The Dying Game

x

x

x

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

x

x

x

Shika's Mansion. Manor house bergaya chateau[1], berdiri megah di atas lahan seluas ratusan hektar yang terletak di pinggir hutan Nara.

Pepohonan rindang membentengi rumah besar itu di semua sisi, menciptakan kesan gelap dan misterius meski pada kenyataannya rumah bercat putih itu terlihat mewah dan elegan jika diamati dari dekat.

Halaman depannya hampir seluas lapangan sepak bola dengan air mancur dari batuan granit berbentuk lingkaran yang dicat warna hijau terang, kontras dengan rumah besar di belakangnya.

Rerumputan dan semak-semak di sekelilingnya terpangkas rapi, dengan deretan tanaman bunga beraneka warna yang dirawat dengan kesungguhan hati.

Memasuki bagian dalam rumah, persiapkanlah dirimu untuk terperangah. Baru menjejakkan kaki di entrance hall[2] saja, kau akan disuguhkan kemewahan tiada tara.

Tak jauh dari pintu masuk, kau akan langsung disambut oleh bunga-bunga segar di dalam pot keramik yang diletakkan di atas meja kaca berbentuk oval.

Rak drawer dari kayu berkualitas tinggi ditempatkan di sebelah kanannya dengan cermin seukuran layar TV empat puluh delapan inch yang menggantung di atasnya.

Warna putih dan pastel berpadu serasi melapisi dinding-dindingnya. Tirai-tirai cantik berbahan sutra dengan aksen renda membingkai setiap sisi jendela.

Pagi itu lampu-lampu telah dimatikan. Namun... Sinar matahari yang dipersilakan masuk melalui jendela-jendela besar sama sekali tak mengurangi kemegahan double grand staircase dan lampu hias gantung dari kristal swarovski berukuran raksasa yang merupakan objek utama dari keseluruhan entrance hall ini.

Dua tangga besar terbuat batu marmer paling bagus, melengkung cantik hingga kedua ujungnya saling bertemu di puncak.

Railingnya terbuat dari besi tempa furnish[3], dibentuk menyerupai bunga dengan aksen yang rumit dan dilapisi cat warna keemasan yang berkilauan.

Entrance hall hanyalah secuil dari keseluruhan istana megah Shikamaru yang kerap disebutnya sebagai markas.

Walau sudah sering berkunjung ke mansion ini, Sakura selalu merasa terpana dengan kemewahannya. Perabotannya dipilih dengan cita rasa tinggi. Tak asal comot hanya untuk melambungkan gengsi.

Walaupun demikian, wanita berambut merah muda itu hanya senang mengagumi tanpa pernah bermimpi dapat memiliki, sebagaimana perasaannya pada Sasuke yang berjalan di sampingnya tanpa ekspresi.

Keduanya melintasi foyer, menuju ke home office yang tersembunyi di antara perpustakaan dan ruang kerja Shikamaru.

Semua agen yang ditugaskan dalam kasus Pembunuhan Ratu Kecantikan telah menempati kursinya masing-masing ketika mereka memasuki ruangan itu.

Tenten dan Shino duduk berdampingan membelakangi jendela. Terpaut satu bangku dari mereka, Chouji sedang menatap layar komputer di hadapannya, sementara mulutnya asyik mengunyah keripik kentang.

Sakura menyapa ketiga rekannya sebelum menempati kursinya di depan Tenten. Sasuke memilih kursi paling ujung, menjauh dari semua orang.

Home office tersebut merupakan satu-satunya anomali dari Shika's Mansion. Tidak seperti ruangan lain yang mengadopsi style Parisian yang klasik, home office didesain lebih modern dan minimalis dengan segenap fasilitas berteknologi canggih, seperti layar monitor seukuran dinding yang tak hanya difungsikan untuk memantau seluruh area mansion dan sekitarnya, tapi bisa juga dihubungkan dengan satelit dan berfungsi sebagai peta raksasa.

Sepuluh menit kemudian, Shikamaru memasuki ruangan dengan wajah muram, diikuti Udon yang membawa beberapa map tebal.

