PROTOTYPE OF THE EMPEROR

Original character : Akashi Seijuurou and Kise Ryouta by Fujimaki Tadatoshi

Akihiko Takao, Kado Masaru, Yuuki, and Kimiko Miyuki by Kohikaru (Evilyoung)

Original story by Kohikaru (Evilyoung)


Si pemuda bersurai crimson itu memeriksa baju para pelayan yang masih terkapar di atas lantai kayu. Sedangkan si pemuda bersurai kuning itu membenarkan posisi para pelayan tersebut –berbaring. Ketika si pemuda crimson memeriksa lengan baju salah satu pelayan, terlihat ada sobekan kecil di sana.

"Ryouta, coba periksa ruangan ini. Apakah ada benang atau tidak?" perintah Seijuurou.

"Hai." Sahut Ryouta. Pemuda itu pun langsung memerhatikan seisi ruangan tersebut dengan teliti. Sesekali dia membuka lemari kecil yang ada di ruangan itu atau membongkar isi ranjang buah dan sayuran. Dia tampak begitu serius.

Kenapa ada sobekan di pakaian mereka? Batin Seijuurou yang masih memeriksa para pelayan. Jika diperhatikan dengan baik, ini seperti bekas benang, iie, mungkin lebih tepat kalau dibilang ini bekas kawat tipis yang lentur.

Seijuurou bangkit dari duduknya. Dia melihat ke langit-langit dapur. Disipitkannya kedua matanya. Terlihat ada sebuah benda tipis yang mengkilap karena terkena sinar matahari dari luar jendela dapur yang terbuka. Benda itu bergerak mengikuti arah angin yang berhembus. Seijuurou pun membelalakkan matanya ketika dia mendapati nattou-kazou terikat oleh benda itu dan tak sadarkan diri.

Seijuurou celingak-celinguk. Dia memperhatikan Ryouta, tampaknya Ryouta tak sadar kalau ada nattou-kazou di atas sana. Sebenarnya, Seijuurou ingin mengambil youkai tersebut dengan kekuatannya sendiri. Tapi karena tubuhnya yang tak setinggi Ryouta, akhirnya dia menyuruh Ryouta untuk mengambilnya.

"Nattou! Bau sekali!" racau Ryouta ketika memotong benda mengkilap yang ternyata adalah sebuah benang dengan pisau dapur. Setelah itu, Ryouta meletakkan youkai itu di lantai kayu. Lalu…

"Ryouta, apa yang kau lakukan di sana?" Tanya Seijuurou dengan tenang sambil menoleh pada pemuda bersurai kuning yang berjongkok di pojok ruangan.

"Hahaha… Ken-sama… Kau tahu… aku tidak suka bau nattou!" seru Ryouta yang menangis karena bau si youkai yang baru saja dia selamatkan.

Seijuurou duduk di hadapan nattou-kazou yang masih tak sadarkan diri. Namun tak lama kemudian, youkai tersebut bangun.

"Ohayou.." sapa Seijuurou datar.

"A-apa yang kamu lakukan di sini nin'gen? Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Hime-sama! Hyaaa!" tiba-tiba saja nattou-kazou melompat ke arah Seijuurou dengan posisi meninju. Tapi, Seijuurou menghindari serangan tersebut dengan mata tertutup.

"Cih. Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya nattou-kazou setelah mendarat di lantai kayu.

"Aku hanya ingin bertanya. Apa kau melihat youkai lain di sini?" Tanya Seijuurou balik.

Nattou-kazou melipat kedua tangannya di dada, "Untuk apa aku memberitahumu?"

"Ini untuk Ouhime-sama." Tegas Seijuurou sambil melirik ke nattou-kazou.

.

.

"Apa kalian sudah menemukan Ouhime-sama?"

"Gadis itu pergi bersama dua orang manusia, Yamato-sama." Jawab gozumaru. Dia berjalan di belakang seorang pemuda.

"Dare?" tanya Yamato.

"Pemuda bersurai crimson dan kuning." Sahut Mezumaru.

Yamato menghentikan langkahnya mendadak. Hal itu membuat kedua youkai yang berjalan di belakangnya ikut berhenti. Keduanya menatap tuannya bingung.

