"kok nggak di angkat?" tanya Suci yang heran karena Devi tidak mengangkat teleponnya.

"telepon Maya juga belum aktif, mungkin ada urusan jadi tidak bisa di angkat" kata Gackt.

"aku harus memberitahu ini dengan segera.. ayo ke sana" kata Suci yang langsung berjalan keluar dan Gackt mengambi seluruh perlengkapan keluar rumah Suci seperti coat dan sebagainya. Lalu mereka langsung berangkat ke kediaman Rosenkrantz dengan kereta kuda mereka.

"aku tidak menyangka... selama ini kita tidak tahu kalau ada sekutu iblis yang selama ini sangat dekat dengan kita" kata Suci membicarakan tentang seseorang yang baru saja di kabarkan bersekutu dengan iblis dari kantor pusat.

"benar. Pdahal dia salah satu investor terbesar di perusahaanmu" kata Dulas yang duduk di sebelah Gackt.

"!? Dari mana kau masuk!?" tanya Suci yang kaget dengan munculnya Dulas yang tiba-tiba

"tadi saat kau pergi, aju nyelonong masuk ke sini! Karena kupikir kau akan ke tempat Devi!" kata Dulas dengan wajah ceria.

"... benar?" tanya Suci pada Gackt

"benar Nona, sekarang Luca sedang duduk di kursi depan sana bersama pak pengemudi." Jawab Gackt

"kenapa kau tidak bilang!?" teriak Suci pada Gackt

"saya sudah beri tahu, tapi sepertinya nona terlalu memikirkan masalah ini jadi tidak dengar" kata Gackt dengan santai

"sudahlah.. ngomong-ngomong Dulax"

"Dulas"

"apapun itu bagaimana kau tahu tentang orang itu?"

"aku sudah tahu dari Maya, lalu tak lama setelah itu ratu memberi tahu kepada ku. Dan ia berpesan untuk langsung ke tempat Devi."

"kenapa kau harus ke sana?"

"karena dialah yang paling tidak boleh tahu siapa orang itu"

"memang kenapa?"

"ceritanya panjang"

"sudah! Ceritakan saja! Apa yang terjadi antara si kurus itu dengan dia!"

"hah... begini.. kau tahukan dia itu ada hubungan darah dengan Devi?"

"uh-huh.. jadi?"

"dia juga merupakan sepupu sekaligus teman semasa kecil Devi, dan dia juga adalah cinta pertama Devi - N.B : sorry lax, saya sengaja bikin dia jadi cinta pertama si Devi biar seru aja. No offense- karena dari dulu Devi itu suka menyendiri dan muram, Cuma dialah saatu-satunya teman Devi pada saat itu."

"wow... jadi? Devi masih ada perasaan dengannya?"

"tidak. Tapi dia meninggalkan luka kekecewaan, kesedihan,kehilangan dan kesendirian yang besar, beberapa tahun yang lalu secara drastis dia berubah total menjadi orang lain yang sama sekali tidak di kenal Devi. Senyumnya yang selalu membuat Devi tenang musnah menjadi senyuman yang mengerikan dan selalu membuat Devi takut, sifatnya yang baik menjadi penyiksa tanpa hati. Dia yang selalu berbuat jujur, melakukan apa saja untuk menang, pokoknya 180 derajat berbeda!"

"dan sampai tadi tidak ada yang tahu kenapa dia seperti itu?"

"benar sekali. Maya yang merasa Devi mengalami sesuatu di mansion tempat kalian mengerjakan misi sebelumnya, meminta tolong pada Aiji yang menurutnya sangat tepat untuk menyelidiki masalah ini tadi"

"kok kau tahu sebanyak itu?"

"Maya selalu memberitahu aku tentang hal seperti ini"

"ternyata si bodoh itu perhatian juga sama majikannya" kata Gackt

"tapi aku tidak menyangka akan secepat ini berita itu berkembang, kakek umur 300 tahun memang tidak bisa di remehkan!" sambung Suci

"tuan, sudah sampai" kata Luca yang membuka kan pintu kereta kuda untuk mereka semua.

"ah.. terima kasih" kata Dulas dan mereka semua masuk ke dalam manorrr House milik Devi

"ng? Tidak ada orang?" tanya Dulas saat memasuki rumah itu.

"cungkringgggggggggg!" teriak Suci langsung tanpa pikir panjang.

