Jekyll and Hyde

Suatu ekperimen memisahkan mereka, dua pribadi dalam satu raga. Ada dunia yang tak orang lain tahu. Keheningan adalah teman Setia.

"Ah maaf, aku sedang terburu, semoga kita dapat bertemu kembali!" Dan gadis itu membungkuk sekali lagi, menyeret koper besarnya sebelum menempelkan ponselnya kemudian menghentakkan kaki dan berdecak sebal. Sepertinya orang yang dihubungi tak mengangkatnya.

Hingga gadis itu sudah berlalu cukup jauh Sehun masih saja melihatinya. Ia tak mengenal gadis itu, tapi entah mengapa ia serasa tak asing dengannya. Kemudian menggeleng dan kembali membuka kunci ponsel, melebarkan kelopak mata ketika mendapati sudah lima panggilan tak terjawab dari Kai.

_I'm Me bagian 6_

"Aku telah menghukum dan membahayakan diriku sendiri dan aku tidak bisa menjelaskannya. Apabila aku adalah pendosa terberat, maka aku harus menjadi penderita terberat pula. Menurutku tidak ada tempat di dunia ini di mana penderitaan dan kengerian bisa dilenyapkan; tapi kau bisa melakukan satu hal, Utterson, untuk meringankan takdir ini, yaitu menghormati keheninganku."

Sehun membaca salah satu paragraf dalam buku The strange case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde. Karya emas dari sir Robert louise Stevenson pada halaman 58.

Halamannya ditandai dengan secarik robekan kertas. Bergambar sketsa sebuah Benteng atau mungkin istana pada abad kuno. Bentuknya sudah tak Indah lagi, robekannya memilukan seperti tercabik akibat perebutan.

Setelah menyelesaikan urusan dengan Mr. Derek yang kemudian Sehun tanggung jawabkan kepada Kris. Ia kemudian menemui Kai di sudut jalan simpang lima distrik delapan daerah gangnam. Ia tak tahu apa yang dilakukan Kai seharian ini, namun yang jelas, wajah sang kekasih begitu pucat, Kai bilang ia tak apa, hanya kelelahan, hingga Sehun membawanya pulang dan berakhirlah Kai terlelap diatas dadanya dua jam lalu.

Sehun memutuskan untuk bertamasya dalam kotak ruangan Jongin. Perpustakaan mini pribadi.

Seperti kata Luhan, banyak sekali buku – buku psikologi dan beberapa novel klasik disini; salah satunya adalah buku tentang keanehan kasus dr. Jekyll dan Mr. Hyde.

Sehun tak terlalu menyukai buku – buku misteri seperti ini. Ayahnya selalu mencekoki buku – buku bisnis dan ekonomi sedari Sehun kecil. Namun buku yang sudah usang dan robek dibeberapa bagian ini menariknya.

Sampul belakang sudah hilang setengahnya, seperti bekas perebutan yang akhirnya salah seorang mengalah. Pun kertas – kertasnya yang sudah terlihat ikal. Sepertinya buku yang sering Jongin baca hingga berulang – ulang.

Disini diceritakan tentang kejanggalan yang Mr. Utterson dapat; salah seorang pengacara yang merasa janggal atas surat wasiat yang ditulis oleh seorang kliennya, Dr. Jekyll.

Bukunya berbahasa inggris, kata – katanya ringan untuk sekelas novel klasik keluaran tahun 1886.

Penggambaran tokoh Mr. Utterson menjadi awalan cerita. Hingga bagaimana akhirnya ia masuk kedalam sebuah kasus berawal dari sebuah surat wasiat.

128 halaman bukanlah angka yang fantastis bagi Sehun. Ia terbiasa membaca ribuan lembar kertas tentang bisnis manajemen. Hingga mungkin ia bisa menghabiskan satu cerita hanya dalam sekali duduk.

Tapi nyatanya, cerita ini membuatnya mengernyitkan dahi. Ia takjub akan penggambaran sosok Dr. Jekyll yang melakukan eksperimen pembagian karakter diri. Menjadikan satu dalam dua. Ia memisahkan antara emosi protagonis dan sosok antagonis diri, hingga sebuah penyesalan akhirnya datang.

