Arc I: MPLS


Chapter 6: A Princess of Japan Empire


~Opening Song: Blue Bird by Ikimono Gakari~

Naruto menatap datar layar monitor di depannya. Ia menggerutu dalam hati menyumpah serapah siapa saja yang mensetting layar laknat di atas sehingga namanya yang muncul duluan. Naruto menghela napas pelan, melihat hampir semua pasang mata yang meliriknya.

Ia sudah terkenal dan ia benci itu.

Asuma berdehem pelan. "Baiklah, semua murid dipersilahkan menuju tempat penonton kecuali dua nama yang tertera."

Satu per satu murid berhamburan menuju tangga untuk ke lantai dua dan menyaksikan pertandingan pertama. Sebelum Shikamaru pergi, ia terlebih dahulu memberikan bisikan pada Naruto.

"Hati-hati. Wanita itu bukan orang biasa."

Naruto melirik Shikamaru dengan malas. "Memangnya siapa dia?"

"Orang yang merepotkan."

"Ghhh! Kau juga sama merepotkannya."

"Hoamzz ya sudah. Selamat berjuang meskipun itu merepotkan."

Setelah ucapannya Shikamaru berjalan ke lantai dua dengan malas lalu bertumpu pada pagar dan memandang dua orang yang sedang berhadapan. Beberapa bisikan ia dengar tapi ia terlalu malas untuk menanggapinya.

Naruto saat ini tengah menatap intens seorang wanita cantik bak model majalah tidak jauh di depannya. Wanita yang memiliki rambut panjang berwarna abu-abu juga mata yang senada dengan rambutnya. Jika ia perhatikan lebih dalam, rasanya Naruto pernah melihat orang di depannya tapi entah di mana.

Asuma berdehem kembali setelah melihat kedua murid yang hendak bertarung itu. "Pertandingan pertama antara Namikaze Naruto melawan Ootsutsuki Kaguya … dimulai!" Asuma mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang.

Dua orang itu masih diam di tempat. Tidak ada yang bergerak. Masih saling mengobservasi, mencari celah untuk dimanfaatkan.

Sementara itu di tempat penonton, Le Fay dan Kuisha menatap Naruto dengan pandangan sulit diartikan. Mereka sesekali melirik Kaguya lalu kembali ke Naruto lagi dengan tatapan yang membuat mereka menghela napas. Seakan kecewa dengan takdir Naruto.


Vali Lucifer terkekeh pelan melihat layar besar yang memperlihatkan Naruto melawan Kaguya. Ia baru bisa berhenti beberapa saat kemudian lalu menyeringai lebar. "Sungguh lawan yang terburuk untukmu."

Perkataan itu entah ditujukan pada siapa, hanya Vali yang tahu.

Reaksi yang dikeluarkan The Ten Grace of God lainnya kurang lebih sama seperti Vali.


Ootsutsuki Kayuma menyipirkan mata lalu tersenyum tipis. "Kenapa kau hanya diam saja?"

Naruto membalas senyum tipis yang diberikan Kaguya. "Jawabannya ada pada dirimu sendiri."

Kaguya semakin memperlebar senyumannya. Orang yang bernama Namikaze Naruto ini bukanlah murid polos di dalam dunia pertarungan. Ia tahu Naruto sedang melakukan hal yang sama dengan dirinya, mengobservasi.

Sebenarnya Kaguya cukup terkejut karena lawannya adalah pemuda yang dulu menarik hampir seluruh perhatian saat di aula dulu. Ia juga sudah tahu pemuda itu karena saat di aula Kaguya duduk berdekatan dengan Naruto tapi sepertinya pemuda itu tidak memerhatikan dirinya.

Nah sekarang pertanyaan di benak Kaguya, seberapa menarikkah orang bernama Namikaze Naruto tersebut. Kaguya akan menguji cobanya di sini.

'Oii Naruto, kenapa kau diam saja? Cepat serang dan kalahkan dia!' Teriak Fenrir dalam kepala Naruto.

'Baka! Kau sudah tahu bukan aku trauma akan pertarungan? Aku tidak bisa sembarang menyerang.'

Ahh … Fenrir baru ingat hal itu. Ia tadi sempat lupa karena orang yang menjadi lawan Naruto membuatnya … tertarik. 'Aku lupa, ngahahaha.'

'Cih, jangan tertawa seperti itu, lebih baik bantu aku melawannya.'

'Hmm, ada satu cara untukmu menghilangkan trauma di pertarungan ini. Tapi aku tidak jamin itu akan berhasil.'

'Kenapa?'

