You're Not Alone
Pairing: The REAL couple in this world, YunJae! Slight Yuntoria (-_-'')
Other cast: Park Yoochun, Mrs Jung, and Mrs Song.
Genre: Drama, Romance, Hurt, Little bit Angst
Rate: T
Part: 8 of ?
Disclaimer: Yunho belongs to Yunho and Yunho belongs to Jaejoong!
Warning: It's YAOI, Gay, MalexMale, BoyxBoy, Shoneun-ai story. So, if you don't like YAOI story, just go back and don't read this story. Arraseo?!
Part sebelumnya…
Diamatinya wajah itu lagi, merenungi garis-garis wajah yang dikenalinya serupa mengenali dirinya sendiri. Apa yang akan dirasa Jaejoong saat mengetahui ia 'menyimpan' bayang perempuan lain yang kelak akan melahirkan anak untuknya?
Akankah dia akan marah atau justru setuju? Andai setuju, apakah dengan ikhlas atau terluka?
Denyut jantung Yunho berat seketika.
Terluka. Itulah jawaban yang terpilih.
Keringat dingin mengalir. Menggenanginya dengan kebimbangan yang menggelisahkan. Dia menemukan dirinya berhadapan dengan sesuatu serupa alat timbang. Menambahkan yang satu, akan mengurangi keseimbangan yang lain. Mengurangi yang lain akan menggoyahkan sisi sebaliknya. Berulang-ulang tak juga mencapai keseimbangan.
''Siapa bilang melukai?'' Sebuah bisikan sayup-sayup mendatangi Yunho. Menelusuri liang pendengarannya dengan nada membujuk seakan belaian lembut.
''Seumpama pisau. Tiada siapa pun yang terluka andai pintar dan rapat membungkus ketajamannya. Bila ahli dan tepat mengaplikasikannya, tajam pisau tidaklah melukai. Lihatlah keindahan kayu-kayu yang terukir, tak akan terwujud keindahan itu tanpa tajamnya pisau.''
''Apakah yang lebih melukai dari pengkhianatan?'' Sela sebuah suara lain. Entah bergerak dari mana, seakan mencoba untuk menghadang dan menghalau suara yang membujuk rayu.
''Serapi apa pun tebal pembungkus pisaumu, tak akan mengurangi tajamnya pisau pengkhianatanmu. Menjadikan perempuan lain sebagai penyimpanan benih dan Ibu anakmu, tetaplah pengkhianatan keji yang tak akan terkamuflase.''
''Bukan kamuflase, melainkah penyamaran belaka.''
Kembali datang suara yang lunak membujuk itu. Makin redup nadanya, seakan membawa cahaya yang menentramkan.
''Anggaplah serupa selubung kelambu, melindungimu dari gigitan-gigitan serangga berbisa. Begitulah penyamaran itu akan mengelakkan istrimu dari luka. Justru akan bahagialah ia, menjadi Ibu dari anakmu, meski ladang rahimnya tandus belaka.''
''Itulah kebahagiaan palsu yang kau suguhkan,'' Sanggah suara lain yang tak berhenti menghadang. Pahit nada sanggahan itu, serupa seruling yang menyayat di kejauhan lembah.
''Sanggupkah kau jalani? Rencana khianat yang akan menjadi pusaranmu setiap hari, akan melekat di setiap jengkal ingatanmu. Saat istrimu menimang anak itu, sesungguhnya yang terimang adalah bukti otentik penghkianatanmu. Sanggupkah kau melihat, betapa istrimu melimpahi pengkhianatanmu justru dengan kasih sayang?''
Ganti berganti, dua suara saling menyanggah. Memutari Yunho dengan perdebatan panjang yang membelit saling berupa silang. Serupa sulur yang menjalarkan ujung akarnya untuk mengisap dan membelit demi mendapatkan sumber kehidupan dengan meranggaskan yang lain. Terbelitlah ia kemudian. Terbebat akar perdebatan yang menyempitkan jalan napas.
Malam masih hening, dengan desir angin berhembus lambat serupa gerak melata reptilia. Remang cahaya malam senantiasa redup. Garis wajah Jaejoong teduh dalam pulas. Namun, bagi Yunho, wajah teduh itu memudar perlahan, serupa berlapis selubung kabut. Didapatinya kabut itu meleleh menggenangi ujung kelopak matanya.
''Mianhae, Boo,'' Katanya memohon, dalam isak yang tak terdengar.
