Tok...tok...tok...
"Lucy buka pintunya!" seru seseorang mengetuk pintu dengan tergesa-gesa, pasti Ultear-nee
"Apa yang Ultear-nee lakukan? Jam tiga sore baru pulang ke rumah"
"Sudah jelas bukan, nee-san...mencari...mu..."
"H'ai, h'ai, maaf karena aku tidak menelpon jika sudah berada di rumah" ucapku tanpa niat meminta maaf secara tulus, masih terpikirkan tentang masalah spam dari Jenny
"Heh...ekspresi wajahmu sangat tidak biasa, ceritakanlah pada nee-san tercintamu ini"
Ya ampun, baru datang sudah menggoda adiknya sendiri sambil tersenyum usil. Aku sempat berpikir sejenak, apakah masalah ini penting untuk diceritakan atau tidak, tetapi mau ditutupi serapat apa pun, Ultear-nee pasti akan tetap memaksa, jadi sia-sia saja dong. Dasar...aku jadi melakukan hal yang membuang waktu. Apalagi wajah memelas itu sangat membuatku muak.
"Jenny membuat masalah kembali, dia spam flame di cerita milik Levy"
"Ti-tidak mungkin!"
"Terserah Ultear-nee, jika ingin tertawa karena ini bukan sifatku yang biasanya, memang seorang Lucy Heartfilia dengan motto 'Teman hanyalah sampah yang sering memanfaatkanmu' sama sekali tidak pantas mempedulikan orang lain"
"Bukan seperti itu maksud nee-san...lalu kamu ingin menolong Levy, begitu?"
"Ya bisa dikatakan seperti itu, akhir-akhir ini Jenny terlalu sering membuat masalah, karena itulah aku ingin memberikan pelajaran khusus kepadanya"
"Menarik, lagipula nee-san juga tidak suka dengan sifatnya yang sombong. Tidak berpikiran untuk memberi flame balik?"
"Bisa-bisa semua orang mengatakan, aku iri karena ceritanya jauh lebih bagus dari buatanku"
Mengakui hal ini memang sangat menyakitkan, tetapi cerita Jenny bisa dibilang sangat sempurna tanpa ada kekurangan meski hanya sedikit. Typo, OOC, pengulangan kata, kesalahan dalam tanda baca maupun EYD bagikan mitos semata, jika aku menjelek-jelekkan ceritanya tanpa alasan jelas, dalam waktu satu hari pun cercaan akan datang darimana-mana, lalu tak lama kemudian muncullah gosip 'Lucy Heartfilia Si Nona Kuper Iri Dengan Seorang Jenny' merusak nama baikku saja...
"Padahal nee-san pikir, dengan sifatmu yang sekarang kamu akan berbicara blak-blakan tanpa pikir panjang"
"Adik sintingmu ini masih memiliki akal sehat tau...lagi pula mengejek karya orang lain adalah haram dalam kamusku"
"Maaf, tetapi kali ini nee-san sama sekali tidak bisa membantumu. Pikirkanlah cara yang paling baik, supaya Jenny bisa mendapatkan pelajaran khususnya, jaa ne" ucap Ultear-nee masuk ke dalam kamar, sedangkan aku kembali memasang wajah masam
Tau begini untuk apa diceritakan, membuang tenaga saja. Entah mengapa selama beberapa waktu terakhir ini otakku menjadi sangat tumpul, oh ayolah sekarang atau tidak sama sekali. Apa mungkin aku harus mendiskusikan hal ini dengan Jellal dan Levy? Tetapi jika mereka tidak setuju berarti sia-sia, hal yang paling kubenci adalah ketidakpastian, karena itulah dalam melakukan suatu pekerjaan aku selalu memastikan akan berhasil seratus persen, jika tidak kebiasaan burukku yakni menggerutu akan kumat.