Diawal kisah, pembaca sudah diperkenalkan dengan sosok misterius Tuan Edward Hyde, yang secara mengejutkan ditunjuk oleh Dr. Henry Jekyll sendiri sebagai pelindung dan ahli warisnya, tapi ia menyebutkan jika suatu saat dirinya 'menghilang'. Satu frasa yang memunculkan banyak spekulasi termasuk tokoh Mr. Utterson sendiri.

Bulu kuduk Sehun meremang. Ia ingat betul kalimat Jongin beberapa malam yang lalu saat ditengah tangis Jongin mengaku dirinya hamil.

Sehun tahu, bahkan sangat tahu bagaimana perasaannya. Keterkejutan mendominasi hingga ia takut jikalau Jongin frustasi. Ia berujar jika seandainya suatu saat dirinya menghilang, jagalah Kai untuknya.

Satu alter yang dimiliki Jongin bukanlah seorang kriminal layaknya Tuan Hyde, tapi Minseok bahkan Luhan pernah memperingatinya akan keberadaan Kai.

Sehun mendapat konklusi bahwa terkadang alter bisa menekan si pribadi primer, menguasai diri dan melenyapkan sang lakon utama.

Sehun bersandar pada punggung sofa, menghembuskan nafas panjang. Ia begitu mencintai Kai, dan ingin hidup bersama Kai, ingin meminangnya dan menjadikannya istri serta ibu dari anak – anaknya. Tapi Sehun sadar betul bahwa Jonginlah si pribadi pemilik raga. Terkadang Sehun merasa asing dengan kehadiran Jongin, dan hal itu membuatnya sungguh pening.

Sehun berhenti membaca. Menempatkan jari telunjuk tepat di halaman 100. Bukunya begitu tipis hingga tak butuh waktu lama untuknya membaca hampir keseluruhan cerita.

Dadanya begitu sesak mengingat seberapa menderitanya Jongin sebenarnya. Menciptakan sosok Kai dalam diri sebagai jiwa pemberontak. Hingga ia teringat tentang robekan kertas yang telah usang.

Sketsa ditangannya ini terlihat sedikit berantakan. Digambar dengan tinta yang sedikit meluber dan garisnya ragu – ragu. Sepertinya digambar dengan tangan gemetar.

Sehun terus mengamati bentuk bangunan tua yang sekali lagi tak asing baginya. Serpihan puing – puing tembok terlihat sebelum taman Indah didalam ruangan terlihat menyejukkan. Seperti oase ditengah gurun. Penggambarannya sungguh menakjubkan. Ketenangan terpancar serta romantisme sebuah maha karya arsitektur menguar kuat. Namun, gambar ini memiliki sudut pandang yang unik. Dimana sipenggambar, sang picasso ini mengajak si pelihat dari sudut pandang dalam ruangan. Tempatnya gelap dan tak tersentuh. Seperti penjara bawah tanah istana bangsa berbahasa arab. Terlihat mengerikan dan dingin, sungguh berbeda dengan keadaan luar yang begitu memesona.

Sehun kembali mengernyitkan dahi tatkala ia teringat akan Alhambra. Sebuah Benteng istana kuno didaerah Granada, Spanyol. Atau Al – Andalus, sering juga disebut sebagai Andalusia, tapi penyebutan nama ini sering terjadi keambiguan dengan Andalusia dalam wilayah Spanyol modern.

Gambar diatas kertas itu sungguh mirip sekali dengan interior Alhambra. Salah satu simbol kejayaan bangsa muslim di Eropa.

Namun seolah teka – teki terus bermunculan. Sehun mendapati bercak kotor disudut kertas yang telah robek. Gambarannya seperti cipratan darah. Disamping itu terdapat tulisan tak beraturan berbunyi Al – Hamra yang berarti merah.

Sehun membalik kertasnya. Terdapat rembesan warna kecoklatan pekat disudut bagian yang hilang. Sepertinya ada satu hal besar yang terjadi pada saat si penggambar menyelesaikan sketsanya. Sesuatu yang kelam dan dalam.

Sehun menutup bukunya. Membolak – balik buku yang sudah tercabik mengenaskan hingga beberapa halaman telah terpisah dari rangkaiannya.

Sehun kembali menautkan alis saat di halaman 124 terdapat goresan kuku membentuk huruf seperti 'C'.