'Karena hal yang akan kita lakukan adalah hal berbahaya. Terlebih kita belum pernah berlatih melakukannya.'

'Memangnya apa yang–'

'AWAS NARUTO!'

Naruto tersadar dan menatap ke atas di mana Kaguya yang sedang melesat menuju dirinya dengan tendangan kaki lurus. Dalam jarak sepersekian detik Naruto dapat menghindar dengan melompat ke belakang mengakibatkan tendangan Kaguya menghantam tanah dan ….

Duar!

Menciptakan ledakan besar yang menimbulkan kepulan asap tebal dan angin kencang, bahkan saking kencangnya penonton yang notabennya berada cukup jauh dari tengah lapang harus berpegangan pada pagar besi di depan.

'Kuat sekali.' Batin Naruto merasakan tubuhnya terseret beberapa puluh centi akibat hembusang angin yang ditimbulkan serangan Kaguya.

Kepulan debu perlahan menipis lalu memperlihatkan kawah cukup dalam hasil tendangan Kaguya. Hal itu membuat semua pasang mata membelalak sempurna. Gila tendangannya.

Saat mereka sadar dari keterkejutan. Mereka baru menyadari Kaguya tidak ada di tempat sebagaimana mestinya. Naruto yang juga menyadari hal itu memasang posisi siaga penuh sambil menahan perut yang mulai sakit akibat dari efek traumanya.

'Di mana dia?'

Krak!

Ada suara dari bawah! Naruto melihat ke bawah lalu dengan cepat melompat menghindari tangan yang keluar dari dalam tanah hendak mencengkram kakinya. Kaguya keluar dari dalam tanah lalu menghirup udara bebas hingga membuat kedua pipinya mengembung.

[Ice Element: Ice Breath]

Kaguya menyemburkan udara yang tadi ia hirup lalu membentuk Kristal es di udara dan lama kelamaan merambat membentuk es padat menuju Naruto.

Remaja pirang itu tersentak melihat elemen yang tidak biasa kemudian dengan refleks yang sudah terlatih ia membuat pedang emas dari ketiadaan.

[Golden Element: Ice Breaker Sword]

Naruto membuat pedang yang bilahnya lebih panjang dari ukuran normal. Hal ini untuk meningkatkan jangkauan serangnya. Naruto menghancrukan es padat yang merambat melalui udara. Es yang telah hancur kembali tercipta membuat Naruto harus bersusah payah menebaskan pedangnya beberapa kali di udara.

Naruto dapat bertahan dari serangan sampai akhirnya Kaguya kebahisan udara di dalam mulut dan itu menjadi akhir dari serangan tanpa ujung itu. Naruto mendarat dengan mulus lalu menjaga jarak. Keringat sudah mulai bercucuran tanda trauma Naruto semakin naik menuju permukaan.

Kaguya menatap Naruto dengan mata yang membulat cukup lama sampai wajahnya kembali ke mode anggun. "Aku terkejut kau menguasai elemen langkah [Golden Magic] terlebih penguasaan yang sudah sampai tahap sempurna."

"Hoo, terima kasih atas pujiannya. Kau juga memiliki elemen lanjutan [Ice Magic] yang sudah sempurna." Naruto balas memuji perempuan cantik yang menjadi lawannya.

Bagaimana pun Naruto tidak bisa untuk tak terkejut melihat pengguna elemen tingkat lanjut yang penguasaannya sudah masuk tahap sempurna–tanpa mantra dan lingkaran sihir. Ia sudah hafal jenis-jenis sihir di dunia ini berikut dengan cara kerjanya.

Ada beberapa jenis magic di dunia ini, rata-rata orang memiliki satu bakat pada magic tertentu tapi tidak menutup kemungkinan orang itu akan bisa menguasai beberapa jenis magic tapi tidak sampai pada tahap tinggi.

Seluruh magic yang ada di dunia dikategorikan dalam beberapa tipe di antaranya:

1. [Element Magic], setiap orang di dunia memiliki setidaknya satu jenis dari [Element Magic] yaitu antara [Fire Magic], [Water Magic], [Wind Magic], [Lightning Magic], dan [Earth Magic]. Ada juga elemen yang termasuk ke dalam jenis special yaitu [Light Magic], sihir berbasis cahaya yang banyak digunakan untuk sihir penyembuh, dan [Dark Magic], sihir berbasis kegelapan yang bertolak belakang dengan sihir cahaya. Jika sihir cahaya untuk menyembuhkan maka [Dark Magic] untuk merusak seperti membuat racun atau sesuatu lainnya.

