Disclaimer: I don't own YuGiOh
Disclaimer: I don't own YuGiOh!, Titanic, Romeo and Juliet. Either Ice and Snow.
Genre: Romance,Angst,Drama AU
Main Idea/Story : Amelia Kai
Editor/Script writer: Hikari Rio
Yellow Geranium – Unsuspecting meeting
Langkah-langkah mungil menggema di aula depan mansion besar itu. Pemiliknya masih terbingung-bingung sekaligus senang atas kejadian hari ini. Gaun merah mudanya bergelombang lembut mengiringi tiap langkah yang ia ambil.
"….Mungkin..kereta tadi milik saudagar yang ingin berbisnis dengan nenek." ujarnya pada dirinya sendiri. Ia menaiki tangga dan menuju ruangan neneknya, namun sepasang penjaga menghalaunya.
"Maaf, Nona Athema…anda tidak diperbolehkan masuk ke dalam sekarang."
"Oh…Nenek sedang sibuk ya?" Lalu, ia mengambil sebuah hadiah yang dibungkus rapi oleh kertas kado dan pita. Ia memberikannya pada sang penjaga. "Ng…kalau Nenek sudah selesai dengan urusannya. Bisakah kau berikan ini padanya?"
"Ya..tentu saja Nona Russel." Sang penjaga menerimanya.
"Terima Kasih! Ucapkan juga selamat malam dariku…" Ujarnya serasa merapikan bawaannya. "dan…selamat malam juga untuk kalian berdua! Dah!" Athema berbalik dan lari menuju kamarnya.
"Terima kasih Nona Russel. Semoga anda mimpi indah…" Ujar mereka bersamaan. Setelah sang nona muda jauh dari pandangan, penjaga yang ditititpi hadiah tadi berbisik lirih.
"Semoga nanti ia tidak apa-apa."
"Ya…sungguh..setelah sebelas tahun berlalu dan segala hal yang dialaminya. Anak itu pantas mendapatkan kebahagiaan." timpal yang seorang lagi.
"Hm…" penjaga tadi bergumam setuju lalu menatap kado di tangannya. "Sungguh cerah sebelum badai datang…"
(XXXXXXXXXX)
Knock! Knock!
Suara pintu ek yang diketuk lembut membangunkan sang mawar di pagi keesokan harinya.
"Umh…" Ia menggeliat pelan, mengucek matanya yang setengah tertutup. "ya..silahkan masuk…" Ujarnya malas. /Aah..aku masih mengantuk…/ Ia menarik selimutnya dan meringkuk lagi di dalamnya. /Dingin../
Sesosok maid wanita masuk ke dalam kamar besar itu. "Nona..sudah waktunya bangun." Ujarnya.
Athema mengangguk dari balik selimutnya. Ia mendengar maid itu menghela napas sebelum ia membuka tirai kamar dan jendela balkon. Membuat cahaya matahari pagi yang lembut menerangi ruangan itu dan udara segar pagi membawa aura kehidupan yang baru.
"Saya akan siapkan air untuk mandi. Anda ingin lavender atau garam laut?" tanyanya professional.
"Uh..badanku pegal..kurasa..garam laut." Ujarnya sembari keluar dari balik selimutnya.Maid itu mengangguk sebelum akhirnya menghilang ke dalam kamar mandi.
Athema lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon kamarnya. "Aah!! Segarnya!!" Ia meregangkan tubuh mungilnya sembari menghirup udara pagi dalam-dalam. Cahaya lembut menyinari embun-embun di pekarangan mansion itu, membuat bunga dan pohon-pohon pinus tampak berkilauan bagai harta tak ternilai. Ia terpesona untuk beberapa saat dan menikmati pemandangan pagi hari.
Pikirannya melayang kembali ke hari sebelumnya. Festival…dan waktu kebebasannya sendiri. Warna-warni confetti dan riangnya atmosfer yang menghiasi hari itu. Serta lincahnya kaki yang berdansa dalam iringan musik. Ia memejamkan matanya sejenak lalu berbisik. "Aku…sudah tujuh belas tahun, ya? Tidak terasa…" .Ia menyandarkan punggungnya pada pagar perunggu di balkonnya dan menatap kamarnya. Namun pandangannya menerawang.
"Nona?"
"Ya?" jawabnya kosong. Rambut pirangnya yang bergelombang tertiup lembut membingkai wajah mungilnya, membuatnya tampak seperti bukan manusia, bagai patung boneka.
"Airnya sudah siap. Semoga anda menikmati mandinya." Ia tersenyum lalu membungkuk.
"Ah.." pandangannya kembali fokus dan ia tersenyum, "Terima kasih, Anna."
