A/N: Sungguh minta maaf karena sudah sungguh lama tidak mengupdate fic ini tapi saia kelas tiga dan UN ? TO ? UAS ? Astaga, astaga, saia nggak bisa Biologi ? Akhirnya memutuskan untuk akhirnya mengedit hal ini juga biar nggak tambah stres ? OK.
Namamu adalah JAPAN, dan baru beberapa menit yang lalu kau menemukan menara yang menyimpan tubuh CHINA. Kau terbang ke atas, lalu melayang di sekitar satu-satunya jendela yang terbuka di menara itu, hanya untuk menemukan CHINA yang nyatanya telah terbangun, tengah duduk dengan tenang di atas kursi di tengah-tengah kamar itu sembari tersenyum sedih. Dia melihatmu dengan pandangan lega.
"Halo, Japan," katanya memulai percakapan. "Aku bodoh sekali. Aku tidak bisa menghentikannya. Dia sudah membunuh Germany, lagi? Yang pasti, dia membunuh Germany, dan aku tidak melakukan apapun untuk menghentikannya. Aku harap Russia bisa menghentikannya."
Kau memegang tepi jendela, lalu melompat masuk ke dalam ruangan milik China yang, seperti keseluruhan dari Kerajaan Derse yang memerintah setengah hemisfer Skaia ini, penuh dengan warna ungu. Kakimu menapak pada karpet empuk yang juga berwarna ungu.
"Kita harus segera pergi," kau berkata sembari melangkah maju dan menarik tangan China dari sandaran tangan kursi warna ungu. Ia menatapmu dengan pandangan nanar, tetapi dengan sedikit paksaan dari dirimu yang berkata, "Black King sudah membunuh England," ia akhirnya mau juga beranjak dari tempat duduknya. Ia melepaskan pegangan tanganmu, berjalan menuju tepi jendela, dan memandang ke bawah. Kau berdiri di sebelahnya dan melihat bagaimana tentakel berwarna hitam merambat mengitari sebuah menara yang hampir mirip dengan menara milikmu dan milik China. Ujung tentakel yang berwarna hitam itu sudah berada di dalam menara, masuk melalui satu-satunya jendela yang terbuka di sana.
Kau menutup matamu, mencoba agar imej akan tubuh Skaia England bekas serangan Black King tidak muncul di kepalamu.
"Nii-nii," katamu, pelan. Kau merenggut telapak tangannya, menggenggamnya dengan erat, lalu melanjutkan berbicara, "Apakah kita masih bisa memenangkan game ini?"
China menunggu sangat lama, hanya menatap tak fokus pada lanskap Kerajaan Derse. Pada akhirnya, ia hanya menghembuskan napas kewalahan dari mulutnya.
"Tidak. Kurasa tidak. Kurasa kita semua akan mati."
~.o.O.o.~
Chapter 6: Land of Love and Melody
Namamu adalah GERMANY. Kau adalah ORANG JERMAN YANG MERASA TERLALU PATRIOTIK PADA NEGARAMU ITU TIDAK PATRIOTIK, jadi kau merasa biasa-biasa saja dengan negaramu.
Hobimu MEMASAK KUE, terutama Sacher Torte dan Black Forest. Dulu, kau punya TIGA ANJING, dan kau selalu menghabiskan waktu minimal 2 JAM sehari bersama dengan mereka, sebab itu memang sudah peraturan mutlak di negaramu, yang kau ajukan secara pribadi kepada Perdana Menterimu, yang kemudian disetujui oleh Parlemen dan langsung menjadi sebuah undang-undang yang sah. Mau kau ataupun penduduk negaramu, memang terlalu CINTA dengan anjing. Good dog, best friend. Sayang ketiga sahabatmu itu telah MATI.
Namamu adalah GERMANY, kau sedang berada di Land of Love and Melody, dan kau sedang memandangi kunang-kunang melayang naik ke atas langit.
