Part 1: Home
.
06:00 PM - Rumah Kotori
.
Keluarga Minami mengundang Koizumi Hanayo, Sang Keeper untuk bermalam di dalam rumah mereka. Tidak membutuhkan waktu yang lama agar mereka bertiga sampai ke kediaman Minami yang hanya berjarak 500 meter dari sekolah. Selama ini Kotori tinggal bersama ibunya berdua saja di dalam rumah ini, rumah sederhana bergaya futuristik yang tidak terlalu mewah namun cukup untuk ditempati tiga orang.
Pada hari normal, di dalam rumah ini tinggal Kotori, Ibu dan Ayah saja. Kebetulan ayah Kotori sedang bertugas di luar negeri selama beberapa hari ini. Entahlah, apakah ini bisa disebut keberuntungan atau tidak, bagaimanapun juga menurut keterangan Hanayo, tidak ada kemungkinan orang di permukaan bumi dapat selamat dari serangan awan aneh ini. Yang jelas mereka juga mengkhawatirkan keadaan ayah Kotori yang tidak ada di rumah tu sekarang.
Mrs. Minami saat ini masih sibuk untuk mempersiapkan makan malam. Kotori mempersilahkan Hanayo untuk membasuh diri dan mengenakan pakaian rumah yang telah disediakan. Sementara Hanayo mandi dia saat ini sibuk untuk mempersiapkan kamar tidur bagi gadis nomaden tersebut. Bagaimanapun juga, meskipun pada awalnya Hanayo terus menolak keramah-tamahan keluarga Minami namun setelah melihat kesungguhan hati keluarga ini maka dia merasa tergugah dan menggunakan kesempatan tersebut untuk mandi dan bergabung untuk makan malam bersama pada hari ini namun dia menolak memakai baju ganti mereka.
Oleh karena keterbatasan cadangan bahan makanan yang ada di dalam rumah maka Ibu Kotori tidak memiliki banyak pilihan bahan dapur untuk membuat variasi menu makanan. Jadi untuk dinner kali ini dia memutuskan untuk membuat Nasi Goreng. Itu adalah sajian menu makanan yang sederhana, kamu tinggal menggoreng nasi dengan menyertakan bumbu dapur yang ada di atas wajan berapi hingga hangat dan rata lalu menyajikannya. Thats it!
Tapi bagaimanapun juga bagi Hanayo yang selama ini tinggal di Kuil terpencil, menikmati makanan ini merupakan barang baru yang belum dia pernah icipi selama ini. Dia terlihat sangat lahap memakan nasi goreng buatannya, wajah penuh kepuasan tampak dari gadis berjubah hijau tersebut setelah menghabiskan makanan di piringnya.
"Terima kasih untuk makan malamnya!"
Seru Hanayo saat melahap sendok terakhirnya. Sang tamu di rumah Minami itu tampak begitu puas saat menikmati butiran nasi terakhir yang masih tersisa di piringnya. Kepuasan juga berlaku bagi kedua orang Minami yang memperhatikan sang tamu memakan dengan lahap. Mereka puas melihat wajahnya tersenyum dan begitu agresif. Sungguh berbeda dengan tingkah lakunya siang tadi.
"Mau tambah?" tawar Mrs. Minami sambil mengangkat centong nasi.
"T.. Tidak, ini sudah cukup." jawabnya dengan muka memerah.
"Jangan sungkan-sungkan, Hanayo-san"
Mrs. Minami dan Kotori tertawa geli saat melihat ekspresi wajah memerah Hanayo saat mereka sedikit menggodanya. Gadis ini sebenarnya polos, itu terlihat dari ekspresinya yang tidak ingin membantah perlakuan Kotori yang masih menggodanya. Ekspresi kasarnya tentu merupakan manifestasi lain dari pola pemikiran kebencian yang selalu ditanamkan kepada dirinya saat berada di dalam Kuil tentang pengetahuan mengenai orang luar namun dibalik itu semua dia adalah orang yang baik.
Kotori tidak merasa heran dengan keadaan tersebut.
Setelah makan malam berakhir kemudian Kotori mengajak Hanayo ke dalam kamar tidurnya untuk bermain bersama meskipun pada akhirnya tidak ada permainan yang dapat mereka lakukan disana. Ada kesenjangan kultur yang begitu besar sehingga membuat Hanayo merasa geli untuk melakukan permainan masa kini milik dunia Kotori.
Keadaan ini membuat Hanayo memilih untuk berhenti dan dia seorang diri menjauhkan diri dari Kotori. Namun Kotori tidak kehilangan akal, dia mencari cara untuk memecah keheningan tersebut jadi dia lalu membuka browsing internet dari laptop miliknya dan menceritakan kepada Hanayo berbagai hal terbaru yang sedang terjadi di masa sekarang namun Hanayo tetap tampak tidak terlalu peduli mendengar penjelasan Kotori tersebut.
Ada sesuatu yang menarik bagi Kotori saat melihat berita online di internet hari ini. entah mengapa tidak ada satupun berita yang memuat kejadian ini. semua berita telah berhenti di update sejak jam 12.00 A.M. dan tidak ada lagi berita terbaru di seluruh dunia setelah itu, bahkan tidak ada satupun portal berita yang mengangkat berita liputan tadi siang. Ini aneh tapi Kotori kembali teringat tentang cerita Hanayo bahwa orang di seluruh dunia telah musnah sekarang.
Kotori menyadari bahwa segala informasi yang telah dia paparkan berkaitan dengan teknologi masa kini ternyata tidak berhasil untuk menarik minat Hanayo sehingga dia memutuskan bahwa tidak ada gunanya lagi berselancar di dunia maya. Jadi dia memutuskan untuk mematikan laptopnya dan mencoba untuk membuka topik pembicaraan tatap muka kepadanya.
"Jadi, mengenai rencanamu untuk besok. Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan kepada kami?" tanya Kotori.
Hanayo tampak sedikit terkejut saat mendengar pertanyaan Kotori yang diberikan secara tiba-tiba namun dia segera menjawab pertanyaan itu dengan tetap menggunakan ekspresi muka datar.
"Aku berencana mengajak kalian semua pergi ke dalam hutan tersebut untuk merebut kembali kuil kami."
"Ehh, Kenapa?"
"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa hutan itu telah menjadi tempat yang berbahaya sekarang?!" tanya Kotori heran. Dia mengerutkan alisnya ketika hendak melanjutkan pertanyaanya.
"Lagipula untuk apa kami harus repot-repot pergi kesana?"
"Tentu." dia menjawab singkat. "Tentu saja itu berbahaya kalau kalian pergi kesana seorang diri namun jika aku ikut bersama kalian maka itu lain cerita!"
"Lagipula..."
"Bukankah tadi siang kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu ingin mencari gadis tersebut?"
"Siapa itu namanya? Honoka, kan?".
Tiba-tiba Kotori hanya bisa terdiam membisu dengan tatapan kedua mata yang kosong saat mendengar nama tersebut diucapkan oleh gadis asing di hadapannya. Kini perasaan duka itu kembali muncul dalam keadaan yang semakin buruk. Hanayo sangat mengenal sekali sensasi duka ini, baginya yang sudah hidup sejak lama di dalam hutan terpencil sangat sulit untuk tidak bersinggungan dengan perasaan ini.
Jadi ketika dia melihat suasana hati Kotori yang semakin berduka maka Hanayo tidak bisa berbuat apapun selain turut menaruh simpati kepadanya. Hatinya yang dingin bagaikan batu gunung itu masih sedikit bisa merasakan beban orang lain.
"Tenanglah, Aku yakin kalau kita semua bisa menyatukan kekuatan maka pasti kita akan berhasil merebut Kuil Energi Kekal itu." bujuk Hanayo menenangkan Kotori. "Lagipula, kalian itu adalah sang terpilih."
"Heh, Maksudmu?" tanya Kotori yang bingung dengan perkataan dia. Hanayo menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.
"Apakah kamu ingat tentang kejadian yang kamu alami tadi siang? Mengenai kartu misterius yang kalian bicarakan? Lalu peristiwa sebelum itu ketika kamu tiba-tiba secara ajaib bisa terbang sendiri?"
