TITLE : LOVE QUADRILATERAL

DISCLAIMER: NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

PAIRING : GAAINO & SASUHINA

GENRE : ROMANCE/FRIENDSHIP

RATE : T

WARNING : OOC, ABAL, BANYAK TYPO, DAN KEEKSOTISAN LAINNYA.

Masashi Kishimoto-sama~ pinjam chara-nya, ya!

Iya!

THANKZ! ;3 -sakarepe dewe-


Chapter sebelumnya :

Akhirnya matanya menangkap sebuah buku yang berjudul Tips PDKT yang dijamin AMPUH 100%! yang tentunya ditulis dalam huruf Hangeul, tapi tak masalah bagi Sasuke, karena ia memang bisa membaca bahasa korea.

Sasuke terus menunduk hingga ia keluar dari toko buku, ia menyelipkan buku yang baru dibelinya ke dalam jaketnya dan tersenyum puas. Bersiaplah, Hinata…

.

.

.

Chapter 6 :

Langit semakin gelap. Rintik-rintik air hujan mulai berjatuhan, membuat para makhluk hidup semakin menyembunyikan diri dalam rumahnya masing-masing untuk mendapat kehangatan.

Gaara memikirkan apa yang tadi Sasuke tanyakan padanya. Kenapa Sasuke meminta petunjuk padaku? Memangnya dia belum 'pengalaman'? Bukankah dia memiliki banyak fans girl? Gaara bertanya-tanya dalam hati. Karena tak kunjung menemukan jawabannya, perhatian Gaara beralih pada Ino yang sedang menonton TV di sofa ruang tengah bersama dirinya.

"Ino," panggil Gaara.

"Hm?" sahut Ino, pandangannya masih belum beralih dari TV.

"Apakah aku memiliki mantan?" Mendengar ucapan Gaara, Ino segera memandang Gaara, heran dengan pertanyaan yang diajukan pemuda bersurai raven itu. Bibir Ino mulai terbuka untuk bertanya apa maksud pertanyaannya barusan.

"Mantan pacar," ucap Gaara sebelum Ino melontarkan pertanyaannya.

Ino memandang Gaara sejenak. "Tidak," jawabnya. Setelah itu pandangan Ino kembali pada TV yang sempat ia abaikan.

Gaara memandang lekat-lekat pada Ino. "Lalu, bagaimana caranya hingga aku bisa berpacaran denganmu?" tanyanya lagi.

Merasa pembicaraan mereka semakin serius, Ino mematikan televisi dan berbalik ke Gaara. "Dulu, aku sempat jadi model di perusahaanmu. Dari situ, aku mengenal Fugaku-jisan dan dirimu," ucap Ino dengan sedikit semburat merah di pipinya. "Lalu, akhirnya kita semakin dekat dan kau menembakku dengan setangkai bunga mawar. Saat itu kau benar-benar lucu, Sasu-kun! Wajahmu begitu merah sama seperti mawar yang kau bawa itu dan aku menerimamu," lanjutnya.

"Hanya segitu saja?" Gaara mengangkat alisnya. Akhirnya ia paham kenapa Sasuke bertanya bagaimana cara mendekati Hinata, Sasuke belum berpelangaman! Bayangkan itu! Ingin rasanya Gaara menertawainya keras-keras.

Sementara itu, Ino menundukkan kepalanya mendengar pertanyaan Gaara. "Sebenarnya… tidak tepat begitu," ucapnya lirih, seolah takut akan sesuatu.

"Eh?" Gaara menatap tajam pada Ino.

"Saat itu, kau sangat suka bermain-main bersama teman-temanmu dan Itachi-nii. Meskipun kau pintar, tapi kau tidak ingin bekerja. Kau membuat Fugaku-jisan kebingungan dengan kenakalanmu, bahkan ia memintaku menjadi pacarmu, katanya supaya kau bisa meniruku untuk bekerja. Apalagi setelah Mikoto-basan dan Itachi-nii meninggal, kau benar-benar tidak bisa diatur lagi. Kau tahu mengapa posisi sebagai manajerku kosong? Itu agar kau suatu saat mengisi posisi itu dan belajar untuk bekeja," jelas Ino panjang lebar.