"Apa yang sedang terjadi?" Kau bertanya pada China yang berjalan di depan. Suara langkah kakinya yang ringan tak lagi terdengar. Kau rasa ia telah berhenti berjalan, tetapi tidak langsung menjawab pertanyaanmu.
"Ada yang bangkit, aru," jawabnya. "Seseorang sudah sampai di Skaia sebagai dewa." Dia tidak berbicara lagi. Oleh sebab itu, kau berhenti memandangi langit untuk melihatnya tengah menutup matanya.
"Orang itu-," ia berbicara tanpa membuka matanya. "America, aru."
Kau memandangnya dengan nanar, sebenarnya ingin memintanya memberi penjelasan lebih lanjut akan perkataannya yang kriptik itu, tapi kau merasa agak malu, sebab sebelumnya kau telah dijelaskan olehnya cara mencapai Skaia. Kau tahu, kau harus mati untuk itu. Mati di atas Quest Bed. Dan America –mungkin- telah melakukannya, ditandai dengan adanya kunang-kunang yang terus melayang ke atas langit tanpa henti ini? Mau bagaimanapun juga, dulu China pernah bersekutu dengan America, menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam sebuah ruangan yang sama, mengkomplot rencana untuk melawanmu dan pasukanmu dulu.
Jadi kau memilih untuk tidak menanyakannya, sebab kau tahu bagaimana orang-orang tua seperti China bisa membuatmu miris ketika berbicara tentang kematian. Kau melihatnya membuka matanya. Pandangannya serasa bersalah, tetapi ia tidak berkata-kata lagi, selain sebuah ajakan, "Ayo."
Kau lari perlahan di sepanjang jalan berwarna kulit pastry untuk menyusul China yang berjalan di depan. Barulah saat kau jalan berdampingan dengannya kau menurunkan kecepatanmu, meski sebenarnya kau ingin berlari, berlari, berlari, sekarang juga, untuk mencapai tempat keberadaan Italy dan Japan yang, menurut China menggunakan kemampuan penglihatannya sebagai seorang Peramal Hati, berada di depan jalan ini.
Kau cukup bingung dengan China yang berjalan santai sekali. Jujur saja, kau ingin mendesaknya untuk berjalan lebih cepat, tetapi kau merasa tak enak melakukannya sebab, bagaimanapun juga, dia masih tetuamu. Sekitar 3000 tahun lebih tua darimu, malah.
Kau mendesah. Kau tidak bisa menemukan subjek untuk dibicarakan agar perasaan deg-degan yang ada di hatimu ini menghilang, jadi kau memilih untuk melihat Handy-mu saja, untuk mengecek apakah Italy sudah membalas pesanmu atau belum.
gennesaretsRuler [GR] began chatting innoxiousTidal [IT] at ?:? ?M
GR: ITALY.
GR: ITALY, KAU ADA DI MANA?
GR: AKU DAN CHINA SUDAH BERADA DI LOLAM.
GR: JAWAB AKU JIKA KAU SUDAH SENGGANG.
GR: ITU PERINTAH.
Masih belum ada balasan sejak kau sampai di LOLAM 30 menit yang lalu. Kau mengeratkan genggamanmu pada Handy-mu. Ini adalah pemikiran yang tidak rasional, tapi kau merasa takut. Selalu takut jika berhubungan dengan Italy yang ada di luar sana, berjuang sendirian tanpa dirimu atau Japan. Kau sudah kapok meninggalkannya lagi. Dua kali kau meninggalkannya, duniamu berakhir gelap dan sengsara. Yang pertama, saat Perang Dunia ke-2, tujuh puluh tahun yang lalu. Yang kedua, delapan ratus tahun yang lalu.
Yang kedua yang paling menyakitkan. Terpisah selama hampir delapan ratus tahun; sengsaranya bukan main.
