Title : Okãsan

Author: Micky_Milky
Genre: Romance/ Drama

Rate : T (Mungkin akan bertambah)

Disclaimer: Shizu-chan punya saya, Durarara entah punya siapa (Kabur)

Pairing: ShiZaya

Length: Chaptered

Warning : Typo, Yaoi, Ooc, Oc, alur kecepatan. Dll

.

.

.

Chap 6

Enjoy reading

.

.

Tsukishima menunduk takut saat berada tepat di samping bangku Izaya. Pemuda itu melirik Izaya sesekali lalu kembali menunduk saat melihat pemuda yang sedang memasukkan bukunya ke tas itu menatapnya.

"Ada apa?"
merasa dirinya di sapa, Tsukishima buru-buru menegakan wajahnya lalu melihat pemuda didepannya kini sudah berdiri dengan gagahnya. Izaya tersenyum lembut menyandang tasnya di bahu lalu berjalan keluar dari bangkunya.

"A-ano, Okaasan masih marah padaku?"
mengerjab sekali, Izaya tersenyum lalu tak lama tertawa terbahak-bahak, melihat itu Tsukishima hanya diam menunggu jawaban Izaya. Di depan kelas Mikado dan Masaomi memperhatikan Tsukishima dari jauh, takut jika teman mereka di buat babak belur atau bahkan di apa-apa kan oleh Izaya, mengingat pemuda berambut hitam itu terlihat tak suka dengan sang teman beberapa hari ini.

"Mau pulang denganku?"

"Eh?"

Tahu akan respon Tsukishima, Izaya berhenti tertawa, kini dia hanya diam sambil tersenyum menatap pemuda itu dalam. Wajahnya sangat mirip dengan sang ayah dan mata itu mirip dengan ibunya, ya figur sosok wanita yang dilihatnya di foto keluarga waktu itu. berjinjit sedikit Izaya mengelus surai pirang itu dengan sayang. Bolehkan dia menganggap Tsukishima putranya? Ah... bahkan mereka teman sekelas. Andai Izaya lebih tua beberapa tahun dari Tsukshima mungkin Izaya tak keberatan di panggil 'Ibu' oleh pemuda itu, dan menganggapnya putra juga, mengingat hubungannya dan Shizuo akhir-akhir ini lebih intim.

"Aku bilang, Ingin pulang bersamaku? Kalau tak mau aku bisa pulang sendiri."

Mengerjab, Tsukishima yang awalnya terlihat tak percaya langsung memeluk tubuh kecil Izaya dengan erat. Mendapat pelukan itu Izaya merespon dengan pelukannya juga. Masaomi dan Mikado saling berpandangan lalu tersenyum bersama, melihat jika temannya tak di lukai, kedua pemuda teman karib sejak kecil itu sepakat untuk meninggalkan Tsukishima dengan pemuda aneh menurut Masaomi itu berdua saja. Izaya mengerjab terkejut saat melihat kedua pemuda itu melintas, dia tersenyum senang, Tsukishima memiliki sahabat yang baik baginya.

"Kau beruntung, memiliki teman yang baik seperti Masaomi dan Mikado."

Melepas pelukannya, Tsukishima tersenyum malu-malu, matanya menyipit kala tersenyum wajahnyapun bersemu merah.

"A-aku memang beruntung bisa berteman dengan mereka, aku juga beruntung bisa satu kelas dengan Okaasan."

Melihat senyum itu Izaya kembali tersenyum lembut, dengan berani pemuda beriris merah itu menggait jemarinya ke jemari Tsukishima lalu tersenyum lebih cerah.

"Nah ayo pulang, nanti ayahmu mencari."

.

.

Izaya berjalan pelan saat melihat Shizuo dengan santai menyender pada badan mobil sportnya, pria itu terlihat merokok dan asik dengan androidnya tak tahu jika Izaya dan Tsukishima sudah berjalan mendekatinya.

"Otous..."

"Shuuttt. Biarkan saja, ayo kita kesana."

Tsukishima mengangguk menyetujui usulan Izaya, pemuda itu berjalan berlahan dengan tangan yang masih di gandeng Izaya. Dia benar-benar menyukainya, tak mengangka jika Izaya berbuat seperti ini padanya setelah di diamkan beberapa hari ini, Izaya benar-benar memperlakukannya lebih baik dari sebelumnya.

"Konichiwa, Heiwajima-san."

