Kaga: fuah, Kaga muncul dari balik kabut *ditendang

Degel: kabut?

Kaga: biar aja sih ayah nih rese aja xD

Degel: *deathglare

Kaga: oke mari kita lanjut ke chapter selanjutnya… etto siapa ya yang bakal jadi korban setannya xD

Here we go

The Ice Roses Prince

Sisyphus bahkan Kardia sendiri yang melayani pemuda berambut hitam panjang misterius yang duduk di bangku ke 13 itu tidak sadar sedang di perhatikan, dari ujung rambut sampai ujung kaki. *diAntares

Pemuda itu masih diam memperhatikan Kardia sambil menyeruput minumannya.

Sampai, "Yo Kardia," Milo adik Kardia datang dengan membawa Camus yang mengikutinya dai belakang.

Kardia menolehkan kepalanya menatap sosok berambut pirang bergelombang panjang yang berjalan mendekatinya dengan sosok mirip Degel tapi bersurai merah, "yo. Mau apa kau kesini setan kecil?" tanya Kardia dengan tatapan mengejek yang dilontarkan pada Milo.

"Setan kecil? Kau itu biangnya!" Milo memalingkasn wajahnya, "Huuh, aku kesini hanya mampir memberitahukanmu bahwa besok aku akan pergi menginap dengan Camus dan teman-teman dipedalaman gunung. Mungkin selama dua hari aku tidak pulang," jawabnya menjelaskan.

"Waah camping ya? Sepertinya seru. Tapi jangan-jangan kau kesini karena…" menatap tajam sang adik yang cengar-cengir ga jelas. *diDoubleScarlett

"Hehe iya, tolong dong Kardia. Adikmu yang manis ini kan sama sekali belum punya penghasilan, hanya untuk pegangan nanti kukembalikan. Janji," tangannya sudah mengadah meminta kepada sang kakak.

Kardia menghela napasnya, iya memang semenjak ditinggal orang tua mereka Kardia harus membiayai kehidupannya juga sekolah adiknya.

Dengan sangat terpaksa ia merogoh kantongnya untuk mengambil sebuah dompet kusam warna coklat tapi tebal, "uangku hanya tinggal sedikit. Ganti ya," ia mengeluarkan 2 lembar 100ribuan dan memberikannya pada sang adik.

Dengan wajah berbinar bahagia Milo menerima 2 lembaran 100ribuan itu, "tenang saja kakakku tersayang. Uang ini akan kujaga baik-baik," ia memasukkannya kedalam dompet hitam yang tipis.

.Kaga: miris amat… tipis, jadi ingat waktu sekolah… dompet tipis… T.T

.Degel: lanjutkan saja!

"Sudah kan?" tanya Kardia melirik sang adik.

"Oh iya. Kardia, akhir-akhir ini aku mendengar berita aneh, aku tak tahu berita apa itu. Tapi hati-hati saat kau pulang nanti," kata Milo memperingatkan kakaknya.

"Heh, kau kira aku ini siapa? Tenang saja, sudah kau pulang sana, masak buatku," Kardia nyengir lebar.

Milo menghela napas, "ya sudahlah. Ayo Camus, kami pulang dulu ya, Kardia," Milo menggaet Camus dan keluar dari toko.

Setelah Milo dan Camus keluar, pemuda berambut hitam panjang nan misterius yang duduk di bangku nomor 13 itu menghilang, Kardia sama sekali tak menyadarinya pengunjungnya menghilang.

"Oke waktunya tutup. Sisyphus, aku pulang ya," Kardia pamit pada Sisyphus setelah bebersih.

"Oke, hati-hati," Sisyphus siap mengunci pintu cafenya.

Kardia tak langsung pulang, seperti biasa ia pergi mengunjungi café Degel yang tutup satu jam lebih lambat dari café milik Sisyphus, tempat ia bekerja.

"Hai Degel," sapa Kardia saat sampai di depan pintu café Aqua milik Degel.

