Fate [Chapter 06]
"Ada apa, Tetsuya?"
Laki-laki berambut biru muda itu terdiam beberapa saat. Lalu ia menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Iie. Nan demonai," ucap laki-laki itu.
"Hontou nii, Tetsuya?" Tanya lagi Yukiteru sambil mengerutkan dahinya.
"Ya tentu saja. Semuanya akan baik-baik saja," jawab Kuroko yang sukses membuat Yukiteru lebih penasaran lagi.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," ucap Yukiteru dengan cepat.
"Gomen, aku tidak tahu cara menjelaskannya. Tapi mungkin saat latihan nanti, kau akan mengerti," ucap Kuroko sambil menatap datar gadis yang ada di depannya itu.
Yukiteru hanya terdiam beberapa saat. Jujur saja, ia tidak mengerti sama sekali dengan Kuroko saat ini.
"Ayo, sebaiknya kita masuk sekarang," ucap Kuroko lagi sambil kembali melangkahkan kakinya menuju gedung sekolahnya, yang diikuti pula oleh Yukiteru.
.
.
.
Setelah pulang sekolah, Yukiteru memang merasa aneh dengan teman-temannya itu. Kuroko, Satsuki, Murasakibara, Aomine, Midorima, Kise, bahkan sampai Akashi pun memilih untuk bungkam saat ditanyakan 'ada apa' oleh Yukiteru. Jawaban mereka selalu sama. 'Baik-baik saja' atau 'tidak ada yang terjadi'
Gadis berambut hitam itu terus berjalan menuju ruang ganti dan mengganti bajunya. Setelah itu, ia berjalan menuju ruangan selalu menjadi tempat latihannya dan yang lain untuk bermain basket.
Saat ia sampai di sana, ia hanya berdiri terdiam. Tubuhnya seperti kaku saat melihat isi ruang olahraga saat itu. Ia memutuskan untuk berlari menuju seorang laki-laki berambut hijau tua yang tengah meminum minumannya di luar garis lapangan.
"Midorima-san, apa yang terjadi? Kenapa yang lain tidak ada? Tadi aku melihat semuanya komplit hari ini masuk sekolah. Kenapa tidak ada yang hadir?" Tanya Yukiteru dengan cepat.
"Ada Kise di sana," jawab Midorima yang sepertinya melenceng dari topik.
"Maksudku yang lainnya. Aomine-san, Murasakibara-san, Tetsuya, dan Seijuro," ucap Yukiteru dengan panik.
Midorima hanya terdiam, ia mengalihkan pandangannya dari Yukiteru.
"Jawab aku. Aku mohon," ucap Yukiteru lagi dengan suara lebih pelan dan lembut.
"Harusnya kau bisa mengerti dengan melihat situasi dan kondisi yang ada di sini," jawab Midorima sambil melirik sekilas Yukiteru.
"Kenapa bisa jadi seperti ini? Apa alasannya?" Tanya Yukiteru dengan cepat.
Midorima kembali terdiam. "Aku tidak bisa menjawabnya. Kau bisa tanya pada Kise."
"AKU BERTANYA PADAMU, SHINTAROU!" Bentak Yukiteru sambil menatap tajam laki-laki yang jauh lebih tinggi daripadanya itu dengan tatapan yang tajam. Suaranya yang keras itu sukses memancing orang-orang yang sedang berlatih di sana.
Midorima hanya terdiam menatap gadis itu. Entah karena ia memang enggan menjawabnya atau ia kaget karena ini adalah pertama kalinya Yukiteru meneriaki nama kecilnya. Yah yang tahu hanyalah Midorima sendiri.
"Midorima-cchi, Yuki-cchi," panggil Kise dengan suara pelannya sambil berjalan menghampiri kedua orang tersebut.
Yukiteru menarik nafasnya. "Kise-san, kenapa yang lain bisa seperti ini?"
Saat itu Kise sedikit menundukkan kepalanya.
"Akashi-cchi sudah berubah. Sekarang ia mengizinkan kita semua untuk tidak latihan, asalkan saat nanti pertandingan kita menang. Aomine-cchi dan Murasakibara-cchi memilih untuk tidak latihan. Kuroko-cchi tidak latihan hari ini, sepertinya karena ia tertekan pada situasi sekarang ini, tapi aku yakin, nanti dia pasti latihan lagi," jawab Kise dengan suara pelan.
Yukiteru langsung terdiam.
"Di mana Satsuki?" Tanya Yukiteru sambil menoleh ke samping kiri dan kanannya.
"Sepertinya ia sedang membujuk Aomine-cchi untuk latihan," jawab Kise
Yukiteru langsung mengepalkan tangannya dengan erat dan menundukkan kepalanya.
"Souka."
"Sebaiknya aku mulai latihan sekarang," ucap lagi Yukiteru sambil berlari ke tengah lapangan.
'Seijuro berubah? Kenapa? Apa yang membuatnya berubah hingga seperti ini?'
'Sial. Andai saja kau tidak sakit saat itu, mungkin aku bisa lebih mengerti situasi sekarang ini.'
'Kenapa semuanya terasa sangat berbeda. Ruangan ini. Latihan ini. Rasanya sangat berbeda. Sepi.'
Yukiteru hanya terus membungkam mulutnya sambil terus mendribble bola basket yang ia pegang dan berlari-lari tanpa tujuan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berlari menuju ring dan melakukan dunk.
DUAK!
BRUGH!
"Yuki-cchi!"
"Izuki!"
Yukiteru terdiam. Matanya setengah tertutup. Pandangannya menjadi sangat buyar. Tapi ia cukup bisa menyadari kalau saat ini ada Midorima dan Kise di dekatnya.
"Yuki-cchi? Kau masih sadar? Kau bisa lihat aku?" Tanya Kise dengan panik sambil menguncang-nguncang tubuh Yukiteru.
"Aku jatuh lagi," ucap Yukiteru dengan suara pelan, lalu ia tersenyum miris.
"Apa yang kau lakukan? Melakukan dunk tepat di atas ring, wajar saja kepalamu jadi terbentur keras dengan ring," ucap Midorima dengan datarnya.
"Aku tidak apa-apa," kata Yukiteru sambil mencoba untuk mengambil posisi duduk.
"Yuki-cchi, kau pasti kepikiran dengan hal tadi kan?" Tanya Kise sambil menatap khawatir pada gadis itu
"Gomene, Kise-san," jawab Yukiteru sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak apa. Kau pasti masih shock. Tapi ini kenyataannya. Sebaiknya kau harus mulai mencoba untuk menerimanya," ucap Kise sambil berdiri dan membantu Yukiteru untuk berdiri pula
Yukiteru hanya mengangguk pelan.
.
.
.
Setelah latihan selesai, Yukiteru memutuskan untuk langsung pulang. Karena kepalanya masih terasa pusing, sangat beresiko kalau ia pulang naik sepeda saat ini. Akhirnya, ia pulang naik kereta.
Sesampainya di rumah, seperti biasa kakaknya selalu sudah ada di rumah duluan.
"Tadaima," ucap Yukiteru dengan suara lemasnya saat melihat kakaknya itu berjalan menghampirinya.
"Okaeri, Yu-chan," sahut Shun dengan senyumannya.
"Onii-chan, hari ini aku tidak makan malam," ucap Yukiteru sambil terus berjalan, hendak menuju kamarnya.
"Heh? Kenapa? Tumben sekali," respon Shun sambil berjalan di samping adiknya itu. Bisa ia lihat, kalau adiknya itu sedang dalam mood yang jelek.
"Aku tidak nafsu makan," ucap Yukiteru dengan datar. Setelah ia masuk ke kamarnya, ia langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya itu tanpa memerdulikan kakaknya yang ada di depan pintu kamarnya.
'Ada apa dengannya?' Batin Shun. Dahinya langsung mengkerut saat melihat sikap adiknya itu.
Setelah itu, ia langsung berjalan menuju dapur. Beruntung saat itu ia belum meminta juru masak di rumahnya untuk menyiapkan makan malamnya dan Yukiteru.
Beberapa saat kemudian, Shun kembali berjalan menuju pintu kamar Yukiteru dengan membawa sebuah nampan yang di atasnya ada 2 cangkir ukuran sedang dan mengetuk pintu itu dengan perlahan.
"Yu-chan, aku bawa cokelat panas favoritmu," ucap Shun.
Tidak ada respon apapun dari dalam kamar tersebut.
"Dan ada marshmallow nya," ucap Shun lagi.
Saat itu terdengar suara kunci pintu yang terbuka, lalu pintu itu pun sedikit terbuka. Shun bisa lihat ada satu tangan terulur keluar dari sela pintu itu.
'Sudah kuduga, strategi cokelat panas selalu sukses!' Batin Shun dengan tawa kemenangannya yang merajalela dalam dirinya.
"Aku akan memberikannya kalau kau mau menceritakan masalahmu," ucap Shun sambil tersenyum tipis.
