"Alice di Wonderland."
Pria itu menyentuh pipinya. Perlahan Bibirnya melengkung membentuk senyum di wajahnya yang pucat. Yang tampak lemah. Dan semakin terlihat rapuh ketika senyum itu menampakkan sesuatu yang kosong dan dalam.
"Ratu Hati punya segalanya. Jadi, Alice merebutnya karena rasa iri."
Permata kelabu itu menerawang lemah terhadap wajah objek di hadapannya.
Kamar itu gelap dan dipenuhi oleh kain-kain polos berwarna putih yang menutupi semua perabotan di dalamnya. Akan tetapi, segala yang bersandar di dinding itu tak akan pernah ia sembunyikan dari kedua matanya. Tak ada orang yang boleh menyentuhnya. Hanya dia. Hanya dia seorang.
"Mad Hatter menaruh balok gula yang banyak di cangkir Alice. Mau tahu kenapa? Itu karena Cheshire membawa serbuk bunga beracun. Alice suka yang manis-manis, 'kan? Tapi, kau tahu, Alice kabur setelah memecahkan cangkir March Hare."
Dia tertawa lemah saat menceritakan akhir yang seharusnya terdengar bahagia dari kisah sang Alice. Akan tetapi, nadanya terdengar kecut dan terasa pahit terkecap di lidahnya sendiri. Mungkin karena pada kenyataan, selama ini ia merasa telah menjadi
ALICE.
Sekilas kedua keningnya mengerut dalam, menunjukkan rasa terluka yang seakan menghantam dadanya.
Kemudian, ia mengulas senyum tipis. Nyaris tidak terlihat.
"Tenang saja, my dear," gumamnya, menggantungkan apa yang sebenarnya, penyataan macam apa, yang berada di ujung di lidahnya. Ia memandangnya untuk terakhir kalinya sebelum berpaling dan melewati pintu tanpa menutupnya. Ia tidak pernah berpaling saat melangkah.
Atau saat memanjat pinggiran jendela.
"My dearest..."
Langit sangat biru.
"My dearest Hermione,"
Pria itu ingin meraih sesuatu yang berdiam jauh di atas langit.
Lebih dari warna biru itu.
Lebih dari angkasa yang membentang.
"Alice sebenarnya anak yang baik. Dia anak yang penurut. Jadi—"
Kedua kakinya meninggalkan pijakan di bingkai jendela.
Membawa serta rasa duka di hatinya.
"—dia pasti akan meminum teh itu bersamamu."
DRUUUAAKK!
.
.
Sejak awal, sejak angin musim dingin itu menghembus wangi bunga kematian ke seluruh penjuru arah,
pada akhirnya,
Draco hanya akan memilih
untuk tetap bersama Hermione Malfoy.
xxx
.
.
MAD/ The Sorrow of Draco Malfoy
Rozen91
Harry Potter © J. K. Rowling
.
.
xxx
"Kenapa kau bergantung di situ? Hei, Lady, kau tidak takut jatuh?"
"Aku tidak takut, Pangeran Kecil."
—jawaban Pansy pada Draco (5 thn)—
xxx
Draco mendesis, nyaris membentak Blaise saat sahabatnya itu tiba-tiba menepuk pundaknya.
"Blaise!" serunya, "Kau mau membunuhku, hah! ?"
Blaise menaikkan alis dan langsung minta maaf setelah menyadari apa yang Draco maksud. "Sorry, mate," katanya datar, "aku lupa kalau pundakmu masih belum sembuh. Kalau tidak salah, nyaris satu tahun kau terkurung di rumah sakit, yang sebenarnya merupakan hasil dari kecerobohanmu sendiri. Sungguh bodoh, memanjat pohon tinggi hanya untuk buah yang tak bisa dimakan."
"Jangan bahas itu lagi." Draco menekuk wajah. "Aku bahkan tidak ingat pohon mana yang kupanjat saat itu."
"Well, bagaimana kalau kita menghirup udara segar di taman?" tawar Blaise, mengalihkan pembicaraan. Walaupun demikian, tanpa menunggu jawaban Draco, ia sudah menginstruksikan beberapa pelayan untuk menyiapkan cemilan untuk piknik dadakan mereka berdua.
Draco menghela nafas. Sama sekali mengacuhkan tindakan sahabatnya yang semena-mena itu.
"Ayo, pergi."
Ia tidak tahu
tentang tatapan datar Blaise Zabini yang langsung berubah ketika ia memunggunginya.
xxx
"Hei, Tuan Kacamata, kau menjatuhkan topimu."
