***EDIT: karena internet provider saya yg baru ngeblokir situs ini, jadinya format chapter ini tadinya berantakan abis. Maaf ya yang udah terlanjur baca versi berantakannya TwT ini udah dibetulin kok.*** Pertama-tama, maaf updatenya lama m(_ _)m kerja sambilan ternyata makan lebih banyak waktu dan tenaga dari yang saya kira hahahahiks… TT mana setelah ep 9 saya tewas nonton team Open sama Guanho nari troublemaker jadi tambah ketunda deh (alasan macam apa ini)
.
.
.
Malu.
Banget.
Malumalumalumalumalumalumalumalumalumalumalumalumalumalumalumalumalumalu.
Malu-maluin banget.
Pengen rasanya hantemin jidat ke tiang listrik di tepi jalan. Tapi sayang muka. Ntar kalo gantengnya berkurang gimana dong?
Percuma ganteng tapi bego, sahut suara di benaknya yang membuat sosok kokoh sang tiang listrik semakin menggoda. Mungkin jika kepalanya dijedotkan cukup keras, bisa ampuh untuk melupakan kebodohan yang baru saja ia lakukan. Tawaran yang menggiurkan.
Pada akhirnya, kenarsisannya lebih kuat daripada panggilan impulsif yang memang datangnya dari luar akal sehat. Namun tetap saja pikiran Guanlin masih kacau balau. Sulit menerima kenyataan bahwa ia baru saja mempermalukan dirinya di depan satu-satunya orang yang ingin ia impress. A%$%^f%f^%&11!1! Berbagai macam umpatan dalam segala bahasa yang ia ketahui pun keluar.
Sok pahlawan main remet tangan orang, terus kabur begitu tahu dia salah. Sungguh luar biasa, Lai Guanlin. Masih terngiang-ngiang suara Seonho yang gagap panik saat menjawabnya. Kedua matanya terbuka lebar, ekspresinya terkejut. Ia tidak tahu mengapa interaksi mereka selalu berakhir dengan dirinya membuat Seonho takut. Pasti anak itu tidak mau lagi berurusan dengannya… Itu pun kalau dia masih ingat pertemuan mereka sebulan yang lalu.
Atau malah mereka sedang menertawakannya sekarang? Besar kemungkinannya. Apapun itu, Guanlin seharusnya merasa beruntung lelaki itu tidak balik memukulnya tadi. Pasti dia sangat kesal. Disalahpahami saat sedang membantu teman… adik… pacar? Tidak tidak tidak. Nggak boleh. Nggak bisa pokoknya. Kata Daehwi, Seonho itu masih single. Meskipun anaknya cerewet, biang gosip dan gak bisa diem, info yang keluar dari mulutnya dijamin akurat. Lalu, siapa sebenarnya lelaki itu?
Seonho memanggilnya Kak Hyunbin, dan dari rumpian murid-murid tadi, Guanlin tahu dia seorang model. Tapi apa hubungannya dengan Seonho sampai-sampai bisa mampir ke sekolah dan dengan santainya (hampir) memegang pipinya? Sejujurnya, selain mengamuk karena mengira Seonho disakiti, alasan lain Guanlin bisa khilaf adalah karena cemburu. Ia tahu memang tidak pantas, tapi yah. Namanya juga remaja labil. Emosinya susah dikontrol.
"Kak! Kak Guanlin! Tunggu!"
Pikirannya dipenuhi banyak hal. Awalnya menoleh tanpa fokus, ia langsung terpaku di tempat begitu melihat sosok yang berlari mendekat. Apakah ini halusinasi? Seonho nampak sangat nyata, dengan keringat yang bertutulan di sekitar keningnya dan napasnya yang terengah-engah. "Ini… Punya kakak bukan?"
Hm? Itu kan kartu apartemennya yang ada di tangan Seonho? Ia meraba kantung bajunya. Kosong. Mungkin jatuh sewaktu ia menunduk. Guanlin mengambilnya dan mengangguk, memaksa mulutnya untuk bergerak. "Makasih."
