[REMAKE] A Romantic Story About Serena by Santhy Agatha
Genre :: Romance, hurt
Cast :: Oh Sehun, Xi Luhan, Kim Jongin and others. [HUNHAN]
Rated :: M
.
Disclaimer : ayu me-remake novel favorit aku, cerita aslinya kalian bisa baca novel A Romantic About Serena (Santhy Agatha). So, cerita ini bukan milik ayu, ayu cuma me-remake oke?jangan nuduh gil plagiat ya. Oh iya ini re-post ya, soalnya yang itu tuh/? Gatau kemana ilang-_,-ada kata atau kalimat yang ditambahkan/dihapus demi kepentingan cerita.
.
YAOI. Typo(s). M-Preg.
5
Luhan hampir saja terlambat kerja, dia menarik napas panjang melihat jam absennya. Hanya kurang satu menit.
Dengan segera dia melangkah masuk ke mejanya, teman-teman seruangannya sudah mulai sibuk bekerja. Luhan pun mulai berkonsentrasi, tapi matanya hanya menatap kosong ke layar komputer, pikirannya mengingat ke kejadian semalam dan dia mengernyit, Dia merasa murahan sekali, menjual diri kepada laki-laki itu tetapi terlena dengan rayuannya. Mau bagaimana lagi, lelaki itu adalah jelmaan Eros penakluk pria cantik dengan segala pengalaman dan keahliannya, sementara Luhan baru pertama kalinya bercinta.
Tuhan, ampunilah dosa-dosaku. Luhan memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya sebelum mulai menenggelamkan diri dalam pekerjaan.
"Iya, aku juga tidak menyangka." suara berbisik dua rekan disebelahnya menarik perhatian Luhan "Rasanya seperti bukan sajangnim."
"Tadi kami serombongan habis sarapan berpapasan dengan sajangnim, kami hanya menunduk karena biasanya Bos besar itu hanya melirik dari sudut matanya, mengangguk selama sedetik lalu pergi dengan acuh tak acuh."
Wanita itu menghembuskan napas takjub. "tapi tadi, astaga! Sajangnim bahkan berhenti, tersenyum ramah dan menanyakan kabar kita semua." Suaranya terpekik hampir histeris. "Dan senyumnya yang sangat jarangitu, bukannya menjawab semuanya malah terpesona dengan mulut menganga,ada yang mencoba menjawab tapi yang keluar hanya suara tercekik." Lanjutnyamenggebu-gebu.
"Sajangnim sangat tampan! Ohh, seandainya dia kekasihku." Wanita itu mulai mengkhayal.
"Krys... kau lupa? Sajangnim gay." Wanita itu menghembuskan napas. "Aku tau, Eonni. Yah, seandainya sajangnim 'lurus' aku yakin wanita di seluruh penjuru dunia pasti ingin mendapatkannya."
Tch, berlebihan. Tidak tahu kah bahwa bos kalian sangat bejat. Luhan beranjak berdiri ke kamar mandi, tak tahan mendengarkan pemujaan pemujaan terhadap laki-laki itu.
Tapi tetap saja dia ikut bertanya tanya, Luhan terpekur di depan pintu kamar mandi. Dia berpikir mengenai perubahan sikap Sehun dikantor, bosnya itu memang selalu memasang wajah dingin, ketus dan jarang bicara...tapi kenapa dia berubah ramah?
"Memikirkanku?"
Suara yang diucapkan dengan pelan dan lembut itu membuat Luhan membalikkan tubuhnya mendadak dengan terlonjak kaget dan hampir menabrak orang yang berdiri dibelakangnya.
Matanya langsung bertatapan dengan mata birunya yang tajam, obyek pikirannya.
"Kenapa sajangnim ada di sini? Di lorong menuju kamar mandi lantai 3 padahal anda punya kamar mandi sendiri di ruangan anda." Tanpa sadar Luhan mengucapkan pertanyaannya keras-keras.
Sehun tertawa. "Aku sedang menemui kepala personalia di lantai yang sama, tiba tiba ingin ke toilet, tidak bolehkah?" suaranya makin melembut, lalu matanya berubah tajam.
Dan Luhan mengenali tatapan itu, tatapan kalau-
"Damn! Aku sudah amat sangat merindukanmu!"
Dengan cepat Sehun meraih Luhan,lalu menciumnya, dengan gairah menggebu-gebu seolah-olah sudah lama tidak berciuman, padahal baru tadi pagi mereka-
Suara percakapan yang sayup-sayup mendekat membuat Luhan terperanjat,dengan secepat kilat didorongnya Sehun dan dia setengah berlari menjauhi toilet laki-laki.
Fuck! Tak sadarkah dia kalau menyergapnya seperti itu di toilet kantor benar-benar tindakan nekat? Jantungnya masih berdentam-dentam dengan kuatnya seakan ingin meloncat dari tempatnya.