Tidak ada satu katapun yang dapat dimengerti oleh Kotori dari ucapan Hanayo tersebut. Dia ingat kejadian tadi pagi itu bagaimana dirinya bisa terbang untuk menyelamatkan nyawa Kohai-nya namun dia tidak pernah mengerti mengapa itu bisa terjadi. Satu-satunya yang bisa dia mengerti adalah ada sebuah kekuatan misterius yang sangat hebat di dalam kartu yang mereka miliki
"Itu semua bisa terjadi berkat kekuatan kartu ini. Hanya sang Warrior, Para Pejuang terpilih saja yang bisa melakukannya."
"Warrior, apa itu? Lalu apa hubungannya dengan kartu ini?"
"Warrior adalah para pejuang terpilih di planet ini yang ditakdirkan untuk melawan Shadow Master. Ini adalah sebuah panggilan suci yang diberikan oleh Para Dewi Muse kepada orang terpilih untuk bertarung sebagai pelindung bumi ini."
"A-APAAA?!" seru Kotori dengan mata terbelalak. "J-Jadi maksudmu aku adalah seorang warrior?!"
Hanayo menganggukkan kepala.
"Apa maksudmu?! Aku ini sama sekali bukanlah seorang petarung! Bahkan aku tidak pernah tega untuk membunuh seekor semut."
"Kamu akan belajar untuk menjadi seorang pembunuh lambat laun setelah kamu menerima seluruh kekuatan kartu ini!"
"NGGAK! AKU NGGAK MAU!" teriak Kotori keras menggaung di dalam kamarnya.
"KALAU BEGITU AKU KEMBALIKAN SAJA KARTU INI! AMBIL KEMBALI SANA!"
Kotori nampak terengah-engah saat mengatakan itu. Belum cukup peristiwa yang dia alami dapat dinalar olehnya, kali ini dia harus berurusan dengan sesuatu hal yang melibatkan dirinya secara langsung dalam kisah ini. Tubuh gadis ramping itu agak gemetar saat mengeluarkan kartu miliknya untuk diberikan kepada Hanayo. Sang Keeper itu tetap tenang menatap Kotori, dia tetap tenang dan diam karena kata-kata yang terucap dari padanya adalah...
"Maaf, aku tidak bisa melakukan itu..."
Kotori semakin membelalakkan matanya saat mendengar jawaban Hanayo tersebut. Dia semakin takut untuk menerima kenyataan ini, "Ehh, K.. Kenapa?!"
"Ketika kamu sudah menggunakan kekuatan itu untuk terbang. Itu adalah bukti sahih yang tidak terbantahkan bahwa kamu sudah ditakdirkan untuk menjadi salah satu Warrior!" jawab Hanayo tenang dan tajam. "Dan takdir itu tidak bisa dirubah, Kotori."
"T-Tapi saat itu aku sama sekali tidak sengaja melakukannya! Dan aku sama sekali tidak bermaksud untuk bisa terbang." sanggah Kotori terpojok.
"Jadi pada saat itu kamu bermaksud untuk lebih memilih jatuh dan mati, begitu?"
"Ehh?"
"Hmm, Begitu yah..."
"Jadi pada saat ini kamu juga lebih memilih untuk menyerah dan diam saja disini daripada berusaha mencari Honoka sendiri. atau dalam kata lain kamu lebih suka membiarkan dia sendirian di tengah hutan itu, bukan?" tanya Hanayo dengan membuat kesimpulan dari dua obyek situasi yang berbeda. Ini memang keterlaluan, hanya saja maksud perkataannya itu benar adanya.
"B-Bukan begitu maksudku."
"KALAU BEGITU KENAPA KAMU MENOLAK KEKUATANMU?! HADAPI KENYATAANMU, DONG?!" bentak Hanayo sambil memegang kedua lengan Kotori. Gadis itu berteriak didepan mukanya.
"Maafkan aku, tapi takdir semacam ini begitu kejam untukku. A.. Aku sama sekali tidak cocok untuk membunuh orang!" jawab Kotori pelan sambil menundukkan kepala.
"Takdir itu memang kejam, Kotori-san. Selamat datang di dunia nyata." Sambutnya dengan nada sarkasme. "Tapi agaknya kamu telah salah dalam satu hal sebagai Warrior kamu tidak ditakdirkan untuk membunuh orang."
"Ehh?"
"Yah, sebagai seorang Warrior kamu hanya ditakdirkan untuk mengalahkan Shadow Master dan melindungi bumi dan seluruh makhluk hidup di dalamnya, bukannya melakukan hal yang sebaliknya. Lagipula, jika kamu melakukan itu lantas apa bedanya Warrior dengan para monster tersebut."
Hanayo menerangkan perkataannya sekali lagi
"Tugasmu sebagai Warrior adalah untuk membasmi para monster itu! Ingat, monster itu sama sekali bukanlah manusia lagi!"
Sejenak Kotori terdiam untuk memikirkan perkataan Hanayo barusan. Perasaannya bercampur aduk saat Hanayo memaparkan tentang jadi diri Warrior yang terdapat di dalam dirinya. Dia sama sekali tidak tahu apakah harus merasa senang ataupun tidak setelah mengetahu jalan takdir dirinya yang baru. Tapi...
"Begitu yah?"
"Iya."
"Lantas kepada siapa kita bertarung?"
"Hmm, sepertinya kamu sudah mulai tertarik yah?" tanya Hanayo melirik ke arahnya sembari tersenyum tipis.
"Baiklah, sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk mendemonstrasikan kekuatan Warrior kepadamu."
"Ayo.."
Hanayo mengulurkan tangan kepada Kotori ketika dia membuka jendela luar kamarnya yang berada di lantai 2. Tentu gadis pemilik rumah itu menjadi heran dengan tingkah sang tamu.
"K.. Kemana?"
"Kita akan bermain-main sebentar di taman."
"Di malam hari seperti ini? Bukankah kamu bilang itu berbahaya?"
"Justru disitu gregetnya! Hehehehe...!" jawab Hanayo dengan senyum seringai.
.
.
.
Part 2: Power On!
.
Malam itu Kotori dan Hanayo pergi keluar dari rumah secara diam-diam menuju ke taman kecil yang berada di kompleks perumahan tersebut. Hanya bermodalkan jaket yang cukup tebal Kotori keluar dari dalam rumahnya tanpa sepengetahuan ibunya. Mereka diam-diam melompati pagar di lantai dua. Well, tentu saja ini mungkin berkat bantuan Hanayo dengan alat mekanik di tangannya. Mereka berdua bergelantungan bak Spiderman keluar dari sarangnya melompati satu demi satu gedung kota new york, bedanya ini adalah tiang listrik.
Taman kompleks perumahan Kotori terletak di blok timur rumahnya. Tempatnya mengarah keluar dekat perempatan jalan raya yang juga menjadi area pintu masuk perumahan tersebut. Pada hari biasa taman ini digunakan sebagai tempat bermain bagi anak-anak kecil dan sering digunakan oleh para remaja dan orang muda lainnya sebagai tempat hang out atau basecamp mereka namun malam ini tidak ada seorangpun yang berada disana.
Ditemani lampu taman yang menyala secara otomatis hanya mereka berdua yang berada disana seraya menghirup udara malam yang terasa menyegarkan dan hawa dingin yang menusuk kulit mereka. Situsai pada saat itu benar-benar sepi dan agak menakutkan bagaikan sebuah taman horror yang telah lama ditinggalkan oleh penghuni kompleksnya.
Tanpa membuang waktu Hanayo menginstruksikan kepada Kotori untuk memperhatikan setiap gerak-geriknya secara seksama dan mematuhi setiap perintah yang keluar dari mulutnya. Tanpa berpikir panjang maka Kotori juga turut menyetujui permintaan Hanayo tersebut.
"Baiklah, sekarang perhatikan aku baik-baik, Kotori."
"Kartu ini adalah Power Card. Mengerti?" kata Hanayo sambil mengangkat kartunya. Kotori hanya mengangguk pelan.
"Kalau begitu, sekarang keluarkan juga kartu milikmu itu."
Kotori mematuhinya dan mengeluarkan kartu miliknya dari dalam saku jaket blazer abu-abunya dan menyerahkannya kepada Hanayo namun gadis berambut coklat pendek itu malah mengembalikannya ke tangan Kotori seraya memberi tanda bahwa instruksinya masih belum selesai.
"Tatap baik-baik kartu itu dan pusatkan seluruh pikiranmu terhadap kartu tersebut."
Kotori memusatkan perhatiannya kepada kartu tersebut dan berdiri diam tegak.
"Konsentrasi..."
