"…Seandainya saja lo bisa jadian sama si Shun… Lo tetep temen gue, 'kan?"
"Mi… Lo kenapa…?"
Seusai meluncurnya pertanyaan itu dari bibir Moriyama, kamar terasa begitu hening. Demi semesta alam dan seluruh isinya, ucapan Miyaji barusan benar-benar aneh. Entah dia kesambet apa, entah dia kerasukan jin apa sampai-sampai menanyakan hal seperti itu. Moriyama Yoshitaka, yang ditanyai, tidak tahu menahu.
"…Wait. Tunggu. Tunggu dulu, Miyaji Kiyoshi—lo kena apa sampe nanya hal yang agak sensi gitu ke gue, Mi? Lo lagi demam atau gimana?"
"…"
"Maksud lo 'tetep temen' itu… Lo nggak mau gue ngelupain lo, begitu 'kan?" Mi… Jangan-jangan lo…" Moriyama menelan ludah sendiri. Gawat, gawat, gawat—situasi mulai sulit ia kendalikan. Miyaji masih membisu, entah mengapa kamar sangat panas walau kipas angin menyala dalam kekuatan tinggi, sementara dahi jenong Moriyama sudah dibanjiri keringat. Moriyama sendiri tak tahu harus sabar bertanya baik-baik pada Miyaji yang agaknya enggan membuka mulut, atau membelokkan topik dengan candaan garing—
"…Mi, lo suka sama… Gue?"
Terucap grogi—kalimat dengan niat bercanda. Penuh harapan agar sang roommate menonjoknya, bersikap tsundere, melemparinya nanas Subang atau apapun yang bisa membuatnya kembali ke diri asalnya. Bukan maksud jadi maso, tapi Miyaji Kiyoshi currently, tanpa ragu lagi, kelewat aneh—apa sebabnya masih misteri alam.
Respon dari sang pineapple princess hanya gelengan—atau anggukan, tidak jelas. Yang pasti Moriyama mendapati berubahnya warna wajah sang roommate… Samar-samar terhias kemerahan. Tunggu—apa?
'Eh? Ya Tuhan, ini beneran? Ciyus? Ciyus miapah!? Tolong—tolong jangan permainkan keadaan, ya Tuhan! Mengapa Miyaji jadi…'
"Gue sendiri nggak ngerti, Yos… Gue nggak tahu, gue kenapa…" Miyaji mengeratkan remasan tangannya ke t-shirt oranye yang tengah ia pakai. Ekspresinya ragu, bingung, stres—
"Entah kenapa ya, gue harus bilang begitu ke lo. Gue nggak tau apa yang bisa-bisanya ngedorong gue ngomong begini, entah kenapa habis banyaknya kejadian hari ini, gue…"
Giliran bibir Moriyama terkunci rapat. Okay, matanya masih sempurna tanpa cacat, non-rabun, dan penglihatannya takkan tega berbohong. Ini bukan fatamorgana—pemandangan di hadapannya bukan sekedar oasis palsu di tengah gurun Sahara. Miyaji, sang roommate-nya tersayang, benar-benar seperti cewek labil terserang demam sekarang. Ia tahu jelas gender Miyaji masih lelaki, tapi labil—itu sudah so pasti.
Gestur jemari itu, wajah kebingungan yang begitu memerah itu, kalimat yang sungguh rancu itu… Semuanya tidak ia mengerti.
'Apa yang membuat Miya jadi begini…Gue harus tahu sebabnya.'
.
.
Judul: Si Manis Warung Martabak (?)
Pair: Moriyama/Izuki feat Izuki—ehm—Shun centric, MoriMiya [sudah mulai tetap mwaha] dan pair lainnya
Summary: [Begitulah, pemuda manis itu adalah alasan Moriyama untuk membeli martabak Pakde Kiyoshi setiap malamnya.]
Disclaimer: Kuroko no Basuke punya om Fujimaki Tadatoshi yang kenapa ga canonin MoriMiya di manga /NGGA/ sementara perumahan yang jadi contoh punya pemiliknya. Kiyoha cuma pinjem buat asupan nutrisi seimbang :) /koksenyum
Warning: mabok, Indonesia!AU, koskosan!AU, umur random, status random, pairing random. OOC karena diperlukan, maybe typo(s) dan bahasa baku itu apa. bahasa sehari-hari bertebaran di mana-mana dan bercampur bak gado-gado. Humor tidak bermutu SNI dan fading di chap ini-biar romens keliatan gitu wk. Semoga anda tidak bingung membacanya.
.
.
'Miyaji… Sejak semalam ia menolak untuk bicara dengan gue. Apa sebabnya, sama sekali nggak kepikiran. Ayolah, semalam aja dia sempat nanya hal yang nggak jelas kayak—'Jangan lupakan gue?' What? Oke, sejahat-jahatnya gue—Moriyama Yoshitaka padanya, walaupun kesampean jadian sama Shun (Amiiin) Nggak bakal ngelupain dia juga, kan! Apa yang bikin Miyaji jadi parno gini?'
'Pagi ini juga, Miyaji berangkat seperti biasa, lebih pagi. Tapi lain dari biasanya, sama sekali nggak ada salam atau pelukan hangat sebelum berangkat—cuma diam seribu bahasa. Sunyi senyap—macam orang bisu. Walau gue bicara juga takkan doi gubris. Bahkan nggak ada seruan 'aku berangkat' yang biasanya. Miyaji tidak mau bicara denganku sama sekali… Hanya dapat memasang wajah sulit.'
'Mengapa? Mengapa? Mengapa?'