Sang pemilik rumah menduduki singgasananya di ujung, berseberangan dengan Sasuke yang tak sedikit pun mengalihkan pandangan dari Sakura yang memahat senyum ketika Udon memilih kursi di sebelahnya.

"Baiklah." Shikamaru membuka suara. "Langsung saja kita mulai rapatnya."

Shino mengemukakan hasil investigasinya tentang kasus pembunuhan Haruna Shun.

Tidak ada yang mencurigakan dari pemilik dan para penghuni apartemen. Alibi mereka sempurna. Tenten pun mengutarakan hal serupa mengenai alibi keluarga, rekan kerja, dan teman dekat korban.

"Sebulan yang lalu korban sempat dirundung masalah finansial karena terlilit hutang. Ia sering menyendiri dan menghindar dari teman-temannya. Tapi, beberapa hari sebelum kematiannya, korban tampak lebih bahagia... Salah satu sahabatnya mengatakan bahwa korban tengah menjalin hubungan dengan seorang pria yang berjanji akan membantu masalah keuangannya," ungkap Tenten mengakhiri penjelasannya.

"Membantu masalah keuangan yaa. Berarti dia pria kaya dong!"

Ujaran reflek tersebut bukan meluncur dari sang pemilik IQ di atas dua ratus, melainkan dari sahabat karibnya yang sudah menghabiskan empat kantong besar keripik kentang dalam waktu kurang dari setengah jam.

Seluruh pandangan mata terarah pada Chouji yang cuek saja mengelap remah-remah bumbu yang menempel di pipinya dengan kertas yang terletak paling dekat dengan tangan gempalnya.

"Semua laki-laki yang sanggup membeli parfum seharga satu setengah milyar dollar tentu saja kaya raya, Chouji!"

Tenten menanggapi rekannya tanpa memedulikan perasaan sang boss yang baru saja disiksa Temari Kazekage dengan interogasi berbelit-belit hanya karena membeli sebotol parfum.

Lagipula... Memangnya sejak kapan Shikamaru Nara memiliki perasaan?

Sakura mengeluarkan notesnya dari dalam tas. "Aku sudah membuat daftar semua orang yang membeli parfum Imperial Grandeur No.1 di seluruh negara bagian," katanya seraya memperlihatkan catatannya pada Shikamaru.

"Setelah menelusuri alibi dan aktifitas terbaru mereka, hanya tersisa lima orang yang bisa dikaitkan dengan para korban pembunuhan," imbuhnya.

Shikamaru membacanya sekilas. Ia mengernyit ketika mendapati namanya juga tertera dalam catatan Sakura.

"Maaf, Boss. Aku hanya berusaha menuliskan informasi apa adanya," wanita itu berkilah.

Pria Nara itu hanya merengut menanggapi kelakuan para agennya yang tak punya hati, namun ia tak mempermasalahkan hal tersebut, sebab ranah pekerjaan yang mereka geluti memang mengharuskan tak melibatkan urusan hati. Seharusnya.

"Kau bisa mengumpulkan semua data itu dalam waktu semalam? Hebat juga dirimu!" Tenten memuji juniornya terang-terangan. Chouji dan Shino pun menunjukkan gelagat serupa meski tak menyuarakannya.

Sakura menarik bibirnya membentuk sebuah senyum tipis. "Aku mendapat banyak bantuan dari Udon," ujarnya rendah hati seraya menyikut pelan pemuda berkacamata di sampingnya itu dan berucap, "terima kasih banyak yaa."

"Saya senang bisa berguna bagi Anda, Sakura-san."

Tak ada yang aneh dengan pernyataan Udon yang dibarengi dengan senyuman penuh ketulusan barusan.

Semua orang di ruangan itu menanggapinya biasa saja, kecuali pria berambut hitam kebiruan di ujung sana yang meskipun tampangnya kusut, namun tak mengurangi ketampanan alaminya. Pria itu memandang Udon dengan murka seakan ia telah melakukan sebuah dosa.