[Element Magic] yang termasuk ke dalam tingkatan selanjutnya adalah [Ice Magic], [Lava Magic], [Crystal Magic], [Wood Magic], dan lain sebagainya. Selanjutnya adalah jenis terakhir yaitu jenis yang disebut-sebut sebagai elemen langka, contohnya adalah [Chemicals Magic], Rubber Sap Magic], dan [Golden Magic].

2. [Blooded Magic], sihir jenis ini adalah sihir yang hanya bisa digunakan oleh keluarga tertentu dan diturunkan secara turun-temurun. Contoh sihir yang termasuk ke dalam tipe ini adalah [Power of Destruction] yang dimiliki oleh keluarga Bael, [Shadow Magic] yang dimiliki keluarga Nara, [Sharingan] yang dimiliki oleh keluarga Uchiha, dan lainnya.

3. [Time-Space Magic], sihir jenis ini mampu membuat penggunanya menguasai tahapan-tahapan dari sihir ruang dan waktu. Sihir dasar dari [Time-Space Magic] adalah sihir teleportasi, kemudian dilanjutkan ke sihir penyimpanan. Semakin tinggi tingkatan pengguna tipe sihir ini maka dia akan menguasai sebuah dimensi atau yang paling tinggi adalah mengontrol waktu.

4. [Body Magic], sihir jenis ini menekankan pada perkembangan tubuh untuk memperkuat tubuh seseorang hingga meningkat pada tahap maksimal. Contoh sederhana dari sihir tipe ini adalah [Accel] dan [Boost]. Jenis sihir terlarang dari [Body Magic] adalah [Hachimon Tonkou].

5. [Forbidden Magic], seperti namanya sihir ini adalah sihir terlarang yang hampir sebagian dari dunia melarang adanya praktek yang termasuk ke dalam sihir tipe [Forbidden Magic] seperti sihir yang mampu membangkitkan orang mati.

6. [Crafting Magic/Magic Maker], ada dua penyemutan nama untuk tipe sihir ini tergantung negara mana yang menggunakannya. Sebagian besar negara di benua [Artas] menyebutnya dengan [Crafting Magic] termasuk kekaisaran Jepang. [Magic Maker] adalah sebutan populer di benua [Eutas] terutama di kekaisaran Romawi.

7. [Personal Magic], tipe ini adalah sihir paling unik sekaligus terkuat karena hanya beberapa orang saja di dunia yang dianugerahi sihir ini. Sihir ini tidak bisa dikuasai kecuali kau memiliki bakat di dalamnya. Sihir ini juga tidak bisa ditiru oleh siapa pun dengan cara apa pun.

Itulah tipe-tipe sihir yang ada di dunia.

Kembali ke pertarungan. Baik Naruto maupun Kaguya meningkatkan kesiagaan setelah tahu kekuatan lawan masing-masing yang tidak bisa dikategorikan biasa saja. Keduanya saling menatap tapi wajah Naruto kiat menunjukkan kepucatan.

'Sigh… trauma anak ini menghambat perkembangannya dalam pertarungan.' Batin Fenrir tanpa Naruto ketahui.

Kaguya berlari memangkas jarak dengan kecepatan yang sudah ditingkatkan menggunakan [Accel]. Meski begitu Naruto masih dapat melihat pergerakkan Kaguya menggunakan indera penglihatannya [Eagle Eye]. Naruto menyilangkan pedangnya di depan dada untuk menahan tinju berbasis [Mana] yang diluncurkan Kaguya.

Naruto meringis sesaat setelah tidak sanggup membendung kekuatan tinju yang diawali dengan [Accel]. Alhasil ia terseret kebelakang dan ….

Brak!

"Gahhh!"

Punggung Naruto menghantam keras tembok hingga menimbulkan retakan. Sedikit darah keluar dari mulut Naruto. Ia jatuh tertunduk sambil menutup mulutnya sebagai respon akibat rasa mual yang bergejolak di perut. Trauma ini benar-benar merepotkan.

Belum puas meretakkan tembok menggunakan tubuh Naruto, Kaguya kembali memangkas jarak. Kedua tangannya diselimuti aura biru yang diyakini adalah [Mana]. Setelah berada di hadapan Naruto yang tidak siaga Kaguya tanpa ampun menyarangkan tinjunya pada perut Naruto hingga tubuh itu kembali membentur tembok.

Buakh!

1 pukulan di perut.

Buakh!

2 pukulan di perut.

Buakh!

3 pukulan di perut.

Buakh! Buakh! Buakh!