"Sekarang, perlahan-lahan pejamkan matamu." tutur Hanayo secara runut memberikan instruksi kepadanya.
Kotori sebenarnya sama sekali tidak mengerti dengan maksud kehendak Hanayo yang memerintahkan dia untuk melakukan hal konyol semacam itu namun dia juga masih penasaran dengan misteri kartu tersebut sehingga dia memutuskan untuk tetap mengikuti perintahnya bahkan kini dia juga telah memejamkan matanya.
"Apakah kamu bisa merasakan sesuatu?"
"Apanya?"
"Umhh, mungkin sedikit waktu lagi. Tetap pejamkan matamu!"
10 menit telah berlalu semenjak perintah pertama Hanayo kepada Kotori untuk tetap memejamkan mata. Sang mantan maid legendaris itu kini mulai gusar setelah tidak mendengar instruksi selanjutnya dari mulut Sang Keeper. Dia tidak tahu sampai kapan dia harus melakukan meditasi konyol ini namun dia cemas apabila tindakannya malah membuat marah dia. Jadi dia tetap diam mematuhinya, hingga...
Perlahan-lahan dia merasakan bahwa satu demi satu indra tubuhnya menjadi mati. Kulitnya yang terus merasakan hawa angin dingin yang menusuk tubuhnya kini tidak merasakan apapun. Bau dedaunan di malam hari yang pekat sedari tadi diciumnya tadi kini juga mulai menghilang.
Kotori mulai merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan keadaan ini. Ingin sekali dia membuka mulutnya namun itu juga tidak bisa dilakukan. Indra pengecapnya juga perlahan memudar berganti dengan perasaan hambar namun dia masih merasakan sakit saat dia mencoba menggigit lidahnya.
Kini, timbul rasa takut dan kesepian yang mulai melanda diri Kotori karena satu-satunya baginya saat ini hal yang dia kenal hanyalah kegelapan dan kesunyiaan.
Jantungnya berdebar semakin cepat, sementara pernafasannya juga menjadi tidak teratur. Gelisah dan ketegangan melanda diri Kotori dengan begitu hebatnya. Ingin sekali dia berteriak dan menangis tapi itu sama sekali tidak bisa dilakukannya saat ini dan ketika perasaan itu mencapai puncaknya tiba-tiba gadis tipe darah O itu merasakan suatu hawa yang aneh sedang menyelimuti tubuhnya.
Awalanya dia merasakan semacam hawa hangat seperti dipeluk oleh manusia tetapi itu cuma awalnya saja. Kehangatan itu cuma awal dari hawa panas yang semakin membesar. Itu adalah api korek tunggal yang kemudian menjadi api unggun ketika dilemparkan di dalam sekam jerami kering dan saat ini hawa semakin panas itu sedang membakar sekujur tubuhnya.
[Brukk!]
Tubuh Kotori tumbang dengan posisi yang kaku. Dia hanya bisa jatuh tersungkur berguling-guling di atas tanah. Meskipun mulutnya tidak bisa menjerit sepatah katapun namun kulit tubuhnya merasakan panas layaknya dibakar dengan sangat nyata.
Dan itulah pertanda bahwa untuk pertama kalinya dia merasakan bahwa indra perabanya telah kembali hidup. Perlahan-lahan kesunyian itu menghilang dan membuat dirinya kembali tersadar, indra pendengarannya telah kembali. Dia sadar bahwa perasaan hampa itu telah menghilang sehingga membuat Kotori segera bisa membuka matanya lebar-lebar dan saat ini dia sudah tidak tahan lagi untuk bisa melakukan hal yang ingin indra pengecapnya lakukan sejak awal... dia ingin menjerit sekeras-kerasnya.
"GYAAAAAAA... AAAAAAAA!"
"Aku! Hanayo, apa yang sebenarnya sedang terjadi kepadaku saat ini?! Mengapa tubuhku merasakan panas seperti sedang terbakar sekarang?! Tolong aku!" jerit Kotori dengan mata terbelalak lebar.
"Bagus, kini tubuhmu sedang menyatu dengan kekuatan kartu itu." jawab Hanayo dengan santainya. "Hal yang harus kamu lakukan saat ini adalah Relax!"
"Kotori-san, Belajarlah untuk mengendalikan kekuatan itu sekarang!"
"K-Kau gila?! Aku disini sedang terbakar! Bagaimana aku harus mengontrol panas ini?!," teriak Kotori panik. Hanayo tetap diam.
"Mudah untuk kamu hanya berbicara saja! A.. Apakah kamu berniat untuk membunuhku?!"
"Relax..." kembali Hanayo berbicara santai layaknya seorang ahli pijat india mencoba menenangkan pasien yang dimeditasinya.
"Teknik ini hanya bisa dikuasai dengan mengendalikan teknik pernafasan. Jadi, hal yang harus kamu kuasai adalah dengan mulai bernafas secara normal. Tarik nafasmu dalam-dalam dan keluarkan itu secara perlahan-lahan, kosentrasikan pikiranmu dan bayangkan bahwa tubuhmu kini menjadi ringan seperti angin maka kamu akan merasakan hawa dingin yang akan meresap ke dalam tubuhmu."
Kotori kalap namun sekali lagi dia mencoba untuk tetap mengikuti petunjuk dari Hanayo. Dia kini mencoba untuk memusatkan konsentrasi pikirannya sementara berjuang menghiraukan hawa panas yang membakar tubuhnya sekarang.
Secara perlahan-lahan dia menarik nafasnya dalam-dalam dan ada sesuatu yang berubah!
Itu tidak terjadi langsung dalam sekejab namun dia merasakan seperti ada aliran energi sejuk yang mengalir dari atas kepalanya, merasuk ke dalam tubuhnya dan seiring hembusan nafasnya, aliran itu semakin turun ke bawah menuju bagian jantung, pada saat ini dia merasakan bahwa pada bagian dadanya kini menjadi sangat dingin.
Dia tetap meneruskan pernafasannya dan secara tiba-tiba hawa dingin itu memancar ke seluruh tubuhnya sehingga dia merasa bahwa hawa panas yang tadi menguasai tubuhnya kini telah pergi, sebaliknya dirinya kini merasakan bahwa tubuhnya menjadi terasa sangat sejuk seperti diterpa angin sepoi-sepoi yang menyelimuti seluruh tubuhnya sehingga membuat dirinya merasa sangat nyaman.
Kotori yang pada awalnya merasa gusar lalu menjadi tenang dan tidak mengeluarkan ekspresi takut kembali. Hanayo yang melihat itu semua menjadi tersenyum puas, instingnya mengatakan bahwa dia telah berhasil menguasai kekuatan energi kartu tersebut ke dalam tubuhnya. Sesaat setelah Hanayo memuji Kotori, Kotori lalu tumbang ke tanah karena kehabisan tenaga untuk bertahan.
"Kerja bagus, Kotori! Selamat kamu telah lulus dari ujian pertama Warrior." kata Hanayo sambil memapah Kotori untuk berdiri.
"Hah?!"
"Seperti yang aku duga, kamu pasti bisa menguasainya dengan cepat!" puji Hanayo. "Kini giliranku yang menunjukkan kepadamu apa itu Warrior yang sebenarnya!"
"Hah?!"
Kotori hanya bisa memasang wajah bingung menanggapi perkataan itu, dia begitu lelah dengan semua hal yang dia alami saat ini. Dan Hanayo, sambil memejamkan matanya kini dia mengangkat tangan kirinya ke arah langit dan berteriak dengan lantang:
["SUMMON! POWER CHARGE ON!"]
Saat itu, Kotori baru saja berhasil mendapati tenaganya kembali untuk berdiri namun kini dia harus menyaksikan sesuatu yang baru lagi dan kali ini dia dapat merasakan ada suatu energi yang begitu besar yang terpancar meledak dari dalam diri Hanayo. Kekuatan energi itu begitu besar sehingga membuat Kotori secara tidak sadar melangkah mundur ke belakang menjauhi dia.
Hanayo membuka matanya dan saat ini kekuatan itu dapat terlihat dalam wujud yang nyata. Ada angin yang keluar bawah kakinya dan membumbung naik ke atas kepalanya hingga membuat rambut coklat itu terbang ke atas layaknya Goku melakukan super saiyan. Dari tempat Hanayo berdiri saat ini telah muncul sebuah lingkaran sihir misterius yang dipenuhi dengan simbol-simbol kuno dan di langit tepat di atas Hanayo sedang berdiri sekarang tampak sebuah lingkaran cahaya terang yang turun secara perlahan dalam formasi lingkaran untuk melingkupi tubuhnya.
