Psychotic Love
Chapter 6: Trust Me Now.
Malam itu, Oliver sedang berjalan pulang ke rumahnya, bersama Len yang mengikuti dibelakangnya. Oliver takut. Untuk membuat Len percaya, Oliver harus membawa dia ke rumahnya. Apa yang akan ia lakukan pada Oliver? Apa Len akan membunuhnya juga? Seperti SeeU, Yuki, dan juga para personil vocaloid? Oliver percaya Len tak akan membunuhnya, kalau ia bukan seorang psikopat.
"Olive.. Sebaiknya nanti, kau tidak teriak minta tolong pada orang lain.. kalau kau tak mau mulutmu robek.. hehehe..!"
Oliver menelan salivanya. Ia semakin takut. Sepertinya Len akan membunuhnya.
Tak lama kemudian, mereka sampai dirumah Oliver. Mereka masuk kedalam, Oliver kembali mengunci pintu rumahnya. Kedua lelaki itu naik ke lantai dua, dan masuk ke dalam kamar Oliver. Oliver masuk duluan dan Len mengikutinya dibelakang.
"Aku sudah membawamu kemari. Apa kau percaya kalau aku tidak akan memberi tau siapa pun kalau kau seorang Psikopat?"
Sekali lagi, Len tersenyum mengerikan. Ia menutup pintu kamar Oliver, dan mengunci pintunya. Tiba-tiba, Len memeluk Oliver erat-erat dari belakang.
"Aku.. Akan mempercayaimu.. setelah aku 'mencicipimu'~.." Len bicara dengan nada menggoda.
"But..! Bukankah aku sudah membawamu kemari? Kenapa kau malah minta yang lain?" Oliver terlihat resah.
"Ooh.. jadi kamu tidak mau?.. baiklah.. Aku tau kok, cara membuat supaya Oliver mau aku cicipi..."
"Bukan tidak mau. Aku hanya belum siap untuk berhubu... Uaaahh!..." Perkataan Oliver terpotong karena Len menggigit telinga kirinya, yang membuat wajahnya memerah. Lalu, Len mendorong tubuh Oliver ke tempat tidur.
"L-Len.. Aku tak yakin aku siap.." Oliver mukanya masih memerah.
"Kamu ingin aku percaya kan?.. Kalau begitu, percayalah padaku. Kau akan menikmatinya, jika tetap tenang." kata Len dengan suara lembut.
Sekali lagi, Len mencium bibir Oliver.
"Mmmh..!" Ia terus melumat bibir merah muda Oliver tanpa ampun. Lalu, ia menjilat bibir Oliver, meminta jalan untuk masuk. Namun Oliver tak juga membuka mulutnya. Len mencubit pinggang Oliver.
"Ah!..- Mmmmhh..!"
Len menjilati gigi-gigi Oliver, dan mulai bermain dengan lidah Oliver, sekali lagi saliva mereka tercampur menjadi satu. Oliver hanya bisa meremas lengan baju Len karena ia mulai kehabisan nafas. Len mengeluarkan lidahnya, dan kembali menghisap bibir Oliver kuat-kuat, sampai akhirnya ia menggigit bibir Oliver. Kini bibir lelaki itu membengkak karena ulah Len.
Puas bermain dengan bibir, Len membuka semua kancing kemeja Oliver, hingga dadanya terlihat. Ia pun memeluk Oliver dengan wajahnya yang menghadap ke leher Oliver.
"L-Len.. Aku.."
"..Tenanglah.."
Len mengelus Leher sampai ke bahu Oliver, yang membuat Oliver merinding seketika. Len mulai mengecup leher kekasihnya, dan mulai menjilatinya. Sesekali ia menghisapnya sampai meninggalkan banyak kissmarks.
"Nnnngghh...Len..."
Len menelusuri leher Oliver dengan lidahnya, beruasaha menemukan titik lemahnya.
"Nnnggaaahh.. Stoop!.."