Suara berkokok yang lengking terdengar dan hal itu mencabutmu dari pemikiran murungmu, sehingga kau menoleh ke arah suara itu berasal; ke hutan berdaun coklat yang ada di sebelah kananmu. Dan barulah kau menyadari apa yang ada di sekitarmu. Antara hutan coklat dan jalan pastry yang sedang kau jejaki ini dipisahkan oleh gumpalan warna putih yang lebih mirip whipcream daripada salju. Dan banyak tersebar di atas whipcream itu lapisan tipis kulit warna hijau seperti sisik.
"Itu suara Abraxas," China menjawab pertanyaan yang ada di kepalamu. "Penghuni planet beraspek Harapan, berkepala ayam jantan dan berbadan ular. Dan kemungkinan besar-." Diam. Lalu, "monster yang membunuh mereka."
Kau terhelak. Kau merasakan kedua matamu melebar. Kau diam menatap China bergantian dengan sisik warna hijau kasar yang ada di tanah, lalu menuju jalan jauh di sana. Kau memandang China lagi, tetapi kau malah menemukannya berdiri kaku, tangan berkelumat-kelamit di belakang punggungnya, mata melirik kedua sepatu merahnya yang bergerak-gerak tidak nyaman.
Kau langsung berlari meninggalkannya.
Kau tidak peduli ketika suara kokok Abraxas terdengar untuk kedua kalinya. Kau tidak peduli ketika kau mendengar suara China memanggil namamu, menyuruhmu untuk berhenti. Kau tidak peduli ketika suara kokok Abraxas membesar. Kau tidak peduli ketika kau mendengar suara semak yang terbuat dari permen karet digesek oleh sisik ular. Kau tidak peduli ketika kau melihat Abraxas ada di depanmu, mata ayamnya merah dan mulutnya terbuka. Kau tidak peduli ketika kau merasakan lenganmu terpatuk. Kau tidak peduli ketika kau memotong ekor Abraxas dan mendengar kokokan nistanya. Kau tidak peduli ketika Abraxas merayap kabur dan sisa bagian ekor hasil tebasanmu masih menggeliat-geliat di tempatnya seperti ekor cicak.
Kau hanya lari.
Dan akhirnya kau menemukan mereka berdua, di ujung jalan pastry yang tak lagi terlihat, tertutup oleh salju whipcream. Kau menemukan Italy dan Japan, tergolek tak bernyawa di tengah-tengah salju whipcream yang berwarna merah karena tercemar darah yang keluar dari dada dan kaki mereka.
Kau ambruk di hadapan tubuh mereka. Bagian celana yang ada di lututmu warnanya menggelap oleh karena darah Italy yang masih segar merembes masuk. Kau menggapai-gapai dengan kedua tanganmu untuk merasakan wajah mereka. Kulit Japan sudah dingin, tetapi tidak begitu halnya dengan Italy. Ia masih terasa hangat. Kau mencoba merasakan lengannya, berharap kau akan dapat menemukan sebuah denyut lemah pertanda nadi yang masih memompa darah. Tetapi kosong—tiada denyut meski sekali—semuanya hanyalah harapan kosong.
Italy dan Japan telah mati.
Kau merasakan setetes air mata menuruni pipimu. Mulutmu mengeluarkan suara desahan kecil. Kau membenamkan kepalamu pada pundak Japan, sedangkan tanganmu meremas tangannya yang dingin dan penuh darah yang telah kering. Tanganmu yang satu lagi kau gunakan untuk memukul tanah yang ada di sebelahnya, yang warnanya sudah mulai menghitam, kering oleh angin dan waktu. Kau merasakan rambut Italy yang masih bau shampoo milikmu. Kau ingat ia baru saja mencuci rambutnya pagi ini—kau melihatnya keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya itu sebelum memelukmu dari belakang, tak mempedulikan dirimu yang sedang memasak sarapan dan dirinya yang badannya basah dan masih telanjang. Kau langsung memarahinya sebelum memerintahkannya untuk segera mengenakan baju, dan kau melihat Italy lari terbirit-birit masuk ke dalam kamar sambil menangis. Italy masih hidup saat itu. Italy dan Japan masih hidup saat itu.
