Nightwish: Treasure
Chapter 6
—o0o—
Author : Emma Griselda ‖ Editor : Sky Yuu ‖ Cast : Sesshomaru, Kagome, Inuyasha, and Kikyo
Lenght: chaptered ‖ Rating : PG-17 ‖ Genre : drama, romance, hurt, comfort
—o0o—
Aku merasakan diriku terbang bebas di atas awan layaknya sebuah burung. Aku bahkan bisa mendengar kicauan para burung saat berkomunikasi dengan kawanan lainnya. Berkomunikasi untuk menanyakan keadaan mereka apakah baik-baik saja, atau memberikan sebuah informasi. Sayup-sayup aku juga mendengar seseorang menyebut namaku dan bertanya bagaimana keadaanku apakah aku baik-baik saja. Aku tak bisa mendengarnya degan jelas kala berada di udara —terbang. Kubuka mataku perlahan. Layaknya ada kabut yang menghalangi pandanganku, semuanya menjadi kabur dan secara bertahap menjadi sebuah gambaran yang terlihat jelas. Dan, benar saja saat ini aku terbang. Namun, aku dalam posisi dibopong oleh seseorang.
Aroma yang lumayan kukenal. Aroma yang khas. Aku mendongak untuk melihat wajahnya. Dan anehnya, aku merasa nyaman saat bersama dengannya. Aku tak tahu sejak kapan merasakan hal itu. tatapannya fokus ke depan, tanpa memperhatikanku.
"Sesshomaru ..." Panggilku.
Matanya melirik padaku yang sudah tersadar tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Aku hanya ikut mengamatinya dalam diam. Lalu, dimanakah Rin? Apakah Rin juga selamat? Ataukah orang yang kudengar secara samar-samar saat menanyakan kondisiku tadi adalah Rin. Aku mencoba untuk menengok ke belakang, dan membuat gerakan yang sedikit mengganggu Sesshomaru.
"Miko, doushitano?" tanyanya, ia masih fokus ke depan.
"Rin?" aku balik bertanya padanya.
"Dia baik-baik saja. Dia berada di belakang bersama A-Un dan juga Jaken."
Aku menghembuskan napas panjang. Lega. Ada yang masih peduli tentangku dan juga Rin. Untuk Rin, tentu saja Sesshomaru akan mengkhawatirkannya, namun, aku tak yakin tentangku. Sepertinya tidak ada yang peduli denganku. Akan tetapi, jika tidak ada yang peduli tentangku, bagaimana mungkin Sesshomaru sering menyelamatkanku dari bahaya? Apa itu semua kebetulan semata?
Aku menatapnya dengan penuh pertanyaan yang banyak sekali ingin kutanyakan. Akan tetapi, dia seperti biasanya, mengacuhkanku. Aku rasa itu wajar. Bukankah aku termasuk ke dalam daftar musuhnya?
Sesshomaru mulai menukik pelan. Dengan kondisi menggendongku bukanlah hal yang mudah untuk melakukan pergerakan yang cepat. Ia mendarat dengan sangat hati-hati. Dia juga menurunkanku pelan. Hari sudah menjelang malam ketika kami tiba di sebuah tebing. Sepertinya aku sudah pernah ke sini.
Apakah ini tempat yang sama?
Aku menoleh padanya, dengan tatapan penuh tanya aku terus menatapnya. Dia menoleh ke arahku sesaat dan ia kembali fokus ke depan.
"Bukan," ujarnya singkat.
Tak berselang lama, A-Un mendarat dengan pelan. Rin serta Jaken langsung turun. Seperti biasanya, Jaken mengucapkan kata-kata yang sangat berlebihan di depan tuannya mengenai bagaimana dia datang tepat waktu, bagaimana ia mengeluarkan Rin, serta keahliannya membantu Sesshomaru. Semua kata-kata yang keluar dari mulut kecilnya yang bentuknya tak berbeda jauh dengan paruh ayam itu membuatku iritasi saja.
"Kagome onee-sama ..." Rin menghambur padaku.
"Rin-chan, daijobu?" aku berjongkok di hadapannya. Kutelusuri tiap inci wajah dan tubuhnya. Aku ingin memastikan bahwa ia tak apa-apa.
