Chapter 6: ... Mitsuki?
Setelah latihan yang panjang tim 7 akhirnya beristirahat. Makan bekal makanan dari rumah dan minum. "Aku selesai." Boruto yang sudah selesai makan bento.
"Boruto ingat tidak. Sarada pernah bilang akan membantumu selama sehari, kalau kau bisa menang dalam latihan." Mitsuki berbicara pada Boruto.
"Ingat, tapi setelah hal yang terjadi hari ini rasanya jadi tidak adil. Kita anggap impas saja." Boruto menjawab sambil membuka tas senjatanya.
Boruto terkejut begitu melihat kunai pemberian kakeknya hanya 2. Lalu ia menggengam semua kunai biasa di tangan kanannya, memilahnya. Ternyata memang benar tidak ada 2 kunai lainnya. Memasukan semua kunai kembali, mencoba mengingat terakhir kali ia melempar kunai secara acak.
"Tidak akan!"
'Dooom'
Boruto menghela nafas, lalu mulai melangkah pergi mencari 2 kunai yang ia gunakan untuk bertarung tadi. "Boruto, kau mau ke mana?" Tanya Sarada.
"Aku tidak sengaja menjatuhkan senjata berhargaku selama latihan. Aku akan mengambilnya sebentar." Jelas Boruto yang berhenti.
"Baiklah terserah." Sarada menjawab jutek.
Setelah itu Boruto berlari mengambil barangnya sebelum benar-benar hilang.
-Skip place-
Sampai di tempat ia menjatuhkan banyak kunai, ia memutar kepalanya ke kanan dan kiri mencari kunai yang ia miliki. Pandangannya fokus pada tempat yang paling gosong dari yang lain, di sana banyak kuanai berserakan. Boruto mendekati tempat tersebut lalu mengambil semua kunai miliknya.
"Eh? Jadi gosong... Yasudahlah yang penting masih bisa dipakai." Boruto terkejut melihat semua kunainya jadi gosong. 'Sekarang, barang itu menancap dimana?' Kembali memutar kepalanya, melihat 2 kunai tersebut menancap di batang pohon dan tanah. 'Rupanya disana...' Tangan Boruto berhenti sebelum menyentuh kunai. Ia mundur beberapa langkah, memperhatikan tempat menancapnya kunai benar-benar lurus dan jaraknya sama, seperti sudut 90derajat.
"Kunai ini sudah diatur untuk Hiraisin ya. Jii-chan kau membuatku terkejut." Mengambil 2 kunai terlihat tidak gosong.
Tiba-tiba kertas pembungkus gagang kunai terlepas, lalu terlihat segel 'tanah'. Boruto terkejut begitu melihat segel tersebut, lalu membuka kertas gagang kunai yang lain dan tertulis segel 'tinggi'. Mengamati kedua keras kecil itu dengan seksama, dipojok kanan diberi tanda nomer (1 dan 2).
'Kukira setelah kemarin, aku sudah mengenal bagaimana jii-chan. Ternyata masih belum.' pikir Boruto sambil melihat langit lalu menyimpan 2 kertas berharga tersebut ke dalam sakunya. Kembali ke tempat berkumpul dengan jalan kaki santai.
-Skip time and place-
"Kau sudah selesai mengambil senjatamu?" Tanya Mitsuki saat Boruto sampai.
"Ha'i" Boruto menjawab singkat lalu tiduran di atas rumput hijau di bawah pohon. Suasana hening, Boruto berulang kali menghela nafas kecil selama tiduran.
"Boruto katakan sesuatu." Mitsuki berujar tidak suka suasana hening ini.
"Bilang apa?" Tanya Boruto masih tiduran.
"Masalahmu mungkin, karena aku melihatmu menghela nafas dari tadi." Mitsuki mengatakan hal yang membuat Boruto bangun dengan kesal.
"Baiklah, aku minta bantuan kalian berdua." Boruto mengeluarkan 2 kertas dari sakunya.
"Kertas dengan lambang segel? Dimana kau mendapatkannya?" Sarada ikut penasaran dengan yang dibawa Boruto.
"Dari Jii-chan. Tadi malam..."
"Itu tida-k mu-ngkin, bukannya Yondaime terakhir kali muncul waktu perang dunia ninja ke 4?"
"Itu karena kemarin malam Paman Kakashi menggunakan jurus edo tensei atas permintaan mereka. Saat kami berkunjung, aku diberi tantangan. Hasilnya aku berhasil membalas, tapi kalau terus dilanjutkan aku bisa kalah. Setelah bertarung, aku diberi hadiah 'katanya sebagai ucapan selamat menjadi Shinobi'.
