"Sasuke-kun benar. Kurasa kaubisa menjadikan Sakura sebagai obat hatimu, Naruto," Ino tergelak dan memberi Sakura seringaian yang menurut Sakura begitu menggelikkan. Naruto yang duduk di depan Sakura hanya menundukkan kepalanya, telinganya memerah dan ia menggumamkan kata-kata tak jelas.
Obat hati, eh? Apa maksudnya?
Another Story About Siren
Genre: Romance, Fantasy
Rated: T+
Warning: OOC, Typoo's, AU, DLDR, dll
Main Pair: Uzumaki Naruto & Haruno Sakura
And other pair
Disclaimer: Naruto©Masashi Kishimoto
Story©Yara Aresha
This Feeling, I Don't Understand
Naruto menatap kedua sahabatnya dengan jengah ketika mereka tengah menyantap sandwich yang dibuat oleh Ino. Pikirannya kembali bergulir ke waktu beberapa menit yang lalu.
Obat hati? Apa yang dimaksud Ino dengan obat hati? Sakura? Mengobati hatinya yang patah karena wanita berhati iblis itu?
"Kuharap kalian berdua tidak berbicara macam-macam kepada Sakura. Dia ini wanita aneh dari negeri antah berantah yang kosakatanya dan kemampuan berbahasanya terbatas. Jadi jangan kejutkan dia dengan bahasa-bahasa konyol kalian," ujar Naruto setelah selesai menyantap gigitan terakhir sandwich-nya.
Sakura tampak tak menghiraukan apa yang terjadi saat itu. Fokusnya tak bisa teralihkan dari tumpukan sandwich yang kini menjadi salah satu makanan kesukaannya. Tanpa ragu, Sakura kembali mengambil beberapa potong sandwich dan melahapnya dengan rakus. Membuat siapa saja yang melihatnya mengerutkan kening dan menggeleng.
Kali ini Naruto menolehkan kepalanya ke kiri dan tersenyum kecil. "Sakura, apa kau sangat menyukai sandwich?" tanyanya.
"Ya, rasanya enak. Ini makanan terenak yang pernah kumakan," jawabnya dengan mulut penuh dan tanpa sedetik pun mengalihkan tatapannya kepada Naruto.
Naruto terkikik geli, jemarinya bergerak pelan ke arah pipi Sakura yang tembam. Membersihkan remah-remah sandwich yang menempel di sana. "Hei, pelan-pelan saja. Kau bisa tersedak jika cara makanmu tidak beretika seperti itu," ujar Naruto, "aku akan membeli pakaian untukmu setelah ini, kau mau ikut denganku?" sambungnya.
Sakura melirik Naruto dan menggeleng pelan, "aku suka pakaian ini. Apa aku tidak boleh memakai ini saja?"
Naruto mendesah pelan, "kau tidak bisa memakai pakaian itu terus menerus. Kau harus mengganti pakaianmu, Sakura."
Ino yang duduk di seberang mereka berdua tersenyum memerhatikan sahabatnya dan wanita yang baru saja hadir ke dalam kehidupannya dan melengkapi mereka. "Sakura bisa memakai pakaianku, banyak pakaian layak yang tidak terpakai olehku. Untuk sementara waktu dia bisa menggunakannya. Jika Sakura tidak suka, aku siap menemaninya berbelanja. Aku yakin Naruto tidak bisa memilihkan baju yang bagus untuk wanita secantik Sakura," ujar Ino.
Sakura tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya penuh antusias. "Terima kasih, Ino," katanya.
Naruto tidak memberikan komentar apapun dan menggangguk tanda setuju. Meskipun sedikit kesal karena secara tidak langsung Ino mengatakan bahwa seleranya dalam memilih pakaian wanita sangatlah buruk, tapi sudahlah...
Acara makan siang pun kembali tenang dan khidmat. Tampaknya masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Seperti Sakura yang terlalu menikmati sandwich-sandwich tercintanya. Namun suasana tenang itu tak berlangsung lama, saat Sasuke membuka suara.
"Well, ini benar-benar menarik. Negeri antah berantah? Jadi, kaumulai percaya dengan dunia dongeng sekarang, Naruto? Dan, Sakura, apa kau bukan manusia?" suara baritone milik Sasuke menggema di ruangan itu dan memecah keheningan yang tercipta. Seketika atmosfir berubah menjadi lebih menegangkan.
