Sesosok wanita mungil nan cantik tengah berdiri di dapur rumahnya sembari sibuk menata makanan-makanan yang tengah ia persiapkan secara spesial untuk seseorang. Tentu saja untuk sang suami tercinta yang sekarang masih tertidur pulas di kamar mereka yang terletak di lantai dua rumah mewah tersebut. Ia masih mencoba memilah-milah makanan apa saja yang akan diberikan untuk suaminya mengingat suaminya itu adalah seorang anti sayuran. Ia terlihat sangat cantik dengan surai hitam sepanjang dada yang digerai, ditambah dengan make up natural yang melekat di wajah manisnya. Ia mengenakan dress tipis sebatas lutut berwarna pink dengan ikat dibagian leher. Outfitnya pagi ini membuat ia terlihat ratusan kali lebih manis dan cantik dari biasanya.

"Kyuhyun oppa kenapa belum bangun sih? Dasar pemalas." Sungmin mengerucutkan bibirnya sebal karena orang yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang untuk menampakkan batang hidungnya. "Huh dia benar-benar seperti bayi yang harus dibangunkan tiap paginya." Dengan perlahan kaki mungilnya membawanya untuk menaiki tangga menuju tempat dimana suaminya berada. Berhubung ia tengah mengandung dan usia kandungnya menginjak bulan kelima, tentu saja ia tak bisa berjalan dengan cepat. Bayangkan ia tengah membawa seorang bayi di dalam perutnya, apalagi bayi itu tumbuh dengan sangat sehat terbukti dari perutnya yang semakin membesar dan berat.

Dengan tidak mudah, Sungmin, wanita cantik itu sampai di kamarnya dan sang suami. Ia melihat suami tercintanya masih bergelung dibawah selimut putih tebal. Sungmin mendecak sebal. Bagaimana mungkin direketur utama Cho Corporation itu sangat malas. Ia tak habis pikir, kalau Kyuhyun tak segera bangun dari tidur indahnya, ia bisa terlambat pergi ke kantor dan dicap buruk oleh seluruh karyawannya yang berjumlah ribuan orang. Sungmin berjalan mendekati ranjang dan mengusap pelan dahi sang suami. Ia menggoyangkan tubuh tinggi itu dengan lembut, tetapi tampaknya itu tidak membuahkan hasil. Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya pada selimut lembut itu. Sungmin yang tampak kehabisan ide pun mencoba mencari jalan lain. Setelah sekitar lima menit berpikir, ia mendapat ide. Ia mulai mendekati ranjang. Ia dudukkan tubuhnya yang berisi itu disisi tubuh Kyuhyun. Ia mulai membungkukkan badannya. Secara perlahan ia mulai memejamkan mata dan menempelkan bibir plum manisnya dengan bibir kissable milik Kyuhyun. Perlu diketahui ia hanya menempelkan bibir dan tidak lebih. Namun jiwa pervert seorang Kyuhyun akan segera bangkit jika behubungan dengan hal-hal semacam ini. Sebenarnya Kyuhyun sudah bangun dari tidurnya semenjak Sungmin mengusap lembut dahinya, tetapi ia sengaja ingin mengerjai Sungmin. Bermain-main sebentar bukan ide yang buruk, pikirnya.

Sungmin masih menempelkan bibirnya. Sepuluh sampai dua puluh detik tidak ada reaksi yang terjadi. Ini membuat Kyuhyun segera melancarkan aksinya. Ia menekan pinggang Sungmin perlahan agar bibirnya semakin menempel dengan bibir manis Sungmin. Walaupun Sungmin sedikit memberontak, tetapi Kyuhyun tetap melancarkan aksinya. Ia kembali menekan pinggang Sungmin dan segera memagut bibir itu dengan lembut. Mengecupnya berkali-kali dan mengulumnya. Setelah sekian detik mereka menikmati kecupan dari pasangan masing-masing, akhirnya Sungmin yang merasa kehabisan nafas pun segera mendorong dada pria itu. Dengan nafas terengah-engah wanita cantik yang sedang mengandung itu pun memandang sang suami dengan tatapan tajam.

"Oppaaa kenapa kau benar-benar pervert, huh?" Sungmin berkacak pinggang dan menatap obsidian suaminya yang sebenarnya bisa membuat ia luluh kapan saja.