Aku sangat senang, lalu jii-chan memintaku bercerita tentang pengalamanku selama ini. Aku bisa sangat dekatnya untuk 1 hari, tapi..." Boruto berhenti bicara sejenak. "Tapi... Saat melihat kertas itu, aku tidak mengerti apa yang dia pikirkan. Aku masih belum benar-benar dekat jii-chan."
"Benar-benar dekat... Benar juga, aku akan bantu!" Sarada berujar dengan semangat.
"Kenapa kau jadi begini?" Boruto tiba-tiba bingung.
"Ini ada kaitannya dengan Hokage. Karena ada batasan apa yang tertulis di buku, aku harus mencari tahu lebih lengkapnya." Sarada menjelaskan.
"Jadi kau mencari pengalaman. Mitsuki, kau bagaimana?" "Kalau kalian berdua ikut, aku juga ikut." Jawab Mitsuki tidak masalah.
"Yosh, sekarang kita pecahkan tanda segel ini." Boruto semangat. Mereka mengamati kedua kertas yang digabungkan itu dengan seksama. *Segel:'Tanah tinggi'
"Aku sudah dapat 1 petunjuk. Segel dengan pola lingkaran seperti ini, bisa dibuka dengan segel tangan 'elemen tanah'. Tapi, itu artinya kita perlu bantuan ninja dengan elemen tanah." Sarada menjelaskan apa yang ia ketahui dari pola.
"Bagus, aku juga sudah mendapatkan pentunjuk. Meurutku jika kedua keras ini tidak dipisah, 2 kata yang tertulis bisa jadi sebuah kata ungkapan untuk tempat."
"Tempat?" Mitsuki sedikit bingung dengan makna kata jika digabung.
"Makna yang tertulis dikertas ini 'Bukit' atau 'Gunung'." Boruto "Bukit atau gunung? Setahuku tidak ada gunung di Konoha, itu artinya kita cari di bukit." Sarada meperjelas.
"Baiklah, petunjuknya sudah cukup. Sarada kau yang buka segelnya." Boruto meminta Sarada.
"Eh, tapi aku tipe tanah:penghancur. Aku tidak bisa membuka segel ini."
"Mitsuki, kau bisa?"
"Aku..." Mitsuki berfikir sejenak 'Kalian berdua adalah anak yang sempurna yang kusayangi dari lubuk hatiku, kekuatan yang ada di dalam diri kalian itu melebihi kekuatanku sendiri.' Kata-kata Orochimaru terlintas dipikiranya. "Akan kucoba." Mitsuki membentuk segel 'tanah' mengalirkan cakranya bersiap menempelkan tangannya di atas kertas. "Elemen Tanah." Mitsuki berujar lalu menempelkan tangannya.
Perlahan-lahan terjadi perubahan pada 2 kertas yang mulanya kecil. Kertas dengan segel 'tinggi' mulai melebar dan ada gambaran ilustrasi seperti peta. Sedangkan kertas segel 'tanah' bertambah panjang dengan berbagai tulisan kanji seperti petunjuk. Kertas itu berhenti membesar ketika semua ilustrasi dan tulisan sudah lengkap.
"Berhasil?! Aku... Berhasil." Mitsuki seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia punya elemen tanah?
"Sugoi...(hebat)"/"Sugoi...(hebat)". Boruto dan Sarada berdecak kagum.
"Baik kita lihat hasilnya... Berdasarkan peta ini menujukan bagian utara Konoha dan ada beberapa bukit." Sarada melihat peta.
"Kita harus pilih salah satu. Petunjuk disini mengatakan 'Datangi titik poin 1, dengan menggeser gambar lokasi dan memperbesarnya kalau kesulitan'." Mitsuki menjelaskan isi kertas lainnya.
"Menggeser? Gambar dalam peta ini tidak bisa bergerak meskipun kusentuh. Tunggu, kertas ini dibuka menggunakan cakra jadi kalau aku menggunakan cakraku... Gambarnya bergerak!" Sarada terkejut dengan apa yang terjadi dengan peta tersebut. "Aku menemukannya." Sarada menunjuk sebuah titik di peta.
"Ini seperti sebuah peta dengan perangkat elektronik." Boruto melihat tempat titik poin 1.
"Sarada berapa jauhnya dengan posisi kita sekarang?" Mitsuki bertanya.