Merasa dirinya di panggil, Shizuo mengangkat wajahnya melihat Izaya dan Tsukishima yang saling bergandengan, menyimpan androidnya, Shizuo tersenyum lembut saat melihat kedua pemuda itu semakin akrab.

"Sudah berbaikan?"

Tsukishima yang mengangguk senang, melihat wajah itu tersenyum Shizuo ikut tersenyum, kini iris madunya bergulir menatap Izaya, pemuda itu melipat kedua tangannya di depan dada mengabaikan beberapa siswi yang menatapnya dengan minat.

"Jangan memanggilku, Heiwajima-san, Izaya-kun."

Izaya menyeringai sedangkan Tsukishima terlihat bingung dengan suasana yang sedang di hadapinya. Pemuda pemalu itu menatap Izaya dan sang ayah bergantian.

"Ne... ne... Shizu-chan."

"Dan jangan memanggilku dengan sebutan itu. kau bisa memanggilku Shizuo."

"Bukankah Shizu-chan terdengar Kawaii?"

Menghela napas berat Shizuo diam memandang pemuda yang lebih pendek darinya itu. setelah berbicara masa lalunya pada Izaya tentang mendiang istrinya, Izaya semakin terlihat mirip istrinya, memanggilnya dengan nama kesayangan sang istri dan itu semakin membuat Shizuo tak bisa mengabaikan pemuda itu terlalu lama.

"Sesukamu, hari ini aku akan bertemu dengan Chikage-san. Kalian mau ikut?"

"Eh? Kakek?"

Izaya mengerjab mendengar nama yang tak asing di telinganya, baru saja ingin bertanya Shizuo sudah masuk ke dalam mobil meninggalkan Tsukishima dan Izaya yang masih berada di luar. Tsukishima menarik lengan Izaya berjalan mengitari Mobil lalu menyuruh Izaya duduk di belakang, sedangkan dirinya duduk di samping Shizuo.

Mendapatkan Izaya dan Tsukishima sudah masuk kedalam mobil, pria berumur itu menyalakan mobilnya dan melesat membela jalan.

"Ada urusan apa, Tousan bertemu kakek?"

"membicarakan urusan perusahaan, kebetulan dia sudah di rumah, Izaya, kau mau ku antar atau ikut."

Izaya terlonjak kaget. Kali ini si pemuda berambut hitam itu terlihat berfikir.

"Ikut, aku mencurigai sesuatu. Jika memang Chikage yang Shizu-chan katakan adalah ayahku, ada yang ingin ku tanyakan."

"Shizu-chan?"

Izaya menyengir saat Tsukishima menatapnya bingung, sedangkan Shizuo hanya tersenyum melihat sang putra terlihat bingung.

"Hahaha... ne, Shizu-chan, nande Tsuki-chan?"
"Apa ada yang ku tak tahu di sini?"

Mengedip matanya Izaya tersenyum lebih cerah, bahkan kali ini pemuda itu mengerling nakal kepada Shizu, Izaya memeluk Shizuo dari belakang membuat Tsukishima terkejut bahkan pemuda itu kali ini mencium pipi Shizuo, merasa terganggu dengan apa yang diperbuat Izaya, pria itu mencoba mengelak.

"Aku sedang menyetir, jangan melakukan hal aneh atau kita akan menabrak."

Izaya cemberut, kali ini dia melepas pelukannya, Tsukishima masih diam memandang Izaya yang menggembungkan pipinya kesal.

"Apa sebenarnya yang terjadi?"

"Tsuki-chan selalu memanggilku Okaasan, apa Tsuki-chan benar-benar ingin aku menjadi Okaasanmu?"

"Eh?"
Tsukishima melebarkan matanya tak percaya, pemuda itu tersenyum lalu menunduk malu-malu.

"Apa Okaasan dan Tousan sudah memikirkan untuk berhubungan."

Shizuo mengerem mobilnya mendadak saat sang putra berujar, Izaya bahkan hampir tersungkur ke depan kalau saja tidak ada Tsukishima yang mencoba menahan kepalanya sedangkan Tsukishima sendiri terbentur dashbor dengan keras.

"Kau ingin membunuhku ya, Shizu-chan?"
"Berbicara dengan sopan pada orang yang lebih tua darimu, Izaya-kun. Dan Tsukishima-kun, apa yang kau maksud dengan berhubungan?"

"A-ano, maksudku, berpacaran atau..."