"Ya! Siapa yang pervert, kau atau aku? Kau yang menciumku dahulu nyonya Cho Sungmin yang sangat seksi." Kyuhyun tersenyum senang. Oh lebih tepatnya bukan tersenyum tetapi menyeringai.

Sungmin nampak gugup mendapati jawaban Kyuhyun yang memang benar namun setelah itu ia kembali mengelak. "Aku hanya membangunkanmu oppa, berhubung kau susah sekali dibangunkan maka aku memakai jalan pintas." Sungmin tersenyum bodoh. Ia bingung harus menjawab apa lagi agar suaminya tak menggodanya terus-terusan.

"Mana ada seperti itu? Menempelkan bibirmu dengan bibir seorang pria itu artinya kau mengajaknya berciuman. Tetapi berhubung kau sangat cantik dan seksi pagi ini, aku menerima alasanmu dengan berat hati." Kyuhyun kembali menyunggingkan seringaian evilnya.

"Ya! Aku membencimu tuan Cho Kyuhyun yang evil." Sungmin menjulurkan lidahnya, bermaksud untuk mengejek Kyuhyun. Namun bagi Kyuhyun ini tidak seperti sebuah ejekan, malah lebih terlihat seperti godaan mungkin.

"Aku mencintaimu dengan setulus hati nyonya Cho Sungmin yang seksi." Kyuhyun mengucapkannya secara perlahan dan menggoda. Semburat merah muda terlihat di pipi chubby milik Sungmin. Wajah Sungmin yang malu-malu seperti inilah yang sangat disukai oleh Kyuhyun. Kyuhyun segera bangkit dari tempat tidurnya dan mendekati Sungmin yang sudah berdiri sejak tadi. Ia mendekap tubuh mungil Sungmin dan mengecup bibir itu dengan lembut. Masih belum hilang rasa gugup Sungmin karena digoda oleh sang suami, sekarang jantungnya dipaksa berdebar lebih kencang saat Kyuhyun mendekapnya. Bagaimana tidak, Kyuhyun mendekap tubuhnya dengan tubuh yang hanya ditutupi oleh celana pendek. Dada bidangnya terekspos dengan jelas dan otot perut atau ABS samar itu begitu menggoda bagi Sungmin. Ciuman Kyuhyun turun menuju perut Sungmin yang membuncit itu. Kyuhyun mengecupnya lama kemudian mengusapnya perlahan. Sungmin hanya bisa tersenyum bahagia mendapati suaminya yang begitu perhatian dengannya dan calon bayi mereka.

Setelah puas mengecupi perut buncit sang istri, Kyuhyun menyenderkan kepalanya di dada Sungmin. Ia memejamkan mata seraya tersenyum. "Akan sangat menyenangkan kalau aku bisa bersandar di dadamu setiap hari Ming." ucap Kyuhyun tanpa malu-malu. Sungmin yang mendengar ucapan sang suami hanya bisa merona dan segera mendorong tubuh suaminya secara perlahan menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar mewah mereka. "Sudah selesai meggombalnya, sekarang oppa mandi lalu turun untuk makan pagi denganku oke?" Sebenarnya Sungmin melakukan ini untuk menutupi rasa malu yang sudah mencapai titik tertingginya. Cho Kyuhyun memang benar-benar pintar membuat para wanita melayang hanya dengan ucapannya. "Oke nyonya Cho yang cantik." Kyuhyun segera memasuki kamar mandi untuk segera memulai ritualnya membersihkan diri.

Kyuhyun menuruni tangga rumah mewahnya menuju ruang makan untuk makan pagi dengan istri tercintanya. Ia mendudukkan diri di kursi dan mulai menatap makanan-makanan yang tersaji di hadapannya.

"Kenapa makanannya banyak sekali Ming?" Kyuhyun memandangi makanan-makanan lezat itu dengan tatapan bingung. Ia dan Sungmin tidak sedang berulang tahun dan mereka tidak merayakan hari spesial apapun hari ini.

"Wae? Oppa tidak suka dengan makanan-makanan ini?" Sungmin menatap Kyuhyun dengan mata berkaca-kaca.

"Ani, bukan seperti itu. Jangan menangis dulu. Aku hanya heran kenapa ada banyak sekali makanan, ini bukan hari ulang tahun atau hari spesial kan?" Kyuhyun masih mengeryitkan dahinya heran.