Sontak saja Sakura menghentikan kunyahannya. Tubuhnya menegak dan entah kenapa Sakura merasakan kerongkongannya tercekat. Sementara Naruto yang duduk di sampingnya ikut menghentikan pergerakan tangannya yang semula hendak mengambil segelas orange juice, Naruto menatap Sasuke dengan ekspresi terkejut. Saat ini Sakura dan Naruto sama-sama merasakan kecemasan. Semua ini jauh dari ekspektasi mereka. Sasuke benar-benar jenius. Begitu cepat membaca situasi yang terkesan janggal. Pertanyaannya itu seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Lalu sekarang, apa yang harus mereka lakukan? Apakah Sakura harus mengakui bahwa dirinya memang bukanlah seorang manusia? Apakah Naruto harus menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu? Atau keduanya harus tetap bungkam dan menyembunyikan yang sebenarnya sampai Sakura kembali mendapatkan ekornya dan hidup di dunianya seperti dulu? Tapi, bukankah sebuah kebohongan lambat laun akan terungkap juga, semuanya hanya masalah waktu. Mungkin dengan menceritakan semuanya, Sasuke dan Ino bisa membantu untuk mendapatkan cara mengembalikan ekor Sakura. Hal tersebut bukanlah suatu yang mustahil, karena siapapun tahu bahwa Sasuke dan Ino adalah pasangan yang terobsesi dan percaya dengan dunia mistis, magic, dan hal-hal yang sulit diterima dengan nalar sehat. Tampaknya, Sakura dan Naruto harus merundingkan langkah mana yang mereka ambil, mereka benar-benar harus berpikir dua kali lipat lebih bijak dan matang mengenai hal ini. Tapi, tentu itu tak mudah, karena mereka tak memiliki kesempatan untuk berunding dalam posisi dan kondisi seperti ini.
Oh, Tuhan...
Sasuke menopang dagunya dengan tangan kanannya. Seringaian kecil menghiasi wajahnya yang tampan itu. Membuat Ino yang duduk di sampingnya merinding, "maksudmu apa? Sasuke-kun?" tanya Ino.
"Aku hanya ingin memastikan, bahwa Sakura itu manusia atau bukan. Akumerasa ada banyak keanehan dalam dirinya. Akuyakin kau juga merasakannya, Ino," balas Sasuke dengan nada suara yang terkesan menyudutkan.
Ino terdiam mendengar kalimat yang dilontarkan Sasuke. Apakah intusisinya benar? Bisa saja Sakura seperti tarzan yang ditinggalkan ibunya di hutan, dan dirawat oleh binatang-binatang hutan sehingga berperilaku aneh. Banyak kemungkinan. "Entahlah, aku tidak yakin. Kau tidak bisa menuduh tanpa bukti yang jelas, Sasuke-kun," balas Ino.
"Baiklah, baiklah... Kurasa lelucon ini cukup Sasuke," potong Naruto dengan suara lantang.
Sasuke menaikkan alisnya, "lelucon katamu? Tentu tidak. Aku hanya memberikan pendapat," katanya.
"Itu bukan pendapat. Kau seperti menginterogasi. Sakura ini manusia, dia punya kaki bukan ekor," sahut Naruto kesal.
"Ekor? Maksudmu?" Ino dan Sasuke saling berpandangan. Kemudian mereka berdua menatap Naruto dengan bingung.
Sial. Aku keceplosan.
"M-Maksudku..."
Ting tong ting tong
Belum sempat Naruto menyelesaikan ucapannya. Terdengar bunyi bel yang ditekan tak sabaran. Membuat semua orang yang ada di ruangan itu mengalihkan pusat perhatian mereka ke arah pintu. Diam-diam Naruto dan Sakura merasa lega dengan interupsi itu. Mereka berharap obrolan seputar 'Sakura manusia atau bukan' selesai sampai di sini.
"Kaumengundang tamu?" tanya Ino kepada Sasuke.
