Gomen telat apdet. Saya beneran malas ngetik bwt ngelanjutin fic-digampar.

Bentar ge ujian minna… doain saya ya… moga nilai AB doang… doa minna kan manjur(?)

Chap lalu saya ga bermaksud membuat sasu terkesan perv. Kebetulan di film "waterworld" saya suka adegan ngasih napas buatan di dalam air, karna si cowo seorang mutan n punya insang. Di fic ini, jadinya bgitu deh, sasu terkesan perv.

Disclaimer : Berapa kalipun saya bilang, Naruto milik Saya. Ditimpuk-ketahuan bohong. Naruto milik Masashi Kishimoto. Fic ini baru milik saya.
Saya penasaran bgt ama ending Naruto. Ada yang tahu endingnya, Minna?

Pair: SasuHina

Genre: Romance-mungkin?

Rated: tetep T

Warning : OOC, AU, Typo, pendek, deskripsi kurang dan kekurangan lainnya. Maf kalo ngeboringin. Sesuai asas Don't Like. Don't Read. Udah diperingatin, jangan ampe nyela pair saya tercinta-halah

Happy Reading

Chap Before

"Uhuk-uhuk!" Akhirnya Hinata sadar dan mengeluarkan air kolam yang masuk ke dalam tubuhnya. Dengan cepat Sasuke memeluknya.

"Jangan lakukan. Jangan lakukan lagi!" Sasuke berteriak kencang. "Jangan pernah tinggalkan aku sendiri!" Sasuke berteriak. Sasuke melepas pelukannya, dan membawa Hinata dalam ciumannya yang hangat dan lembut.

Hinata menangis di tengah ciuman hangat itu, perlahan gadis indigo itu tersenyum, terlihat dari matanya. Hinata membalas ciuman Sasuke. Keduanya benar-benar melupakan perasaan yang dulu sakit. Hinata benar-benar melupakan perasaannya yang sakit akibat Sai. Dan Sasuke benar-benar melupakan perasaannya yang sakit akibat Hinata yang menyukai Sai. Keduanya tidak lagi merasakan sakit yang menyelimuti hati mereka dulu.

Algebra Chapter 5

"Sebaiknya kita membeli pakaian kering." Tangan Sasuke meraih lengan Hinata membantu Hinata berdiri. Namun, gadis itu masih sulit berdiri, sehingga tangan pucat Sasuke merangkul pinggang mungil Hinata. Wajah Hinata memerah, wajahnya memang sering memerah bila bersama Sasuke akhir-akhir ini. Sasuke kembali membawa Hinata ke tempat peminjaman alat pancing tadi.

Sasuke mengembalikan peralatan pancing yang telah mereka sewa. Pemuda berabut raven memikirkan cara mendapatkan baju yang kering. Akhirnya Sasuke menyuruh seseorang untuk membelikan pakaian untuknya dan Hinata, sementara mereka sendiri menunggu di tempat itu. Baju mereka yang basah tidak memungkinkan untuk mereka membeli baju sendiri.

Sasuke menarik tubuh Hinata ke dalam dada bidangnya. Pipi Hinata kembali memerah bagai tomat, buah kesukaan Sasuke. "Apa… sudah hangat? Lebih baik begini." Ucap Sasuke berusaha menghangatkan tubuh Hinata padahal baju mereka berdua sama-sama masih basah*apanya yang hangat?-plak*. Hinata hanya menunduk malu. 'Kalau begini, lama-lama aku akan menjadi putri malu' Hinata membatin.

0o0o0

"Ini Tuan, Nona!" Seorang Pemuda berambut mangkok, menyerahkan kantong belanja berisi baju Sasuke dan Hinata yang masih baru. "Lain kali… berhati-hatilah lagi!" Ucap(?)nya semangat sambil mengangkat jempol dan tersenyum memamerkan gigi putihnya seraya terdengar bunyi aneh saat dia memamerkan giginya. Sasuke dan Hinata hanya diam tak menanggapi, tak peduli dengan makhluk itu tampaknya.