Kau mendengar tapak kaki ringan yang berjalan di belakang, tetapi kau tidak menoleh—memilih untuk membenamkan diri dalam tubuh kedua sahabatmu yang tak lagi bernyawa. Kau sudah tahu siapa yang ada di belakangmu, dan kalaupun itu bukan China, kau pun tak peduli. Abraxas yang ternyata ada di belakang pun, kau takkan peduli.
Kau merasakan sebuah tangan merayap dan mengelusmu di pundak.
"Apa kau sudah tahu hal ini-," mulaimu, dengan suara yang terdengar serak dan pecah. "Tapi kau tidak pernah memberitahuku saja?"
"Ya, aru," jawab China, pelan. "Tidak lama saat kita mencapai LOLAM, aku sudah tidak bisa melihat apa yang Italy perbuat. Aku tahu dia tidak mempunyai kemampuan Aspek Nihil yang membuatnya dapat memblokir sinyal penglihatanku, jadi aku sudah yakin saat itu Abraxas telah membunuhnya, aru. Kita sudah terlambat, bahkan sebelum kita mulai mencoba."
Kau ingin marah padanya. Kau ingin mengamuk padanya, berteriak mengapa kau tidak diberitahukan bahwa saat itu Italy sedang ada dalam bahaya—sedang ketakutan, diserang oleh Abraxas, berdarah, sekarat—dan mungkin saja jika saat itu kau langsung berlari sekencang yang kau bisa, kau mungkin masih bisa menyelamatkan Italy. Tetapi kau tidak bisa marah pada China, terutama setelah ia berkata seperti ini, "Maaf. Kalau kau mau, kau boleh marah padaku, aru."
Hal itu malah membuat air matamu keluar semakin banyak. Harusnya kau malu, tetapi kau tak bisa menahannya.
"Kau tidak usah malu, Germany. Tidak boleh ada orang yang malu menangis, aru. Itu normal."
Entah kenapa, amarahmu kembali mendidih oleh karena perkataannya itu.
"Sudah kubilang sebelumnya, kau boleh marah padaku, aru."
"Atau kau boleh diam dan tidak usah berbicara apa-apa lagi."
"Tidak boleh. Kalau aku berhenti berbicara, aru, aku bisa melihat sekelibat bayangan gelap yang ada di kepalamu tentang dirimu yang menjadi sangat depresi oleh karena kematian mereka berdua, kau sampai-sampai jadi gila lalu membunuhku di sini dengan pedangmu itu. Aku tidak bisa membiarkanmu menjadi gila, aru. Mau dikatakan apa oleh Prussia aku?"
Mendengar nama kakakmu itu disebutkan oleh China, kau jadi teringat oleh tingkah bodoh Prussia yang sudah lama tak kau lihat. Kau menjadi teringat kembali akan keadaan rumahmu tidak lebih dari setengah hari yang lalu, saat pagi-pagi buta kau terbangun dari tidurmu dengan seorang Italia menempel erat di tubuhmu, kau pelan-pelan berjalan ke basement untuk mengecek keadaan kakakmu yang tidur di sana. Kau menemukan Prussia terlelap di atas sofa dengan botol-botol bir kosong tergeletak di mana-mana. Kau membersihkan semuanya dan sepelan mungkin meletakkannya di dalam tong sampah. Kau mematikan laptop milik kakakmu yang sebelumnya masih menampilkan sebuah halaman situs dengan konten yang bisa dipertanyakan. Lalu kau menyelimuti tubuh kakakmu dengan selimut warna biru favoritnya yang memiliki motif anak ayam berlari-lari. Melihat dari wajahnya yang merah dan rongsokan bir yang sekarang sudah ada di tempat sampah, Prussia pasti telah mabuk semalaman, dan takkan bangun sampai paling tidak sore hari nanti. Sayangnya sore hari tak pernah datang. Ia bahkan tak diberikan waktu hidup sampai dunia kiamat seperti kebanyakan orang lain, sebab saat kau berlari ke dalam basement untuk membangunkannya saat hujan meteor mulai turun, kau sudah menemukan tubuhnya di atas sofa dengan dada bersimbah darah, posisinya sama sekali tak berubah sejak kau meninggalkannya pada pagi hari sebelumnya.