Pelayan itu mengangguk,"Tak perlu, Nona. Itu sudah menjadi tugas saya…" ujarnya sebelum berkata. "Saya akan siapkan sarapan. Anda mau makan di kamar atau di ruang makan?"
"Ung..nenek?"
"Beliau makan di kamarnya, Nona."
"Oh..baiklah…aku makan disini saja."
Maid itu membungkuk lagi dan berbalik pergi dari kamar besar itu. Athema menatap punggung maid itu hingga ia menghilang dari pandangannya, sebelum beranjak dari balkon menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
(XXXXXXXXXX)
Pagi itu begitu sunyi. Kontras dengan cerahnya hari. Angin lembut meniup tirai tipis di kamarnya dan matahari pagi membuatnya terlihat seolah bagai selendang malaikat.Namun Athemaria menikmati sarapannya dan nuansa tersebut. Setelah selesai sarapan, seperti hari-hari lainnya, ia pergi ke perpustakaan keluarga untuk belajar dengan tutornya. Namun,
"Eh?! Libur?! Kenapa?" Ia terkejut mendengar berita itu dari salah satu butler.
"Ah? Tidakkah Nona seharusnya tahu alasannya?" Butler itu bertanya bingung.
Athema menggeleng.
"Nona Athemaria, hari ini ada rapat mendadak untuk seluruh keluarga Russell. Nyonya besar pasti lupa untuk memberitahu anda kemarin." Ujarnya setengah heran.
Athemaria terdiam bingung. /Rapat? Mendadak? Soal apa??/ Pikirannya tidak nyaman mendengar berita itu, hatinya gundah. /Apa ini ada hubungannnya dengan orang yang datang kemarin?/
"…na"
/Atau mungkin..karena aku pulang terlalu larut…/ pikirnya lagi. Tapi itu tidak mungkin. Rapat keluarga hanya akan membahas hal yang lebih besar selain keterlambatan pulang jam malam.
"Ath…"
/Atau…/
"Nona Athema!"
"AH! I-Iya? Ada apa?" Pikirannya dibuyarkan oleh suara butler tadi. "Oh..aku melamun. Maaf.."
"Bukan begitu..Mohon maaf jika saya mengagetkan Anda. Tapi, jika anda harus mengikuti rapat tersebut. Anda harus bersiap-siap sekarang karena nenek anda sudah berangkat pagi-pagi sekali."
"Oh..kurasa tak perlu. Kalau aku tak diberi tahu, mungkin ini untuk membahas hal-hal yang lebih rumit dan lebih personal.Lagipula tidak akan sampai tepat waktu…" Ujarnya kalem, walau dalam hatinya ia penasaran. Tapi, neneknya tak memberitahu kabar itu, jadi mungkin rapat ini tak ada hubungannya dengannya. "Kurasa aku akan pergi ke rumah kaca. Kalau nenek sudah pulang,tolong kau beritahu aku, ya?"
"Baik. Nona…"
(XXXXXXXXX)
Rumah kaca itu tidak terlalu besar. Dengan beragam koleksi tumbuhan dan kupu-kupu di dalamnya. Di sudut ruang itu terdapat kursi panjang,meja, dan rak buku kecil tentang ensiklopedi tumbuhan dan serangga. Jalan setapak dengan kerikil gunung di arahkan menuju sudut ruang,dimana pengunjungnya dapat duduk bersantai membaca sambil menikmati koleksi tumbuhan yang ada.
Athemaria mengambil salah satu buku dari rak itu dan mulai membaca dalam diam. Tak terasa sang matahari mulai meninggi dan membuat suhu di dalamnya menjadi panas.
"Ungh….capek…" ujarnya sembari menepuk punggungnya yang pegal. /Sudah berapa lama aku disini?/ Sejak tadi pagi ketika rumah kaca masih dingin dan berbayang pepohonan di luar. Hingga terasa lembab panas dan terang matahari menyinari tempat itu. Ia beranjak dari tempatnya dan berkeliling melihat isi rumah kaca.
"Nona?"
"Ya? Aa…" Athemaria berbalik menghadap pemilik suara yang memanggilnya tadi. Suara yang dalam milik seorang pemuda...bermata biru laut,berambut coklat chesnut berpotongan rapi yang membingkai wajah ovalnya yang rupawan, berperawakan tinggi, dan dengan kulit langsat agak pucat. /Mata biru…seperti pemuda yang berdansa denganku kemarin./ Ia tersipu sendiri. "Kau… siapa?"
"Ah..saya seorang steward baru disini,Nona." Ia membungkuk hormat.