Senyuman yang dilontarkan Seonho kepadanya begitu manis, Guanlin tidak bisa menahan bibirnya melakukan hal yang sama. Sungguh ajaib betapa mudahnya perasaanya berubah jika berhadapan dengan anak ini. Rasanya selalu ingin tersenyum. Perlahan kemampuannya berpikir jelas berangsur kembali, dan Guanlin menyadari sesuatu. Jika pendengaran dan otaknya masih sehat, tadi Seonho memanggil namanya.
"Kamu tahu namaku?" tanyanya sambil berharap cemas, entah apa yang ia harap atau cemaskan.
Tanpa memudarkan senyumannya, Seonho menjawab santai, "Satu sekolah tahu nama kakak." Tawa di akhir kalimatnya membuatnya terkesan geli, seakan Guanlin baru saja menanyakan hal paling jelas diseluruh dunia.
Guanlin sendiri tak tahu harus membalas apa, sedikit kecewa. Namun semua kekecewaannya hilang saat memandang wajah Seonho. Mereka berdiri cukup dekat, memberi Guanlin kesempatan untuk mengagumi helai-helai bulu mata Seonho yang lebih panjang dan lentik daripada umumnya. Jejak air mata yang terjebak di sela-sela membuatnya terlihat semakin indah.
Ia mengantongi kartu apartemennya dan meraba halus kulit tipis di sekitar mata Seonho, yang kemerahan dan sedikit bengkak. "Matamu masih sembab," jelasnya singkat saat Seonho tersentak kaget. Sama sekali tidak sadar akan ironisnya kelakuannya setelah menghabiskan waktu mencibir lelaki yang (hampir) menyentuh wajah yang sekarang ia sentuh.
Seonho langsung mengusap pipinya kering. "O-oh. Sudah nggak sakit lagi," gumamnya pelan, membuyarkan lamunan Guanlin yang sedang terpesona.
Sial, lagi-lagi ia bertingkah seperti creep. Sadar, Guanlin, sadar. Ini waktunya untuk meluruskan situasi tadi. "Baguslah," ia mulai, berusaha menyusun kata sambil meremas-remas tali tasnya. "Tadi, maaf ya. Aku kira kamu diapain." Hebat. Sangat fasih. Mana tiang listrik saat ia membutuhkannya?
"Iya. Nanti aku sampein ke Kak Hyunbin. Orangnya baik kok, pasti dimaafin," jawab Seonho mengangguk-angguk. Guanlin terdiam. Kali ini ia sebenarnya bermaksud meminta maaf kepada Seonho, meskipun setelah dipikir memang lelaki bernama Hyunbin itu yang paling dirugikan. Tetapi hati kecilnya tetap tidak bisa berbohong. Ia tidak suka mendengar Seonho memuji-muji orang itu. Hawa suram yang ia pancarkan sepertinya mulai membuat Seonho merasa tak nyaman. "Yaudah ya kak, aku pergi dulu. Samp-"
Sebelum Seonho sempat menyelesaikan kalimatnya, Guanlin sudah menggenggam lengannya. "Tunggu." Ia belum rela berpisah setelah sekian lamanya menunggu kesempatan bertemu. Tanpa berpikir panjang, ia mengucapkan kata-kata yang pertama muncul di benaknya. "Ayo ikut ke rumahku."
"Eh?"
Seonho menganga kebingungan, dan Guanlin mencaci-maki dirinya sendiri dalam hati. Dari semua hal yang bisa ia katakan, yang keluar adalah dialog klasik om-om pedofil mesum. "…Supaya nggak dehidrasi. Ya. Kamu habis nangis terus lari-lari, padahal cuacanya panas begini. Harus minum dulu." Pinter juga ternyata ngelesnya kalo kepepet. Guanlin menghembuskan napas lega ketika Seonho membulatkan mulutnya. "Yok. Deket lagi nyampe kok."
Ia lanjut berjalan tanpa melepaskan Seonho, takut bila anak itu menolak tawarannya. Di belokan yang selanjutnya, Guanlin menempelkan kartunya di samping pagar tinggi pintu masuk apartemen. Sesekali ia menoleh balik ke arah Seonho. Dia menggantung kepala menghadap lantai, dan hanya menengadah saat Guanlin membunyikan tenggorokkannya.