Sasuke menyuruh Hinata terlebih dahulu mengganti pakaiannya dalam WC umum di tempat itu. Sasuke duduk di sebuah bangku kayu, dia tersenyum puas dalam hatinya menyadari perkembangan hubungannya dengan Hinata. 'Kami sering pergi berdua saja. Apa bisa dibilang kencan? Apa sudah bisa dibilang kalau dia itu kekasihku, bukan ya?' Batinnya. Sasuke kesulitan menahan senyumnya bila memikirkan pertanyaan itu. 'Atau belum?' Senyumnya hilang.

"Aku sudah siap, Sasuke-kun." Hinata keluar dari WC umum dengan baju barunya menyadarkan Sasuke dari alam khayalan, pemuda raven-pun menggantikan posisi Hinata menukar bajunya.

0o0o0

"Apa kau ingin langsung pulang?" Sasuke bertanya pada Hinata yang berjalan di sebelahnya, kedua tangan mereka terkait. Mereka mendekati mobil hitam milik Sasuke, keduanya akan segera meninggalkan kolam pemancingan itu.

"Tidak. Kau mau menemaniku, Sasuke-kun?" Hinata bertanya penuh harap.

"Hn. Kemana?"

"Ke suatu tempat." Ucap Hinata dan tersenyum manis pada pemuda yang kini berdiri di hadapannya. Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Ayo! Aku akan tunjukan jalannya." Hinata melepaskan tautan jarinya dengan Sasuke dan mendahului masuk ke mobil hitam itu. Sasuke yang masih tampak bingung hanya mengikuti Hinata.

"Jadi... kemana?" Pemuda itu masih saja penasaran.

"Hey... jalankan saja dulu mobilnya." Hinata tampak tak mau mengalah. Sasuke hanya menghela napas dan mulai memacu mobilnya.

0o0o0

"Kaasan… Ini… Sasuke-kun." Hinata tampak berbicara dengan batu nisan berwarna abu-abu di hadapannya. Lututnya ditekuk sehingga kakinya menyentuh rumput hijau. Tangannya asik mencabut rumput liar di atas pusara itu. Matanya kini beralih. "Hanabi-chan… kenalkan… ini Sasuke-kun." Hinata menatap pusara yang lain, tepat di sebelah pusara yang pertama. Sasuke membungkukkan badannya membentuk sudut 90°. "Sasuke-kun… ini Okaasan dan Imouto-ku." Hinata memberi informasi tanpa memandang Sasuke.

"Salam." Ungkap Sasuke. 'Aku akan menjaga putri dan kakak anda berdua.' Sasuke berujar dalam Hati.

"Aku berjanji akan membawa kekasihku kesini Sasuke-kun." Hinata berkata lalu terdiam. "Aku berjanji mengenalkannya pada mereka berdua. Jadi, aku membawamu kesini." Hinata akhirnya berbicara dengan menatap Sasuke.

"Ja-jadi, kita?" Sasuke tergagap. "Hhmn… Sepasang kekasih?" Sasuke sadar dari gagapnya.

"Entahlah. Kau menganggapku apa?" Hinata tersenyum kecil melihat Sasuke yang salah tingkah, sangat OOC. Hinata menerawang menatap kedua nisan itu. "Andai mereka ada di sini, Sasuke-kun." Air mata perlahan turun membasahi pipi Hinata. Sasuke dapat mendengar isakan tangis yang baru saja meluncur dari bibir Hinata. "Tenanglah, Hinata." Sasuke berusaha menenangkan Hinata, ikut bersimpuh di depan nisan tepat di samping gadis itu.

"Aku… sangat merindukan mereka berdua, Sasuke-kun." Hinata semakin terisak. Sasuke mengguncang bahu Hinata pelan.

"Mereka tidak akan senang bila kau menangis begini." Sasuke beujar lagi. Hinata menatap hampa udara di depannya. Sasuke meletakkan sebuket bunga mawar putih di masing-masing pusara dan membawa Hinata bangkit meninggalkan tempat itu. "Ayo!" Lanjutnya.