"loh?" muncul Aiji tiba-tiba

"kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" teriak Dulas yang kaget

"ah.. maaf... kami tidak menyambut anda dengan benar.. ada masalah" kata Aiji yang membungkuk sedikit sebagai permintaan maaf

"apa itu?" tanya Dulas

"itu... nona Devi tidak dapat kami temukan, sejak sekitar 30 jam yang lalu kami tidak melihatnya" jawab Aiji

"sudah periksa seluruh rumah?" tanya Suci yang mukanya mulai panik, begitu pula dengan Dulas.

"sudah.. tapi tetap tidak ketemu" jawab Aiji

"kami akan bantu cari ulang.. ayo berpencar!" kata Dulas

"saya sangat berterima kasih" kata Aiji

"tempat menyudut nona sangat tidak menentu, yang penting sangat sunyi dan tidak ada seorang pun yang bisa menemukannya" kata Maya yang baru saja datang secara tiba-tiba juga.

"gyaaa! Kalian! Berhenti datang tiba-tiba!" teriak Dulas yang kaget lagi

"ah.. maaf kan saya" kata Maya dengan muka sedikit kecewa

"tempat yang paling berkenan buatnya?" tanya Suci dan Maya menyadari sesuatu.

"ada! Pohon tua di ujung halaman belakang!" kata Maya

"aku ke sana, kalian cari ke tempat lain, jika aku menemukannya aku akan memberi tahu kalian" kata Suci dan semuanya mengangguk. Lalu berpencar ke berbagai penjuru rumah itu. dan ia menuju halaman belakang rumah itu. memang halamannya sangat luas butuh tenaga dan waktu yang ekstra untuk sampai ke sana. Tak lama setelah Suci berlari menyusuri halaman yang super besar itu ia menemukan sebuah pohon besar yang sangat rindang. Itu pohonnya. Pikirnya dalam hati dan berlari ke arah pohon itu, lalu melihat Devi sedang duduk termenung di balik pohon tersebut.

"hei" sapa Suci pada Devi, karena Devi tidak menyadari kehadiran Suci dia sontak kaget

"ah! Suci.. bagaimana kau bisa sampai sini!?" tanya Devi pada Suci

"Dulas dan yang lain sangat mengkhawatirkanmu..." kata Suci yang ikut duduk di samping Devi lalu mengeluarkan handphone nya.

"ah.. Gackt? Beritahu yang lain kalau Devi sudah ku temukan.. dan kami akan kembali sebentar lagi. Jangan bolehkan siapapun itu termasuk Dulas ke sini ya." Kata Suci pada Gackt dan ia menyimpan kembali handphone nya

"ada apa?" tanya Suci pada Devi

"maksud mu?"

"kenapa kau bersembunyi di sini?"

"you know what"

"hahaha... jadi... apa yang akan kau lakukan?"

"entahlah.. kalau kau ada di posisi ku?"

"ng... mengembalikannya..?"

"kalau dia tidak mau?"

"sadarkan dia?"

"itu sama saja"

"aku paksa dia"

"meskipun itu mengancam nyawamu?"

"lebih baik mati dari pada menyesal seumur hidup" kata Suci pada Devi, dan Devi hanya melihatnya dengan pandangan yang terkejut. Lalu menundukkan wajahnya sambil memainkan rumput yang ada di tanah tersebut

"kau berani ya.. aku iri" kata Devi

"tidak.. bisa di ibaratkan.. aku ini seperti ranting. Dalam satu hentakan aku akan patah"

"menurutku tidak... kau sudah menjadi seorang earl dari keluarga hebat. Memimpin sebuah perusahaan hingga seperti sekarang hingga sesukses ini. Kau juga mendapat posisi yang hebat di Gaea, tanpa ragu kau memutuskan sesuatu, dan tidak pernah menyesalinya" kata, mendengar itu Suci tersenyum lembut dan tidur di hamparan rumput di bawah pohon itu.

"haha... aku tersanjung..." kata Suci yang memegang sebuah ranting

"lihat..." sambungnya menyuruh Devi melihat ranting yang di pegangnya, dan Devi melihat ranting tersebut, Suci mematahkan ranting tersebut hingga terbelah dua, tapi gagal karena ranting tersebut masih tersambung di bagian kulit yang lainnya.

"aku bilang aku seperti ranting kan? Yang patah dalam satu hentakan bisa patah dengan mudah.. tapi.. walaupun aku patah, harapanku masih belum hilang selama aku memiliki dendam yang aku pendam ini.. kulit yang masih tersambung ini.. adalah dendam yang aku simpan.. seberapa kuat orang lain memutuskan kulit ini, aku akan menyambungnya dengan dendam yang baru.. dan ranting ini akan seperti semula lagi.. dan akan seperti itu seterusnya hingga tujuan utamaku tercapai"

"dendam yang kau maksud..."