Tidak hanya itu, kini secara ajaib muncul sebuah benda seperti sebuah smartwatch besar dengan layar yang menyala terang yang melekat di tangan kirinya.
"Ini adalah Stage Charger!" jelas Hanayo sambil menunjukkan alat device tersebut kepada Kotori. "Dengan menggunakan alat ini maka kamu bisa berubah wujud menjadi seorang Kesatria Warrior",
Usai Hanayo mengeluarkan alat tersebut kemudian cahaya terang itu menghilang dan membuat keadaan kembali menjadi gelap seperti semula. Meskipun dilanda perasaan bingung dan gentar namun Kotori kembali mencoba mendekati Hanayo perlahan-lahan. Kotori berusaha senormal mungkin tidak menunjukkan ekspresi ketakutan di depan dia.
"B.. Benda itu?! Bisa berubah wujud?! Kok bisa?!" tanya Kotori tanpa berurutan merangkai pertanyaan katanya. Dia benar-benar kagum dan takut menjadi satu dengan jantungnya yang berdebar-debar semakin keras.
Namun belum sempat Hanayo membuka suara untuk menjawabnya tiba-tiba mereka berdua dikejutkan dengan munculnya suara aneh yang terdengar dari balik semak-semak tidak jauh dari tempat mereka berada. Pertunjukkan yang dimaksud oleh Hanayo tadi akan segera dimulai
.
.
.
Part 3: Shadow Fight!
.
[srrreeekkkk... srekkk...]
Jaraknya sekitar 200 meter dari tempat mereka berada. Itu adalah area semak yang berbatasan dengan pohon besar yang ditanam di sepanjang sekeliling hutan. Namun dari sanalah suara aneh itu berasal, suara gerak gerik mencurigakan sedang menuju kemari. Kucing liar? Entahlah apapun itu namun Hanayo memberi tanda posisi menyerang siaga kepada Kotori.
Hanayo memberi isyarat kepada Kotori untuk diam tak bersuara dan tetap berada dekat dengannya. Seiring dengan semakin mendekatnya sumber suara tersebut kini Kotori dan Hanayo bisa melihat memang ada 'sesuatu' yang sedang mengintai mereka berdua saat ini, entah apa itu namun sesuatu itu kini sedang semakin mendekat ke arah mereka.
"Su.. suara apa itu?!" tanya Kotori dengan sangat pelan dan sangat cemas kepada dirinya sendiri. Saat itu bulu romannya di sekujur tubuhnya telah berdiri seperti sedang bertemu dengan setan.
"Psstttt!" bisik Hanayo memberi isyarat untuk diam.
Namun belum sempat Kotori bisa membungkam mulutnya tiba-tiba dia berteriak keras saat melihat ada sekumpulan hewan besar yang berlari kencang menuju ke arah mereka berdua. Itu adalah monster karena wujudnya tidak menyerupai hewan manapun di dunia ini.
"Kyaaaa...!"
Hanayo yang mengetahui itu dengan sigap memegang tangan Kotori dan berlari secepat mungkin untuk menghindari serangan cakar mereka. Dengan panik mereka hanya bisa berlari lurus dan pada akhirnya mereka tiba di tengah lapangan. Pilihan yang buruk karena kini para monster yang berbentuk seperti manusia serigala itu malah mengepung mereka dari segala penjuru.
Kotori dapat mengamati dengan jelas saat ini bahwa ada tujuh monster besar di sana. Sadar bahwa keadaan mereka saat ini tidak dalam keadaan yang menguntungkan dan sudah tidak ada jalan untuk lari lagi maka Hanayo memutuskan bahwa tidak ada pilihan lain untuk dia selain bertarung.
"Hanayo-san, K-Kenapa ada banyak monster aneh disini?!" tanya Kotori panik. "A-Aku takut...!"
"Khukhukhu... Seperti yang sudah aku duga para Shadow akan berkeliaran bebas pada waktu malam hari." kata Hanayo sambil tersenyum seringai.
[Heh?! Jadi ini yang dimaksud Hanayo-san tentang para Shadow itu?! Dan dia sebelumnya memintaku untuk bertarung melawannya, bukan?!] pikir Kotori mengingat percakapannya sebelum. "K-Kau sudah gila yah?!"
"Hei Kotori, justru untuk saat inilah makanya aku mengajakmu untuk datang kesini." jawab sang Keeper tersenyum seringai.
"Kini, Perhatikan dengan seksama bagaimana seorang Warrior sedang beraksi!"
["Let's Bind Up!"] seru Hanayo sambil tersenyum licik kepada para monster di hadapannya tersebut. Sembari dia mengatakan itu muncul sebuah senar tali yang keluar dari alat mekanik tangannya yang menjulur keluar dengan berlian hijau di bagian ujungnya.
Hanayo lalu memberikan isyarat kepada Kotori untuk merunduk ke bawah dan pada saat yang sama dia lalu merentangkan tangan kanannya ke depan sehingga dari alat Green Diamond Rope itu keluar sebuah tali cambuk yang secara tepat membidik satu per satu monster itu.
Gerakan itu dilakukan dengan cepat. Setiap kali ujung cambuk itu mengenai seorang monster maka dalam sepersekian detik tali itu telah tergulung masuk ke dalam device itu layaknya senar tali pancingan, kemudian Hanayo akan kembali mengulurnya mengenai setiap monster disana satu demi satu.
Setiap kali ada monster yang terkena batu berlian hijau itu maka merasa akan merasakan sayatan yang menghujam hingga bagian organ terdalam mereka. Tali itu selalu mengarah ke bagian organ dadanya sehingga menghujam jantung bagi setiap monster yang berusaha menangkis itu dengan memegang tali cambuk tersebut maka dia hanya akan merasakan panasnya gesekan dengan kulit tangannya sebelum terpental keras akibat pukulan potensial dari tali cambuk itu.
Hanayo kemudian melanjutkan serangannya dengan memutarkan lengannya searah jarum jam sehingga membuat tali cambuk itu berputar 360° mengenai seluruh monster yang berada disana. Saat itu Kotori hanya bisa duduk serendah mungkin menjaga kepalanya agar tidak terkena tali cambuk yang terbang bebas tersebut.
[Cetarrrrr... Tarrrr... Cetarrrr...]
"Hahaha... Rasakan kekuatan cambuk kristalku ini, Shadow!" teriak Hanayo liar kepada para monster tersebut. Pukulan tali cambuk itu tampaknya cukup efektif membuat para monster tersebut kesakitan sehingga para monster itu terpukul mundur menjauhi dia.
Hanayo kemudian mengambil kartu Power Card yang dia simpan di balik saku jubahnya dan menggesekkan kartu tersebut ke Stage Charger yang berada di tangan kirinya! Dia berteriak: ["BUSHIMO!"]
Lalu dari alat itu kemudian muncullah sebuah proyeksi cahaya berbentuk lingkaran dengan warna hijau yang sangat terang dari arah depan Hanayo. Lingkaran itu kemudian bergerak mendekat dan menghisap seluruh tubuh Hanayo dalam sekejab dan setelah itu cahaya terang itu berlalu hingga menampakkan bahwa sosok Hanayo telah tampil dalam bentuk yang baru.
Jubah hijau motif kotak-kotak yang dikenakannya telah berubah menjadi warna putih, selain itu tampak dia kini memakai baju pelindung dengan motif hijau dan emas pada bagian tangan dan kaki. Kotori bahkan tidak bisa percaya dengan apa yang telah dilihatnya sekarang karena melihat pribadi Hanayo setelah berubah menjadi seorang ksatria tampak semakin anggun.
"Kini kamu mengerti kan apa maksudku itu?" kata Hanayo sambil menoleh ke arah Kotori.
"Hei, Kenapa kamu tidak mencobanya sendiri saja sekarang?!"
"Apa?! Aku?! Heeehhh?!" seru Kotori terkejut.
Kotori dengan ragu-ragu memandang kembali kartu miliknya yang ada di dalam genggamannya tersebut. Namun belum sempat Kotori memutuskan akan berbuat apa tiba-tiba Hanayo dikejutkan dengan kedatangan salah satu monster lainnya yang dengan cepat menyambar tubuh Kotori dan menjadikannya sebagai sandera mereka.