Sasuke menggelengkan kepalanya dan segera pergi meninggalkan ruang makan tersebut ketika bunyi bel rumah Ino semakin cepat. Benar-benar orang tidak sabaran. Beberapa detik kemudian, Sasuke sampai di depan pintu. Diputarnya kenop pintu itu, lalu membukanya.
.
.
"Aku ingin berbicara dengan Naruto. Dia ada di sini 'kan? Kulihat mobilnya terparkir di depan rumah ini, sekarang biarkan aku bertemu dengannya," suara itu terdengar melengking di indera pendengaran Sasuke.
Tch wanita ini, Sasuke membatin.
Sesosok wanita berambut pirang pucat berdiri di depan rumahnya. Dengan dandanan yang menurut Sasuke terlalu vulgar. Baju lengan pendek dengan kerah rendah dan sebuah rok mini denim yang hanya menutup setengah pahanya. Ya, memang wanita itu selalu berpenampilan super sexy sejak dahulu. Tapi, jujur saja Sasuke tak pernah menyukainya. Heran, Naruto bisa mencintai wanita seperti ini.
"Hn, Shion. Kurasa Naruto tidak ingin bertemu denganmu. Lebih baik kau pergi saja," balas Sasuke dengan nada bosan.
Alih-alih pergi dari rumah Ino, Shion menerobos pintu masuk dan berjalan dengan santainya ke dalam rumah Ino tanpa seizin pemiliknya. Hal ini membuat Sasuke benar-benar jengah. Wanita bar-bar seperti Shion benar-benar dibenci olehnya. Sekarang entah apa yang akan dilakukan wanita itu. Sasuke hanya bisa berdoa tak akan ada kekacauan. Tapi tampaknya doa Sasuke tak terkabul begitu saja.
"Naruto," teriak Shion seraya menyeruak masuk ke dalam ruangan di mana Naruto bersama tiga orang lainnya berada.
Sontak saja Naruto bangkit dari kursi yang semula didudukinya. Matanya terbelalak terkejut. Napasnya seakan tercekat melihat wanita yang mengkhianatinya itu kini berlari mendekatinya dan memeluknya dengan erat. Naruto tak bergeming. Tubuhnya seakan kaku. Sesaat kemudian Shion berbisik di telinganya, "aku merindukanmu," katanya. Bulu kuduk Naruto meremang. Jujur, meskipun dia membenci Shion karena perlakuannya tempo hari. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Naruto masih sangat mencintai wanita itu.
Sementara Sakura terpaku di tempatnya. Ino berada di sampingnya, sambil memberikan tatapan penuh tanya kepada Sasuke yang ada di belakang Naruto-Shion. Sasuke hanya menggelengkan kepalanya dan menghela napas. Kacau. Kenapa juga wanita itu harus datang di waktu yang seperti ini? Merusak suasana.
Beberapa detik berikutnya atensi semua orang terpusat kepada adegan Naruto-Shion-yang-berpelukan, disaksikan oleh Sakura, Ino, dan Sasuke. Layaknya mereka tengah menonton opera sabun. Hanya bisa diam tanpa bisa ikut ke dalam lingkaran ke dua pasangan itu. Tanpa diketahui siapapun, Sakura semakin dilanda kegelisahan. Sejak tadi, dia berusaha mencerna apa yang terjadi. Tiba-tiba saja sesuatu di dalam dirinya bergejolak. Giginya bergemeletuk. Tangannya meremas ujung bajunya dengan resah. Siapa? Bathinnya bertanya-tanya. Pemandangan di depannya membuatnya panas, seakan darah di dalam sel tubuhnya berada di titik didih teratas. Yah, entah kenapa melihat wanita itu memeluk Naruto membuatnya muak, rasanya ingin memberikan wanita itu cakaran dengan kuku-kukunya. Marah. Namun, Sakura tak mengerti. Marah untuk apa?
Tak kuasa terus melihat Naruto bersama wanita itu, Sakura memilih untuk membuang muka. Dialihkan pandangannya ke arah lain. Hatinya diselimuti pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban. Mengapa dadanya terasa sakit? Sama sakitnya saat melihat kedua orang tuanya tewas. Mengapa rasa benci terhadap wanita yang bahkan tak pernah dikenalinya itu begitu besar? Mengapa dia tak suka melihat Naruto berdekatan dengan wanita lain selain dirinya?