0o0o0

Sasuke menurunkan Hinata di depan pintu gerbang Mansion Hyuuga. Hinata menawarkan Sasuke untuk masuk ke dalam, namun Sasuke menolaknya karena ada keperluan lain. Hinata menatap mobil hitam yang semakin menjauhinya. Senyum simpul terlukis di wajah Hinata.

Hinata melangkah memasuki mansion itu. Sampainya di dalam, Hinata tidak bertemu siapapun siang itu. Jadi, Hinata langsung menuju ruang makan untuk menikmati makan siang. Saat ini, memang telah memasuki waktu makan siang.

Setelah beberapa saat, terdengar suara Neji di ruang makan. "Kau sudah pulang, Hinata-chan?" Neji memasuki ruang makan Mansion Hyuuga setelah beberapa saat Hinata menikmati makan siangnya. Hinata hanya mengangguk sambil mengunyah makan siangnya. Neji ikut duduk bersama Hinata untuk makan siang. "Kau pergi dengan Sasuke, bukan?" Neji bertanya dengan wajah datarnya. Hinata hanya mengangguk lagi.

"Aku pergi ke tempat pemancingan, Neji-nii." Hinata meneguk gelas berisi air mineral.

"Bukankah Otousan sudah memberi tahumu untuk jangan terlalu akrab dengannya." Neji berbicara sambil mengisi gelasnya dengan cairan tak berwarna yang sama dengan Hinata.

"Aa. Aku hanya menemaninya weekend. Lagi pula, dia temanku, aku tidak enak menolak ajakannya." Hinata menjelaskan dan tersenyum canggung pada Neji, dia tidak memberi tahu tentang hubungannya dengan Sasuke yang sebenarnya. Hinata tahu bahwa Neji tidak terlalu suka dengan Sasuke.

Rahang Neji nampak mengeras, gigi-giginya saling menekan, menahan emosi. Neji menatap adiknya itu. "Aku tidak suka dengannya, Hinata. Sebaiknya, kau jangan dekat dengannya. Apalagi memiliki hubungan dengannya." Neji bicara datar.

"Kami hanya berteman." Hinata berbohong. "Lagi pula, aniki belum mengenalnya dengan baikkan?" Hinata membela Sasuke.

"Tidak perlu mengenalnya untuk mengetahui perangai Uchiha. Menjauhlah darinya, dia akan membawa masalah untukmu!" Neji akhirnya berteriak, berdiri dari duduknya sambil menunjuk-nunjuk ke arah Hinata. Dia meninggalkan ruang makan setelah meneriaki Hinata. Hinata hanya terdiam dan menunduk. 'Aniki belum mengenalnya.' Batin Hinata masih membela Sasuke. Hinatapun beranjak dari ruangan itu, segaris air mata mengalir melewati pipi mulusnya.

0o0o0

Di sudut kantin yang sepi, tampak sepasang kekasih yang tidak dipublikasikan, sedang bercengkrama. Dari sudut itu terdengar tawa Hinata yang mengiringi obrolan mereka berdua. Bila sedang mujur, dapat dilihat senyum yang sangat tipis, melengkung dari bibir Sasuke. Mereka memang semakin sering terlihat bersama, tentu saja karena status mereka yang cukup jelas saat ini, sepasang kekasih.

Setelah makan siang mereka habis, Sasuke memutuskan untuk kembali ke kelas. Hinata memang tidak memiliki jam kuliah setelah makan siang, namun dia ada bimbingan belajar dengan Sasuke. Jadi, Hinata menunggu Sasuke menyelesaikan kuliahnya siang itu. Hinata melangkahkan kakinya menuju perpustakaan mini di Hima Pentika, membaca komik mungkin bisa menemaninya menghindari kebosanan selagi menunggu Sasuke.

0o0o0

"Jangan seperti itu, Hinata." Sasuke mengoreksi latihan yang dibuat Hinata, kuliah Sasuke memang telah selesai dan kini pemuda itu sibuk membimbing kekasihnya. "Lebih baik menggunakan Teorema 1.2 saja, seperti ini." Hinata hanya mengangguk dan memperbaiki apa yang ditulisnya. Sementara itu, Sasuke sibuk mengamati Hinata, kekasihnya. Senyum Sasuke mengembang mengamati tingkah laku Hinata, yang menurut pemuda itu lucu.