"Wah, kalau begitu aku mau," sahut Gaara antusias.

Ino tersenyum simpul, namun senyumnya menghilang saat ia berkata dengan pandangan menerawang. "Sebenarnya dulu, aku menyukai Gaara."

Jantung Gaara seolah mau copot mendengar ucapan Ino. Apa? Dulu… dulu Ino menyukaiku? teriaknya dalam hati.

"Aku selalu memperhatikannya setiap hari di sekolah, di televisi, dan majalah. Bahkan setelah Kaa-san meninggal," Ino tersenyum getir. Ia menghela napas sejenak. "saat itu aku merasa terpuruk dan menangis setiap hari. Hingga saat aku sedang melamun di taman sekolah, Gaara datang dan menghiburku. Tapi, besoknya aku baru tahu kalau ia sudah punya pacar. Hatiku kembali hancur dan saat aku mulai belajar untuk melupakannya, kau menembakku. Tanpa pikir panjang aku menerimamu dan akhirnya aku suka padamu, Sasu-kun," lanjut Ino dengan menyungging senyum andalannya.

Gaara menatap iba pada Ino, ia ingat dulu salah satu fans girlnya ada yang mengaku-aku sebagai pacarnya dan membuat Gaara sangat marah karenanya. Gaara menarik Ino untuk bersandar pada dadanya dan membelai rambut Ino yang terurai lembut. "Sekarang kau menyukaiku 'kan?" tanya Gaara. Entah kenapa hati Gaara terasa sakit saat mengucapkannya.

Ino mengangguk pelan, menikmati belaian Gaara. "Dan entah kenapa, aku merasa kau semakin mirip dengan Gaara setelah kecelakaan itu, Sasu-kun. Gomen, aku tidak bermaksud membandingkanmu, hanya saja… kau semakin lembut," ucap Ino lirih.

.

.

.

Pukul tujuh pagi, hujan kembali turun sehingga menghalangi sinar mentari untuk memberi kehangatan pada bumi. Sasuke membaca buku yang dibelinya dengan serius. Petunjuk pertama yang didapatnya dari buku itu adalah #Cerdas Dalam Mengamati Situasi Lingkungan : Mulailah sebuah pembicaraan yang berkaitan langsung dengan situasi lingkungan.

Petunjuk kedua adalah #Senyuman yang Tulus : Senyum merupakan syarat utama dalam membina hubungan yang baik. Senyum? Ia harus tersenyum? Oh my, apakah dunia telah mengutuknya hingga ia harus tersenyum? Sasuke mengernyitkan keningnya. Senyum dengan tulus? Yang benar saja! Rutuk Sasuke

Sudahlah, langsung praktek saja, tekad Sasuke dalam hati. Ia melangkah keluar dari kamarnya dan nyaris bertabrakan dengan Hinata yang berjalan ke dapur dengan membaca buku. "Hinata, hati-hati."

Ucapan Sasuke menyadarkan Hinata dari keasyikan membacanya, ia mengangkat wajahnya dan terkejut melihat sosok bersurai merah bata yang nyaris ditabraknya. "Go-gomenne, Gaara-kun," ucapnya gugup.

"Hng, ohayou," ucap Sasuke mengawali drama pendekatan yang akan dimainkannya. Dirinya mulai merasa gugup.

"Ohayou," balas Hinata. Ia menutup bukunya dan menelan ludah, merasa gugup pada tunangannya.

Sasuke menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Pa-pagi ini cuacanya cerah, ya?" ucapnya canggung. Seketika ia menyadari kesalahannya melihat jendela yang jelas-jelas menghadirkan pemandangan hujan yang semakin lama semakin deras. Bodoh! maki Sasuke dalam hati.

Hinata terheran-heran, ia memandang jendela dan Sasuke secara bergantian. "Etto, sekarang sedang hujan, Gaara-kun."

Otak Sasuke berputar, berusaha mencari akal agar terlepas dari 'intro' yang gagal. Tiba-tiba,

JDEEERRRR!