"Sejak mengandung aku suka sekali memasak berbagai macam makanan, tetapi aku tidak ingin memakannya, hanya ingin memasaknya saja. Kau tidak keberatan dengan ngidam anehku kan oppa?" Sungmin berkata sambil mengusap air matanya.

"Tidak sama sekali Ming, aku sangat senang bisa memakan masakan lezatmu setiap hari. Uljima baby, aku tidak ingin melihatmu menangis lagi." Kyuhyun segera mendekat ke tempat duduk Sungmin dan mengusap mata indah itu. Ia kemudian memeluk istrinya dan membimbing istrinya untuk menyenderkan kepala di dada bidangnya. Ia mengusap surai hitam itu lalu mengecup mata Sungmin.

Mereka memulai acara makan pagi mereka dengan suasana hening. Hanya suara sendok dan sumpit yang terdengar pertanda mereka masih melangsungkan kegiatan makan mereka. Sungmin yang tidak betah dengan suasana hening pun mencoba untuk mengawali percakapan.

"Oppa kau tidak pergi ke kantor?" Sungmin mengangkat kepalanya kemudian menatap mata Kyuhyun.

"Aku mendapat cuti kerja Ming. Aku ingin lebih banyak menikmati waktu denganmu." Jawab Kyuhyun seraya tersenyum. Sungmin hanya mengangguk kemudian melanjutkan acara makannya.

"Apakah Donghae oppa juga cuti bekerja?"

"Ne, aku sengaja memberikan cuti untuknya. Min Hye noona sangat membutuhkan Donghae hyung tentunya."

"Oppa bagaimana kalau hari ini kita berkunjung kerumah Donghae oppa?" Sungmin mengeluarkan puppy eyes, jurus yang selalu ia gunakan saat meminta sesuatu.

"Baiklah." Kyuhyun mengacak rambut Sungmin lembut.

Kyuhyun dan Sungmin sudah berada di depan rumah sang kakak, Lee Donghae. Mereka menekan bel rumah, sesaat kemudian muncullah seorang wanita cantik yang tengah mengandung, tetapi usia kandungnya jauh lebih tua, terlihat dari perutnya yang sudah sangat besar.

"Kalian sudah datang ternyata. Ayo masuk, jangan sungkan. Ayo masuk Sungmin-ah, Kyuhyun-ah." Minhye, istri Donghae yang juga tengah mengandung itu mempersilahkan Sungmin dan Kyuhyun untuk masuk ke dalam rumah Donghae yang tak kalah mewah dari rumah Kyuhyun.

"Ne eonni." Sungmin memasuki rumah oppanya diikuti Kyuhyun dibelakangnya.

"Silahkan duduk. Wah perutmu sudah terlihat semakin membesar min. Berapa usia kandunganmu?" Minhye memandang perut Sungmin yang semakin membesar

"Ah ne eonni. Usia kandunganku memasuki bulan kelima. Kalau eonni sudah berapa bulan?"

"Dua hari lagi tepat sembilan bulan min, aku tidak sabar untuk segera memiliki aegya." Jawab Minhye sambil tertawa.

"Ah pasti eonni sangat senang sebentar lagi akan memiliki aegya. Donghae oppa kemana eonni, kenapa tidak terlihat?"

"Donghae oppa sedang membelikanku pizza. Semenjak hamil, aku sama sekali tidak memiliki minat untuk memasak. Kasihan oppamu min, dia harus selalu memesan makanan."

"Aku kebalikanmu eonni. Semenjak hamil aku sangat senang memasak, walaupun aku tidak minat untuk memakannya, tetapi jika tidak memasak aku akan merasa sedih."

"Benarkah? Beruntung sekali Kyuhyun memiliki istri sepertimu, dia pasti selalu kenyang dirumah haha."

"Noona bisa saja, tetapi aku sangat senang Sungmin seperti itu. Apapun yang membuat dia bahagia, sebisa mungkin aku akan menurutinya." Kyuhyun berkata sambil menggenggam tangan Sungmin erat.

Saat sedang asyik berbincang-bincang, tiba-tiba sesosok pria dengan tubuh kekar memasuki rumah. Pria yang tak lain adalah Donghae itu terkejut melihat adik dan adik iparnya berada di rumahnya.

"Ada tamu rupanya." Donghae yang membawa makanan untuk sang istri itu segera menyerahkannya kepada sang istri kemudian memeluk adik perempuannya.

