Disclaimer: Bleach © Tite Kubo-Sensei
Thanks untuk reviewnya...
Jee-Eugene : Terima kasih atas masukannya, aku jadi terbantu sekali *peyuk peyuk Jee-Eugene*
Denireykinawa : Aku akan jelaskan siapa sosok Ayah dan Ibu dalam fict ini, tapi jangan kaget kalau mereka juga OOC *ayo ktia keroyok Nakki*
Chizuru Yuuki : Sebenarnya semua yang ada dalam fict ini sangat OOC, gomen ne *ditimpuk rame-rame*
Title : To Make You Feel My Love
By : Nakki Desinta
Pairing : Byaruki
Chapter 5 : Byakuya vs Ichigo Part 1
Sedikit demi sedikit Byakuya menyadari bahwa keputusannya memanfaatkan Isane untuk mempermudah jalannya untuk menjauhi Rukia sangatlah salah. Semua malah berbalik padanya, Isane seperti roh gentayangan yang selalu membayangi ke manapun ia pergi, namun di sisi lain dia berhasil membuat Rukia makin kesal setiap kali melihatnya bersama Isane.
Isane benar-benar perempuan yang baik, sekaligus mengerikan.
Yang paling parah adalah siang ini, Byakuya sedang latihan bersama Grimmjow dan Hisagi, tiba-tiba Isane datang, memaksa Byakuya dan yang lain rehat selama setengah jam hanya untuk menikmati makan siang yang ia siapkan dari rumah. Bencana besar bagi mereka karena mereka langsung buang-buang air setelah menghabiskan makanan dari Isane, mereka juga terpaksa tinggal dalam klinik kampus, menikmati derita karena makanan yang berpenampilan indah namun membawa sial itu. Makanan dari Isane.
Isane memasang wajah paling merasa bersalah sementara Byakuya semakin pucat karena sudah belasan kali bolak balik toilet.
"Sepertinya aku memasukkan bahan yang salah," kata Isane seraya mengusap dahi Byakuya yang basah oleh keringat. Byakuya hanya mampu menghindar dengan gerakan lambat yang tidak berarti apa-apa.
"Aku bersumpah tidak akan makan apapun lagi darimu, Isane!" ucap Grimmjow yang meringkuk di ranjang, merasakan perutnya kontraksi lagi.
"Kau jahat, Grimmjow." Isane menunjukkan matanya yang sudah berkaca-kaca, terluka oleh kata-kata Grimmjow.
"Lain kali aku akan meminta kucingku untuk mencicipi semua makanan darimu," sahut Hisagi yang tak kalah kesalnya dengan kelakuan Isane, padahal jika ia tidak berada di dekat Byakuya mungkin dia tidak akan mengalami hal ini juga.
"A.. a..," erang Byakuya sambil memegangi perutnya yang melilit, dengan langkah gontai ia beranjak dari ranjang dan melangkah menuju toilet. Kakinya sudah luar biasa lemah, terlalu lelah dan kehilangan banyak cairan, membuat langkahnya lambat, dan tidak mendukung kebutuhan mendesak yang datang dari perutnya.
"Bisa jebol duluan bendunganmu, Byakuya," celetuk Grimmjow sambil nyengir pasrah, lucu melihat Byakuya yang seperti itu, sekaligus menertawakan dirinya yang tidak lama lagi mungkin akan bernasib sama dengan Byakuya.
"Mau aku bantu, Byakuya?" Isane menghampiri dan meraih tangan Byakuya, tapi Byakuya menolaknya, dan memilih berjuang dengan tenaganya sendiri.
"Dia mungkin akan pingsan di toilet," tambah Hisagi saat Byakuya hampir memasuki toilet.
Byakuya merasa sangat tersiksa, jarak antara ranjang ke toilet tidak lebih dari lima meter, namun seperti berkilo-kilo meter, dia harus susah payah untuk menahan dirinya agar tidak lepas kendali, atau apa yang Grimmjow akan menjadi kenyataan, sungguh mengerikan. Mau ditaruh dimana muka seorang Kuchiki Byakuya?
Dokter jaga klinik yang super nyentrik dengan make up tebal dan tatanan rambut aneh, Dokter Kurotsuchi, menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir, benda apa yang Isane masukkan dalam masakannya hingga Byakuya, Grimmjow dan Hisagi sekarat karena buang-buang air.
"Kalian harus istirahat, setelah itu aku akan memeriksa kalian satu persatu," kata Dokter Kurotsuchi sambil menyeringai dan mengacungkan pisau bedahnya kearah Hisagi dan Grimmjow.
Kontan Grimmjow dan Hisagi bergidik, merinding ketakutan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Dokter yang terkenal tidak normal ini.
"Kami akan ke rumah sakit, Dokter Kurotsuchi," seru Grimmjow panik.
Kebanyakan orang di kampus akan menceritakan betapa mengerikannya Dokter Kurotsuchi. Ada yang mengatakan bahwa mereka pernah dipaksa masuk ke sebuah ruangan gelap, lalu Dokter nyentrik itu menyuntikkan suatu zat yang membuat mereka tidak sadar, dan saat terbangung tangan mereka sudah ada bekas jahitan. Ada pula yang bilang bahwa Dokter Kurotsuchi sebenarnya agak tidak waras, lihat saja wajah psycho-nya, semua akan mengira bahwa jiwanya tidak sehat.