Shun melihat pintu itu dibuka lebih lebar. Seorang gadis yang terus menundukkan kepalanya hingga menutupi wajahnya itu mengizinkan kakaknya untuk masuk ke dalam kamarnya. Setelah kakaknya masuk, ia langsung menutup pintunya lagi dan berjalan menuju kakaknya. Tanpa ragu, ia mengambil satu cangkir yang ada di atas nampan yang kakaknya bawa itu dengan kedua tangannya
Yukiteru langsung duduk di tepi tempat tidurnya dan meminum cokelat panasnya itu dengan perlahan. Sedangkan Shun terdiam beberapa saat. Lalu ia meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja kecil samping tempat tidur Yukiteru. Lalu mengambil cangkir yang satu lagi dan duduk di samping Yukiteru.
"Kau bisa cerita padaku," ucap Shun, lalu ia meneguk cokelat panas miliknya.
Yukiteru terdiam beberapa saat. Lalu ia menceritakan semua yang ia rasakan saat ini tanpa ragu pada kakaknya itu.
Shun menghela nafasnya. "Tidak apa. Terkadang team bisa seperti itu, tapi nantinya pasti akan membaik lagi."
"Hontou nii ?" Tanya Yukiteru mencoba untuk memastikannya.
"Ya. Hanya butuh waktu saja," jawab Shun sambil tersenyum tipis.
Yukiteru terdiam beberapa saat. Ia terus menatap isi cangkirnya yang saat ini sudah kosong.
"Tapi, sepertinya akan sulit. Orang lain mengatakan kalau Seijuro sudah berubah. Aku mulai merasa juga. Bagaimana bisa?" Ucap Yukiteru sambil mencengkram cangkir yang ia pegang itu dengan kedua tangannya.
"Kau tidak menanyakannya langsung padanya?" Tanya Shun sambil mengangkat satu alisnya.
"Aku belum menanyakan hal itu, aku baru benar-benar sadar dan tahunya saat latihan tadi. Sedangkan latihan tadi hanya ada Kise-san dan Midorima-san," jawab Yukiteru sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Teknologi sudah maju. Kenapa kau tidak mengiriminya e-mail atau telepon dia?"
Yukiteru menghela nafasnya. "Sudah kulakukan tapi nggak ada respon."
"Kalau begitu cobalah bersikap biasa besok. Mungkin nantinya dia juga jadi bersikap biasa lagi," ucap Shun sambil meletakkan cangkir di atas nampan.
"Wakatta. Arigatou, onii-chan," jawab Yukiteru sambil tersenyum tipis pada kakaknya itu.
"Sudah jam segini, sebaiknya kau beristirahat sekarang," ucap Shun sambil mengambil cangkir yang dipegang Yukiteru dan meletakkannya di atas nampan. Lalu ia langsung beranjak dari tempat tidur tersebut.
Yukiteru langsung membaringkan badannya. Di saat yang bersamaan juga, Shun menarik selimut yang ada untuk menyelimuti adiknya itu.
"Onii-chan, aku bukan anak kecil lagi," ucap Yukiteru sambil mengerutkan dahinya.
Shun hanya meresponnya dengan tertawa pelan dan mencubit hidung adiknya itu.
Setelah itu, ia membawa nampan yang ada. Lalu ia berjalan keluar kamar Yukiteru sambil mematikan lampu kamar gadis berambut hitam itu.
.
.
.
Keesokan harinya, Yukiteru terpaksa berangkat ke sekolah bersama kakaknya, karena sepedanya ia tinggal di sekolah kemarin. Yukiteru lebih memilih berangkat ke sekolah naik kereta bersama kakaknya daripada harus diantar oleh sopirnya.
"Yu-chan," panggil Shun sambil terus berjalan di samping Yukiteru.
"Apa?" sahut Yukiteru
"Ini pertama kalinya kita pergi bersama ke sekolah kan? Yah, mungkin pertama kalinya semenjak kau masuk SMP. Karena sekolah kita berbeda jadi sangat sulit untuk bisa pergi bersama," ucap Shun dengan selingan tertawa kecil.
Yukiteru terdiam beberapa saat, spontan senyuman tipis muncul di wajahnya. "Ya."
Saat itu keduanya terdiam hingga mereka memasuki kereta. Bisa ditebak kalau kondisi kereta di pagi hari pasti selalu ramai, yah, saat ini pun Shun dan Yukiteru berdiri di antara desakan penumpang kereta yang lainnya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka bisa keluar dari kereta itu.
"Ah, aku hampir mati di sana," ucap Yukiteru dengan nafasnya yang sedikit terengah-engah.
"Kau bawa obatmu?" Tanya Shun sambil terus memegang lengan Yukiteru.
"Ya," jawab Yukiteru sambil tersenyum pada kakaknya itu, bermaksud agar kakaknya itu tidak mengkhawatirkannya.
Shun menghela nafasnya. "Mau langsung jalan atau kau mau memakai obatmu dulu?"
"Langsung jalan saja," jawab Yukiteru
"Jangan memaksakan dirimu," ucap Shun sambil mengacak-ngacak rambut adiknya itu dan kembali berjalan.
.
.
.
Sesampainya di kelas, Yukiteru melihat Akashi yang sudah duduk di kursinya, ia terlihat sibuk sendiri dengan buku-bukunya.
"Ohayou, Seijuro," sapa Yukiteru yang kini sudah berdiri di samping Akashi.
"Hn, ohayou," sahut Akashi tanpa menatap Yukiteru.
Saat itu Yukiteru langsung duduk di kursinya yang bertepatan di sebelah Akashi.
"Ah, hari ini cukup cerah ya," ucap Yukiteru mencoba mencari topik.
"Ya," jawab Akashi dengan datar dan cepat.
"Ah... aku berpikir, nanti aku akan makan siang apa. Kau ada rekomendasi?"
"Makan saja yang ada di cafetaria."
"Hn... hari ini ada PR?"
"Tidak ada."
"Hari ini ada quis?"
"Tidak ada."
"Aku membayangkan bagaimana kalau sensei memberi kita ulangan dadakan hari ini."
"Kerjakan saja sebisanya."
"Ah... lalu..."
"Yuki, ada apa denganmu?" Tanya Akashi sambil menatap gadis yang duduk di sampingnya itu.
Yukiteru terdiam beberapa saat. Matanya sedikit membulat saat ia benar-benar menatap Akashi saat ini. Ya. Seperti yang orang lain bilang. Akashi telah berubah. Tatapannya. Matanya. Semuanya.
'Aku lah yang harusnya bertanya hal itu. Ada apa denganmu?' Batin Yukiteru.
Saat itu Yukiteru mencoba untuk membuka suaranya kembali, tapi Akashi sudah terlanjur pergi dari sana.
.
.
.
Saat pulang sekolah, Yukiteru memutuskan untuk latihan seperti biasa. Walaupun situasi dan kondisinya tidak seperti biasanya lagi.
"Yuki."
Saat itu Yukiteru yang tengah berjalan hendak menuju ruang olahraga langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara tersebut. Ia melihat seorang laki-laki berambut biru muda yang berdiri tidak jauh dari belakangnya.
"Tetsuya," sahut Yukiteru
"Kau akan latihan sekarang?" Tanya Kuroko sambil berjalan menghampiri gadis itu.
"Ya," jawab Yukiteru sambil tersenyum miris.
"Ayo," ajak Kuroko sambil terus berjalan bersama Yukiteru menuju ruang olahraga.
Sesampainya mereka di ruang olahraga, mereka hanya menjalankan latihan biasa. Tidak ada yang begitu spesial dalam latihan ini. Yang hadir pun hanya Yukiteru, Kuroko, Kise, Midorima, dan murid kelas 3 yang lainnya. Setelah latihan, Yukiteru memutuskan untuk langsung pulang dengan sepeda tercintanya.
Yah, itu lah yang menjadi aktivitas rutin Yukiteru.
Selama beberapa minggu, tidak ada yang berubah. Semuanya masih seperti saat hari pertama Yukiteru kembali masuk sekolah setelah ia sakit demam.
Meskipun begitu, Teiko tetap terus menang dalam setiap pertandingan. Tapi hawanya sangat berbeda. Tidak seperti dulu lagi. Semuanya berubah. Tidak ada senyuman dan tawa lagi yang mengisi team. Semuanya terlihat begitu suram dan sepi.
Setelah bel pulang sekolah, Yukiteru langsung menghampiri Akashi.
"Akashi Seijuro, kutunggu kau di ruang olahraga nanti," ucap Yukiteru dengan cepat.
Saat itu juga Yukiteru langsung pergi keluar dari kelas, tanpa menunggu respon dari laki-laki berambut merah itu.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Akashi memutuskan untuk berjalan menuju ruang olahraga. Sesampainya di sana, ia melihat Yukiteru yang sudah mengganti bajunya dengan baju yang ia bisa gunakan untuk latihan. Ia juga melihat di sana ada Kise, Midorima, dan Kuroko.
"Yuki, kau yakin mau melakukannya?" Tanya Kuroko sambil mengerutkan dahinya.
"Ya," jawab Yukiteru dengan cepat.
Saat itu kepala Yukiteru langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka itu. Ia melihat ada seorang laki-laki berambut merah yang berdiri di sana.
"Izuki Yukiteru," panggil Akashi sambil berjalan mendekati Yukiteru.
"One-on-one. 5 point untuk menang," ucap Yukiteru sambil mengambil bola basket yang ada di dekat kakinya itu.
"Kau tidak akan bisa menang dariku," jawab Akashi sambil menyeringai.