Shikamaru berdeham, seperti mengetahui upaya intimidasi yang tengah dilancarkan Sasuke pada agen termudanya.

"Berarti kita memiliki empat tersangka baru dalam kasus ini... Selain aku tentunya," pria itu menekankan kata-kata terakhirnya lalu menyerahkan kertas catatan Sakura pada Tenten.

Udon kemudian bangkit dan mengedarkan map tebal yang tadi dibawanya kepada semua orang termasuk Sasuke.

"Utakata Saiken, Neji Hyuuga, Hidan Akatsuki dan Atsui Kaengiri," ujar Shino seraya membaca lembaran informasi mengenai keempat pria tersebut dari balik kacamata hitamnya. Pria itu mengelus dagunya, tampak memikirkan sesuatu.

"Para pria tampan yaa... Kaya raya pula."

Tenten bersiul riang ketika menemukan kesamaan dari para tersangka dalam catatan Sakura. Seluruh pria tersebut memiliki kekayaan yang hampir menyamai bahkan ada yang melebihi Shikamaru.

Usia mereka pun rata-rata masih terbilang muda, belum mencapai empat puluh tahun. Memiliki pekerjaan yang bergengsi dan cukup mapan serta bergaya hidup mewah. Benar-benar kandidat tepat untuk dijadikan pasangan hidup.

"Syukurlah pria tampan dan kaya raya di dunia ini tidak hanya Shikamaru dan Sasuke." Sisi materialistis Tenten mulai mendominasi.

"Sepertinya kita harus mengeliminasi Neji Hyuuga..." Sasuke angkat bicara. Ia kembali melanjutkan pendapatnya ketika atensi semua orang tertuju padanya.

"Aku sangat mengenal Neji. Mungkin sikapnya terlalu kaku dan dingin, tapi menyakiti seekor lalat saja ia takkan sanggup apalagi menghabisi nyawa seseorang."

Shikamaru mengangkat alisnya dan bertanya pada Sasuke. "Kau yakin?"

Sasuke hanya menjawab dengan sebuah anggukan pelan, lalu membelokkan pandangannya ke arah Sakura.

"Kau memasukkan Neji ke dalam daftarmu karena persahabatannya dengan Koyuki kan?!"

Bahu Sakura seketika menegang saat Sasuke mencecarnya dengan pertanyaan telak bernada sinis. Memang itu alasan Sakura mencantumkan nama Neji Hyuuga ke dalam daftarnya.

Entah suatu kebetulan atau tidak, alibi Neji tak dapat dijelaskan pada waktu kematian Koyuki.

Pintu apartemen Koyuki tidak dirusak. Hal itu menyiratkan bahwa Koyuki mengenal sang pembunuh sehingga ia mempersilakannya masuk begitu saja. Namun tidak ada yang menanyakan keterlibatan Neji Hyuuga karena perkara parfum baru terkuak tiga tahun kemudian.

"Sakura hanya menjalankan tugasnya. Dia bahkan memasukkan bossnya sendiri ke dalam daftar tersangka." Tenten menyemburkan pembelaannya terhadap sang rekan dengan sikap tak kalah sinis.

Sejujurnya ia tak menyukai kehadiran Sasuke di Shika's Mansion maupun dalam kasus pembunuhan Ratu Kecantikan meski pria sombong itu telah mengeluarkan uang tak sedikit untuk membayar mereka.

"Baiklah..." Shikamaru agak mengeraskan suaranya untuk mendinginkan suasana tak kondusif di home office.

"Kita akan menurunkan skala prioritas penyidikan terhadap Neji Hyuuga," katanya pada Sasuke.

"Tapi kita tetap akan mencari informasi tentang alibinya di malam pembunuhan Koyuki."

"Aku akan menyelidiki Neji Hyuuga." Ujung bibir Tenten terangkat sedikit.

"Kalau boleh sih," wanita itu menelengkan kepalanya, meminta persetujuan sang boss di ujung meja.

"Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui yaa..." Sindiran halus Chouji mengudara.