"Yamato-sama, doushita no?" tanya gozumaru. Namun Yamato hanya diam. Akhirnya, gozumaru dan mezumaru pun saling bertatapan dan mengangkat bahu.

Lalu, Yamato berjalan mendekati sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Ruangan tersebut tercium bau darah. Cahaya dari luar ruangan yang menerangi ruangan tersebut memperlihatkan darah di mana-mana dan tampaknya tempat tersebut baru saja diobrak-abrik.

"Ini… bukankah Shuu-san bertarung di sini bersama pemuda bersurahi birung keunguan?" gozumaru memerhatikan sekelilingnya.

"Yamato-sama! Lihat! Ada seseorang di sana!" seru mezumaru sembari menunjuk ke sosok yang berada di sudut ruangan.

"Siapa di sana?" tanya gozumaru pada sosok tersebut. Sosok itu tak menggubris pertanyaan gozumaru.

"Apa kau yang menyuruh banken ini untuk membunuh Kimiko Miyuki?" tanya sosok tersebut yang melangkah mendekati mereka bertiga. Dari hanya menatapnya saja, gozumaru dan mezumaru sudah merasa ketakutan dan siap-siap melindungi tuannya.

"Aku memang menyuruhnya untuk membunuh Ouhime-sama. Tapi, aku memutuskan untuk membawa Ouhime-sama pergi bersamaku." Jelas Yamato, "Apa yang kau inginkan?"

"Hee… membawa Miyuki? Yang benar saja. Apa kau mengigau?" sosok itu berhenti ketika cahaya dari luar ruangan mengenai bagian bawah tubuhnya hingga bibirnya. Terlihat dia memakai topeng rubah.

"Jangan bicara sembarangan pada Yamato-sama!" gerutu mezumaru.

"Oh, gomen, aku lancang pada tuanmu." Ucap sosok itu. Seletah mengatakan hal itu, muncul pemuda lain yang memakai masker berdiri di belakangnya. Sosok itu membuka maskernya dan terlihatlah seringainya, "Demo, hontou ni gomennasai Yamato-Ousama, jika ingin membawa Miyuki pergi, kau sudah terlambat datang kemari. Dia sudah pergi lebih dahulu bersama dua orang penjaganya."

"K-Kau…." Yamato membulatkan kedua matanya kaget.

Angin berhembus cukup kencang, menerpa mereka yang memiliki ketegangan yang luar biasa. Rambut berwarna crimson itu melambai-lambai.

"Lagi pula, aku tak akan membiarkanmu membawanya, Yamato!" Seijuurou memelototi Yamato. Setelah itu, Seijuurou dan Akihiko yang berdiri di belakangnya pun menghilang bersamaan dengan berhentinya angin berhembus di tempat itu.

"Cih, bagaimana dia bisa ada di sini?"

Yamato membalikkan tubuhnya dan pergi bersama kedua youkainya. Tak lama, beberapa petugas memeriksa ruangan tersebut. Mereka terkejut dengan pemandangan yang mengerikan itu.

Malam hari – setelah pemakaman Makoto, Miyuki kembali menghilang dari kerajaan. Begitu pula dengan Kado serta Suuhai. Ousama yang baru saja kehilangan salah satu prajurit terbaik Kerajaan Meiyo harus menahan kesedihannya setelah mendengar Miyuki tidak ditemukan. Sampai satu bulan pun, keberadaan mereka belum ditemukan.

Di dalam hutan bagian selatan Kerajaan Meiyo

Seorang gadis besurai hitam panjang berjalan menyusuri pepohonan yang rindang. Gadis itu memakai pakaian gadis China, walaupun bukan baju terusan. Kulitnya yang putih susu tampak menggoda laki-laki yang melihatnya, apalagi tubuh gadis itu bisa dikatakan ideal. Tas kain yang dibawanya terus dipeluk olehnya.

Tak lama, gadis dengan manik mata berwarna cokelat itu menghentikan langkahnya ketika dia melihat pintu masuk kota Kerajaan Meiyo. Dia menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Seakan menguatkan niatnya, dia tersenyum. Lalu, dia kembali berjalan.

Gadis itu memasuki pasar. Dia tampak kagum namun kebingungan dengan apa yang dilihat olehnya. Dan di saat seperti itu, ada 3 orang pemuda yang mengambil kesempatan untuk menggodanya.