"Kalau aku menang, aku menginginkan kau melakukan sesuatu," ucap Yukiteru yang sepertinya mengabaikan kata-kata Akashi tadi.
Akashi langsung mengangkat satu alisnya. "Apa?"
"Kembalikan team seperti dulu!"
Saat itu Akashi terdiam beberapa saat.
"Kuterima tantanganmu," ucap laki-laki berambut merah itu sambil melepaskan tas dan jas seragamnya, lalu ia taruh di luar garis lapangan.
Duel itu pun akhirnya dimulai. Setelah beberapa saat, score memang diungguli oleh Yukiteru.
"Tamat kau, Izuki Yukiteru," gumam Akashi.
BUGH!
Saat itu juga kaki Yukiteru terasa lemas, dan ia terjatuh begitu saja. Matanya langsung membulat tidak percaya.
"Bagaimana bisa?" Ucap Yukiteru dengan suara pelan dan sedikit goyah.
Saat itu Yukiteru memutuskan untuk kembali bangkit berdiri, walaupun kakinya masih terasa gemetaran. Ia mencoba untuk mengejar Akashi dan merebut bolanya. Walaupun semua usahanya saat ini sia-sia. Hingga akhirnya Akashi yang mencapai 5 point nya lebih dulu dari Yukiteru.
"Kau kalah," ucap Akashi sambil melihat ke bawahnya. Lebih tepatnya ke arah Yukiteru yang terjatuh di depannya.
"Tidak. Sekali lagi!" Ucap Yukiteru sambil mencoba untuk berdiri dan menatap mata laki-laki berambut merah itu.
"Percuma saja, hasilnya akan tetap sama," jawab Akashi sambil menyeringai.
"Tidak! Kali ini pasti berbeda!" Bentak Yukiteru.
"Baiklah."
Saa itu duel pun kembali dimulai. Tapi tak membutuhkan waktu yang lama, Akashi kembali menghabisi Yukiteru. Ia kembali menang dengan Emperor Eye nya.
"Kau tidak akan bisa mengubah apapun," ucap Akashi.
"Sekali lagi!" Bentak Yukiteru dengan suara yang lemas. Ia kembali mencoba untum berdiri, walaupun kakinya semakin gemetar hebat. Keringat membanjiri dirinya. Nafasnya pun sudah tidak beraturan.
"Apa yang Yuki-cchi lakukan? Ia tidak akan bisa menang melawan Emperor Eye milik Akashi-cchi," ucap Kise yang terus memerhatikan duel Akashi dan Yukiteru tersebut.
Saat itu duel pun kembali dimulai untuk ketiga kalinya. Yukiteru yang saat ini menguasai bola tersebut terancam direbut bolanya kapan saja sesuai dengan kemauan Akashi.
Yukiteru terus berlari dan mendribble bola tersebut hingga akhirnya ia kembali jatuh untuk kesekian kalinya. Akashi langsung mengambil alih bola basket tersebut.
'Tidak.'
'Tidak bisa.'
'Aku tidak peduli kalau aku terus kalah sekarang.'
'Tidak apa kalau aku hanya sebagai pemain cadangan.'
'Tidak masalah kalau aku tidak pernah bermain lagi di pertandingan.'
'Aku hanya ingin team kembali seperti dulu!'
Saat itu juga Yukiteru langsung kembali berdiri. Dengan sekejap mata, ia mampu mengambil alih bola basket tersebut dan membawanya lari menuju ring, lalu ia melakukan lay-up.
Saat itu Yukiteru langsung menoleh ke belakangnya, lebih tepatnya ke arah Akashi. Ia menatap laki-laki berambut merah itu dengan tatapan penuh tekadnya. Meskipun saat itu ada yang sedikit berbeda dari mata gadis itu.
Akashi hanya terdiam dan membalas tatapan gadis berambut hitam itu. Seringaiannya kembali mengembang di wajahnya. "Menarik sekali."
"Ada yang berbeda dari Yukiteru," ucap Kuroko sambil mengerutkan dahinya.
Mata Midorima membulat sekilas. "Mustahil."
"Heh? Ada apa, Midorima-cchi?" Tanya Kise sambil mengangkat satu alisnya.
"Tidak. Ini mustahil," ucap Midorima. Dahinya pun mengerut saat itu juga.
"Aku tidak mengerti kalau Midorima-cchi hanya mengatakan 'mustahil' terus," respon Kise.
"Izuki bisa memasuki zone. Itu terlalu ajaib untuk pemain sepertinya saat ini," jawab Midorima sambil mengepalkan tangannya.
"Zone?! Yuki/Yuki-cchi?!" Respon Kuroko dan Kise bersamaan, ikut tidak percaya juga.
Duel itu pun kembali berlangsung. Bahkan lebih panas dari yang sebelumnya. Sepertinya Yukiteru pun mulai terbiasa dengan hawa Emperor Eye milik Akashi. Setiap ia terjatuh ia pasti langsung kembali bangkit dan mengejar laki-laki berambut merah itu. Tidak ada score yang tercetak beberapa saat itu. Yang terjadi hanya rebut-merebut bola saja.
'Oh. Di luar ekspetasi. Bukan semangatnya saja yang meningkat. Tapi kekuatannya juga. Jadi ini zone?' Batin Akashi.
Hingga akhirnya Yukiteru mampu menguasai bola basket tersebut. Ia membawa bola basket itu ke arah ring dengan sekejap mata, lalu melompat bersiap untuk lay-up.
'Sial. Aku lengah,' batin laki-laki berambut merah itu sambil berlari menuju Yukiteru dan bersiap untuk menggunakan Emperor Eye nya.
DEG!
"Urgh!"
BRUGH!
"Yuki!?" Panggil Kuroko dengan suara keras, saat melihat Yukiteru terbaring di lapangan.
Akashi langsung terdiam, hanya memerhatikan gadis yang tiba-tiba saja jatuh itu. Bingung? Yah, mungkin. Dia belum menggunakan Emperor Eye nya. Tapi Yukiteru sudah jatuh terbaring begitu saja, tanpa berhasil memasukkan bola ke dalam ring.
Sepertinya Midorima dan Kise sudah terbiasa melihat pemandangan tersebut. Jadi mereka tidak terlalu mengekspresinya rasa kagetnya. Hanya rasa khawatir dan panik saja yang tercermin di wajah mereka.
'Kenapa tiba-tiba jadi terasa sangat sakit?! Paru-paruku rasanya seperti terbakar. Leherku seperti dicekik,' batin Yukiteru.
"Argh!" Rintih Yukiteru sambil mencengkram kaos bagian dadanya sendiri itu dan meringkuk.
'Dia sudah keluar dari zone. Tidak disangka akan secepat ini. Mengecewakan,' batin Akashi. Matanya terus memerhatikan Yukiteru yang masih terbaring, menahan rasa sakitnya.
Akashi mengambil bola basket yang terletak di dekat Yukiteru. Tak membutuhkan waktu yang lama, ia langsung melakukan tembakan tiga point. Setelah itu, ia kembali menuju ke arah posisi Yukiteru terbaring.
Yukiteru hanya terdiam, menatap Akashi yang berdiri di dekatnya saat ini. Tatapannya bisa terlihat sekali kalau ia sedang menahan rasa sakitnya. Keringat terus membanjir tubuhnya yang terlihat sangat lemas dan gemetaran. Kesulitan bernafas? Sudah pasti.
"Aku menang," ucap Akashi sambil menyeringai.
"Se-ka-li-la-gi-" ucap Yukiteru dengan terbata-bata. Ia berusaha untuk bangun, walaupun tubuhnya sudah tidak memberinya respon positif lagi.
"Keluarlah dari team."
Saat itu semua orang yang ada di sana langsung terdiam.
"Heh?" Respon Yukiteru sambil menatap Akashi dengan tatapan yang tidak percaya.
"Keluarlah dari team. Ini perintah."
"Ke-kenapa?" Tanya Yukiteru dengan suara pelan.
"Kuakui kau punya tekad yang kuat sampai kau mampu memasuki zone."
"Tapi itu saja tidak cukup. Tubuhmu terlalu lemah dan penyakitan. Kau hanya merepotkan orang lain. Kau tidak dibutuhkan dalam team," ucap Akashi sambil membalikkan badannya dan berjalan pergi dari sana.
Yukiteru hanya terdiam. Ia terus berbaring sambil menatap langit-langit ruangan yang berukuran cukup besar itu.
"Kenapa kalian masih di sini? Kalian harus pulang sekarang. Besok ada pertandingan," ucap Akashi sambil mengambil tas dan jas seragamnya itu.
"Tapi bagaimana dengan Yuki?" Respon Kuroko dengan cepat.
"Kalian tidak perlu bersusah payah untuk peduli dengannya lagi. Dia bukan bagian dari team kita lagi sekarang," ucap Akashi sambil berjalan melewati Midorima, Kise, dan Kuroko.
"Tapi-"
"Kalau ada yang menolongnya, siap-siap untuk dikeluarkan juga dari team," ucap Akashi sebelum ia benar-benar keluar dari sana.
'Apa yang dipikirkan Akashi-kun?' Batin Kuroko semakin bingung.
"Ayo," ucap Midorima sambil berjalan keluar.