"Kyaaaaaa!" Hinata menjerit dan menjatuhkan buku bacaannya dan memeluk Sasuke saking takutnya. Hati Sasuke senang bukan kepalang, diam-diam ia berterima kasih pada sang petir. Dengan wajah datar Sasuke bertanya. "Kau sudah tidak apa-apa, Hinata?"

Hinata tersentak, ia segera melepaskan pelukannya dari Sasuke. "Gomen, aku ti-tidak sengaja, Gaara-kun."

PETS!

Lampu villa mati secara tiba-tiba. Kepanikan mulai merayapi Hinata. "Ga-Gaara-kun, kau di mana?" cicit Hinata panik. Hinata berjalan ke tempat yang ia kira ada Sasuke di sana, tapi ia berjalan ke arah yang salah. Hinata nyaris menabrak meja jika sebuah tangan tidak segera menariknya,

"Hati-hati, di sana ada meja."

Mendengar suara maskulin ini, Hinata segera berbalik. "Jangan pergi dariku. Aku takut," pinta Hinata. Tangannya mencengkram erat pergelangan tangan Sasuke

Sasuke mengangguk pelan-yang pastinya tidak terlihat Hinata- dan mendekatkan Hinata ke dirinya. "Aku ada di sini, aku tidak akan pergi," ucap Sasuke lembut.

"Trrrr… Trrr…"

Ponsel Sasuke bergetar.,Sasuke merogoh ponselnya dari saku dan mengangkatnya. "Moshi-moshi?"

Hinata dapat mendengar percakapan pendek yang tidak dimengertinya karena rasa panik yang masih menyelimutinya. Setelah Sasuke menyudahi pembicaraannya, Hinata memberanikan diri bertanya. "A-Ada apa?"

"Katanya lampu akan mati sampai setengah jam lagi," jawab Sasuke seraya memasukkan ponsel ke saku celananya. Sasuke merasakan tangan yang mencengkramnya bergetar, ia melepaskan cengkraman Hinata dan menggenggam kedua tangannya. "Begini lebih baik 'kan?"

Hinata merasa kedua pipinya memanas, ia hanya dapat mengangguk. Tiba-tiba Hinata merasa tangannya ditarik oleh Sasuke. "Gaara-kun, ki-kita mau ke mana?" tanyanya panik.

"Ke ruang tamu, di sana ada sedikit cahaya," jawab Sasuke sambil terus menarik Hinata.

"Ga—kyaaa," Hinata menjerit kecil ketika kakinya tersandung dan ia kehilangan keseimbangan.

"Hei, hati-ha—" Ucapan Sasuke terputus karena ia ikut kehilangan keseimbangan.

Bruk!

Hinata sama sekali tidak merasakan lantai yang keras dan dingin setelah ia terjatuh, yang ia rasakan malah hangat. Tunggu, hangat? Hinata membuka matanya dan terbelalak menyadari posisinya, ia menindih Sasuke! Hinata segera bangkit dan belum sempat ia mengatakan kata maaf andalannya, petir kembali menyambar diiringi suara khasnya.

JDAARRR!

Hinata segera memeluk Sasuke erat-erat, membenamkan diri di dada bidang Sasuke*yang aslinya milik Gaara* tanpa mempedulikan Sasuke yang megap-megap karena kekurangan oksigen.

1 menit…

2 menit…

3 menit…

4 menit…

5 menit…

Hinata belum sadar dari ketakutannya, ia masih memeluk Sasuke dengan tubuh bergetar. Sasuke yang menyadarinya mengulurkan tangannya untuk membelai kepala Hinata pelan, berharap bisa mengurangi kepanikan Hinata.

Hinata merasa nyaman, hampir sama seperti belaian orang tuanya saat ia tidur di antara Kaa-san dan Tou-sannya di saat badai, hampir sama seperti belaian Neji-nii saat ia ketakutan. Tapi entah kenapa belaian yang satu ini terasa berbeda, hangatnya belaian yang ia dapat dari Sasuke membuatnya merasa aman, tentram, dan ia ingin dunia berakhir seperti ini. Ya, hanya seperti ini.