"Tenang saja, ini tidak akan sakit," jawab Dokter Kurotsuchi dengan seringai selebar wajahnya, menunjukkan giginya yang luar biasa putih. Di tangannya terdapat katak yang terisolir dalam tabung yang airnya berwarna kekuningan, katak itu berjuang untuk keluar dari tabung yang tertutup rapat. Namun tanpa belas kasih Dokter Kurotsuchi mengocok tabungnya berkali-kali, dan mereka semua melihat bagaimana katak itu perlahan lemas dan tidak bergerak lagi.
"Benar-benar tidak sakit," kata Dokter Kurotsuchi, suaranya semanis madu.
Hisagi merasakan udara dingin mengalir di sepanjang tulang belakangnya. "Benar-benar sakit," ucapnya pelan, meralat ucapan Dokter Kurotsuchi.
"Kami sudah baikan, permisi," kata Hisagi yang langsung menegakkan badan, beranjak dari ranjangnya. Dia tidak ingin bernasib sama dengan katak itu.
"Kalian meninggalkan, Byakuya?" tanya Isane yang melihat Grimmjow ikut-ikutan bangun dan mengekor Hisagi.
"Aku masih sayang badanku, Isane," jawab Grimmjow yang sudah ngeri membayangkan badannya dijadikan bahan penelitian oleh Dokter Kurotsuchi.
Isane terbengong melihat kedua orang itu sudah menghilang dari pandangannya. Byakuya masih betah berada dalam toilet, tinggallah Isane dan Dokter Kurotsuchi.
"Yare… Yare… aku penasaran dengan bahan yang kau gunakan untuk meracuni mereka, Isane," kata Dokter Kurotsuchi seraya beranjak dari kursinya, mendekati Isane.
Isane mundur seiring dengan Dokter yang mendekat padanya, dia menyesal karena tidak ikut kabur bersama Grimmjow dan Hisagi tadi.
"A.. aku tidak tau, mungkin sardennya sudah kadaluarsa," jawab Isane gemetaran.
"Sarden?" ulang Dokter sambil mengacungkan pisau bedahnya ke ujung hidung Isane, hampir menyentuh puncak hidung Isane, mata Dokter terlihat sangat mengerikan menatap langsung mata Isane. "Kau memotongnya hingga kecil-kecil, lalu …"
"Permisi!"
Perhatian mereka berdua teralihkan karena teriakan seseorang di depan ruang klinik.
Hitsugaya, Hinamori, Rangiku dan Rukia muncul dari pintu klinik.
Dokter Kurotsuchi langsung menurunkan pisau bedahnya dan memasukkannya dalam jubah putihnya, dia tersenyum kearah Rukia.
"Ah, Kuchiki Rukia, perempuan dengan tinggi badan luar biasa cukup. Ingin menjenguk Kakakmu?" tanya Dokter.
Rukia memicingkan matanya, agak tersinggung dengan kalimat Dokter barusan.
"Halus sekali bahasanya," bisik Rangiku di telinga Hinamori, "tinggi badan luar biasa cukup, dia bilang," lanjut Rangiku.
"Alias tinggi badan pas-pasan," sahut Hinamori.
Memang diantara mereka hanya Rukia yang paling pendek, sekalipun Hitsugaya juga tidak tinggi, tapi dia laki-laki, tidak masuk dalam hitungan Dokter Kurotsuchi.
"Halo, Rukia." Isane mendekatinya, "calon adik ipar," sambung Isane dengan senyum lebar, lega karena sudah diselamatkan oleh kehadiran Rukia dan teman-temannya.
Rukia menggembungkan pipinya, menunjukkan rasa kesalnya pada Isane. Dia tidak mau dekat-dekat dengan Isane.
"Calon adik ipar?" ulang Rukia. "Asal kau tau saja, aku ti.."
"Rukia?"
Mereka semua menoleh kearah datangnya suara lemah itu.
Byakuya sudah keluar dari toilet, wajahnya seputih warna dinding klinik, bibirnya keunguan, dan tangannya berpegang erat pada kusen pintu toilet.
"Kau kenapa?" Rukia berlari menghampiri Byakuya, secara reflek ia memindahkan tangan Byakuya yang berpegangan pada kusen keatas bahunya, mencoba menampung beban tubuh Byakuya.
"Buang-buang air," jawab Byakuya. Tubuhnya sudah luar biasa lemah, hingga bicara saja seperti menyedot seluruh sisa tenaganya. Rukia yang sebelumnya masih marah dan menjauhi Byakuya, sekarang malah bersimpati melihat Byakuya yang menderita seperti ini.
"Pasti ulahmu!" Rangiku langsung menuding Isane.
"Aku tidak sengaja, aku tidak tau kenapa makananku bisa…"
"Bahkan Grimmjow dan Hisagi jadi korbanmu," potong Hinamori sambil geleng-geleng kepala. Tadi mereka papasan di koridor, kasihan melihat Hisagi yang berjalan sambil berpegang pada dinding.
