haku malah membuat muka Sakura bertambah asam. Lain lagi dengan Sasori yang dengan senyum lebarnya merangkul Sakura.

"Tentu saja Haku-san. Kami berdua adalah teman baik. Benar kan Sakura?"

Sakura menatap tidak percaya sikap ke-geeran senpai-nya. Ia memandang Haku dan menggeleng seolah menagatakan bahwa ia dan Sasori hanya orang asing yang tidak saling mengenal.

"Sore" tiba-tiba dari balik pintu masuk, sebuah suara kembali menyeruak. Disana berdiri Deidara dan beberapa anggota Akatsuki lainnya. Pemuda pirang itu melangkah duluan menghampiri meja konter.

"Aku lihat kau sudah siap bekerja ya Sakura" ucapnya sambil meneliti penampilan Sakura yang sudah rapi dengan seragam kerjanya.

"Tentu saja" gadis itu menjawab dengan senyuman. "Sekali lagi terimakasih ya, Deidara"

Deidara mengangkat tangannya dan meletakannya dipuncak kepala adik angkatnya, kemudian mengacak rambut Sakura dengan lembut. "Dan sekali lagi, sama-sama, Sakura" mereka berdua saling bertukar senyum, tanpa menyadari tatapan datar Sasori.

"Hey, waitress baru ya?" seorang pemuda dengan rambut jabrik yang dicat oranye bertanya. Ia dan teman-temannya meletakkan tas mereka di kursi café yang terletak didekat meja konter.

"Iya. Nama saya Haruno Sakura. Salam kenal. Anda sekalian pasti anggota Akatsuki?"

"Tidak usah seformal itu Sakura-chan" Sakura terkejut bukan main kita didepan wajahnya tiba-tiba muncul sesosok manusia dengan topeng oranye yang hanya menunjukkan sebelah matanya yang berwarna merah darah.

"Hey, kau tidak lihat Sakura ketakutan" Sasori menarik ujung kerah baju sosok itu agar menjauh dari Sakura.

"Dia bukan hantu, Sakura. Namanya Tobi. Dan yah, walaupun sudah agak berumur dia masih seperti anak-anak begitu" jelas Deidara sambil menunjuk sosok itu –Tobi- yang kini tengah adu mulut dengan Sasori.

"Oh, begitu" Sakura menghela nafas lega. Bisa mati muda dia jika setiap hari mendapatkan teman baru seperti Tobi.

"Nah, itu anggota Akatsuki yang lain. Karena kau akan bekerja disini, mungkin akan lebih baik jika kau membiasakan diri dengan kami" Deidara kemudian meneunjuk kerumunan orang-orang di satu-satunya meja yang sedang terisi –mengingat belum waktunya café itu buka-

Deidara dengan berbaik hati memperkenalkannya pada anggota Akatsuki. Bahkan mewanti-wanti mereka agar memperlakukan Sakura dengan baik.

Sakura tersenyum. Ia benar-benar tidak percaya dengan perubahan sikap Deidara. Rasanya seperti mimpi saja, ketika kakak angkatnya yang memberikannya perlakuan 'cold shoulder' selama sepuluh tahun tiba-tiba menjadi begitu peduli dengannya.

"Ada.. ada apa?" tanya Deidara gugup ketika pemuda itu mendapati Sakura menatapnya sambil tersenyum. Jantungnya bisa copot jika Sakura terus menatapnya seperti itu.

Sakura menggeleng. "Bukan apa-apa" jawabnya masih dengan senyum dan tatapan yang sama, yang membuat Deidara semakin sulit bernafas, dan mukanya semakin merah.

TBC