"Kellihatanya sekitar 5-6 km." "Lumanyan, ayo pergi."
-Skip time and place-
Setelah berlari selama 50 menit mereka sampai di titik poin 1. Tempat itu tepat lurus bercabang dengan 3 bukit yang ada di konoha. "Baiklah kita sampai." Sarada mengatakan sesuai dengan peta.
"Petunjuk selanjutnya: 'tempat ini tidak mudah di datangi orang, butuh kerjasama dan keahlian untuk bisa masuk'. Menurut kalian bagaimana?" Mitsuki membaca pentunjuk no. 2.
"Hmm... diantara 3 bukit... Yang di tengah banyak pohon, bentuk bukitnya lebih miring dari 2 bukit lainnya. Apa mungkin itu?" Boruto mulai berpendapat.
"Kalau begitu kita coba satu-persatu, kalau waktunya tidak cukup, kita lanjutan besok." Sarada memperhatikan bukit yang dimaksud.
Mereka kembali berlari menuju bukit yang dituju. Setelah terasa berlari jauh, tempat yang mereka ingin temui tidak terlihat. "A-aa? Whaa... Yokata. Arigato Mitsuki. Huft-huft..." Boruto hampir terjatuh dari pohon.
"Ayo Istirahat sebentar." Akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat di lokasi mereka sekarang. Setelah pencarian selama 2-3 jam tidak mendapatkan apa-apa. "Aku mulai pusing! Dari tadi kita memutari bukit ini dan tidak menemukan sesuatu yang berharga." Sarada mulai lelah.
"Sarada, pinjamkan petanya sebentar."/"Ha'i" Boruto memperbesar gambar bukit hingga setiap bagiannya terlihat.
"Boruto, jangan paksakan dirimu. Kau sudah berusaha keras saat latihan." Mitsuki memperingatkan.
"Tidak masalah, paling tidak aku masih bisa berjalan saat pulang." Boruto masih sibuk dengan peta. "Aku mendapatkannya!"
"Dimana?" Sarada dan Mitsuki langsung mendekat.
"Ini. Ada bagian bukit ini tidak di tumbuhi pohon, tapi tempat itu sangat terjal." Boruto menjelaskan sambil menunjuk peta.
"Ini cukup jauh untuk kondisi kita sekarang." Mitsuki mulai lelah berlari.
"Bukit ini bulat jika menurutmu itu jauh, lewati sisi lainnya saja agar lebih dekat." Sarada mempermudah.
"Kita lanjutkan lagi pejalanannya."
Mereka melanjutkan perjalanan hingga Boruto tiba-tiba berhenti.
"Ada apa Boruto?" Sarada heran lalu melihat ke arah pandangan temannya, begitu juga Mitsuki.
"Benar-benar terjal bukan?" Boruto berguman seperti bertanya.
"Iya"
"Apa kita harus pakai cakra?" Mitsuki bertanya.
"Jangan pakai cakra saat daya tahan kita sudah lemah." Sarada menolak.
"Aku punya ide." "Apa itu?"
"ini!" Boruto melompat dengan zig-zag di medan terjal dan menanjak dan semakin lama semakin cepat. Mendekati puncak melompat setinggi mungkin meraih tanah atas dengan tangan.
"Boruto! Jangan paksakan dirimu!." Mitsuki berteriak memperingatkan temannya yang nekat.
"Tidak apa-apa. Tinggal sedikit lagi!." Boruto berusaha menaikan tubuhnya dengan kedua tangannya. Setelah berhasil nafasnya terengah-engah menahan lelah. "K-kalian ber-dua ayo kesini!." Boruto mencoba berteriak dengan susah payah.
Sarada dan Mitsuki jarang melihat Boruto sangat tertarik dengan hal yang berhubungan dengan Ninja. Akhirnya mereka mengikuti cara Boruto menaiki medan terjal.
"Kau baik-baik saja, Boruto?" Sarada juga khawatir dengan rasa antusiatisme Boruto yang diambang batas kewajaran.
"Ha'i. Aku baik. Kita sudah sampai." Boruto sudah tenang dan nafasnya tidak terengah-engah. "Sarada, gunakan sharinganmu dan melihat apa di sini ada Kekai (pelindung)."
"Baik." Sarada menggunakan sharingan 1 tomoenya untuk melihat sekitar. Ia terkejut melihat sebuah bagunan tua tidak kasat mata jika dilihat dengan mata biasa. "Bangunannya ada di dalam." Mereka mendekati kekai. "Cakra yang digunakan untuk kekai lebih rumit dari yang kutahu." Sarada masih fokus pada kekai.