Lelaki dengan surai hijau toska itu menoleh dan tersenyum, "selamat sore Kardia. Kau sudah pulang ya," ia menghampiri Kardia.

"Ya, selamat sore. Kau mau pulang kan? Kubantu bersih-bersih ya," Kardia meletakkan tas dan jaketnya di meja dan membantu merapikan kursi-kursi yang masih berserakan, sedangkan Degel menyapu lantai.

Saat masih bebersih di café milik Degel, handphone Kardia tiba-tiba bordering, dengan segera ia menjawabnya.

"Halo"

"Kardia-senpai. Milo keadaannya gawat!" suara Camus terdengar dari seberang telepon.

"Apa? Milo? Apa yang terjadi Camus?! Kenapa Milo?" tanya Kardia panik mendengar keadaan adiknya dari sahabat adiknya.

"Akan kuceritakan nanti, sekarang tolong ke rumah sakit xxx di kamar nomor xxxx," Camus memberitahukan posisi mereka dan menutup teleponnya.

Kardia menggenggam erat handphonenya.

"Kardia… pergilah, adikmu membutuhkanmu. Aku masih bisa melakukannya sendiri," Degel menggenggam tangan Kardia dengan erat.

Begitu juga sebaliknya, Kardia menggenggam tangan Degel dengan erat, "kutemani sampai kau selesai. Aku khawatir," kata Kardia.

Tapi, Degel menggeleng, "jangan! Adikmu sekarang lebih membutuhkanmu, aku akan menyusulmu, aku janji. Pergilah," Degel tersenyum.

Akhirnya Kardia pun mengangguk pelan, "aku pergi," dengan segera ia lesatkan kakinya menuju rumah sakit dimana adiknya Milo di rawat, menuju kamar Milo.

"MILO!" seru Kardia saat sampai di rumah sakit dan memasuki kamar yang dikatakan Camus.

"Kardia-senpai… tolong jangan berisik dulu, Milo baru saja bisa tidur," Camus menghampiri Kardia yang baru datang, terlihat kain putih yang ternoda darah melilit di dahi mulus Camus. Dibelakang Camus terlihat Milo terbaring lemah dengan beberapa noda darah, juga dokter dan suster yang sedang memeriksanya.

"Apa yang terjadi? Camus, kau tidak apa-apa?" tanya Kardia terlihat benar-benar cemas dan khawatir.

Camus mengajak Kardia keluar, "Kardia-senpai… apa kau memiliki musuh?" tanya Camus dan hanya dijawab oleh gelengan kepala dari Kardia, "kami diserang seseorang, dia terus bertanya lelaki berambut biru panjang bergelombang. Milo sadar yang dicari orang yang menyerang kami adalah kau, Kardia-senpai, tanpa tahu siapa yang kami lawan. Milo segera menarik tanganku dan melarikan diri, aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Begitu sadar kami sudah berada di rumah sakit ini," Camus menjelaskan dengan kepala tertunduk.

Mendengar itu, Kardia menggenggam erat tangannya yang terkepal, matanya berkilat marah. Ia tak menyangka bahwa akan ada yang menyerang adiknya seperti ini.

"Kardia-senpai… kau yakin tak memiliki musuh? Di tempat kerjamu atau sekolahmu yang dulu?" tanya Camus lagi.

"Aku… aku tidak memiliki musuh, aku yakin! Tak ada musuh sama sekali! Ini hanya ulah anak-anak yang jahil!" Kardia mulai terbawa emosi.

"Kardia-senpai… maaf jika ini menyinggungmu. Tapi aku sama sekali tak berbohong, pemuda dengan rambut hitam panjang itu memang mencarimu," Camus menatap Kardia yang terbawa emosi.

Kardia terkejut, ia sadar dirinya sudah terbawa emosi, "maaf Camus… tapi, aku sama sekali tak memiliki musuh. Tak di sekolah atau di tempat kerjaku sekarang," Kardia memegangi kepalanya, ia bingung siapa yang tega melukai adiknya seperti ini.