Tertunduk Yunho tak berdaya pada ujung lorong labirin yang gelap dan panjang. Tanpa cahaya meski hanya sekelip sayap kunang-kunang.
Mata musangnya mengarah pada meja nakas, tangan panjangnya mengambil sebuah bingkai foto dari meja nakas itu. Foto pernikahannya dengan Jaejoong yang terlihat samar-samar karena minimnya cahaya di dalam kamarnya bersama Jaejoong.
['' Aku akan mendampingimu dalam segala duka dan bahagia. Aku akan menjadi bagian dari segenap sakit dan sehatmu.'']
Kata-kata pernikahan itu seperti kaset rusak yang membayanginya. Yunho menghembuskan napasnya pelan dan menitikkan sebuah air mata.
Part 5
Gerak Yunho terhenti di kejauhan. Matanya menatap lurus café yang gemerlap. Meja-meja di dalam ruangan itu memiliki cahaya yang berbeda. Paling ujung bercahaya lilin violet. Lilin yang meleleh lambat itu, memendarkan cahaya yang seakan gemetar oleh belaian angin. Meja bundar terdekat pintu, menyimpan gemerlap dari gelas berisi minyak. Harum minyak itu, menabarkan wangi sembari menyalakan sumbu cahaya. Api sumbu itu adalah cahaya yang bergetar, bergerak meliuk sealun angin. Juga meredup seakan hendak padam, lalu berpijar kembali. Seperti gemetar kebimbangan, terombang-ambing terpicu keinginan di satu sisi dan teradang pertimbangan pada sisi yang lain.
Dalam cahaya yang gemetar itu, Yunho menemukan dirinya. Terikat kebimbangan, terbelit keinginan. Di sinilah dia sekarang. Menatap ruang cahaya, serupa kunang-kunang mengamati kerdip lampu di kejauhan. Setiap kunang-kunang akan menuju cahaya saat menemukannya. Walaupun kunang-kunang itu sendiri mempunyai cahayanya sendiri. Kini, cahaya yang dicari persis dihadapannya. Akankah dibawanya diri menuju cahaya serupa kunang-kunang menerbangkan sayap-sayapnya?
Lalu, sebuah bayang melintas dikejauhan. Luwes bayang itu bergerak membawa nampan menyuguhkan sesuatu.
Adakah kau ingat secangkit teh hijau tanpa gula yang kau minum kemarin? Bagaimana rasanya?
Pahit samar dirasakan cairan bening itu, terteguk seluruhnya.
Menelusuri indra perasa, mengaliri liang tubuh, mengendap digenangan lambung.
Begitulah sesudah aku tenggelam dalam genanganmu.
Detik berikutnya, tangan Yunho bergerak membuka pintu, kakinya melangkah menuju cahaya. Cahaya yang gemetar. Langkah yang bergetar. Begitulah cahaya memendarkan diri, menebarkan daya penarik bagi para pelangkah menuju kepadanya.
Di tengah langkah, Yunho menemukan sebuah pertanyaan.
Serupa inikah kesetiaan berakhir?
Kesetiaan pada seseorang, yang bersamanya kau mengikat janji pernikahan. Inikah akhir itu, saat kau tentukan langkahmu untuk menghampiri laki-laki atau perempuan lain, yang kau rindui melebihi pasanganmu?
Pertanyaan itu tak mampu mengadang langkah Yunho, apalagi menghentikannya. Menujulah dia pada sesuatu dan seseorang yang menjadi pilihannya.
.
.
You're Not Alone
.
.
Ponsel itu bergetar, membawa sebuah pesan pendek.
[Kita harus bertemu. Ada sesuatu yang khusus.]
Victoria mencermati pesan itu. Sebuah pesan yang tak biasa. Tidak biasanya 'penghubung'nya meminta waktu untuk sebuah pembicaraan khusus. Apa yang khusus kali ini sehingga diperlukannya pertemuan tatap muka?
Victoria mengernyit. Nomor itu, ia tak mengenal nomor yang masuk, memberinya pesan ke ponselnya. Diamatinya baik-baik nomor itu.
Satu detik,
Dua detik,
Tiga detik,
Hingga akhirnya ia ingat siapa pemilik nomor ponsel ini. Orang yang kelak akan menjadi Ayah dari bayi yang akan dikandungnya. Jung Yunho.
Wajah Victoria berbinar cerah, rasanya jantungnya seperti akan meledak karena terlalu senangnya. Ada apakah hingga Yunho ingin bertemu dengannya? Ada pembicaraan khusus? Tentang perjanjian mereka, kah?