Kise hanya terdiam sambil mengikuti Midorima berjalan. Sedangkan Kuroko terlihat sekali kalau ia sedang ragu saat ini.
"Kuroko-cchi," panggil Kise dengan suara pelan.
Kuroko menatap Yukiteru beberapa saat. Ia melihat gadis itu hanya terus terdiam, terbaring. Lalu ia memutuskan untuk ikut berjalan keluar bersama yang lainnya.
Yukiteru melihat semua itu. Dadanya terasa sakit. Melihat semuanya pergi begitu saja. Tangisan keluar begitu saja.
'Lemah. Penyakitan. Merepotkan orang lain. Kau pikir aku mau hidup seperti ini?!' Batin Yukiteru. Dadanya terasa lebih sakit lagi sekarang, setelah mendengar kata-kata Akashi dan melihat teman-temannya pergi begitu saja.
Nafasnya semakin tidak karuan. Kepalanya pun terasa panas dan pusing. Ia mulai memejamkan matanya.
'Sekarang aku mati pun tidak apa. Iya 'kan, Akashi Seijuro?'
Isakan tangisnya pun semakin menjadi-jadi memenuhi ruangan yang saat ini hanya diisi oleh dirinya seorang.
"Yu-chan?"
Saat itu Yukiteru langsung membuka matanya, lalu melihat sosok laki-laki yang sangat familiar di matanya. Laki-laki berambut hitam itu tengah berdiri di depan pintu yang terbuka lebar.
"Onii-chan?" Sahut Yukiteru dengan suara sangat lemah.
Saat itu sang kakak langsung berjalan cepat menghampiri adiknya.
"Kau terlihat buruk sekali," ucap Shun sambil mengerutkan dahinya.
"Bagaimana onii-chan bisa di sini?" Tanya Yukiteru dengan suara lemahnya.
"Awalnya aku berniat menjemputmu. Aku sudah menunggumu lama di depan gerbang sekolahmu. Sampai ada laki-laki berambut biru muda bilang padaku kalau kau ada di sini. Lalu ia juga memberiku tasmu. Isinya sudah ada seragammu juga," ucap Shun sambil mengobrak-abrik isi tas adiknya itu.
Spontan Yukiteru langsung memegang tangan kakaknya dengan lemas dan menggelengkan kepalanya, bermaksud untuk memberitahu kakaknya untuk berhenti mengobrak-abrik isi tasnya itu.
'Tetsuya? Bagaimana dia bisa tahu kalau dia kakakku?' Batin Yukiteru merasa bingung.
"Jadi apa yang terjadi padamu?" Tanya Shun sambil mengangkat satu alisnya.
"Nanti saja ceritanya," jawab Yukiteru sambil berusaha menghela nafasnya, walaupun sangat sulit.
"Baiklah. Ayo pulang," ucap Shun sambil menggendong Yukiteru di punggungnya.
.
.
.
"Sebenarnya ada apa dengan Akashi-kun? Ia berubah seperti menjadi orang lain," ucap Kuroko sambil terus berjalan. Tangannya menggenggam erat tas yang ia bawa.
"Aku tidak tahu," jawab Kise sambil mengangkat kedua bahunya.
"Tadi itu, Akashi sengaja melakukannya."
"Apa maksud Midorima-kun?" Tanya Kuroko dengan cepat.
"Dia sengaja terus menerima tantangan dari Izuki. Dari awal semenjak ia berubah, terlihat sekali kalau ia memang berniat mengeluarkan Izuki dari team," jawab Midorima.
"Heh? Jadi, dia memang sengaja menggunakan kesempatan tadi untuk mengeluarkan Yuki-cchi?"
"Ya," ucap Midorima sambil sedikit menganggukkan kepalanya.
"Tapi bukannya itu berlebihan?" Tanya Kise sambil tertawa miris.
"Aku juga tidak mengerti jalan pikiran Akashi. Tapi menurutku, Akashi memang berniat meninggalkan kesan buruk pada Izuki," jawab Midorima setelah menghela nafasnya.
"Itu bukan Akashi-kun. Aku yakin. Pasti itu orang lain," ucap Kuroko sambil memegang kepalanya sendiri yang terasa berat sekali.
"Aku tidak mau membahas hal ini lagi," ucap Midorima setelah ia menghela nafas panjang.
.
.
.
"Jadi, apa yang terjadi?"
Shun langsung duduk di tepi tempat tidur Yukiteru.
Yukiteru yang kini terbaring di tempat tidurnya itu hanya terdiam dan menghela nafasnya dengan panjang.
"Kau tidak ingin menceritakannya?"
"Aku dikeluarkan dari team," jawab Yukiteru dengan suara pelan. Saat itu matanya langsung terpejam.
"Kenapa?" Tanya Shun sambil mengerutkan dahinya.
'Tubuhmu terlalu lemah dan penyakitan. Kau hanya merepotkan orang lain. Kau tidak dibutuhkan dalam team'
Kata-kata itu terus memenuhi kepala Yukiteru. Yah baginya kata-kata itu memang seperti pukulan telak untuknya.
"Yu-chan?" Panggil Shun setelah beberapa saat ia melihat adiknya itu hanya melamun.
"Aku mau istirahat," ucap Yukiteru dengan datar.
Shun terdiam beberapa saat. "Baiklah. Kalau ada apa-apa, kau bisa panggil aku."
Saat itu Shun langsung berdiri dan berjalan keluar dari kamar Yukiteru.
.
.
.
Pagi hari, seperti biasa Yukiteru datang ke sekolah dengan sepeda tercintanya. Saat ia memarkirkan sepedanya itu, ia melihat seseorang berdiri di dekatnya.
"Oh, Tetsuya. Ohayou."
"O-ohayou, Yuki."
Saat itu Yukiteru langsung berjalan menuju gedung sekolah tanpa melihat Kuroko yang masih berdiri terdiam.
"Yuki."
Saat itu langkah kaki Yukiteru langsung terhenti. Ia kembali menoleh ke arah di mana Kuroko berdiri sekarang.
"Gomen, kemarin aku tidak menolong-"
"Tidak apa," sela Yukiteru dengan cepat.
"Justru aku berterima kasih, karena kau memberitahu onii-chan, kalau aku ada di ruang olahraga saat itu," lanjut Yukiteru dengan datar
Kuroko hanya terdiam. Ia terus menatap Yukiteru dengan tatapan penyesalannya.
"Ohya, bagaimana kau tahu kakakku?" Tanya Yukiteru sambil mengangkat satu alisnya.
"Beberapa minggu yang lalu, aku melihat kalian jalan bersama pagi-pagi di dekat stasiun. Awalnya aku hanya menebak kalau itu kakakmu, karena kalian memang terlihat sangat mirip," jawab Kuroko sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Souka. Arigatou, Kuroko Tetsuya," ucap Yukiteru dengan datar sambil sedikit membungkukkan badannya, lalu ia kembali berjalan menuju gedung sekolah.
"Jangan bilang kalau kau juga mulai berubah, Yuki?" Gumam Kuroko sambil mengepalkan tangannya, walaupun terasa lemas.
.
.
.
Sisa waktu di kelas 2, Yukiteru habiskan begitu saja. Tidak ada yang istimewa. Hanya ada suasana sepi yang menemaninya. Hingga ia naik ke kelas 3 pun tidak ada yang benar-benar berarti dalam hidupnya itu. Ia memilih untuk mengunci dirinya dari dunia luar. Tidak ada satupun teman yang menemaninya saat ini.
"Aku sudah selesai makan. Terima kasih atas sarapannya. Aku berangkat," ucap Yukiteru dengan ekspresi dan nada suara yang datar. Lalu ia langsung beranjak dari kursinya itu dan berjalan keluar ruang makan.
"Shun, ada apa dengan Yuki?" Tanya sang ibu dengan cemas.
"Aku tidak tahu. Tapi di akhir ia kelas 2, dia bilang kalau dia dikeluarkan dari team," jawab Shun
"Arata, kau berbuat apa lagi? Jangan membuatnya seperti itu. Kau tahu kan, dia sangat suka basket. Kalau kau rampas itu darinya, dia pasti akan jadi hilang semangat hidup seperti sekarang ini," ucap wanita itu dengan cepat sambil menatap tajam pria yang yang ada di dekatnya itu.
"Apa? Aku tidak melakukan apapun. Aku tidak menyuruh pelatih untuk mengeluarkannya," ucap pria itu tidak terima.
"Kalau bukan karena kau, kenapa Yuki bisa keluar dari team?" Ucap wanita itu sambil mengerutkan dahinya, kebingungan.
"Aku tidak tahu. Yu-chan memang jadi aneh sekarang ini. Ia tidak mau berbicara lagi denganku, kalau bukan hal yang penting. Kata pelayan di sini juga, saat ia pulang sekolah, ia langsung mengurung diri di kamarnya. Aku pernah mencoba untuk menanyakannya, tapi saat aku masuk ke kamarnya dia terlihat sibuk belajar. Tidak biasanya Yu-chan mau belajar dengan sangat serius. Belum lagi ini baru 2 minggu masuk sekolah di semester kelas yang baru. Pelajarannya harusnya masih ringan."
Saat itu semua orang yang di sana hanya terdiam. Tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Sebaiknya aku berangkat sekarang," ucap Shun sambil beranjak dari kursinya dan berjalan keluar ruang makan.