"Bogoshipeo oppa." Sungmin memeluk Donghae erat. Ia begitu merindukan oppanya ini karena mereka sudah lama tidak bertemu.

"Nado min. Perutmu sudah semakin besar, dongsaeng oppa yang cengeng ini akan segera menjadi eomma ternyata." Donghae tertawa, berpura-pura mengejek dongsaeng tersayangnya itu.

"Oppa jahat." Sungmin mengerucutkan bibirnya, bermaksud melakukan aegyo.

"Mana ada calon ibu masih suka beraegyo seperti itu." Donghae mengacak rambut Sungmin.

"Terserah oppa saja, aku mau bersama Minhye eonni saja, dia itu baik tidak usil seperti oppa." Sungmin segera mengikuti Minhye entah kemana. Mungkin mereka membicarakan berbagai macam hal. Wanita dengan wanita akan selalu memiliki banyak topik untuk diperbincangkan jika sudah bertemu.

Donghae yang sejak tadi mengabaikan Kyuhyun mulai melihat adik iparnya itu terduduk tanpa sepatah katapun.

"Hai Kyu." Donghae mencoba untuk mengakhiri kecanggungan yang terjadi diantara mereka. Walau tidak dipungkiri, mereka masih merasa canggung satu sama lain.

"Ne hyung." Kyuhyun hanya menjawab singkat. Rasa canggung masih sangat menyelimuti mereka berdua semenjak kejadian Kyuhyun "menyakiti" adik kesayangan Donghae yang tak lain tak bukan adalah Sungmin.

"Bagaimana kabarmu Kyu? Kau dan Sungmin sudah tidak ada masalah kan?" Donghae mencoba bersikap ramah. Tidak nyaman juga bersikap seperti itu kepada orang yang sudah menjadi suami dari adiknya sendiri.

"Aniyo hyung. Aku bertekad untuk benar-benar merubah sikapku. Aku minta maaf karena telah berani menyakiti dongsaeng kesayanganmu." Kyuhyun menundukkan kepala pertanda menyesal.

"Gwaenchana Kyu. Asal kau menyesali perbuatanmu dan tidak akan mengulanginya, aku akan merasa tenang melepaskan dongsaengku bersamamu." Donghae berkata diakhiri dengan senyuman. Ini pertama kalinya Donghae tersenyum pada Kyuhyun semenjak insiden yang nyaris menghancurkan rumah tangga dongsaengnya itu.

"Gomawo karena telah memaafkanku hyung. Aku benar-benar merasa menjadi pria brengsek saat berani menyakiti Sungmin. Sejujurnya aku tidak ingin berbuat seperti ini, aku benar-benar terluka saat melihat Sungmin menangis."

"Setiap manusia memiliki kesalahan Kyu. Kalau kau berkomitmen untuk memperbaikinya, kurasa Tuhan mau memaafkanku, tentunya aku sebagai manusia juga harus mau memaafkanmu."

"Ne, aku ingin membuat sebuah pengakuan kepadamu hyung, kuharap kau mau mengerti dan tidak menghinaku. Mungkin ini juga alasan yang membuatku lepas kendali sehingga berselingkuh. Tetapi aku sudah mengusahakan agar dapat sembuh, walaupun bertahap. Kuharap kau bisa membantuku kalau sampai Sungmin mengetahuinya dan tidak mau menerima keadaanku."

"Pasti Kyu, aku pasti akan membantumu asal kau mau jujur tentang apapun yang terjadi terhadapmu. Aku tahu tidak ada yang lebih indah dari sebuah kejujuran."

"Jadi sebenarnya aku mengidap..."

Sungmin kembali ke ruang tamu bersama dengan Minhye, sang kakak ipar. Ia terlihat sangat gembira seperti siswa taman kanak-kanak yang baru saja mendapatkan permen dari ibunya. Ia tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapi dan lucu. Ia segera duduk di samping Kyuhyun dan memeluk lengan sang suami dengan erat. Ia tampak bermanja-manja dengan suaminya. Entahlah, bawaan ibu hamil mungkin.

Donghae yang melihat sikap dongsaeng saru-satunya itupun hanya bisa berdecak. "Kenapa kau jadi manja sekali min?" Donghae masih mengerutkan dahi melihat sikap Sungmin.