"…Kak Mori." panggil seseorang, menyadarkan tokoh utama kita yang jones ini, Moriyama Yoshitaka, dari lamunannya. Lewat 10 menit terhitung ia bengong saja, tak menyentuh telur goreng di depannya yang mulai mendingin dan mulai dipadati wisatawan—baca: lalat.
"Kak Mori kenapa? Kok bengong aja sih? Telurnya Kouta makan nih ya. Tuh liat daripada dihinggapin pak lalat."
"He-eh. Sok ndahar."
Hayama mendengus kemudian mencolok-colok pipi sang kakak tetangga dengan garpu. "Kaaak? Serius nih, boleh Kouta makan? Kakak nanti sarapan apa ei."
Moriyama masih hanyut dalam lamunan. Hayama manyun.
"Kak!" teriak Hayama nggak sabaran. "Kakak kenapa sih! Kayak jomblo galau aja bengong melulu!"
Moriyama mengerang, kemudian memegangi area jidatnya seperti orang frustasi. "Gue nggak kenapa-kenapa, ma. Dan iye makasih banyak udah ngingetin kalo gue jomblo. Tengkyu seribu tengkyu."
"Kakak, Hayama serius—eh gak, dua rius deh!" ujar sang bocah kuning sambil membentuk jemari tangan menjadi V. "Kakak… Lagi berantem sama Kak Miya, ya?"
Uhuk. Moriyama keselek air putih.
"Uhuk, uhuk, Hayama, kena—"
"Lagian sih kakak dari tadi subuh nggak ada ribut-ribut sama Kak Miya." jawab Hayama simpel. "Asal kakak-kakak tau ya, 'kan kalo kakak-kakak ribut pagi-pagi tuh kedengeran sampe kamarnya Kouta. Kayak waktu itu ribut gegara tugas kak Miya dikira kertas minyak buat martabak, kak Miya marah-marah soal kak Mori ngungsi ke kasur kak Miya gegara ada kecoa terbang, terus waktu kak Miya—"
"Cukup. Cukup. Iya iya gue ngerti." Moriyama nepuk jidat. Hayama ini—pendengarannya kuat, sekuat kucing garong. Bisa-bisanya aja dia denger ribut-ribut dari kamar Moriyama tiap kali ada 'musibah'. Iya sih kamarnya cuma beda beberapa meter dari kamar Moriyama, tapi nguping 'kan kebiasaan yang penuh mudhorot—
Ya sudahlah, lupakan. Sekarang, ia harus cari tahu apa yang aneh dengan Miyaji—berarti yang harus ia datangi pertama…
…Ootsubo Taisuke, sahabat Miyaji zaman SMA.
.
.
.
Begitulah, selagi masih ada waktu (sfx: petikan gitar mellow) sebelum caw ke kampus, kaki-kaki kurus bertameng swallow milik Moriyama melangkah maju tak gentar menuju agen beras Ootsubo, badan usaha turun temurun tujuh turunan menurun (kitakore) milik keluarga Ootsubo yang terlimpahi kemakmuran.
Ya, ini pasti tempatnya. Dengan batas wilayah terapit gym berhias spanduk om-om macho di arah jam 12, toko baju necis gadis-gadis modis kelolaan Satsuki di sebelah kiri, dan fotokopi Macan Biru 90 derajat arah barat. Oke, ini agen beras Ootsubo. Sekarang tinggal cari penghuni setianya, Ootsubo Taisuke. Di manakah doi gerangan?
"Wah, Moriyama." Belum sempat sang tokoh utama celingak-celinguk mencari sang pedagang beras macho, yang dicari sudah keburu datang duluan sembari memanggul 2 karung beras di bahu tegapnya. "Tumben dateng? Mabok terigu? Udah kangen makan beras, ya? Tenang, kualitas beras Ootsubo nomor satu."
"Err, bukan gitu mas, eh om, eh bo." Moriyama gelagapan. Bukan gara-gara Ootsubo nongol tiba-tiba macam hantu jembatan layang, tapi gegara adik bungsu Ootsubo, Tae—mendadak berdiri ayu di sebelahnya sambil membawa sampel beras panen terbaru—biar dicobain. Siapa tahu doyan, terus Moriyama borong sekarung.
Ehem! Moriyama Yoshitaka, tokoh utama kita yang klimis ini, berdeham keras. Hampir saja topik yang ia persiapkan matang belok cuma gegara nikmatnya beras panen terbaru keluarga Ootsubo. Intinya, sekarang dia harus segera menarik sang putra sulung—Ootsubo abang pergi, kemudian bicara empat mata—delapan, ditambah mata kaki yang kini terbungkus swallow.
"Udah—pokoknya, Ootsubo, ikut gue bentar sini! Gue pengen ngomong eye-to-eye sama lo! Urusan penting, nih!"
"Naon, Mor? Lagi jaga toko, nih! Walo dedek manisku ini lagi libur sekolah, sih—tapi ndak bisa dong ditinggal sendirian. Nanti dibetak seliter-dua liter sama Narumi yang kurang asupan sangu gegara kebanyakan dipake buat beli voucher Poin Bleng. Ayolah, swa sembada beras lagi langka, nih! Ntar musim paceklik, lumbung kerontang, bagaimana jadi—apa kata dunia." cerocos Ootsubo, masih sambil menumpuk karung-karung beras di gudang penyimpanan. Tae masih cengar-cengir unyu.
