Ibu jari menekan salah satu aplikasi terpopuler yang juga dipakai oleh teman satu kelasnya
..
Blackberry Messenger
Chats . Feeds* . Contact . Groups*
XI MIA 2
Desc: XI MIA 2, SK Ent. *emot lingkaran ibu jari dan telunjuk*
General Discussion
Kise Ryouko― Denger2 besok ada guru baru ssu? :3 [19.17]
Shougo― Bodo. [19.17]
Yuuya M― Bodo. (2) [19.18]
Shintarou― Guru yang mana? [19.18]
Kagami― Bodo. (123) [19.19]
Kise Ryouko― Njir reaksinya basis belakang [19.19]
Kise Ryouko― Itu loooh yang fisika sih katanya. Honorer, masih muda sih denger2 dari kelas lain ssu. [19.19]
Satsuki Momo― Oh, Pak Kiyoshi itu ya? [19.20]
Kazu― Wah, ya moga aja ga galak [19.21]
M. Reo ;)― Masih muda? Duh kecengan w ini mah :9 [19.21]
Yuuya M― Anjir Reo [19.23]
Ig: wsousuke― ^ (2) [19.23]
Shougo― ^ (3) [19.24]
..
..
..
Kelas 11
..
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Friendship, General, Romance (seiring berkembangnya jalan cerita)
T+ for bahasa
Warning: sangat OOC, typos, Indonesian!AU, bahasa tidak baku dan kasar, genderbend, straight, Bokushi!Aka.
[Hint Couple: Muraxfem!Himu]
A/N: 1) Latar di Indonesia dengan keseharian anak SMA pada umumnya. 2) Beberapa terinspirasi dari kisah nyata yang sedikit diremake.
..
..
..
Guru Baru
Pelajaran Kimia Pak Naoto pagi itu sudah berakhir. Beberapa kaum hawa XI MIA 2 jadi tidak sabar untuk memulai pelajaran kedua karena adanya kabar bahwa sekolah mereka menerima guru baru yang bekerja honorer sebagai guru fisika dan ditempatkan pada sebagian kelas 11, termasuk kelas mereka.
"Emang gurunya kayak gimana?"
"Ganteng sih katanya," Kouko menjawab saat Tetsuna bertanya demikian.
"Gantengan juga bapak gue!" Shin berceletuk ketika mendengar jawaban Kouko. Teman semejanya itu langsung mencubit gemas lengan Shin. "Bapak lu udah berumur. Yang ini masih fresh!"
"Dikata daging gitu ya, masih fresh." Tetsuna mencibir dengan ekspresi datarnya. Shigehiko tidak terima, karena ia sudah melihat sendiri bagaimana tampang (calon) guru fisika mereka.
Tak lama, Seijuurou dan Shintarou kembali ke kelas setelah ijin untuk memanggil beliau.
"Selamat pagi."
Ada efek bling-bling yang terasa ketika guru tersebut memasuki ruang kelas. Senyum lebar hingga kedua mata yang menyipit―tak diragukan lagi, guru fisika ini pasti orangnya asyik!
Beberapa gadis seperti Ryouko dan Satsuki langsung menjawab "Pagiiii~!" dengan semangat, sementara siswa basis belakang menyambutnya setengah hati.
Atsushi sendiri sedikit antusias ketika sang guru berdiri di depan dan memperkenalkan diri.
"Oke, nama saya Teppei Kiyoshi. Baru lulus Pendidikan Fisika UPI tahun kemarin, terus pindah ngajar ke SMA Teikou dan sebelumnya pernah ngajar di SMA Seirin."
Beberapa murid hanya mengangguk tanda mengerti. Apapun itu, mereka semangat memulai pelajaran dengan guru kind-hearted itu pagi ini.
"Ada yang mau ditanyakan?"
Kouichi mengangkat tangan. "Bapak ga akan sering ngasih ulangan mendadak kan?"
Kouichi Kawahara. 16 tahun. Trauma akan masa kelam kelas 10 dengan pelajaran fisika yang seringkali melakukan ulangan dadakan dan tidak ada waktu untuk buka catatan karena guru yang bersangkutan langsung mendiktekan soal.
Pak Kiyoshi tersenyum. "Nggak akan ada kok. Bapak mau pakai cara seringnya ulangan waktu kuliah aja. Ujian open book atau di bawa pulang ke rumah."
Riuh satu kelas mengudara. Mereka mulai menjadikan Pak Kiyoshi guru terfavorit selama mereka menjalani kehidupan sebagai murid kelas 11 untuk dua semester ke depan.