Tenten memutar bola matanya, mendelik tajam ke arah pria bertubuh gempal yang sejak tadi masih mengunyah cemilannya.

"Is that any problem?"

"Enggak sih. Iya kan, Shino?!"

Seperti biasa, Chouji selalu berlindung di balik rekannya yang tak banyak bicara itu jika ia mulai meyulut kemarahan Tenten.

Shino hanya menghela napas. Tangannya sibuk menulis sesuatu di kertas, tak memedulikan konfrontasi yang mungkin akan terjadi sebentar lagi.

Shikamaru menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, bertanya-tanya dalam hati mengapa ia mempekerjakan orang-orang yang suka bersikap dan berbicara seenaknya.

Inilah salah satu alasannya mengapa ia menerima Sakura dalam agensinya. Wanita itu cukup sopan dan sangat manis jika dibandingkan Tenten, Ino maupun Temari.

"Ahh... Temari." Seberkas kerinduan membuncah di dadanya ketika teringat kembali dengan Temari yang memesona.

Shikamaru merengut sebal. "Tak ada waktu memikirkan wanita keras kepala itu!" Ia harus kembali fokus pada penyelidikan mereka yang mulai menemukan titik terang.

Shikamaru menutup map tebal di hadapannya, melipat kedua sikunya di atas meja. Matanya memandang semua orang secara bergantian. Kesunyian membungkam situasi di home office dalam sekejap ketika Shikamaru menunjukkan keseriusannya.

"Sudah diputuskan." Shikamaru membuka suara setelah beberapa menit.

"Kau menyelidiki Neji Hyuuga seperti keinginanmu," katanya pada Tenten yang langsung dibalas dengan ucapan terima kasih seperti seorang gadis yang mendapat persetujuan kencan dari ayahnya.

"Penyelidikan Atsui Kaengiri dan Hidan Akatsuki akan diurus oleh Shino dan Chouji."

Shikamaru kemudian beralih pada Sakura. "Kuserahkan Utakata Saiken padamu yaa," katanya pada wanita itu. "Lalu, Udon..."

"Saya siap membantu semua penyelidikan mereka dari sini, Sir." Udon menyela perkataan sang boss dengan sikap penuh semangat.

Shikamaru hanya mengangkat bahu, namun ia cukup senang karena Udon sudah mengerti tugasnya tanpa harus diperintah.

Sakura mengangkat satu tangannya, tampak keberatan dengan perintah sang atasan. "Maaf... Bolehkah aku menyelidiki Hidan Akatsuki?"

"Aku pernah menyelidiki Hidan Akatsuki ketika masih bergabung dengan kepolisian Konoha dan masih menyimpan sebagian data mengenai pria itu, sehingga aku tidak harus memulainya dari awal." Wanita itu menjelaskan alasannya.

Shikamaru tampak berpikir sejenak. Ia dan Sasuke saling bertukar pandang beberapa saat.

"Baiklah. Urusan Hidan Akatsuki kuserahkan padamu," ujar pria itu. "Dan Sasuke..." Lagi-lagi seseorang memotong pembicaraannya.

"Aku akan mengawasi Hidan Akatsuki," kata Sasuke dengan suara rendah dan dalam, sarat akan ultimatum, tak dapat disanggah maupun dibantah.

xxxxxxxxxx

Drawing room[4] yang berukuran lebih sempit dari home office terasa lengang meski ada sebuah grand piano dan seorang Chouji Akimichi yang mendominasi meja tulis di sudut ruangan.

Shikamaru menata drawing roomnya agar terkesan lebih homey dengan potret beberapa anggota keluarga Nara dan sahabat dekat sang pemilik rumah terpampang di dindingnya dan di atas buffet.

Sasuke meraih sebuah pigura berbingkai kayu antik dari meja kaca di depannya. Pigura itu memuat foto wisuda dirinya dan Shikamaru, berdiri berdampingan, menunjukkan senyum penuh kemenangan karena berhasil lulus dengan predikat cumlaude.

Seberkas kehangatan meleleh di lubuk hatinya ketika menatap foto tersebut.

