My Husband Is Park Chanyeol

Chanbaek

M

.

.

.

Ini bukan hari yang baik.

Apalagi dengan keadaan seperti ini. Biar kujelaskan.

Baekhyun berdiri berdampingan dengan eomma-nya yang berdiri diambang pintu kamar yang selalu ia tempati ketika menginap dirumah Chanyeol. Dan disana, tepatnya dua meter dihadapan Baekhyun dan Minkyung berdirilah Chanyeol beserta Sandara yang masih setia menggandeng lengan Chanyeol dengan manja.

Keduanya -Chanyeol dan Sandara- baru saja sampai di kediaman Chanyeol setelah melakukan perdebatan kecil. Chanyeol meminta gadis itu untuk menunggu dirumah ayahnya karena menurut Chanyeol akan sangat rumit jika wanita cantik itu ikut dengannya kerumah untuk menjemput Baekhyun. Sedangkan Sandara sendiri menolak mentah-mentah permintaan lelaki tinggi yang sebentar lagi akan menjadi suaimnya karena ia bilang kalau ia benar-benar merindukan sosok Chanyeol. Membuat Chanyeol makin mual saja mendengarnya.

"Ka-kalian mau pulang?"

"Ten-"

"Kudengar dari Baekkie, kalian akan menikah minggu depan?"

"N-noona, aku bisa…..menje-"

"Tentu saja! Kenapa? Kau tidak suka hah?"

"YAAK! AHJUMMA, SOPANLAH PADA EOMMA-KU!"

"Jangan berteriak seperti itu Baekkie"

Baekhyun mengusap dadanya sendiri dengan perlahan, berusaha menuruti ucapan eomma-nya untuk meredakan emosinya sendiri dengan cara tersebut. Setelahnya ia menatap Sandara dengan kesal yang kini malah wajahnya terlihat seperti minta ditimpuk. Begitulah pikir Baekhyun.

Salah jika kalian berpikir Baekhyun bisa marah terhadap Chanyeol, itu sangat mustahil untuk terjadi kalau kenyataannya saja Baekhyun merasa kalau perasaannya terhadap Chanyeol kembali secara perlahan-lahan. Ia mengetahui dengan jelas, dan mendengar dengan sendirinya kalau tadi itu kakeknya yang meminta Chanyeol untuk menikah. Bukan lelaki tinggi itu sendiri yang meminta. Jadi, untuk apa ia marah pada Chanyeol?

"Paman, aku dan eomma pulang dulu."

"Mau kuantar?"

"Tidak perlu, Paman Jung sudah menunggu"

"Paman Jung?"

"Hn, dia yang mengantarku sampai kerumahmu. Kalau begitu permisi paman. Jja eomma"

Minkyung berjalan dengan ogah-ogahan dan karena hal itu pula ia secara tak sadar baru saja menabrak Sandara, membuat wanita itu memekik keras sampai Baekhyun yang kebetulan berada disebelahnya hampir saja kehilangan pendengarannya.

"Jalang! Apa maksudmu hah? Kau ingin aku terjatuh dari sini?"

"Issh, jangan berteriak pada eomma-ku sialan!"

"Diam saja kau! Anak kecil gila sepertimu tidak usah ikut campur dalam masalah seperti ini!"

"tentu saja aku harus ikut campur! Kau baru saja mengatai eomma-ku jalang ketika kau sendiri bahkan terlihat lebih buruk dari jalang!"

Wajah Sandara memerah, bunyi gemeletuk giginya bahkan sampai terdengar ditelinga Chanyeol. Lelaki tinggi itu hanya diam memperhatikan, ia ingin membela Baekhyun sebenarnya. Tapi ia sendiri tidak tahu harus melakukan pembelaan yang seperti apa.

Ia melihat Baekhyun yang memegangi bahu eomma-nya dan meminta wanita itu untuk kembali berjalan. Oke, Chanyeol makin merasa dirinya bodoh sekarang. Ia memikirkan keras bagaimana Baekhyun yang manis itu bisa menentang kakeknya yang sudah membuat keputusan sepihak itu. Chanyeol tak mau banyak berharap, tapi ia juga tak bisa membohongi dirinya kalau ia benar-benar kembali mencintai Baekhyun seperti beberapa tahun yang lalu.