Satsuki kesengsem. Sudah ramah, berbaik hati pada tugas atau ulangan harian pula! Duh, ini sih, tipenya Satsuki banget. Segera saja gadis pinkish itu mengangkat tangan dengan antusias. "Bapak masih jomblo enggak?"
Krik.
'Anjir.'― Daiki Aomine. 16 tahun. Kantuknya langsung hilang kala childhood friendnya bertanya demikian. 'Asli si Satsuki malu-maluin banget.'
Lagi-lagi Pak Kiyoshi mematri senyum. "Nak, sudah punya buku paket fisika?"
"Udah dong, Pak!" Balasnya dengan senyum yang sama.
"Buka halaman tiga satu, kerjain nomor satu sama dua, nanti kumpulin ke bapak pas istirahat ya."
"KOK GITU―"
Satsuki pundung di bangkunya, sementara Ryouna menepuk pundak sang gadis berulang kali sebagai rasa simpati.
Pak Kiyoshi tertawa pelan. "Gapapa, nanti bakal saya ajarin kok caranya. Ini sih, materinya gampang."
Mendengar kata terakhir terucap, Shigehiko refleks membuka buku cetaknya halaman sekian. Ia meneliti, lalu sedikit mengerutkan dahi. Kalau ini sih, ia lumayan bisa karena masih tahap dasar.
"Baiklah, kita mulai pelajarannya ya."
..
..
..
Kazuna Takao dari menit pertama Pak Kiyoshi menulis materi pelajaran mereka hingga menit ketujuh guru tersebut menerangkan, ia berulang kali menoleh pada jam tangannya. Memastikan waktu istirahat yang entah mengapa terasa lamaaaaaaaaaa sekali.
Ryouko baru menulis setengah dari materi yang tertulis pada satu papan tulis di depan sana. Wajahnya juga menunjukkan raut kebosanan. Ia beralih pada Kazuna yang sudah mulai merasakan kantuk. "Takaocchi udah nyatet sampai mana ssu?"
Kazuna melirik. "Boro-boro nyatet. Ngerti tulisannya aja nggak!" desisnya.
Benarlah apa yang dikatakan gadis itu.
"Besar perpindahan dinyatakan sebagai delta r sama dengan akar delta x pangkat dua ditambah delta y pangkat dua." Beliau lanjut menulis rumus. "Sampai sini, mengerti?"
"Pak," panggil Shinka sambil mengacungkan tangan. Seluruh mata memandang pada gadis tersebut. Pak Kiyoshi menghentikan penjelasannya. "Iya, bagian mana yang gak kamu pahami, Nak?"
"Itu," tangannya teracung pada sebaris pertama kalimat yang ditulis. "Tulisannya 'vektor posisi pa―apa ya? Maaf Pak, soalnya tulisan bapak ga kebaca."
Pak Kiyoshi senyum. "Vektor posisi partikel. Wah, gak kebaca ya?"
"Iya, Pak," ungkap gadis itu polos. 'Gak kebaca semua malah,' tambahnya dalam hati. Kazuna sweatdrop. 'Ini anak blak-blakan banget. Kasian juga sih sama si bapak.'
Masalah terselesaikan. Pak Kiyoshi kembali mencatat di papan tulis. "Ini contoh soalnya...,"
Basis belakang mulai ramai. Reo sampai bergumam, "Ini si bapak ngajarin kita atau ngajak papan tulisnya ngomong sih? Tulisan gak kebaca, neranginnya juga cepet banget."
Koutarou yang saat itu sedang memainkan game pada ponselnya di bawah meja (jangan ditiru, serius jangan!) langsung menimpali, "Ah udahlah ga usah dipeduliin, Mbak. Lagian juga gak jelas gitu kita mau nulis apaan coba."
Pemuda gemulai itu langsung memukul kepala Koutarou dengan buku cetak fisika miliknya yang setebal 406 halaman.
Nada dering suatu ponsel berbunyi nyaring. Shougo yang memang sedang memegang ponsel untuk bermain game di bawah mejanya, berjengit.
"Punya lu?" Sousuke bertanya pelan. Pemuda abu itu menggeleng cepat. Pasalnya, nada panggilan itu sama dengan miliknya. Namun ternyata milik Pak Kiyoshi.
"Eeh―kamu, kamu," tunjuknya pada Tatsura yang langsung terkejut. "Kerjain soal di depan. Bapak ada urusan bentar." Setelahnya beliau keluar kelas untuk mengangkat panggilan.