Isane sudah berusaha membela diri lagi, namun Hitsugaya mengangkat tangannya, sebagai tanda agar Isane menge-rem semua kalimat pembelaannya, wajah dingin Hitsugaya selalu bisa untuk mengancam orang lain hanya dengan sekali tatap.
Byakuya bersandar pada Rukia, tidak pernah menyangka bahwa badan sekurus Rukia mampu menahan bobot tubuhnya. Dia merasa senang karena Rukia tidak lagi bersikap sengit padanya.
"Makanya jangan sok menjauhiku, kena karma kan?" celetuk Rukia yang memegang pinggang Byakuya dengan tangannya yang kecil.
"Aku tidak ingin berdebat," kata Byakuya dengan sisa tenaganya.
"Kau yang memulai semuanya," sahut Rukia kesal.
Byakuya tersenyum tanpa ia sadari, dia tidak akan pernah bisa menghapus rasa sayangnya pada Rukia. Dia sadar bahwa perasaannya sudah mendarah daging, mengalir dalam setiap denyut nadinya. Bahkan sejauh ini usahanya tidak berakibat apa-apa selain kemarahan Rukia, dan aksi menjauh dari Rukia, karena perasaannya sendiri tidak berubah sedikitpun. Melihat Rukia yang marah dan cemas kepadanya seperti ini membuatnya sadar bahwa Rukia tidak sepenuhnya tidak menganggapnya, ada dirinya disalah satu bagian dalam hati Rukia.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Ayahmu menunggu di parkiran."
Cara Rukia menyebut ayahnya benar-benar membuat semua orang yang mendengar jengah. Padahal mereka memiliki satu ayah, tapi Rukia menyebutnya dengan Ayahmu.
"Aku ikut," seru Isane.
"Kurasa kau harus tinggal untuk menjelaskan kondisi sardenmu, Isane," jawab Dokter Kurotsuchi.
"Sarden ya sarden, apa aku harus mencari kalengnya dan membawanya kehadapanmu, Dokter?" kata Isane kesal.
"Mungkin," jawab Dokter seraya menarik tangan Isane.
Hinamori, Rangiku dan Hitsugaya tersenyum dalam hati. Isane akan menjadi korban selanjutnya dari dokter rada-rada ini.
Byakuya mengikuti kemana Rukia menggiring langkahnya, sementara ketiga temannya yang lain tidak membantu Rukia. Mereka seolah memberikan kesempatan kepada Byakuya dan Rukia, mengantar Rukia dan Byakuya hanya sampai parkiran.
"Byakuya, kenapa kau sepucat ini?" tanya Ayah seraya melangkah keluar dari mobil sedannya.
Ayah yang menghampiri Byakuya langsung membantunya masuk ke kursi penumpang di bagian belakang. Wajah Ayah yang biasanya selalu tersenyum lembut sekarang malah diliputi cemas yang amat sangat.
"Keracunan makanan dari Isane, Kekasih tercintanya," jawab Rukia ketus.
Ayah tersenyum mendengar nada bicara Rukia yang seperti itu, ia membaca dengan jelas ketidak-sukaan Rukia pada Isane, pacar Byakuya yang status hubungannya baru memasuki minggu kedua. Ibu pun hanya tersenyum saat menjelaskan pada Ayah, betapa Rukia selalu terlihat sebal setiap kali mereka menyinggung Isane.
"Sudah, kita ke rumah sakit sekarang," kata Ayah menenangkan Rukia.
Rukia duduk di samping Byakuya. Byakuya duduk terkulai dengan kepala bersandar pada jok mobil, matanya tertutup rapat dengan wajah datar.
"Kau seperti penderita kanker mematikan saja," kata Rukia.
Seketika Byakuya membuka matanya, dan menatap Rukia.
Ayah menonton mereka dari kaca spion. Byakuya selalu mampu bersikap tenang dalam kondisi seperti apapun, kecuali satu waktu, saat mereka mendapati Rukia yang terjatuh di lintasan lari, di sanalah pertama kalinya Ayah mendapati Byakuya cemas.
"Kau senang aku seperti ini? Tertawa saja keras-keras," ucap Byakuya yang kembali menyandarkan kepalanya. Perutnya sudah lumayan bisa diajak kompromi, tidak lagi menggeliat sakit dan memaksanya kembali ke toilet.
"Lain kali aku akan bawakan bekal jika kau sebegitu inginnya makan makanan rumah," ucap Rukia seraya melihat keluar kaca mobil.
Byakuya meliriknya dengan ekor matanya, kata-kata Rukia membuat hatinya menghangat, ternyata Rukia memang sangat peduli dengannya.
"Jangan makan sembarangan, apalagi makanan dari Isane," lanjutnya. Rukia merasa dadanya berdegub kencang saat mengucapkan kalimatnya, dan pipinya jadi panas. Aneh.
Byakuya tersenyum, dia menyerah, dan rasanya memang sangat sulit membuang perasaannya pada Rukia. Perasaannya pada Rukia malah semakin dalam, semakin terikat pada sosok Rukia seorang.