Saat laki-laki berambut hitam itu sampai di depan rumahnya, ia melihat adiknya itu tengah berjalan sambil membawa sepeda menuju pintu gerbang rumahnya.
"Yu-chan!" Panggil Shun sedikit berteriak.
Saat itu langkah kaki Yukiteru langsung terhenti dan menoleh ke asal suara tersebut.
"Mau pergi bareng?" Tanya Shun
"Sekolah kita beda," jawab Yukiteru dengan datar. Lalu ia kembali melangkahkan kakinya sambil membawa sepeda di sampingnya.
"Kita bisa melakukannya seperti waktu itu," ucap Shun sambil berjalan mengikuti Yukiteru.
Yukiteru terdiam beberapa saat. Ia melirik sekilas kakaknya itu.
"Aku tidak mau naik kereta," ucap Yukiteru dengan ekspresi dan nada suara yang sama, yaitu datar.
"Bagaimana kalau naik bus?"
"Tidak."
"Kalau naik mobil?"
"Tidak."
Saat itu Shun menghela nafasnya dengan panjang. Ia baru menyadari kalau ia dan Yukiteru sudah di luar gerbang rumahnya.
"Aku berangkat," ucap Yukiteru sambil menaiki sepedanya dan mengendarainya pergi dari sana, meninggalkan kakaknya itu.
"Yu-chan," gumam Shun sambil menatap miris punggung adiknya itu.
.
.
.
Sesampainya Yukiteru di sekolah, ia langsung memarkirkan sepedanya. Lalu berjalan ke arah gedung sekolahnya.
Ketika gadis itu sampai di kelasnya, ia hanya duduk di kursinya yang kali ini terletak tepat di paling pojok ruangan dekat jendela. Ia melihat tak jauh darinya ada Akashi dan Midorima, tapi semuanya memang terlihat berbeda dengan wajah yang lebih datar dan 'suram'.
Tak lama kemudian, jam pelajaran pun dimulai. Tidak ada yang spesial selama jam pelajaran ini.
"Izuki?"
"Izuki?!"
"Izuki Yukiteru?"
BRAK!
"IZUKI YUKITERU?!"
Spontan Yukiteru langsung mengangkat kepalanya. Ia melihat guru yang mengajar di kelasnya saat ini tengah berdiri di samping mejanya.
"Gomenasai, sensei," ucap Yukiteru saat menyadari kalau ia tertidur di kelas. Sebenarnya wajar saja, berhubung tadi malam dia baru bisa tidur nyenyak saat jam menunjukkan pukul 2 pagi.
"Kau sudah selesai mengerjakan soal quis yang sensei berikan?" Tanya guru itu sambil mengerutkan dahinya.
Yukiteru hanya mengangguk. Yah, sebenarnya jam pelajaran saat ini diisi dengan pengadaan quis kecil-kecilan untuk sekedar me-review pelajaran kemarin.
Guru itu hanya menghela nafasnya. "Ya sudah, tapi jangan tidur lagi. Periksa lagi hasil kerjamu. Mungkin saja kau bisa dapat nilai sempurna."
"Wakarimashita," ucap Yukiteru dengan suara pelan dan datar.
Saat guru itu beranjak dari tempat Yukiteru duduk. Gadis berambut hitam itu menyadari ada seseorang yang memerhatikannya. Tapi saat ia ingin menangkap basah pelakunya, orang tersebut malah mengalihkan pandangannya terlebih dahulu.
'Mungkin hanya kebetulan kau menoleh ke sini. Ya 'kan, Akashi Seijuro?'
.
.
.
Saat bel pulang sekolah berbunyi, semua murid langsung berhamburan keluar kelas dan wilayah sekolah.
Saat ini Yukiteru masih duduk terdiam di bangkunya. Suasana kelasnya pun mulai terasa sepi. Tatapannya kosong. Tidak ada yang ia lakukan di sana. Setelah beberapa saat kemudian, ia berdiri dari kursinya dan bersiap-siap untuk pulang.
Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan setelah pulang sekolah, jadi biasanya ia selalu memutuskan untuk langsung pulang. Walaupun ada beberapa /teman/ perempuannya. Ah, tidak, mungkin lebih tepatnya /kenalan/ perempuannya, mengajak Yukiteru untuk bermain. Tapi keputusan Yukiteru sepertinya sudah sangat bulat, yaitu ia ingin mengunci dirinya dari dunia luar. Kata 'teman' dan 'kebersamaan' seakan-akan sudah dihapus dalam kamusnya sendiri.
"Izuki Yukiteru."
Saat itu Yukiteru langsung menghentikan langkah kakinya saat ia hendak berjalan keluar kelas. Entah kenapa dadanya terasa begitu sesak saat mendengar suara yang sudah sekian lama tidak pernah ia dengar lagi.
"Apa?" Sahut Yukiteru dengan datar. Kepalanya tertunduk. Ia hanya sanggup menatap kaki orang yang ada di depannya saat ini.
"Angkat kepalamu," ucap laki-laki berambut merah yang saat ini berdiri di depan Yukiteru.
"Langsung saja ke topik utamanya, ada apa kau memanggilku?" Ucap Yukiteru tanpa menuruti kata-kata seorang Akashi Seijuro.
"Kubilang, angkat kepalamu!" Bentak Akashi sambil memegang dagu Yukiteru dengan satu tangannya dan memaksa gadis itu untuk mengangkat kepalanya.
Spontan Yukiteru tersentak kaget. Bagaimanapun juga ia tidak mampu menatap mata Akashi saat ini.
Mereka berdua langsung terdiam saat mata mereka bertemu. Tatapan Yukiteru seakan-akan mencerminkan kalau dirinya memang takut dan kaget. Berbeda dengan tatapan Akashi yang begitu dingin.
'Kenapa aku jadi seperti ini? Sial. Kenapa tekadku jadi lemah di depannya? Kalau dia bisa berubah, aku juga harusnya bisa,' batin Yukiteru
Saat itu ia menarik nafasnya, mencoba untuk menstabilkan emosinya dan kali ini ia menatap Akashi dengan tatapan datar.
"Ada apa?" Tanya Yukiteru memecahkan kesunyian yang ada.
"Tou-san mengundangmu makan malam di rumah. Nanti kujemput jam 7 malam," jawab Akashi dengan datarnya.
Saat itu Yukiteru terdiam beberapa saat.
"Gomenasai, tapi aku tidak bisa," ucap Yukiteru sambil sedikit membungkukkan badannya di depan Akashi. Lalu ia kembali membalikkan badannya hendak berjalan kabur dari sana.
"Aku tidak mau dengar adanya penolakan," jawab Akashi sambil berjalan mendahului Yukiteru keluar dari kelas.
'Ada apa dengannya ini?' Batin Yukiteru geram.
.
.
.
Saat ini. Yah, Yukiteru sedang sibuk di meja belajarnya saat ini. Ia belajar materi yang belum diajarkan di sekolahnya. Entahlah, mungkin ini karena ia tidak memiliki pekerjaan lain. Dan hanya dengan menyibukkan dirinya saja ia bisa melupakan kejadian yang membelenggunya itu.
Kejadian di mana ia duel dengan Akashi untuk yang pertama dan terakhir kalinya, sekaligus kejadian di mana ia dikeluarkan dari team. Kejadian itu terus terbayang-bayang di kepalanya, mengisi penuh otaknya. Hingga ia tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak lagi semenjak kejadian itu.
Terus menyalahkan dirinya, tidak terima dengan kehidupannya, mengunci diri dari dunia luar, menyibukkan diri dengan belajar dan berlagak seperti kutu buku yang hanya memiliki satu ekspresi (yaitu, datar). Itulah kehidupan yang ingin ditempuh Yukiteru saat ini.
"Jadi, kau memang tidak berniat untuk pergi makan malam?"
Saat mendengar suara tersebut, Yukiteru langsung menoleh ke asal suara tersebut. Ia melihat seorang laki-laki berambut merah dengan pakaian yang rapih, tengah berdiri di dekat pintunya yang entah sejak kapan sudah terbuka lebar.
"Sei-"
Saat itu suara Yukiteru terputus, entah kenapa saat ini ia seperti tidak mampu memanggil nama kecil laki-laki berambut merah itu.
"Masih ada waktu. Bersiap-siaplah sekarang, yang cepat," titah Akashi
Yukiteru menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan perlahan. "Sudah kubilang, aku tidak bisa datang. Kau lihat sendiri kan kalau aku sedang sibuk."
"Sudah kubilang juga, aku tidak mau mendengar adanya penolakan," ucap Akashi sambil mengangkat satu alisnya.
"Memangnya kenapa kalau aku tidak datang? Aku ini orang yang tidak dibutuhkan, ingat?" Jawab Yukiteru dengan datar, sambil mengambil posisi berdiri dari kursinya.
"Ganti bajumu atau aku akan menyeretmu ke depan tou-san dengan kau yang menggunakan baju yang sekarang," ucap Akashi.
Bisa dilihat saat ini Yukiteru hanya mengenakan kaos oblong polos berwarna putih dengan celana pendeknya yang berwarna hitam.
Yukiteru terdiam beberapa saat. "Keluarlah. Aku akan siap-siap."