"Udah sampe," ujar Guanlin sambil merogoh dompet sewaktu mereka keluar dari lift. Mau tak mau, ia harus melepas genggamannya dari pergelangan tangan Seonho yang penuh tulang. Anak ini kurus sekali. Ia jadi ingin membagi snack-snacknya yang menumpuk di kamar.
Guanlin mengijinkan Seonho masuk terlebih dahulu sementara ia mengunci pintu. Diperhatikannya Seonho yang celingukan sambil mengucap permisi, dan ia pun mendengus gemas. "Orangtuaku dua-duanya kerja, jadi rumah lagi kosong. Gak usah canggung." Ia menepuk punggung Seonho dan menuntunnya ke ruang tamu, mempersilahkannya duduk di sofa. "Tunggu bentar ya."
Segelas air putih, satu botol pocari sweat dingin dan berbagai macam kue kering dari meja makan diambilnya untuk disuguhkan. "Wah kak, gausah repot-repot!" seru Seonho ketika dia melihat Guanlin kembali bersama tumpukan barang di kedua tangannya.
"Gak kok." Ia meletakkan semuanya ke atas meja dan menyodorkan gelas air kepada Seonho. "Nih diminum." Mengucapkan terima kasih, Seonho meneguknya habis dengan cepat. Guanlin lalu menuangkan pocari sweat ke dalam gelasnya yang kosong, tak lupa mendorong toples-toples makanan ke arahnya. Seonho menunduk sungkan.
Setelah beberapa saat berdiaman dalam tenang, Guanlin melempar pertanyaan yang daritadi membuatnya penasaran. "Jadi kamu nangis gara-gara softlens?"
Seonho terbatuk tersedak biskuit coklat yang sedang digigitnya, mengejutkan Guanlin. Untungnya bisa tertelan dengan bantuan minum. "Iya kak," jawabnya seusai berhenti batuk dan meyakinkan Guanlin bahwa dia tidak apa-apa. "Aku seumur hidup pake kacamata, jadi nggak biasa sama softlens."
"Terus kenapa gak pake kacamata aja?"
"Kemarin pecah. Baru tadi dikasih yang baru sama Kak Hyunbin." Guanlin mengerutkan alisnya. Lagi-lagi nama itu. Ia ingin menanyakan siapakah pria itu bagi Seonho, namun dia terlanjur melanjutkan kalimat dengan semangat. "Tapi aku pengen belajar pake softlens! Jadi gausah repot benerin kacamata tiap kali melorot. Enak banget lho kalo lagi main piano!"
Guanlin sebenarnya tidak begitu mengerti apa yang dijelaskan Seonho dengan amat menggebu-gebu, tapi melihatnya seperti ini membuatnya tertawa. Seonho sendiri, setelah sadar dia sudah melaju sampai setengah berdiri ke arah Guanlin, langsung duduk kembali. Dia mengusap-usap lehernya dan menggigit bibir tersipu malu. Justru malah membuat Guanlin semakin geli campur greget. Ia mengacak rambut Seonho gemas, tidak tahan akan kelucuannya.
Syukurlah anak ini betul-betul seceria kesan pertamanya. Guanlin sempat khawatir jikalau dia menyimpan kesedihan dibalik senyum manisnya, tetapi sepertinya tangisan yang kemarin ia saksikan disebabkan oleh dua lensa bening yang sekarang pun membuat bola mata Seonho nampak berkaca-kaca.
Terbawa suasana yang mulai mencair, ia mengambil tasnya dan membuka resleting di samping. Handuk kuning yang sudah bersamanya selama sebulan ini ia keluarkan untuk ditunjukkan ke Seonho. "Nih, kukembalikan." Seonho mendongak melongo kaget. "Ah, tapi belum dicuci dari minggu lalu. Dan kupakai setiap hari," tambah Guanlin, iseng memarodikan kata-kata yang diucapkan Seonho saat meminjamkan handuk yang sama kepadanya bulan lalu.
"Kakak pakai? Tiap hari?" Dia terlihat tidak percaya. Guanlin mengangguk dan menatapnya tepat di kedua matanya.
"Soalnya anak ayamnya imut sih."