"Oh, ng… begitu ya…Ada apa?" tanyanya lagi. Ia terkagum melihat pemuda itu, sungguh tampan bagai ukiran patung. Sosoknya lebih cocok sebagai seorang bangsawan muda dibandingkan menjadi steward. Ironis…
"Saya ingin menyampaikan bahwa Nenek anda sudah pulang. Beliau ada di ruangannya sekarang." Ujarnya sopan.
"Oh..baiklah..aku akan kesana. Terima kasih."
Ia mengangguk. "Saya permisi dulu,Nona." Ujarnya lalu berbalik pergi.
Athemaria lalu membereskan buku-buku bacaannya tadi dan beranjak keluar. Ketika keluar dari pintu rumah kaca, ia teringat akan suatu hal. "Ah..aku lupa menanyakan namanya tadi." Bisikknya pada diri sendiri. / Semoga saja aku bertemu lagi dengannya nanti…/ pikirnya sambil tersenyum malu dan terus melangkah menuju mansion.
(XXXXXXXXX)
"Permisi..Nenek, boleh aku masuk?" Tanyanya setelah mengetuk pintu ruangan neneknya. Ia mendengar jawaban mengiyakan dari sisi lain pintu itu dan membuka pintu ek tadi. Apa yang ditemui di dalam ruangan itu benar-benar harapan terakhir dari apa yang ingin ia lihat.
Ayah tirinya, Rob Mayer berdiri dengan tersenyum tipis di depan meja ek. Neneknya duduk di belakang meja tersebut, tangannya terlipat, dan pandangannya gelap. Ingatan masa kecilnya kembali berputar cepat di benaknya. Ayah tiri…bukan, pria yang membawa pergi ibunya dulu.Perasaannya tak karuan. Kaget,takut,marah, dan sedih berkecimuk di dalah hatinya. Beribu pertanyaan bermunculan dalam benaknya. / Setelah sebelas tahun, mengapa ia datang kemari? Mana Mama?/ Pikirnya panik.
"Athemaria." Suara neneknya lah yang memecah keheningan di ruangan kerja itu.
"Y-ya?" Jawabnya tergagap takut. Matanya berpaling kepada neneknya yang kini telah bnagkit dan berjalan menuju ke arahnya. Tangan keriputnya memegang kedua bahu sang cucu dengan gemetar.
"Lupakanlah Ibumu…"
(XXXXXXXXX)
Selimut beludru gelap telah menggantikan kain putih yang menghiasi langit bersama gemerlap manik angkasa. Sang rembulan tertutup sayu bercahaya lembut, malu-malu mengintip dari balik awan malam. Sungguh damai… tapi tidak bagi sang Nona besar yang kini terduduk berurai air mata di atas tempat tidurnya.
Kilas balik
"Lupakanlah Ibumu…"
"NENEK!! ITU MUSTAHIL!! Kenapa tiba-tiba…" Ia kehilangan kata-kata. Ini suatu hal yang tak pernah ia bayangkan. Pandangannya berbalik pada Rob. "APA YANG KAULAKUKAN? Brengsek!" ia menunjuk marah, "Nenek, ini semua gara-gara dia kan?!"
Rob hanya tersenyum tipis, wajahnya terlihat seolah sendu. "Athemaria..putriku.."
"Aku BUKAN putrimu." Sepatnya tajam.
"Athemaria." Suara neneknya membuatnya kembali harus mengendalikan emosinya. "Tenanglah. "
"TENANG?! Tenang?! Nenek memintaku untuk melupakan orang tuaku…dan aku harus TENANG?!" Ia berteriak frustasi.
"Sayangnya..Lisa tidak sebaik yang kau duga. Athemaria." Ujar Rob pelan.
Sang Nona menatapnya curiga,"Apa maksudmu?"
"Ia hanyalah seorang wanita rendah yang membunuh ayahmu demi harta keluarga Russell."
"JANGAN SEBUT IBUKU RENDAHAN!!"
"ATHEMARIA!"
"NENEK! Nenek percaya pada DIA? Orang yang membawa Mama pergi?!"
"…Sayangnya..semua itu benar.."
Merah delima membulat tak percaya.Ia tertawa putus-putus dan terduduk lemas. "Ha-ha..Bohong…"
"Ketika berada bersamaku, Ibumu sering menghilang selama sebulan sekali untuk pergi entah kemana." Rob memulai." Selama setengah tahun terakhir ini aku telah menyelidiki keterlibatan Lisa dengan seorang pembunuh bayaran bernama Tom Robert…" Ia berhenti.