Para Shadow, begitulah Hanayo menamai monster itu juga telah sigap berdiri dan mengatur posisi mereka bersiap untuk menyerang gadis warrior itu lagi.
"Bergeraklah dan dia mati!" gertak monster shadow itu kepada Hanayo. Dengan raut muka kesal Hanayo berhenti melawan dan berdiam diri dari tempatnya sekarang. "Tch!"
"Bagus..."
Senyum lebar terlihat dari wajah monster Shadow tersebut, sejujurnya itu adalah senyuman menjijikan yang pernah dilihat oleh Kotori. Tanpa menunggu perintah para kawanan Shadow yang sebelumnya telah dihajar oleh Hanayo itu mulai bangkit dan bergerak untuk menyerang Hanayo. Mereka menghajar dan menendang tubuh Hanayo berulang kali tanpa ada perlawanan sedikitpun dari Hanayo sekarang.
Tanpa ampun salah seorang monster bangkit untuk melayangkan pukulannya ke arah pelipis wajahnya sehingga membuat Hanayo terpental beberapa meter ke belakang. Belum sempat dia mendarat sudah ada monster lainnya yang bersiap menangkap dirinya, bukan untuk mengamankannya namun bersiap menendang punggungnya sehingga dia kembali terpental menjauh secara diagonal ke monster lainnya. Begitulah mereka menganiaya musuhnya secara melingkar dan membuat Hanayo lemas akibat perlakuan tersebut.
"HENTIKAN!" Kotori berteriak dengan keras kepada mereka.
"Hanayo kenapa kamu tidak melawan?!"
Hanayo tetap diam bergeming dari tempatnya berdiri meskipun mendengar teriakan Kotori tersebut, gadis itu memilih untuk menutup telinganya seraya membiarkan para monster shadow itu menghajar tubuhnya. Sementara itu Monster Shadow yang sedang memegang Kotori itu tampak kesal dengan perbuatan Kotori barusan sehingga tanpa sadar monster itu menggenggam badan hingga mencekik leher Kotori semakin erat yang pada akhirnya membuatnya sulit untuk bernafas.
"S-Sial!, Jangan pedulikan aku! Bodoh!" umpat Kotori kepada Hanayo. "K-Kamu tidak boleh mati! Payah!".
Sekali lagi Kotori berteriak lebih keras menghabiskan sisa nafas yang masih ada untuk memaki sang kesatria. Dia sudah diambang kesadarannya, dia tidak bisa memikirkan apapun, dia sepenuhnya telah pasrah di tangan monster tersebut namun ketika dia melihat perlakuan mereka terhadap Kotori maka tidak ada perasaan lain selain marah. Dia marah bukan kepada monster itu melainkan kepada sikap Hanayo yang terus diam tanpa melakukan apapun, dan pada saat itu secara tiba-tiba muncullah cahaya terang melingkupi tubuh Kotori.
Kotori juga tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini namun dia mengenal hawa energi tubuhnya itu adalah hawa energi panas yang sebelumnya telah dia rasakan. Dan kini Energi panas itu kembali keluar dari dalam tubuhnya hendak membakar Monster yang mengekang dirinya. Reaksi dari hawa panas itu sungguh diluar dugaan karena tanpa berpikir panjang monster itu langsung melepaskan tubuh Kotori setelah tangannya terasa terbakar.
Pada akhirnya Shadow itu 100% melepaskan tubuh Kotori karena sudah tidak tahan dengan hawa panas yang perlahan-lahan menyebar dan membakar tubuhnya tersebut. Namun bukannya kabur malahan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Kotori untuk tanpa ragu-ragu mendekatkan diri ke arah monster itu.
Dengan sekali lompat dia memeluk erat monster itu dan membuat hawa panas yang keluar dari dalam tubuhnya berpindah kepada tubuh Shadow tersebut hingga membuat monster itu terbakar hebat. Monster itu bersusah payah menghalau Kotori yang menempel di badannya namun dia tidak berhasil melakukannya sekeras apapun dia berbuat itu.
Monster itu tidak memiliki kesempatan untuk melawan Kotori. Tangannya tidak kunjung panjang untuk menggapai Kotori yang memunggunginya, dia pasrah dan ajalpun menjemputnya. Kotori baru saja melenyapkan monster itu dengan tenaganya sendiri. Setelah melihat bahwa monster itu telah berubah menjadi abu maka Kotori akhirnya melepas pelukannya. Dia berhasil mengalahkan shadow itu sendirian meskipun tubuhnya juga sedikit hangus.
Para Shadow yang melihat kejadian barusan juga tampak shock setelah mengetahui rekannya telah musnah bahkan Monster Shadow lainnya yang sedang sibuk menghajar Hanayo juga menghentikan aksinya. Bersamaan dengan berhentinya pukulan dari monster tersebut, Hanayo langsung terjatuh ke tanah. Namun, dia bukannya tampak kesakitan malahan dari mulut yang sedikit berdarah itu dia tertawa keras setelah mengetahui tindakkan Kotori barusan. Kotori berlari mendekati tubuh Hanayo yang tergeletak di tanah dan bersamaan dengan itu para Shadow mundur menjauh dengan teratur dari hadapan mereka.
"Hanayo-san!"
"Ugh, Jadi, kamu sekarang sudah bisa menerima takdirmu sebagai Warrior yah?!" tanya Hanayo kepada Kotori.
Kotori hanya terdiam namun tidak berusaha menyangkali kenyataan tersebut. Hanayo lalu memalingkan perhatiannya ke arah para Shadow dengan tatapan mata yang tajam seperti ingin menerkam mereka semua.
"K-Kamu tidak apa-apa?!"
"Khuuu, Memangnya kamu pikir Warrior itu selemah itu yah?" kata Hanayo kepada Kotori sambil perlahan-lahan bangkit dari tempatnya berbaring. "Ini masih belum ada apa-apanya tahu!
"Sebenarnya..."
"Aku sengaja melakukan ini karena ingin membiarkan tikus-tikus itu sedikit bersenang-senang sebelum pada akhirnya akulah yang akan menghabisi mereka semua!" Hanayo tersenyum sembari mengatakan itu.
"APA?! KURANG AJAR!"
Sadar bahwa musuh mereka kini telah bangkit kembali maka dengan cepat para Shadow itu menyerbu Hanayo namun kali ini keadaannya telah berbeda. Alih-alih bisa menyerang dan menghajar dia, para Shadow itu mendapati bahwa tubuh mereka tidak bisa bergerak, mereka semua saling terhubung satu sama lain dengan benang tipis yang menjebak tubuh mereka. Ternyata tanpa mereka sadari selama pertarungan tadi secara diam-diam Hanayo telah mengulurkan tali benang tipis ke setiap badan mereka masing-masing. Hanayo menarik tangan kanannya dalam sekali tarik dan mengayunkannya ke kiri dan kanan sehingga membuat para shadow itu terikat dengan erat menjadi satu dan terlempar ke segala arah selama beberapa kali.
"Kau pikir aku akan membiarkan kalian mati dengan cara seperti ini begitu saja?"
"Enak saja!"
"Terima ini!"
Sekali lagi dia menarik talinya, kali ini ke arah atas sehingga mereka "terbang" ke langit. Hanayo juga mengambil posisi kuda-kuda untuk melakukan tendangan melompat sehingga ketika mereka bertemu di udara para monster itu bisa merasakan "cap kaki" dari Hanayo. Efek dari tendangan itu malah membuat mereka melambung semakin tinggi. Hanayo lalu sekali lagi menggesekkan kartunya kepada "Stage Device" miliknya dan tampak warna merah bersinar dari layar device tersebut, ["Jurus mengikat api: Flare Wave!"]
Kemudian tampak ada api yang keluar menjalar dari tali miliknya dan merambat dengan cepat ke arah monster yang masih terikat itu. Kotori yang berada di bawah hanya melihat pemandangan itu bagaikan sebuah bola api besar yang terbang ke angkasa.
Hanayo menyentakkan talinya sekali sehingga kini "gumpalan api" itu bersiap terjatuh ke tanah. Sesaat sebelum "gumpalan api" itu terjatuh, dia melepaskan ikatan mereka bagaikan melepaskan gasing beyblade dari talinya dan membiarkan monster shadow yang terbakar itu jatuh tergulung-gulung satu demi satu ke arah tanah dengan keras. Sementara itu Hanayo berhasil mendarat dengan mulus tanpa terluka.