Saat itu Akashi hanya terdiam. Lalu ia berjalan keluar dan menutup pintu kamar Yukiteru.
Beberapa saat kemudian, Yukiteru keluar dari kamarnya dengan menggunakan dress hitam sepanjang atas lututnya. Rambut hitamnya yang panjang itu diurai begitu saja.
"Ayo," ajak Akashi saat melihat gadis itu keluar dari kamarnya.
Yukiteru hanya terdiam sambil terus berjalan mengikuti Akashi. Di sepanjang perjalanan pun, mereka berdua hanya terdiam. Tidak ada satupun dari mereka yang mau memecahkan keheningan yang ada. Hingga mereka sampai di kediaman keluarga Akashi pun mereka hanya terdiam.
Saat ia berjalan menuju ruang makan, tiba-tiba saja Yukiteru merasa sedikit terkaget. Ia merasa tangannya digenggam oleh laki-laki yang kini berjalan di sampingnya. Spontan ia langsung melepaskannya.
"Kita ini dijodohkan, ingat?"
"Ya. Dan aku juga tidak merasa nyaman berjalan dengan orang yang sudah mengeluarkanku dari team," ucap Yukiteru dengan suara pelan dan datar, tanpa melihat ke arah Akashi.
Akashi hanya terdiam. Tidak ada salah satu dari mereka yang mau membuka suaranya lagi sampai mereka tiba di ruang makan. Bisa dilihat meja makan di sana hanya di sini oleh seorang pria mapan yang sedang sibuk membaca buku.
"Nona Yuki, saya sudah menunggumu," ucap sang kepala keluarga Akashi sambil menutup bukunya.
"Maaf sudah membuat anda menunggu," jawab Yukiteru sambil sedikit membungkukkan badannya, sebelum ia duduk di kursi.
Akashi hanya terdiam. Ia duduk di kursi yang tepat ada di samping Yukiteru.
Saat itu acara makan malam pun dimulai. Mereka semua tampang sibuk sendiri dengan makanan yang ada di depan mereka.
"Yuki, kalau dilihat akhir-akhir ini, sepertinya kau sudah tidak terlalu dekat lagi dengan Seijuro. Ada apa?" Ucap pria itu yang sukses membuat Yukiteru berhenti dari acara makannya itu.
"Gomenasai. Akhir-akhir ini, aku memang lebih memfokuskan diri untuk belajar. Bagaimanapun juga sekarang aku sudah kelas 3. Sebentar lagi aku akan menghadapi ujian. Karena itu, aku ingin mempersiapkannya dengan matang," ucap Yukiteru seadanya saja. Tidak mungkin dia bilang kejadian yang sebenarnya. Bisa rumit masalahnya nanti.
"Oh, bagus juga. Kau sudah ada arahan mau lanjut sekolah di mana?" Tanya pria itu dengan tersenyum sekilas pada Yukiteru.
"Sebenarnya belum. Di tokyo ini terdapat banyak sekolah yang bagus. Aku bingung untuk memilihnya. Mungkin nanti aku akan meminta rekomendasi dari tou-san," jawab Yukiteru.
"Seijuro sudah menentukan dia akan sekolah di mana. Bagaimana kalau kau satu sekolah lagi dengannya?" Tawar pria itu sambil melirik sekilas pada anaknya itu yang saat ini hanya sibuk dengan makanannya.
'Satu sekolah dengannya? Tidak. Tidak. Tidak.'
"Seijuro akan sekolah di mana?" Tanya Yukiteru dengan suara sedikit ragu. Apalagi saat ia harus memanggil laki-laki berambut merah itu dengan nama kecilnya.
"Dia bilang, rakuzan," jawab ayah dari Seijuro itu.
'Rakuzan. Ok. Pilihan terlarang adalah rakuzan!'
Saat itu acara makan malam terus berlanjut dengan diisi oleh perbincangan ringan antara ayah Akashi dan Yukiteru.
"Terima kasih atas makanannya. Sebaiknya aku pulang sekarang," ucap Yukiteru sambil berdiri dari kursinya lalu ia sedikit membungkukkan badannya.
"Baiklah. Seijuro, kau antar dia," ucap pria itu pada anaknya.
"Wakarimashita," ucap Akashi sambil berdiri dari kursinya.
Saat itu mereka berdua langsung berjalan keluar dari ruang makan.
"Kau sengaja menyembunyikannya? Anak pintar," ucap Akashi sambil menepuk ujung kepala Yukiteru.
"Aku hanya tidak mau masalahnya jadi semakin rumit. Lebih baik ber-akting seperti tidak terjadi apapun di depan orang tua kita," ucap Yukiteru sambil berjalan menjauh dari Akashi. Tatapannya saat ini hanya lurus ke depan.
"Memangnya apa yang terjadi sampai harus bersusah payah ber-akting?" Tanya Akashi sambil mengangkat satu alisnya.
Yukiteru terdiam beberapa saat. Ia menghentikan langkah kaki dan menghadap ke arah Akashi. Bisa ditebak kalau saat ini pun ekspresi Yukiteru adalah datar.
"Siapa kau?"
"Siapa aku? Jangan bercanda. Kau sudah tahu aku," jawab Akashi sambil sedikit menyeringai.
"Kau bukan Seijuro," ucap Yukiteru sambil kembali melangkahkan kakinya.
Saat itu juga ia merasa ada yang menarik tangannya lalu mendorongnya hingga punggungnya menabrak dinding yang ada di dekatnya.
"Apa yang kau-"
Kalimat Yukiteru terpotong begitu saja saat menyadari kalau wajah milik Akashi itu sangat dekat dengan wajahnya.
"Aku sudah muak dengan kalimat itu. Aku ini Akashi Seijuro," ucap Akashi. Matanya sedikit membulat dan seringaian muncul di wajahnya.
Dengan susah payah, Yukiteru menelan ludahnya. Ia tidak mampu mengucapkan satu katapun saat ini.
Saat itu juga, Akashi langsung menjauhkan posisinya dari Yukiteru dan kembali melangkahkan kakinya.
Yukiteru hanya bisa menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan perlahan. Setelah itu, ia kembali melangkahkan kakinya mengikuti Akashi.
.
.
.
Sesampainya di rumah, Yukiteru hanya terus terdiam dan berjalan hendak menuju kamarnya. Saat ia masuk ke dalam kamarnya, ia melihat ada seseorang yang berbaring di tempat tidurnya.
"Sejak kapan ini jadi kamarmu?" Ucap Yukiteru dengan datar, sambil mengangkat satu alisnya.
"Ah, Yu-chan, kau sudah kembali," respon laki-laki berambut hitam itu sambil mengambil posisi duduk dan tersenyum pada Yukiteru.
"Keluarlah. Aku mau istirahat," ucap Yukiteru pada kakaknya itu.
Shun terdiam beberapa saat. Lalu ia beranjak dari tempat tidur itu dan berjalan keluar kamar.
"Kalau Yu-chan seperti ini terus, aku jadi kesepian," ucap Shun saat ia berjalan melewati Yukiteru.
Yukiteru hanya terdiam. Setelah ia mendengar suara pintunya yang tertutup, ia langsung mengganti bajunya dengan piyama. Lalu ia langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya.
Berkali-kali helaan nafas keluar begitu saja dari mulut Yukiteru. Perasaannya terasa tidak nyaman. Sesuatu terus mengganjal dalam hidupnya setelah ia berhenti bermain basket. Padahal bisa dibilang ia sudah cukup lama berhenti bermain basket. Sepertinya Yukiteru adalah tipe perempuan yang susah move on. Hasrat dalam dirinya seperti sudah benar-benar tertuju pada basket.
Ia memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di kursi meja belajar yang saat ini menjadi pelariannya dari basket. Ia membuka lembaran bukunya itu dan mulai membaca. Sesekali ia mengerjakan soal yang ada di dalam buku tersebut.
Sebenarnya cara ini paling ampuh untuk melupakan sejenak masalah batin yang dialami Yukiteru. Tapi Yukiteru melakukan cara ini dengan ekstrim. Saat di sekolah pastinya belajar. Saat jam makan siang, dia hanya berada di perpustakan untuk belajar lagi. Setelah pulang sekolah, ia belajar lagi di kamarnya hingga larut malam. Tidak jarang pula ia belajar hingga dini hari sampai ia ketiduran di meja belajar tercintanya itu.
.
.
.
"Huh?"
Perlahan Yukiteru membuka matanya. Ia baru menyadari kalau kepalanya terbaring di meja belajarnya
'Aku ketiduran lagi,' batin Yukiteru. Ia melihat ke arah jam kecil yang ada di meja belajarnya. Waktu masih menunjukkan pukul 1 pagi.
Gadis itu langsung mengambil posisi duduk tegaknya. Saat itu ia merasa ada sesuatu yang jatuh dari punggungnya. Saat ia melihat ke belakangnya, ada sebuah jaket tergeletak di belakang kursinya. Spontan ia langsung memungut jaket itu.
'Onii-chan.'
Yukiteru langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menepuk kedua pipinya dengan kedua tangannya.
'Berubahlah. Kau yang lama terlalu lemah.'
Saat itu juga Yukiteru jadi terdiam. Lalu ia beranjak dari kursinya. Ntah apa yang dipikirkannya. Saat ini kakinya membimbing dirinya menuju pintu kamar kakaknya.