Tangan Victoria dengan cepat membalas pesan singkat itu.
[Baiklah.]
'Penghubung' itu lebih dari sekedar teman baginya. Memahami dan menjaga sosoknya sebagai orang asing bagi siapapun. Sejauh ini dia telah menjadi seseorang yang bisa dipercaya.
Memang, Yunho sangat bisa dipercaya dan ia sangat mempercayai itu. Tetapi, akankah ia sendiri dapat dipercaya? Akankah ia tak akan melanggar kontrak yang telah dibuat oleh dirinya dan juga lelaki itu?
Lalu, bagaimana jika ia mengingkarinya? Akankah semuanya berakhir?
''Lama tidak bertemu,'' Kata namja itu, menyalami Victoria dan kemudian menarik kursi untuk duduk Victoria. Di cafetaria hotel tempat perjanjian mereka.
''Bukankah kita kemarin bertemu?'' Kekeh Victoria.
Yunho mengangguk dan ikut tersenyum,''Ya.'' Katanya dengan senyum lembut di bibir sexy-nya,''Sehat-sehat saja?'' Lanjut Yunho, menatap Victoria dan membuat wajah yeoja cantik itu memerah seketika.
Victoria mengangguk,''Ya. Ada apa?''
Yunho, namja itu terdiam. Tampaknya Victoria bukanlah orang yang berbasa-basi.
Yunho menghembuskan napasnya. Sungguh, dari dulu ia ragu. Akankah ia bisa melakukan ini? Dan mengkhianati orang yang begitu dicintainya? Istrinya? Tentu saja.
''Aku membutuhkan seorang anak. Kau mengerti bukan?'' Tanya Yunho lagi dan Victoria mengangguk canggung. Tampaknya ia sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh laki-laki didepannya ini,''-Dan sebaiknya kita lakukan sekarang… Lebih cepat lebih baik. Bukankah aku sudah mengatakan jika kita akan melakukan 'itu' lusa? Bagaimana?'' lanjut Yunho yang melihat Victoria terdiam. Tampak menimbang sesuatu.
Yunho terdiam. Ia hanya bisa mengamati yeoja yang menundukkan kepalanya di depannya.
Lalu, ingatannya tertuju pada istrinya yang malam ini pasti sudah menunggunya di rumah? Atau mungkin sedang mengkhawatirkannya saat ini?
Bagaimana mempertimbangkan penawaran itu? Atau tidak ada yang harus timbang, melainkan setuju seketika?
Bukankah dia hanya melakukan 'itu' dengan seorang laki-laki. Hal yang dilakukannya berulang selama ini. Lalu, hamil, mengandung janin selama sembilan bulan, melahirkan dan menyerahkan kepada pemiliknya. Selesai. Akan diterimanya sekian banyak won, yang andai dikalkulasi, baru akan diperolehnya setelah ratusan kali ditiduri oleh laki-laki tak bernama.
Inilah peluang untuk menepis pelukan anonim itu. Alternatif itu menggapai berseru memanggil di kejauhan, menyajikan rancang kehidupan baru yang nyaris tak mampu dimimpikan apalagi diharapkan.
Mengapa harus ragu?
Bukankah hanya merebahkan diri seperti biasa? Pejamkan mata, tulikan pendengaran, hilangkan segala rasa. Tunggu hingga selesai. Barang kali akan berulang, mungkin saja tidak. Berharaplah proses pembuahan terjadi sempurna. Tanpa perlu senggama berulang lagi. Walaupun ia menginginkannya, terlebih dengan laki-laki yang dikaguminya.
Tunggu dengan sabar. Barangkali perlu dilengkapi dengan doa supaya janin harapan itu segera tumbuh sesuai rencana. Hanya diperlukannya waktu sembilan bulan untuk menyimpannya di dalam diri. Membawa ke mana melangkah. Memberikan nutrisi dan perawatan yang baik sesuai fasilitas yang diberikan padanya.
Victoria mendongakkan wajahnya, menatap wajah tampan yang tampak menyiratkan sebuah kesedihan. Mungkinkah untuk istri namja itu? Merasa mengkhianati, eoh?
Ia tahu.