"Ehm."
Byakuya hanya mampu berdehem pelan untuk menjawab kalimat Rukia, lalu perlahan Byakuya menggeser duduknya, bersandar di bahu Rukia. Rukia hampir melompat karena kaget, tapi melihat wajah Byakuya yang pucat dengan mata terpejam di sisinya dia tidak tega ingin marah-marah, ia tau Byakuya butuh istirahat.
"Kau benar-benar sial sudah berpacaran dengan Isane."
Byakuya tidak mendebat kalimat Rukia, dia mengangguk dalam hati, dia memang sial, salah memilih orang, karena bagaimanapun hanya Rukialah yang tepat untuknya.
Rukia meraih tissue dari saku celana jeansnya, dan mengusap peluh di dahi Byakuya, menyibakkan anak rambutnya yang berjatuhan ke wajah Byakuya. Byakuya menikmati perhatian Rukia, setiap sentuhannya yang lembut. Dia terus terpejam, dan berharap ini tidak akan berakhir cepat, dia merasa sangat nyaman berada sedekat ini dengan Rukia.
Ayah menyibakkan rambut panjang nya yang berwarna putih ke belakang, lagi-lagi tersenyum melihat bagaimana Byakuya bisa lebih cepat mendapatkan uluran tangan Rukia, dari pada dirinya sebagai seorang ayah.
.
.
Byakuya sudah masuk ke ruang rawat, dia terpaksa harus di infus karena sudah terlalu banyak kehilangan cairan tubuh. Rukia terduduk di kursi samping ranjang Byakuya, merasa apa yang dialami oleh Byakuya sangatlah konyol.
Rukia sudah mampu membayangkan Isane yang mendapat serangan dari Byakuya Fans di kampus, mereka akan mengutuk siapapun yang membuat Byakuya sang pangeran kampus menderita, apalagi sampai masuk rumah sakit begini.
Ayah berdiri di dekat pintu masuk, melihat Rukia dan Byakuya lewat kaca yang terpasang disisi pintu.
"Tuan Ukitake."
Dia langsung berbalik saat seseorang menyebut namanya, dan ternyata Dokter Unohana. Dokter yang sama yang dulu menangani Rukia saat terjatuh di lintasan lari.
"Byakuya tidak dalam kondisi kritis, ia hanya perlu memulihkan tubuhnya yang dehidrasi," jelasnya.
Ayah tersenyum lega, bersyukur karena tidak ada masalah serius.
"Terima kasih, Dokter," ucapnya dengan anggukan penuh terima kasih.
"Sama-sama Tuan Ukitake. Apakah istri Anda…"
"Istri saya masih di kantor, saya melarangnya ke sini, dia sudah terlalu lelah bekerja, karena pekerjaan dikantor saya tidak terlalu padat jadi saya putuskan untuk mengurus Byakuya sendiri, lagi pula masih ada Rukia yang membantu."
Dokter Unohana mengangguk, membuat kepangan rambutnya bergoyang seiring gerakannya.
Dia mengenal pasangan suami istri ini sejak Rukia masuk rumah sakit. Pasangan yang sangat cocok dan serasi, ditambah lagi dengan anak-anak mereka yang tampan dan cantik.
Ukitake Joushiro dan Lisa Yadomaru.
Pasangan yang menurutnya sangat rukun, sekalipun mereka menikah setelah anak-anak mereka sebesar ini. Hanya satu hal yang mengganjal di kepalanya, Byakuya anak Ukitake, ada sedikit kemiripan, tapi Lisa Yadomaru dengan Rukia? Mereka tidak terlihat seperti Ibu dan anak, mereka sangat berbeda satu sama lain, baik dari kepribadian, wajah, bahkan postur badan. Namun ia tidak ingin mencoba mencari tahu, dia memendam rasa herannya dalam hati.
"Sekalipun mereka kakak adik setelah sebesar ini, mereka terlihat sangat akur," komentar Dokter Unohana.
"Ya, Rukia memang lebih dekat dengan Byakuya dibanding dengan saya sebagai ayahnya," sahut Ukitake, namun dalam hati ia bersyukur karena Rukia sudah bersedia untuk tidak menjaga jarak lagi diantara mereka, sebuah kemajuan, sekalipun Rukia belum pernah memanggilnya dengan sebutan 'Ayah'
Di ruangan lain dalam rumah sakit yang sama. Grimmjow dan Hisagi terkulai di ranjang yang berdampingan. Hisagi di temani sepupunya, Kira Izuru, pria berambut pirang dengan tinggi tidak kalah dengan Hisagi, dan Grimmjow dijaga dengan sangat baik oleh Nell.
"Aku benar-benar akan mengutuk Isane!" ancam Nell.
"Makanya aku tidak pernah mau terlibat apapun tentang Byakuya, apalagi masalah percintaan," sahut Grimmjow.
Ini bukan pertama kalinya ia kena imbas karena kepopuleran Byakuya. Di awal minggu saat Byakuya baru masuk di Universitas Karakura, Grimmjow yang kebetulan duduk di sebelah Byakuya terpaksa harus menerima penyanderaan dari klub badminton,mereka menyanderanya hanya untuk memaksanya mencari tau semua informasi tentang pribadi seorang Kuchiki Byakuya.