"Memangnya kenapa oppa? Apa tak boleh?" Sungmin kembali mengeratkan pelukannya kepada Kyuhyun dan Kyuhyun membalas dengan usapan lembut di kepala.

Donghae mendengus. Ia sudah tahu jawaban apa yang akan terlontar dari bibir plum sang adik. "Ya! Kalian membuatku iri tahu!" Sebenarnya Donghae tidak ingin mengucapkan ini, tetapi kata-kata itu keluar begitu saja.

"Kenapa harus iri? Kau memiliki istri yang sangat cantik oppa. Ayolah, manfaatkan dengan baik." Sungmin memandang Donghae sambil tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai.

"Apa maksudmu min? Aigooo kenapa kau jadi evil seperti Kyuhyun?" ujar Donghae bingung.

"Ya! Kenapa kau bawa-bawa aku hyung?" Kyuhyun pun menimpali ucapan Donghae.

Setelah berkunjung beberapa jam, Kyuhyun dan Sungmin memutuskan untuk pulang. Mereka sangat senang karena bisa bertemu dengan Donghae dan Minhye. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang. Sungmin tampak sangat lelah. Kyuhyun yang tahu hal itu pun segera mengusap kepala Sungmin dengan lembut. Memang tidak berakibat apapun hanya membuat istrinya merasa lebih nyaman. Sungmin pun menikmati usapan yang diberikan Kyuhyun di kepalanya.

"Kita mampir makan dulu ne? Kasihan bayi kita mungkin sudah kelaparan." Kyuhyun tersenyum memandang Sungmin. Wajah Sungmin masih tetap terlihat cantik walaupun di bawah cahaya remang-remang mobil di malam hari.

"Jadi oppa hanya kasihan dengan bayi kita? Kau tidak kasihan padaku?" Sungmin mengerucutkan bibirnya. Ia mulai merajuk. Perasaannya sangat sensitif akhir-akhir ini, dan ia tidak dapat menahannya.

"Tentu saja aku juga kasihan padamu min. Kau membawa bayi kita kemanapun kau pergi. Tentu kau merasa sangat lelah bukan?" Kyuhyun kembali tersenyum. Sungmin hanya menjawab dengan anggukan. Kyuhyun pun kembali fokus dengan jalan yang ada di hadapannya. Setelah sekian menit perjalanan, akhirnya ia berhenti di salah satu restoran jepang. Sebenarnya Kyuhyun sangat ingin makan Samgyetang atau sup ayam ginseng. Didukung dengan suhu malam itu yang mencapai -2 memakan sup panas adalah pilihan terbaik. Namun Kyuhyun sangat mengerti sang istri yang sangat menggemari makanan jepang sehingga ia memutuskan untuk menyantap makan malam di restoran jepang ini.

"Ming ayo turun." Kyuhyun mengusap pipi Sungmin yang terasa sangat dingin. Sungmin memang tertidur saat perjalanan menuju restoran ini, tetapi Kyuhyun yang sangat mengerti keadaan Sungmin membiarkannya untuk tidur sejenak.

"Kita sudah sampai dirumah oppa?" Sungmin mengusap mata foxynya perlahan. Ia merasa sangat lelah dan ingin segera sampai dirumah.

"Ani, kita makan malam dulu supaya kau tidak sakit." Sungmin menggeliatkan badannya dan memandang restoran yang ada di hadapannya. Matanya berbinar-binar melihat restoran jepang di hadapannya. Ia memang sedang sangat ingin makan yakitori, teriyaki, teppanyaki, sukiyaki, onigiri, okonomiyaki, nikujaga, gyudon, gyoza, donburi dan masih banyak lagi. Ia dan Kyuhyun memasuki restoran itu dan memesan di tempat outdoor yang tinggi sehingga bisa menikmati keindahan kota Seoul malam hari. Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, menu yang mereka pesan telah disajikan. Mereka menikmati makan malam mereka dengan ditemani keheningan dan semilir angin yang menerpa tubuh mereka.

"Oppa..." Sungmin memcah keheningan dengan suaranya yang imut.

"Ne? Kau ingin tambah? Atau kau merasa tidak nyaman?" Sikap yang Kyuhyun tunjukkan benar-benar menyatakan bahwa Kyuhyun adalah seorang suami siaga.

"Aniyo. Gomawo oppa. Kau adalah suami terbaik, kau selalu mengalah untukku. Aku tahu kau ingin makan samgyetang, tapi kau memilih restoran ini karena kau ingin menyenangkanku kan oppa?"