"Hmmm." Dia mengangguk bahagia. Apa kebahagiannya sungguh sederhana seperti itu? Rin memelukku erat, kubalas pelukannya dengan tak kalah kuat.
"Jaken."
"Hai, Sesshomaru-sama."
"Kita beristirahat di sini. Biarkan Rin dan miko itu memulihkan energinya."
"Hai."
Jaken patuh dengan perintah yang dikatakan oleh Sesshomaru padanya. Tanpa harus meminta sang tua untuk mengulang instruksinya, Jaken langsung menyiapkan segala keperluan untuk istirahat malam ini. Ia mencari beberapa makanan yang bisa disantap olehku dan juga Rin serta menyiapkan api unggun. Rin duduk di depan api unggun sambil menanti makanan yang dipanggang bersama Jaken. Aku beranjak dari tempatku duduk semula. Aku hanya ingin menikmati udara segar di sore hari menjelang malam, dan aku tak meminta persetujuan dari Sesshomaru.
Aku hanya ingin jalan-jalan sejenak. Kusilangkan tanganku sambil terus berjalan santai. Gemerisik dedaunan yang terinjak oleh kakiku dan oleh kaki seseorang terdengar seperti nyanyian penghujung sore. Aku mencoba menghentikan langkahku, untuk menguji apakah orang yang berada di belakangku mengikutiku atau dia hanya lewat saja. Ketika aku berhenti, dia juga menghentikan langkahnya. Dan ketika kulanjutkan kakiku untuk melangkah, dia juga melangkah. Jantungku berdegub kencang, jarak kami terpaut lumayan jauh, tapi gemerisik dedaunan itu membuatku merinding.
"Kau takut padaku, miko?" tanya laki-laki itu.
"T-tidak." Aku menoleh ke belakang.
Sesshomaru. Dia mengikutiku?
"Kau mengikutiku?"
"Tidak."
"Lalu, apa yang kau lakukan di belakangku?"
"Jalan-jalan. Sama seperti yang kau lakukan."
"Benarkah?" tanyaku penuh selidik.
Dia tidak segera menjawab pertanyaanku. Ia melangkah mendekat ke arahku. "Kenapa? Kau takut, jika aku mengikutimu?"
Aku memilih untuk tidak menjawab. Percuma saja aku adu argumen dengannya. Aku terus melanjutkan berjalan kembali. Tapi, kehadirannya sungguh membuatku gugup, dan aku tak tau entah kenapa. Apakah gugup karena takut atau karena hal yang lain, yang jelas aku gugup saat dia berada di dekatku. Sepertinya baru kali ini aku merasakannya.
"Kenapa kau gugup?"
Aku menggigit bibir bawahku. "Apa kau akan ikut campur semua urusanku?" aku menoleh ke arahnya. Kusilangkan kedua tanganku di dada dan menatapnya dengan menantang, namun jantungku tak bisa berbohong.
Dia tersenyum untuk beberapa detik. Dia benar-benar tersenyum, itu bukan ilusiku.
"Kenapa kau tersenyum? Apa yang lucu?"
Aku menjadi was-was, jantungku semakin berpacu dengan cepat. Benar-benar tak bisa kukendalikan. Bagaimana jika dia mendekat dan mengetahui bahwa aku benar-benar gugup di dekatnya.
"Miko."
"H-huh?"
Aku benar-benar gugup. Kenapa aku ini?
"Diamlah di situ."
Aku terdiam, bingung dengan apa yang baru saja ia katakan. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitarku untuk melihat apakah musuh berada di sekitarku. Jika iya, mungkin kekuatanku belum kembali. Kekuatan spiritualku masih tersegel, sehingga aku tak bisa mendeteksi kehadiran lawan. Sambil mengedarkan pandanganku ke sekeliling, tanpa terasa kakiku ikut melangkah.
"Arrrrggggghhh!" teriakku dengan menutup mataku.
Kakiku tergelincir sebuah dahan kecil yang tergeletak di tanah. Dengan cepat, Sessomaru datang menolongku. Ia menopang badanku dengan satu tangannya. Napasku kembali tak karuan.
"Ceroboh."