"Huff, Selesai sudah." kata Hanayo sambil mengulurkan tangannya kepada Kotori, Hanayo lalu mengenggam tangan Kotori dan membantunya untuk berdiri. Kotori benar-benar terpaku diam tidak mampu bergerak dan pikirannya tidak mampu mencerna semua kejadian yang telah terjadi. Namun, saat itu seseorang telah menyentuh hatinya dan menggapai pikirannya. Keraguan yang berada di depan mata seolah sirna ketika sebuah guratan menjadi bekas di dalam pikirannya.
"Ayo pulang, Kotori-chan." kata Hanayo kepadanya sambil tersenyum.
["Ehh... Kotori-chan? Aku tidak salah dengar, kan?"] gumam Kotori terhenyak beberapa setelah mendengar kata-kata Hanayo barusan.
["Hanayo yang tadi siang dikenal sebagai pribadi yang keras kepala dan mudah tersinggung kini mau memanggilku Kotori-chan?"]
["Apakah ini berarti kita sudah berteman?!].
Gadis itu sepenuhnya telah tersadar dari lamunannya dan menerima seluruh kejadian yang terjadi pada hari ini sebagai sebuah kenyataan dan takdir masa depan yang akan di laluinya. Disamping itu semua, dia telah menerima Hanayo sebagai seseorang yang telah menyelamatkan nyawanya.
[Ah, sudahlah, Bagaimanapun juga pada akhirnya kita pasti akan menjadi teman, kan?"]
Kotori mengakhiri pemikirannya tersebut dengan balas tersenyum kepada Hanayo dan menganggukkan kepala.
.
.
.
Part 4: Dream Catcher.
.
Pada malam itu setelah mengalami peristiwa mengerikan tersebut kami segera pulang ke rumah dengan lebih hati-hati agar tidak ketahuan mama. Lampu di ruang tamu telah mati pertanda mamaku sudah mematikannya. Sesudah itu aku dan Hanayo kembali menyelinap masuk menaiki lantai dua kamarku dan segera masuk ke kamarku begitu juga dengan Hanayo yang tidur di dalam kamarnya.
Aku memaksa diriku untuk memejamkan mata dan berusaha tidur lebih cepat. Kalau bisa aku ingin secepatnya menyambut fajar pagi esok. Pokoknya aku sudah tidak mau berlama-lama dengan satu hari ini. Kejadian tadi siang, lalu kejadian malam ini, lalu mengenai monster Shadow, Kartu Misterius, dan mengenai Warrior, semua hal itu benar-benar membuatku pusing. Aku segera mematikan lampu kamarku dan memejamkan mataku rapat-rapat di balik selimutku.
["Hmmm... Ruangan ini..."] gumamku di dalam hati berusaha keras untuk mengingat ruangan tersebut. ["A.. Apakah mungkin ini adalah mimpi yang sama seperti sebelumnya?!"]
Ya, aku yakin ini adalah ruangan yang sama yang pernah aku datangi di dalam mimpiku seminggu yang lalu. Aku tidak pernah berpikir akan menjumpai ruangan ini lagi apalagi terakhir kali setelah mendapatkan mimpi ini, aku...
"Kemarilah Kotori... Kamu tidak boleh menghindar lagi sekarang! Waktumu sudah tiba."
Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan dengan nada lembut yang berasal dari balik pintu ruangan tersebut. Aku tidak tahu suara siapa itu tetapi aku mengenal dengan baik sumber suara tersebut.
Sepertinya aku tidak memiliki pilhan lain selain menuju ke dalam ruangan tersebut. Ini aneh, entah mengapa aku selalu merasa familiar dengan suara tersebut. Aku berpikir keras untuk mengingatnya sebelum memutuskan untuk melangkah mendekati pintu tersebut namun begitu keras aku melakukannya tetap saja aku sama sekali tidak dapat mengingatnya.
"Kamu siapa? Apakah aku pernah mengenalmu sebelumnya?," tanyaku memberanikan diri untuk bertanya kepada dia sebelum memasuki pintu itu.
"Ehmm... Kamu tidak akan mengetahui jawabannya jika kamu tidak datang kemari." jawab suara gadis misterius itu.
Aku pikir tidak ada salahnya untuk masuk kesana. ["Toh, jika ini cuma mimpi. Memang apanya yang berbahaya?"]
Dengan pemikiran seperti itu maka perlahan-lahan aku mendorong pintu tersebut. Well, sebetulnya tidak mendorong sih, karena pintu itu terbuka dengan otomatis sebelum aku menyentuhnya. Namun...
["Ehh, ini kan..."]
["Kamarku?!"]
Aku terkejut saat mengetahui bahwa ruangan di balik pintu besar tadi ternyata merupakan ruangan yang sama dengan kamar pribadiku. Tidak, aku yakin ini adalah kamarku sendiri! Satu-satunya yang membedakan adalah kehadiran seorang gadis dewasa yang aku perkirakan berumur sekitar 25 tahunan sedang berbaring di atas kasurku.
"Akhirnya datang juga kamu, Kotori-chan." sambutnya sambil berbaring manja.
["Ehh.. dia mengenal namaku? Tapi..."]
"Kamu siapa?!," tanyaku langsung kepadanya.
"Apa maksud semua ini?!"
"Oh, ini memang adalah kamarmu, kok." katanya sambil tersenyum."Jika kamu penasaran akan itu."
"Hmm, ternyata dugaanku benar, kan!" responku spontan, [tapi tunggu sebentar...]
"Hei, bukan itu maksudku!"
Gadis itu nampak tertawa lepas ketika melihat ekspresi wajahku yang panik bercampur bingung.
"Jadi kenapa kamu berada di kamarku sekarang?" aku bertanya lagi kepadanya.
"Itu karena ini adalah kamarku juga..." jawabnya dengan senyuman bersandar ke dinding kasurnya, maksudku kasurku.
"Heh, kamu ini bercanda yah kan?!. Sejak kecil sampai sekarang aku selalu tinggal di kamar ini sendirian! Bagaimana mungkin ini juga adalah kamarmu?!"
"Sendirian yah?!"
"Hmm... Bagaimana kalau aku katakan sesuatu bahwa selama ini aku selalu ada bersamamu?."
"Ehh?! Maksudmu?!" aneh pikirku.
"Satu minggu yang lalu..." gadis itu mulai berbicara."Kamu diam-diam menangis seharian di kamar ini, kan? Kamu melakukan itu diam-diam tanpa ada sedikitpun suara keluar dari kamar ini?!"
"A-Apa maksudmu!"
"Itu terjadi ketika mereka pergi tanpa dirimu, kan?"
"Bukankah kamu sangat marah ketika Honoka dan Umi tidak mengajakmu ikut ekspedisi itu pada minggu lalu?!"
"A-Apa?!"
Aku terkejut mendengar itu, itu adalah kejadian yang seharusnya menjadi rahasia bagiku seorang. Aku tidak pernah menceritakan perasaanku itu kepada seorangpun tentang betapa sedihnya aku pada saat itu.
Tidak seorangpun!
Termasuk mamaku!
Tapi dia bisa mengetahuinya?!
Ini menakutkan! Dia pasti bukan manusia!
A-Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang, aku tidak bisa mengatakan apapun untuk membalasnya!.
"B.. Bagaimana kamu tahu itu?" aku heran namun tetap menyangkalnya. "Tapi, itu kan mereka lakukan karena mereka peduli dengan pemulihan kesehatanku!".
Gadis itu mengernyitkan dahinya sejenak setelah mendengarkan perkataanku tersebut.
"Hmm.. Apakah kamu benar-benar jujur mengatakan itu?"
"Tentu saja!"
Aku berbohong.
"Hmm... Baiklah, kalau begitu bagaimana dengan ini. Aku harap kamu tidak berkeberatan menjelaskan ini kepadaku".
Dia kemudian menjentikkan jarinya dan dalam sekejab ruangan kamar kami berada saat ini telah berubah tempat menjadi suatu ruangan yang lain.
Itu adalah sebuah ruangan kelas sekolah yang telah kosong dan aku melihat di tempat yang sunyi itu terdapat seorang gadis yang masih duduk di bangku mejanya yang terletak di sudut pojok kelas.
Perlahan-lahan aku maju mendekati dia namun tampaknya dia tidak memperhatikan kehadiranku. Aku pikir itu adalah hal yang wajar lagipula ini adalah mimpi atau kalau tidak ini pasti sebuah gambar hologram.