Sakura menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Mengambil oksigen dalam-dalam untuk mencoba meredakan perasaan aneh yang menggelayutinya. Dengan tangan gemetar diambilnya gelas berisi air putih di atas meja makan. Tenggorokannya terasa kering. Dia butuh air.
"Shion," Sakura menegakkan badannya saat Naruto mulai membuka suara.
Shion? Nama wanita itu?
"Apa yang kaulakukan di sini?!" tanya Naruto dengan suara tajam.
"Aku merindukanmu, kumohon, Naruto. Maafkan aku," bujuk Shion dengan nada memelas. Penuh pengharapan di sana. Entah kali ini dia hanya berakting atau sungguh-sungguh, Naruto pun tak tahu.
Naruto menarik napas panjang saat Shion semakin erat memeluk tubuhnya. Matanya melirik gelisah Sakura yang memalingkan wajah darinya. Sial! "Ikut aku!" katanya seraya menarik lengan Shion. Membawanya ke luar, meninggalkan enam pasang mata yang sejak tadi menyaksikan adegan penuh drama itu.
Sakura tersentak ketika Naruto dan Shion berlalu hingga keduanya menghilang dari jangkauan pandangannya. Manik sehijau permata miliknya menatap nanar arah Naruto dan wanita pirang itu pergi. Diletakkannya kembali gelas berisi air yang tak jadi diminumnya. Lalu, sebelah tangannya terulur untuk menekan dada kirinya. Sakit.
Naruto pergi bersama wanita bernama Shion itu? Demi Tuhan dan Dewa Laut, mengapa hatiku sakit seperti ini? Rasanya seperti Naruto meninggalkan aku sendiri, tiba-tiba saja hatiku kosong. Sebenarnya siapa wanita itu? Apakah Naruto tak akan kembali lagi setelah ini? Apakah aku akan diabaikan olehnya? Dan, apakah Naruto melupakan janjinya untuk membantuku mencari tahu ke mana ekorku pergi dan mendapatkannya kembali?Apakah...
"Sakura..."
Lamunan Sakura buyar dan dia sedikit melompat saat tangan Sasuke menepuk pundaknya. Sasuke menatapnya penuh khawatir, sama khawatirnya dengan Ino. "Y-Ya?" jawab Sakura tergagap. Napasnya tak beraturan.
Sasuke tersenyum simpul seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Sakura mengangguk singkat. Lalu Sasuke melanjutkan ucapannya, "apakah kau dan Naruto berpacaran?"
"Berpacaran?" Sakura terdiam sejenak. Mencoba untuk memutar otaknya. Berpacaran, apa itu artinya? Ah, dia ingat sekarang. Berpacaran artinya ketika lawan jenis saling mempunyai ketertarikan dan memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan. Ya, Naruto bilang Sasuke dan Ino berpacaran, karena mereka selalu bersama dan Ino adalah orang yang spesial di hati Sasuke. Lalu, kenapa sekarang Sasuke bertanya padanya? Naruto dan dia tidak pacaran, bukan? Memangnya Naruto menganggapnya spesial? Oh, tiba-tiba saja perut Sakura terasa melilit. Perasaan hangat mulai menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubunnya.
Apa yang kupikirkan? Kenapa aku ingin Naruto menganggapku spesial?
"Kenapa kaubertanya seperti itu?" alih-alih menjawab pertanyaan Sasuke, Sakura kembali melemparkan sebuah pertanyaan.
Sasuke memicingkan matanya, "hubungan kalian begitu dekat, dan Naruto begitu memperhatikanmu. Tapi, kupikir tak mungkin jika kalian berpacaran. Karena kalian baru saja bertemu saat kaumenolong Naruto, kauingat? Waktu dia menjatuhkan diri di laut itu?" katanya.
Sakura mengerutkan keningnya, "menjatuhkan diri di laut? Apa mungkin itu artinya Naruto mencoba untuk, um..." jeda sejenak. Sakura tampak berpikir, mengakhiri hidupnya sendiri? Tidak mungkin Naruto seperti itu 'kan? Siren sepertinya pun tahu, bunuh diri merupakan hal terkutuk dan dibenci oleh Tuhan bahkan Dewa Laut sekalipun.