"Ne. Nado gomawo chagi, apapun yang kau inginkan, selama aku sanggup memenuhinya pasti aku akan melakukannya untukmu. Kau istri terbaik, kau masih mau mencintaiku yang brengsek ini." Ucap Kyuhyun. Sungmin memandang obsidian tajam milik Kyuhyun. Sesaat setelah itu, air mata meleleh dari foxy indahnya. Kyuhyun yang tidak mengerti kenapa Sungmin menangis pun menjadi bingung. Kyuhyun menghapus air mata yang mengalir di pipi sungmin, kemudian ia tersenyum.

"Bagaimana tanggapanmu terhadap seorang yang mengalami kelainan seksual Ming?" Kyuhyun bertanya dengan nada ragu-ragu.

"Kenapa oppa tiba-tiba bertanya seperti itu?" jawab Sungmin bingung.

"Aniyo, hanya ingin tahu saja hehe. Sharing hal seperti ini bukan kesalahan kan?" Kyuhyun memandang Sungmin dengan tatapan takut-takut.

"Ne. Tapi kelainan yang oppa maksud itu homoseksual seperti itu?"

"Bukan seperti itu Ming, kelainan seksual kan bukan hanya itu."

"Lalu apa? Ah! Seperti hyperseksual mungkin?"

"Ne, semacam itu hehe." Kyuhyun tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Menurutku itu tidak bermasalah asalkan tidak sampai menimbulkan kekerasan dalam rumah tangga." Jawab Sungmin disertai dengan anggukan penuh keyakinan.

"Lalu apa pendapatmu terhadap pengidap penyakit itu?"

"Memangnya pengidap penyakit itu kenapa? Dia sama seperti kita oppa, dia juga manusia jadi tidak perlu ada yang dibedakan. Seharusnya orang yang seperti itu kita dukung, jangan kita jauhi."

"Tapi kau tau kan orang seperti itu bisa kambuh dimana dan kapan saja, dan kalau nafsu seksnya tidak terpenuhi, ia bisa menjadi sangat kejam kepada siapapun. Itu sangat mengerikan Ming, seperti psikopat."

"Maka dari itu kita harus memberi support oppa, agar ia cepat sembuh. Oppa membicarakan siapa sih? Teman oppa ya?"

"Ah ne. Kau sangat baik hati Ming, aku tidak menyangka aku akan mendapatkan istri sesempurna dirimu. Kau baik hati dan cantik, kau juga sabar, penyayang dan berjiwa sosial tinggi, benar-benar seperti malaikat."

"Oppa terlalu berlebihan, aku hanya wanita biasa oppa, tidak lebih." Sungmin menundukkan kepalanya. Ia malu karena dipuji terus-menerus oleh suaminya.

"Gomawo ming, gomawo karena telah menjadi malaikatku selama ini. Gomawo karena telah menjadi wanita yang menuntun pulang hatiku saat aku mencoba berpaling darimu. Goamawo karena telah menjadi yang paling sempurna untukku. Gomawo karena kau telah menjadi segalanya bagiku. Nan neol saranghae, neomu neomu saranghae." Setelah selesai mengucapkan kalimat yang begitu panjang, Kyuhyun menangkupkan kedua tangannya di pipi sang istri dan mengecup bibir Sungmin dengan sangat lembut, basah dan lama. Lumatan-lumatan kecil tercipta diantara kegiatan itu. Kyuhyun hanya mencoba menyalurkan seluruh rasa cinta yang ia miliki hanya untuk Sungmin, istri tercintanya. Di bawah langit kota Seoul, Kyuhyun berjanji dalam hatinya bahwa ia akan menjadi "budak cinta" bagi Sungmin seumur hidupnya.

T.B.C

Saya datang lagi membawa kelanjutan fict saya. Saya tahu bahwa fict ini masih sangat jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran sangat saya butuhkan. Saya juga mengucapkan banyak-banyak terima kasih bagi readers dan silent readers yang telah membaca fict ini dan mendukung saya. Satu-satunya penyemangat bagi saya untuk terus melanjutkan fict ini adalah karena dukungan dari readers dalam bentuk review. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan review agar fict saya ini bisa semakin baik kedepannya. Ok, the last, i will say dont forget to leave review .