Lelaki tinggi yang wajahnya terlihat sangat kusut itu hanya bisa menghela nafas ketika melihat Baekhyun dan noona-nya sudah benar-benar pergi meninggalkannya sendiri bersama yeoja yang sikapnya seperti iblis didalam rumahnya dan hanya berdua. Ah, ingatkan Chanyeol untuk mempekerjakan maid dirumah besarnya.

"Lakukan sesukamu! Aku mau istirahat dan kumohon dengan sangat agar kau tidak menggangguku!"

"Ne, aku akan berkeliling saja."

Chanyeol mengacuhkannya, ia berlalu begitu saja dan masuk kedalam kamarnya dengan keadaan yang benar-benar menyedihkan. Matanya mentap kosong kearah lantai dengan tubuhnya yang bahkan terlihat seperti orang sakit keras. Sangat tidak bersemangat.

.

.

.

Baekhyun tiba dirumah kakeknya tepat ketika jam ditangannya baru saja menunjukkan pukul tiga sore. Ia menghela nafas dan setelah memberanikan diri untuk segera masuk ia langsung berlari ke kamarnya, membuat eomma-nya yang sedang kesulitan karena koper-nya itu terkejut ketika mendengar Baekhyun yang baru saja membanting pintu kamarnya.

"Kau sudah pulang?"

"A-appa"

"Bagus kalau begitu! Aku ingin menanyakan beberapa hal. Kau sadar apa yang sudah kau lakukan pada anak dan adikmu"

"Appa! D-darimana appa tau?"

"Apakah sekarang itu penting?"

"M-maafkan aku. A-aku tidak bermaksud menghancurkan mereka. Saat itu aku benar-benar tidak bisa berpikir lagi karena Chanyeol terus saja menolak tawaran untuk menghentikan pernikahan. Dan, karena kebetulan Baekhyun sedang ke Korea, aku pikir tak apa menjadikan anak itu sebagai mempelai Chanyeol. Sungguh aku tidak tahu kalau akhirnya menjadi seperti ini"

TuanPark mendengarkan dalam diam, ia memanggil nama anak perempuannya dan meminta wanita itu untuk duduk dihadapannya.

"Kris sudah menceritakan semua padaku. Dan kurasa ini bukan sepenuhnya kesalahanmu!"

"Maafkan aku"

"Sudahlah, mana Baekhyun? Aku harus minta maaf anak manja itu"

"Eumm, dia ada dikamarnya"

"Ah, baiklah. Nanti saja kalau begitu. Ohiya, persiapkan dirimu untuk membantu pernikahan Chanyeol minggu depan."

Minkyung sebenarnya ingin mengangguk, namun ia segan karena harus membantu pernikahan Chanyeol dengan gadis itu. Mungkin kalau yang menjadi calon istri adiknya itu bukan Sandara pasti ia akan dengan senang hati menerima permintaan ayahnya.

"Akan aku pikirkan"

Minkyung bangun dari duduknya, menyempatkan diri untuk membungkuk sopan pada ayahnya sebelum ia pamit untuk pergi meninggalkan ruang tamu dan kembali ke kamarnya.

"Kalian masih saja terlihat seperti anak-anak"

Flashback :

"Chanyeol?"

"Ne appa?"

Lelaki paruh baya dengan tinggi menjulang itu tersenyum tampan pada anaknya yang tengah duduk dimeja makan dengan khidmat. Anak berusia 10 tahun itu tersenyum dan menenggak segelas air sebelum ia terfokus pada ayahnya yang masih menatapnya penuh senyum.

"Kau akan punya eomma dan noona baru"

"Benarkah? Eomma dan noona sekaligus?"

"Ne, kau senang?"