Setelah menemukannya, ia terus mencumbui titik lemahnya itu. Mulai dari menciumnya, menghisapnya, sampai menggigitnya. Tangannya yang menganggur turun memainkan bintik merah muda didada Oliver.
"Nnnngghh... Aaahh... Stop.. Ahhnn.."
Kini Oliver hanya bisa mendesah. Ia kehilangan semua tenaganya karena Len berhasil melumpuhkannya.
"Aww.. Jangan tunjukkan wajah menggemaskanmu itu Olive..! Nanti aku bisa memakanmu!"
Len mulai menggiti bahu Oliver dengan keras. Bahkan sampai bahunya berdarah.
"Ow.. Len.. It's hurt!... Ah! Stop!" Oliver sudah sangat basah saat ini.
Bosan dengan leher dan bahu, ia turun lebih bawah, dan mulai menjilat bintik merah muda di dada Oliver.
"Ngh.. Len!.. Geli..! Nghh.."
Len menggigiti dan menghisap bintik merah muda tersebut kuat-kuat, yang membuat desahan Oliver semakin menjadi-jadi.
"Nnngghhhh... Stooop!..."
ia melepas kemeja Oliver, dan mulai membaringkan Oliver ditempat tidurnya. Kini, Oliver terlihat sangat kelelahan. Mereka saling bertatapan.
"Len.. Please.. Stop..." Ia terengah-engah.
"Kita baru memulainya, manis.. Tetap tenang dan nikmati saja.."
Len mencengkram bahu Oliver. Kuku-kukunya yang panjang dan tajam, membuat bahu Oliver terluka kedua kalinya.
"Benda ini sangat mengganggu!" Len melepas celana Oliver. Dan tentu saja sesuatunya terlihat sangat jelas.
"Len! Jangan!" Oliver merapatkan kedua pahanya karena malu.
Len Melepas semua pakaian yang ia kenakan, sehingga mereka sama-sama naked!
"Nah, kalau aku juga telanjang, kau tak akan malu 'kan? Kita ini sama-sama laki-laki! tak perlu malu!"
Oliver hanya pasrah. Lalu Len merenggangkan kedua kaki Oliver yang merapat. Len mendekatkan kepalanya ke antara dua kaki Oliver, dan ia mulai menghisapnya kuat-kuat.
"Ah! Nnngghh.. Jangan!... Nnngghh..."
Len tak menghiraukan Oliver. Ia malah semakin gencar menggigiti benda itu.
"Len! Aku akan keluaar!"
Oliver mengeluarkan cairan putihnya, dan Len menjilatinya sampai bersih.
"Rasamu enak sekali!.. kuharap aku bisa mencicipimu setiap hari!" Len tersenyum puas. Sedangkan Oliver hanya berusaha mengatur nafasnya.
Len mengangkat pinggul Oliver, dan memasukkan ketiga jarinya sekaligus kedalam lubangnya.
"Uaahh!.. Len! It's Hurt!.." Oliver sangat kesakitan. Ia merasa lubangnya berdarah saat ini.
Len memasukkan jarinya lebih dalam lagi, yang membuat Oliver semakin kesakitan. Tangannya menggenggam sprei kasurnya erat-erat karena menahan sakit.
Len mengeluarkan ketiga jarinya. Ia merasa Oliver sudah siap, jadi ia memasukkan semua miliknya ke lubang Oliver.
"Ahh! Oww..!" Oliver sudah tak bisa menahan rasa sakit yang hebat. Terlihat air mata membasahi pipinya.
"Nnngghh.. Kau sempit sekali...! Sepertinya.. akulah orang pertama yang mencicipimu ya..! Aku akan bergerak sekarang!.."
Len mulai menggerakkan pinggangnya. Dan Oliver kembali mendesah.
"Nnngghh... nnngghh... Leeennhh!.."
kali ini desahan Oliver terkesan menikmati. Hal ini membuat Len semakin cepat menggerakkan tubuhnya. Kedua lelaki itu sudah kuyup dengan keringat.