Ia seorang perempuan. Ia pasti akan merasa sakit hati yang dalam seandainya melihat suaminya mempunyai anak dari rahim yeoja lain karena ia tak bisa memenuhi keinginan suaminya. Istri mana yang tidak akan kecewa? Walaupun bukan perselingkuhan, andai saja. Tetapi tetap saja, rasa sakit yang akan diterimanya akan sangat-sangat sakit.
''Aku akan menuruti keinginanmu-'' Bisik Victoria dengan suara lirihnya.
Yunho mendongak. Ia hanya tersenyum datar pada Victoria. Ini sudah jam delapan malam dan ia harus segera pulang dan menemani istrinya, berbagi kehangatan, setidaknya dalam pelukan. Tetapi apa yang dilakukannya saat ini? Ia akan berbagi kehangatan dengan perempuan lain demi mendapatkan seorang… Anak?
Well. Ia sungguh gugup sekarang ini. Padahal biasanya ia tak pernah segugup ini.
Apa mungkin karena ini secara tak langsung adalah sebuah pengkhianatan? Perselingkuhan secara tidak langsung. Ia bimbang. Otaknya terus memikirkan Jaejoong. Apakah ia aka baik-baik saja setelah ini? Jika istrinya tak mengetahui, tak apa, bukan? Ia akan menutup ini semua rapat-rapat. Menutupi kebohongan besarnya, walaupun dengan berbohong terus menerus. Ia hanya tak mau jika istrinya sampai tahu dan kemungkinan besar yang terjadi adalah Jaejoong akan meminta bercerai darinya. Ia tak mau, sungguh. Ia teramat sangat mencintai istrinya. Ia sadar dengan keegoisannya dalam hal anak, ia sadar bukan hanya dia saja yang menginginkan seorang anak,, tetapi Jaejoong juga.
Kemudian Yunho dan Victoria bangkit berdiri. Mereka berjalan beriringan dalam diam, menuju kamar yang akan menjadi saksi sebuah pengkhianatan besar.
Yunho mengambil kunci kamar yang sudah dipesannya dari kantung celananya, ia memasukkan kunci itu ke dalam lubang kunci, memutarnya perlahan, dan setelah itu, dengan ragu ia memutar knop kamar hotel itu.
Mereka memasuki kamar bernuansa romantis itu. Ya, hotel ini adalah hotel khusus untuk pengantin baru yang ingin honey moon. Lalu, Victoriamendekati ranjang dan merebahkan dirinya di ranjang king size empuk itu. Jantung wanita itu terasa berdebar kencang. Ia melirik Yunho yang masih berdiri.
Yunho masih berdiri canggung. Telah dikuncinya pintu kamar,tetapi tak beranjak dari tempatnya berdiri. Diam menunduk, nyaris tanpa gerak. Tanpa suara meski hanya sekadar suara helaan napas. Namun, dia tampak tenang, tak gelisah.
Yunho adalah seorang namja tampan berumur dua puluh tujuh tahun, dengan tubuh atletis-nya, bibir sexy-nya, rahang tegasnya, mata musang yang memancarkan pandangan kekosongan. Bibir namja itu terkatup. Tak bersuara sedikit pun. Raut wajahnya tampak tenang. Perlahan, jas yang dikenakan olehnya dilepas. Masih dengan ekspresi tenangnya.
Di tempatnya merebahkan diri, Victoria memilih diam menunggu . memberi luang seluasnya untuk laki-laki yang masih berdiri dengan kemejanya, untuk mempertimbangkan keinginan dirinya sendiri. Walaupun tak dipungkirinya bahwa ia sangat menunggu saat Yunho menyentuhnya. Terlihat seperti perempuan murahan kah dirinya? Mungkin kalian akan menganggapnya begitu, namun ia tak perduli lagi. Matanya sudah tertutup oleh kabut hitam sebuah obsesi. Dan obsesinya adalah memiliki namja tampan itu, walaupun ia tahu, bahwa namja dihadapannya sudah beristri, dan nyaris mempunyai anak dari istrinya.
Victoria mendapati Yunho yang memandangnya, lama dengan mata sopan dan bersahaja. Tidak mudah baginya untuk mendapatkan tatapan sesantun itu dari mata laki-laki. Meski café tempatnya bekerja berstandar internasional dengan reputasi positif, tetapi siapa bisa menghadang gairah mata seorang laki-laki? Meski seragam pelayan yang dikenakannya sopan dan simpel, namun tetap saja tak bisa menyembunyikan lekuk tubuh yeoja muda. Sering kali apa yang tak tampak vulgar, justru makin memicu gairah. Victoria telah terlatih untuk mengabaikan tatapan serupa itu dengan sopan. Diperlukan kehati-hatian untuk tidak membalas tatapan memancing itu, demi mempertahankan keberlangsungan karier.