Entah Kaguya menyarangkan pukulan yang keberapa kalinya. Namun jika melihat bagaimana kondisi tembok di belakang Naruto maka Kaguya telah menyarangkan pukulan lebih dari 10 kali. Lalu sekarang, last punch dari Kaguya yang meningkatkan intensitas Mana di tangan kananya, memukul wajah Naruto tanpa ampun hingga kepala itu menyangkut di tembok.

Kaguya menghela napas kemudian berbalik tanpa sepatah kata. Memberi isyarat pada wasit agar segera mengumumkan pemenang pertandingan. Namun Asuma hanya diam memandang kepulan debu yang menyembunyikan siluet Naruto.

Srek!

Langkah Kaguya terhenti ketika mendengar suara dari belakangnya. Ia menoleh dan terkejut melihat Naruto berdiri tegap. Yang membuatnya terkejut adalah retakan di wajah Naruto.

"Kau! Bagaimana–"

"Last Defend,"

[Golden Element: Golden Armor]

Naruto menyeka darah segar yang keluar dari mulutnya. "Untuk jaga-jaga aku telah melapisis seluruh tubuhku dengan armor emas yang kusamarkan seperti kulit."

Kaguya menatap intens Naruto. "Dengan kata lain kulitmu yang kulihat sekarang sebenarnya adalah pertahanan emasmu, bukan begitu?"

Naruto mengangguk. "Meski begitu kau cukup kuat untuk menimbulkan efek meski aku sudah menggukana armor emas."

Terlihat retakan yang tercipta di wajah Naruto itu semakin panjang dan merambat lalu hancur menjadi beberapa keping yang jatuh ke bawah, memperlihatkan bagian dalamnya yang berwana emas terang.

'Naruto, kau baik-baik saja?' tanya Fenrir. Pikiran Naruto semakin ke sini semakin tak karuan. Naruto yang semula siaga penuh pada pertarungan kini pikirannya kacau. Pikirannya entah tertuju ke mana.

Kaguya yang melihat Naruto terengal-engal memandang dengan heran. Meski ia telah menyerang remaja pirang itu secara membabi buta tapi ini belum waktunya untuk terengal-engal.

'Kuso!' Jantung Naruto semakin berdetak cepat. Pikirannya tak karuan serta perut yang meronta ingin memuntahkan isinya. Ini benar-benar situasi terburuk. Persentase kemenangan Naruto hampir mendekati nol. 'Setidaknya aku harus menyarangkan serangan terakhir padanya.'

Naruto patut diacungi jempol karena meski dalam keadaan trauma ia masih berjuang untuk menang. Ini seperti orang yang trauma ketinggian berusaha melewati jembatan kaca yang memperlihatkan pemandangan di bawahnya. Jelas sangat susah untuk dilalui!

"Sepertinya kau tidak akan bertahan lebih lama, lebih baik menyerah saja, Namikaze-kun."

"Keh …," Naruto terkekeh pelan, "menyerah katamu? Kata itu tidak ada di dalam kamus hidupku! Lebih baik aku kalah babak belur dari pada kalah secara memalukan! Ingat ini Ootsutsuki-san, tidak peduli apa pun rintangan yang kuhadapi aku akan tetap berjalan ke depan menggapai keinginanku."

'Termasuk keinginan untuk menang darimu meski trauma yang menghadang.' Lanjut Naruto dalam hati.

Kaguya menatap Naruto dengan bola mata membulat dan semburat merah tipis hadir di kedua pipinya. Bukan perkataan Naruto yang membuatnya terpesona melainkan raut wajah kesungguhan dari Naruto. Kaguya sudah biasa mendapatkan kata-kata seperti itu dari laki-laki yang menginginkannya tapi untuk kali ini ia melihat raut wajah kesungguhan.

Naruto membuktikan bahwa perkatannya tidak sebatas perkataan yang keluar lalu dilupakan begitu saja. Itulah yang membuat Kaguya … meski sesaat … ia terpesona.

Krak!

!

Lantai yang berada di bawah Kaguya retak lalu memunculkan tangan emas. Kelengahan sesaat membuat Kaguya terlambat menghindar dan harus merelakkan kedua kakinya dicengkram kuat oleh tangan emas. Kaguya tak bisa menggerakkan kakinya.

"Sejak kapan–" pertanyaan yang hendak diluncurkan itu tiba-tiba terhenti setelah menemukan jawabannya. Dari bekas tembok retak itu terlihat dua lubang seukuran tangan yang Kaguya yakini itulah asal muasalnya tangan emas ini.

"Satu kesalahan yang telah lakukan, Ootsutsuki-san … itu adalah kau telah membelakangi musuhmu." Kata Naruto tersenyum.