"Bentaaar… Aja." Moriyama masih nggak mau ngalah—walau sendi engsel kakinya sudah 5L—lelah lemas lesu lunglai lha piye. Tapi demi baliknya sang roommate unyu ke factory mode alias bentuk asal, apapun akan ia lakukan—walau ia kudu pergi ke ujung dunia demi meraih cincin batu akik yang dikuasai Smigel kemudian melemparnya biar hangus di kawah gunung Mera—oke maaf saudara-saudara, ini pasti efek menonton 'Raja Cincin Batu Akik' via home theatre di ruang audiovisual kampus minggu lalu.
"Ini nih ya… Ada hubungannya sama Miya. Miyaji Kiyoshi yang unyu itu." akhirnya Moriyama to the point juga. Yah, daripada ia harus mencerna segala ocehan Ootsubo mulai dari hyperinflation sampai dengan beras cap dua sejoli, mendingan ia langsung gas saja. Nah 'kan, belum apa-apa Ootsubo sudah memelototinya setajam silet.
"Apa kata situ… Miya? Lah memang ada masalah apa sama dia? Kemaren aja nggak ada apa-apa, kok. Berantem, ya?"
"Ngg… Nggak sih bukan berantem, tapi yah… Udah ah sini dulu, daku mau ngerumpi bareng situ kayak ibu-ibu. Plis bentaaar aja. Ini juga mau berangkat ngampus."
"Aah… Okelah. Di kos situ aja ya biar privasi terjamin."
.
.
.
"Jadi gini ceritanya…" Moriyama memulai pembicaraan, ditemani dua cangkir teh manis hangat dan biskuit Engkong Guang sisa lebaran. Ootsubo yang menjadi lawan bicara hanya mengangguk-angguk, mempersilakan si klimis untuk melanjutkan.
"Err, begini. Sebenernya nih, dari semalam Miyaji tuh aneh banget kelakuannya, gue juga nggak ngerti. Doi jadi lebih diem, nggak mau ngomong sedikitpun, balas skinship pun nggak! Gimana nih, apa gue bikin dia marah atau gimana, ya? Gue juga nggak ngerti, nggak tahu gimana benerinnya… Gue pikir, lo yang sahabatnya pas SMA bisa ngerti." jelas Moriyama, menceritakan konflik yang membebani punggungnya. Ootsubo berhenti manggut-manggut, jemari besarnya meraih biskuit setengah melempem dari toples kemudian berkata,
"Biasa. Dari dulu juga kadang-kadang ada hari kayak begitu, kok. Miyaji itu, diluar dugaan sensi-an. Ada waktu di mana dia seneng, marah, sedih, galau gila atau malah senyap kayak yang situ alamin. Biasa… Moodswing."
"I-Iya gue tau kalau Miya tuh bisa dengan gampangnya gonta-ganti mood, tapi… Gue baru pertama kali dapet yang ekstrim kayak gini, ya jelas gue bingung…" Kedua alis tipis Moriyama bertaut cemas. "Habis… Semalam Miya juga ngomong hal yang aneh banget ke gue…"
Untuk sekejap, pupil Ootsubo memicing.
"…Hal aneh?"
"Iya. Dia ngomong hal yang sama sekali nggak kepikiran kalau doi bakal ngomong begitu. Habisnya, nggak jelas apa maunya, dan rasanya… Miyaji beda…"
Ah. Mendadak rasanya déjà vu. Ootsubo kenal sikon rempong macam ini.
"Oke, kalo lo beneran kepikiran dan cemas soal apa yang Miyaji omongin ke lo… Gue bakal bantu sebisanya. Jadi? Semalam Miyaji ngomong apa, yang bisa bikin lo jadi galau tingkat dewa begini?" Ootsubo mulai serius, kalimat interogasinya mulai meluncur mulus. Moriyama menelan ludah paksa, baru menjawab dengan terpatah,
"Gi-gini… Masa Miya mendadak bilang… 'Kalo misalnya gue—Moriyama Yoshitaka, kesampaian jadian sama Shun, gue masih temen dia—temen Miya', gitu." Moriyama mengacak sebelah kepalanya, frustasi. "Aaah, gue nggak ngerti lagi! Punya hint nggak, Ootsubo? Mungkin dulu pernah kejadian apa, sampai tau-tau ia begini?"
Sang pedagang beras bersurai jabrik itu berpikir keras, jauh lebih keras dibanding biasa. Menggali memori soal beberapa tahun yang lalu—yang mungkin bisa bantu menyelesaikan masalah Moriyama yang semakin desperado. Beberapa kali memutar otak, akhirnya memori penting keluar dari laci-laci ingatannya juga.
"Gue… Inget. Walau gue cuma dua tahun satu sekolah sama dia, tapi seinget gue sih, Miyaji itu kayak takut ditinggal sama seseorang… Mungkin."
Ya. Ia ingat. Saat itu, Miyaji pernah bilang padanya.
.
.
Tectona Grande, about 1 year ago.
.
"Mi, gue nggak nyangka lo beneran pindah ke Depok. Great work, sukses masuk universitas kuning nih, ya! Traktiran, dong!" seorang pemuda bersurai jabrik tertawa lepas, membuat pemuda bersurai kekuningan di rangkulannya tersenyum kecil.
"Ahhahaha… Dompet gue aja kosong gegara pindah ke kosan." Pemuda bernama Miyaji itu tertawa miris—kemudian beralih memandang sahabatnya dengan wajah muram.
"Derita anak kosan, ya. Ngomong-ngomong, kenapa mendadak pindah dari Jakarta ke sini? Pakai milih univ kuning segala. Bukannya lo pernah bilang kalo enakan tinggal di Jakarta karena dekat teater, ya?"