"Maafkan Nenek, Athemaria." Neneknya membungkuk memeluk sang cucu, " …tapi, kemarin seluruh unit menangkap Tom untuk diinterogasi setelah kami menyelidiki kebenaran itu selama sebulan dan ia...berkata bahwa semua itu benar…Serta, semua bukti mengacu padanya…"
"Nek…Mama tidak mungkin membunuh Papa…" Mutiara bergaram meluncur pelan di lengkungan wajahnya. Ia senang sang pembunuh telah ditemukan, tapi bukan ini yang ia harapkan…mamanya..Mamanya sendiri yang membunuh Papanya. Dua orang yang begitu ia sayangi…/Kenapa?? Kenapa?! Harus begini!!Kenapa Mama…/
"Maaf, Sayang..maaf..tapi.."
"BOHONG!! Ini semua pasti ulahnya!!" Ia menunjuk marah.
"Kau boleh menuduhku pembohong. Aku juga minta maaf karena telah membuat ibumu pergi dari sini. Tapi…"
"DIAM! DIAM!! Aku tak ingin mendengar apapun!!" Ia berlari keluar dari ruangan itu mencari tempat untuk menumpahkan perasaannya yang kacau balau. Sayup-sayup terdengar, sang Nenek memanggil namanya.
Akhir kilas balik
"Mama…Papa…" Isaknya sendirian dalam sepi. Setelah sekian lama hidupnya cukup bahagia, suatu kenyataan pahit yang sulit diterimanya harus muncul dan menghancurkannya. Kenyataan, memang kadang menyakitkan dari kebohongan…
(XXXXXXXXXXX)
Rupanya, Rob Mayer kemarin tiba-tiba menemui Ibunda Russell untuk memberikan bukti-bukti keterlibatan istrinya, dan istri Arsell Russell yang sah itu dengan kematian sang saudagar. Hal ini tentu saja membangkitkan kemarahan dan kenyataan yang pahit atas hal yang terjadi dahulu. Seminggu kemudian, Lisa Russell menerima hukuman penggal dari keluarga Russel atas dakwaan pembunuhan berencana. Darah merah yang mengalir harus dibayar dengan darah juga. Itulah hukum, setimpal, dan terasa adil bagi yang kehilangan.
Saat itu Athemaria tidak datang…para pelayan mengatakan, bahwa sang Nona mengurung diri di kamarnya. Menangis, karena belum bisa menerima kenyataan. Kesal, karena ia tak diijinkan untuk menemui Mamanya untuk terakhir kalinya dalam keadaan hidup. Takut, untuk melihat apa yang akan terjadi pada sang ibu. Marah karena keputusan mengangkat Rob sebagai anggota keluarga Russell, salah satu cara balas budi karena mengungkap selubung yang dicari. Saat ini, Ia adalah ayah tirinya yang sah.
Begitu cerah, pagi dimana eksekusi akan dilaksanakan. Begitu anggun, Lisa Russell, meskipun balutan gaunnya tergantikan oleh kain lusuh yang dikatakan merupakan ganjaran status untuk apa yang diperbuatnya. Hanya saja hari itu muncul suatu pertanyaan di benak para eksekutor. Sewaktu ditangkap, Lisa memberontak dan berteriak bahwa ia tak bersalah. Semua orang berpikir itu reaksi penolakan wajar ketika seorang yang bersalah diketahui perbuatannya. Namun, yang membuat mereka bingung adalah kata-kata yang diucapkannya di depan guillotine.
"Anakku sayang…Athemaria…larilah…"
Tebasan guillotine membawa bisikan suara itu pada para saksi yang memandangnya penuh tanda tanya. Genangan darah bagai kelopak bunga yang gugur menjawab sunyi akan kenyataan yang telah terkubur bersama hilangnya pelita hidup.
Hari itu, setalah berita bahwa ekekusi telah dilaksanakan,sang Nona termenung sunyi. Dalam balutan gaun hitam tanda berkabung…memainkan not-not balok dalam kertas partitur di atas tuts piano di ruang besar. Memainkan lagu masa kecil dimana ketika ia, sang ayah, dan ibunya masih tersenyum dalam indahnya waktu.
Delima berkabung, ketika kelopak mawar gugur.
Ketika surya bersinar lembut dalam putihnya selimut awan dan biru langit musim panas…
Bersambung…
Duh…maafkan daku baru melanjutkan ini. Daku hilang mood setelah abis-abisan untuk White Screen Rebellion…(Mana si Kai malah lupa sama sekali dengan crita ini..c gue jadinya ngetik ndiri sambil membayangkan cerita berdasarkan kerangka yg dulu deh…)Update selanjutnya mungkin akan terhambat. Karena mulai minggu depan, saya harus siap-siap untuk ospek dan masuk kuliah…TT (skarang lg ktik tugas essai nih..)
Semoga kalian suka ceritanya!
Review please