Kubuka mataku dan menatapnya. Dia masih memegangku dalam pelukannya. Entah kenapa, hanya menatap matanya saja sudah membuatku gugup. Aku bangkit dan membenahi posisiku.
"Ehm ehm." Aku berdehem.
"Arigato." Ucapku, tapi aku tak berani menatap matanya.
"Kau berbicara dengan siapa, miko?"
"Denganmu."
"Bukankah saat berbicara dengan mitra tuturmu, kau harus menatapnya?"
Aku menatapnya. "Kau benar. Harusnya seperti ini. Arigato." Aku mereka ulang perkataan yang sudah aku katakan padanya. Dengan cepat, aku mengalihkan pandangannya.
"Kau tak berani menatap mataku. Kenapa?"
Tak bisakah dia menanyakan hal itu?
Aku ingin mengabaikannya dan bersenandung kecil sambil melanjutkan langkah kakiku. Tapi, sepertinya dia tidak akan melepaskanku begitu saja. Ia langsung menarik lenganku dan membuatku berhadapan dengannya. Posisi yang sangat dekat.
"Apa aku membuatmu gugup?" ia mendekatkan wajahnya padaku.
Kugigit bibir bawahku dan mengalihkan pandanganku pada tempat yang lain.
"Kau takut padaku."
Aku membelakangi tubuhnya. Tapi, jantungku tak kembali normal. Ia masih saja berpacu cepat seperti seekor kuda yang berpacu cepat.
"Bukan seperti saja ..." ujarku, aku tak bisa melanjutkan kalimatku.
"Kenapa?" ia seadakan-akan berbisik padaku. Aku bisa mendengarkan suaranya dengan jelas, dan napasnya yang menggelitik leherku.
"Hanya saja kehadiranmu membuatku ..." aku berhenti, berusaha mencari kosa kata yang tepat untuknya.
"Apa kehadiranku membuatmu gugup? Apa kau tak menyukai kehadiranku?" ia berbisik tepat di telingaku yang membuatku tersentak. Ia benar-benar tepat di belakangku dan tangannya menggenggam tanganku.
Jantungku semakin berpacu. Sepertinya aku gila! Apa iya aku mulai mempunyai rasa padanya? Ah tidak, tidak. Aku benar-benar gila sekarang!
Aku menarik napas dalam-dalam, mengatur irama napasku seperti semula untuk membuatnya terlihat normal. "Sesshomaru ..."
"Hm."
"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
Hening untuk sesat.
"Apa?"
"Kau tadi menyelamatkanku?"
Tentu saja, bodoh. Pertanyaan konyol.
"Tidak, aku menyelamatkan Rin. Rin memintaku untuk menyelamatkanmu."
"Benarkah?"
"Hmm."
Hening.
"Lalu, kenapa waktu itu kau menolongku?"
"Kapan?"
"Saat Inuyasha menghantamku ke pohon."
"Kau yang datang padaku."
"Tidak. Kau yang menutupiku dari hujan."
"Kau menangis di hadapanku."
"Apa menangis suatu tindakan yang salah?"
"Aromamu saat menangis begitu menggangguku."
"Lalu kenapa tiba-tiba kau memelukku saat itu?"
Kembali hening. Ia tak menjawab. Sepertinya memang ia tak mau manjawabnya. Ia melepaskan tautan tangan kami.
Grep.
Mulutku ternganga, terkejut dengan perlakuannya padaku. Ia memelukku dari belakang. Kepalanya berada di sisi kiri wajahku. Apa maksudnya ini? Ini hanya mempraktikannya 'kan? Tidak ada maksud lain?
"Seperti ini?" tanyanya.
Sialan! Kau membuatku seperti orang gila. Jantungku rasanya ingin melompat dari tulang rusuk yang menjebaknya selama ini.
"H-huh, ya." Jawabku dengan menganggukkan kepala.
"Apa itu penting sekarang?"
Aku diam mematung. Dia masih dalam posisi memelukku dari belakang. Dia sama sekali tak ingin melepaskan pelukannya yang erat itu. Dia tidak ingin menjawab pertanyaanku perihal pelukannya kala itu. Dia merasa terusik. Dan aku adalah orang yang mengusiknya.