"Sekedar memberi usul saja, bukankan lebih baik kamu membahas hal ini bersama kedua temanmu itu?" tanya Ultear-nee yang mendadak muncul seperti hantu, berdiri dekat pintu kamar sambil menyilangkan kedua tangannya
"Kalau mereka menolak jadi sia-sia" jawabku singkat, padat dan jelas
"Memangnya kamu peramal apa bisa mengetahui hal seperti itu? Kita tidak akan pernah tau jika belum mencoba, anggap saja perkataan nee-san tadi sebagai pelajaran khusus untukmu"
Penyakit sok bijaknya kambuh lagi...gerutuku dalam hati masih dalam posisi berpikir, tetapi lama-kelamaan aku mengantuk dan justru tertidur di atas meja belajar, melelahkan juga ternyata hanya diam tanpa melakukan apapun. Jam baru saja menunjukkan pukul lima sore, dari luar samar-samar aku mendengar suara ibu yang tengah berteriak memanggil namaku, pasti untuk makan malam. Mengisi perut juga tidak ada salahnya, perutku pun sudah berbunyi nyaring sedari tadi.
"Itadakimasu"
Antara lauk dengan nasi tidak memiliki jeda beberapa menit saat masuk ke dalam mulutku, bahkan Ultear-nee sampai memasang wajah cengo karena melihatku seperti tidak makan selama tiga hari lamanya. Tak sampai sepuluh menit nasi putih dalam mangkok habis tanpa menyisakan satu butir pun, ibu berkata jika tidak mereka akan menangis nanti. Sudah jam setengah enam rupanya, untung saja belum telat untuk menonton acara film favoritku. Mendadak urusan dunia nyata lenyap dari dalam pikiranku, termasuk soal Jenny dan flame itu.
Diam-diam di belakang...
"Apa Lucy memang serius ingin menolong Levy?" tanya Layla yang tidak lain adalah ibu dari Lucy, sedang berbisik dengan Ultear
"Ibu tenang saja, Lucy akan sangat serius dalam hal-hal seperti itu. Akan kubuktikan jika dia sudah banyak berubah dibandingkan sebelumnya" jelas Ultear terdengar sangat menyakinkan, meski tidak ada yang tau apakah itu akan menjadi kenyataan atau sekedar hayalan semata
Keesokan harinya...
Hari yang baru telah dimulai, aku membuka jendela dan membiarkan sinar matahari menerobos masuk. Meski tak lama kemudian ditutup kembali karena sangat silau saat mengenai mata. Setelah tidur seharian pun aku masih belum menemukan cara yang baik untuk memberi pelajaran khusus pada Jenny. Mungkin Ultear-nee benar jika sifatku yang berbicara secara blak-blakan harus ditunjukkan sekarang, HAHAHA lucu sekali badut bodoh, aku berkata seperti Jenny akan mendengarkannya lalu berterima kasih sambil menangis tersedu-sedu karena sudah membuatnya sadar. Ingatlah dengan statusmu Lucy, ingatlah itu! Kamu hanya si nona kuper, murid buangan di kelas!
NYIITT...CKLEK!
Suara bunyi dari loker saat aku menutupnya terdengar cukup jelas jika engsel laci sudah mulai rusak, ya semoga saja tidak lepas secara mendadak beberapa saat ke depan nanti. Dari belakang Levy menepuk pundakku pelan, memberi isyarat yang mengajak untuk pergi ke kelas bersama-sama. Kalau kuperhatikan lebih lanjut air mukanya cukup baik, apa flame itu sama sekali tidak memberi pengaruh atau mungkin dia belum membacanya karena merasa takut?
"Lu-chan pasti sudah membaca ceritaku, buruk ya? Sampai-sampai Jenny-san memberi flame yang sama sebanyak lima kali berturut-turut" Levy bercerita seakan ekspresi wajahku sudah menjelaskan semuanya, namun dia tetap tersenyum meski agak sedikit dipaksa
"Buruk sih tidak, menurutku biasa saja. Jenny memang terlalu berlebihan, apa kamu tidak merasa sedih atau kesal?"
"Sejujurnya aku sangat sedih dan ingin menangis, tetapi jika ceritaku jelek apa boleh buat"
"Apa setelah ini kamu akan tetap membuat cerita?"
"Entahlah, aku agak sedikit ragu hehehe..."