'Apa yang aku lakukan di sini?' Batin Yukiteru.
Helaan nafas keluar begitu saja dari mulutnya.
'Pasti onii-chan masih tidur. Tidak ada salahnya kan kalau aku melihat keadaannya sebentar?' Batin Yukiteru lagi seakan-akan terus berubah-ubah.
Entah mana karakter yang sebenarnya saat ini. Karakternya yang pendiam dan dingin atau yang bersemangat seperti dulu? Perubahan atau menjadi tetap yang seperti dulu? Dia sendiri masih labil untuk memilihnya.
Akhirnya Yukiteru memutuskan untuk membuka pintunya itu dengan perlahan. Ia melihat kakaknya itu tidur pulas di atas karpet tebal berbulu yang ada di depan TV yang ada di kamarnya. Bisa dilihat TV dan sebuah alat playstation yang masih menyala.
'Sejak kapan onii-chan jadi suka main game sampai ketiduran seperti ini?' Batin Yukiteru.
Dahinya langsung mengerut saat melihat kakaknya itu yang tidur meringkuk, tanpa bantal di bawah kepalanya dan selimut yang menyelimuti dirinya.
Saat itu Yukiteru langsung mematikan TV dan playstation yang ada. Ia juga menggulung kabel stick PS yang ada. Namun ia langsung terdiam. Ia mengambil sebuah tempat kaset game yang tergeletak di sana.
'Ini kan punyaku,' batin Yukiteru sambil melirik sekilas kakaknya yang masih tertidur pulas itu.
Gadis itu hanya menghela nafasnya dan kembali merapihkan semua barang yang tergeletak berantakan di atas karpet itu. Termasuk juga bungkus cemilan dan sebuah cangkir kosong yang ada di sana, ia letakkan di atas meja.
'Dia juga makan cemilanku dan minum coklat panas. Ada apa dengannya?'
Saat itu Yukiteru kembali bergerak mengambil bantal dan selimut dari atas tempat tidur. Lalu berjalan ke arah posisi di mana kakaknya itu tidur dan mengambil posisi duduk di samping kakaknya.
Beberapa saat Yukiteru hanya terdiam, menatap kakaknya. Spontan ia menjitak kepala laki-laki berambut hitam yang tengah tertidur pulas itu.
"Baka! Kau kena denda! Seenaknya saja mengambil gameku, makan cemilanku. Kau juga minum cokelat panas tanpa mengajakku. Kau curang," ucap Yukiteru dengan suara pelan, sambil tersenyum miris.
"Kalau Yu-chan seperti ini terus, aku jadi kesepian."
Saat itu juga kalimat tersebut terlintas di kepalanya. Memang semenjak ia dikeluarkan dari team, ia tidak berminat berbicara dengan kakaknya. Moodnya sudah terlalu jelek untuk dibandingkan dengan mood kakaknya yang seperti tidak ada beban dalam hidupnya.
Yukiteru hanya terdiam. Ia mengangkat kepala kakaknya dengan perlahan lalu menaruh sebuah bantal di bawah kepala kakaknya itu. Setelah itu ia menyelimuti kakaknya dengan sebuah selimut yang tadi ia sudah ambil juga.
"Gomene, onii-chan. Aku hanya bingung harus bagaimana. Teman-teman di sekolahku, team, Seijuro, semuanya sudah berubah. Sepertinya itu yang mendorongku untuk ikut berubah. Aku yang lama terlalu lemah. Aku tidak mau jadi diriku yang lama," ucap Yukiteru sambil menundukkan kepalanya.
Setelah beberapa saat, akhirnya Yukiteru memutuskan untuk berjalan keluar dari kamar kakaknya itu.
.
.
.
Keesokan paginya, seperti biasa Yukiteru berjalan menuju ruang makan dengan seragam yang sudah rapih.
"Ohayou," ucap Yukiteru dengan ekspresi dan nada datar sambil duduk di kursi meja makan.
"Ohayou, Yu-chan," sahut Shun sambil tersenyum.
Sarapan berjalan seperti biasanya. Yukiteru hanya terdiam, sibuk menyantap sarapan paginya itu.
"Aku sudah selesai. Terima kasih atas sarapannya. Aku berangkat," ucap Yukiteru dengan ekspresi dan nada suara yang sama, datar.
"Ah, aku juga sudah selesai. Aku berangkat," ucap Shun setelah melihat adiknya itu berjalan keluar dari ruang makan. Dengan susah payah ia menelan semua roti yang masih ada di mulutnya. Lalu ia berjalan cepat keluar ruang makan.
"Yu-chan," panggil Shun saat melihat adiknya itu masih jalan tidak jauh dari posisi ia berdiri sekarang.
Spontan Yukiteru langsung menghentikan langkah kakinya. Lalu menoleh ke arah kakaknya itu.
"Apa?" Sahut Yukiteru dengan datar.
"Kemarin malam pasti kau ke kamarku kan?" Tanya Shun sambil tersenyum tipis.
"Hah? Apa maksudmu?" Respon Yukiteru sambil mengerutkan dahinya.
"Sudahlah. Akui saja. Kau yang mematikan TV nya, lalu merapihkan semuanya. Kau juga memberiku bantal dan selimut kan?"
"Bukan aku. Mungkin saja itu tou-san atau kaa-san," ucap Yukiteru sambil membalikkan badannya.
"Aku sudah tanya pada mereka. Tapi mereka jawab itu bukan mereka. Lagipula siapa lagi yang berani masuk ke kamarku malam-malam, selain kau?" ucap Shun sambil berdiri di depan Yukiteru.
"Mungkin saja tou-san atau kaa-san berbohong. Mereka mungkin mau kau menganggap itu semua sebagai sihir," jawab Yukiteru sambil menggenggam erat tasnya.
"Yah, bisa saja. Tapi tou-san dan kaa-san sudah tidak memperlakukanku sebagai anak kecil lagi. Jadi tidak mungkin," kata Shun sambil menyentil dahi adiknya itu.
Yukiteru menghela nafasnya. "Sudahlah. Yang penting itu bukan aku."
Saat itu juga Yukiteru langsung kembali berjalan, meninggalkan kakaknya itu. Tanpa basa-basi lagi, Yukiteru langsung berangkat ke sekolah menggunakan sepeda tercintanya itu.
Sesampainya di sekolah, ia hanya berdiam diri di kelas. Di pojokan kelas lebih tepatnya.
"Izuki."
Yukiteru menyadari kalau ada seorang gadis sekelas dengannya yang berjalan mendekatinya. Yukiteru hanya merespon gadis itu dengan menatapnya.
"Ehmm nanti setelah pulang sekolah kita semua mau jalan-jalan. Bagaimana kalau kau ikut dengan kami?" Tanya gadis itu dengan suara lembut.
"Kau selalu mengajakku untuk pergi bersama kau dan teman-temanmu itu. Kenapa?" Ucap Yukiteru sambil mengangkat satu alisnya.
"Ah, itu. Kami hanya memang berniat untuk mengajakmu. Habisnya kau selalu sendiri," jawab gadis itu
"Aku akan merepotkan orang lain. Aku ini tidak dibutuhkan," ucap Yukiteru sambil beranjak dari kursinya lalu berjalan keluar dari kelas.
Sebenarnya Yukiteru berjalan keluar kelasnya hanya dengan tujuan melarikan diri dari gadis itu. Yah, sekarang ini dia tidak mau ambil pusing soal apapun.
Setelah beberapa saat kemudian, Yukiteru memutuskan untuk kembali ke dalam kelas, berhubung jam pelajaran akan segera dimulai. Saat ia sampai di depan pintu kelasnya, ia mendengar kalau namanya itu disebut-sebut. Spontan ia langsung terdiam dan penasaran untuk mendengarnya lebih lagi.
"Izuki memang sangat sulit diajak jalan. Yah, bisa dibilang dia ini semacam cewe es batu. Lama-lama aku semakin membencinya. Masih untung kita mau mengajaknya."
"Iya, tapi bagaimanapun juga kita harus terus mencoba untuk dekat dengannya. Dia ini bisa jadi orang yang sangat menguntungkan untuk kita. Coba saja kalau kita dekat dengannya, kita pasti bisa dekat juga dengan Akashi-sama. Dia ini termasuk anak dari perusahaan ternama kan? Pasti dia punya banyak fasilitas mewah, mungkin kalau kita sudah dekat dengannya, kita bisa memanfaatkan hal itu juga."
"Benar juga. Tapi itu terlihat seperti kita ini orang miskin. Aku tidak mau. Bagaimanapun juga aku ini orang yang memiliki status sosial yang sama dengannya."
"Tidak juga. Ini namanya berbagi antar-teman."
'Berbagi antar-teman? Omong kosong. Apa-apaan mereka ini? Tidak tahu diri. Bodoh. Aku mulai ragu kalau mereka ini benar-benar murid kelas khusus atau bukan. Untung saja, aku selalu menolak ajakan mereka. Di dunia ini memang tidak ada yang namanya teman dan kebersamaan.'
"Kenapa diam saja?"
Sontak Yukiteru langsung terkaget ria saat mendengar ada suara di sampingnya. Ia melihat ada seorang laki-laki berambut merah yang berdiri di sampingnya. Spontan ia langsung menarik nafasnya dalam-dalam.
