-Mirror-

By Creativeactive

-;-;-;-;-;-;-

Disclaimer: Vocaloid belongs to Yamaha Corporation etc.

Pairing: Hatsune Mikuo X IA-Aria on the Planetes


.

.

.


Six


.

.

.

Pernah melihat bunga es?

Tidak usah jauh-jauh, tengok saja ke kulkas dan kau akan menemukannya. Jika tidak ada di kulkas rumahmu, ya, cari saja di kulkas tetangga sebelah. Mungkin kau akan berhasil menemukan bunga es.

Tapi di sini, aku membicarakan soal bunga es dalam volume yang besar. Seperti yang ada di kutub utara. Bunga es itu indah, tapi dingin. Ketika kau ingin menyentuhnya, kesejukkan akan terasa. Tapi jika kelamaan disentuh, es itu akan membekukanmu. Persis seperti apa yang tengah kulihat saat ini.

Tidak ada yang berani menyentuhnya, tapi semua terpana oleh keanggunannya. Orang-orang seakan tersihir oleh kedinginan matanya. Tatapannya membekukan, penampilannya simple-elegant mematikan. Rambutnya dibiarkan tergerai bak air terjun vanilla. Ia terlihat begitu fana, sangat-sangat tidak kelihatan real, begitu fiksi saking indahnya.

Seluruh orang di ruangan terpana—termasuk diriku. Maksudku, sejak kapan Aria bisa berubah dari gadis biasa menjadi wanita luar biasa menawan seperti ini?

Atau apa cuma aku saja yang tumpul, ya?

Wanita itu tersenyum padaku. Bukan senyum dingin yang selalu dilemparkannya pada orang-orang yang biasa meremehkan serta mendekatinya untuk sekedar cari sensasi, melainkan sebuah senyuman manis ekstra hangat. Membuatku bertanya-tanya sendiri apa hanya aku saja yang mendapatkan perlakuan seperti ini olehnya?

Ia berjalan ke arahku. Seketika bisa kurasakan deru jantungku membuncah, melewati kadar normal, berusaha keluar dari tempatnya berada.

Berdiri satu meter dariku, bisa kulihat aksesori yang dipakainya. Aku pun tersenyum penuh kemenangan, seakan-akan aku ini habis menjuarai Olimpiade kancah Internasional.

"Malam, Hatsune-san."

Aku menelan ludahku. Masih terus menatapi bros kucing yang tersemat di kerah jasku dan di dadanya. "Malam, Aria."

"Siapa yang merancang pesta ini? Kau, atau Hatsune-san yang perempuan?"

Aku mendekati dirinya, berdiri selangkah dari tempatnya berada. "Kami berdua. Tapi porsi Miku lebih banyak."

Bola mata biru bunga jagungnya yang cerdas menantang mataku. Aku membalasnya tanpa beban.

"Dan… di mana Hatsune yang lain itu berada?"

Kubalas pertanyaannya dengan tersenyum penuh arti, lalu menunjuk ke arah tangga dengan daguku.

Yeah, di situlah sang tokoh utama berada. Tengah menuruni tangga sambil memerhatikan para tamu undangan. Semua mata tertuju padanya, terkagum-kagum akan pesonanya. Bukan cuma cantik, Miku juga memiliki aura diva yang berkharisma. Membuat nyaris semua lelaki mampu ditaklukkannya.

Ya, nyaris semuanya.

Kecuali maniak es krim idiot itu.

Dua pasang mata itu bertemu, dan Miku berhenti menapaki tangga. Mereka berpandangan untuk beberapa lama. Kemudian, mata Miku menyusuri bagian tubuh Kaito yang lain, kesamping bawah, dan menemukan tangan pria itu mengapit tangan seorang wanita. Tangan seorang Sakine Meiko sang pacar.

Ouch.

Aku mendesah penuh kebosanan. Drama percintaan adikku memang tidak akan ada habisnya.

Mengenal adikku seumur hidup, kuyakin Miku akan menyembunyikan perasaannya dengan berjalan menuruni tangga kembali. Persis seperti yang sekarang dilakukannya.

"Adikmu cantik luar biasa. Ia sempurna, bagaimana mungkin kau bisa tidak jatuh cinta padanya?"

Sungguh, aku sama sekali tidak menyangka gadis disampingku akan berkata seperti itu. Jatuh cinta pada adikku sendiri? Yang benar saja. Tapi maaf, aku bukan penganut incest.