Tapi, Luhan mengernyit, apakah jantungnya berdetak keras karena ketakutan...ataukah karena ciuman spontan yang tidak diduganya itu?
"Kau tampak senang." Suho menatap Sehun yang sedang memeriksa berkas kontrak kerja mereka dengan supplier baru.
Sehun mengalihkan tatapannya dari berkas di mejanya dan menatap Suho muram.
"Bukannya itu bagus? Tapi kenapa aku mendengar nada mencela dari suaramu?"
Suho mengangkat bahu. "Aku cuma tak ingin kau mabuk kepayang dan melakukan hal-hal yang akan kau sesali nanti."
Tatapan berubah tajam. "Aku? Mabuk kepayang? Apakah kau sedang bercanda?"
"Bukan begitu maksudku, tapi sepertinya kau agak berubah, kau tahu, agak tidak fokus, bahkan kata sekertarismu tadi pagi kau terlambat, pertama kalinya, katanya."
"Dan kau kira itu karna aku mabuk kepayang pada Luhan, begitu? Baik! Memang aku terlambat karena terlalu asyik bercinta dengan Luhan, lalu kenapa? Perusahaan ini sebagian besar milikku! Apakah seorang pemilik tidak diperbolehkan terlambat? Toh keterlambatanku tidak merugikan perusahaan ini!"
"Sehun!" Suho berusaha meredakan emosi Sehun. "Aku bukan ingin membuatmu marah, aku hanya mencemaskanmu."
Sejenak Sehun tidak berkata-kata, tatapannya menyala-nyala, matanya bagaikan api biru yang membakar. Tapi kemudian dia berhasil mengendalikan emosinya. Dihelanya napas keras-keras.
"Kau benar, maafkan aku hyung."
Sebelum Suho dapat menjawab, ponsel Sehun berdering, Sehun meliriknya dan dahinya berkerut melihat siapa yang menelponnya.
"Ada apa Tao?"
Mendengar nama Tao disebut, Suho langsung berdiri dan memberi isyarat berpamitan pada Sehun, Sehun mengangguk mempersilahkan dan Suho berjalan keluar ruangan.
Di seberang, suara Tao yang elegan terdengar mengalun.
"Aku bertanya-tanya, kenapa kau tak menghubungiku sayang? sabtu kemarin kau mendadak membatalkan acara makan malam kita, dan kemudian aku sama sekali tak bisa menemukanmu, apakah ada pekerjaan mendadak yang menyulitkanmu?"
Wajah Sehun berubah dingin, dia sama sekali tidak pernah menjalin komitmen dengan Tao. Mereka diperkenalkan pada suatu acara makan malam, setelah itu Tao menghubunginya, mengajak makan malam berdua karena ingin mengenal lebih dekat. Sehun tidak menolaknya.
Pertemuan mereka berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya, tetapi di saat awal Sehun sudah menegaskan kepada Tao bahwa hubungan yang mereka jalin adalah hubungan tanpa ikatan. Saat Tao mengundangnya ke tempat tidurnya pun Sehun sudah menegaskan itu dia lakukan tanpa ikatan dan tanpa cinta.
Tapi sekarang Tao sepertinya besar kepala karena Sehun saat itu tidak dekat dengan pria manapun selain dirinya, dalam otaknya dia mengira bahwa dirinya telah berhasil menaklukkan Sehun dan membuat lelaki itu setia padanya, Dia tidak tahu bahwa saat itu pikiran Sehun sedang terpaku untuk mendapatkan pria lain, Luhan.
Sekarang Sehun merasa muak dengan tingkah Tao yang bertindak seolah-olah mereka sepasang kekasih, yang harus selalu mengetahui kegiatan Sehun dan merasa berhak mengatur-atur Sehun.
"Sehun-ku? Kau masih disana?"
"Tao, maafkan aku sedang sibuk sekali."
Terdengar helaan napas dramatis di sana, sudah pasti pria manis ini tidak akan menyerah, dia terbiasa dikejar kejar dan dipuja, penolakan hanya membuatnya lebih gigih mengejar.
"Begini sayang, aku ada undangan pesta di rumah Kris, kau tau kan pelukis terkenal itu? Dia mengadakan pesta di pembukaan pameran lukisannya. Aku belum punya pasangan untuk datang ke sana, kau mau kan menemaniku?"
Sehun menghela napas keras. "Tao, sudah kubilang aku sibuk, aku tak bisa menemanimu ke pesta manapun, lebih baik kau ajak kekasihmu atau laki laki lain, pasti mereka dengan senang hati akan menemanimu."
"Tapi Sehun, aku mencintaimu dan aku ingin kamu."