"untuk orang yang ingin balas dendam seperti ku.. kata itu merupakan kata yang sangat tepat untukku.. tapi dalam arti kehilangan seperti mu.. Dendam yang ku maksud adalah kepercayaan kalau dia masih bisa kembali dan kau bisa mengembalikannya"

"oh..."

"masih belum mengerti? aku rasa pembaca juga tidak.. bodoh sekali ya kalian.."

"bukan begittuuuu!"

"jadi?"

"aku hanya berpikir.."

"hei.. kau punya si cat tembok dan teman-teman mu untuk membantu mu"

"teman-teman ku? Siapa?"

"jadi kau anggap kami semua ini apa? Alien?"

"bu-bukan begitu.. hanya saja.."

"kau ini... untuk apa aku memilihmu kalau tidak menjalin hubungan yang baik?"

"maaf..."

"bukan minta maaf.. kau ini beneran bodoh ya"

"apa!?"

"ahaha. Tenang saja.. misi selanjutnya sepertinya tentang dia juga.. jadi kau cukup mempersiapkan diri saja"

"hm.. aku rasa akan begitu"

"tentu saja.. si nenek peyot itu kan orang yang sangat tega.. bisa saja kau di masukkan ke dalam misi ini"

"haha..."

"di sini... nyaman ya"

"ya... di sini adalah tempat di mana aku dan pendi menghabiskan waktu saat kami kecil"

"hooo... memang tempat yang bagus untuk anak-anak"

"yah.. setelah dia pergi aku juga sering ke sini, menangis sendirian"

"lalu si cat tembok?"

"dia datang saat aku menangis sendiri juga di sini.. dengan santai dia menarik tanganku keluar dari bayangan pohon ini dan berhadapan dengan Maya yang saat itu masih aku takuti"

"hahaha... dasar cat.. memang sifatnya begitu ya.. eh, ngomong-ngomong masa; kau takut pada iblis yang terpanggil oleh kau?"

"yah.. waktu itu aku belum bisa berkomunikasi dengan siapapun, jadi aku takut. Apalagi yang gak beres seperti itu"

"ahahahaa! Ah! Sudahlah! Sekarang kau merasa baikan kan?" tanya Suci pada Devi dan ia hanya mengangguk.

"oke... *ngutak-atik hape* ah.. Gackt, jeput kami di sini ya.. aku males jalan,.. jauh amat" kata Suci. lalu tiba-tiba Gackt muncul bersama Maya dari kejauhan, dan di belakang mereka ada Luca dan Dulas.

"no-" "DEVIIIIII!" teriak Dulas yang memotong perkataan Maya. Ia berlari menuju kearah Devi dan memeluknya hingga mereka berdua jatuh

"gyaaaa! Dulas! Apaan sih!?" tanya Devi yang mengusap-usap kepalanya yang terjedud.

"ha-habis aku khawatir sih.. aku pikir kau di goda si kecil ini untuk melakukan sesuatu yang aneh..." kata Dulas dengan air mata yang bercucuran

"dasar cat... lu kira aku ini apa?" tanya Suci yang sedikit jengkel. Dan setelah itu mereka semua masuk ke rumah Devi.

"hey, handphone yang aku kirim sudah kau terima?" tanya Gackt pada Maya yang saat itu sedang berada di dapur menyiapkan makan malam untuk tuan mereka

"apa tuh?" tanya Maya bingung

"eh? Nona Devi belum menyerahkannya pada mu?" tanya Gackt makin bingung

"oh, kotak yang kalian kirim itu? belum ada aku buka sama sekali" kata Maya.

"nanti aku tanya sama Nona" sambungnya.

"oke! Nanti aku hubungi lagi!" kata Aiji yang sepertinya mengobrol dengan seseorang.

"loh? Aiji ? ngomong sama siapa?" tanya Luca

"sama malaikat pencabut nyawa yang bisa keluar masuk jahannam Hell, aku minta tolong pada dia untuk memberitahukan pemimpin kalau aku sedang keluar neraka" kata Aiji melanjutkan pekerejaannya.

"eh?"