Naruto menciptakan tangan emas ketika Kaguya beranggapan bahwa ia telah memenangkan pertandingan. Tangan emas itu dengan cepat masuk ke tembok lalu menuju permukaan lantai dan menunggu di bawah Kaguya. Ini sama seperti serangan pertama gadis itu.

'Kuso! Dia ternyata sangat jenius seperti Nara Shikamaru-kun.' Rutuk Kaguya dalam hati. Ia tidak pernah menyangka akan bertarung dengan lawan yang jenius seperti rekan satu timnya, Nara Shikamaru yang menghantarkannya menuju tim pertama sampai di menara.

Naruto merentangkan kedua tangannya, tidak membuang waktu lebih lama ia mengonsentrasikan seluruh Mana-nya membuat tubuhnya terselimuti aura emas. 20 lingkaran sihir emas tercipta di sekeliling Kaguya yang tidak lama kemudian memunculkan setengah badan senjata seperti pedang, palu, kapak, dan lain-lain.

"Ini adalah serangan terkuat yang kumiliki," Naruto menarik napas dalam lalu meneriaki nama sihirnya.

[Swords of Babylon]

Buum!

Duar!

20 jenis senjata yang tercipta melesat cepat menghantam Kaguya tanpa ampun menimbulkan kepulan debu tebal. Naruto sangat yakin serangan pamungkasnya mengenai Kaguya dengan telak setelah menganalisis berbagai aspek.

Jarak. Dengan jarak seperti ini mustahil Kaguya dapat menghindar semua serangan terlebih pembentukan sihir es lebih lama dari pada emas jadi kemungkinan Kaguya membuat pertahanan mendekati nol.

Serangan Naruto membuat seluruh murid yang menonton cengo dengan mulut terbuka.

Naruto menyeringai. Menatap tidak sabar hasil yang tersembunyi di balik kepulan debu itu.

'MENGHINDAR!'

Naruto dengan refleks gilanya menghindari sesuatu yang melesat menuju dirinya. Ia melirik ke belakang dan mendapati pedang khas [Eutas] abad pertengahan tertancab di tembok.

'Pedang?'

Boush!

Sesuatu keluar dari kepulan debu kemudian melayang. Itu Kaguya!

Naruto menatap tidak percaya apa yang tersaji di depannya –tidak, tapi di atasnya! Kaguya tengah melayang dengan belasan pedang mengitari tubuhnya dengan kecepatan gila.

Kaguya menyeka darah di pipinya yang tergores hasil serangan Naruto. "Selamat Namikaze-kun. Kau adalah lawan pertama yang membuatku menggunakan [Personal Magic]."

Hampir semua termasuk Naruto tersentak kaget mendengar perkataan Kaguya kecuali beberapa orang yang sudah mengetahuinya dan malah menyeringai. Kaguya pemilik [Personal Magic]? Naruto benar-benar tidak beruntung mendapatkan lawan.

"Sebagai rasa hormatku padamu yang bisa mendesakku hingga menggunakan kekuatan ini, aku akan memperkenalkan diri secara lengkap,"

"Huh?"

"Namaku Ootsutsuki Kaguya, cucuk dari Kaisar sekaligus Princess of Japan Empire."

'Shit! Fuck! Kuso! Kenapa aku diberikan lawan monster seperti dia?'

"Baiklah, akan kuakhiri sampai di sini. Maaf saja Namikaze-kun, kau tidak ditakdirkan menang melawanku."

Kaguya membuat pose seperti seorang yang hendak memainkan biola. Dari ketiadaan tercipta pedang dan senapan laras panjang. Pedang sebagai batang penarik senarnya sedangkan senapan sebagai tubuh biola.

Kaguya menggerakkan tangannya seakan sedang menggesek senar biola.

[Holopsicon: The First Movement of Cosmos – Magic Erase Factor]

Dumm!

Dentuman keras terdengar sesaat setelah Kaguya menggerakkan tangannya, menciptakan efek distorsi yang semakin membesar menuju Naruto. Apa pun jenis sihir yang ada akan dihapuskan termasuk ke-20 lingkaran sihir Naruto yang mengelilingi Kaguya. Efek distorsi itu mengenai Naruto membuat perlahan-lahan seluruh kulitnya retak lalu hancur menjadi serpihan kecil diikuti oleh tubuhnya yang terhempas kuat ke belakang sambil berputar-putar lalu menabrak dinding dengan sangat keras.

Brak!

"Ohok!"

Naruto ambruk dengan darah cukup banyak keluar dari mulutnya.