Ceklek

Sehun berjingkat kaget saat suasana hening tiba – tiba terinterupsi karena suara gagang pintu yang bergerak. Sehun mengatur nafasnya saat sosok Jongin menyembulkan kepala. Cepat – cepat melipat robekan kertas bergambar dan ia masukkan dalam saku celana.

"Kai?" Sehun ragu. Kali ini Kai ataukah Jongin yang terbangun. Mengingat tadi sebelum tidur, Kai lah yang hadir dalam raga itu.

"Aku Jongin!" Masih diambang pintu, Jongin juga terlihat ragu. "Apakah aku mengganggumu?" Lanjutnya.

"Tidak, sayang! Kemarilah!" Kemudian berdiri. Menyambut Jongin dengan kedua tangan terbuka, bermaksud menangkap sang kekasih dalam pelukan.

Kemudian berjalan pelan, gerak kakinya ragu saat Sehun semakin dekat. Tapi pria itu menarik Jongin dan menenggelamkannya pada pelukan hangat.

"Apa kau baik – baik saja?" Bertanya seraya menenggelamkan hidung pada surai kecoklatan Jongin. Wanginya begitu harum dan terasa lembut. Hatinya berdesir hangat saat Jongin mengeratkan pelukannya, mengangguk pelan sebelum bersender nyaman diatas dadanya.

"Aku tertidur sepanjang waktu, tapi badanku lelah, terasa seperti telah melakukan banyak hal" Ungkap Jongin sembari mendongakkan kepala.

Sehun mendapati bahwa Jongin begitu manis dan mengesankan. Mata sayu itu sangat berbeda dengan pancaran mata Kai yang tegas. Sinar tatapan Jongin terasa begitu lembut.

"Em, kalau aku boleh bertanya, apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Jongin kemudian.

"Hanya melihat – lihat dan menikmati suasana ruangan kekasihku" Lalu mengecup kening Jongin. Jongin tak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia bisa sedekat ini dengan Sehun. Orang yang diam – diam begitu dikaguminya.

"Tak ada yang spesial didalam sini. Hanya tumpukan buku dan buku diberbagai sudut" Ungkap Jongin sedikit sungkan.

"Tapi ini menarik" Lalu membawa Jongin untuk duduk diatas sofa panjang. Langit temaram tak berbintang, namun terang menenangkan. Bohlam lampu taman belakang menyinari, menembus kaca bening didekat sofa. Menjadikan malam terasa khidmat.

Sehun mendekatkan wajahnya. Bibirnya menubruk bibir ranum milik Jongin. Bergerak pelan menyalurkan perasaan damai.

Mata Jongin memejam menikmati. Sedang Sehun justru membuka kelopaknya melihat betapa Indah dan rupawannya sang kekasih. Sisian wajah terkena terpaan sinar lampu kekuningan, terlihat begitu memesona.

Bibir Sehun membawa bibir Jongin dalam gerakan lambat, mendawai dan memabukkan. Tak ada unsur ketergesaan. Yang ada hanyalah kedamaian dalam cumbuan mesra. Jongin terlena.

"Jongggiiiinnnnn… yuuhhhuuuuu!" Namun samar seseorang meneriaki nama Jongin. Suaranya sayup – sayup terdengar. Membuat Jongin cepat – cepat mendorong dada Sehun dan melepas pagutan mereka.

Jongin mengatur nafas, dan pipinya luar biasa merah. Ia tak pernah terlibat dalam cumbuan romantis sebelumnya. Dan ciuman Sehun sukses memabukkannya.

Dulu hal – hal seperti ini terasa begitu asing bagi Jongin. Namun, seolah sudah terbiasa, Sehun diberinya akses ijin tak terbatas untuk menyentuhnya. Apakah ini efek si jabang bayi dalam perutnya? Ia tahu bahwa Sehun Ayahnya.

"Se-sepertinya ada yang datang!" Ujar Jongin gugup. Ia malu setengah mati. Ia bingung harus bertingkah bagaimana.

Hingga akhirnya suara tadi kembali memanggilnya. Mengantarkan Jongin untul berdiri dan segera menghampiri, sedang Sehun mengekori.

"Kim Jonggiiiiinnnnnn!" Seorang gadis berperawakan tinggi mungil begitu saja berhambur memeluk Jongin saat pria itu keluar memunculkan Batang hidungnya. Mencium pipi Jongin beberapa kali sebelum mencubiti pipi berisinya. Sehun sedikit cemburu karena ini.