"Aiji itu salah satu orang penting.. jadi dia harus melaporkan kalau dia sedang keluar agar orang lain dapat menggantikan pekerjaannya sementara" kata Maya

"eh!? Jadi kau beneran si Aiji yang itu!?" tanya Gackt tiba-tiba

"yang itu apa?" tanya Aiji bingung

"itu lho! Bos dari para ninja!"

"jangan bilang bos, aku Cuma ketua batalion kok" jawab Aiji dengan enteng

"kan benar!" teriak Gackt lagi.

"a-aku tidak menyangka.. ketua batalion semuda ini" kata Luca yang lumayan kaget

"iya.. biasanya ketua batalion itu harus di atas 700 tahun" sambung Gackt

"ahahaha... itu karena si Aiji ini makhluk super langka, jadi nya dia di pilih jadi pemimpin batalion" kata Maya.

"ahaha.. aku tersanjung jadi nya..." kata Aiji kucing malu-malu.

"jadi, kau tidak kembali ke jahannam hell? Kan buka pintunya gampang" kata Gackt

"memang kau bisa buka?" tanya Luca penasaran

"bisa, beberapa kali aku pulang buat ngambil barang" kata Gackt santai dan semuanya swt,

"hei Gackt, kau tahu..." kata Aiji

"nggak, aku nggak tau" kata Gackt

"makanya mau ku kasih tahu! Yang bisa membuka pintu itu ke neraka hanya beberapa orang loh" kata Aiji

"benar.. Rukan saja yang tipe magick tidak bisa membukanya.." kata Luca

"wah! Berarti aku ini hebat!" kata Gackt dengan pose pe-de nya.

"ahaha... sudah sudah.. ayo kita antar makanannya" kata Maya dan semua orang yang ada di situ membeku.

"Maya adikku! Ada apa dengan mu!?" tanya Aiji yang panik

"huh?"

"kotak obat! Kotak obat!" teriak Gackt yang berlari sana sini buat nyari kotak obat

"ukur dulu suhunya!" teriak Luca

"ambulaannsss!" teriak Aiji

"apa sih?" tanya Maya yang bingung melihat reaksi teman-teman dan kakaknya itu

"kau sakit ya?!" tanya Aiji

"nggak"

"jadi kok ngomong yang berguna kayak tadi!?"

"memang salah kalau aku ngomong yang berguna!?"

-beberapa hari kemudian-

'tring' terdengar nada pesan masuk dari hape Devi.

"ng? E mail? Dari Fiqri.. ada apa ya?" gumam Devi

'tangkap Barret yang kabur ke pinggiran Vrot' begitu isi pesan yang di terima Devi.

"apaan nih?" tanya Devi yang bingung melihat e mail Fiqri yang terlalu singkat dan to the point.

"kota Vrot kan masih dalam penyerangan" kata Maya yang kebetulan juga di situ

"hm? Masih?" tanya Devi

"ya.. aku lihat koran pagi hari ini.. katanya penyerangannya makin parah, tuan Jowy jadi harus turun tangan lagi" jawab Maya.

"begitu" gumam Devi sambil mengutak-atik hapenya.

"Maya, Aiji.. kita pergi sekarang" kata Devi dan Maya langsung mempersiapkan gitar dan twin sabernya.

"eh? Bukannya Nona harus berganti baju dulu? Maya yang merupakan butler kan harus memilih baju dan menyuruh para maid mengerjakannya" kata Aiji bingung

"ah! Aku lupa! Hey~ Maria~ kemari sebentar~" Maya berlari ke ruangan pakaian sambil memanggil salah satu maid andalannya.

"dasar" gerutu Devi yang berjalan menuju ruang ganti. Sedangkan Aiji hanya men-tunning gitarnya sambil menunggu mereka selesai.

-di workhouse Fiqri-

"lama sekali!" kata Nan pada Devi saat mereka baru saja turun dari kereta kuda.

"tadi Maya lupa di mana dia menaruh sepatu ku, jadi kami harus mencarinya lagi" kata Devi santai.

"ahahaha... tadi itu heboh sekali ya" kata Maya dengan ceria.

"salah siapa coba!?" teriak Devi dan Aiji bersamaan.

"sudah. Ayo cepat berangkat. Keburu dia pergi" kata Jowy yang keluar dengan seragam jendralnya yang berwarna hijau tua, di hiasi dengan berbagai pin penghargaan di bagian dada dan juga baret bintang lima di kedua bahunya. Dia juga memakai topi yang seperti punya polisi dengan simbol Ar Heartless dan juga jubah kerah bulu berwarna putih.