"Mmhm. Ada beberapa alasan, sih… Yang paling jelas ya… Ootsubo, lo inget 'kan soal yang gue ceritain waktu itu… Yang gue naksir seseorang, tapi dianya nggak pernah sadar?" Miyaji memulai cerita. Ootsubo manggut-manggut, ingat dengan kejadian yang dimaksud. Itu mungkin sekitar… Waktu Ootsubo kelas 3 SMA, dan Miyaji kelas 2. Menggigit pinggir bibir bawahnya, Miyaji melanjutkan cerita walau dengan suara yang seakan tercekat.
"Gini… Gue rasa, gue ditolak."
Ootsubo membulatkan mata tidak percaya. Bohong, ah. Miyaji yang konon mantan 'School Prince' plus vokalis grup band ternama sekolah, ditolak? Yang bener aja! Siapa orang sedeng yang dengan enaknya nolak Miyaji tanpa mau mengerti perasaannya—
"Err… Bukannya ditolak, mungkin. Gue juga nggak nyatain perasaan, sih… Tapi, gue merasa ditinggalkan… Setahun ini. Ditinggal sendirian. Gue tahu, mau dia pergi ke mana juga bukan urusan gue, dia sendiri juga kayaknya nggak sadar sama sekali kalo gue suka sama dia, mungkin gegara kesan pertama gue yang buruk di matanya, tapi tetap… Bodohnya, gue dateng ke Depok dengan alasan cemen begitu." Kedua jemari telunjuknya mulai beradu, sementara untaian kalimat yang terkesan putus asa masih meluncur pelan di udara.
"Ja-jadi…" Ootsubo menelan ludah. "Doi-lo itu… Sekarang ada di Depok?"
Miyaji mengangguk pelan. "Yah—bukan di universitas kuning sih, leganya. Tapi ya… Gue payah, ya? Sudah tahu rasa ini nggak akan disadari… Gue niat ngelupain dia, tapi… Ternyata nggak mudah. Gue masih kepikiran soal dia, dan sekarang karena gue masih ingin 'dekat dengannya', gue pindah ke Depok… Bodoh, ya?"
"Miyaji…"
"Ootsubo, asal tahu nih ya, gue…" Kemudian sebuah senyuman pahit mengembang perlahan di pipi mocha milik Miyaji, "Gue paling takut kalau gue… Ditinggal sendirian."
.
.
"Ah, jadi begitu…" ujar Moriyama, tokoh utama kita kali ini, setelah mendengar penjelasan merangkap nostalgia dari pemuda penjual beras—Ootsubo. Sekali lagi Ootsubo manggut-manggut.
"Yah—Mor, situ tau 'kan kalo dulu SMA gue sama Miyaji itu, kesenjangannya kuat banget? Antara kaya-tidak, pintar-biasa saja, dan punya pacar-jomblo." lanjut pemuda jabrik itu. "Mungkin Miyaji merasa tertekan atau gimana ditinggal si 'anu' ini, makanya dia jadi fobia sendirian…"
"Jadi… Miyaji memang…" Moriyama berucap tertahan. Ah, demi alam semesta dan seluruh jomblo di dalamnya, ketakutan Moriyama jadi kenyataan. Ya, Miyaji takut akan kesendirian. Mungkin karena dia biasa hidup ber-geng, atau gegara ditinggal doi? Penyebabnya kompleks.
"Mor, satu hal yang bisa gue minta tolongin ke situ sekarang…" Ootsubo mulai maju-maju dan menggenggam tangan sang jones erat-erat bagai anak kecil memegangi balon. "Terkadang hidup itu memilukan, Mor, yang bisa lo lakuin sekarang itu… Pegang tangan Miyaji, dan rasakan yang doi derita. Jangan cuma melihat dari balik awan."
Ootsubo berucap dengan seriusnya—namun Moriyama langsung ngeh kalau tuan jabrik itu mengutip kalimat dari salah satu band pemes, Tinkerbell. Maklum lah, Ootsubo 'kan mantan drummer band SMA. Ya sudahlah— Yo wes.
"Tanpa lo bilang gitu, gue bakal terus lindungin Miyaji, kok. Lo percaya sama gue 'kan, se-ni-or?"
.
.
Pukul 4 sore waktu Indonesia bagian Barat.
Hayama baru saja balik dari mengurus surat-surat keterangan pindah sekolah, turut Om Mido ke SMA barunya. Tanpa Hayama sendiri duga, takdir manis mengantarnya masuk SMA negeri tempat Shun dan Junpei menuntut ilmu. Kebetulan yang manis kadang menyetrum raganya bagai listrik.
Yah, di lain sisi, Miyaji sang kakak kos paling unyu tersayang juga sudah pulang dari kegiatannya ngampus. Menurut Hayama's vision yang setajam silet, Miyaji masih galo. Masih… Banget. Walau doi berusaha kuat nyembunyiin perasaan di balik topeng pokerface, aura galau itu masih merambat ke udara.
Ogah terus-terusan dalam situasi awkward macam begini, Hayama membanting pintu kamarnya (yang disusul omelan Tante Kazu), melempar tasnya asal-asalan ke atas kasur kemudian melangkah cepat ke kamar Miyaji dan Moriyama. Cukup, dia sadar kalau percuma ngandelin Moriyama buat ngatasi ini sendirian. Nggak bisa.
"Kak Miya." Kalimat bernada tegas meluncur mulus dari bibir Hayama, mengejutkan Miyaji yang tengah mengotak-atik tugas kuliahnya. Tak lama, mahasiswa bersurai kekuningan itu menoleh dan memasang topeng senyumnya… Lagi.