Dari percakapan tadi sangat jelas, Jenny benar-benar mempengaruhi mental pendatang baru secara keseluruhan karena dia sendiri terkenal dan keberadaannya bisa dianggap cukup penting. Siapa sih yang tidak mau mendapatkan review dari orang ternama? Meski aku sendiri tidak peduli apalagi alasanku bergabung menjadi member bukan atas keinginan sendiri. Kami berpisah di depan kelas 1-D dan ketika memasuki kelas tatapan sinis dari Jenny langsung menyambutku dingin, apa sebegitu bencinya?
"Hentikanlah tatapanmu itu, membuat orang muak saja" ucapku ketika melewatinya, tetapi dia malah menggertakkan gigi dan masih berwajah sinis seperti tadi
Berbicara dengan orang tuli seperti Jenny memang tidak ada gunanya, lebih baik aku menikmati hari ini tanpa perlu berpikir hal lain lagi. Selama pelajaran IPS berlangsung angin sepoi-sepoi yang berhembus lewat jendela nyaris membuatku tertidur, ketika istirahat tiba nanti lebih baik aku tidur saja daripada harus mengunjungi kelas sebelah lalu membahas masalah itu.
Ding...dong...ding...ding...
"Hoammzz...oyasumi"
Namun belum lama memejamkan mata aku langsung terbangun kembali karena mendengar suara langkah kaki, dan ternyata mereka adalah Levy dan Jellal. Mungkin Tuhan sudah merencanakan hal ini jadi mau bagaimana lagi, jika diusir kasihan juga melakukan tindakan jahat seperti itu pun hanya akan mempersulit diriku sendiri.
"Baguslah jika kalian berdua sudah datang, jadi aku tidak perlu mampir segala. Tunggulah sebentar di sini, aku ingin cuci muka. Ingat, jangan pergi kemana-mana"
"Dia terdengar sangat serius, apa kamu mengetahui sesuatu?' tanya Jellal yang dibalas gelengan kecil dari Levy, untuk saat ini mereka berdua hanya bisa menerka-nerka tentang hal apa yang ingin Lucy bahas
"Hey, mungkin dia sudah menganggap kita sebagai temannya" giliran Levy membuka mulut, merasa sangat yakin karena seorang Lucy Heartfilia tidak akan pernah membicarakan suatu hal dengan orang lain kecuali orang itu adalah temannya
Mereka berdua misterius sekali, pasti merasa aneh karena sifatku berubah seratus delapan puluh derajat secara mendadak. Usai mencuci muka, ada seorang murid membagi-bagikan kertas selebaran perihal voting author favorit di fanfiction. Semua nama yang tertera sama sekali tidak kukenal, kecuali Jenny seorang. Dengan kemampuannya itu tidak mengherankan jika dia masuk dalam calon author favorit, tetapi masih harus diadakan pemilih lagi untuk menentukan siapa yang benar-benar pantas.
"Kamu sudah menerimanya?" Jellal bertanya sambil menunjukkan selebaran yang sama persis dengan punyaku, begitu juga Levy
"Lagipula untuk apa ini?" tanyaku yang sama sekali tidak mengerti apapun, tetapi sistemnya agak sedikit mirip dengan pemilihan ketua OSIS
"Aku dengar kompetisi macam ini sudah menjadi tradisi sekolah Fairy Tail, calonnya adalah murid SMP sampai SMA" jelas Levy secara singkat, padat dan jelas, entah mengapa aku ingin golput...
"Jadi kalian berdua akan memilih?"
"Kalau aku sih iya, bagaimana denganmu Jellal?"
"Lebih baik daripada golput, lagipula aku mengenal beberapa author dalam daftar pilihan itu kok"
Website fanfiction sangat terkenal rupanya di kalangan murid-murid, berarti memang aku ini terlalu kudet dan kuper. Kenapa jadi melenceng dari topik?! Gerutuku dalam hati sambil menarik kursi untuk diduduki, lelah juga berdiri terus.
"Cih...aku sama sekali tidak mengenal siapapun dalam daftar ini kecuali Jenny, kenapa kamu tidak masuk dalam daftar?' pertanyaan itu kulontarkan pada Jellal yang secara pribadi menurutku cukup pantas disandangkan dengan author pro
"Mana mungkin, lagi pula aku tidak sehebat itu kok"
"Apa boleh kita mengusulkan kandidat lain?"