"Konnichiwa, sedang apa di sini sendirian, nona?" tanya pemuda berambut ikal dengan senyumnya yang terlihat ramah walaupun sebenarnya tidak demikian.

"Apa ada yang bisa kami bantu?" tambah pemuda bersurai hitam panjang yang dikuncir kuda.

"A-ano… aku sedang mencari seseorang." Jawab gadis itu pelan.

"Hoo… kami ahli dalam mencari orang, lho! Kami bisa membantumu, nona!" sahut pemuda berkepala klimis.

"Ho-hontou ni?" tanya gadis itu dengan wajah yang terlihat gembira, "Bi-bisakah kalian membantuku mencarinya?"

Ketiga pemuda itu menyeringai, "Tentu saja, nona."

Pemuda berambut ikal merangkul pundak gadis itu dan membawanya menuju sebuah bar sambil terus mengajak gadis itu untuk berbicara. Begitu pula dengan kedua pemuda lainnya. Si kuncir kuda merangkul pinggul gadis itu. Sedangkan si kepala klimis sesekali melakukan hal bodoh agar bisa menyentuh kaki putih si gadis.

Tiba-tiba saja, si kepala klimis mengaduh, membuat ketiga orang di depannya menghentikan langkah mereka dan melihatnya.

"Hey, kau kenapa?" tanya si kuncir kuda.

Si kepala klimis mengambil sebuah batu berukuran cukup besar untuk digenggam dari tanah sambil mengusap kepalanya.

"Oh, sumimasen, tanganku tergelincir." Ucap datar seseorang dari arah samping bar.

"Teme! Kau pikir aku ini apa, bakayaro?" kesal si kepala klimis.

"Kau mengajak kami bertarung, huh?" Sahut si kuncir kuda yang segera berdiri di samping kepala klimis.

"Maju kau!" tambah si rambut ikal.

Orang dengan rambut pedek yang berdiri di hadapan ketiga pemuda itu hanya terkekeh. Namun, lama-kelamaan dia tertawa geli. Hal itu membuat ketiga pemuda itu semakin kesal. Mereka sudah siap-siap untuk melemparkan tinju mereka pada orang itu.

Belum melangkah, niat mereka telah dikunci dengan kedatangan dua orang pemuda lain yang mengeluarkan katana mereka dan mengarahkan ke leher ketiga pemuda itu. Benda tajam itu dapat membekukan ketiganya.

"Jika kalian menyentuhnya…" pemuda berambut hitam dengan uchigatana-nya yang hampir menggores kulit leher ketiga pemuda di hadapannya.

"Ataupun menyentuh gadis itu…" pemuda berambut putih dengan katana yang sudah menyentuh yukata ketiga pemuda itu .

"Aku akan membunuhmu!" ancam keduanya bersamaan dengan mata yang tajam. Ketiga pemuda itu pun gemetaran. Dengan takut, mereka lari tergesa-gesa.

"Kalian lama." Ujar seseorang yang baru saja menyelesaikan tawanya dan mengusap kedua matanya yang berair.

Kedua pemuda yang diajaknya berbicara segera memasukkan pedang mereka ke dalam sarung pedang mereka masing-masing.

"Bukan kami yang lama. Kau yang pergi seenaknya!" gerutu pemuda bersurai hitam sambil menoleh ke orang itu.

"Aku sudah beritahu kalian. Tapi kalian tidak menggubrisku. Ya sudah, aku langsung saja pergi." Jelas orang itu.

Gadis bersurai cokelat panjang itu terdiam. Pandangannya tertuju pada pemuda bersurai putih yang sedang memerhatikan kedua orang lainnya yang sedang beradu mulut. Tanpa gadis itu sadari, dia berjalan mendekati pemuda itu. Si pemuda bersurai putih itu pun menoleh padanya.

"Masaru-sama…" panggil gadis itu lembut.

Pemuda bersurai putih itu terdiam sesaat, "Tomoe?"

Gadis yang dipanggil Tomoe itu langsung memasang wajah bahagianya, "Masaru-sama! Yokatta! Akhirnya aku menemukanmu!" tiba-tiba saja gadis itu memeluk erat pemuda di hadapannya.

Sedangkan kedua orang lainnya memasang wajah bingung. Dan…

.