Sasuke menganggukan kepalanya, "saat dia mencoba untuk bunuh diri," katanya.
"B-Bunuh diri? Benarkah?"
Sakura pikir apa yang terjadi pada Naruto di dermaga tempo hari adalah sebuah kecelakaan. Tapi ternyata... Pantas saja, saat itu Naruto tiba-tiba memejamkan matanya dan terus berjalan ke ujung dermaga sampai akhirnya dia menjatuhkan dirinya ke dalam laut. Sasuke benar, Naruto mencoba untuk membunuh dirinya sendiri. Karena, jika itu sebuah kecelakaan, tak akan mungkin Naruto bertindak seperti itu dalam keadaan sadar. Tapi, kenapa Naruto ingin mengakhiri hidupnya? Sakura tak mengerti. Apa alasannya melakukan tindakan yang paling dibenci Tuhan itu? Masih jelas dalam benak Sakura saat Naruto berteriak-teriak dan mengumpat. Ada kemarahan yang jelas begitu tampak dari teriakannya, meski Sakura tak mengerti apa yang Naruto katakan, karena gemuruh hujan begitu bising, dan dalam hiruk-pikuk semesta alam semacam itu siapapun tak akan sadar bahwa Naruto berteriak melampiaskan rasa sakit hatinya.
Kelopak mata Sakura berubah sayu. Pikirannya berkecamuk. Mungkin Naruto membencinya sekarang. Mungkin Naruto membencinya karena telah menggagalkan aksi bunuh dirnya dan memberinya kesempatan kedua untuk hidup. Makanya, Naruto pergi meninggalkannya bersama dengan Shion. Tapi, tak tahukah Naruto? Bahwa apa yang telah Sakura berikan padanya adalah hal yang sangat penting bagi hidup Sakura. Bahwa mutiara yang Sakura berikan adalah jiwa seorang Siren. Dan Sakura menyadari sesuatu, jika mutiara itu diberikan kepada manusia, maka hidupnya sebagai seorang Siren tak akan pernah sama. Kekuatannya berkurang, tak lagi menjadi Siren abadi, dan dia akan mendapat hukuman dari Dewa Laut. Entah bagaimana bentuk hukuman itu, Sakura tak tahu. Karena Raja, Ratu, ataupun orang tuanya tak pernah memberitahu secara detail bentuk hukuman itu. Tapi, tampaknya Sakura sekarang menyadari sesuatu. Dia kehilangan ekornya, dan mungkin saja ini merupakan bentuk hukuman itu. Adakah kesempatan kedua untuknya menjadi Siren kembali?
Tunggu. Apakah sebentar lagi aku juga akan lenyap? Naruto... Kau harus membantuku! Aku tidak ingin terperangkap dalam tubuh manusia terlalu lama. Aku ingin kembali. Aku ingin kembali ke laut, sehingga aku tak perlu merasakan sakit seperti ini. Sakit yang tak kumengerti dari mana. Dan. jika aku mulai jatuh cinta padanya, aku akan sama seperti Siren terdahulu. Mati tanpa berbekas. Aku tidak mau! Aku harus segera mendapatkan ekorku dan pergi menjauh dari Naruto. Tapi, apa aku bisa menjauh darinya? Sedangkan Naruto pergi bersama wanita itu saja sudah membuatku kebingungan seperti ini.
Sakura kembali menarik napas panjang, mengumpulkan kembali kesadarannya dari pikiran-pikiran acaknya. "Sasuke, apa alasan Naruto melakukan hal itu?" tanyanya.
Sasuke dan Ino tampak saling melemparkan pandang. Keduanya bergerak gelisah. Kemudian Sasuke lebih memilih duduk di kursi dan menatap langit-langit ruang makannya.
"Sasuke! Katakan padaku!" Sakura mulai tak tenang, dia setengah berteriak dan menghampiri Sasuke dengan raut wajah yang sulit dimengerti.
Ino mencoba menenangkannya, "S-Sakura, tenanglah."
Sakura memejamkan matanya, mencoba untuk menenangkan amarahnya yang meledak. Sial, kenapa aku harus peduli tentang hidup Naruto? Bathinnya bertanya-tanya.