"Hayama. Sudah pulang, toh? Gimana sekolah barunya?"
Pertanyaan biasa.
"…Cukup nyaman. Nggak ada yang spesial." jawab sang bocah SMA datar. Miyaji memiringkan kepala, heran kenapa cara bicara anak manis di hadapannya jadi berubah drastis begini. Dari sok imut jadi sok jutek. Belum sempat ia bertanya lagi, Hayama mendahului.
"Kak Miya… Hari ini aneh."
Miyaji terbelalak. Namun ia segera menutup-nutupi dengan topeng senyumnya. Ia membuang muka, sok sibuk dengan tumpukan tugas di pangkuannya.
"Ng-nggak, kok. Duh, apanya sih yang aneh? Gue nggak aneh sama sekali, kok. Kalo Hayama ngeliatnya gue kayak agak stress atau gimana, lihat aja nih, gue lagi kebanjiran tuga—"
Belum sempat kalimat itu meluncur sempurna, kedua pipinya terkunci… Oleh sepasang telapak tangan hangat anak SMA di depannya. Hayama Koutarou—bermimik sendu.
"Kak Miya…" Ia menghela napas panjang. "Kemana perginya senyum kak Miya?"
"E-Eh?"
"Hari ini… Kouta sama sekali belum lihat senyum ceria kak Miya yang biasanya. Kenapa, kak? Ada masalah? Kalau ada masalah ya bilang Kouta aja! Nanti Kouta bantu, kok!"
Hayama berujar khawatir, namun Miyaji malah merasa terpojok. Sekali lagi ia memberontak, mencoba membuang mukanya ke samping—menghindar dari tatapan intens bocah SMA yang menguncinya di antara dinding.
"A-Apa, sih… Dari tadi 'kan gue juga senyum, terus… Dibilangin gue lagi stres tugas, Hayama… Lo mau bantu pun, pastinya susah. Lagipula… Buat apa khawatirin gue? Masih banyak orang yang lebih pantas dikhawatirin… Shun misalnya."
'Mengapa kak Miya mengambil Shun untuk contoh?'
Mendengar ucapan sang kakak kos barusan, Hayama menghela napas. Ia kemudian mengadu dahinya dengan dahi Miyaji yang masih terkunci ke dinding. Sudahlah, ia tidak mengerti. Ia tidak tahu mengapa kakak kos tersayangnya menjadi begini. Ia tidak tahu—kenapa hatinya berdenyut aneh seperti ini.
"Mau bagaimana juga, Kouta pasti khawatir dong, kak. Soalnya 'kan…" Kembali kedua telapak tangan Hayama mengunci kedua pipi cream Miyaji, memaksanya sedikit mendongak agar kedua pasang pupil mereka bertukar pandang.
"…Kouta… Suka kak Miyaji yang selalu tersenyum ceria. Kayak biasanya, bukan begini…"
Kelanjutan kalimat Hayama mendadak menaikkan tingkat debaran jantung sang blonde. Namun belum sempat kalimat yang tertahan di ujung lidahnya itu keluar, Hayama melepaskan dahinya kemudian melangkah pelan ke luar kamar.
'He-hentikan, Miyaji! Mengapa lo dengan mudah termakan ucapan manis! Lagipula, hei, Hayama khawatir sama lo. Harus lakukan sesuatu.'
"Ma-mau ke mana?" Akhirnya Miyaji memutuskan untuk bicara. Hayama belum membalas, ia hanya diam seraya menggenggam erat knop pintu, barulah beberapa saat kemudian ia menoleh dengan senyum getir.
"Kouta… Mau main sama Shun dulu di bawah, ya."
.
BLAM
Pintu kayu itu menutup dengan suara lumayan keras. Setelah memastikan Hayama sudah pergi, ia menghela napas kemudian menjatuhkan badannya ke atas ranjang tipisnya. Telapak kanannya menutup wajah, pusing dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sial, kenapa jadi begini… Duh, gue kenapa, sih…"
'Kenapa mendadak gue cemas… Kalau misalnya Yoshi jadian sama Shun? Kenapa?'
"Yang jelas… Gue nggak bisa bikin mereka berdua khawatir sama gue begini. Waktu Yoshi pulang nanti… Gue rasa gue harus bilang yang sebenarnya."
.
.
Benar saja. Sang jones tokoh utama kita, Moriyama Yoshitaka, langsung Miyaji panggil untuk ngobrol eye-to-eye—ada urusan penting yang mau dibicarakan, katanya. Awalnya Moriyama sendiri kaget karena tahu-tahu Miyaji ngajak ngomong… Tapi didengarkan tak ada salahnya, 'kan.
Setelah macam-macam hal terlewat, jadilah Miyaji dan Moriyama, berdua, duduk di pinggiran ranjang milik Moriyama. Walau dari tadi Moriyama sudah kepo dan nggak mau nunggu lama, ia rasa dia harus sabar sedikit menunggu Miyaji. Lihat saja, doi masih gigit bibir tanda gugup begitu.
"Hei, Yoshi, gue mau bilang…" Akhirnya setelah penantian yang hampir membuat Moriyama menjamur, sang roommate membuka mulutnya yang sedari tadi terkatup rapat. "Ma-maafin gue ya, yang kemarin malam terus yang tadi pagi juga. Gu-gue lagi stres terus jadi uring-uringan, eh malah lo yang kena… Lo mau maafin gue, nggak?"