.

.

"Heeeee?! Nande?" protes Tomoe yang menampilkan ekspresi merajuknya.

"Karena aku punya tugas penting yang tak bisa aku tinggalkan." Jelas Kado.

Saat ini, mereka berdua bersama kedua orang lainnya sedang berada di kedai minuman. Masaru menutup kedua matanya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Tomoe yang duduk di sampingnya masih menuntut Kado yang menolak kembali ke kediaman keluarga Kado.

"Demo, Masaru-sama harus kembali ke rumah! Jika tidak para tetua akan marah!" seru Tomoe.

"Bukankah masih ada anggota keluarga Kado selain aku yang tidak ada di rumah? Kenapa kamu begitu memaksaku?"

"Karena Masaru-sama lah satu-satunya anggota keluarga Kado yang terakhir! Para tetua sangat ingin membuat Masaru-sama menjadi kepala keluarga Kado yang baru!"

"Pfftt!" terdengar suara kedua orang yang duduk di seberang Kado dan Tomoe. Mereka tampaknya sedang menahan tawa.

"Apa ada yang lucu, Suuhai? Shikon?" tanya Kado dengan tatapan yang mengintimidasi.

Keduanya pun menggeleng.

"Shikon, habiskan minumanmu!" perintah Kado.

Orang dengan rambut pendek hampir menyentuh bahu itu mengiyakan perintah Kado. Sedangkan orang bersurai hitam di sampingnya hanya mendehem. Kado menoleh pada Tomoe dan menatap gadis berambut hitam panjang itu.

"Tomoe." Panggil Kado dengan nada rendah.

"H-hai, Masaru-sama!" sahut Tomoe gugup.

"Kembalilah ke rumah. Ada banyak orang jahat yang berkeliaran di sini." Ujar Kado.

Tomoe terkejut. Ekspresinya pun berubah. Dia tampak kecewa dan sedih. Shikon yang melihat hal tersebut langsung memelototi Kado. Si pemuda bersurai putih itu hanya terdiam. Lama-kelamaan dia pun merasa risih dengan tatapan Shikon. Selain itu, Suuhai bergumam 'makhluk jahat. Kado makhluk yang jahat pada seorang gadis. Kami-sama, kutuklah dia menjadi hewan melata."

"Argh! Urusai!" kesal Kado sambil melirik pada Suuhai dan Shikon. Lalu, dia kembali menatap kedua mata Tomoe, "ne Tomoe, kau boleh ikut dengan kami. Asalkan kau tak berbuat masalah!"

Tomoe mengedipkan matanya. senyum manisnya pun mengembang di wajahnya. Kado memegang kedua pipi Tomoe dan mendekatkan wajahnya pada gadis tersebut.

"Berjanjilah padaku, jangan jauh-jauh dariku jika kamu tidak ingin tersesat. Kalau ada apa-apa, katakana langsung padaku. Mengerti?" ucap Kado dengan wajah seriusnya.

Wajah Tomoe pun merah padam. Dia membeku sesaat. Namun, tanpa sadar…

"Masaru-sama no baka!" seru Tomoe sambil memalingkan wajahnya, "A-aku ke kamar kecil dulu!"

Tomoe berjalan menuju kamar kecil yang ada di kedai minuman tersebut. Kado yang ditinggal pergi oleh gadis tersebut hanya menatap punggung gadis itu heran sampai dia tak terlihat lagi. Suuhai terkekeh dan Shikon melanjutkan meminum minumannya.

"Ada apa dengannya?" gumam Kado yang masih kebingungan. Salah satu alisnya terangkat.

Terdengar suara cangkir yang bertemu dengan meja, "Dasar pemuda yang tidak peka." Sindir Shikon.

"Huh?" Kado pun langsung menoleh pada Shikon. Hal tersebut semakin membuat Suuhai tertawa.

"Ne.." ucap Shikon yang membuat kedua pemuda lainnya terdiam dan memandangnya, "selanjutnya kita akan kemana?"

"Yang pasti, kita harus pergi ke dari tempat ini sejauh mungkin sembari mencari obat untuk Miyuki-Hime-sama." Sahut Suuhai sambil melipat kedua tangannya di dada. Kado mengangguk, menunjukkan bahwa dia setuju dengan jawaban Suuhai.