"A—ah, aku tidak sadar. Thank you, little knight."
—pertemuan Harry dan Draco (5 thn)—
xxx
"Ayolah, Mom! Aku sudah sehat sepenuhnya. Aku bisa berpergian kemana saja sekarang."
Narcissa menggeleng-gelengkan kepalanya tidak setuju. Wanita anggun itu hendak berbicara lagi ketika suara bariton mendahului dan menenggelamkan kata pertama yang ia ucapkan.
"Biarkan dia, Cissy. Dr. Albus sudah memberinya izin untuk banyak bergerak, dan sebenarnya beliau menyarankan hal itu."
Draco tersenyum lebar, "Bahkan Dad mendukungku."
Narcissa merapatkan bibir merahnya. Ia tak bisa melarang Draco jika Lucius sudah lebih dulu memilih di pihak mana ia akan berdiri—dan dia memilih anak ketimbang istrinya. Narcissa menghela nafas kalah.
"Aku tak mau dengar kalau sesuatu terjadi nantinya, dear."
Draco memeluknya sayang dari belakang, "Tenang saja, Mom. Aku akan menjaga diri."
"Draco." Pria muda itu mengangkat wajah, memandang sosok sang ayah yang seolah sedang menyembunyikan wajah di koran paginya. Akhir-akhir ini Dad sering melakukannya, batinnya.
Lucius Malfoy mungkin memang sedang menyembunyikan raut wajahnya.
"Kau boleh pergi ke manapun, selama itu bukan di bangunan sayap barat."
Pundak sang ibu lantas menegang. Draco tidak mengatakan apapun, walaupun ia merasakannya.
"Kenapa?"
Narcissa menarik nafas tenang, lalu menyentuh punggung tangan anaknya dengan lembut. "Selama ini kau di rumah sakit, jadi kau tidak tahu. Bangunan di sayap itu sudah agak tua dan sepertinya mau rubuh. Jadi, kita akan menutupnya sampai pamanmu, Severus, datang dan menunjukkan arsitektur bangunan yang baru."
"Oh, well," Draco berujar, "kalau seperti itu, aku tidak punya alasan untuk ke sana, bukan?"
Ibunya tersenyum lega. Ayahnya melemparkan lirikan setuju dan puas. Draco berusaha mempertahankan senyum di wajahnya.
Mereka tidak menyadari
bahwa sudah beberapa hari ini,
Draco mencium bau kebohongan yang selama ini telah melekat di ujung hidungnya.
xxx
"Aneh, bukan?"
"Tidak, tidak aneh. Anak kecil memang menakjubkan. Pada awalnya hatinya polos dan murni dan tak ada yang lewat dari perhatian mereka, namun saat tumbuh mereka akan berubah selama ditempa oleh pengalaman, Pansy."
"Aku merindukan sahabatku. Tapi, dia sudah bukan anak kecil lagi."
"Ya, kau benar. Dia sudah tidak bisa melihat kita lagi."
—percakapan Pansy dan Harry (Draco, 11 tahun)—
xxx
Draco melambaikan tangan saat mengantar kepergiaan kereta kuda yang membawa kedua orangtuanya. Peluang bisnis di bidang perdagangan kain sutra sedang banyak diminati oleh beberapa kenalan ayahnya. Dan beliau berniat menjalin kerja sama yang memerlukan satu kunjungan ke kota sebelah.
Draco akan mengambil alih tugas sebagai Tuan rumah mansion sampai kedua orangtuanya kembali. Dan hal pertama yang ia lakukan adalah:
melanggar perintah ayahnya. Tepatnya, ia menyeret Blaise untuk menemaninya ke sayap barat.
"Lagi-lagi. Kau juga dengar, 'kan, Blaise?" Draco pura-pura kesal sembari berjalan masuk lebih dalam ke koridor. Blaise menyembunyikan kepalan tangan yang tampak tegang di punggungnya. Ia tidak percaya bahwa Draco berhasil mengelabuinya untuk membiarkan si albino ini masuk ke bangunan sayap barat.
"Aku tidak peduli," katanya, nyaris terdengar seperti geraman, "daripada itu, bukankah ayahmu melarangmu ke menara sayap ini?"
Draco memutar bola matanya.
"Ck, cerewet. Dad tidak ada di rumah. Ini kesempatan bagus untuk berkeliling, bukan?"