"Itu mustahil, Sayang. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta padanya sementara disetiap detik yang kupikirkan hanyalah dirimu."

Aku membelalakkan mata. Menoleh, dan menemukan si-Terong-Playboy di belakangku. Ah, sepertinya aku lupa pada fakta bahwa ia bisa meng-copy suara orang.

"Malam, IA." Serang Gakupo dengan senyuman mautnya.

Lekas, kupandangi Aria, yang justru hanya memasang wajah netral. Total blank. Sama sekali tak terlihat tertarik oleh ketampanan Kamui Gakupo. Justru, ia terlihat bosan. "Malam." balasnya singkat.

Gakupo melebarkan mata, sepertinya ia kaget dengan rendahnya keacuhan Aria terhadap pesonanya. Aw.

"Heh, kau hebat juga, Mikuo." Tiba-tiba ia berkata. "Well, aku hanya ingin memberikan ini padamu." Sebuah kain hitam terlipat rapi disodorkannya padaku. Tanpa bertanya, aku langsung membuka kain itu lebar-lebar.

"Kau pikir ini Haloween?" ujarku sarkastik setelah mendapat 'hadiah'nya.

"Tidak, tapi itu cocok untukmu." Gakupo melirikku, lalu pada Aria. Kembali padaku lalu ke Aria lagi. "Seperti majalah bulanan kampus Crypton yang lagi hot waktu dulu. Yang Headnews-nya, "Ketika Sang Pangeran Kegelapan Mencairkan Hati Sang Putri Es"." Tangannya terangkat seperti mengeja kalimat.

Kulemparkan pandangan tajam kepada Gakupo. Kemudian mataku mencari-cari lilin untuk membakar benda ini.

"Kurasa itu cocok untukmu." Respon Aria. "Hatsune-san akan terlihat seperti Lucifer."

"Yeah, kau akan menjadi Lucifer paling seksi yang pernah ada."

Aku mengerinyit mendengar ucapan Gakupo. Jika dia yang mengucapkan, kalimat itu malah terdengar seperti tawaran untuk ditiduri olehnya. How disgusting.

"Pakai saja, toh juga masih banyak orang yang mengenakan baju super konyol di sini." Bola mata anggrek gelapnya melirik ke seberang ruangan. Mataku dan Aria mengikutinya.

Lalu kami berdua memasang tampang 'Oh'.

Because as you see, Gakupo sepertinya kesal karena dari tadi diacuhkan oleh Megurine Luka yang sibuk dengan… uh, siapa nama pria itu? Utane-Utinson… ah, bukan, dia orang Jepang, marganya bukan itu. Ugh, whatever. Aku tidak mau membuang waktu untuk mengingat orang tidak penting.

"Konyol sekali pakaian mereka itu." ejek Gakupo samar. Padahal kurasa, pakaian mereka biasa saja. Luka memakai dress strapless selutut warna salmon sementara Mr. U memakai tuxedo putih dengan dasi merah muda. Hm, mungkin yang menurutnya konyol adalah lelakinya saja.

Aku mendengus. "Look who's talking ini here. Kau pikir kau tidak sama konyolnya, Gackt?"

Mata pria itu memelototiku, sengit. "Well, Setidaknya, aku tidak akan memakai baju seperti itu ke pesta reunian."

Aku memandanginya, memasang wajah datar. "Kilahanmu payah. Kau hanya sedang cemburu, makanya kau mengkritik penampilan mereka. Biasanya kau tidak pernah peduli penampilan orang lain."

Pria itu terkejut, kemudian tertawa, nyaring. Membuat orang-orang di sekitar ruangan memperhatikan kami, dan aku membencinya. "Ouh, dingin seperti biasa. Aku sempat curiga kalau kau itu menyimpan bakat sebagai seorang cenayang." Gakupo tertawa lagi. Saat sumpah serapah sudah kusiapkan keluar dari mulut, seseorang menarik lengan jas hitamku.

"Mikuo, boleh bicara sebentar?"

Mata biru phythalonya menghantamku serius. Ralat, idiot es krim itu sedang sangat serius. Biasanya jika ia sedang dalam keadaan 'normal' ia akan memanggil semua orang dengan embel-embel 'kun' ataupun 'chan'.

Kepalaku menoleh pada Aria. Ia pun mengangguk singkat, mengindikasikan untuk memperbolehkanku pergi.

Aku menuntun Kaito ke ruangan yang lebih private; kamarku sendiri.