"Yare... yare... tak perlu panik begitu, Shizu-chan. Ne, Tsuki-chan, aku dan Otousanmu memang sudah menjalin hubungan lebih, dan kurasa aku tak keberatan untuk kau panggil Okaasan. Benar kan, Shizu-chan."

Shizuo mengehela napas berat, melihat sang putra yang tersenyum senang, bahkan Tsukishima terlihat sangat gembira.

"Aku senang mendengarnya. Apa kalian akan menikah?"

Shizuo memijat pangkal hidungnya, menghidupkan kembali mesin mobilnya dan kembali memasuki jalan padat kendaraan.

"Aku siap jika Shizu-chan ingin menikahiku." Ujar Izaya riang.

"Aku belum memikirkan untuk menikahi siswa SMA, kau tahu, aku seperti seorang om jika menikahimu."

"Hidooiii... kau tahu kan aku serius dengan hubungan kita."

"Urusai, akan aku fikirkan untuk menikahimu saat kau sudah lulus."

.

.

.

Mobil sport Shizuo berhenti di depan kediaman keluarga Heiwajima, terlihat Tsukishima dan Izaya yang sudah turun saling berbagi cerita, setidaknya Shizuo cukup legah, Izaya terlihat tak perduli dengan status mereka, dia terlihat memperlakukan Tsukishima selayaknya seorang teman baik, bahkan sesekali Tsukishima menceritakan mendiang sang ibu dengan sangat senang, dan di balas dengan baik oleh Izaya.

"Tidak... tidak ada yang berbeda, Okaasan sangat mirip, hanya beda rambut."

"Aku juga laki-laki."

"Ano... iya sih, tapi sungguh. Okaasan sangat mirip walau laki-laki."

Kadota yang baru saja keluar dari rumah menunduk hormat saat Shizuo, Tsukishima dan Izaya berjalan melewatinya.

"Chikage-sama sudah berada di dalam bersama Namie-sama."

"Aku mengerti, tolong kau bawa mobilku ke garasi."

Menunduk paham atas perintah Shizuo, kadota berjalan kearah mobil yang sudah terpakir di halaman rumah besar itu, Izaya dan Tsukishima mengekori Shizuo memasuki rumah besar milik pengusaha tampan itu.

"Selamat siang, Shizuo."
"Ah, Chikage-san, Namie-san."

Chikage tersenyum saat mendengar namanya di panggil sang menantu, semenjak anak mereka meninggal, Shizuo yang awalnya memanggil Chikage dan Namie, Otousan dan Okaasan sekarang memangil nama mereka saja dengan embel-embel –san, mereka tahu, kepergian sang putri membuat menantu mereka terpuruk terlalu dalam.

"Tak ingin memanggil kami, Otousan dan Okaasan, Shizuo?"

Namie berjalan mendekat, kali ini wanita itu terkejut tak percaya menemukan sosok putra pertama mereka berdiri tepat di belakang Shizuosambil melihatnya tak percaya.

"Okaasan? Otousan? Ba-bagaimana bisa?"

"Izaya?"

Tak kalah terkejut dengan Namie, Izaya mundur selangkah bahkan pemuda itu menatap sang ayah dan ibu dengan bergantian. Kali ini iris merah Tsukishima yang menatap pemuda itu dalam diam begitu pula Shizuo.

"Kalian mengenal, Izaya?"

Kali ini Nami tersenyum lembut, berjalan mendekati Izaya dan mengelus ramput hitam pemuda itu, sungguh, dia tak mengerti dengan ini, otak jeniusnya benar-benar berhenti bekerja. melihat sang ibu yang hanya tersenyum lembut Izaya kali ini berdiri dan berhadapan langsung dengan sang ibu dengan mata yang menyiratkan tanda tanya.

"Dia putra pertama kami..."

Shizuo diam, raut wajahnya berubah, matanya melebat tak percaya, sedangkan Chikage sibuk menatap sang istri dan putranya, kelihatnnya ada sesuatu yang terjadi yang tak dia tahu selama ini.

"...dia adik laki-laki, Izaya, Shizuo."

"Nani?"

"Eh?"

Tsukishima terdiam tak percaya, begitu pula Shizuo, Adik laki-laki? Izaya adalah adik laki-laki mendiang istrinya? Oh... dunia memang sempit, seharunya dia tahu jika Izaya mendiang istrinya memiliki keluarga lain selain ibu dan ayahnya.

"Eh? Adik laki-laki? Maksud Kaasan, aku memiliki kakak?"