"Ketampanan Byakuya adalah bencana untukku," kata Grimmjow.
Sementara itu di ruangan lain...
Byakuya terbatuk hebat, tenggorokannya tersedak saat meneguk minumnya.
"Ada yang membicarakanku," kata Byakuya seraya meneguk air banyak-banyak.
.
.
Byakuya keluar dari rumah sakit dua hari kemudian, Isane tidak sekalipun datang menjenguk, mungkin Isane tengah menerima ancaman dan boikot dari Byakuya Fans.
Kemarin saja Rukia mendengar suara demo di depan ruangan klub basket, meminta agar Isane turun tahta dari kursi manager klub basket.
Rukia sendiri malah lebih memilih untuk mengerjakan tugas kuliahnya, dia sengaja tidak ikut menjemput Byakuya.
Menjemput orang pulang dari rumah sakit saja seperti iring-iringan mau melamar, begitu pikirnya.
Karena itu dia lebih memilih mengerjakan tugasnya yang hanya tinggal sedikit lagi. Jika dia menundanya dia sudah akan keburu tewas karena besok adalah hari praktek olahraga, dan Pelatih Zaraki sudah menjanjikan latihan ekstra keras untuk mengambil nilai senam lantai. Rukia benci senam lantai, karena postur badannya yang seperti kata Dokter Kurotsuchi 'luar biasa cukup'
Suara klakson mobil membahana di depan rumah, Rukia bergegas keluar kamar dan membuka pintu depan. Byakuya turun dari mobil, wajahnya sudah tidak sepucat terkahir kali Rukia melihatnya.
"Rukia, antar Byakuya ke kamar ya. Ayah dan Ibu akan menyiapkan makan siang," jelas Ibu seraya menyerahkan tas Byakuya yang berisi baju kotor selama tinggal di rumah sakit pada Rukia.
Rukia menerimanya, dan dia menunggu hingga ayah dan ibunya berjalan menuju pantry.
Dia menyodorkan tas di tangannya pada Byakuya, Byakuya mengerutkan alis tidak mengerti.
"Kelihatannya kau cukup sehat untuk membawa tasmu sendiri," kata Rukia licik.
"Aku baru sembuh. Lagipula membawa tas seringan itu tidak akan membuatmu tambah pendek," sahut Byakuya seraya melangkah menuju anak tangga yang mengantarnya ke kamarnya.
"Lagi-lagi menyinggung fisik," gerutu Rukia penuh dendam.
Rukia mengerucutkan bibirnya kesal, memang sulit melawan seorang Byakuya.
Rukia mengikuti Byakuya yang berjalan menuju kamarnya, Byakuya terduduk di ranjangnya. Seperti biasa kamar Byakuya sangat minimalis, dan pengaturannya sangat sederhana. Rukia meletakkan tas Byakuya di atas meja belajarnya.
"Jadi kau sudah pulih total?" tanya Rukia yang bersandar pada meja belajar Byakuya.
"Sepertinya, dan aku tidak…"
Byakuya menghentikan kalimatnya saat mendengar dering telepon dengan ringtone Ride On dari TVXQ, pastinya dering ponsel Rukia. Rukia panic merogoh saku celana jeans gombrongnya yang panjang selutut, dia melihat barisan nomor yang tertera di layar ponselnya.
"Nomor siapa ini?" desisnya, namun dia menerima panggilan itu.
"Ya?" ucapnya menunggu jawaban dari seberang.
"Rukia? Ini aku Ichigo,"kata suara riang di seberang.
"Ichigo? Kau dapat nomor ponselku dari mana?" tanya Rukia heran.
Byakuya mendengar nama asing yang disebutkan Rukia, dan ingatannya langsung kembali mengingat seorang pria yang mengecup pipi Rukia tempo hari.
"Rangiku yang memberikan nomor ponselmu padaku. Bisa kita bertemu?"
Rukia berpikir sejenak, matanya melirik Byakuya yang ikut mendengarkannya.
"Boleh saja, dimana?"
"Aku ada di depan rumahmu sekarang."
"Depan rumah ku?" ulang Rukia nyaris pingsan.
Rukia langsung berlari kearah jendela kamar Byakuya, menyibakkan gordennya cepat, dan matanya langsung terkunci pada seseorang yang berdiri dekat pagar rumah sambail menempelkan ponsel ke telinganya.
"Baiklah, aku turun sekarang," kata Rukia yang langsung memutuskan hubungan telepon.
Byakuya hanya perlu menjulurkan kepalanya dari tempat tidur, dan melihat dengan jelas seseorang dengan rambut oranye tengah berdiri di depan rumah. Kemarahannya seketika naik ke otaknya dalam waktu sepersekian detik.
"Jangan temui dia," ucap Byakuya seraya menarik tangan Rukia, menahan langkah Rukia yang hampir mencapai pintu kamar.
Rukia menautkan alisnya. Dia melihat mata Byakuya yang sangat sayu, Byakuya seperti tengah memohon padanya, bukan memberi perintah. Sangat aneh dan tidak biasa. Rukia mendekat pada Byakuya, perlahan melepaskan buku-buku jari Byakuya dari tangannya.