"Ne appa! Aku sangat senang hihi. Pasti noona dan eomma baruku sangat cantik"

"Hn, mereka sangat cantik. Kau siap bertemu mereka?"

"Mereka sudah ada disini?"

"Mereka ada ruang tamu"

Chanyeol yang saat itu masih sekolah ditingkat dasar langsung berlari dengan cepat menuju ruang tamu dimana ayahnya bilang ada dua anggota barunya yang sedang menunggu disana. Dan benar, Ia mendapati dua orang wanita yang benar-benar berbeda usia tengah duduk disalah satu sofa besar dirumahnya.

"Selamat siang, aku Park Chanyeol."

"Oh hai, aku….."

"Anda calon eomma baru-ku ya? Waah~ kau sangat cantik eomma"

"N-ne, terimakasih sayang"

Senyum Chanyeol tak pernah lepas sejak saat itu, ia berjalan mendekat dan langsung memeluk dengan erat wanita paruh baya yang tak lama lagi akan menjadi eomma-nya.

"Yak! Itu eomma-ku! Kau mau menculik eomma-ku ya?"

"Hn? Itu noona? Aku benarkan eomma? Itu benar noona baruku?"

Wanita paruh baya itu mengangguk dan tersenyum, ia melepaskan pelukannya pada Chanyeol dan membiarkan anak lelaki yang sangat manis itu berjalan menghampiri putrinya yang sepertinya sedang merajuk.

"Noona, kau cantik! Aku Chanyeol…..siapa nama noona?"

"Eh? Terimakasih. Kau juga tampan hihi. Namaku Minkyung"

"Wah noona, ayo kita bermain!"

Dan tanpa mau mendengar persetujuan dari gadis yang secara tak langsung akan menjadi noona-nya itu, Chanyeol langsung menarik lengan gadis itu dan membawanya untuk bermain bersama ditaman halaman rumahnya.

.

.

.

"Akhirnya kau benar-benar menjadi adikku Chanyeol!"

"Ne, noona. Kau lihat eomma tadi? Dia cantik sekali"

"Dia memang cantik. Sepertiku hehe"

"Yayaya, terserah apa katamu pendek"

"Yak! Kau berani mengatai noona-mu pendek?"

"Mian"

Chanyeol tergelak dan segera meminta maaf pada noona-nya yang berpura-pura merajuk. Ia mengepalkan tangannya dan menunjukkan wajah memelasnya sambil mulutnya tidak berhenti untuk megucapkan maaf berkali-kali.

"Maafkan aku hiks"

"Yaak! Kau menangis?"

"Maafkan aku noona"

"Issh, jangan menangis Chanyeol! Nanti eomma memarahiku!"

"Biarkan saja! Makanya maafkan aku hiks"

"ne, ne kau termaafkan"

"Termakasih noona"

Senyum Chanyeol mengembang kembali, tangannya terangkat dan langsung memeluk gadis dengan gaun putih itu erat. Ia tersenyum dan menggerak-gerakan tubuhnya kekanan-kekiri yang benar-benar menggemaskan.

Minkyung berteriak berkali-kali meminta dilepaskan hingga membuat beberapa tamu yang hadir diacara pernikahan appa dan eomma-nya menatapnya gemas.

Dan akhirnya karena tidak sanggup menahan malu, ia pun menyeret Chanyeol untuk pergi ketaman. Mereka berlari dengan bergandengan tangan selama perjalanan, Chanyeol bahkan tidak bisa menahan senyumnya karena tindakan sang noona yang benar-benar menyayanginya.

"huh, pernikahan itu membuatku pusing Chanyeol!"

"Ne aku juga. Tapi suatu saat nanti ketika kau sudah besar kau pasti akan melakukannya noona"

"Ah, kau benar! Kalau begitu aku akan membuat pesta pernikahan yang tidak akan membuat orang pusing Chanyeol!"

"Bisakah?"