Namun matanya mengesani. Sehun merasa tak asing dengan gadis itu.

"Aku sungguh merindukanmu, idiot!" Seolah drama queen. Gadis berambut ikal itu kembali memeluk tubuh Jongin.

"Kau tahu? Aku telah berkeliling kota sehari penuh gara – gara peta sialan!" Melampiaskan kekesalannya dengan umpatan, sebelum terhenyak saat menyadari keberadaan Sehun dibelakang Jongin dan melepaskan pelukannya.

"Oh Sehun?" Kemudian mengabaikan Jongin. Berjalan mendekati Sehun yang matanya terlihat sedikit membola. Itu gadis yang ditemuinya siang tadi dibandara. Lalu apa hubungannya dengan Jongin?

"Kau benar – benar Oh Sehun bukan? Aku Krystal, kau ingat?" Sekali lagi meraih tangan Sehun dan menjabatnya. Sehun justru mengernyit keheranan.

"Kalian saling mengenal?" Tanya Jongin melihat begitu antusiasnya Krystal dihadapan Oh Sehun.

"Dia Oh Sehun, Jongin! .Hun! Pengusaha muda yang sukses dan luar biasa tampan!" Ungkap Krystal, justru membuat pipi Jongin kembali memerah saat ia melirik Sehun.

"Aku adalah penggemar beratmu Tuan Oh! Terberkatilah Taemin dengan buku bisnisnya!" Memandangi wajah Sehun lekat – lekat. Mengabaikan tatapan tak mengerti dari si obyek pembicaraan.

"Aku tak menyangka bisa bertemu lagi denganmu disi… Tunggu! Kau disini? Kalian saling mengenal?" Menunjuk Jongin dan Sehun bergantian dengan wajah idiot.

Pertanyaan masih berputar didalam kepala Sehun saat Jongin menyeret lengan Krystal menuju ruang tengah. Mengisyaratkan dengan gerakan kepala agar Sehun mengikuti.

Dalam perjalanan menuju ruang tengah, mata Sehun berkeliling. Memindai seluruh ruangan hingga ia mendapati sebuah lukisan terpampang besar – besar didekat tangga. Sebuah Alhambra yang nampak Indah serta pemandangan menenangkan dari Siera Nevada disebelahnya.

Ada sesuatu tentang Jongin dan Alhambra. Penampakan yang menenangkan namun tersirat kejadian kelam dilihat dari sketsa gambar yang Sehun temukan.

"Jadi tolong jelaskan apa hubungan kalian!" Krystal menuntut penjelasan. Menatap satu persatu Jongin dan Sehun bergantian.

Jongin melihat kearah Sehun sekilas. Membuka mulut kemudian mengatupkannya lagi. Ia benar – benar ragu akan jawaban yang akan dilontarkannya. Secara teoritis Sehun adalah kekasih Kai.

"Aku adalah kekasihnya!" Sehun menjawab mantap. Membuat Krystal menganga lebar.

"Jongin! Kau tak pernah cerita padaku!" Lalu menatap Jongin tajam.

"Aku…" Dan Jongin kehilangan kata – katanya.

_To be continued_

Sudah berapa abad aku mengabaikan ff ini? XD

Mian XD

Duuhhhh, lama – lama aku kok kasian sama cast lainnya ya? Mereka belum muncul – muncul lagi ihhh…

Sedih akutu :""

Btw aku lagi cari – cari bukunya Dr. Jekyll and Mr. Hyde. Review ceritanya menarik, tapi aku susah dapet yang terjemahannya. Aku dapet yang versi inggris.

Maklum aku orang Meksiko, jadi bacanya kudu pelan – pelan buat pahamin isi cerita, ehe XD

But, that story is so amazing. Bahasanya gak berat kayak novel klasik kebanyakan. Ngalir gitu aja, buku ini rekomended banget!

O iya, ini aku udah mulai menguak kejadian masa lalu Jongin hingga dia bisa punya alter…

Tapi maaf klo belibet gini jadinya. Aku lagi mau ngedrama XD

Udah deh, sekian XD

Semoga suka ^^

(Best regards… Caesarinn)