Di salah satu lorong kampus Universitas Konoha, Neji tampak tergesa-gesa. Rambut coklatnya berkibar berlawanan dengan gerakan kepalanya, membuat para gadis di sekitarnya mengigit bibir kerena kagum. Matanya mengamati sekelilingnya, dia mencari seseorang.

Perlahan, Sasuke mendekatkan dirinya dengan Hinata. Glek! Dia menelan ludah. Sasuke mendekatkan bibirnya dengan bibir mungil Hinata. Hinata yang menyadari tindakan Sasuke tidak dapat berbuat apa-apa, menurutnya ini adalah hal yang wajar untuk sepasang kekasih. Jantungnya berdetak lebih cepat, tubuhnya memanas dan wajahnya memerah. Jarak keduanya hanya beberapa centi. Hinata menutup matanya perlahan. Sasuke telah benar-benar menciumnya. Hinata dan Sasuke saling menutup mata. Tidak ada nafsu dalam ciuman itu, hanya ada kelembutan bagai madu.

Mata lavender Neji membulat saat mendapati Hinata dan Sasuke yang berciuman di salah satu ruang kelas. Langkahnya semakin tergesa-gesa. Matanya semakin nyalang. Kini, Neji telah sampai di hadapan pemuda raven. Tangan kekarnya menarik kerah kemeja Sasuke. Sasuke tampak terkejut memandang wajah Neji yang diselimuti amarah. Tangan kanan pemuda lavender itu terkepal, dengan cepat tinjunya melayang ke pipi Sasuke.

Sasuke tersungkur di lantai keramik yang dingin. Cairan kental berwarna merah mengalir dari sudut bibirnya. Hinata menatap panik pada Sasuke yang terjatuh. Hinata mendekati Sasuke namun, tarikan tangan Neji pada tangannya menghentikan pergerakkan Hinata. "Jangan mendekati adikku lagi, Uchiha!" Neji berteriak pada Sasuke, kali ini kakinya menendang Sasuke yang telah tersungkur. Neji menendang beberapa kali di perut serta di punggung Sasuke.

Neji setengah menyeret Hinata. Pemuda berambut coklat itu menarik tangan Hinata untuk mengikutinya. Hinata menahan tangisnya saat Neji menariknya. Dia ingin bersama Sasuke, menanyai keadaanya dan mengobati luka yang telah dibuat oleh Neji. Tapi, Neji membawanya menjauh dari Sasuke. Sasuke hanya menatap sedih kepergian Hinata. Sasuke menyadari tidak akan mudah untuk dekat dengan Hinata mulai saat ini. Pemuda raven menghela napas berat.

To be Continued

Hahh… gimana?

Thx yang udah review kemaren…

, Haze kazuki, Haruno Aoi, Sora Hinase, Dark UciKaze, Masahiro 'Night' Seiran, harunaru chan muach, BubbleBloom, Ai Mishima, Ya2IchiGo-KuaraiNeko, demikooo, indonesian READER, Kumiko Fukushima, Nanairo Zoacha... semuanya telah saya pm...review lagi ya... juga...

Shaniechan : saya juga suka adegan(?) itu... ini udah apdet... rnr lagi ya... arigato

MeraiKudo : apa sasuhina disini telah hangat?*yang ada udah mulai panas... ne udah apdet, rnr lage? Arigato

ulva-chan : maf klo pendek... sya emang kurang bisa bikin chap panjang... makanya fic saya rata2 satiap chap pendek... tapi akan saya usahakan panjang... rnr? Arigato

Hina bee lover : gomen apdet lama... rnr lage?

ika-chan : rnr lage ya... arigato

Dindahatake : gomen ne telat apdet... rnr lage ya... arigato

Hyuga beca chan : udah apdet... rnr lage ya... arigato

Maff kalo chap ini mengecewakan *pundung

Maff kalo semua chap.x mengecewakan *semakin pundung

Review ya?