Permintaan maaf tulus. Tanpa ba-bi-bu Moriyama mengangguk. Walau masih rancu apa yang membuat Miyaji begitu, tapi… Yah, masalah tadi pagi juga sudah lewat, apa guna melihat ke masa lalu?
"Tenang, Mi… Gue sama sekali nggak nyalahin lo, kok. Gue tau, lo lagi punya masalah. Gue nggak mau nambahin beban lo, bikin jadi lebih banyak." Senyum tersungging, Moriyama membelai pelan helaian kekuningan sang roommate. "Gue ngerti kok, Mi."
Pipi semulus sutra itu bagai tertimpa darah merah. Miyaji hanya kembali menggigit bibir bawahnya. Entahlah, belaian sang roommate jomblo-nya hari ini terasa… Nyaman.
"Ng—yah, lo juga udah denger 'kan dari Ootsubo, dulu gue punya masalah tentang 'ditinggal', jadi ya… Begitu. Kalau mau tahu jelasnya sih, sebenernya dulu, gue masuk geng… Dan waktu satu persatu anggotanya punya pacar, semuanya pergi… Sampai tinggal gue sendirian. Mereka semua… Tanpa gue duga, berbalik nge-bully gue, makanya…"
Miyaji menjelaskan kronologi masalahnya dulu dengan terpatah-patah. Tak lama, ia melanjutkan,
"Makanya… Gue punya sedikit trauma sama pertemanan… Gue takut dikhianati begitu lagi, gue takut ditinggal sendirian… Kayak waktu orang yang gue suka lulus dan pindah ninggalin gue… Gue serius, gue takut, Yos…"
'Ya—walau gue nggak pernah bilang ke siapa-siapa, dia… Ootsubo, yang gue suka dulu. Walau sepertinya… Yang disuka juga nggak sadar sama sekali.'
Moriyama mendengus pelan, kemudian kembali menepuk-nepuk kepala Miyaji yang kini mengerang sebal. "Dasar… Soal pertanyaan yang kemarin itu, ya? Tenang, gue walaupun jadian sama Shun, gue nggak bakal ninggalin lo segampang itu, Mi. Lagipula—pasti kalopun kejadian juga, masih lama, 'kan? Lo kira gue bakal jadian sama Shun dalam waktu dekat? Nggak mungkin."
"Be-benar juga. Yah… Habis kejadian itu gue jadi trauma soal 'suka dengan orang lain' dan 'pertemanan', sih, makanya… Gue 'kan pendiem dan jutek begitu. Awalnya gue udah netapin di hati, gue nggak bakal jatuh cinta lagi sama orang lain, tapi setelah ketemu l—Shun, rasanya gue ingat lagi gimana rasanya jatuh cinta. Ingatan jaman dulu terulang, jadi… Gue jadi parno, 'kan." Miyaji manyun. Moriyama cengar-cengir.
"Oooh, gara-gara naksir sama Shun, trauma lo kambuh gitu? Dasar, Miyaji, Miyaji…"
Telapak tangan itu menariknya lebih dekat.
"Tapi lo bisa tenang, karena gue… Nggak bakal ninggalin lo sendirian, Mi."
"…"
'Mengapa… Lo harus bilang sesuatu kayak begitu, Yos? Mengapa?'
"Hei, Yos…"
"Hm? Kenapa, Mi?"
"…Peluk…?"
Ha-Hah?! Mendadak Moriyama jantungan.
"Wait—tiba-tiba nih, Mi?! Lo aja sebelumnya nggak pernah mau gue peluk, terus sekarang malah minta…" ucapnya grogi. Miyaji mengerutkan dahi.
"…Nggak boleh?"
Moriyama hanya mendengus kemudian tersenyum, membuka kedua tangannya lebar-lebar.
"…Sini."
"Ta-tapi tunggu…" Mendadak Miyaji stop di tengah-tengah, mendadak ragu. "…Gue… Nggak bakal jatuh cinta, terus akhirnya ditinggalin sendiri kayak dulu, 'kan? Lo nggak akan ninggalin gue sendiri kayak mantan geng gue dulu… 'kan?" tanyanya khawatir. Namun tanpa perlu ia bertanya apa-apa lagi, tangan sang roommate lebih dulu membawanya ke dalam pelukan.
"…Nggak akan. Gue jamin, gue nggak akan ninggalin lo sendirian, Mi." ucapnya, seraya memeluk erat tubuh Miyaji. Tak lama, ia terkekeh, "Tapi kalo soal jatuh cinta sama gue… Gue nggak jamin nggak jatuh cinta lho, Mi. Hehehehe~"
"Ih, pede banget. Gue 'kan, keburu… su-suka sama Shun… Jadi jangan harap…"
Hanya [alibi?]
"Duh, iya, iya…"
…
'Ya Tuhan, mengapa teganya Kau membawaku, aku yang sudah menyerah dengan urusan romansa ini, kemudian menakdirkanku untuk bertemu dengan ayam alay ini? Mengapa… Kau mainkan hatiku seperti dulu lagi? Apakah ini tanda… Aku masih menaruh harapan pada romansa?'
'Lagipula… Mengapa, walau dia Moriyama Yoshitaka yang tidak bisa apa-apa, jomblo ngenes, menyedihkan, payah, namun… Mengapa dekapannya terasa begini hangat? Mengapa kedua tangannya yang melingkari punggungku ini bagai tameng kuat yang akan setia melindungiku?'