Sasuke mengalihkan fokusnya dan menatap Sakura dengan lembut, dia tersenyum tipis. "Maaf, tapi itu bukan kisahku. Meskipun aku tahu, aku tak punya kewenangan untuk menceritakannya kepadamu. Dia akan memberitahumu jika dia sudah siap nanti. Tapi, jika kaumemaksa, aku akan menceritakan sedikit tentang Naruto," jawab Sasuke.
Sasuke berdiri dan berjalan menuju ruang tengah, sementara Sakura dan Ino mengikutinya. Sasuke kemudian mengulurkan tangannya ke atas rak buku yang tingginya hanya sebatas bahu orang dewasa dan mengambil sebuah kotak beludru kecil berwarna merah.
"Duduklah," sahut Sasuke. Sakura pun duduk di atas karpet yang tergelar di tengah-tengah ruang tamu itu. Ino ikut duduk di sebelahnya.
Sasuke pun duduk di depan Sakura dan Ino, lalu memberikan kotak kecil itu kepada Sakura. Sakura menerimanya dengan kerutan di keningnya. Emerald-nya beradu dengan manik obsidian milik Sasuke, Sakura bisa dengan jelas melihat kegusaran di balik tatapan Sasuke. Lalu, Sakura mengalihkan atensinya kembali pada kotak beludru itu. Memegangnya dengan kedua tangannya. Lembut. Kotak itu seperti terbuat dari kain sutra. Detik berikutnya, Sakura mulai membuka kotak itu perlahan. Kosong. Tidak ada apapun di dalam kotak itu.
"Apa ini?" tanya Sakura dan menatap Sasuke dengan raut wajah bingung.
Sasuke melirik kotak itu dengan ekspresi datar. "Itu adalah sebuah kotak yang berisi cincin, tapi Naruto sudah memberikan cincin itu kepada Shion," katanya.
"Shion?" gumam Sakura, dia menahan napasnya beberapa detik, "wanita yang memeluk Naruto tadi?" sambungnya.
Sasuke mengangguk, "mereka dulu sepasang kekasih."
Ouch. Sakura meringis ketika dadanya terasa tertusuk oleh benda tak kasat mata.
"Dulu, artinya sekarang mereka sudah tidak menjalin suatu hubungan? Lalu, apa yang terjadi setelah itu? Apakah kotak cincin itu ada hubungannya dengan hubungan Naruto dan wanita itu?" tanya Sakura panjang lebar, dia melakukannya dalam satu tarikan napas. Membuat Ino dan Sasuke tersenyum kecil. Sepertinya Sakura benar-benar diselimuti rasa penasaran yang mendalam.
"Yang jelas apa yang terjadi setelahnya adalah hal yang buruk. Sesuatu yang sangat buruk sampai membuat hubungan keduanya retak, dan membuat Naruto hancur. Jika kau ingin tahu lebih jauh, cobalah bertanya padanya secara langsung," jawab Sasuke, pandangannya berubah sendu.
Tiba-tiba Ino meraih tangan Sakura dan menatapnya lembut. Rasanya ada yang aneh saat tangannya bersentuhan dengan Ino. Entahlah perasaan apa itu. Rasanya berbeda dengan genggaman tangan Naruto. Genggaman tangan Ino terasa lebih menenangkan dan membuatnya teringat kampung halamannya. Ah, sentuhan Ino begitu lembut, sama dengan sentuhan ibunya.
Lalu Ino membuka mulutnya dan berkata, "aku tahu kau bisa membantu Naruto, Sakura. Aku juga percaya hanya kau yang bisa membuatnya melupakan hal-hal yang menyakitkan dalam kehidupannya. Naruto orang baik, orang baik sepertinya pantas mendapatkan kebahagiaan, bukan? Dan, bisakah akumeminta padamu? Bantu dia mendapatkan kebahagiaannya kembali, bantu dia menjadi Naruto yang selalu penuh dengan keceriaan, hingga akhirnya dia bisa terlepas dari kehidupannya yang kacau."
Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Sakura menganggukan kepalanya setuju. Hatinya gelisah. Apakah Naruto menderita dengan kehidupannya selama ini? Apakah Tuhan mempertemukannya dengan Naruto semata-mata untuk membuat kehidupan Naruto menjadi lebih baik lagi? Hanya dia yang bisa membantu Naruto? Bukankah Sakura membenci manusia. Mereka kejam dan tidak tahu berterima kasih. Tapi, kenapa perlakuan Naruto, Sasuke dan Ino kepadanya begitu baik? Siapapun bisa melihatnya, Sasuke dan Ino begitu menyayangi Naruto. Manusia bisa saling mengasihi juga? Apakah makhluk fana tak semuanya berhati iblis? Dan, sekarang haruskah dia membantu makhluk fana itu demi mendapatkan kebahagiaan? Lagipula, apa yang bisa dilakukannya untuk membuat Naruto bahagia? Dengan kekuatannya? Itu mustahil, karena kekuatannya sudah hilang. Lalu, apa? Di samping itu, bukankah misi utamanya adalah untuk mendapatkan kembali ekornya? Kenapa semuanya tampak begitu rumit. Ah, kehidupan makhluk fana memang selalu kompleks, bukan?
Tapi, entah kenapa aku ingin membantu Naruto. Tak apalah, aku akan berusaha membuatnya bahagia, selama ekorku belum kembali, aku akan berusaha untuk berteman baik dan percaya kepada makhluk fana. Kurasa tak semua makhluk fana berhati iblis.
"Kutitipkan Naruto padamu," sahut Sasuke kemudian.
Sekali lagi Sakura hanya menganggukan kepalanya singkat. "Ah, ngomong-ngomong berapa usiamu?" tanya Ino, mencoba untuk mencairkan suasana yang terasa semakin memberat.
Sakura tampak berpikir sejenak, "lima ribu tahun, kurasa," katanya tak yakin.
Sontak saja derai tawa menggema di ruang tengah itu, "kau lucu Sakura," ujar Sasuke, "lima ribu tahun? Kau serius?" katanya. Sementara Ino menggigit bibir bawahnya dan menyiku pelan lengan Sasuke. Bisa-bisanya Sasuke tertawa seperti itu, hal yang sangat langka.
"Maaf, kau pasti bercanda, 'kan? Berapa umurmu, Sakura?" kali ini Sasuke kembali bertanya setelah tawanya mereda.
Sakura menggembungkan pipinya. Tidak ada yang salah dengan jawabannya. Dia memang berusia lima ribu tahun, lebih sedikit mungkin. Sakura tak pernah menghitungnya. Lalu, kenapa Sasuke dan Ino malah menertawakannya seperti itu? Ah, Sakura terkesiap. Bodoh. Rutuknya dalam hati. Hitungan usia manusia dan bangsanya tentu saja berbeda, lagipula Sakura itu 'kan sudah hidup berabad-abad lamanya, jauh sebelum Sasuke, Ino, dan Naruto lahir, dia makhluk abadi. Meskipun, sekarang keabadiaan itu tak berlaku lagi untuknya. Sakura mencoba untuk memutar otaknya. Mengingat-ingat apakah Naruto pernah memberitahu umurnya. Tapi, Naruto tak pernah memberitahunya.
"Menurutmu? Berapa usiaku?" tanya Sakura dengan nada jenaka, mencoba menutupi rasa was-was dalam hatinya.
Sasuke memerhatikannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Hn, delapan belas tahun?" jawabnya tak yakin.
Sakura menelan salivanya. Delapan belas tahun? Angka itu bukannya terlalu kecil? Sesudah angka delapan belas, angka berapa ya? Oh, sembilan belas, lalu dua puluh. Aku ingat Naruto pernah mengajarkanku berhitung. Bathinnya.
"Usiaku dua puluh tahun," jawab Sakura dengan penuh keyakinan.
"Kau lebih muda dari usiamu, Sakura," ujar Ino kemudian.
"B-Benarkah? Memangnya berapa usiamu? Sasuke dan Naruto?" tanya Sakura dengan keringat dingin yang mulai keluar dari pelipisnya.
"Usiaku dua puluh satu tahun, Sasuke dan Naruto berusia dua puluh tiga tahun, tahun ini," sahut Ino disertai dengan senyuman manisnya.