"Jangan mulai lagi, Byakuya. Aku rasa aku bebas berteman dengan siapapun," kata Rukia, wajahnya mengeras. Byakuya melihat mata Rukia yang sangat serius, Rukia benar-benar tidak suka dilarang-larang seperti ini.
Perlahan Byakuya menarik diri, menekuri lantai dengan motif parquet kotak-kotak, tanpa ia sadari ia menghela napas.
"Aku memang tidak berhak melarangmu, Rukia."
Mendengar kalimat Byakuya, Rukia pun beranjak dari kamar Byakuya.
Kamarnya terasa lebih sunyi dari pada kuburan. Byakuya menatap langit-langit kamarnya.
"Kenapa rasanya sulit sekali untuk membuatmu merasakan apa yang tengah aku rasakan padamu, Rukia."
Byakuya merasakan keputusasaan itu hadir kembali pada dirinya, padahal baru kemarin ia merasa bahwa ia tidak akan mampu melepas Rukia begitu saja, namun melihat Rukia yang dekat dengan laki-laki lain malah menambah sakit di hatinya. Byakuya semakin bingung, apa yang harus ia lakukan?
Melepaskan Rukia begitu saja, menyerah bergitu saja? Dia tidak mampu melakukannya…
Namun melihat Rukia yang tidak pernah menyadari perasaannya seperti ini malah terus melemahkan hatinya…
Kaki Rukia begitu lincah melewati anak tangga, setengah berlari ia berusaha mencapai pintu depan dalam langkah-langkah besar. Ibu dan ayah sampai harus melongoknya, takut terjadi sesuatu.
"Ada apa, Rukia?" tanya Ibu.
"Ada tamu," jawab Rukia seraya membuka pintu depan.
"Tamu? Aku tidak mendengar ada suara bel atau ketukan pintu," kata ibu bingung.
"Iya, aku juga," sahut ayah.
Rukia menuruni tiga anak tangga menuju halaman rumah, dan dia melihat Ichigo tersenyum padanya, melambai dengan riang.
"Hai," sapa Ichigo.
"Kenapa kau tidak memberi kabar jika kau mau datang," kata Rukia seraya membuka pintu gerbang, mempersilahkan Ichigo untuk masuk. Ichigo membawa motornya lagi kali ini.
"Aku tidak berpikir untuk mampir, hanya kebetulan saja lewat sini," jawab Ichigo santai.
Rukia selalu kagum dengan laki-laki satu ini, dia bisa menularkan sifat cerianya pada orang lain walau hanya lewat senyum atau bahasa tubuhnya.
"Kebetulan sekali, kami baru mau makan siang. Kau ikut saja. Ayo," ujar Rukia.
"Benar tidak apa-apa?" Ichigo menahan dirinya.
"Iya, sekalian aku perkenalkan pada keluargaku."
Rukia menarik tangan Ichigo, menggiringnya masuk.
Byakuya hanya mampu menonton dari kamarnya, ini akan menjadi hari yang berat untuknya karena kehadiran laki-laki berambut oranye itu dalam rumah.
"Silahkan duduk."
Rukia berlari-lari kecil ke pantry, Ichigo memperhatikan langkah kaki Rukia yang sangat ringan, berapa kali pun dilihat ia tetap akan merasa senang melihat sosok Rukia, seperti apapun dia berbusana. Sekarang saja Rukia hanya mengenakan celana jeans santai dan kaos lengan pendek bergambar Chappy yang sudah lusuh. Dia tetap cantik dengan caranya sendiri, pikir Ichigo.
Ayah dan Ibu melihat tamu yang dibawa masuk oleh Rukia. Seorang pria tampan, dan dari wajahnya terlihat jelas bahwa ia anak baik-baik. Badannya tinggi, matanya secerah matahari. Ibu sampai berdecak kagum melihatnya.
"Dia suka Rukia," bisik ayah pada ibu.
"Terlihat jelas," jawab ibu sambil mengangguk mengiyakan.
Rukia masuk ke pantry dan mendapati kedua orang tuanya sedang mengintip dari dinding pantry.
"Kenapa?" tanya Rukia bingung.
"Tidak apa-apa," kata ayah dan ibu bersamaan, merasa tidak enak karena kepergok sedang mengintai teman yang Rukia bawa.
"Dia Kurosaki Ichigo, teman yang Rangiku kenalkan padaku. Tidak apa kan dia makan siang bersama kita?" kata Rukia dengan nada suara memohon. Sebenarnya ayah dan ibu tidak akan menolaknya, jadi Rukia tidak perlu memohon seperti itu.
"Tentu saja, Ibu akan siapkan piring ekstra ya," kata Ibu seraya melangkah menuju rak dan mengambil satu set peralatan makan, sementara ayah menarik kursi tambahan dari belakang conter pantry.
.
Byakuya turun dari kamarnya, sudah mengganti bajunya dengan celana jeans pendek yang sama persis dengan Rukia, namun ia padu dengan kaos hitam yang menampakkan lekuk ototnya. Langkahnya ragu saat mendengar suara tawa orang asing dalam rumahnya, tertawa bersama seluruh anggota keluarganya.