Tak lama kemudian seorang suster keluar, "yang bernama Kardia?" tanya suster itu.

"Aku Kardia sus, ada apa? Kenapa adik saya?" tanya Kardia segera bangun dengan panik, dan menghadap sang suster.

"Pasien, daritadi menyebut nama anda, mohon temui dia dengan dokter. Saya permisi dulu untuk mengambil transfusi darah," sang suster segera pergi dan menghilang ditikungan lorong rumah sakit.

Tanpa berpikir Kardia segera masuk untuk melihat adik tercintanya, dokter itu masih mengecek detak jantung Milo dengan stetoskop yang tergantung dilehernya.

"Dok, apa yang terjadi pada adik saya? Dia tidak apa-apa kan?" tanya Kardia, ia terlihat lemas dari biasanya.

Sang dokter menatap Kardia, "anda yang bernama Kardia? Adik anda mengalami pendarahan otak dan cedera parah pada rusuknya," jawab sang dokter. "Tapi saya akan melakukan yang saya mampu, tenanglah, saya akan menyelamatkan adik anda," dokter itu tersenyum berusaha menenangkan Kardia yang khawatir setengah mati.

Kardia masih lemas, dan akhirnya mengangguk pelan, matanya tertuju pada Milo yang masih menutup rapat matanya, "saya mohon dok, jaga adik saya," Kardia membungkuk dalam, setetes air mata terjatuh dari pelupuk matanya.

.Kaga: huwaaaa! Paman Kardia menangis? Momen yang sangat langka! xD

.Kardia: *deathglare*siapmelontarkanAntares

.Kaga: hiiii! KABUR! *kaburbawakompi

Setelah sang dokter pergi, Kardia pun keluar kamar dan menemukan Degel sudah berdiri berbicara dengan Camus.

"Degel?" tanya Kardia bingung menatap sosok Degel yang sudah ada dihadapannya.

Degel tersenyum, "aku sudah membayarkan administrasinya," katanya masih dengan senyum yang sama.

"Apa? Degel, terima kasih banyak. Aku berhutang padamu," refleks Kardia langsung memeluk Degel dengan erat.

Semburat merah terpancar dari wajah putih nan mulus Degel, "K…Kardia…" terlihat wajah malu Degel.

"Oh, ma-maaf ya Degel… tapi terima kasih," Kardia tersenyum kecil dan tertunduk lagi, "kau kenal lelaki dengan rambut hitam panjang?" tanya Kardia.

"Rambut hitam panjang?" tanya Degel lalu ia berpikir sebentar, sampai matanya membulat saat ia teringat seuatu, "aku tahu… tapi aku tak yakin itu dia," jawab Degel.

Sekali lagi terlihat Kardia mengepalkan tangannya, "siapa dia?" tanyanya berusaha mengendalikan emosinya, matanya sudah berkilat marah dan mengerikan.

Kali ini Degel terlihat takut, ini pertama kalinya ia melihat Kardia begitu marah, "aku tak yakin. Tapi aku bisa membawamu," Degel sedikit tak berani menatap mata Kardia yang marah.

"Besok kujemput kau di café, tutup saja dulu untuk besok," Kardia bangkit dan bergegas masuk ke kamar Milo.

Degel mengangguk pelan, Kardia terlihat begitu marah.

T.B.C

Kaga: oke oke, chap ini selesai instan… kalau lagi ada ide cepat selesai, tapi kalau lagi buntu ide bisa berhari-hari… hauuufffhhh… v.v

Degel: aku takut pada Kardia? Kalimat itu harus dikoreksi Kaga!

Kaga: eh, itu… sedikit kan ayah… hehe ^^"

Kardia: aku terlihat mengerikan, Milo mati juga tak apa-apa…

Milo: apa? Kardia!

Alone: well, ditunggu repiuwnya ya, onegaishimasu… arigatougozaimasu… *bows

Kaga: eh? Lho kok Alone? Yaaah, onegaishimasu… *membungkuk