"O-Oh," Sakura bergerak gelisah dalam duduknya, matanya bergulir ke kiri dan kanan ruangan, "um, di mana Naruto?" sambungnya.
Sasuke terkekeh, "bersama Shion."
Tubuh Sakura menengang setelah mendengar nama wanita itu lagi. Benar juga, Naruto 'kan sedang bersama Shion. Rasanya sudah begitu lama mereka pergi. Seketika raut wajah Sakura berubah muram. Seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Sakura, Sasuke mendesah panjang dan berkata, "dia akan kembali. Kau tenang saja, mereka hanya butuh bicara," katanya.
Sakura mengigit bibir bawahnya dan berdiri. Sementara Sasuke dan Ino menatapnya dengan bingung. Sakura mengabaikan tatapan mereka dan berjalan ke ruangan lain. Membuka pintu yang ada di dekat tangga dan melihat ke dalam, tak ada seorang pun di sana. Di mana Naruto sebenarnya?
"Ke mana mereka pergi?" tanya Sakura dengan nada cemas dan menoleh ke arah Sasuke.
Sasuke ikut berdiri dan tersenyum kecil. "Di sana," katanya seraya menunjuk halaman depan rumahnya.
Sakura tersenyum lebar, "terima kasih," katanya seraya berjalan ke arah halaman.
Sementara Sasuke dan Ino hanya menggelengkan kepalanya dan saling melemparkan pandangan. "Kuharap Naruto dan Shion segera menyelesaikan masalah mereka, dan Sakura tak perlu khawatir lagi," ujar Ino.
Alih-alih memberikan respon pada kekasihnya, Sasuke malah melenggang pergi dan berbaring di sofa dekat rak buku.
"Sasuke... huh, menyebalkan," rutuk Ino.
.
.
Saat Sakura menginjakkan kakinya di halaman depan rumah Ino, dia tak langsung menghampiri Naruto dan Shion. Sakura memang tak berniat untuk mengganggu mereka. Kini, Sakura melongokkan sedikit kepalanya di pilar-pilar besar yang berdiri di sisi-sisi halaman, seperti seorang penguntit yang tengah menginvestigasi targetnya. Memasang telinganya lebih tajam agar percakapan Naruto dan Shion terdengar olehnya.
"Kenapa kau tidak mau mengerti?" Naruto setengah berteriak, suaranya terdengar jauh lebih serak dari biasanya, "hubungan kita sudah berakhir. Sekarang kau bebas bersama pria manapun yang kausuka," katanya.
"Tidak! Naruto, aku khilaf. Kau tahu? Aku hanya mencintaimu, Yahiko menjebakku," air mata mengalir dari matanya, sementara sebelah tangannya menggenggam pergelangan tangan Naruto dengan erat, "kau memberiku cincin ini, lihat? Kau akan melamarku 'kan? Naruto, aku benar-benar mencintaimu. Kumohon, maafkan aku. Aku akan melakukan apapun, asal kau kembali padaku. Kumohon, Naruto..."
Naruto menepis tangan Shion dan mendesah frustasi, "kukatakan padamu sekali lagi. Hubungan kita berakhir, dan aku tak ingin me―"
Apapun yang akan dikatakan Naruto selanjutnya tertelan begitu saja, karena Shion menarik leher Naruto dan membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman.
Di sisi lain, Sakura merasakan tubuhnya bergetar saat melihat bibir Naruto dan bibir Shion saling bersentuhan. Hatinya berdecit, nyeri. Pandangannya mulai buram karena cairan bening yang meluncur tanpa notifikasi dari kedua matanya. Sementara kedua kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya terlalu lama, sampai akhirnya Sakura terjatuh. Matanya terpejam. Kepalanya sakit, dan semuanya menghitam. Gelap.
.
.
To be continued.
AN: Ada yang ingat? Maaf karena updatenya lama. Baru bangkit dari virus WB T_T makasih buat yg udah ngikutin dan ripyu chapter kemarin, dan maaf jika ripyunya maasih belum sempat dibalas ya. Semoga masih ada yang ngikutin ff ini. :P Oh ya, maaf juga kalo chapter ini pendek ya.
See you~
Akhir kata, mind to RnR?
Salam Hangat,
Yara Aresha.