Di dalam kamar-kamar yang tersewa setiap kali transaksi, tak pelak lagi, tatapan dengan nafsu yang menyala seakan menelan diri bulat-bulat. Mata-mata yang tidak lagi menyembunyikan gairah, melainkan sedemikian eksplisit nafsu yang meluap dan segera terlampiaskan. Atas nama kesepakatan harga, harus diterimanya ekspresi luapan nafsu. Untuk itulah dia dibayar.
Kini, Victoria berada dalam satu kamar dengan laki-laki yang akan memenuhi sebagian kewajibannya. Namun, alih-alih mengambil hak-nya, dia justru hanya berdiri di hadapannya. Apakah ia tak menggairahkan bagi laki-laki beristri itu?
Beberapa saat terdengar suara helaan napas dari Yunho. Laki-laki itu berjalan mendekati Victoria.
''Sungguh kau bersedia melakukannya Victoria-sshi?'' Tanya Yunho langsung pada Victoria. Sedikit mencondongkan tubuhnya untuk melihat kejujuran dari perempuan yang telah dipilihnya untuk transaksi mereka.
Victoria mengangguk dan tersenyum simpul.
''Ya..'' Jawab wanita itu dengan pancaran mata yang penuh dengan kesungguhan, 'Demi tempat tinggal yang layak untuk Eomma, dan juga untuk kebahagiaanmu… Yunho-sshi.' Lanjut Victoria dalam hatinya. Wanita itu memejamkan matanya, lalu membukanya kembali perlahan, ia menemukan Yunho yang sudah berdiri dengan tegap kembali. Laki-laki itu nampak merenung, namun tak lama Yunho terlihat membuka kancing kemejanya satu persatu. Jantung Victoria berdebar, napasnya terasa sesak saat dada bidang berwarna kecokelatan itu sekidit tampak.
Demi pelukan-pelukan yang tak ingin kusinggahi.
Demi kemerdekaanku dari gairah nafsu tanpa perasaan.
Demi kesucian yang akan ku rajut ulang.
Yunho melihat pada Victoria.
''Baiklah.'' Kata Yunho setelah meyakinkan dirinya kalau Victoria tak pantas diragukan. Atau barang kali karena sesungguhnya dia sedang meragukan dirinya sendiri?
''Nantinya sesudah tes urine-mu positif, akan kubuat draft perjanjian bagi rencana kerja sama ini. Ada akta notaris yang akan mengesahkan sehingga perjanjian ini berkekuatan hukum. Supaya masing-masing hak hukum kita tidak terlanggar, kau peroleh apa yang menjadi hak-mu, begitu pun sebaliknya dengan-ku.''
Victoria tercenung. Aliran darahnya mengarus cepat, menyadari rencana ini bukan permainan belaka.
''Ada beberapa permintaan dariku yang harus kau terima dengan tulus.'' Yunho berkata dengan hati-hati, nyaris seperti sebuah permohonan. ''Permintaan ini tidak serupa pasal-pasal draft perjanjian itu, melainkan lebih merupakan permohonan seorang Ayah demi janin yang akan menjadi anaknya.''
Victoria tercekat, nyaris sesak napas. Bukan karena kekurangan pasokan oksigen, tetapi lebih karena rasa haru memenuhi benaknya. Serupa itukah seorang Ayah menata harapan untuk buah hatinya?
Matanya memanas. Tidak ia tidak boleh menangis di hadapan pemuda ini.
''Apakah itu, Yun?'' Suara Victoria tercekat. Nyaris terdengar parau.
''Jagalah dirimu sebaik-baiknya. Jauhkan segala kemarahan atau pun kebencianmu terhadap apa pun juga sehingga yang didapatkan anak ini adalah aura ketulusan dan kemurahan hatimu.''
Victoria bergetar, tak menyangka akan mendapat permohonan serupa itu. Tak menduga bahwa ada seseorang yang menaruh harapan setulus itu kepadanya. Cukup berhargakah ia menerima permohonan setulus itu? Sementara pada sisi lain, disadarinya, dirinya hanyalah sampah belaka.