"Aku bukan kekasihmu Tao, dan tak akan pernah, ingat itu. Jadi jangan meminta macam-macam dariku, Oke ?" Sehun langsung menyela dengan kesal.
"Oke, Oke !" Tao setengah menjerit, "kau sudah pernah mengatakan itu berulang kali padaku, tapi tidakkah kebersamaan kita selama ini-"
"Tao, aku sibuk. Maaf!" Sehun langsung menutup percakapan, menyudahinya karena dia yakin Tao tidak akan menyerah dengan segera.
Luhan baru saja membuka pintu apartemen ketika teleponnya berdering, dia segera mengangkatnya dan langsung terdengar suara Sehun diseberang sana.
"Kau suka masakan Cina?"
"Hah?" Luhan terperangah mendengar sapaan pertama Sehun yang tanpa basa-basi, baru ketika Sehun mengulang pertanyaannya dia mengerti, dan tanpa sadar mengangguk.
"Luhan? Kau berasal dari Cina kan? Pasti kau suka masakan Cina kan?"
Mendengar pertanyaan Sehun Luhan baru sadar kalau dari tadi dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Eh...iya...iya.."
"Oke, kalau begitu jangan memasak malam ini, kubawakan dua porsi untuk kita."
Telepon ditutup. Meninggalkan Luhan yang yang masih terperangah. Satu jam kemudian, ketika Luhan menyeduh kopi, Sehun datang, langsung ke dapur, masih mengenakan jas resminya, tapi dengan dasi yang sudah dikendorkan. Dia meletakkan Kantong kertas berisi makanan yang masih panas, berlogokan nama hotel bintang lima.
"Tadi ada undangan pertemuan dengan kilen di sana, aku hanya minum kopi, tapi aku lalu ingat kalau masakan cina di hotel ini terkenal enaknya, dan aku ingat kamu." Sehun mengedipkan sebelah matanya, "Siapkan ya, aku mandi dulu."
Dengan langkah anggun Sehun membalikkan badan menuju kamar. Luhan mengatur masakan berbau harum itu pada piring saji, sambil mengatur poci kopi di nampan untuk Sehun, untuk dirinya dia menyeduh secangkir teh.
Sehun muncul di dapur setengah jam kemudian, dengan piyama sutra hitam, lalu duduk di kursi di meja dapur.
"Aku lapar sekali, tadi jalanan macet."
Luhan duduk di hadapan Sehun, memperhatikan lelaki itu mulai menyantap hidangannya dengan penuh minat.
"Tadi, di pertemuan tidak ada makan malam?" setahu Luhan pertemuan bisnis di hotel seperti itu selalu disertai dengan jamuan makan malam.
"Ada, tapi aku menolaknya, hanya minum kopi tadi." Sehun menatap Luhan dengan tiba-tiba hingga Luhan kaget. "Kenapa tidak kamu makan? Ini enak."
Dengan gugup Luhan menyantap makanannya, memang enak sekali, guman Luhan pada suapan pertama, Tanpa sadar dia makan dengan lahap, dan baru berhenti ketika menyadari Sehun menatapnya geli, pipinya langsung bersemu merah.
Sehun langsung terkekeh geli.
Luhan baru mengetahui kepribadian Sehun yang seperti ini, santai dan penuh tawa, berbeda sekali dengan apa yang ditampilkannya di kantor.
Selesai makan seperti biasa Sehun minta ditemani saat mengerjakan tugas kantornya, lelaki itu tampak serius mengahadapi notebooknya, sambil sesekali menyesap kopi, sementara Luhan menyibukkan diri dengan menonton TV.
Benaknya berkecamuk, apakah Sehun akan bercinta dengannya lagi? Bodoh! Tentu saja, kalau bukan untuk itu buat apa lelaki itu menginap disini?
"Luhan kau bisa memasak sup jagung?" Suara celetukan Sehun hampir membuat Luhan terlonjak karena kaget. Luhan menatap ke arah Sehun, lelaki itu sudah bersandar di sofa, dengan santai menyesap kopinya sambil menatap televisi. Notebooknya sudah tertutup dan berkas-berkasnya sudah tersusun rapi, Astaga...berapa lama tadi dia melamun? Sudah berapa lama Sehun menyelesaikan pekerjaannya?
"Bisa, aku pernah membuatnya meskipun tidak begitu enak."
Sehun tersenyum. "Aku jadi ingat saat aku sakit waktu kecil dulu, ibuku selalu membuatkanku sup jagung, tidak ada yang mengalahkan rasa sup buatannya."
Luhan ikut tersenyum mengenang. "Ibu dulu membuatkanku bubur ayam. Rasanya tidak enak hingga aku selalu ingin memuntahkannya."
Sehun tertawa geli mendengarnya. "Aku belum pernah menemui pria sepertimu sebelumnya." gumamnya dalam tawa.