Mendengar itu Boruto mencoba melempar kunai dan hasilnya kunainya hampir hancur tersengat listrik. Lebih parah daripada jadi gosong tadi siang.
"Kekai ini berbahaya... Rasengan!." Boruto membuat rasengan untuk melubangi kekai.
"Sudah kubilang jangan gunakan cakramu saat daya tahan tubuhnu sudah lemah." Sarada memperingatkan.
"Hanya sekali saja aku mencoba, kalau ini gagal ada 1 kesimpulan yang pasti." Lalu mengambil 1 kunai pemberian Minato mengalirkan cidori. Boruto masih belum menyerang, ia masih meperbesar jutsunya. Ketika rasengan (tangan kanan) dan cidori (tangan kiri) itu sudah paling maksimal, Boruto melemparkan kunai cidori lalu rasengan yang aliran cakranya diputar berlainan arah. 2 jutsu tesebut membuat kekai mengeluarkan listrik lebih banyak dan meledak dengan kencang.
"Kekainya? kekai itu pulih?!" Sarada terkejut melihat kekai itu kembali keadaan semula.
"Sudah kuduga, Kekai ini menggunakan cakra Sage mode. Tou-chan pernah cerita salah satu gurunya dan juga adalah guru Jii-chan (maksudnya Jiraya). Aku rasa jii-chan menggunakan Sage mode untuk membuat kekai lebih tahan lama, entah kapan aku datang. Selain itu, cakra jenis ini katanya hanya bisa di kalahkan dengan cakra yang sejenis." Boruto menjelaskan apa yang ia ketahui lalu mengambil kunai yang tadi ia lempar.
"Jadi untuk kali ini kita berhenti?" Sarada sudah lelah jauh-jauh datang dan tidak berhasil.
"Iya, mungkin butuh waktu lebih 1 bulan untuk belajar Sage mode. Aku butuh ijin dan bantuan Tou-chan untuk bisa latihan. Untuk kali ini kita menyerah saja dulu." Boruto berbalik mulai melangkah pulang.
Sarada hanya mengikuti langkah Boruto untuk pulang. Mitsuki hanya diam di tempat memandang lurus tempat yang tertutup kekai tersebut. Di dalam hatinya ia ingin menggunakan Sage mode ular dan menghancurkan kekai. 'Aku... Ingin melakukannya. Ini saatnya aku sepenuhnya jujur.' Mitsuki mengepalkan tangannya yakin dengan apa yang akan ia lakukan. "Aku bisa membuka kekainya sekarang, kalau kalian mau!" Mitsuki berteriak kepada Boruto dan Sarada yang hendak pergi.
"Sekarang?" Boruto dan Sarada berbalik memandang Mitsuki penuh tanda tanya. Suasana sedikit canggung dan hening, hari semakin sore namun tidak ada yang berani bicara.
"Mitsuki kau bisa Sage mode?" Boruto bertanya langsung ke poinnya "Ha'i. Aku mendapatkanya dulu jauh sebelum bersama kalian di Akademi. Saat itu aku masih bersama dengan Orocimaru lalu membuat pilihan hidupku sendiri dan meinggalkannya... Gomen. Selama ini aku kurang jujur tentang diriku sendiri. Aku benar-benar minta maaf." Mitsuki bercerita dengan nada rendah dan wajah menunduk.
"Tidak masalah. Bersama Orochimaru kurang menyenangkan bukan? Jangan buat dirimu jadi sedih untuk mengingatnya." Boruto menenangkan suasana.
"Ha'i"
"Mitsuki, kau tidak masalah dengan ini?" Sarada menghawatirkan temannya.
"Emm..." Mitsuki yakin. "Aku mulai." Mitsuki membuka sage mode ularnya (sepeti kayak di komik One-shot). Memukul kekai dengan bertubi-tubi, susah payah mengemat nafas agar tidak kehabisan energi.
"Ayo Mitsuki! Kau pasti bisa...!" Boruto berteriak memberi semangat.
"Berjuanglah!" Sarada juga ikut.
Setelah memukul bertubi-tubi ini serangan terakhirnya, melompat dan memukul kekai tersebut lebih kuat. "Haahh...!" Mitsuki memukulnya sampai tangannya benar-benar masuk.
'Krrreettttekk...'
"Kekainya hancur!" Sarada mulai melihat wujud bangunan. Namun setelah itu Mitsuki langsung terjatuh.