"wahhhh..." yang lain kecuali Suci dan Gackt yang sudah biasa lihat kagum melihat Jowy berpakaian seperti itu.

"apa sih? Bikin merinding aja" kata Jowy yang mereasa sedikit terganggu.

"keren kan dia!? Kayak om-om jendral yang sok cool tapi sebenarnya serigala kesepian!" kata Dulas dengan semangat

"benar! Biasanya dia itu seperti perempuan!" kata Devi yang menyetujui perkataan Dulas.

"hentikan itu dan ayo cepat berangkat!" kata Jowy yang sudah jengkel. Dan mereka semua pun berangkat menuju kota Vrot. Setelah beberapa jam akhirnya mereka tiba di pangkalan pasukan pinggiran kota Vrot.

"ah! Jendral! Selamat datang!" kata seorang mayor ynag menyambut Jowy

"ah. Terima Kasih, bagaimana keadaannya?" tanya Jowy to the point.

"saya akan beri tahu di ruang pertemuan"

"baiklah.. ayo semua" kata Jowy

"oh? Mereka?"

"jangan beri tahu kalau kau tidak tahu sama sekaliiiii" kata Jowy dengan nada mengancam.

"e-eh!?" mayor yang sama sekali tidak mengerti maksud Jowy hanya bisa menatapnya dengan heran sambil ketakutan

"kemarin kan aku sudah bilang! Pasukan khusus Gaea yang mengurus soal Barret akan datang hari ini!" teriak nya pada mayor tersebut

"ma-maafkan saya! Saya sama sekali lupa dengan hal itu!" kata Mayor tersebut sambil menundukkan badan sedalam-dalam nya sebagai permintaan maaf. Dan Jowy hanya menghela napas panjang

-di ruang meeting-

"jumlah iblis dan kekuatan mereka semakin meningkat, pasukan kita tidak mungkin bisa menandingi mereka jika terus seperti ini" kata mayor tersebut.

"apa ini!? Lebih dari seratus prajurit luka parah dan mati!? Kau bercanda!?" Jowy kembali mengamuk melihat printout data tentang peperangan yang terjadi di sana.

"padahal waktu kita kemari korbannya kurang dari 50, itu pun hanya luka-luka" kata Dulas.

"itu.. kami tidak dapat melakukan apa-apa mengenai hal itu" kata mayor

"pasukan yang berjaga di barisan paling depan mengatakan kalau ada sektar 1 atau 2 orang yang menyerang mereka dengan serangan mematikan" sambung mayor tersebut.

"siapa itu?" tanya Devi langsung

"kami tidak tahu.. wajahnya tidak kelihatan, tapi kami tahu kalau dia adalah laki-laki. Karena bentuk tubuhnya"

"apakah laki-laki tersebut membunuh pasukan mu dengan menggunakan sebelah pisau?" tanya Aiji

"be-benar sekali! Bagaimana anda tahu!?"

"tidak di ragukan lagi, dia adalah Pendi Barret." Kata Devi

"eh!? Ke-kenapa bangsawan hebat seperti tuan Barret"

"entahlah.. tapi kami menerima informasi dari footman nya Devi kalau Pendi bekerja sama dengan para iblis, barang buktinya adalah sebilah pedang yang berasal dari tempat para iblis" kata Fiqri yang ikut ke dalam misi kali ini.

"jadi, kita hanya harus ke tempat barisan paling depan dan menemukan di mana mereka sembunyi?" tanya Younita

"ya... tapi kita tidak akan menyerang mereka dengan langsung" jawab Jowy

"jadi?"

"aku pernaha menyelidiki tentang tempat ini bersama Valand dan kami menemukan jalan bawah tanah yang sepertinya di gunakan oleh orang zaman dulu"

"biar kutebak, kita akan lewat sana?"

"uh-huh"

"melewati jalan gelap yang penuh dengan kalilawar,tetesan air,lumpur dan sebagainya?"

"tidak ada lumpur, hanya batuan yang basah saja, dan lumut"

"tidaaakkk! Padahal aku baru saja memakai sepatu baru!"

"makanya kalau mau tugas gini bawa baju sederhana, jadi gampang" kata Suci pada Younita

"tidak perlu khawatir, saya sudah menyiapkan hal ini" kata David dan muka Younita langsung berbinar-binar.

"baiklah. Kalian pasti sudah capek dalam perjalanan, jadi ayo makan dan istirahat, besok pagi kita akan berangkat" kata Jowy "ah, mayor.. karena kau lupa akan hal ini.. jadi kau harus menyiapkan jamuan buat mereka semua. Sekarang juga!" sambung Jowy. "eeh!? Tapi kan!"