Blaise menarik nafas, menunjukkan ketidaksetujuan terhadap alasan pria itu. "Sebaiknya kita kembali. Aku tidak yakin masalah tak akan terjadi jika kau ada di sini." Blaise Zabini langsung berpaling dan berjalan ke arah berlawanan dengan langkah panjang. Draco sedikit panik, khawatir Blaise akan memberi ancaman—yang hukumannya langsung berhubungan dengan Lucius—jika ia tak segera mengikutinya.
Draco mengumpat.
"Tch! Tunggu, Blaise!"
Ia berlari pergi.
Meninggalkan sebuah pintu yang hendak dibukanya.
xxx
"Ah, Pansy? Apa yang kau lihat?"
"Kau...apa yang kau rencanakan, Harry?"
"Ilusi yang menyenangkan, tentu saja."
"Ini tidak menyenangkan! Apalagi yang kau rencanakan! ?"
"... Kau benar. Maafkan aku.
Draco terlalu bersedih. Dia frustasi. Dia sudah hancur.
Ini semua adalah apa
yang terbentuk dari seluruh perasaannya."
—Pengakuan Harry (Draco, 29 tahun)—
xxx
Perasaan Draco sedang buruk-buruknya malam itu. Tiba-tiba saja Blaise mengumumkan bahwa ia akan menginap di salah satu kamar di mansionnya, dan memilih ruangan tepat di depan kamarnya.
Blaise mengawasinya. Draco tahu itu.
Oleh karenanya, ia menunggu hingga malam semakin dan benar-benar menenggelamkan Blaise dalam rasa lelah dan kantuk. Jam berdentang dua kali saat ia menuruni tangga di lantai dua. Dengan satu batang lilin sebagai penerangnya.
Ia berpikir telah mendengar jam berdentang lagi ketika ia menaiki tangga menara di sayap barat. Namun, ia mengira mungkin itu hanya suara daun-daun musim semi yang saling menggesek satu sama lain.
Ia mengeratkan jubah tidurnya.
Terlalu dingin.
Dan angin malam telah meniup padam satu-satunya penerang yang ia punya. Draco mengangkat tatapannya. Menyadari bahwa bulan bersinar terang, cukup sebagai penerang yang ia butuhkan.
Lalu, saat ia mencoba membuka pintu dengan kunci yang berhasil ia ambil dari kepala pelayannya, Draco sepintas berpikir 'ini mungkin ide yang buruk.' Akan tetapi, rasa penasarannya telah membumbung tinggi di otaknya.
Ia menyentak grendel emas yang berdebu.
Sekilas ia merasa tangannya gemetar. Ataukah itu hanya imajinasi?
Rasanya mengerikan. Mencengkeram jantungnya. Sesuatu yang seolah tiba-tiba menyambarnya. Apakah itu ketakutan?
Perlahan pintu itu terbuka.
Draco ingin menjauh dan berlari.
Dan berlari sejauh mungkin. Apakah yang ia takutkan?
Mungkin ruangan ini. Yang dipenuhi oleh kain-kain berwarna putih yang bergoyang oleh belaian semilir angin senyap. Sepasang permata kelabunya jatuh pada benda yang paling memakan tempat. Yang terletak di tengah-tengah kamar.
Kain putihnya tersibak angin.
Sekilas menampakkan apa yang tersembunyi di baliknya.
Tentang sesuatu yang sejak lama telah bersandar di dinding ruangan itu.
xxx
"Harry! Hentikan semua ilusi ini!"
"Tidak bisa, Pansy. Ini semua demi Draco juga. Kau mengerti, 'kan?"
"Ini mengerikan, Harry Potteeerr!"
"Aku sudah mengambil semua ingatannya tentang Hermione,
dan inilah bayarannya, Pansy.
Kita harus bertahan demi Draco."
—jawaban Harry atas rintihan Pansy (Draco, 29 tahun)—
xxx
Ia terdiam.
Draco merasa seakan baru saja disiram air dingin. Dingin. Mungkin kakinya membeku. Ataukah jantungnya? Dia tidak tahu. Dia mungkin tidak menyadari apa pun saat suara di kepalanya menjerit dan menuntutnya untuk meninggalkan menara itu.
Tangannya gemetar.
Rasa penasaran itu lebih kuat dari apa yang bisa ia tahan. Dorongan kefamiliaran akan sesuatu yang tidak ia kenali. Ia mengulurkan tangannya.
JANGAN!
Ujung kain putih yang dihembus pelan oleh angin.
Dingin.
Jari-jari pucat itu mencengkeramnya dalam genggaman yang lemah.
JANGAN DIBUKA!