"Jadi kamu memiliki adik yang sebesar Rukia?" kata Ibu yang sudah mulai merasa akrab dengan Ichigo, mereka sudah mulai obrolan sejak lima menit lalu, dan Ayahpun merasakan hal yang sama.
Rukia bersyukur karena Ichigo diterima di rumah ini, namun disaat yang sama ia mengangguk pasrah, karena semua orang sedang menertawakan kesamaan ukuran Rukia dengan ukuran adik-adik Ichigo.
"Sudah cukup menertawakanku," protes Rukia, dan membuat tawa semua orang berhenti.
"Byakuya belum turun?" kata Rukia seraya beranjak dari kursinya hendak memanggil Byakuya, namun langkahnya terhenti saat melihat Byakuya sudah berdiri beberapa langkah darinya.
"Ku kira kau ketiduran," ujar Rukia.
Byakuya menatap pria yang duduk disebelah Rukia, pria dengan wajah segar, matanya berwarna hazel terang, rambutnya oranye dan pakaian yang ia gunakan terlihat berkelas. Bahkan saat Byakuya tengah memperhatikannya Ichigo tidak menyadarinya, dia terus menatap Rukia.
Rukia yang melihat bagaimana cara Byakuya menatap Ichigo jadi balik heran. Sorot mata Byakuya memang sulit dibaca, mengingat Byakuya selalu menunjukkan wajah datarnya, namun kali ini terlihat jelas ia tidak suka.
"Oh, Ichigo perkenalkan. Ini Byakuya," kata Rukia mengembalikan perhatian Byakuya padanya.
"Aku Kakaknya," tambah Byakuya, ekspresinya tidak berubah sama sekali.
"Aku Kurosaki Ichigo, maaf mengganggu acara makan siang kalian."
Byakuya mengangguk samar, menarik kursi dan duduk di sebelah Rukia, sementara Ichigo duduk di sisi yang satu lagi.
Ichigo membaca sikap Byakuya yang tidak menerimanya berada diantara mereka. Padahal berdasarkan cerita Rukia yang sudah – sudah, ia menyimpulkan bahwa Byakuya orang yang pendiam namun ramah, bukan malah memberikan aura permusuhan seperti ini.
Satu hal lagi yang Ichigo temui dalam diri Byakuya. Sikap posesif. Terlihat jelas dari caranya duduk yang sangat condong kearah Rukia, dia jadi curiga dengan Byakuya.
"Mereka saudara kandung kan? Atau tidak? Makanya Byakuya tidak suka aku berada di dekat Rukia?" kata hatinya sambil mengangkat alis tinggi-tinggi.
Karena semua anggota sudah hadir di meja makan, mereka mulai menyantap makan siang yang luar biasa lezat, terutama bagi Ichigo. Sudah belasan tahun ia tidak menikmati masakan seorang ibu, ibunya meninggal saat ia masih kecil, dan semua pekerjaan rumah diserahkan kepada Yuzu yang sangat telaten dengan pekerjaan rumah.
"Makanan ini sangat lezat. Aku jadi ingat masakan ibuku," ucap Ichigo yang terkenang dengan sosok Ibunya yang sudah agak memudar dari ingatannya.
"Kalau begitu besok-besok kau harus ajak aku mencicipi masakan ibumu," kata Rukia riang.
Ichigo menatap Rukia dengan sorot mata sendu, membuat Rukia tersentak kaget, ternyata seorang Ichigo bisa memiliki sorot mata muram seperti itu.
"Sayangnya tidak bisa. Ibuku sudah meninggal."
Rukia menekap mulutnya penuh sesal, menyerapah mulutnya sendiri yang tidak bisa dijaga. Ayah dan ibu bertukar tatap penuh simpati.
"Maaf, aku tidak bermaksud…"
"Tidak apa, jangan dipikirkan," potong Ichigo cepat, dia tidak suka melihat Rukia sedih dan menyesal seperti itu.
Selama bertahun-tahun ia cukup berkabung, menyalahkan dirinya sendiri akan kepergian Ibunya, dan sekarang ia berjanji akan melangkah maju, tidak ingin terus menerus tenggelam dalam kesedihan. Sekalipun kenyataan bahwa Ibunya meninggal karena dirinya tidak akan pernah terhapus, dan rasa bersalah itu akan membayanginya seumur hidup.
"Kau bisa sering-sering kesini makan bersama kami," kata Rukia, memecah lamunan Ichigo.
Rukia berusaha menghibur Ichigo, dan Ichigo menyambut tawaran Rukia dengan senyuman cerah. Rukia memang seorang baik dengan tangan terbuka untuk siapapun.
Byakuya melihat bagaimana Rukia dan Ichigo sangat akrab, bahkan ayah dan ibunya juga sudah jatuh hati pada laki-laki yang baru beberapa menit mereka temui ini. Kebencian dalam hati Byakuya semakin besar, rasanya ingin menyeret pria bernama Ichigo ini keluar rumah dan mengancamnya untuk tidak berada di dekat keluarganya lagi, terutama Rukia.