"Mitsuki!." Boruto dan Sarada langsung membantunya berbaring.
"Huff-huf-huf..." Mitsuki kelelahan membuka sage mode ular.
"Mitsuki jangan menggunakan mode sage kalau belum dikuasai." "Gomen... Aku ingin membantu." "Selain itu, kau harus beristirahat besok dan memberikan 'penjelasan' pada kami." Boruto memberi perintah. Mitsuki hanya mengangguk lemah.
"Ayo lihat isi bangunannya." Sarada dan Boruto membopong Mitsuki sampai pintu depan bangunan.
"Kira-kira isinya apa?" Sarada penasaran.
"Ini... Tempat pelatihan."
Setelah itu pintu dibuka, suara senjata dan alat-alat bersuara secara serempak. Bagaikan mesin otomatis.
"Kau benar... Jadi ini tempat pelatihan Hokage..." Sarada berbinar-binar memandagi tempat pelatihan. Sementara kedua temannya hanya sweetdrop.
"... Sekarang ayo kita pulang." Boruto sebenarnya tidak mau menggangu acara Sarada namun terpaksa ia lakukan.
"Benar sudah sore." Sarada tidak mau lupa pulang ke rumah.
-Skip time and place-
Karena Mitsuki tidak bisa berjalan setelah menggunakan mode sage, terpaksa Boruto gendong sampai rumahnya.
"Gomen, aku menyusahkan kalian." Mitsuki minta maaf saat sudah sampai di rumah.
"Tidak apa-apa, aku justru berterima kasih." Sarada berterima kasih.
"Sampai jumpa..."
"Sampai jumpa..." Mitsuki memandang kedua teman setimnya 'Aku rasa... Pilihanku ini sudah tepat.' . Mitsuki lalu memasuki rumahnya.
-skip place... Kediaman Uzumaki-
"Tadaima..." Boruto menghembuskan nafas setelah masuk rumah.
"Onii-chan, okainasai..." Himawari menyahut.
"Emm... Kaa-chan di mana?"
"Kaa-chan sedang memasak."
'Kriingg...Kringgg...'
Suara telpon ruang keluarga berbunyi. Himawari segera menggangkatnya dan disusul dengan Boruto.
"Moci-moci. Ini siapa?" Himawari berbicara dengan nada imut.
'Himawari. Ini jii-chan, Hiashi jii-chan.'
"Jii-chan kenapa menelpon?" 'Aku ada keperluan Boruto. Bisa tolong kau berikan telpon ini padanya.'
"Wakarimasta." Himawari lalu menyerahkan telpon kepada Boruto dan bilang dari Hiashi jii-chan.
"Mosi-mosi, ada apa?"
'Boruto, aku sudah mendapatkan orang yang tepat. Besok, datanglah ke dojo keluarga pagi-pagi sekali, bersiaplah untuk ujianmu.'
"Ha'i jii-sama."
'tet...'
Sepertinya Boruto harus beristirahat lebih awal agar bisa pulih dan minta porsi bekal ditambah untuk seterusnya.
Sementara itu...
Disebuah hutan dekat dengan desa sedang dilanda hujan beserta angin kencang, tak lupa pula kilatan petir sesekali terlihat. Terlihat samar-samar seseorang bergerak cepat dan sesekali berlindung di belakang pohon, ia tidak bisa berteduh dari hujan. Ia bisa tertangkap oleh binatang buas atau bisa disebut monster yang menjaga tempat tersebut. Setelah hujan mereda dan awan mulai menyingkir dari tempatnya, cahaya bulan mulai menerangi jalan menuju desa yang ia tuju. Jas hujan yang ia kenakan ia buka tudungnya, terlihatlah bagaimana wajahnya. Memiliki rambut dan mata kiri berwarna hitam, namun mata kanannya berwarna ungu dengan banyak tomoe (Rinegan). Ia adalah Uciha Sasuke, saat ini ia menjalankan misi di desa Amegakure.
To be Continue...
Info: -Bentuk bangunan pelatihan seperti di Movie Naruto: Road to Ninja. Tempat tersebut pernah di pakai oleh Jiraya dan Minato, kalau belum tau bentuknya lihat filmnya.
-Konflik utamanya Amegakure, dan ...(masih rahasia di chapter depan). Maaf, mungkin kalau tokohnya over power di usianya masih muda.
Semoga masih ada yang mau baca... Sampai jumpa di chapter berikutnya...
Review Please...