Rapat kali ini tak memakan waktu lama, atau begitulah menurut pemikiran Sasuke. Rapat terakhir yang diikutinya adalah ketika Shikamaru dan timnya menangani kasus pembunuhan Pakura Shakuton, mantan Miss Sunagakure, sekitar delapan bulan yang lalu.

Seperti yang diungkapkan Shikamaru di Rumah Sakit Kirigakure, mereka mendapat petunjuk baru mengenai kasus pembunuhan kali ini.

"Sebuah titik terang yang kemungkinan besar akan menguak identitas si pembunuh." Perkataan Sakura terngiang kembali dalam benaknya.

"Sakura..." Tanpa sadar ia menggumamkan nama wanita itu seiring hembusan angin yang menyusup melalui jendela.

Sudut matanya melirik ke arah Chouji yang tampak kewalahan memunguti lembaran-lembaran dokumen yang terjatuh diterbangkan angin dari atas meja. Sepertinya pria itu tidak mendengar gumaman Sasuke barusan.

"Sakura..."

Entah mengapa nama itu begitu gampang meluncur dari bibirnya. Seperti mudahnya mengucapkan 'selamat datang' dan 'mari makan', nama Sakura seakan sudah diajarkan kepadanya sejak ia mulai belajar bicara.

Tak hanya namanya yang berdaya magis, figure cantik Sakura pun mulai menjejakkan eksistensi dalam hatinya yang hampa. Membawa serta angan-angan yang telah lama hilang. Menggelorakan hasrat dari kedalaman jiwa. Mengantarkannya ke puncak kenikmatan tiada tara.

Pria Uchiha itu mengira kalau ia akan terlupa dengan sang wanita berambut merah muda setelah pelepasan hebat kemarin malam.

Namun nyatanya, Sasuke malah semakin terperangkap dalam jerat dahaga.

Haus akan pengakuan dan kepedulian yang telah lama hilang dari dirinya. Butuh desahan sang wanita mendengung-dengungkan namanya.

Sasuke duduk di sofanya dengan gelisah, berulang kali mengubah posisi.

Karpet tebal berbahan wol yang melapisi hampir seluruh lantai ruangan tak berpintu itu kelihatannya cukup berhasil meredam hentakkan bertubi-tubi dari sepatunya, karena tak terdengar apa pun di sana selain bunyi renyahan keripik kentang yang beradu dengan gigi Chouji.

Napas Sasuke terasa berat, seakan ada penghalang yang mengganjal paru-parunya. Decakan pelan terlontar dari mulutnya ketika pria itu mengacak-ngacak rambut gelapnya.

Sesekali tatapannya mengarah pada pintu ganda yang masih tertutup di hadapannya.

"Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana?! Kenapa lama sekali?!"

Sudah lebih dari dua puluh menit, tapi Shikamaru dan Sakura belum keluar juga dari home office.

Setelah mengakhiri rapat, Shikamaru meminta Sakura tetap tinggal bersamanya. Tentu saja tak ada yang mempertanyakan hal tersebut, mengingat rumah besar ini adalah milik Shikamaru Nara, sehingga pria itu bebas melakukan apa saja.

Bermesraan dengan Sakura misalnya.

Shikamaru cukup tampan, sangat mapan dengan agensi penyidik pribadi yang belum lama didirikannya, berasal dari keluarga terpandang dan juga kaya raya.

Wanita manapun akan bertekuk lutut di hadapan Shikamaru, berharap menjadi Nyonya Nara di istana ini. Sakura pasti terpikat dengan semua itu.

Membayangkan Sakura dan Shikamaru berciuman di balik pintu besar itu sungguh menyiksa Sasuke. Seharusnya dia yang berada di sana. Bukan Shikamaru.

Sasuke sudah setengah membayangkan dirinya melumat bibir tipis Sakura sementara jemarinya menjelajahi tubuh wanita itu, menurunkan celananya dan menggagahi Sakura di atas meja.