"Orang ini mudah sekali mendapat simpati dari orang lain," gerutu Byakuya dalam hati.
Byakuya tidak mengucapkan apa-apa lagi hingga mereka selesai makan. Mereka mengobrol ringan mengenai universitas tempat Ichigo kuliah, sambil menyinggung kampus Rukia dan Byakuya. Menyebut-nyebut bahwa universitasnya sedang merencanakan pertandingan persahabatan dalam rangka festival kota Karakura.
Byakuya tidak mendengarkan ocehan Ichigo, ia tidak pernah ingin membuat Ichigo merasa menjadi pusat perhatian saat ini.
"Berarti kau juga pemain inti tim basket?" tanya Rukia yang senang, karena akhirnya ada yang mampu menyaingi Byakuya di dunia ini.
Ichigo mengangguk antusias melihat Rukia tersenyum.
"Kapan-kapan boleh aku melihat kau dan Byakuya bertanding?" seloroh Rukia tanpa pikir panjang.
Byakuya yang sedari tadi hanya melihat gelasnya langsung mendongakkan wajah dan melihat Rukia. Ichigo pun melakukan hal yang sama, Rukia masih tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun. Dia tidak sadar sudah membangun permusuhan yang muncul dalam diri Byakuya.
Byakuya menatap Ichigo tajam, Ichigo yang mendapatkan tatapan seperti itu hanya bisa mengerutkan dahinya.
"Boleh saja," jawab Ichigo akhirnya. Byakuya memalingkan wajahnya, karena kali ini Ichigo tidak tersenyum seperti ia tersenyum pada anggota keluarganya yang lain. Byakuya sadar bahwa Ichigo tau dia tidak menyukainya.
Ayah dan Ibu tertegun, aura kebencian dari Byakuya benar-benar terasa di udara.
Semua terdiam selama beberapa saat.
"Boleh aku mengatakan sesuatu?" Ichigo menatap Ayah dan Ibu Rukia dengan sorot mata serius.
"Silahkan," ucap Ayah setelah melirik Ibu.
Ichigo menarik napas dalam, sesaat ia melirik Rukia dan Byakuya yang memusatkan perhatian padanya.
"Aku menyukai Rukia sejak pertama kali pertama kali bertemu dengannya, bolehkah aku menjalin hubungan lebih dari sekedar teman dengannya?"
Semua orang dalam ruangan nyaris menjatuhkan rahang mereka, Rukia yang paling ternganga, tidak habis pikir. Bisa-bisanya Ichigo mengatakan hal seperti itu kepada kedua orang tuanya.
"Maksudnya pacaran dengan Rukia?" kata Ayah memastikan pikiran yang ada dalam benaknya.
Ichigo mengangguk penuh keyakinan.
Byakuya seperti kena serangan jantung, wajahnya memang datar, namun jantungnya seperti akan meledak keluar. Ichigo benar-benar seorang yang berani, bahkan meminta restu langsung kepada kedua orang tuanya. Rasanya Byakuya ingin meneriakkan isi hatinya, melarang Rukia dekat dengan pria manapun, terlebih lagi Ichigo.
"Ichigo, kau..."
"Aku pikir jauh lebih baik jika aku mengatakannya langsung pada kedua orang tuamu," sahut Ichigo tetap santai, membuat Rukia kehilangan kata-katanya lagi.
Ayah dan Ibu saling tukar pandangan, mereka merasa seperti sedang menerima lamaran saja. Ichigo bukanlah laki-laki yang buruk, baik malah. Namun perhatian mereka kembali pada Rukia, wajah Rukia sudah memerah, entah merah karena marah atau malu. Sedangkan Byakuya malah terlihat memucat seketika.
Apakah mereka harus menyetujuinya atau menolak permintaan Ichigo?
To Be Continue
A/N : Gomen.. gomen.. gomen… *nyembah-nyembah*
Gara-gara Ichigo, Byakuya harus gondok setengah mati *dilempar batu sama Byakuya*
Bagaimana kelanjutannya ? Kita tunggu di chap depan ya
Aku tetap tunggu review semuanya, karena review dari Mina-san membuatku tambah semangat untuk menulis dan memperbaiki penulisanku.
Obrolan ringan author dengan para pemeran fict
Ukitake : "Kenapa aku jadi ayah? Apa aku setua itu?"
Nakki : "Karena sosokmu yang lembut dan kebapak-an membuatmu cocok jadi seorang ayah."
Lisa : "Tapi aku dan Rukia tidak berbeda jauh, lihat saja wajah kami. Aku seharusnya menjadi kakaknya, bukan ibunya."
Nakki : "Kau akan terlihat lebih tua dengan bantuan make-up."
Lisa langsung menarik zanpaktounya, lalu menyerang Nakki dengan bankai.
Nakki : "Gomen, gomen!" (Nakki berteriak gaje meminta pertolongan, lari morat marit)
Rukia, Byakuya dan Ichigo hanya bisa menggelengkan kepala melihat pembataian di depan mata mereka.
Kenapa Nakki harus selalu berakhir dengan babak belur begini?
^_^ Keep The Spirit On ^_^