"Entah"

Chanyeol memutar bola matanya malas, noona-nya memang cantik, baik hati dan penyayang. Namun ada satu hal yang kadang membuat Chanyeol sedikit kesal dengan noona-nya. Noona-nya memiliki kadar kekonyolan berlebih, ia bisa berucap aneh dalam sesaat dan kemudian mengucapkan kalimat aneh lainnya setelah ia melupakan kalimat sebelumnya.

"Aku akan menikah dengan lelaki tampan. Setelah menikah aku akan melahirkan banyak anak yang menggemaskan hihi"

"Anak?"

"Ne, setelah kau menikah kau pasti ingin memiliki anak hoho."

Chanyeol memang masih sedikit bingung, ia kurang megerti dengan pembicaraan noona-nya. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya berpura-pura mengerti dengan apa yang gadis 15 tahun itu ucapkan.

"Lalu, apakah aku boleh menikah dengan anak noona?"

"Hmm, kurasa boleh. Kita kan tidak ada ikatan darah yeol! Kurasa tak apa hehe"

"Baiklah. Nanti saat sudah besar aku akan menikahi anak noona yang paling manis. Boleh kan?"

"Tentu saja. Apapun untuk adik lelaki-ku yang menggemaskan sepertimu hihi"

Flashback end

Tuan Park tersenyum mengingat semua kejadian itu. ia sungguh melihat semuanya, bahkan Chanyeol dan Minkyung yang tengah bermain ditaman dan membiacarakan pernikahan pun ia mengetahuinya. Ia tak menyangka anak-anaknya yang dulu sangat manja dan menggemaskan sudah tumbuh semakin dewasa.

Ia menghela nafasnya, sebenarnya ia tak tega memaksa Chanyeol untuk menikah dengan cara seperti itu. ia sangat menyayangi anak lelakinya itu, namun ia juga tidak bisa membiarkan wanita yang sudah dihamili Chanyeol menyebarkan aib keluarganya kalau tidak dinikahkan.

Hamil? Ah, ingat ketika semua rahasia Baekhyun terbongkar? Ingat juga ketika Baekhyun berlari ke toilet? Sandara atau kakek Park tidak memperdulikannya, Sandara sibuk meyakinkan kakek Park kalau ia itu kekasih Chanyeol. Ia bahkan tidak segan untuk menambahkan bumbu-bumbu penyedap hingga membuat kakek Park sendiri tidak bisa untuk membiarkan wanita yang mengaku tengah hamil anak Chanyeol itu pergi berkeliaran dan menyebarkan berita tidak benar yang bisa mengancam reputasi keluarganya.

TokTokTok

"Baekkie? Ini kakek sayang"

"Masuk saja"

Sebenarnya Baekhyun sangat terkejut mendapati kakeknya yang kini sedang berdiri diambang pintu kamarnya. Jantungnya kembali berpacu dengan kepalanya yang dipenuhi dengan pemikiran-pemikiran negatif seperti 'apa kakeknya akan memarahinya kembali?' namun ia hanya berpura-pura tenang untuk menutupi rasa takutnya.

"Maafkan kakek Baekhyun"

Baekhyun mendengarnya, namun ia berusaha mengabaikan suara lirih kakenya dan tetap melanjutkan pekerjaannya untuk memasukkan pakaiannya dengan sembarangan kedalam koper besarnya. Ingatkan kalau nanti malam ia harus kembali ke paris? Ya, kalian harus ingat!

"Penerbanganmu….."

"Jam berapa aku harus meninggalkan rumah ini?"

"Penerbangan malam, kau berangkat jam 9"

"Baiklah."

Baekhyun menghela nafasnya dan masih mengabaikan kakeknya yang kini sudah duduk diatas ranjangnya dengan mata yang terus menatap lekat kearahnya yang terus-terusan bolak balik untuk membereskan barangnya.

"Kakek tidak bermaksud untuk memintamu pergi dari rumah ini. Hanya saja, kau tahu bagaimana keadaan saat ini"

"Ya kakek, aku mengerti. Maaf karena sudah membohongimu"

"Ini bukan sepenuhnya kesalahanmu Baekhyun!"