Rasa frustasi dan hasrat seksual kian menggelegak dalam dirinya. Sasuke pun akhirnya bangkit dan mengayunkan langkah-langkah besarnya menuju home office dengan tak sabar.

xxxxxxxxxx

"Apa kau yakin dengan teorimu?"

Sakura mengangguk mantap. Dirinya tak pernah seyakin ini sebelumnya.

Pernyataan Haruka Shun mengenai parfum Imperial Grandeur No.1 benar-benar membawa angin segar dalam penyelidikannya. Benang merah yang tak kasat mata itu kembali terjalin setelah sempat terputus tiga tahun lalu.

Sakura pernah menyelidiki Hidan Akatsuki ketika masih tergabung dalam tim investigasi Kepolisan Konoha mengenai kasus pembunuhan Koyuki Uchiha.

Sasuke mungkin saja tak mengenal pria itu secara personal dan memastikan kalau istrinya tak memiliki hubungan apa pun dengan Hidan. Tapi, pernyataan sahabat dekat Koyuki dan asistennya berlawanan dengan Sasuke.

Beberapa minggu sebelum kematiannya, Koyuki sering menemui Hidan Akatsuki tanpa sepengetahuan Sasuke. Tentu saja informasi tersebut berusaha disembunyikan oleh asisten Koyuki dan sahabat dekatnya yang beranggapan kalau Koyuki menjalin hubungan serius dengan Hidan walaupun tidak terbukti.

"Dulu aku pernah mewawancarai teman dekat Sayuri Hanayori dan Mito Jujo. Mereka semua mengatakan hal yang sama; seorang pria mendatangi Sayuri dan Mito saat keduanya mengalami masalah finansial dan ketika aku memperlihatkan foto Hidan..."

"Mereka langsung mengkonfirmasinya," pungkas Shikamaru.

"Benar. Tak hanya itu... " Sakura mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari dalam map yang diberikan Udon, lalu menjejerkannya di hadapan Shikamaru.

"Tiga tahun belakangan, setiap bulan April, seorang mantan Ratu Kecantikan berambut merah terbunuh," kata wanita itu seraya menunjukkan beberapa foto.

"Mito Jujo, Akane Sakurada dan Maki Nishikino. Semuanya mantan Ratu Kecantikan. Semuanya dibunuh di bulan April. Semuanya memiliki rambut merah."

Shikamaru terhenyak. Sejak awal ia sudah menduga kalau kasus pembunuhan Ratu Kecantikan belum terkuak seluruhnya.

Koyuki Uchiha bukanlah korban pertama. FBI berhasil menemukan dua korban lainnya yang dibunuh sebelum Koyuki dan korban-korban lain akan kembali berjatuhan jika mereka dan FBI tak menghentikannya.

Tapi sebelum itu... Mereka harus mengungkap identitas si pembunuh.

"Bulan depan adalah bulan April." Suara lembut Sakura membuyarkan pikiran Shikamaru.

"Jika kita bisa menemukan seorang mantan Ratu Kecantikan yang berambut merah, mungkin saja kita bisa menjebak si pembunuh."

Pria Nara itu terkesiap mendengar gagasan yang dicetuskan Sakura. Ia memijit pelipisnya seraya menyandarkan punggungnya di kursi. Matanya tak beralih dari wanita cantik yang duduk di sebelahnya sambil mencatat sesuatu di bukunya.

Sakura terlihat lebih kurus. Matanya tampak sayu dan lelah. Sepertinya wanita itu menghabiskan malamnya dengan mencari informasi mengenai pembeli parfum mahal tersebut.

Shikamaru merasa agak bersalah, tapi begitulah konsekuensinya bekerja sebagai penyidik swasta. Tak ada jam kerja yang jelas sehingga kau harus pintar-pintar mengatur waktu tidurmu.

Pria itu menghela napas. Biasanya ia tak pernah memercayai apa pun dan siapa pun kecuali nalarnya sendiri.

Jika ada hal lain yang dibanggakan Shikamaru Nara selain uangnya, maka itu adalah otak geniusnya dan Shikamaru berhasil memanfaatkan kemampuan otaknya tersebut menjadi pundi-pundi uang yang mengisi rekening banknya.