Setidaknya kakakmu mati dalam tidurnya. Tetapi semuanya tetap terasa sakit.
Semua orang yang dekat denganmu telah mati.
"Jika kita mencapai Skaia-," ucapmu, lirih. "Menghancurkan Black King dan menyelesaikan game ini, apa yang akan kita dapatkan?"
"Hadiah dari SBURB adalah Skaia," jawab China. "Sebuah planet yang tercipta oleh karena intervensi kita berdelapan, dengan delapan planet yang beredar mengelilinginya. Bukankah hal itu mirip dengan tata surya kita sekarang, aru?"
"Maksudmu-,"
"Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus—semuanya beredar mengelilingi matahari. Bukankah hal ini sama dengan LOSAW, LOFAL, LOZAF, LOTAW, LOBAW, LOCAF, LOLAM, dan LOVAR yang mengelilingi Skaia?"
Kau tidak perlu menanyakan mengapa Pluto tidak dimasukkan ke dalam planet yang mengitari matahari—kau sudah mendapatkan maksud dari perkataan China.
Dan memenangkan SBURB adalah satu-satunya harapan bagimu dan semua orang.
Dan yang paling terutama, harapan bagi dirinya.
Kau tidak boleh mengulur-ngulur waktu lagi.
"Ini adalah planet milik Italy, bukan? Ada di mana Quest Bed miliknya?"
Kau bisa melihat bagaimana kedua bibir tipis China yang berwarna merah muda itu mengembang. Tangannya terangkat naik, menunjuk ke sebuah arah di sebelah kirimu sembari berkata, "Ada di sebelah utara hutan ini. Kau bisa membawanya ke Skaia dan membangkitkannya sebagai dewa dari sana, tetapi ada risiko kau akan diserang oleh Abraxas. Kemungkinan besar ekornya sudah tumbuh kembali sekarang. Mereka punya kekuatan itu, aru. Regeneratif."
"Berarti aku hanya harus memotongnya kembali," katamu, sembari memposisikan kedua tanganmu masing-masing di belakang leher dan lutut Italy. Kau menghitung sampai tiga, sebelum mengangkat tubuhnya yang lebih berat dari kelihatannya ke udara. Agak lama kau berpikir, sampai akhirnya kau sadar menggendongnya dengan posisi seperti ini membuatmu sangat rentan terhadap serangan Abraxas. Kau lalu mengangkatnya lebih tinggi untuk memanggulnya di pundakmu yang kiri.
Sebelum berlari, kau melihat untuk terakhir kalinya China yang masih duduk bersimpuh di sebelah tubuh Japan.
"Kau akan baik-baik saja di sini?"
"Hăo ā, aru. Aku Peramal Hati, aku bisa tahu jika ada musuh yang hendak menyerang, aru! Kau tenang saja. Gini-gini, aku masih sefit orang muda seperti kau!"
Kau tidak berani tertawa, tetapi kau tetap membiarkan sebuah senyum kecil menghiasi mulutmu. China benar-benar adalah tipikal kakek-kakek tua yang ingin modis, tapi gagal total.
"Bagaimana dengan Japan?"
"Ia sudah ada di Skaia, jadi aku tak terlalu khawatir lagi padanya sekarang. Agak susah membawa tubuhnya kembali ke Land of Sword and Waterfall, belum lagi mencari gerbang teleportasi ke sana, aru. Kurasa aku…aku akan meninggalkannya saja di sini. Untuk sementara. Aku akan mencari Opium dulu. Sebenci-bencinya aku kepadanya, dia punya mode teleportasi yang menguntungkan di sini."