"Jujur kakek, aku terkejut melihat kakek berteriak padaku seperti tadi. Itu mengerikan"

"Maafkan kakek. Kakek berjanji tidak akan melakukan itu lagi"

"Berjanjilah juga kalau kakek tidak akan meneriaki paman Chanyeol seperti tadi. Aku yakin kalau sekarang dia sangat tertekan."

Tuan Park mengangguk, ia benar-benar merasa tidak rela karena cucu kesayangannya itu hendak pergi kembali meninggalkannya. Sebenarnya ia bisa saja membatalkan penerbangan Baekhyun, namun ia merasa kalau sekali-sekali ia harus memberikan cucu manisnya itu sebuah hukuman.

"Maafkan ka-"

"Tak perlu minta maaf seperti itu kakek! Aku menyayangi kakek"

Baekhyun tidak bisa lagi bertahan dengan ego-nya, ia meninggalkan kopernya dan segera menerjang tubuh ringkih kakeknya dan ia peluk dengan sangat erat. Ia menangis dan kakeknya tidak bisa untuk tidak merasa sedih karena isakan memilukan Baekhyun.

"Kakek juga menyayangimu!"

"Hiks, jaga kesehatan kakek selama aku tidak disini. Jangan terlalu lelah bekerja, sisihkan waktu untuk istirahat hiks. Dan, j-jangan mencoba untuk mencari nenek baru!"

TuanPark tidak bisa menahan senyumnya mendengar ucapan Baekhyun, bagaimana cucunya itu bisa bersikap sangat kekanakan diusia yang bahkan hampir menginjak kepala dua. Ia sekarang hanya bisa menenangkan Baekhyun agar menghentikan tangis menyedihkannya dengan menusap bahu anak itu lembut.

.

.

.

"Eomma, bukankah kau pikir kau memasak terlalu banyak? Ada apa?"

menghela nafas dan mengangkat pisaunya tepat dihadapan wajah Baekhyun, matanya membulat dan makin membuat Baekhyun yang baru saja tiba disana langsung mematung ketakutan.

"Kakekmu meminta Chanyeol dan calon istrinya kesini untuk makan malam bersama! Kau bantu eomma sekarang!"

"Bukankah ada maid? Minta saja ban-"

"Byun Baekhyun! Bantu eomma cepat!"

Baekhyun memutar bola matanya malas dan segera mengambil posisi disamping eomma-nya. Ia mengerjakan pekerjaannya dengan asal-asalan, padahal niatnya ia hanya ingin berpamitan pada eomma-nya lalu setelahnya pergi mengurung diri dikamarnya sampai pukul 8 malam, namun nyatanya wanita itu malah memintanya berurusan dengan urusan wanita sperti ini.

"Noona! Kem-"

"Diam disana Minzy! Biarkan aku dan Baekhyun yang mengerjakannya"

"Eomma~ Aku tidak bisa memasak! Lagian tumben sekali eomma mau memasak bersamaku, biasanya eomma memasak bersama maid-maid lain"

"Diam"

Baekhyun mempoutkan bibirnya dan kembali memotong sayuran dihadapannya dengan asal, tersenyum melihatnya. Ia tetap bersikap seolah-olah tidak peduli pada anaknya yang kini makin merajuk, ia tidak bermaksud untuk membuat Baekhyun mengerjakan hal-hal semacam ini. Ia hanya ingin menghabiskan waktu singkat yang ia miliki bersama Baekhyun sebelum lelaki manis itu pergi meninggalkannya kembali.

"Eomma~"

"Kenapa? Kau mau kabur? Tidak akan! Diam disana dan lanjutkan pekerjaanmu!"

"Issh, menyebalkan"

terkekeh dan kembali sibuk dengan masakannya, tanpa diketahui Baekhyun eomma-nya sudah menitikan air mata. Beruntunglah mereka saling memunggungi untuk saat ini, wanita itu pasti akan sangat malu ketika Baekhyun mengetahui ia menangis seperti ini.