Tapi sejak kembalinya Sasuke dalam kasus ini, firasat buruk kerap menghinggapinya, sekeras apa pun usahanya mengenyahkan perasaan tak enak itu.

Melihat kerja keras Sakura mengungkap kasus ini demi Sasuke sungguh membebani pikirannya.

Walaupun Sakura selalu berkelit kalau dia terlibat dalam kasus pembunuhan Ratu Kecantikan karena Sasuke, tapi Shikamaru dan semua orang tahu bahwa wanita itu berbohong.

Sakura telah mengorbankan banyak hal demi perasaannya pada Sasuke. Karirnya di kepolisian, masa depannya yang cerah, dan juga kehidupannya.

Shikamaru tak ingin Sakura berkorban lebih dari itu. Shikamaru tak ingin wanita itu mengorbankan nyawanya demi Sasuke.

Pintu besar di belakang Sakura tiba-tiba terbuka lebar, mengejutkan Sakura dan Shikamaru yang reflek menoleh ke arah Sasuke Uchiha yang sudah berdiri di ambang pintu dengan mata berkilat-kilat seperti ada kobaran api di dalamnya.

Sasuke memandang tepat ke mata Sakura.

"Aku lapar," katanya dengan nada memerintah yang kekanak-kanakkan.

"Bayi besarmu merengek minta makan tuh." Shikamaru berbisik pelan di telinga Sakura, kemudian bangkit dan meninggalkan home office, tak memedulikan delikan tajam Sasuke yang mengekornya ketika ia melewati pria itu di pintu.

Sakura hanya mengukir senyum singkat. Ia membereskan dokumen-dokumen ke dalam map, memasukkan buku catatan dan laptopnya ke dalam tas jinjing yang ia sampirkan di bahu, lantas menghampiri Sasuke.

"Ayo kita makan."

x

x

x

to be continued

x

x

x

[1]. Chateau = kastil Perancis. Parisian merupakan gaya arsitekturnya.

[2]. Entrance hall memiliki arti yang sama dengan foyer. Di sini kita nyebutnya selasar atau aula kali yaa. Entrance hall biasanya untuk rumah besar (manor). Kalo rumahnya lebih kecil disebut foyer. Intinya buat nunjukkin 'identitas' sang pemilik rumah. Gengsi dan sebagainya lah. Hehehe.

[3]. Furnish maksudnya ornamen. Besi tempa furnish maksudnya besi yang memiliki ornamen, seperti ulir, gepeng, dan sebagainya. Susah juga saya menggambarkannya. Hehehe.

[4]. Drawing room = Semacem ruang duduk. Kalo di manor house biasanya mereka punya beberapa ruang duduk. Living room biasanya buat ruang duduk formal (buat menyambut tamu biasanya). Kalo drawing room lebih kaya ruang duduk keluarga.

Huaaa... Tak kusangka chapter ini bakalan panjang. Maap-keun gak ada romance kali ini sebab chapter ini khusus mengungkap beberapa petunjuk, mumpung masih fresh dalam ingatan saya. Hehehe.

Sebagaimana dikatakan di chapter sebelumnya, fic ini terinpirasi dari novel berjudul sama. Tapi, ada beberapa hal yang saya ganti; seperti Sakura yang memecahkan petunjuk untuk mengungkap identitas pelakunya (bukan tokoh sang detektif seperti yang di novelnya). Dan petunjuk-petunjuk dalam fic ini pun akan sedikit berbeda dengan versi novelnya.

Beberapa nama korban pembunuhan, saya catut dari karakter anime lain yang disesuaikan dengan plot. Tidak OC di sini karena saya minim kreatifitas T.T

Semoga chapter kali ini cukup menghibur reader sekalian. Sorry kalo rada berantakan karena apdetnya di hp.

Terima kasih sudah berkenan mampir, baca, review, follow dan favorite fic gaje ini :')

Beberapa review sudah saya balas personally lewat PM. Sekali lagi terima kasih :)

Feel free to critic and review. Thanks anyway :)