'Aku tak bisa bergerak!' ringis Naruto dalam hati yang berusaha mengerakkan tubuhnya tapi tidak bisa.

Asuma mendekati tempat Naruto lalu memeriksa kondisinya. Ia lalu memandang Kaguya.

"Pertandingan pertama antara Ootsutsuki Kaguya melawan Namikaze Naruto dimenangkan oleh Ootsutsuki Kaguya."

Tidak ada yang bersorak untuk kemenangan Kaguya karena semua penonton masih dalam pikiran masing-masing. Kaguya mendarat di permukaan dengan mulus lalu berjalan pelan menuju tempat penonton.

Sementara The Ten Grace of God memandang layar proyeksi di depan dengan pandangan sulit diartikan.

Naruto … tak sadarkan diri.


Naruto terbangun di ruangan serba putih yang ia yakini adalah UKS. Ia memandang seluurh tubuhnya yang terluka dan ada perban di beberapa bagian. Naruto memegang kepalanya saat ia merasakan sakit. Mengingat pertarungan terakhirnya yang sangat tidak seimbang.

Tidak lama kemudian ia mendengar suara pintu terbuka lalu masuk seorang pria dewasa yang Naruto tahu bernama Azazel.

"Yo, Naruto. bagaimana keadaanmu?"

"Seperti yang terlihat." Jawab Naruto pelan.

Azazel memandang Naruto yang diam sambil melihat keluar jendela. "Kau merasa kesal karena kalah?"

Naruto tak menjawab tapi Azazel tahu artinya itu.

"Tidak ada yang bisa dilakukan saat kau melawan Kaguya. Dia adalah keluarga kaisar juga kekuatannya sangat besar untuk ukuran seorang remaja. Aku telah melihatmu bertarung dan jujur kukatakan, kau hebat."

"Hebat? Dari mananya? Aku telah kalah dan lebih parah lagi aku termasuk ke dalam 10 murid terkuat." Naruto menekan perkataannya. Tangannya terkepal erat.

Azazel menghela napas. "Kau tahu bagaimana sifat seorang yang memiliki trauma? Mereka akan menghindari segala sesuatu yang berhubungan dengan trauma mereka apa pun caranya. Aku tahu kau memiliki trauma akan pertarungan tapi melihatmu yang terus bertarung melawan traumamu, kau sungguh hebat."

"Hn. Apa kau datang ke sini hanya untuk menghiburku?"

Azazel terdiam sesaat. "Itu tidak sepenuhnya benar. Aku ke sini untuk memastikan jika kondisimu baik-baik saja."

"Hn."

Mendapati jawaban yang dingin, Naruto saat ini sedang badmood. Azazel menghela napas lalu pergi ke luar setelah mengucapkan salam. Naruto merebahkan tubuhnya di kasur lalu terlelap tidur.

Di luar Azazel sedang memikirkan sesuatu. 'Aku tidak menyangka trauma Naruto masuk tahap yang mengkhawatirkan. Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama. Aku harus cepat menemukan metode untuk menyembuhkan trauma Naruto.'


Naruto terbangun setelah merasakan ada yang menggenggam lembut tangannya. Sentuhan halus yang Naruto rasakan mirip seperti sentuhan ibunya. Ia perlahan membuka mata dan menatap pemandangan wajah cantik dari wanita yang ia tahu bernama ….

"Ootsutsuki … -sama?"

Yep. Yang berada di sisi Naruto sekarang adalah gadis cantik berambut abu-abu, Kaguya. Naruto bangkit dan menatap Kaguya dengan pandangan heran. Ada apa ia datang ke sini?

"N-namikaze-kun … a-aku datang ke sini untuk melihat kondisimu." Kata Kaguya yang sedikit agak … malu-malu?

"Kondisiku? Ah … aku sekarang baik-baik saja meski ada beberapa bagian yang membuatku sakit jika digerakkan."

"S-souka … maafkan aku karena terlalu berlebihan saat bertarung denganmu." Kata Kaguya sambil menunduk dan menyatukan telapak tangannya di depan.

Naruto menatap bengong kelakuan Kaguya yang sama sekali jauh dari image cool-nya. Sedetik kemudian ia tersadar dan mengibaskan kedua tangannya dengan cepat. "T-tidak usah minta maaf seperti itu Ootsutsuki-sama, yang namanya pertarungan tidak jauh dari kejadian tak terduga."

"Tapi …,"

"Sudahlah. Lagi pula aku tidak menaruh dendam padamu kok."

"Jadi, kau memaafkanku?"

Naruto mengangguk.