Namie mengangguk, wanita itu menatap figur besar sang putri yang sedang tersenyum bahagia bersanding dengan Shizuo di sampinya. Matanya berkaca-kaca, tahu jika sang istri terjebak masa lalu kembali, Chikage berjalan mendekati Namie dan memeluknya erat mencoba menenangkan sang istri dengan sabar.

"Izaya adalah adik dari Izaya, nama Izaya sendiri kami berikan setelah istrimu meninggal, kami bermaksud menggunakan nama Izaya Orihara untuk mengingatnya, agar suatu saat nanti Izaya tau jika dia memiliki kakak perempuan yang persis serupa dengannya. Sungguh aku tak mengangka kalian bisa bertemu."

"Ke-kenapa aku tak diberitahu dari awal jika aku memiliki seorang kakak perempuan yang sudah meninggal?"

Izaya menatap kedua orangtuanya kesal, Shizuo hanya diam tak tahu harus berkata apa, begitu pula dengan Tsukishima, apa yang mereka dengar dan mereka lihat cukup membuat perasaan mereka resah saat ini.

"Bukan maksud kami ingin menyembunyikannya, aku mengirimmu ke Ikebukuro untuk bertemu dengan Shizuo suatu saat nanti dan memperkenalkanmu pada suami dari kakakmu, dan putra mereka serta membawamu berkunjung ke makamnya, hanya saja terlambat kau lebih tahu terlebih dahulu sebelum kami memberitahumu."

Iris merah itu menyala, menandakan jika Izaya cukup kesal akan apa yang di rahasiakan kedua orangtuanya saat ini. Wajahnya merah dan tangannya mengepal kuat, tahu jika pemuda itu menahan amarahnya Shizuo berjalan mendekat, memeluk pemuda itu dari belakang dengan lembut, lalu mengecup puncak kepala Izaya dengan sayang, mata sewarna madu itu menatap Chikage dan Namie yang menatapnya tak percaya, wajah pria itu cerah dengan senyum manis yang membingkai di wajah tampannya. Kali ini wajah Izaya berubah merah total bukan karena marah, tapi malu di perlakukan Shizuo se lembut itu.

"Terimakasih sebelumnya, dan maaf. Izaya adalah teman sekelas Tsukishima di sekolah, aku kira dia istriku yang sudah meninggal dan aku juga merasa menyukai wajahnya yang benar-benar mirip Izaya begitu juga mata dan namanya. Tapi semakin lama aku memikirkannya, aku semakin menyukai, bukan karena wajah dan namanya, tapi karena aku menyukai pemuda ini. Terimakasih sudah melahirkan Izaya Orihara yang lain setelah aku kehilangan Izaya Oriharaku, terimakasih, dan aku juga ingin mengatakan jika aku mencintai putra anda. Aku tak bermaksud melupakan Izaya, tapi pemuda itu, sungguh-sungguh membuatku tak bisa tidur saat memikirkannya."

Tak percaya dengan kata-kata Shizuo, Namie dan Chikage saling menatap, kali ini satu-satunya perempuan di sana menatap Shizuo nanar.

"Apa kau yakin? Izaya laki-laki? Kau juga laki-laki, apa kau tak takut akan perkataan orang nanti?"

Kali ini perlukan Shizuo pada tubuh pemuda di depannya itu menguat membuat Izaya merasakan punggunya bersentuhan dengan dada bidang Shizuo, hangat.

"Aku sudah seperti orang gila saat kehilangan Istriku dan aku akan benar-benar menjadi gila saat aku kehilangan pemuda ini. tak perduli apa yang mereka katakan, aku mencintainya."

Kali ini senyum di wajah Nami terlihat, perempuan itu menyekat setitik air matanya menatap Tsukishima dalam lalu berjalan kearah sang cucuk dan memeluknya.

"Kau menyukai pamanmu?"
"Paman? Aku memanggilnya Okaasan, Obaasan. Aku tak pernah menyangka dia adalah pamanku."

Nami tertawa keras, bahkan Chikage hampir tak percaya melihat istrinya tertawa lepas, tak lama wanita itu menangis meraung membuat Izaya dan yang lain menghampiri wanita itu.

"Okaasan."

"Obaasan."

"Namie-san."

"Sayang."

Ya, begitulah kepanikan mereka, wanita itu menangis keras memeluk sang putra dengan sangat erat. Terisak di tubuh sang putra, Namie tersungkur dengan Izaya yang mencoba menangkap tubuh sang ibu.

"Maafkan aku, seharusnya aku memberitahu ini dari awal, seharusnya aku menceri..."