"no tapi! Semuanya, ayo kemari.." kata Jowy kepada yang lain dan meninggalkan sang Mayor begitu saja.

"kau bawa penutup kuping?" tanya Dulas yang satu kamar dengan Fiqri.

"tidak, kenapa?" tanya Fiqri

"di sini sangat ribut, jadi kalau mau tidur harus menggunakan penutup telinga, apalagi kalau ada Jowy, jam 3 pagi sudah ribut-ribut bersama prajuritnya" kata Dulas yang mengingat betapa tersiksanya dirinya karena tidak bisa tidur waktu pertama kali ke sini.

"wow.. mesti nyumpel telinga dengan sesuatu deh nanti, ngomong-ngomong Jowy mana?" tanya Fiqri lagi.

"dia akan tidur sekitar jam 1 malam dan bangun tepat jam 3 pagi. Kalau di sini, tapi kalau di rumah dia akan tidur layaknya orang normal" jawab Dulas yang sedang berganti pakaian yang lebih casual.

"kok lama amat gitu?"

"yang namanya pemimpin pasti selalu sibuk, aku dengar dari Valand kalau kadang Suci datang membantu nya."

"heee... kenapa?"

"entahlah, katanya Suci tidak tahan Jowy terlalu memaksakan dirinya untuk bekerja" jawab Dulas, lalu Jweirk masuk bersama Luca

"tuan, makanan sudah selesai" kata Jweirk dan mereka semua langsung keruang makan. Di sana yang lain sudah menunggu.

"hoooo... kelihatannya lezat" kata Dulas yang langsung duduk di kursi.

"maaf seadanya" kata Valand

"tidak apa-apa kok.. begini saja sudah cukup" kata Maya dan yang lain melototinya dengan pandangan membunuh. Setelah makan dan berbincang dengan santai akhirnya mereka memutuskan untuk tidur.

-esoknya-

"semuanya! Bangunnn!" teriak Jowy yang menggedor kamar mereka satu-persatu.

"ng... apa sih? Masih jam 5" kata Younita yang baru bangun. Sedangkan Devi masih menggeliat di balik selimutnya.

"katanya kita akan berangkat sekarang juga" kata Nan yang sudah siap-siap.

"eh!? Kenapa tidak bilang!? Yee Sung!" You langsung bangkit ke kamar mandi dan Yee Sung datang membawa sebuah gaun malam pendek dengan lengan sebahu berwarna hitam serta sepatu boot hitam yang sederhana juga. Sedangkan Rukan membawakan sarapan untuk mereka.

"NONAAA! Ayo bangun!" teriak Aiji dan Maya tepat di ke dua telinga Devi.

"grr... apa sih!? Ganggu aja!" terkiak Devi melemparkan bantal dan guling ke arah mereka berdua

"udah pagi.. ntar di tinggal loh" kata Maya. Lalu Devi langsung teringat tentang misi mereka dan langsung lompat ke arah kamar mandi.

"nona Suci mana?" tanya Yee Sung yang teringat kalau Suci juga satu kamar dengan mereka.

"Jowy menariknya keluar diluan, mungkin sekarang dia sedang tidur di sofa karena tadi jam 3 dia sudah siap-siap dan sarapan" jawab Nan. Tak lama setelah itu mereka semua siap dan menuju ke dalam hutan untuk menemukan jalan menuju bawah tanah tersebut.

"loh gua?" tanya Nan yang sedang berdiri di depan sebua pintu gua yang dalamnya entah berisi apa.

"ya.. kalau kita menelurusi gua ini kita bisa terhubung ke dalam jalan bawah tanah" jawab Jowy

"gelap" kata Devi dengan mata berbinar, dia memang suka dengan yang namanya kegelapan dan suram.

"di sini tempat perbatasan, kemungkinan besar ada iblis di dalamnya" kata Suci dan mata Devi yang tadi berbinar menjadi suram.

"takut." Kata Younita yang dari tadi memegangi lengan Yee Sung dengan erat.

"sudah, masuk saja" kata Suci dan mereka semua masuk kedalam gua tersebut.

"kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" terdengar suara teriakan perempuan entah dari mana.

"!?"

Apa yang terjadi!? Teriakan apa itu!? di mana!? Batin Devi yang memperhatikan sekelilingnya dengan seksama.

-to be continued-