"Kau sudah tidak apa-apa?" tanya Sasuke lembut setelah dirasanya tubuh Hinata tidak lagi bergetar.

Hinata tersentak, ia segera bangkit dengan diikuti Sasuke dan mengucapkan kata andalannya. "Go-gomen, Gaara-kun," ucapnya gugup.

"Kenapa kau meminta maaf?"

"Eh? Etto, ka-karena aku sudah merepotkanmu," jawab Hinata polos.

Hinata dapat melihat Sasuke menggelengkan kepalanya melalui seberkas sinar samar dari jendela.

"Kau tidak perlu minta maaf, Hinata. Aku tidak akan pernah merasa direpotkan olehmu," Oh Shit! sejak kapan aku jadi begini? rutuk Sasuke dalam hati. Tiba-tiba mulutnya melontarkan kata-kata tanpa sempat diproses dulu oleh otaknya.

"Lagipula Hinata, aku lebih suka kata 'arigatou' daripada 'gomen', mengerti?" lanjut Sasuke yang lagi-lagi tanpa diproses.

Hinata mengangguk pelan. "Arigatou, Gaara-kun."

Sasuke tersenyum, tersenyum tulus! Membuat jantung Hinata berdebar begitu keras dan seolah terdapat beribu-ribu kupu-kupu yang ingin menyeruak dari perutnya. Awal yang cukup baik bagi mereka berdua.

Well done, first mission is complete, Sasuke!

.

.

.

Sasuke menatap buku yang dibawanya di sela-sela pemotretan dengan serius. Jemari lentiknya memegang sebuah bolpen yang siap untuk mencoret-coret.

Petunjuk pertama? Sukses. Sasuke mencentang petunjuk pertama.

Petunjuk kedua? Sukses. Sasuke kembali mencentangnya.

Petunjuk ketiga? #Hilangkan Sikap Ragu-Ragu. Sasuke berpikir sejenak, ia tidak bersikap ragu-ragu sama sekali 'kan? Sasuke mencentangnya.

Petunjuk ke empat? #Bahasa Tubuh yang Positif : 'Cobalah berdiri tegak dengan bahu belakang dan dada yang tegak, serta berjalanlah dengan santai dan tenang.' Sasuke mencentangnya.

Petunjuk ke lima? #Tidak Terlalu Cepat : 'pendekatan yang rileks biasanya merupakan cara terbaik untuk membuatnya merasa nyaman dengan keberadaan Anda.' Oke, aku kan melakukannya, tekad Sasuke.

Petunjuk ke enam? #Pertahankan Kontak Mata : 'Jangan pernah menjadi yang pertama memecahkan kontak mata dengannya. Bila Anda menggunakan kontak mata yang kuat, dia akan merasa lebih tertarik kepada Anda. Untuk menguasai teknik ini, Anda harus melatihnya, terutama tentang pandangan mata yang sejuk, dan hindari cara kontak mata yang terkesan seram atau galak.' Sasuke termenung, selama ini orang yang ia pandang biasanya selalu menyingkir ketakutan bila bertemu mata dengannya. Sasuke sadar, ia harus berlatih untuk petunjuk yang ke 6.

"Gaara, kau sedang apa?"

Sasuke menoleh dan mendapati Ino sedang menatapnya heran. Ia segera menyembunyikan bukunya. "Just thinking of something," jawab Sasuke sekenanya. Yang penting ia tak berbohong 'kan?

"Apa aku mengganggu?" tanya Ino cemas. Ia tahu bagaimana tak enaknya ketika sedang asyik memikirkan sesuatu dan tiba-tiba seseorang mengganggunya.

Ya, sangat… desis Sasuke dalam hati. Namun, dengan bermodal sebuah senyum palsu, ia berakting. "Tentu saja tidak. Ada apa kau kemari, Ino?"

Ino sedikit salah tingkah. "Eh? Umm… apa kau melihat Sasu-kun? Aku mencarinya dari tadi."

Sasuke menggelengkan kepalanya. "Gomen, aku tidak melihatnya sama sekali. Kenapa kau mencarinya?"