Satu detik. Dua detik. Tiga detik dan Seonho memukul pahanya sendiri dengan kencang. "Iya kan?! Imut kan? Aku juga bilang gitu ke temen-temen cuman diledekin terus, katanya terlalu kekanakkan, padahal kan gapapa ya kan? Itu adikku yang khusus pilihin buat aku! Masa gaboleh suka barang imut," celotehnya seru.
Guanlin menutupi cengirannya dengan kepalan tangan. Tentu saja Seonho gagal memahami maksud terselubung di kalimatnya. Tak apalah. Toh reaksinya sekarang juga sangat lucu.
"Yaudah kalo gitu, handuknya buat kakak aja!" Seonho mendorong balik telapak Guanlin, yang kemudian memiringkan kepalanya.
"Loh, kenapa? Bukannya kamu suka ya?"
"Suka sih, tapi aku selalu bisa beli lagi. Kakak pakainya setiap hari, itu jauh lebih sering daripada aku! Bakal lebih berguna buat kakak. Handuknya juga pasti seneng," simpulnya dengan kikihan kecil.
Ah, lagi-lagi Guanlin terbungkam oleh kehangatan yang menyebar di dadanya. Anak ini selalu mengejutkannya dengan cara pikir yang lain dari yang lain. Polos, tapi dewasa.
"Makasih ya, Yoo Seonho." Ia memperhatikan senyuman di wajah Seonho tergantikan oleh raut muka bengong. Handuk di tangannya ia buka dan ujungnya ia tarik menghadap kedepan. "YSH yang ditulis disini singkatan dari Yoo Seon Ho kan?"
Seonho menggerakkan kepalanya kaku dengan mulut yang terbuka. "K-kok kakak tahu?"
Guanlin tersenyum. Untuk hal apapun, ia selalu berpegang pada prinsip tidak bergerak terlampau cepat jika belum yakin akan perasaan pihak lain. Tapi kali ini saja, ia ingin membuat pengecualian. Dari awal bertemu, Seonho sudah menjadi sebuah pengecualian baginya. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk dekat dengannya.
"Hari pertama masuk, aku lihat kamu lari di bawah hujan. Kita jalan ke sekolah, tapi belom sempat berkenalan, kamu sudah pergi entah kemana. Sejak saat itu, tiap hari aku cari kamu. Susah sekali. Baru siang tadi akhirnya aku dapat namamu. Dan sekarang kamu ada didepanku." Guanlin menggunakan jarinya untuk menopang dagu Seonho, membantunya menutup mulut. "Jangan hilang lagi ya," pintanya sambil tersenyum.
Ia amat berharap semu merah yang mewarnai wajah Seonho bukan hanya bayangan semata.
Piya piya~ byeongari~
Dering nada ditengah sunyi bagaikan siraman air dingin yang melunturkan suasana hangat di antara mereka. Seonho menundukkan wajahnya seketika Guanlin menarik kembali jarinya. Matanya tak berhenti berkedip, gelagapan mencari ponselnya yang tidak hentinya berbunyi.
"Ha-"
"Kamu dimana woy?! Di chat ga bales-bales! Masih di sekolah ato udah jalan?-Ato masih sama orang yang mecahin kacamatamu? Kok lama banget?-Tunggu tunggu tunggu, kok sepi. Kamu nggak lagi berduaan sama dia kan? Seonho? Seonho?"
Suara yang keluar dari speaker kecil handphone sangatlah keras sehingga Guanlin pun dapat ikut mendengarkan bertubi-tubi pertanyaan yang dihujankan ke anak itu. Sepertinya ada paling tidak dua orang di sisi lain panggilan telpon, menurut kalimat-kalimat yang saling bertimpalan berebut bicara. Ia menonton Seonho menggosok telinganya sambil meringis.
"Aku belom sempet buka hape Sam, makanya belom liat chat, sori. Justin, nggak kok, udah gak sama Kak Hyunbin. Ini aku udah ninggalin sekolah, bentar lagi mo jalan. Kalian tunggu ya. Umm, paling lama setengah jam lagi nyampe."