"Eomma~"

Minkyung tidak tahu kenapa suara Baekhyun bisa terdengar sangat lembut seperti itu, padahal ia sangat yakin kalau 18 tahun yang lalu ia benar-benar melahirkan seorang anak lelaki. Tapi ia hanya bisa tersenyum dan berterimakasih pada Tuhan, setidaknya Baekhyun sudah dijadikan hadiah terindah untuk menggantikan suaminya yang telah tiada.

"Kenapa lagi?"

"Aku menyayangi eomma"

"Hn?"

"Eomma menyayangiku kan?"

"Apa-apaan bicaramu itu?"

"Ohiya, tentang paman Chanyeol, bisakah eomma menjaganya selama aku tidak ada? Aku takut ia kenapa-kenapa"

"Baekkie….."

"Aku menyangi kalian semua hiks"

Baekhyun memeluk eomma-nya dan menangis sesegukan didalam pelukan eomma-nya. Lelaki itu benar-benar terlihat menyedihkan, rasanya ia baru saja bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi kemarin dan sekarang ia sudah diharuskan pergi. Rasanya sakit.

.

.

.

"Paman, kau sudah datang? Wah, cepat sekali"

Baekhyun terkekeh pelan ketika ia membuka pintu dan mendapati Chanyeol sudah berdiri didepannya dan terlihat benar-benar tampan. Baekhyun merona sendiri melihatnya, namun ia segera menyadarkan dirinya ketika matanya menangkap seorang wanita dibelakang Chanyeol yang menatapnya dengan tajam. Baekhyun hanya memuar matanya malas dan segera mempersilahkan pasangan itu masuk sebelum kakeknya berteriak.

"Siapa yang memasak ini semua?"

"Tentu saja aku! Ayahmu memaksa!"

"Benarkah? Kau tidak memasukkan sesuatu yang berbahaya didalamnya kan?"

"Aku mungkin tidak, tapi aku tidak tahu dengan Baekhyun. Mungkin ia memasukkan racun tikus didalamnya tadi."

"Baekkie? Kau tidak melakukannya kan?"

Chanyeol menarik Baekhyun dan merangkulnya sok akrab, wajahnya ia buat seolah tengah kebingungan sambil tangannya mencubit pipi Baekhyun.

"Aku memasukannya!"

"Coba kau makan ini!"

Chanyeol mengangkat tangannya dan menyuapi Baekhyun dengan sesendok sayur yang sudah Baekhyun masak.

"Kau bodoh atau bagaimana? Kau pikir aku gila. Aku tidak mungkin meracuni kalian semua"

Baekhyun mendorong Chanyeol menjauh dan segera duduk disamping eomma-nya sambil pura-pura merajuk. Tuan Park yang melihatnya hanya bisa tersenyum menyaksikan bagaimana anak cucunya yang benar-benar menggemaskan ketika mereka bercanda seperti tadi.

"Ah, sebelumnya aku benar-benar minta maaf untuk yang tadi siang. Khususnya Chanyeol, Appa benar-benar minta maaf padamu"

"Sudah lupakan saja, lagipula aku juga bersalah disini"

"Hmm, bisakah paman dan kakek tidak membahas masalah itu? Kita berada dimeja makan sekarang, lagipula kupikir bibi sudah kelaparan."

Baekhyun tersenyum manis diakhir kalimatnya sambil menatap Sandara yang kini menatapnya bingung, wanita itu mengangguk ragu-ragu kemudian menatap Chanyeol dan Tuan Park secara bergantian.

"Yasudah, jangan membahas masalah dimeja makan."

Tuan Park kembali bebicara dan memulai makan malam mereka setelah ia tersenyum kepada semuanya yang ada disana.

Makan malam kali itu terasa berbeda, rasanya hening dan mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Baekhyun ingin menangis sebenarnya, ia ingat 2 jam lagi ia benar-benar harus pergi darisini. Meninggalkan kakeknya, eommanya dan juga Chanyeol.