'Kumohon, Tuhan… Yoshi suka orang lain. Jangan kau arahkan hatiku kepadanya. Kumohon. Aku tak ingin kecewa lagi. Aku tahu, suatu saat aku harus menyerah dengannya. Tapi…'
'Terima kasih, sudah mempertemukan kami di koskosan ini—tempat yang menjadi awal perjalanan baruku ini. Untuk sekarang… Aku bahagia dengan takdir yang Kau tentukan. Terima kasih banyak.'
.
.
.
Miyaji's Conflict 1 END
TBC?
A/N
Haloo, Kiyoha balik bawa martabak, niiih! /dilemparsendal/ sungguh mohon maaf banget ya jadi ngaret jauh dari biasanya, soalnya kemarin ada jadwal UKK dan ujian praktek, terus... LAPTOP RUSAK HUHUHU ;w; tapi sekarang udah bisa lagi kok www berkat doa emak (?) dan inget para reader yang nungguin Yoshi mau ngapain di chap ini 'kan, hehehe.
Okay, konflik 1-Miyaji udah selesee~ akan ada break sebelum masuk yg selanjutnya hohoho. Tapi kan disini masih banyak yang rancu ya, kiyoha pikir kiyoha bikin chap tentang miyaji lagi kali, ya... Oh ya, kemarin ada yang req chap spesial Liu, boleh juga tuh :3 setelah 7 tahun pertimbangan (?) akhirnya kiyoha memutuskan...
...memasukkan MORIMIYA KE PAIR LIST, hooraaaay!
Err, tapi jangan lonjak-lonjak dulu kawan, karena kiyoha juga belum nentuin ending pairnya www. Doa aja bakal terkabul otpnya yah www. Kiyoha bakal masukin dan seimbangin kok, ganbaru ;w; semoga nggak kecewa ya. Overall, kiyoha senang bangeeeeeettt baca ripiu kaliaaaan ;w;
.
balasan ripiu :3
.
Kagami Tania, ehehe, gitu kah? :/3 iya, ini dilanjut...
Kamiya Chizuru, Shun memang maniss xD dan oh ya, nanti kalo ada bahasa daerah sy kasih translate deh disampingnya x'D hayoh miyaji gimana wkwkwk. Ini lanjutannya :3
Kichiroo, hai, Kichiroo! xD Hayo, mau pilih LiuFuku atau FukuShun xD *toel* pairingnya ikut arus aja, ya? okeee :3 siap, semangat! Salam martabak! :3/
Kousawa Alice, Fukui memang greget wkwkwk. Soal HayaMiya, mungkin bakal terwujud...mungkin. ah iya kiyoha waktu nulis juga bayanginnya gituu *banjir darah lagi* sip, ini apdetannya :3 dan iyaa, dibolehin, kok xD
macaroon waffle, wayooo Miyaji kenapa hayoo xD /plak/ iya, Liu bertepuk sebelaaaah tangaaaaan *petikgitar* okee, lanjuuut :3 eeeh? ga galau-galau amat kok wkwk
ShizukiArista, Doumo! waah, jarang banget nih yang minta MiyaZuki xD chap spesial Liu? Bisa bisaa :3 Ganbaruu! :3/
ShilaFantasy, siapa sama siapa, yaa? xD okee, pokoknya lanjuuut, ya! xD semangaaat!
hanamakotoba, haiih, kiyoha inget kok, waktu kita dipertemukan takdir(?) di tumblr /hehngaco/ lebih strong morimiyanya ya www nanti diusahain morijuki deh. Hayoh miyajih kenapa? dan fukui tanpa ditanya juga udah ngenes /dilemparpiano/ ah iyaaa! kiyoha kalo bikin family AU selalu kepikiran buat bikin keluarga sempurna bahagia sakinah mawaddah warohmah like keluarga Kiyoshiii ;w; Reo juga...kepikiran darimana yak wkwk. Nggak kok ripiunya nggak aneh, makasih X) lanjuut!
sabilsabil, Mari doakan Miyaji agar Yoshi menganggapnya teman (?) Satsuki keberadaannya belum perlu disini, gomenne :( ganbaruu! :3/
BlueBubbleBoom, ah, ya, karena Liu bertepuk sebelaaaah tangaaaan *petikgitar* kasian ya ;w; dan soal Miyaji... ENGGAK KOK BELUM JEDOR! /kepslokmba/ udah sambit aja itu Mori gegara bikin ini fic jadi mellow :'' waaah orang sunda yaa xD lanjuuut! :3/
miraill, iya, Shun nggak peka sama sekali :'3 ada apa dengan Miyaji? Akan terungkap di chap ini xD semangaat! :3
DUIJANK, lanjuuut! :D MoriZuki moment mendekat nih www boleh juga tuh ibu-ibunya wkwkwk. dan iya, nash udah dijadwalin(?) masuk sini kok :D
Shahra, dibacain? www xD Morizuki udah dekat kok wkwkwk. ayo dukung Liu dapatkan cinta sejati (?) :3 ganbaruu! Dan, salam kenal! ^^
lalalala chan desu, Pair baru: Moriyama x Martabak xD /gak/ hayoo, Miyaji kenapa? :D lanjuuut~
Schnee Neige, ayo dukung Liu dapatkan belahan hatinyaaa! /plok/ Junpei paling strong, Hayama makin unyu xD hmm, gimana ya Miyajinya? *smirk* oke ini update lagiiii~
Tsukuro Reiko, hayo, Miyajinya kenapa nih? :D waah, sankyuu, ve~! xD iya, yang ngomong pake aru itu Liu wkwk. Lanjuuut~
Takigawa Arisa, uwaah, udah diedit dikasih translate, kok. gomenne ;w; dan iya, Koga cuma bisa masak kuweh-kuwehan hehe. LiuFuku nih, ya xD oke ini update~ dan kiyoha... bergender wanita (?) cewek hehehe xD
Midorima Junko, inikah namanya cinta? *nyanyi* /plak/ mari doakan Fukui agar cepat moveon, amiiin! dan Miyaji kenapa juga hayooo? Morizukinya udah deket kok wkwk. iyaaa, itu Nijimuraa xD hmm, belum tahu deh kalo dia bakal muncul full atau gimana, ya. :3 lanjuuut :3/
hibiya's phone, ini update~ 8) Kasamatsu? udah jadi tukang fotokopi, muncul nggak ya kira-kira xD e-eeh? MoriMiya jadian aja? :'D
Katsumi hotaru, HyuuZuki doong xD Junpei juga kayaknya nggak peka kalo tu orang 4 demen Shun, wkwkwk. minta ke Satsukinya langsung, yaaaa xD dia lagi jalan-jalan ke cibaduyut buat beli stiletto, tuh xD
sakazuki123, S-SHUN SAMA MAYUYU? :'D entahlah mayu bakal keluar nggak www.