"Tapi, dimana kita dapat menemukan obatnya?" tanya Shikon dengan kening yang mengerut.

"Aku dengar, tanaman 'oborosou' tumbuh di sekitar 'Kindan no Mori'. Sayangnya, mereka hanya muncul dua minggu dalam setengah tahun. Setahuku, ini adalah minggu pertama oborosou mekar." Jelas Kado.

"'Kindan no Mori' berada di bagian timur laut Kerajaan Renkon. Di sana penjagaannya tidak ketat. Namun, akhir-akhir ini aku mendapat kabar bahwa banyak peserta yang mengikuti pertarungan gelar Kaisar menyerang kerajaan tersebut untuk mengalahkan Yamato-Ousama. Karena prajurit Kerajaan Renkon sangat banyak dan sangat ahli dalam berpedang, semua penantang langsung kalah telak." Sambung Suuhai.

"Aku tidak tahu apa yang membuat mereka begitu menginginkan gelar tersebut. Padahal gelar itu di dapat dari membunuh. Bukankah itu sama saja seperti penjahat?" celetuk Shikon.

TUK!

Kado mengetuk puncak kepala Shikon. Anak dengan rambut pendek itu hanya mengaduh.

"Berhentilah berbicara yang tidak-tidak, anak kecil. Di zaman ini sudah wajah membunuh musuh untuk mendapat kekuasaan. Bahkan di masa depan pun akan terjadi hal seperti itu." Kata Kado.

"Kembali ke topik pembicaraan. Kita masih memiliki waktu 10 hari sebelum tanaman oborosou mati. Jarak dari sini ke Kinban no Mori memakan waktu empat hari. Kita bisa membawa tanaman tersebut ke sini dengan waktu empat hari pula. Jadi, kita memiliki waktu dua hari untuk menunggu Miyuki-Hime-sama pulih." Kata Suuhai dengan tegas.

"Kalau begitu, kita berangkat nanti malam. Aku akan mengambil tiga ekor kuda dulu. Kalian tunggulah di pintu masuk Kerajaan Meiyo bagian utara. Aku segera menyusul kalian." Shikon bangkit dari duduknya. Lalu, dia berjalan keluar dengan tergesa-gesa. Kado ingin mengikutinya. Tapi, Suuhai menghentikan pemuda bersurai putih itu dan berkata, "Dengarkan omongannya. Lagi pula, kita harus menunggu Tomoe keluar dari kamar kecil." Setelah itu, Kado pun mengurungkan niatnya dan kembali duduk manis.

"Dia itu bukan anak kecil lagi, Kado. Kita harus mulai mempercayainya." Ucap Suuhai.

"Tanpa kau bilang pun aku selalu mempercayainya." Sahut Kado, "Hanya saja, perasaanku tidak enak."

Shikon berjalan di tengah keramaian pasar. Wajah serta langkahnya tampak begitu tenang. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang mengenakan jubah cokelat menabraknya.

"Sumimasen." Ucap orang tersebut. Wajahnya tidak begitu terlihat karena tertutup kupluk dari jubahnya.

"Ah iie, gomennasai." Jawab Shikon yang setelah itu melanjutkan perjalanannya. Tatapannya lurus ke depan. Ketika dia membalikkan tubuhnya, terlihat beberapa orang pria mengikutinya. Dia menyeringai pada mereka.

"Hee… ketahuan ya?" gumamnya. Orang-orang berjubah dengan topi rotan memandanginya. Dengan cepat Shikon berlari melewati ruang sempit antara dua toko yang hampir di penuhi oleh kantung sampah.

"Kejar dia!" perintah orang berjubah dengan topi rotan yang di pegang olehnya pada orag-orang berjubah lainnya. Yang diperintah pun melaksanakannya. Mereka mengejar Shikon secara bersamaan. Pengejaran tersebut membuat para penduduk yang ada di pasar bingung dan ribut.

Shikon melompati sebuah dagangan seorang pedagang dango dengan mulus. Para pengejarnya mengikuti langkahnya. Hanya saja, karena banyak yang ingin melompati dagangan tersebut, banyak pula dari mereka yang jatuh. Pengejarnya yang telah melewati dagangan tersebut dengan selamat, melanjutkan pengejarannya.