—o0o—
Aku terbangun dari tidur nyenyakku. Sesshomaru kembali memberikan jubah kimono yang pernah kuberikan pada Rin beberapa hari yang lalu saat berpamitan untuk pulang. Namun, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Dan lagi-lagi membuatku berada dalam rombongan kecilnya. Ia memberikan jubah itu padaku untuk digunakan sebagai selimut tidur bersama Rin, dan ia meminjamkan baju berbulunya untuk dibuat bantal.
Kami melanjutkan perjalanan setelah makan pagi yang kulakukan bersama Rin. Seperti biasanya, Rin begitu antusias dan ceria saat mengetahui aku berada pada rombongannya —sepertinya itu dimulai saat ini dan entah sampai kapan. Bahkan saat ini aku tak bisa kembali ke era modern karena pecahan shikon no tama satu-satunya yang kumiliki telah jatuh ke tangan Naraku. Dia begitu bahagia, sambil menunggangi punggung A-Un dia bersenandung kecil dan membangun suasana menjadi lebih hidup. Jaken yang mendengar Rin menyanyi dengan merdu, ia kembali menggerutu pada gadis kecil itu.
"Rin, berhentilah bernyanyi! Suaramu mengganggu telingaku dan membuat A-Un menjadi lemas."
"Jaken."
"Hai, Sesshomaru-sama."
"Diamlah, kau berisik. Biarkan Rin bernyanyi."
Jaken menunduk dengan memeluk tongkat berkepala dua miliknya. Ia masih menggerutu kecil, tapi aku tak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakannya. Aku berada di belakang Sesshomaru dan berada di samping A-un. Jubah kimono milik Sesshomaru aku masukkan ke dalam tas ransel yang menggantung di punggungku dan bergerak sesuai irama langkah yang kuambil. Tiba-tiba Sesshomaru menghentikan langkah kakinya dan membuat orang yang berada di belakangnya mengikutinya juga.
"Sesshomaru, doushitano?" tanyaku curiga.
Dia hanya diam. Tatapannya fokus ke depan. Aku hanya mampu melihat rambutnya bergoyang karena angin. Apa Naraku datang?
Bukan Naraku, melainkan Inuyasha.
Ia berlari secepat mungkin untuk berhadapan dengan Sesshomaru. Ia menggendong Kikyo dan dengan lembut serta hati-hati ia menurunkan Kikyo di tanah. Dia benar-benar tak ingin membuat Kikyo terluka sekecil apapun. Tak berselang lama, Sango, Miroku, dan Shippou datang dengan Kirara.
Kualihkan pandanganku pada Rin. Dari sebelah mata kiriku, aku bisa melihat pergerakan Sesshomaru yang ikut melirik ke arahku dan setelah itu dia menghadap ke depan.
"Kenapa kau bersama Kagome?" tanya Inuyasha dengan sedikit berteriak.
"Kenapa? Apa itu masalah untukmu?"
"Jadi, dia kemarin berpamitan dengan kita untuk ikut bersama dengan rombongan Sesshomaru. Begitukah, Kagome?"
Dia berteriak padaku. Kututup mataku dan menghembuskan napas berat. Inuyasha dan rombongannya menatapku, menuntut sebuah jawaban. Aku tak ingin menjawab pertanyaannya. Hanya akan membuat luka baru.
Tes ...
Dan bodoh! Entah kenapa harus meneteskan setiap kali bertemu dengan Inuyasha? Bukankah kemarin jantungku berdegub tak karuan saat bersama Sesshomaru? Sebenarnya apa ini?
"Kagome onee-sama?" Rin menghapus air mataku. Aku menunduk dan menggenggam erat bahu kecil Rin.
"Daijoubu, Rin-chan."
"Jaken."
"Hai, Sesshomaru-sama."
"Mundurlah."
Jaken paham maksud tuan yang sudah dilayani beberapa tahun itu. Youkai berwarna hijau itu langsung menarik tali A-Un, dan membawanya ke belakang. aku hanya mengikuti Jaken.
"Kau membuatku marah, Inuyasha."
"Kehh!"
Bam
Aku mendengar sebuah hantaman keras pada tanah. Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke belakang. Aku tersentak melihat apa yang ada di depan mataku.
"Sesshomaru!" teriakku dengan keras.