Kau mengangguk selesai mendengar jawaban dari China. Bingung karena tidak tahu apa yang harus kau lakukan, kau berakhir mengulurkan sebuah tanganmu ke arahnya. China menatap tanganmu bingung.
"Hati-hatilah? Kita akan berpisah di sini?"
Mulut China membulat, membentuk huruf 'o' yang lebar tanda mengerti. Lalu ia tersenyum, dan balik menjabat tanganmu dengan tangannya sendiri, sambil menjawab, "Jangan sampai kau mati diserang Abraxas, aru ya, Germany?"
Kau melepaskan tangannya, menunduk untuk terakhir kalinya, sebagai penghormatan terhadap tetuamu, sebelum berlari ke arah utara.
Tentu saja, sekali lagi kau mendengar suara kokok Abraxas, tapi kau berusaha untuk tidak mempedulikannya dengan terus berlari.
Tapi hanyalah suara kokok Abraxas yang kau dengar. Kau tidak mendengar suara sisiknya yang menggesek semak-semak. Tidak ada ekor yang mengibas ke kiri dank e kana. Kau tidak pernah menemukan Abraxas lagi, bahkan sampai kau mencapai dengan selamat sebuah lapangan terbuka yang berbentuk lingkaran di tengah-tengah hutan coklat. Di tengah-tengah lapangan tersebut, terdapat sebuah tempat tidur berwarna kuning mentega yang di keempat sisinya terdapat palang warna kuning tua dengan mutiara di keempat ujungnya.
Kau meletakkan badan Italy yang dingin di atas Quest Bed berwarna kuning mentega.
Kau lalu berlutut di sebelahnya, menggenggam tangannya, mencium telapaknya yang dingin, dan melihat bagaimana kunang-kunang perlahan menyebar keluar dari dalam hutan. Sebaran kunang-kunang yang melayang ke arahmu dan Italy dalam gelombang itu tampak tak berujung, dan kau hanya mampu melihat bagaimana mereka berkumpul mengitari dirimu dan Italy. Mereka tampaknya menemukan dirimu tak menarik, sebab mereka segera berpindah posisi untuk melayang di atas tubuh Italy yang tak bergerak.
Lalu mereka melayang ke atas dalam sebuah gerakan yang tiba-tiba, cepat dan tinggi sekali sampai menembus awan, dan kau tak bisa melihat mereka lagi.
Handy-mu berdering.
~.o.O.o.~
Namamu adalah ITALY.
Land of Love and Melody adalah planetmu yang indah. Jalannya berwarna kuning gosong seperti pastry. Salju yang bertumpuk di sebelah kiri dan kanan terasa seperti whipcream (ya, kau memang menjilatnya. Mau bagaimana lagi? Ada segunung sesuatu yang mungkin saja adalah whipcream gratis!). Daun-daun pohon cerinya terbuat dari coklat warna hitam dan rasanya manis ketika dimakan, dan secara pribadi kau sendiri sudah memberi nama hutan di planetmu sebagai, eem, Black Forest. Err, ya, pun intended.
Tetapi ketika kau membuka matamu, kau tidak menemukan Black Forest. Kau tidak melihat hutan coklat tak berujung di bawah kakimu yang melayang. Kau tidak melihat satupun jalan pastry. Kau tidak melihat langit yang berwarna oranye jeruk mengambang di atas kepalamu. Kau tidak melihat Abraxas.
Yang kau lihat sekarang adalah: tanah yang diwarnai seperti papan catur raksasa yang tak berujung di bawah kakimu yang melayang, puluhan sungai kecil warna biru yang tersebar tak tentu di atas papan catur itu, dan sebuah langit berwarna biru yang paling indah yang pernah kau lihat, yang penuh dengan awan putih terempuk yang pernah kau lihat, dan America yang ada di depanmu, memakai sebuah pakaian aneh berwarna biru yang sama dengan warna langit.
"Italy?"