Lalu, Shikon melalui kepadatan pasar. Sebenarnya, anak itu menggunakan kesempatan ini untuk mengulur waktu sampai dia tiba di peternakan. Kepadatan pasar saat ini pun sangat membantu, karena orang-orang sedang mengantre untuk melihat sebuah pertunjukan jalanan yang biasanya digelar setiap dua minggu sekali.

Shikon dengan mudahnya berjalan di antara keramaian tersebut. Sedangkan para pengejarnya malah membuat keributan dan dibentak-bentak oleh banyak orang. Shikon keluar dari kerumunan manusia itu dan menghembuskan napas panjang. Setelah itu, dia kembali berlari.

Langkah anak tersebut terhenti ketika melihat seorang pemuda berjubah berdiri di depan kandang kuda miliknya. Pemuda berkupluk itu terdiam.

"Are… ternyata kau sudah di sini. Aku pikir kau ikut mengejarku seperti orang-orang bertopi rotan itu." Ucap Shikon sambil tersenyum. Pemuda tersebut tak menggubris omongan Shikon. Hal tersebut membuat senyum di wajah Shikon menghilang.

"Yoru Shikon." Panggil pemuda tersebut dengan nada datar.

"Hai?" sahut Shikon dengan kedua alisnya terangkat.

"Shi ne!" seru pemuda tersebut.

"Heee…" Shikon tersenyum. Tak lama, muncul orang-orang berjubah yang tadi mengejarnya. Mereka mengeluarkan katana mereka. Sedangkan Shikon masih dengan posisi yang sama.

"Bunuh dia." Perintah pemuda tersebut. Para orang berjubah itu pun mulai menyerang Shikon bersamaan.

Senyum Shikon berubah menjadi seringai. Mata yang tertutup itu terbuka dan menatap tajam. Seorang berjubah mencoba menusuknya dari samping. Shikon menghindarnya. Tangan kanan orang berjubah tersebut dipegang olehnya.

"Apa kau pikir orang-orang ini dapat membunuhku?" tanya Shikon dingin. Dia memutar tangan orang berjubah tersebut hingga orang itu merintih kesakitan. Lalu, dia menendang perut orang berjubah lainnya yang mencoba menebas tangannya.

"Sungguh pikiran yang naïf." Kata Shikon. Dia melempar orang berjubah yang sudah melemah karena tangannya diputar olehnya ke arah orang berjubah lainnya. Shikon mengambil pedang orang berjubah itu yang jatuh ke tanah.

"Kita lihat, siapa yang akan mati duluan. Aku? Atau Kalian?" sambung Shikon. Ekspresinya benar-benar datar. Tatapannya begitu mengintimidasi.

"Dimana Shikon-kun?" tanya Tomoe yang baru saja keluar dari kamar kecil.

"Dia pergi ke peternakan kuda." Jawab Suuhai.

"Eh? Dia pergi sendiri? Untuk apa dia pergi ke sana?" bingung Tomoe sambil kembali duduk di samping Masaru.

"Dia pergi terlalu lama." Ucap Masaru kesal.

"Jangan khawatir, Kado. Dia tidak akan mati." Ujar Suuhai yang membuat Tomoe semakin bingung.

Shikon menebas pedangnya di udara bebas. Membuat darah yang ada di pedang tersebut berjatuhan ke tanah. Terlihat, orang-orang berjubah dan bertopi rotan telah bermandi darah. Tubuh mereka bergetar menahan sakit. Dalam waktu yang singkat, mereka dikalahkan oleh buruan mereka sendiri.

Shikon menjatuhkan pedangnya. Ditatapnya tangan kanannya yang berlumuran darah. Matanya tampak sayu.

"Sepertinya… aku kehilangan kendali lagi." Gumamnya pelan. Dia berjongkok dan mempertemukan kedua telapak tangannya. Dia pun memejamkan kedua matanya. Tak lama, dia membuka kedua matanya dan berdiri kembali.

Shikon berjalan memasuki peternakan. Sampai di dalam, dia memegangi leher bagian kanannya dan meremas pakaiannya di bagian dada. Dia pun menahan suaranya agar tidak terdengar. Tubuhnya jatuh terduduk. Napasnya terpenggal-penggal. Dia tampak menderita.