"Terima kasih. Ah aku baru ingat!" Kaguya mengambil kotak yang terbungkus kain bergambar kepala panda lalu membukanya. Bermacam-macam makanan yang terlihat enak tersaji di situ. Kaguya berkata dengan malu-malu. "I-ini aku membuatkanmu makanan sebagai rasa maafku."

"Makanan … Ootsutsuki-sama yang membuatnya?"

Kaguya mengangguk. "Tolong jangan panggil aku dengan –sama."

"Kenapa? Bukannya Ootsutsuki-sama adalah keturunan langsung kaisar? Jadi aku wajib memanggilmu dengan panggilan hormat."

"Tapi aku tidak mau dipanggil seperti itu, Namikaze-kun. Panggil aku seperti biasa saja."

"Kau yakin?"

Kaguya kembali mengangguk.

"Baiklah, Ootsutsuki … -san."

"Nah itu lebih baik. Namikaze-kun belum makan bukan? Sini aku suapin."

"Heeeee! Tidak usah repot-repot Ootsutsuki-san. Aku bisa makan sendiri."

"Tidak apa-apa. lagi pula tanganmu diperban seperti itu. sini, aaa …."

Naruto menatap makanan yang berada di atas sendok. Ia lalu memandang Kaguya yang menyuruhnya untuk membuka mulut. Serius nih? Putri kekaisaran Jepang menyuapi orang biasa sepertinya?

Oh Tuhan kau sangat baik sekali. Seperti kata orang, setelah keapesan terbitlah keenakan.

Naruto bertanya sekali lagi untuk memastikan. "Apa kau yakin?"

"Iya. Aku yakin. Cepat buka mulutnya."

"B-baiklah." Naruto membuka mulut dan makanan itu sukses masuk ke tempat yang seharusnya. Naruto mengunyah makanan yang ada di mulutnya kemudian terdiam dengan pandangan kosong.

"Namikaze-kun kenapa? Apa masakanku tidak enak?"

"Bukan bukan. Malahan makananmu sangat enak sampai bisa membuatku melayang sesaat."

Kaguya terlihat senang. "Syukurlah."

10 menit berlalu. Kotak bekal yang tadi di bawa Kaguya habis tanpa sisa. Kaguya lalu pergi setelah urusannya selesai. Ia juga tidak kuat jika berada di dekat Naruto entah kenapa. Di sepanjang koridor Kaguya terus melamunkan sesuatu … tentang remaja pirang bekas lawannya.

'Ada apa denganmu Kaguya! Kenapa sifatmu berbeda sekali jika berhadapan dengan Namikaze-kun? Ayolah kembali normal, kembali normal ke Kaguya yang anggun dan mempesona.'


Dua hari Naruto berada di ruang UKS untuk penyembuhan total. Untungnya Naruto diperbolehkan keluar saat hari di mana pertarungan kelas 2 dan 3 dilaksanakan. Naruto ingin sekali melihat pertarungan itu terlebih orang yang sudah pasti akan Naruto rekrut ke dalam guild bagaimanapun kondisinya, Coriana Andrealphus.

Meskipun tidak mengharapkan Coriana menang di sebuah pertandingan, tapi Naruto cukup terkesima oleh sifat pantang menyerah dari Coriana melawan musuhnya meski akhirnya ia kalah.

Naruto juga sempat menyaksikan beberapa pertarungan yang cukup menghibur.

Setelah acaranya selesai ia meninggalkan menara ini menuju asramanya dibantu oleh guru yang menguasai sihir teleportasi. Naruto harus bersiap-siap untuk besok karena pemilihan anggota guild di adakan di Colosseum.


Hari ke-7, hari terakhir masa MPLS sekaligus tahap puncak yaitu perekrutan anggota guild. Tahap ini dilakukan di Colosseum tempat yang sering digunakan untuk Battle of Honor dan acara lainnya.

Matahari bersinar cerah tanpa hambatan menyinari seluruh pelosok sekolah besar ini. Para murid satu per satu keluar dari asrama dan menuju Colosseum.

Naruto tanpa sengaja bertemu dengan Le Fay dan Kuisha yang di sepanjang perjalanan menceritakan bagaimana mereka memenangkan pertandingan saat tahap ke dua. Itu membuat Naruto agak jengkel karena ia satu-satunya orang yang kalah di tim 7.

Mereka mulai bisa melihat puncak Colosseum, artinya mereka sudah dekat. Le Fay dan Kuisha masih sibuk membicarakan pengalaman bertarung kemarin hari sampai masuk ke dalam Colosseum dan tidak menyadari jika Naruto tak ada di belakang.