"Tentang Miku?"

Bola mata Kaito melebar mendengar tebakanku. Ia menyipitkan matanya, curiga. "Kau ini bisa membaca pikiran atau apa sih?"

Aw, perkataannya sama persis seperti Miku. Romantis sekali.

Sepertinya aku harus meresponnya dengan perkataan yang sama pula. "Tidak, Kaito. Aku hanya seorang cameo observator tidak penting yang kajiannya adalah para tokoh utama. Itu saja."

Kaito langsung mengerutkan dahinya, tidak mengerti. "Yah, itu tidak penting. Kembali ke Miku. Kau sepertinya tahu kalau dia jatuh cinta padaku." Mata Kaito menantangku. Aku hanya membalasnya datar. "Dan, karena aku sudah pacaran dengan Meiko, jadi…"

"Kau ingin menyelingkuhinya?"

Rahang pria itu terbuka seketika, mata membelalak sempurna. "Sama sekali tidak! Memang jika aku menduakan mereka kau akan merestui perbuatanku?"

"Tentu tidak, Kaito. Pertanyaanmu itu bodoh sekali."

"Lalu kenapa kau menanyakan hal itu?"

Aku mengangkat bahu. "Hanya ingin mengujimu."

Kaito mengerinyit, bingung. Tampangnya bodoh sekali, aku heran kenapa banyak gadis yang tergila-gila padanya, termasuk Miku. "Bukan itu yang ingin kulakukan, Mikuo-kun. Tapi aku mau kau menjauhkanku dari Miku-chan. Aku ingin serius pada Meiko, tapi aku juga tak ingin membuat Miku-chan tersakiti."

Ouch, bagaimana reaksi Miku jika ia mendengar hal ini?

"Mungkin, akan lebih baik juga jika kau mengenalkannya pada salah seorang temanmu. Siapa tahu Miku-chan bisa melupakanku dengan adanya keberadaan orang lain dihatinya."

"Kau mengharapkanku untuk menjadi biro jodoh dadakan?" Aku mendengus. "Jangan mimpi."

Wajah Kaito jadi merengut, memelas penuh kebutuhan akan pertolongan, gadis-gadis pasti sudah teriak-teriak melihatnya. But ugh, please, jangan harap puppy eyes atau sejenisnya akan berpengaruh padaku.

"Mikuo-kun, kau sahabatku."

"Jangan gunakan alasan sahabat untuk memanfaatkanku."

Oh well, tampaknya Kaito kehabisan kata kali ini.

"Mikuo, tolonglah. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi!"

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas tepat. Sudah sepuluh menit aku bersama Kaito. Aku ingin segera bertemu Aria. Ia pasti kelamaan menunggu.

Aku berdiri, menyiapkan kalimat untuk teman masa kecilku, yang bisa bertemu denganku akibat kebodohannya menumpahkan es krim di kepala adikku. "Miku bukan anak kecil lagi, Kaito. Jika tindakanmu menyakitinya, aku tidak akan marah. Sebab itu bisa menjadi sumber pembelajaran hidupnya, untuk bangkit kembali dari rasa sakit. Jika ia tidak mampu sendiri, ia masih punya sahabat setia dan keluarga yang akan membantunya kapanpun dibutuhkan. Cepat ke lantai bawah, kau hadapi dia, dan lakukan apa yang kata hatimu inginkan." Aku menarik nafas dan membuangnya perlahan. "Serta, keluarlah dari kamarku. Sekarang."

Kaito menunduk, berjalan ke arahku. Sesampainya ujung pintu, ia menepuk bahuku. "Thanks, Mikuo. Kau memang mahkluk menyebalkan, luar biasa sarkastis, cuek overdosis. Tapi kau selalu mengikuti kata hatimu, suatu hal yang selalu membuatku iri. Dan kau mampu mengambil keputusan secara bijak. Kurasa itulah yang membuatmu bisa seperti sekarang." Kaito tersenyum bersahabat padaku. "Oh, dan kurasa kita harus ke bawah sekarang. Ada dua gadis yang menunggu."

Oh, sial. Aku melupakan Aria!

Kakiku melesat menuruni tangga. Mataku sudah mencar-mencar mencari-cari keberadaannya. Rambut pirang stroberi panjang, dress putih pualam dengan bahu terbuka bak putri es, mata biru bunga jagung yang menyala dingin. Aku tetap tidak menemukannya.

