"Ne, Hibiya-kun. Apa kamu suka musim panas? Atau kamu benci musim panas?" Aku melihat Hibiya-kun yang agak tegang setelah pertanyaanku. Walaupun begitu, dengan wajah serius dia menjawab,

"Tidak. Aku benci musim panas."

"Hm... Bagaimana kalau musim dingin?" Aku bertanya sambil mulai menggerakkan kakiku, membuat ayunan yang kududuki mulai bergerak ke depan dan ke belakang. Hibiya-kun ada di sebelahku, sedang memikirkan jawaban untuk pertanyaan tadi.

"Tidak juga—Eh, kenapa kamu menanyakan hal ini? Bagaimana dengan kamu sendiri, [Name]?"

"Aku... tidak benci musim panas. Tapi aku tidak terlalu suka musim dingin." Aku berkata sambil melihat Hibiya-kun dan tersenyum, membuat wajahnya berubah sedikit merah.

"Jawabanmu membingungkan. Lagipula, apa perbedaan dari tidak suka dan benci? Sama saja kan?" Hibiya berkata sambil memalingkan kepalanya.

"Tentu saja itu berbeda! Dengarkan senseimu ini."

"S-Sensei?"

"Kamu bisa 'tidak suka' banyak hal; seperti sayuran, sekolah, pr, hari yang panas, dan masih banyak lagi. Tapi, kamu hanya bisa membenci satu hal." Aku berkata sambil melompat dari ayunan dan berdiri di depan Hibiya-kun. "Jadi, kamu tidak suka musim panas atau benci musim panas? Yang mana?"

Setelah penjelasanku, Hibiya-kun berwajah seperti orang yang sedang berpikir. Aku menunggu beberapa saat, dan akhirnya Hibiya-kun melihat ke arahku sambil berkata, "Tetap saja, aku benci musim panas."

Untuk sesaat, wajahku berubah sedih. Tapi aku kembali memasang senyuman di wajahku. Yah, Hibiya-kun memang sangat peduli dengan Hiyori-chan. Aku tidak bisa melakukan apa-apa tentang itu...

"[Name]?" Suara Hibiya-kun membuatku sadar dari pikiran.

"A-Ahaha, aku h-hanya sedang berpikir!" Aku berkata sambil tertawa gugup. Aku tidak mengatakan itu dengan keras, iya kan?

"Baiklah..."

Setelah itu, kami ada dalam keheningan; tidak ada seorang pun yang bicara. Secara tidak sengaja, aku melihat kucing hitam yang sedang berjalan dengan pelan. Aku berjalan mendekatinya, saat tiba-tiba kucing itu berlari pergi menjauh. Tentu saja, aku tidak bisa membiarkan kucing itu pergi dan ikut berlari, meninggalkan Hibiya-kun yang berwajah panik dan sedikit takut.

"[Name], tunggu dulu!" Aku menghiraukan panggilan Hibiya-kun dan tetap berlari. Kucing itu berlari ke arah jalan raya dan pergi sampai ke seberang jalan. Aku yang terlalu fokus dengan kucing itu, dan tidak sadar kalau lampu penyebrangan yang tadinya hijau berubah menjadi merah.

"[Name]!" Hibiya-kun berteriak dengan keras, dan aku terbelak saat melihat mobil yang melaju dengan cepat.

Aku menutup mataku, menunggu benturan dari mobil itu, tapi hal itu tidak pernah datang. Sebaliknya, aku merasakan tarikan kuat seseorang dan aku langsung membuka mata untuk melihat Hibiya-kun yang terlihat takut.

"H-Hibiya-kun?"

"Aku khawatir..." Hibiya-kun berkata sambil menghela nafas dan memelukku dengan erat, membuat wajahku berubah merah. Hibiya-kun melepaskan pelukannya dan melihatku dengan serius.

"Jangan melakukan itu lagi!" Teriaknya panik. Setelah itu Hibiya-kun menggumamkan sesuatu, tapi dalam nada yang kecil sehingga aku tidak bisa mendengarnya.

"Apa yang kamu katakan, Hibiya-kun?" Saat aku menanyakan ini, dia langsung berubah merah dan memalingkan kepalanya, membuatku tersenyum kecil. Ini salah satu alasan kenapa aku menyukai Hibiya-kun. Sisi pemalunya sangat manis, tapi dia juga orang yang baik dan peduli denganku.

"B-Bukan apa-apa! Lupakan saja!"

"Eeh? Ayo katakan!"

"Sudah kubilang lupakan!"

...Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang berharga bagiku terluka.