Runa, hayo, Miya-nii ada apa gerangan? dan Liu-nii...memang ngenes xD hmm, mungkin galau di konflik ini aja, hehe. madesu dan monyong masih nggak tahu kapan nongolnya :'D lanjuuut~
Iyagi-sshi, siapa sama siapa nih jadinya :'3 ah pindah pair ya, jadi galau gila x'D yak mari buat aliansi fujoshi bersama non Satsuki sang stalker taraf internasional xD /gak/ lanjuuut :)
Natsuki Shido, ah makasiih :) eh, langka kah? dan oya, ini lanjutannyaa~ :3
PeniPhoenix24, MoriMiya nih, ya xD oke lanjuuut~
vanilla thunderc, E-EH? MORIMIYA? :'D ah nggak apa, kepslok itu manusiawi kok (?) thank yooou :'DD dan oke, ini lanjutannya. Bagaimanakah mereka~? :3/
DNA Girlz, lanjuuut! :D ah, gitukah? :/D makasiih... oke, nanti pesannya disampaiin ke para jomblo xD sip, update update~
.
Lastly, maukah meninggalkan jejak? :3
kiyoha
.
.
"KAK MORIIIIIIIIII! KAK MIYAAAAAAAAA!"
Mendadak pintu kamar kos-kosan nomor 058—alias kamar Miyaji dan Moriyama—didobrak dengan kencang. Refleks, kedua insan di dalamnya yang masih dalam pose pelukan langsung pisah raga dan memandang waswas sang pelaku kasus pendobrakan—Hayama Koutarou.
"Duuh… Hayama, ada apa, sih? Teriak-teriak aja. Ganggu tetangga, tahu nggak!" Miyaji mengerang sebal—ia sudah lebih aktif bicara dari tadi siang, syukurlah. Mendengar omelan sang kakak koskosan, Hayama cuma sanggup nyengir grogi.
"Ehehehe, maaf~ Eh kakak-kakak, tahu nggak? Tadi 'kan Kouta ngobrol sama Shun soal sekolah baru Kouta 'kan, terus tadi waktu di sekolah 'kan Kouta dikasih tahu bakal masuk kelas mana, eh ternyata…"
"…Ternyata?" Moriyama menaikkan sebelah alisnya, kepo.
"…KOUTA SEKELAS SAMA SHUN, LHO!"
Hayama berseru senang. Miyaji facepalm. Moriyama jawdrop, nggak mau percaya—
Yah, sepertinya perjalanan seorang Moriyama Yoshitaka untuk meraih hati Si Manis Warung Martabak yang setinggi bintang di langit masih begitu panjang, sepertinya.
.
.
"Haah…" Si Manis Warung Martabak, Kiyoshi Shun, terduduk di kursi meja belajarnya kemudian menghela napas pelan. Di tangannya, tergenggam erat secarik kertas bermotif bintang, yang kini ia dekap erat di dadanya.
"Seperti biasa, setiap kalimat di sini benar-benar mengerti masalahku…"
Ia kembali memandangi secarik kertas binder berwarna kebiruan dan bermotif bintang itu dengan seksama, menyerap segala kata yang tergores di atasnya. Saat ia mengangkat kertas itu, harum bunga yang semerbak terasa memabukkan.
Ya, akhir-akhir ini, Shun selalu mendapati adanya surat di kotak posnya, setiap kali ia ingin mengambilkan koran pagi untuk ayahnya tercinta. Ya, surat berpengirim anonim yang ditujukan padanya. Surat berisi ucapan manis yang digoreskan di atas secarik kertas yang berwangi bunga—yang kini menjadi candu untuknya. Kegemarannya sekarang adalah memandangi dan membaca setiap untaian kata yang tertulis di setiap surat untuknya. Kadang pula dengan membaca surat-surat itu, kesedihannya akan sirna secepat kedipan mata.
'Siapa… Orang mengagumkan yang selalu mengirimkanku surat manis seperti ini? Sungguh, ia benar-benar yang paling mengerti segala tentang diriku, seakan-akan ia terus memerhatikanku…'
Namun sekali lagi—pengirimnya masih anonim. Tak ada satupun yang mengetahuinya, petunjuk yang ada hanya…
…Kertas binder bermotif bintang, yang memiliki harum semerbak bagai bunga mawar.
A/N: tunggu lanjutannya, ya! :D