Tibalah aku berdiri di samping mejanya, aku memperhatikan dengan seksama apa yang sedang dia lakukan. Tampaknya dia sedang sibuk memasukkan buku pelajarannya ke dalam tasnya namun tiba-tiba dia menghentikan itu dan menengadahkan kepalanya ke atas dan menatapku.
Aku benar-benar terkejut pada saat itu, aku pikir dia sedang menatapku. Tidak, dia segera memalingkan matanya ke tas itu lagi seolah tidak ada apa-apa. Dia tidak menunjukkan reaksi apapun selain pupil matanya yang semakin mengecil dan sayu. Gadis berambut coklat abu-abu itu tampak kesepian. Dan...
["Tunggu, aku sepertinya familiar dengan gadis ini. Oh tidak! Itu kan?!... Aku?!"]
Tiba-tiba mendadak aku teringat pengalaman masa kecilku sewaktu di SMP. Itu memang bukan pengalaman yang ingin aku ingat kembali. Lagipula apa yang harus diingat, tidak ada hal yang spesial pada masa itu.
Sebelumnya, Aku pernah memiliki banyak teman ketika masih di SD. Pada waktu itu aku hanya perlu memikirkan tentang belajar dan banyak bermain dan saat itu aku memiliki banyak sahabat karib khususnya ketika anak itu datang ke sekolah, Honoka. Dia adalah orang yang mengajariku banyak hal tentang kehidupan. Berbagai petualangan baru telah kami lakukan setiap harinya dan membuatku belajar untuk saling percaya dan saling bergantung kepada teman-teman lainnya. Namun...
Keadaan itu berbeda ketika aku memasuki bangku SMP. Aku menyesal harus berpisah sekolah dengannya dan aku gagal mendapatkan sahabat di sekolah ini. 3 tahun aku habiskan dengan berpura-pura berteman dengan mereka, sejujurnya setelah menyadari hal itu semua itu terasa sangat menyakitkan.
"Hmm... Jadi, ini menyakitkan yah?," gumam Gadis itu pelan.
["Geezz, aku mulai membenci mimpi ini."] Dia seperti bisa membaca semua jalan pikiranku.
"Jadi Kotori, menurutmu kenapa saat SMP itu kamu tidak memiliki banyak teman?"
"Aku... tidak tahu..." jawabku. "Aku hanya merasa jika aku bisa hidup mandiri tanpa menyusahkan orang lain, itu sudah cukup."
"Kalau begitu bagaimana dengan Honoka?," tanya dia sambil tersenyum manis memandangku.
Ah, Akhirnya dia menanyakan hal itu juga!
Pertanyaaan yang paling aku hindari dari segala pertanyaan yang bisa diucapkan olehnya namun entah mengapa aku menjawab itu juga. Huh, Seandainya aku bisa memilih untuk diam namun entah kenapa aku tidak memiliki pilihan itu di dalam mimpi ini. Ahhh... Aku hanya ingin segera cepat bangun!
"Dia itu..."
Tanpa sadar bibirku mulai mengucapkan kata-kata. Oh tidak, aku mulai menjawabnya secara otomatis.
Dalam sekejab aku mulai teringat dengan kilas balik masa laluku bersama dengan Honoka. Memori saat aku bersamanya pada waktu SD dan SMA bercampur aduk menjadi satu dan bagaikan tayangan di layar bergerak, semua itu terlihat jelas dalam pikiranku. Aku tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan perasaan ini lebih baik lagi. Hanya saja perasaan ini bukanlah sesuatu yang ingin aku lupakan begitu saja atau lebih ringkasnya aku malah bersyukur bisa mengingat ini lagi.
Rasanya hangat ketika aku bersama dengan dia. Bahkan hanya dengan melihat belakang punggungnya saja sudah membuat aku nyaman. Lalu, senyumannya dan cara dia tertawa bagiku itu bisa membuatku senang. Tingkah lakunya yang konyol dan sifatnya yang pemalas memang sangat merepotkanku dan Umi, bahkan Umi sering memarahiku karena terlalu memanjakannya. Tapi satu hal yang aku pahami saat ini bahwa aku benar-benar tidak bisa kehilangan dirinya. Dia itu...
"SAHABATKU YANG PALING BERHARGA MELEBIHI HIDUPKU!"
Teriakku keras kepada wanita muda misterius itu. Setelah Mendengar jawabanku tersebut, sesaat gadis itu nampak heran dan memandangku dengan tatapan serius.
"Hmmm, Good... Jawaban yang sangat jujur!." katanya sambil tersenyum puas.
Aku terkejut ketika mendengar respon jawabannya itu. Aku bisa melihat bahwa kedua matanya bersinar terang dan tampak begitu bersemangat.
"Baiklah, kalau begitu kenapa kamu tidak mulai mencari dia sekarang saja?!"
Seandainya aku bisa mengetahui dimana Honoka berada sekarang tentu aku akan melakukan itu secepatnya, namun, gadis ini lagi ngelawak yah?!
Aku melihat gadis misterius itu lalu mengeluarkan sebuah benda dari saku, itu adalah Stage Charger!. Benda yang sama seperti yang dimiliki oleh Hanayo.
Ehh, kenapa dia juga memilikinya? Apa yang ingin dia lakukan sekarang? Sepertinya dia sedang berbicara dengan seseorang melalui device tersebut.
"Garuda, kamu sudah mendengar semuanya kan?!"
"Aku rasa anak ini sudah pantas untuk menerima kekuatan itu sekarang. Jadi, mulai sekarang giliranmu yang menjaganya, yah?!" katanya sambil tersenyum. "Tolong yah, aku serahkan semuanya kepadamu."
Kemudian di balik dinding ruangan itu terdengarlah suara keras menggelegar disusul dengan mulai menghilangnya tembok dinding itu dengan hilangnya satu per satu batu tembok yang menyusunnya. Tiba-tiba semuanya memudar disertai dengan redupnya cahaya terang dan menghilang sosok gadis tersebut. Saat itu hanya ada aku sendirian dan menyisakan kegelapan disekelilingku. Tapi, tiba-tiba terdengar suara...
"Baiklah, aku mengerti..".
"Yah, apa boleh buat sepertinya sudah tidak ada keraguan lagi di dalam hatinya!
"Hei nak, mulai sekarang aku akan meminjamkan kekuatanku kepadamu."
Beserta dengan terdengarnya suara menggelegar itu, aku bisa melihat sebuah cahaya berwarna merah sangat terang dari hadapanku. Lalu muncul sesosok makhluk mistis yang sangat besar dengan sinar terang berwana merah disekelilingnya, makhluk itu berbentuk seperti burung besar namun memiliki tangan dan kaki seperti halnya manusia.
Apakah itu malaikat? Entahlah, yang jelas makhluk itu kemudian mengepakkan sayapnya dengan sangat kuat seperti kobaran api yang menyala besar ke arahku.
["Dia hendak menyerangku?!"]
Eh, tidak!
Kepakan sayap itu memang segera menghembuskan udara yang begitu kuat dan itu segera menerbangkanku. Tapi...
"Kyaaaa..."
Aku lalu terhempas jauh meninggalkan burung dan ruangan gelap itu sekarang. Jauh, entah aku akan dibawa kemana...
.
.
.
Part 5: Together Back!
.
"Hosh... Hosh... Hosh...!"
Aku membuka mataku dan melihat keadaan disekitarku. Kini aku mendapati bahwa diriku telah terbangun dari ranjang tidurku. Ya benar, ini adalah kamarku sendiri. Aku lega setelah mendapati kenyataan ini karena seluruh hal yang terjadi sebelumnya itu hanya mimpi.
"Ini sudah bukan mimpi lagi kan?," ucapku meyakinkan diriku sendiri.
Waktu jam wekerku menunjukkan jam 06:30 A.M.
Aku yakin ini sudah pagi hari. Ketika aku membuka gorden jendela kamarku tampak bahwa sinar matahari kuning segera menerobos masuk kedalam kamarku.
[Tok-tok-tok] Seseorang mengetuk pintu kamarku dan segera membukanya. Orang itu adalah Hanayo.
"Hmm... Apa yang sedang kamu lakukan, Kotori?," katanya sambil mengernyitkan dahi melihatku memegang dadaku.
"T-Tidak ada." jawabku sambil tersenyum kecil ke arahnya.