Sekian banyak laki-laki memasuki liang tubuhnya, semua terasa sah dilakukan atas nama harga yang telah dibayar. Tanpa hirau betapa dia tersiksa dalam selubung ketidakberdayaan. Tak peduli bahwa gerak responsnya kamuflase belaka., bahwa hasrat yang yang tampak hanya tipuan palsu. Masing-masing pembayar merasa sah dan berhak memperlakukan tubuh perempuannya sebagai pelampiasan. Mereka merasa mengambil apa yang menjadi hak-nya karena telah melunasi harga yang telah disepakati.
Yunho juga telah melunasi harga yang tersepakati. Kini, dilengkapinya pembayaran itu dengan maaf yang santun. Pelengkap yang tak akan pernah terlupa selama-lamanya.
Victoria mengangguk tanpa suara.
Temaram bias lampu yang redup menemani mereka berdua, terbujur lurus tanpa gerak dalam keheningan panjang yang diam. Cahaya bias fajar, seandainya ada, entah berapa lama lagi akan datang.
.
.
You're Not Alone
.
.
Jaejoong, namja cantik itu tampak mondar-mandir di dalam kamarnya. Sesekali membuka gorden berwarna hijau toska itu, berharap sang suami akan pulang. Namun, sampai pukul dua dini hari, Yunho belum juga pulang. Sebagai seorang istri, ia sangat cemas ketika memikirkan Yunho. Apa suaminya itu mengalami hal yang buruk?
Jaejoong menggeleng pelan. Ania, ia tak boleh berpikiran negative. Yang hanya bisa ia lakukan adalah menunggu sang suami pulang –yang entah kapan- sembari berdoa semoga suaminya baik-baik saja, dan tak ada hal buruk yang menimpa pada suaminya.
Mata bulatnya melirik pada ranjang mereka. Sesosok anak kecil yang tampan tampak tidur pulas di ranjang itu. Pandangan mata Jaejoong berubah sendu. Moonbin telah lama menanti Yunho untuk makan bersama, dan Yunho tak kunjung pulang, akhirnya ia dan Moonbin memutuskan untuk makan malam dulu. Tanpa Yunho. Padahal, ia sangat berharap Yunho akan cepat pulang. Ia sudah susah-susah memasakkan makanan kesukaan Yunho. Namun akhirnya, makanan itu juga berakhir di tempat sampah.
Jaejoong melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas. Jemari lentiknya mengambil ponsel itu, namun ia mendesah pelan saat tak menemukan sebuah pesan singkat atau pun telepon dari suaminya.
Ia telah mencoba untuk menghubungi Yunho. Berulang kali. Namun, ponsel namja berstatus suaminya tak aktif. Ada apa ini?
Jaejoong meletakkan kembali ponselnya di atas meja nakas. Kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang bersama Moonbin yang sudah tertidur pulas. Namja cantik itu memejamkan matanya, dan tak berapa lama, deru napas teratur menandakan bahwa namja cantik itu sudah terlelap dalam tidurnya. Entah apakah ia akan bermimpi indah, buruk, atau pun tidak sama sekali.
Knop pintu kamar terdengar terbuka. Menampakkan sesosok namja tampan yang masuk hati-hati ke dalam kamar mereka, kamarnya dengan istri tercintanya.
Mata musang itu memandang sendu saat melihat Jaejoong –istrinya- yang tidur terlelap dengan Moonbin, keponakannya. Raut wajah istrinya tampak memancarkan sebuah kekhawatiran. Dan ia tahu, itu semua karenanya.
Tadi, saat ia kembali mengaktifkan ponselnya, ia mendapati banyak pesan dan juga telepon dari Jaejoong, istrinya.
Yunho berjalan mendekati ranjang, ia mengusap pelan pipi istrinya dan mengecup bibir semerah cherry milik istrinya lembut. Tanpa nafsu, hanya cinta.
''Mianhae, Boo.'' Gumaman Yunho terdengar sendu.
Kemudian Yunho berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Yunho tahu, ini adalah awal dari segalanya.
Love is hurt.
Ketika sebuah pengkhianatan datang.
To Be Continued
Or
End?
Hola! Gue si Author abal-abal lanjutin fic You're Not Alone ^^
Otte, joahe ania?
Gomawo buat readers yang udah susah-susah review fic abal ini. Jeongmal gomawoyo #Hug satu-satu.
Mian ngga bisa bales review kalian /Deep bow/
So, wanna RnR readers? /Emang ada? LOL/
Oh ya, setelah ini gue hiatus cukup lama cause mau fokus ama Ujian Nasional yang segera datang :D