Ino menghela napas. "Dia bilang, dia mau menjadi manajerku. Jadi, hari ini dia mau kujelaskan beberapa hal tentang tugas-tugasnya bersama Temari-nee," jelas Ino. Tiba-tiba mata Ino menangkap dua sosok yang sangat familiar baginya, seorang gadis bekucir empat yang sedang mendorong kursi roda seorang cowok bergaya rambut emo. Di saat bersamaan, ada sebuah perasaan aneh dan menyesakkan muncul di dada Ino, yang langsung ditekannya.

"Sasu-kun! Temari-nee! Kalian dari mana?" seru Ino sambil melangkahkan kakinya pada mereka, meninggalkan Sasuke.

Temari mengangkat wajahnya dan sedikit terkejut melihat Ino, ia baru saja mengintrogasi Gaara tentang apa saja yang sudah dilakukannya dengan Ino. "Ino, aku hanya, umm—menjelaskannya sedikit tentang bagaimana jadi manajer," Temari berbohong, tak mungkin ia memberitahu yang sebenarnya pada Ino, 'kan?

Sementara Ino, Temari, dan Gaara bercakap-cakap, Sasuke kembali fokus pada buku yang sempat ia sembunyikan.

Petunjuk ke tuj—

"Gaara, waktumu untuk bersiap-siap!" seru Temari setelah melirik jam tangannya.

Shit!


TO BE CONTINUE

V

SPECIAL THANKS FOR :

RisufuyaYUI : gomeeen, chapter 4 emang sengaja dikhususin buat GaaIno, tapi buat chapter-chapter selanjutnya interaksi SasuHina bakal lebih sering. Meski ntar juga ada GaaIno-nya juga, maklum, dobel pairing! XD makasih reviewnya dan review lagi, ya!

Diane Ungu : Sepertinya author gagal membuat Sasuke menjadi lebih agresif di sini, yang jadi malah... OOC, gomen dan makasih reviewnya, review lagi, ya! :D

AzuraCantlye : Maklum, belum berpengalaman #dilemparinsandalmasjid XD makasih reviewnya dan review lagi, ya!

nurul. wn : udah nih, :D makasih reviewnya dan review lagi, ya!

dee-chaan : Iyaaa! Sasuke di sini belum berpengalaman! *digebukin FC Sasuke* tadi pas author sampaikan pesan dee-chan, sama gaara malah diteriakin, "Mohon maaf, saya hanya mencintai Ino," Sabar ya, dee-chan. author juga digituin kok *gigit jari*makasih reviewnya dan review lagi, ya!

Yafa mut : rasanya kurang banyak, ya, sasuhinanya. aish... doakan di chapter selanjutnya author bikin lebih banyak lagi, ya! makasih reviewnya dan review lagi, ya!

Kirei Murasaki : udaaah~ gomen kalo Sasuke jadi OOC, -_-a makasih reviewnya dan review lagi, ya! :D

Guest : Sip! Ini udah lanjut, kok! maklum Sasuke belum berpengalaman *dihajar readers* makasih reviewnya dan review lagi, ya! :D

Evil Smirk of the Black Swan : Makasih! Author nggak nyangka bisa bikin romance yang kerasa dan -untungnya- nggak sampai lalala~ #plak XD makasih reviewnya dan review lagi, ya!

cumaReadergakpenting : Author usahain! doain author ya! makasih reviewnya dan review lagi, ya!

Ale. Alexandra : hehe, makasih.. apa di sini sudah jelas mana sasuke mana gaara? :D makasih reviewnya dan review lagi, ya!

Naa-chan312 : ahahahahahaha... sepertinya tokoh-tokoh ini OOC sesuai dengan perkembangan dari sifatnya sendiri, yaa~ makasih udah nyempetin baca dan ngerepiu, repiu lagi, ya! :D

V

JANGAN LUPA REVIEW, YA!

DON'T BE A SILENT READER, PLEASE...

V

REVIEW KALIAN ADALAH BAHAN BAKAR AUTHOR BUAT NGE-UPDATE!

V

V