"Sepertinya boleh-boleh saja..." balas Levy terdengar cukup ragu, tetapi setidaknya aku masih memiliki kesempatan
"Bukankah kamu ingin membicarakan suatu hal dengan kami berdua?"
"Ini tentang Jenny, aku berpikir untuk memberi pelajaran khusus kepadanya dan ajang pemilihan author favorit itu benar-benar pas!"
"Ja-jadi seperti apa rencanamu?" menyebalkan sekali...tidak perlu sampai merinding seperti itu bukan Jellal?
"Rahasia, kalian lihat saja nanti!"
Tidak salah lagi, ini adalah rencana terbaik untuk menyadarkan Jenny! Tanpa kusadari Jellal dan Levy sempat memasang wajah poker face karena dibuat heran oleh tingkahku yang mendadak jadi bersemangat, tetapi di sisi lain juga membuat mereka tersenyum tipis karena telah berhasil melihat sisi lain dari diriku yang teramat sangat rahasia.
Satu minggu kemudian...
Sesuai dugaanku, Jenny keluar menjadi pemenang dalam voting tersebut dan wajah penuh kesombongan itu nampak terlihat kembali. Kuhampiri salah seorang panitia yang ikut terlibat, di depan seluruh murid, secara terang-terangan dengan suara lantang aku mengajukan protes tentang hasil dari pemilihan itu. Sudah jelas jika Jenny sangat marah karena dia ditentang menjadi seorang juara.
"Aku keberatan kalau Jenny dipilih sebagai author favorit!"
"Jelaskanlah, apa karena hasil dari voting itu mengandung kecurangan?" tanya Wendy yang merupakan murid kesayangan semua guru, selain baik dan pintar dia juga manis. Mengajukan protes kepadanya sama sekali tidak salah!
"Bukan, tetapi menurutku seorang author sombong sepertinya tidak pantas menyandang posisi sebagai author terbaik"
"Katakan saja jika kamu merasa iri karena aku jauh lebih baik darimu!" buka mulut juga dia...akan kuhancurkan sifat sombongmu itu hingga berkeping-keping Jenny!
"Iri pada orang sepertimu adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan. Aku ingin bertanya beberapa hal dan jika jawaban darimu membuatku puas kamu boleh menjadikanku budak hingga kita lulus nanti"
"Tanyakan saja, aku pasti akan menjawabnya dengan sangat jujur"
"Apa arti review bagimu?"
"Tidak lebih dari perkataan yang sekedar memberi semangat atau pujian, sampai-sampai membuatku bosan untuk membacanya"
"Pertanyaan selanjutnya, apa arti readers bagimu?"
"Mereka hanyalah sekedar pembaca yang kubutuhkan untuk mencapai target"
"Terakhir, bagimu apa arti dari membuat cerita?"
"Tentu saja untuk menunjukkan bahwa aku sangat hebat dalam hal ini"
Jawaban yang Jenny lontarkan barusan sangatlah jelas, dia benar-benar sombong dan merasa lebih hebat dari siapapun. Sekarang waktunya memberi pelajaran.
"Bodoh sekali, setelah mendengar jawaban darimu aku menyadari suatu hal yang sepertinya tidak orang lain ketahui"
"Apa yang kau tau nona kuper?!"
"Kamu bukanlah seorang author sejati! Mereka tidak akan menganggap review dan readers hanyalah sampah untuk mencapai suatu target. Membuat cerita pun tidak sekedar menunjukkan kemampuan, apa kamu tidak merasa senang setiap kali ada orang lain yang dengan sukarela membagi waktunya demi membaca ceritamu?"
"..."
"Dan lagi, apa sebegitu mudahnya bagimu untuk memberi flame karena cerita dari pendatang baru memiliki banyak kekurangan? Asal kamu tau saja, tidak semudah itu untuk membuat satu cerita! Kami yang belum berpengalaman membutuhkan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari! Terkadang juga merasa ragu, apa cerita ini memang pantas untuk dipublish? Kira-kira akan mendapat berapa review? Semua orang menyukai atau justru membencinya?"