"Apapun yang Okaasan lakukan, tak akan mengubah takdirku bersama Shizuo."

Namie terseduh, kali ini dengan wajah sembab wanita itu tersenyum lemah mengelus wajah sang putra sayang.

"Jika kau bersama lelaki kau tak akan memiliki keturunan."

"Aku memiliki Tsukishima, aku mencintai Shizu-chan."

Sadar jika perkataanya tak berarti, wanita itu akhirnya kembali memeluk Izaya. Chikage tersenyum melihatnya.

"Apa kau akan memanggilku, Tousan sekali lagi."

"Akan aku lakukan jika aku menikahi Izaya nanti."

.

.

.

Izaya menatap makam bertuliskan 'Izaya Heiwajima' di depannya senduh, wajahnya menatap nisan itu dengan raut wajah sedih.

"Selamat siang, Oneesan, senang akhirnya aku bertemu dan mengenalmu."

Izaya berjongkok didepan makam itu, mengelus nisan makam itu dengan sayang. Iris merah itu bisa melihat Tsukishima dan Shizuo yang sekarang juga sudah berjongkok didepan makam sang kakak.

"Selamat siang Okaasan, apa kau baik-baik saja di sana? Aku membawa Izaya Orihara kaasan, pemuda yang pernah aku ceritakan padamu, yang ternyata pamanku dan calon ibu baru untukku."

Tsukishima tersenyum, mengelus nisan didepannya, matanya berkaca-kaca, dia benar-benar merindukan sosok didepannya yang sudah terbaring tertutup tanah, Namie dan Chikage yang melihat ke tiga pria depannya itu hanya mantap nanar, bahkan Namie terisak saat menatap makam sang putri.

"Maaf sayang, aku membawa seseorang hari ini, aku benar-benar tak bermaksud menggantikanmu, hanya saja dia terlalu manis untuk aku lepas."

"Shizu-chan."

Protes, Izaya menatap Shizuo kesal, Shizuo hanya tertawa saat melihat reaksi Izaya. Tsukishima mengelus nisan sang ibu, Izaya bisa melihat pemuda itu menahan sedih saat ini.

"Aku merindukan Okaasan."

"Beri aku restu, aku akan menjaga putramu, Neesan. Aku janji, aku akan mencintai suamimu seperti kau mencintainya, dan menyayangi putramu. Dan..."

Izaya menunduk dalam, lalu menatap Shizuo yang asik menatap gundukan tanah di depannya dengan wajah yang sedih.

"...Aku tahu aku tak bisa menggantikan dirimu, tapi sungguh, aku memujimu, kau beruntung Oneesan memiliki seorang suami dan putra yang sangat mencintaimu, terimakasih sudah meninggalkan semua ini untukku, walau kau tak sempat menikmati kebahagian ini, terimakasih kau sudah mengutusku menggantikanmu untuk merasakan ini semua, dan percayalah, baik Shizu-chan, Tsukishima, Okaasan dan Otousan, serta aku, Kururi dan Mairu sangat mencintaimu, maaf aku tak bisa membawa Kururi dan Mairu, tapi nanti aku akan kemari dan membawa kedua anak bandel itu untuk berkenalan dengan kakak mereka."

Shizuo bangkit, pria itu berjalan mengitari makam sang istri, mengelus bahu Izaya lembut dan kepala Tsukishima.

"Ayo kita pulang, kurasa hari sudah semakin senja."

.

.

Izaya terbanting ke pintu saat Shizuo mendorongnya kerasa. Bibir mereka bertautan tubuh mereka terasa terbakar, bahkan kali ini bunyi kecupan lembut dan basah memenuhi kamar utama kediaman Heiwajima. Shizuo masih merasakan bibir Izaya dalam, merasakan setiap inci bibir itu mengespos semua, menjilat bibir Izaya sedikit, tahu jika pria itu menginginkannya, Izaya membuka cela di bibinya sedikit membuat Shizuo menerobos masuk kedalam bibinya mengulum bibir bawahnya dengan hati-hati.

"Nghh... Shizu-chan."

Tak perduli desahan itu, Shizuo sibuk menyentuh jengkal demi jengkal sisi terdalam mulut Izaya, berbagi saliva dan berperang lidah, tangan Shizuo bagai ular melilit tubuh kurus Izaya, mengelus dengan lembut setiap bagian sensitif pemuda itu dengan lembut bahkan sesekali bibirnya turun ke dagu mengecup rahang sang pemuda dengan gemas.