"Kamu lagi sama siapa? Kok nggak ada suara jalan. Yakin baek-baek aja? Perlu kita dateng jem-"
"Aduh, gausah. Kalian nunggu aja. Santai-santai dulu. Nyemil, shopping, aku beneran bentar lagi kok. Ya? Dadah! Ntar aku chat!" Seonho mengakhiri panggilan sebelum orang-orang yang menelponnya mulai ribut lagi. Dia menghela napas dan mengecek waktu, mendesih saat mengetahuinya. "Ya ampun, udah jam segini…"
"Temanmu?" Guanlin mencoba terlihat santai meskipun dalam hatinya ia mengutuk timing telpon yang sangat busuk itu.
Seonho mengangguk, alisnya tertekuk turun. "Iya. Aku lupa udah janji nyusul mereka habis ketemuan sama Kak Hyunbin."
"Heboh ya," sahutnya, dan Seonho pun tersenyum malu sambil menggaruk pipi. Dari potongan percakapan yang sempat Guanlin dengar, mereka bertingkah lebih mirip orangtua daripada teman seumuran. Ia menyisir poninya ke belakang dengan tangan. "Jadi sekarang kamu harus pergi? Padahal baru aja aku bilang jangan main hilang lagi."
"...Maaf kak."
Duh, anak ini. Guanlin berangsur maju dan mencubit pipinya. Apalah itu namanya tahan diri. Semua salah Seonho yang terlalu imut. "Becanda kok. Mana boleh aku larang kamu pergi sama temenmu? Sini aku anterin ke bawah."
Sepanjang perjalanan singkat dari pintu rumah sampai ke depan pagar, Guanlin tak pernah mengalihkan perhatiannya dari Seonho. Dari ujung rambut sampai ke sepatu yang dia gunakan, bahkan gantungan kunci spongebob di resleting tasnya, semua detail ia simpan untuk menghilangkan keraguan bahwa Seonho benar-benar ada bersamanya.
"Makasih ya kak," ucap Seonho sambil membungkuk pamit. Guanlin mengangkat telapak tangannya, memintanya untuk tunggu sebentar sementara ia mengambil handphone dari saku celana.
"Boleh aku minta nomormu? Supaya bisa dihubungi kalo misalnya kamu hilang lagi," godanya setengah serius. Seonho mengangguk pelan dan mengeluarkan handphone miliknya.
"Kalau begitu, aku juga m-minta nomor kakak."
Dengan wajah malu-malunya, ditambah suara lembut nan gugup, kalaupun yang diminta Seonho adalah nomor rekening Guanlin tetap akan memberikannya dengan suka hati.
"Sampai ketemu minggu depan. Hati-hati ya." Guanlin membalas lambaian Seonho yang makin menjauh. Begitu sosoknya hilang dibalik belokan, ia melompat meninju udara.
Akhirnya.
Di layar ponselnya, tersimpan di daftar kontak terbaru, tertera sebuah nama yang hanya dirinya seorang yang tahu maknanya.
Chickderella
TBC
.
.
.
Aaand akhirnya ada ending chapter yang gak cliffhanger lagi, hahaha ^^ Maaf sekali lagi karena updatenya ngaret, salahnya ditanggung Seonho ya *ditimpuk*
Gimana kalian semua, masih sehatkah habis nonton ep 9? Saya sih nggak :D sumpah bikin kaco tuh episod :DD gak sehat :DD Lagunya bagus-bagus semua, tapi emang open ngaco abis :DDD Terus seakan belom cukup dibikin pusing, ditunjukkin duo koplak ini nari troublemaker :DD Seonho yaowoh gasantai banget dia expresinya, nak sadar nak kamu baru 15 taun, gaboleh terlalu menggoda nak… itu pantat jangan digoyang" sesadis itu nak… malah kamu sodorin buat ditepok donghan lagi, duh gimana sih nak…
Mari kita berpegangan tangan menguatkan hati hari selasa nanti waktu individual fancamnya keluar ya kawan-kawan ^^ nikmati beberapa hari ini sebelom entah berapa lagi trainee bakal ketauan dieliminasi jumat nanti ;A;
As always terimakasih buanyakkk buat para readers yang udah ngasih review, semangat dan berbagai macam hal lainnya! Baca komen" kalian cukup menguatkan saya waktu lelah suntuk kerja sambilan wkwkwk, sangat saya hargai! ^^ See you next chapter!