"Memberi flame tidak dilarang kok" ingin membela diri sendiri padahal sudah jelas salah, kau benar-benar seorang muka tembok sejati Jenny...
"Aku tau memang tidak dilarang, tetapi tetap saja kamu harus memikirkan perasaan orang lain. Semua orang di fanfiction membuat cerita bukan untuk ditertawakan, mereka pasti ingin mencari pengalaman yang akan berguna di masa depan nanti, teman sesama author agar bisa saling berbagi satu sama lain. Tetapi apa tujuanmu bergabung? Hanya untuk menjadi terkenal, mentertawakan orang lain, berlagak sombong? Sangat pantas untuk ditertawakan, dasar badut bodoh"
"..."
"Jujur saja, aku merasa ceritamu sepuluh kali lipat lebih buruk dari milik Levy. Author hebat apanya, kamu tidak lebih dari pesulap yang baru memperlajari beberapa trik baru langsung pamer kemampuan. Di atas langit masih ada langit, ingatlah akan peribahasa itu Jenny"
Perang mulut antara aku dan Jenny selesai dalam waktu sekitar lima menit lamanya, untung saja jam pelajaran terakhir kosong, rata-rata guru pun sedang ada urusan di luar sekolah. Syukurlah aku masih memiliki keberanian untuk mengajukan protes, meski ada konekuensi yang harus ditanggung.
"Wendy aku meminta pendapatmu secara pribadi, apakah Jenny memang pantas menjadi seorang author terbaik?"
"Menurutku tidak, seorang author sejati pasti akan menganggap review dan readers sangat penting baginya, mau berusaha lebih baik lagi demi membuat para fans senang"
"Dengarlah, bahkan Wendy pun menolak Jenny sekarang! Aku yakin panitia dari kompetisi tersebut tidak akan memilih author tanpa tata krama sepertinya"
"Apa Lucy-san memiliki kandidat lain yang dirasa pantas?"
"Hmm...aku tidak terlalu mengenal nama-nama author yang ada dalam daftar, bagaimana kalau Jellal saja? Dia juga tidak kalah hebat kok"
"Tentu, kami akan mendiskusikannya sepulang sekolah nanti" ucap Wendy menerima usul dariku dengan terbuka, sedangkan ekspresi anak sialan itu semakin tidak karuan
"Apa hebatnya si pe..."
"Diam...kau tidak memilik hak untuk mengomentari Jellal. Menurutku author terbaik adalah mereka yang mampu mengaduk emosi readers dan menyisipkan pesan moral di setiap ceritanya. Berbeda denganmu yang selalu membuat mary sue, asal kamu tau saja hidup tidaklah selalu membahagiakan seperti dalam ceritamu. Ya lagi pula wajar saja, Jenny adalah tuan putri yang hidup dalam kemewahan dan harta berlimpah, mana mungkin mengerti hal-hal macam itu"
Ding...dong...ding...dong...
Ketika bel pulang sekolah berbunyi aku langsung menyambar tas dan keluar lebih dahulu dari yang lainnya. Perasaan deg-degan dan puas bercampur aduk menjadi satu, terlalu sulit untuk dijelaskan tetapi ada satu hal yang aku yakini, tadi itu adalah pelajaran terbaik untuk Jenny. Apa dia masih akan menjadi seperti dirinya di masa lalu atau tidak kita lihat saja nanti. Ada sebuah aturan dalam diriku yang berbunyi "Setelah melakukannya maka tidak boleh disesali" dan aku sama sekali tidak menyesal, meski setelah ini harus dibenci oleh semua murid sekalipun...
Bersambung...
Kamus : Mary sue adalah cerita tentang dimana tokoh wanitanya hidup serba sempurna, memiliki laki-laki yang tampan serba senang deh, bahkan ending juga.
Balasan review :
Kasumi Yukimura : Thx ya udh review. Gimana chap 6-nya?
Fic of Delusion : Mungkin selanjutnya gak bakal update kilat, karena jadwalku pub chapter baru gak nentu. Thx ya udh review
A/N : Mungkin hiatus dulu, sepi nih :3 /masangwajahgakberdosa