Luhan menoleh pada Sehun dengan bingung. "Sepertiku?"
"Polos, jujur dan tidak berusaha memanipulasiku." senyum Sehun berubah sensual. "Dan masih bisa tersipu sampai memerah di sekujur kulitnya, padahal sudah berkali-kali kusentuh."
Kali ini Luhan hampir tersedak tehnya, dengan cepat diletakkannya cangkirnya dan ditatapnya Sehun dengan waspada. Lelaki itu juga sedang menyesap kopinya, tapi mata birunya yang tajam itu menatap serius pada Luhan.
"Kau seperti rusa yang terjebak ketakutan." gumam Sehun sambil menyipitkan matanya. "Apakah cara bercintaku menyakitimu?"
Pipi Luhan langsung memerah mendengar pertanyaan Sehun yang blak-blakan itu.
"Ti-tidak, bukan begitu saya hanya belum terbiasa."
Luhan menelan ludah ketika Sehun beranjak dari sofanya dan berdiri di depan Luhan, lalu menarik Luhan berdiri dan langsung mencium bibirnya dengan lembut.
"Kalau begitu, tidak ada yang bisa kulakukan selain membuatmu terbiasa bukan?" suara Sehun berubah serak, lalu dengan cepat mengangkat Luhan dan membawanya ke kamar.
Jam dua pagi, ketika Sehun terbangun dan menyadari ada tubuh hangat dalam pelukannya. Luhan berbaring meringkuk di dadanya, tubuhnya begitu mungil hingga Sehun merasa bisa meremukkannya dalam sekejap kalau dia mau.
Damn! Kadangkala karena Luhan begitu mungilnya jika dibandingkan dengan tubuhnya yang tinggi besar, Sehun seperti merasa sedang melakukan pelecehan seksual pada anak di bawah umur.
Tanpa sadar tangan Sehun mengelus punggung polos Luhan, dan dalam tidurnya, Luhan bergumam tidak jelas, lalu meringkuk makin rapat ke dada Sehun.
Tidak! Mungkin ukuran tubuhnya seperti anak-anak, tapi tubuhnya benar-benar tubuh orang dewasa. Sehun tidak pernah merasa begitu bergairah sekaligus begitu terpuaskan selain dengan Luhan. Tubuh mungil itu telah memberikan kepuasan yang sangat dalam bagi Sehun.
"Aku mungkin tak akan pernah melepaskanmu." guman Sehun di kegelapan. "Kau milikku Luhan."
Seolah mendengar ancaman Sehun di alam bawah sadarnya, alis Luhan berkerut dan menggumam tak jelas.
Sehun tertawa geli melihatnya, lalu dikecupnya dahi Luhan dengan lembut. Anak kecil ini benar-benar tidak terduga, tidak disangka dia akan menyerah di pelukan pria seperti ini.
"Jong...inie."
Sehun langsung menoleh secepat kilat ke arah Luhan, Apa? Tadi pria itu bilang apa?!
"Jonginie."
kali ini gumaman Luhan terdengar lebih jelas. Bahkan Sehun melihat ada air mata di sudut matanya.
Rahang Sehun menegang karena marah, siapa lelaki yang disebut Luhan itu? Kenapa dia tidak pernah mendengarnya? Dia sudah menyelidiki Luhan bukan? Selama ini Luhan tidak pernah dekat dengan lelaki manapun.
Dengan gusar Sehun menghapus air mata di sudut mata Luhan, lalu mengguncang tubuh Luhan pelan. Dan mata lebar yang polos itu terbuka menatap Sehun dengan bingung karena dibangunkan tiba-tiba.
"Berani-beraninya kau!" desis Sehun dengan tatapan membara. "Berani-beraninya kau menyebut nama lelaki lain dan menangis untuknya di atas ranjangku!"
Luhan benar-benar tidak siap ketika Sehun menyerangnya dengan cumbuan yang sangat hangat dan menggelora. Kali ini Sehun berbeda dengan biasanya, dia seperti...seperti membara, seolah olah tidak ditahan-tahan lagi, ada apa? Ada apa sebenarnya?
Tapi Luhan sudah tidak dapat berpikir lagi karena Sehun sudah menenggelamkan kesadarannya dengan cumbuan dan belaian jemarinya yang sangat ahli. Sungguh nikmat...dan Luhan ahkirnya menyerah dalam pelukan Sehun.
Chapter 5 selesai! Mungkin ini chapter paling pendek diantara yang lain hehe. Sekedar pemberitahuan aja, kalau disini itu NC-nya ga kasar, dalam artian ga pake kata-kata kasar. Jujur aja aku lebih sreg/? Kalo NC yang ga pake bahasa kasar aku lebih suka bahasa halus hehe.
Terima kasih sudah membaca, review, favorite, maupun follow.
.
.
Salam kasih dan cinta ayurigil