"Hen... ngh... hentikan, besok aku ada ujian."

Setahun sudah menjalin hubungan berbeda umur yang jauh, Shizuo selalu mengontrol dirinya untuk tak menyentuh pemuda didepannya ini terlalu jauh, hanya sebatas kecupan dan pelukan dirasa Shizuo cukup mengingat Izaya masih duduk di bangku SMA. Tapi berbeda hari ini, setelah seharian ini Izaya menggodanya walau hanya sebagai candaan, tapi hasrat pria itu benar-benar sudah di ubun-ubun, kali ini dia tak perduli.

"Ngh... Shizu-chan... ak... ahhhh~"

"Kau yang menggodaku, Izaya."

Tak sabar Shizuo membuka satu persatu pakaian Izaya, menjilat setiap jengkal kulit pemuda berambut hitam itu, tubuh Izaya melengkung nikmat saat pria berambut pirang itu menyentuh putingnya mengecupnya dan menjilatnya lalu mengulumnya dengan lembut, Izaya ingin pingsan rasanya, bahkan kini kakinya serasa tak menapak ke tanah lagi, pemuda itu bahkan sekarang menjadikan tubuh Shizuo pegangan untuknya berpijak.

"Ahh~ aku tak sanggup... jangan berdirihhh~"

Mengerti maksud Izaya, Shizuo kembali mencium bibir Izaya, berjalan kearah ranjang tanpa melepaskan tautan bibir mereka, melepar tubuh kecil itu ke arah Kasur, Shizuo merangkak menaiki pemuda itu mengecup sekali bibir Izaya lalu menjilati setiap senti kulit dada, perut bahkan sekarang bibir itu mengecup tepat di perut Izaya lama. Izaya mengejang. Tangan nakal Shizuo membuka celana Izaya dengan telaten, mengeluarkan sesuatu dari sana mengelusnya bahkan memijatnya dengan lembut, Izaya benar-benar mengejang dengan mata tertutup menahan nikmat yang di rasakannya.

"Shizu... nghhh~ lagihhh."

Menyeringai, Shizuo kali menatap sesuatu yang menagang di telapak tangannya.

"Kau menyukainya?" Izaya mengangguk dan tersenyum manis.

Tok...

Tok...

"Tousan, apa Kaasan di dalam? Ada Masaomi dan Mikado di luar."

Shizuo mengeram, melihat Itu Izaya tersenyum malu-malu, sunggun kedatangan Tsukishima benar-benar tak mengenal waktu dan tempat, Izaya buru-buru bangkit dari tubuh Shizuo membereskan dirinya sendiri lalu menatap Shizuo yang menunduk lesu. Berjalan kearah Shizuo Izaya mengecup bibir pria itu lalu lalu tersenyum cerah.

"Aku kemari untuk tugas kerja kelompok bersama Tsuki-chan, Masaomi dan Mikado, jadi maaf aku harus menemui mereka."

"Kau tahu kau meninggalkanku dalam keadaan tegang."

Shizuo mengeram, kelihatanya dia akan bermain solo hari ini.

"Maaf Shizu-chan, bukannya ini juga untuk kita, jika aku cepat lulus bukannya kita bisa melakukannya kapanpun kau mau."

"Terserah dirimu, aku akan kekamar mandi."

Shizuo berjalan kesal kearah kamar mandi, menutup pintu kamar mandi dengan kesal, Izaya bisa mendengar Shizuo di dalam sana mendesah sambil memanggil namanya, mendengar itu Izaya hampir saja berguling-guling sambil tertawa. Mengabaikan permainan solo Shizuo, Izaya membuka pintu kamar menlihat Tsukishima menatapnya.

"Ada apa, Okaasan?"

"Tak ada, aku hanya sedang melihat sosok monster yang sedang putus asa."

.

.

.

END

A/N

Ini END? SUNGGUH? #dibantingShizuo.

Maaf saya telat beberapa menit... tanggal 4 Meinya dan akhirnya FF ini selesai. Terimakasih untuk ibuku yang sudah melahirkanku ke dunia di tanggal 4 Mei. dan selamat ulang tahun untukku sendiri, Ono Daisuke-senpai seiyuunya bebeb Jack Vessalius dan Shizu-chan, dan selamat ulang tahun Izaya Orihara. Ngetik ngebut tidak di edit, terima kasih repyu nya semua... jangan sungkan" repyu ff saya lagi^^

^Micky-Milky^