"Gomenasai, aku akan segera masuk," ucap Yukiteru sambil langsung berjalan masuk ke dalam kelasnya.
'Bukan itu maksudku.'
.
.
.
Sepulang sekolah, Yukiteru langsung mengambil seribu langkah untuk bebas dari sekolahnya saat ini.
Brugh!
"Ah, gomen," respon Yukiteru saat ia merasa menabrak seseorang.
Ia melihat di depannya saat ini ada seorang laki-laki berambut biru.
"Tidak apa."
"Tetsuya?" Ucap Yukiteru dengan spontan. Untung saja ekspresi dan nada datarnya itu sudah dibiasakan di dalam dirinya, jadi sikap itu akan keluar dengan spontan dari Yukiteru.
"Oh, Yuki," jawab Kuroko.
Saat juga Yukiteru merasa ada yang berbeda dari Kuroko. Yah, mungkin ini karena efek mereka sudah tidak pernah bertatap muka lagi.
'Kau juga berubah, Tetsuya,' batin Yukiteru. Entah kenapa dia merasa sedikit kecewa bercampur dengan lega, karena keputusannya untuk berubah dianggapnya memang benar.
"Aku duluan," ucap Yukiteru sambil sedikit membungkukkan badannya lalu berjalan melewati Kuroko.
'Kenapa aku jadi bersikap formal dengannya?' Batin Yukiteru, seakan dia ingin menonjok dirinya sendiri.
Gadis itu terus berjalan dan pulang ke habitat aslinya, yah begitulah setidaknya anggapan darinya sendiri.
"Tadaima," ucap Yukiteru dengan suara datar saat ia memasuki rumahnya.
"Okaerinasai, ojou-sama," sahut seorang maid sambil berjalan menuju Yukiteru.
"Kasumi, seperti biasa. Tolong antarkan cemilan ke kamarku," ucap Yukiteru dengan datar sambil berjalan memasuki kamarnya.
"Wakarimashita," jawab maid itu.
Saat Yukiteru memasuki kamarnya, ia langsung melempar tasnya dengan asal dan merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. Beberapa saat ia terdiam. Lalu ia kembali berdiri setelah ia mendengar suara ketukan pintu. Spontan ia langsung membukakan pintu nya itu.
"Ini cemilannya, ojou-sama."
Dahi Yukiteru langsung mengerut.
"Onii-chan? Tumben sekali jam segini sudah pulang," ucap Yukiteru sambil mengambil nampan yang dibawa kakaknya. Lalu berjalan menuju meja belajarnya dan menaruh nampan yang berisi cemilannya itu di atas meja.
"Yah, hari ini aku izin tidak ikut latihan," jawab Shun sambil berjalan masuk dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"Ini bukan kamarmu," respon Yukiteru dengan datar saat melihat kakaknya itu berbaring di tempat tidurnya.
"Yu-chan, aku mau tidur di sini."
"Tidak. Kau sudah punya kamar sendiri," jawab Yukiteru dengan cepat sambil duduk di kursi meja belajarnya.
Shun terdiam beberapa saat. Lalu ia beranjak dari tempat tidur itu dan berjalan menuju Yukiteru.
Brugh!
"Onii-chan!" Respon Yukiteru dengan cepat saat merasa kakaknya itu memeluknya dari belakang.
"Kembalilah. Di mana Yukiteru yang kukenal? Aku tahu, mungkin kau sedang ada masalah. Kenapa kau sampai berubah?" Ucap Shun dengan suara sangat pelan.
'Tidak mungkin aku cerita pada onii-chan. Masalahnya akan rumit kalau onii-chan tau,' batin Yukiteru
"Kenapa kau tidak pernah cerita lagi masalahmu? Kau punya aku. Kau bisa mengandalkanku. Mungkin saja aku bisa membantumu untuk mengatasi masalahmu," lanjut Shun
'Aku bukan anak kecil lagi.'
Yukiteru hanya terdiam sampai ia menyadari sesuatu.
"Onii-chan, badanmu panas," ucap Yukiteru seperti mengalihkan topik.
Saat itu Yukiteru langsung berdiri dan menghadap ke arah kakaknya itu. Spontan ia langsung memegang dahi dan leher kakaknya.
'Bagus sekali. Aku baru sadar kalau sekarang dia sedang sakit,' batin Yukiteru.
"Onii-chan berbaringlah," ucap Yukiteru sambil membimbing kakaknya itu untuk kembali berbaring. Ia mengambil tas kakaknya itu yang sebenarnya sampai sekarang masih digendong kakaknya. Lalu meletakkannya di bawah samping tempat tidurnya.
Yukiteru terdiam beberapa saat, melihat kakaknya yang terbaring itu. Wajahnya pucat, bulir-bulir keringat terlihat jelas membanjiri wajah dan lehernya.
"Tunggu sebentar."
Yukiteru langsung berjalan keluar kamarnya. Shun hanya terdiam melihat adiknya itu.
Beberapa saat kemudian, Yukiteru kembali masuk ke kamarnya dengan membawa mangkuk plastik ukuran besar dengan berisi air dingin dan kain, kompresan, serta baju ganti.
"Onii-chan?" Panggil Yukiteru dengan suara pelan saat melihat kakaknya itu tertidur.
Dengan perlahan Shun membuka matanya. Saat itu juga ia merasa sesuatu yang dingin tertempel di dahinya.
"Tumben sekali onii-chan sakit," ucap Yukiteru sambil mengelap wajah dan leher kakaknya itu.
"Yah, semua orang bisa sakit," jawab Shun sambil tersenyum miris.
"Ah!"
Saat itu juga laki-laki berambut hitam itu terkaget.
"Yu-chan, sedang apa kau?!"
Saat itu Yukiteru terdiam dan menatap datar kakaknya itu.
"Membuka seragam onii-chan."
"HEH?!"
"Tenang saja, aku hanya mengganti atasannya. Baju onii-chan basah kena keringat. Kalau terus dipakai nanti jadi masuk angin," ucap Yukiteru dengan datar.
Shun terdiam beberapa saat. Lalu ia mengambil posisi duduk.
"Tidak apa. Aku bisa sendiri," ucap Shun sambil tersenyum tipis pada adiknya itu.
"Kalau begitu ganti juga sekalian sama celananya. Ini bajunya," jawab Yukiteru sambil menyerahkan baju kakaknya itu.
"Sejak kapan kau berani membuka lemari laki-laki?" Tanya Shun sambil menyeringai.
"Ini tidak akan kulakukan kalau onii-chan tidak sakit," jawab Yukiteru setelah ia menghela nafas.
Shun hanya meresponnya dengan tawa pelan.
"Kalau sudah selesai ganti baju, bilang."
Saat itu Yukiteru langsung berjalan keluar dari kamarnya dan menutup rapat pintunya.
Setelah beberapa saat Yukiteru menunggu di luar kamarnya. Akhirnya ia mendengar suara kakaknya yang mengatakan kalau dia bisa kembali masuk ke dalam kamarnya. Spontan ia langsung masuk ke dalam kamar.
"Yu-chan?" Panggil Shun dengan suara pelan saat ia melihat adiknya itu duddk di tepi ranjang sebelahnya.
"Apa?"
"Aku penasaran, kenapa Yu-chan berubah?" Tanya Shun sambil menggenggam tangan adiknya itu.
"Bukan urusanmu."
Shun terdiam beberapa saat. "Sudah kuduga, kau yang sekarang pasti akan menjawab seperti itu."
"Istirahatlah. Aku akan tidur di kamar onii-chan," jawab Yukiteru sambil kembali beranjak dari tempat tidurnya.
"Tunggu sebentar." Shun langsung mengeratkan genggamannya itu pada tangan adiknya.
"Apa?"
"Aku punya satu permintaan. Kau mau mengabulkannya?" Tanya Shun.
"Tumben sekali. Tapi kalau onii-chan memintaku untuk berubah ke diriku yang lama, aku akan menolaknya," jawab Yukiteru sambil menoleh sekilas ke arah kakaknya
"Tidak. Aku tidak akan memaksakanmu untuk hal itu."
"Lalu apa?" Tanya Yukiteru sambil mengangkat satu alisnya.
"Ah... itu..."
TO BE CONTINUED
Yay. Chapter 6 udah keluar. Walaupun makin gaje dan nggak nyambung. Entah kenapa author merasanya ini makin drama dan OC nya makin dilebih-lebihkan /dihajar readers. Gomen kalau nggak update kilat. Berhubung paket data abis. Ini juga ngepost nya pake wipi orang(?) /ini kenapa jadi curcol.
Gomen kalau izuki shun nya itu sangat amat OOC. Emang ini authornya nggak pinter nulis /pundung.
Saran dan kritik sangat diterima author 'v')b
Sampai jumpa di chapter selanjutnya :3
Reply review:
Guest : arigatou TvT tapi kayanya bakal terphp ini gara2 akashi sama yuki nya author pisahin lagi :v /diserang akashi ama yuki.
Guest : ini sudah lanjut yaaaaay. Arigatou mau terus baca sampai sini TvT
bubletea : ini dia lanjutannya. Semoga masih berkenan di hati ceritanya :"3