"Ahahaha benar juga, untung aku tidak mendapatkan lawan jenius seperti si Nara itu ya, bukan begitu Naruto?"

Le Fay dan Kuisha menoleh ke belakang.

"Naruto?"

"Di mana laki-laki itu? Selalu menghilang tiba-tiba.

"Haah… biarkan saja Le Fay. Lihat kita hampir ketinggalan barisan. Ayo, abaikan saja si Naruto itu."

"Ya sudah."

Mereka ikut berbaris sesuai kelas masing-masing.

Bukan hanya Le Fay dan Kuisha yang menggosip soal pertanding kemarin. Hampir semua murid melakukan hal sama terutama saat membicarakan pertandingan antara Naruto dan Kaguya. Lalu sekarang seluruh perhatian tertuju pada mimbar yang sudah tersaji sepuluh beja dengan di tengahnya terdapat angka romawi dari [I-X].

"Ne ne, apa kau tahu siapa saja yang masuk ke dalam The Ten Grace of God?"

"Mana kutahu? Aku tidak pernah bertemu dengan mereka."

"Yang pasti mereka adalah 10 orang terkuat di sekolah ini."

"Dan mereka juga pastinya tampan-tampan atau cantik-cantik … kyaa!"

"Ghhh… aku sudah tidak sabar melihat mereka. Semoga saja aku direkrut oleh peringkat 1."

"Mana mungkin!"

"Ehehehe. Aku kan hanya berharap."

"Ahahahaha."

Sementara itu di sebuah koridor gelap dan sepi. Langkah seseorang menggema di sepanjang jalan. Langkah kaki itu secara perlahan bergerak menuju pertigaan di depannya. Pertigaan yang tersoroti oleh sinar mentari.

Tap!

Langkahnya memelan setelah mendapati 9 orang muncul dari arah kanan dan berhenti menunggu dirinya. Ia melangkah lagi, kini agak cepat dan berhenti di depan seorang pria tampan berambut merah.

"Selamat datang kembali, Naruto-kun." Kata Sirzechs dengan senyum tipis.

Naruto mengangguk. Sirzechs lalu menyerahkan jubah berwarna merah dengan setengah kerah. Naruto tahu bahwa jubah itu adalah jubah kebangsawanan yang selalu dipakai saat acara resmi.

"Apa kau yakin? Bukannya ini untuk para bangsawan?"

"Sebagai anggota The Ten Grace of God kau wajib memakai jubah ini sama seperti kita. Sekarang lepaskan blazer-mu dan pakailah."

Naruto mengangguk lalu melepaskan blazer-nya dan menyumpannya di sudut koridor. Ia menerima jubah itu kemudian memakainya dan mengancingkan rantai emas sebagai penyangganya.

"Semua sudah berkumpul, kalau begitu ayo! Kita pergi menemui murid baru!"

Sirzech memimpin di depan. Ke sepuluh orang itu berjalan dengan penuh wibawa menuju setitik cahaya di depan. Aura yang terpancar dalam tuubh mereka bukanlah aura remaja biasa, melaikan aura seorang pemimpin! Inilah saat yang ditunggu-tunggu ….

Saatnya untuk menunjukkan siapa itu Namikaze Naruto.

Bersambung

~Ending Song: HYDRA by MITH & ROID~


AN: Hollaaa! Balik lagi dengan Eins setelah beberapa jam yang lalu meng-update fic Devil Uchiha Naruto. Ekhem, inilah akhir dari pertarungan Naruto melawan Kaguya yang setelah saya pikir dari segala sudut pandang, tidak ada alur yang pas di mana Naruto memenangkan pertandingan. Alasannya? Sudah terlihat jelas saat pertarungan.

[Personal Magic] Kaguya adalah [Holopsicon], saya ambil dari kemampuan Altair di Re: Creators. Huhu … Kaguya memiliki kekuatan yang termasuk ke dalam godlike. Namun, Naruto akan terus mengejar kekuatan Kaguya sedikit demi sedikit.

Saya sudah menyiapkan siapa saja yang akan menjadi anggota guild Naruto. Untuk saat ini saya sudah menyiapkan 15 orang pertama. Siapa saja? Next chapter akan diungkap.

Saran dari kalian masih terbuka untuk anggota guild Naruto tapi ingat, kasih alasan jelas!

Jangan lupa review karena review dari kalian adalah penyemangat untuk author!

KALO ADA YANG SENANG DENGAN UPDATE CHAPTER INI UCAPKAN #FFN2019BANGKIT!

[26/12/2018]