"Mencari seseorang?"

Aku menoleh padanya. Lalu mengabaikannya untuk mencari gadis itu lagi. Tak ketemu juga, aku membuang nafas frustasi.

"Barusan dia bersamamu, kau tidak melihatnya, Gackt?"

Gakupo mengangkat bahunya. "Saat aku mau mengambil minum, ia pergi. Kurasa dia sudah pulang. Aku tidak melihatnya dari tadi."

Pulang? Pada tengah malam seperti ini? Keningku mulai keringat dingin. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika Aria sampai kenapa-kenapa.

Buru-buru, aku meraih Handphone-ku. Menekan panggilan kepada Aria. Gila, saking paniknya aku bahkan tidak berpikir untuk meneleponnya sebagai alternatif utama.

Setelah beberapa saat, telepon itu terangkat.

"The number you are calling are busy or out of the service area. Please try again later or—"

Panggilan kumatikan.

Aku menelan ludahku.

Tenang, Mikuo, tenang. Jangan bertindak gegabah. Ingat prinsipmu, salah satu langkah semua akan buyar. Tenanglah dan berpikir, kira-kira jika kau menjadi Aria, kau sedang berada di mana sekarang?

Sedetik, dua detik, tiga detik. Ting tong!

Kakiku berpacu menuju areal belakang rumahku, di sana ada taman kecil di samping kolam renang. Aku yakin Aria ada di taman itu. Alasannya? Karena Aria itu tidak suka keramaian. Ia pasti memilih tempat yang sepi manusia untuk menyendiri, bercengkrama dengan kucing ataupun hewan lain.

Tebakanku benar. Gadis itu memang ada di sana, tapi ia tidak bercengkrama dengan kucing seperti tebakanku. Ada seseorang yang menemaninya. Mau menebak itu siapa? Aku berani jamin, apapun tebakan kalian, kalian pasti salah semua.

Orang itu adalah wanita paruh baya pengurus rumahku.

Singkatnya, ia adalah pelayan yang disewa orang tuaku untuk membereskan rumah ini jika sudah selesai pesta nantinya.

"Lama menungggu?"

Diterangi cahaya bulan, kulit Aria tampak berkilauan, yang membuat sosoknya semakin terasa fana. Ia pun menoleh padaku, kemudian menyimpulkan senyum sederhana yang manis. Rasanya aku ingin menampar diriku sendiri agar tidak mudah terbius akibat senyumannya.

Pelayan wanita itu berdiri dan membungkuk hormat padaku. Mulutnya mengucap permisi, tapi aku menahannya pergi.

"Apa yang kalian bicarakan?"

Dua wanita itu melebarkan matanya, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

"Bukan sesuatu yang penting untukmu kok." Aria membiusku lagi dengan senyumannya. Tapi tidak, aku tidak akan bisa dialihkan sebegitu mudah.

"Aku sendiri yang akan memutuskan penting atau tidaknya pembicaraan kalian itu."sekarang giliranku yang menantang mata Aria. Dan dia balas menatapku, dengan pandangan yang tak kalah kuatnya.

"Itu urusan wanita. Laki-laki jangan ikutan." Ia tersenyum penuh kemenangan. Kabar buruk, Aria, aku tahu cara membalasmu.

"Benarkah itu urusan wanita? Karena barusan aku mendengar namaku di sebut-sebut oleh kalian." Ujarku santai.

Aria tidak pintar berbohong—koreksi, ia tidak terbiasa berbohong. Wajahnya tetap netral, namun kilatan matanya menceritakan segalanya.

"Aku anggap diammu sebagai 'iya'." Aku beralih pada pelayanku. "Apa tebakanku benar?"

Wanita itu tersenyum. "Anda benar, seperti biasa, Hatsune-sama." Ia lalu kembali membungkuk, aku mempersilahkannya pergi.

"Aku harus pulang."

Kugigit bagian dalam pipiku. "Acaranya bahkan masih belum mencapai puncaknya."

Matanya memandangiku, lekat. Aku bisa melihat cermin matanya yang terbiasa memancarkan ketidakpedulian dan kedinginan, kali ini memancarkan sepercik kerapuhan yang tersembunyi. Dalam hati kuberharap, semoga suatu saat nanti Aria mau menunjukkan kerapuhan itu padaku. "Tujuanku ke sini hanya untuk menemuimu, bukan untuk menikmati acaranya, Hatsune-san. Besok aku ada urusan pagi-pagi, jadi aku harus pulang sekarang."