"..Fasteerrhh... Nnngghh..." reflek Oliver mengeluarkan desahan itu.
Semakin lama, gerakan Len semakin cepat. Ia bahkan menyerang Oliver lebih dalam lagi, sehingga Oliver sudah mencapai Klimaks.
"Len!.. Aku akan keluar Lagiii!..."
"Sabarlaah..!"
"...Sudaaaahhh!... Aku sudah tak tahaan!.."
Pada akhirnya, cairan putih mereka keluar bersamaan. Oliver sudah sangat-sangat lelah saat ini. Nafasnya terengah-engah tak beraturan.
"...Sekarang.. Kau percaya?.." Oliver masih terengah-engah.
"Tentu.. Aku mencintaimu.."
"Aku juga mencintaimu.."
"Meski aku ini seorang pembunuh?.."
"Aku mencintaimu apa adanya. Aku percaya kau tak akan pernah menyakitiku apalagi membunuhku..."
Len tersenyum. Ia kembali mencium bibir kekasihnya yang masih terlihat membengkak itu. Oliver segera membalas kembali ciuman Len.
Oliver dan Len beranjak dari tempat tidur. Len mengenakan kembali pakaiannya, sedangkan Oliver mengambil handuk, dan baju ganti miliknya.
"Aku mau mandi dulu. Tunggulah disini." kata Oliver.
"Baiklah. Cepat kembali. Aku tak sabar ingin segera tidur denganmu."
Oliver tersenyum, dan segera pergi ke kamar mandi. Ia berusaha membersihkan kissmark yang ada dilehernya. Namun tanda merah itu sangat sulit dibersihkan. Oliver pun membiarkannya, dan segera berendam dibak mandi untuk membersihkan busa dibadan dan dirambutnya. Setelah selesai, ia pun segera mengenakan pakaiannya.
Saat Oliver keluar dari kamar mandi, tiba-tiba ada panggilan masuk di hp nya
"Hello? This is Oliver."
"Oliver? Ini Miku. Kita harus bicara!" Ternyata Miku. Ada apa ya?
"Bicaralah. Aku mendengarkanmu."
"Aku punya rencana untuk membunuh Len."
"Apa?! Kau tak boleh melakukan itu! Apa tak ada cara lain?!"
"Oliver! Berapa kali harus kukatakan?! Dia itu sudah tidak waras lagi! Kita akan mati jika kita membiarkannya tetap hidup!"
Oliver terdiam. Ia ingin sekali menggagalkan rencana Miku untuk membunuh Len. Bagaimana pun caranya. Untuk itu, ia harus mengetahui rencananya dulu, sebelum menggagalkannya.
"Baik. Apa rencany-..."
BAKKK!
Tanpa diduga, tiba-tiba Len memukul kepala belakang Oliver dengan ujung kayu kapaknya. Seketika Oliver jatuh pingsan tak sadarkan diri. Tubuhnya tergeletak dilantai.
Len mengambil Hp milik Oliver, dan mendengarkan semua rencana Miku untuk membunuh dirinya. Senyuman jahat terpasang diwajahnya. Ia segera menutup telepon dari Miku, dan beranjak pergi meninggalkan Oliver. Ia mulai tertawa-tawa tanpa sebab.
"HEHEHE! DIBALIK WAJAH BAYI-MU... KAU TERNYATA SEORANG PEMBOHONG! MENARIK SEKALI! AKU JADI SEMAKIN MENCINTAIMU! YANG BENAR SAJA! HAHAHAHAHAHAHA!"
⭐To Be Continue⭐
A/B: Da-Tadaaaaa! Maaf Author telat Update lagi! Sibuk dengan keseharian nih! *Piiiiss* :3! Untuk Chapter ini, tak ada adegan 'senggol bacok' lagi, karena ini merupakan chapter Cooling Down Story. Hmmm.. Atau Cooling Eye Story? *sPlaakk*
Udah ah! jadi tambah ngaret nih! Keep Reading, and Review Please! :*