"Yare yare, sudah berapa kali kamu hilang kendali?" ucap seorang pemuda yang berdiri sambil bersandar di sebuah pohon di dekat kandang kuda putih. Pemuda itu pun mendekati Shikon yang sudah tersungkur.

Pemuda itu mengubah posisi tubuh Shikon yang sudah sangat lemah. Dia menjadikan lengan bawah kirinya sebagai bantal kepala Shikon. Tangannya yang bebas menutup kedua mata Shikon. Lalu, secara ajaib luka pada tubuh Shikon serta darah yang ada di pakaiannya hilang. Anak itu pun sudah terlihat lebih tenang.

Dibukalah kedua mata Shikon. Pemuda itu tersenyum. Shikon langsung bangkit dari tidurnya. Dia berjalan menuju kuda cokelat. Shikon melepaskan simpul tali kuda tersebut pada sebuah tiang.

"Jangan berbuat baik terlalu banyak. Kau bisa mati dengan hanya melakukan hal-hal baik. Seperti mendoakan para pengejarmu itu. Kau membiarkan mereka hidup, bukan?" kata pemuda yang ikut bangkit dan berdiri tegak.

"Jika aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan, mungkin mereka sudah mati." Sahut Shikon.

"Hm.. benar juga."

"Aku bingung, kenapa aku harus memiliki dua darah berbeda yang mengalir dalam tubuhku. Lagi pula, sebenarnya aku ini siapa?"

"Daijoubu, kau akan mengetahuinya nanti." Pemuda itu tersenyum dan menepuk puncak kepala Shikon, "Jangan mati sebelum aku membunuhmu, Shikon-kun. Jaa na!" dan pemuda itu pun pergi.

"Huh, lebih baik aku mati sebelum kau membunuhku, Akihiko." Gumam Shikon

"Shikon-kun!" panggil Tomoe yang berlari menuju Shikon. Anak itu pun menoleh ke belakang dan mendapati tiga orang yang dia tinggalkan baru saja sampai di peternakan kuda tersebut.

"Apa-apaan tempat ini?" tanya Suuhai ketika melihat para pria berjubah tergeletak di tanah dengan darah berceceran di dekat mereka.

"Oi, kau hilang kendali lagi?" tanya Masaru pada Shikon yang sudah dipeluk erat oleh Tomoe.

"Huaaaa Shikon-kun! Akhirnya kami menemukanmu! Kami sangat mengkhawatirkanmu!" seru Tomoe yang membenamkan kepala Shikon di dadanya.

"Tolong aku…" ucap lemah Shikon dalam pelukan Tomoe.

"Tomoe, lepaskan dia. Kau membuatnya hampir mati karena tidak bisa bernapas!" perintah Masaru.

"Eh?" Tomoe mengedipkan kedua matanya. Lalu, dia melepaskan pelukannya, "Go-gomennasai Shikon-kun! Daijoubu?"

Shikon terlihat sangat lega. Dia menarik napas dalam dan membuangnya perlahan, "Aku hampir mati…" ucapnya.

"Kali ini siapa yang menolongmu?" tanya Suuhai sambil berjalan mendekati mereka berdua.

Shikon melirik Suuhai, lalu membuang pandnag ke arah lain. Dia pun menjawab, "Kiba o motte imasen ookami."

Suuhai dan Tomoe saling berpandangan. Mereka tidak mengerti siapa yang Shikon maksud. Ketika Suuhai melihat Masaru, pemuda tersebut sedikit terkejut. Masaru menunjukkan aura youkai miliknya yang mengerikan.

"Sebenarnya, ada apa dengan kalian?" tanya Tomoe bingung.

.

.

.

.

TO BE CONTINUE…..


Anooo... Hontou ni gomennasai minna-san~! Aku sedang sibuk sekali selama satu bulan penuh! Argh! Ini saja aku selesaikan sebelum mengerjakan tugas. Soalnya, kalau aku mengerjakan tugas dulu baru melanjutkan cerita ini, pasti yang ada aku ketiduran. hohoho...

Oh ya, arigatou gozaimasu buat readers yang setia membaca ff ini serta yang telah meninggalkan komentarnya buat ff yang yaaah... berantakan ini hehe... aku sangat senang~! Jangan bosan membacanya ya. Sampai jumpa lagi! Mata ne!