Aku mendecak. Panggilan Hatsune-san darinya itu sangat menganggu pendengaranku. Terucap sangat formal dan menyebalkan saat masuk telinga.

"Mikuo."

"Maaf?"

Kutatap matanya lurus-lurus. "Panggil aku Mikuo."

Cuma perasaanku saja, apa aku mendengar detak jantung yang memburu? Itu milikku atau milik Aria? Aku meraba dadaku, yang jantungnya memang berdetak lebih cepat dari biasanya. Tapi aku tidak merasa detak jantung yang memburu barusan adalah milikku. Jadi, apa ini milik Aria?

Kepala Aria tertunduk. Rambut pirang stroberinya jatuh bak air terjun, membuatku terkagum akan betapa panjang rambutnya dan betapa hebat ia merawatnya. Tanganku mengenggam lembut rambut itu, dan, diluar akal sehatku… aku menciuminya.

Tuhan, di mana letak kewarasanku sekarang?

Aria membelalak kaget oleh tindakanku. Untuk membungkam kecanggungan, aku berkata, "Perempuan bahaya kalau pulang malam sendirian, aku akan mengantarmu. Jangan menolak, karena aku memaksa."

Ia hanya menurut padaku saat aku mengenggam tangannya keluar kediaman Hatsune. Semua mata memandang, penasaran akan perbuatanku. Tapi minimnya keacuhanku segera menciutkan keberanian mereka semua untuk bertanya.

Memasuki mobil, kami hanya berdiam diri. Kami sudah terbiasa seperti ini, tapi entah mengapa suasananya terasa salah.

Sesampainya di rumah Aria, aku kaget. Tak pernah kuduga ternyata rumahnya adalah rumah sempit yang sederhana. Sama sekali tidak mewah, tapi ada hawa "Home Sweet Home" yang terpancar kuat dari rumah tersebut.

"Kaget? Karena rumahku bukan rumah-rumah mewah seperti yang kau bayangkan?" Aria bertanya. Dan sejak kapan dia bisa membaca pikiranku?

"Ya, kaget dan kagum. Karena walaupun aku sangat yakin kau luar biasa kaya, kau justru memilih untuk tinggal di rumah seperti ini. Patut diacungi jempol."

Ia tersenyum kecil, pancaran matanya penuh arti. "Terima kasih sudah mau mengantarkanku, Mikuo."

Mikuo.

Mikuo. Mikuo. Mikuo. Aku tersenyum, ketagihan mendengar suaranya mengucap namaku. It just feels so right. Seakan, Aria memang didesain untuk memanggilku Mikuo, bukan Hatsune-san. Aku mengulang MikuoAria, MikuoAria, MikuoAria di kepala. Aku suka mendengar perpaduan nama itu.

"Selamat tinggal…"

"Untuk berjumpa kembali." Lanjutku.

Wanita itu tersenyum, melambai, lalu masuk ke dalam rumahnya. Aku menunggu sampai ia menutup pintunya, membuka tirai jendela, dan melambai padaku untuk terakhir kalinya.

Semuanya terasa sangat singkat. Disepanjang perjalanan pulang aku banyak berpikir, berandai-andai, memutuskan pilihan yang sudah mantap. Raung kendaraan di kota Tokyo menemaniku yang kembali mengenang, mencecap serta merindukan sosok wanita yang tadi duduk di sampingku.

Aku menutup mataku, menghela nafas panjang. Jam dua belas tepat, dan aku sudah bersiap untuk menghadapi dunia.

.

.

.

.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Halo,

Buat kalian-kalian yang udah mau menyempatkan diri untuk review, follow dan favorite, fict makasih banyak yaaa... Trus buat para Silent Reader juga makasih ya, udah mau menyempatkan diri untuk baca :D

Oh ya, saya mau minta pendapat readers, nih:

1. Menurut kalian Megurine Luka, kembar Kagamine, Gumi, dan Piko itu lebih cocok masuk kuliah jurusan apa?

2. Siapa laki-laki yang cocok buat jadi pairingnya Miku selain Kaito, Mikuo, Gakupo, dan Len?

3. Bagi pembaca cowok, menurut kalian Mikuo itu udah bener-bener jadi cowok ngga? Soalnya kan saya perempuan, jadi ngga terlalu mengerti isi pikiran laki-laki itu gimana...

Dah, segitu dulu.

Mind to review?