"Baiklah kalau begitu, ibumu memanggilmu untuk sarapan. Aku tunggu dibawah." kata Hanayo singkat seraya menutup pintu kamarku lagi.
"Terima Kasih" jawabku tanpa sempat dia bisa mendengarnya.
Pagi itu kami segera menyelesaikan sarapan kami dan bergegas pergi untuk berkumpul di halaman sekolah seperti kesepakatan kemarin. Hanayo dan aku pamit kepada mamaku untuk pergi meninggalkan rumah.
.
Di tengah jalan
"Hanayo... Umm..."
"Apa?" (menoleh ke belakang)
"Umm..." (geleng kepala)
Sesungguhnya aku tidak yakin ingin mengatakan ini namun sesuatu telah terjadi pada pagi itu. Sesaat setelah Hanayo pergi aku mendapati bahwa tangan di balik selimutku sedang memegang Power Card.
Akan tetapi ada yang berbeda dibandingkan dengan kartu yang sebelumnya, jika pada kemarin siang itu aku mendapati bahwa kartuku ini berwarna hijau, kali ini kartu itu berwarna merah terang dan gambar samar-samar di balik kartu itu telah terlihat jelas sekarang. Itu adalah gambar sosok seorang gadis yang sama dengan yang ada di dalam mimpiku itu. Dan di kartu itu tertulis nama seseorang.
.
"Baiklah, ada apa ini?," kali ini dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku
"Apakah kamu pernah mengenal sesuatu tentang seorang gadis..." kataku ragu-ragu. Setelah mendengar pertanyaanku itu aku melihat bahwa Hanayo nampak terdiam berdiri kaku sambil menatap tajam ke arahku. "Namanya Aya Uchida?"
"Ehh, Bagaimana kamu tahu nama itu?!"
Aku lalu mengeluarkan kartu tersebut dan menceritakan apa yang telah terjadi pada saat itu. Hanayo memperhatikan dengan seksama seluruh ceritaku. Tidak terasa kami telah sampai ke gerbang sekolah. Disana aku melihat bahwa keempat gadis lainnya telah berkumpul.
"Selamat pagi, Kotori-san..." sapa mereka. "H-Hanayo-san,"
"Selamat pagi semuanya.." jawabku membalas sapa mereka
"Jadi, Hanayo, apa yang sebenarnya ingin kamu katakan kepada kami kemarin sore?" tanya Eli langsung kepada Hanayo.
"Baiklah, tapi sebelum itu, bagaimana keadaan kalian?" Tanya Hanayo balik kepada kita semua. "Apakah semuanya baik-baik saja? Maksudku keluarga kalian?"
Mendadak keadaan pagi itu menjadi sangat hening, tampaknya tidak ada satupun yang ingin membicarakan itu. Sepertinya aku juga tidak perlu menanyakan ulang kepada mereka. Aku tahu sesuatu yang buruk telah terjadi disana.
"Menghilang..." ucap Umi singkat angkat suara.
"Kami semua sudah membicarakan ini dan seperti perkataanmu kemarin, Keluarga kami telah menghilang. Aku bahkan tidak bisa menemukan adikku, Arisa." kata Eli sambil menahan air matanya.
"Aku, kami harus bagaimana? Hanayo!" kata Rin dengan mimik muka hampir menangis.
Melihat kondisi pembicaraan tidak berlangsung dengan baik maka aku mencoba untuk menghibur mereka.
"Kalau begitu kenapa tidak kita pastikan dulu saja? Kita coba untuk mencari disekitar daerah ini lagi." kata Kotori. "Siapa tahu mereka sedang bersembunyi di sebuah tempat."
"Yah kan, Hanayo-san?!"
"Itu tidak perlu lagi Kotori-chan." jawab Hanayo dengan suara murung.
"Seperti yang aku katakan kemarin, jika mereka tidak ada di rumah, itu berarti ada kemungkinan mereka sudah berubah menjadi monster dan jika itu terjadi maka mereka pada dasarnya sudah mati!"
Tidak ada seorangpun yang siap mendengar jawaban itu. Baik Kotori yang telah menemukan mamanya maupun gadis lainnya juga begitu marah mendengar jawaban Hanayo tersebut.
"Hanayo! Jadi maksudmu kita harus menerima begitu saja bahwa kami sekarang menjadi anak yatim piatu?!" bentak Rin. "Begitu maksudmu!"
"Hei, kamu ini manusia atau batu sih?! Aku heran apakah kamu ini memiliki hati nurani?!" sindir Eli.
"Te.. Tenanglah kalian semua!" teriak Hanayo berbicara keras.
"Karena itulah aku saat ini mengumpulkan kalian disini yaitu untuk merebut kembali Love Gem yang berada di dalam kuil! Meskipun aku tidak begitu yakin bagaimana cara menggunakan kekuatan batu bertuah itu namun jika legenda itu benar maka seisi dunia ini masih bisa diselamatkan kembali dengan menggunakan ekstraksi intisari kekuatan alam semesta kembali."
"Kalian yang tersisa disini adalah para Warrior! Power Card inilah bukti bahwa Para Dewi telah memilih kalian."
Dengan hati berkobar-kobar Hanayo mengangkat kartu miliknya dan memperlihatkan itu satu per satu ke depan muka mereka. Hanayo kemudian menceritakan apa yang telah terjadi saat ini dan tentang kejadian antara Kotori dan Hanayo di taman kompleks kemarin malam kepada mereka. Mereka tampaknya bisa menerima cerita tersebut dan menjadi agak tenang. Sekali lagi keadaan masih bisa dikendalikan.
"Jadi, Kalau begitu kita tinggal merebut kembali batu itu kan?" tanya Rin.
"Aku ikut..." kata Umi menanggapi ajakan Hanayo tersebut. "Aku tidak begitu mengerti apa yang kamu maksud dengan Warrior, dan Love Gem dan Kartu ini. Namun satu hal yang aku tahu jika nyawa keluarga masih bisa diselamatkan, aku akan bertarung hingga darah penghabisan. Inilah jalan hidupku sebagai seorang kesatria."
"Aku setuju! Aku sepakat denganmu, Umi!" sahut Eli mengenggam tangan sang kohai.
"Aku juga ikut, nyaa." kata Rin secara cepat. Kini semuanya sudah sepakat untuk ikut, tinggal Maki yang tersisa. Rin kemudian berbalik melihat kepada Maki,
"Maki, kamu ikut juga kan?"
"Emm... Aku?!" jawab Maki dengan suara pelan. "bisakah aku menunggu disini saja?"
"Ehh...?!"
"EHHHH...!"
Seru mereka serentak dengan suara tidak percaya.
"Maki-chan?!" tanya Kotori ulang meyakinkan Maki.
"Maafkan aku Kotori-san, Rin-chan. Tetapi hutan itu begitu menakutkan untukku." jawab Maki murung. "A.. Aku tidak suka berada di dalam hutan."
Mendengar jawaban itu, Rin dengan muka serius bangkit berdiri sembari menggenggam tangan Maki, "Maki-chan, bisa ikut aku sebentar?."
"Maaf semuanya, kami minta waktu sebentar yah." kata Rin mohon diri sejenak kepada yang lainnya menuju belakang gedung sekolah.
Para gadis itu mempersilahkan Rin dan Maki untuk pergi meninggalkan mereka sejenak walaupun tidak tahu apa yang sedang mereka berdua bicarakan namun mereka bisa mendengar jeritan ini:
"Ehh! TIDAKKK!"
"Mou, Baiklah! Aku ngerti, aku mengerti!" terdengar suara Maki yang bergemetar dengan keras dari balik tembok.
"Yosh! Sepertinya kita sudah paham, nyaa. Kalau begitu tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi, kan?! Nyaa." kini mereka suara Rin yang terdengar lebih ceria menggantikan suara Maki yang masih terdengar rapuh karena ketakutan.
Setelah itu mereka berdua kembali kepada mereka nampak wajah Rin yang terlihat sangat bahagia menyapa para gadis yang lain namun berkebalikan dengan keadaan Maki yang tampak jauh lebih murung daripada yang sebelumnya.
"Maaf telah membuat kalian menunggu... hehehe...!"
"Yosh! Teman-teman... Ayo, kita berangkat ke dalam Hutan sekarang, nyaa!" seru Rin dengan ceria kepada mereka semua.
.
-chapter 4: selesai-