(perintah itu menggelegar di kepalanya.
Akan tetapi,
rasa penasaran telah mendorongnya untuk lanjut.)
.
.
.
sraaakk
.
.
.
Terhadap sesuatu yang sejak dulu bersandar di dinding ruangan itu.
Draco hanya bisa menatap.
Merasa seolah jantungnya merosot dari rongga dadanya.
.
.
Kini ia mengingatnya
"Ti...dak..."
apa yang dulu ia kunjungi setiap hari
"Ti...tidak...mungkin..."
Di permulaan hari
"Tidak...Ini tidak mungkin...tolonglah!"
Di pengujung waktu
"Oh, God, please! !"
.
.
"Istriku... Istriku..."
Pada akhirnya,
"Hermione! Oh, Tuhan! Tidak mungkin!"
semua akan kembali seperti semula
"HAAAARGGHH! !"
.
.
"Draco! ! Mate! Bertahanlah!"
"Hermione! Hermione! Hermione!"
Pria itu meratap terhadap apa yang sejak lama telah bersandar di dinding ruangan itu. Benda persegi dengan bingkai terindah yang sesuai dengan apa yang terlukis di dalam kanvas. Di ruangan yang ia dekorasi sesuai dengan perasaan duka yang begitu muram dan pahit.
"AAAAHHHH! !"
Bau pekat yang sejak lama menggantung di udara.
Begitu kental dengan warna gelap kematian itu sendiri.
Begitu menyakitkan hingga ada saja air mata yang tumpah bersama seluruh kesedihannya.
.
.
Harry Potter hanya bisa menundukkan wajahnya.
Pansy Parkinson hanya bisa menahan air matanya.
Ilusi yang bertaburan di udara telah hancur.
Semua telah kembali seperti semula.
.
.
_the end_
Nha Chang: Tenang aja, Nha Chang,, kalau fic ini keseluruhannya sudah tamat pasti akan saya kasih tanda. ;D ,,,, Draco masih hidup, kok, setidaknya di chapter ini,,, Maaf, ya, saya gak bisa satuin Dramione, soalnya Hermione udah meninggal . ,, Makasih udah mampir, ya, Nha Chang! ! :3
StarCo: Yup! Yosh, untuk Draco sudah bisa dilihat di atas,, :3,,, Makasih udah mampir, StarCo! ! :D
SeribuBahasaUntukDiam: boku wa MADDO janai! ! Yosh,, makasih udah mampir...Sebaud! :D
Crystal Rotgelle: Yay, Crystal! 'Wicked Illusion' memang mengacu pada 'Harry'. Di sana, 'Harry' memang menyebabkan seluruh kematian tokoh, walaupun dia sudah mati. Tidak masuk akal? Tentu saja. Saya pernah singgung di chapter Pansy:
"Bagaimana Harry bisa ada di sini tanpa sepengetahuanku? Aku tidak tahu. Ron juga. Ginny juga. Hermione tahu semuanya, tapi dia pasti tidak akan bicara apa pun."
Di chapter 5, 'Harry' mengindikasikan bahwa 'Hermione' adalah kematian yang terakhir. Tapi, kenapa 'Pansy' bilang kalau 'Hermione' tahu kenapa mereka bisa ada di menara itu? Nah, jadi pertanyaan yang untuk mendapatkan jawaban yang tepat adalah:
Mereka bercerita dari sudut pandang siapa?
atau lebih tepatnya
Mereka harus menyamakan cerita dengan pengetahuan siapa?
Yup! Semua POV di chapter sebelumnya didasarkan pada pengetahuan 'Hermione' tentang keberadaan mereka atau bagaimana mereka bisa ada di menara itu. Dengan kata lain, semua POV di chapter sebelumnya belum tentu menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya. Walaupun begitu, tidak benar kalau kita mengatakan bahwa semua itu adalah ilusi 'Hermione'. Karena, ilusi itu sejatinya...apa yaaaa? chapter ini sudah menjawabnya. :E :X
Yup, 'pria itu' adalah Draco. Well, Draco niatnya bunuh diri, tapi diluar dugaan dia selamat, hanya saja dia sedikit amnesia. Dimana Lucius dan Blaise? Dimana yaaaa? ;D
Yosh! Makasih udah mampir, Crystal Rotgelle! ! :D
.
.
xxx
(Ketika 'Hermione' melihat
apa yang sejak dulu bersandar di dinding ruangan itu,
maka semua tali yang mengikat ingatan Draco Malfoy
akan terlepas.)
xxx
.
.