Tatsura langsung keringat dingin.
"E-eh ini gimana...," kini gadis itu sedang terpaku di depan papan tulis sambil memegang spidol dan buku cetak di tangan lainnya. Ia tidak membawa buku tulis karena yakin, catatannya banyak typo lantaran huruf sang guru tidak dapat diartikan dengan jelas.
Sebuah partikel bergerak dengan kedudukan r yang berubah menurut persamaan r = (t^2 + t) i 3tj. Tentukanlah besar dan arah perpindahan partikel tersebut dalam selang waktu t1 = 3 s sampai t2 = 5 s!
Padahal ini adalah soal yang cukup sederhana, namun sayangnya Tatsura tidak menangkap semua penjelasan Pak Kiyoshi.
Beberapa kali ia berganti pandangan. Buku cetak, papan tulis, buku cetak, papan tulis, sampai akhirnya ia menoleh ke arah Shinka, lalu dijawab dengan gelengan. Pada Kouko, dijawab dengan raut 'belum nemu jawaban pastinya!'
Pada Tetsuna...,
'Udah tau sih, tapi ga tau bener atau nggak.'
Wajah Tatsura sumringah. Dilihatnya Pak Kiyoshi masih berbicara dengan ponselnya di luar kelas. Gadis itu menatapnya, seolah meminta jawaban sambil mengedipkan sebelah mata beberapa kali. 'Ya udah mana sini, yang penting ada caranya. Lihat di paket malah mumet!'
Tetsuna menggeleng; ragu. 'Aku ga pakai cara di buku paket, tapi kayaknya bakalan salah gara-gara ga tau gimana ngitung tannya.'
Muka Tatsura memelas. 'Tetsuna pliiiisss!'
Sayangnya, gadis baby blue itu menolak dengan gelengan tegas. 'Maaf, jangan deh.'
'Tetsuna padahal kamu harapan terakhirku...' Karena Tatsura melihat sebagian besar raut-raut yang mengatakan 'Jangan gue! Ga bisa!' ketika ia menatap dengan pandangan memohon.
Sementara kedua gadis itu saling bertatapan dengan ekspresi berbeda, Shintarou memandangnya dengan heran. 'Mereka lagi telepati atau ngapain sih nanodayo.'
Tak ada pilihan lain. Tatsura menghela napas pasrah. Baiklah, ia harus mencobanya terlebih dahulu. Biarkan saja salah, yang penting terisi; begitu prinsipnya.
Tapi rasanya agak malu juga karena statusnya adalah pelajar dari kelas MIA.
"... Err―"
"Psst!"
Gadis itu menoleh pada Shinka yang memegang sebuah buku―entah milik siapa. "Ini, dari Murasakibara!"
Wajah Tatsura langsung cerah kembali. Ia tahu jika pemuda ungu tersebut memiliki keahlian dalam bidang fisika. Langsung disambarnya buku tulis itu, dan menyalin ulang hasil yang dikerjakan Murasakibara.
Jadi besar perpindahan partikel tersebut 18,9 meter dengan arah membentuk sudut 58,3 derajat―
"Sudah selesai?"
Tatsura langsung menegapkan badan. Begitupun dengan murid-murid lain ketika Pak Kiyoshi masuk kembali. "Sudah, Pak!"
"Ya sudah." Bel istirahat pertama dibunyikan. Beliau masuk hanya untuk mengambil buku, lalu pergi mengucap, "Selamat pagi."
"..." Di depan kelas, Tatsura terdiam karena hasil pekerjaannya tidak digubris.
'Sakitnya tuh di sini.'
Sebuah tangan menepuk pelan kepalanya. "Jangan nangis ya~" Kemudian berlalu mengikuti teman-temannya yang sudah keluar kelas.
Tatsura menghela napas, lalu menyusul langkahnya. "Aku gak nangis. Betewe, makasih buat tadi ya, Atsushi." Ia mematri senyum yang membuat pemuda raksasa itu memalingkan pandangan..
..
..
..
[END]
..
[A/N]
Mungkin saya kasih pengecualian buat Ryouko sama Shintarou yang masih pakai aksen macam "ssu" atau "nanodayo". Gapapa kan ya www. Materi fisika itu... ah lupa namanya apa /? pokoknya pelajaran pertama di kelas 11. Soalnya diambil dari buku paket fisika kelas 11 dan saya ngitung sendiri, jadi maaf aja kalau ada salah. Saya anak MIA yang kurang suka sama fisika soalnya /heh /malahcurhat.