Ia menyesal kenapa ia harus kembali ke Korea kalau akhirnya akan seperti ini, harusnya ia tetap di Paris dan menghabiskan liburannya bersama teman-temannya disana. Setidaknya ketika di Paris Baekhyun merasa bisa melupakan Chanyeol, tidak seperti sekarang. Rasanya ia sudah mengubur perasaan pada pamannya itu dalam-dalam, namun entah kenapa lelaki tinggi itu berhasi menggali kembali perasaan Baekhyun dan mengeluarkannya dari lubang dalam yang sudah Baekhyun buat dulu.

"Aku selesai"

"Baekkie, Kau mau kemana?"

"Hm, membereskan barangku. Aku harus ke bandara satu jam lagi eomma. Maaf aku kekamarku duluan"

"Tapi kau bahkan belum melahap makananmu"

"Tak apa bibi. Aku sudah kenyang"

Baekhyun tersenyum pada Sandara yang tetap menatapnya kebingungan -'pura-pura eoh?' pikir Baekhyun-, ia segera berlari kekamarnya tanpa menoleh kepada kakeknya dan Chanyeol yang menyerukan namanya beberapa kali.

Tiga orang diruang makan itu hanya bisa saling tatap, mereka kehilangan selera mereka untuk makan. Mereka semua mengerti bagaimana perasaan Baekhyun, anak itu sangat manja dan cengeng walaupun ia selalu terlihat ceria. Mereka semua yakin kalau anak itu pasti tengah menangis dan merasa tertekan sekarang.

"Aku akan memeriksanya"

"Biar aku saja noona!"

Chanyeol ikut bangkit ketika Minkyung baru saja hendak meninggalkan meja makan. Ia menatap noona dan ayahnya sejenak sebelum ayahnya hanya mengangguk dan memintanya pergi.

"Tidak perlu, kau temani saja sandara"

"Aku harus melihat Baekhyun sebentar, kau tunggu saja disini"

"N-ne"

Sandara merutuk benar didalam hatinya, bagaimana bisa ia mau ditinggal oleh Chanyeol. Bagaimana bisa lelaki tampan itu lebih memilih bocah kekanakan dibandingkan dirinya. Ia kesal bukan main, tapi ia menutupinya dan berusaha terlihat tenang didepan Minkyung yang tengah menatapnya was-was.

.

.

.

TokTokTok

"Masuk saja eomma"

"…"

"Kenapa eomma kesini? Harusnya eomma dibawah saja menemani kakek dan Chanyeol. Kenapa eomma kesini? Eomma ingin mentertawakanku ya? Eomma ingin mentertawakanku yang sedang menangis? Tertawa saja sepuas eomma"

"…"

"Eomma, kenapa hanya diam? Kau tidak mau menertawakan aku yang menyedihkan ini?"

"…"

"Eom- Paman?"

Baekhyun membulatkan matanya dan segera membenarkan posisinya. Ia benar-benar tidak mengetahui kalau itu Chanyeol, ia sedari tadi membenamkan kepalanya dibantal dan ia pikir yang masuk kedalam kamarnya adalah Minkyung karena biasanya memang seperti itu.

Ia segera bangkit dan menghampiri Chanyeol setelah menghapus air matanya yang meleleh. Ia memaksakan sebuah senyum yang cukup manis dihadapan lelaki tinggi itu. Chanyeol membalas senyumannya, lelaki tinggi itu mengusak kepala Baekhyun dan segera menarik lelaki yang lebih pendek itu kedalam pelukannya.

"Maafkan aku. Seharusnya ini tidak pernah terjadi. Maafkan aku Baekkie"

"Paman…."

"Maafkan aku. Pukul saja aku, maaf karena aku terlalu bodoh Baek. Ini semua kesalahanku, harusnya aku tidak perlu mengadakan perni-hmp"

Baekhyun memejamkan matanya, ia menarik leher Chanyeol dan menyambar bibirnya dengan cepat. Baekhyun menciumnya dalam, ia masa bodo dengan yang tengah ia lakukan saat ini. Ia tidak bisa membiarkan Chanyeol menyalahkan dirinya sendiri seperti tadi. Ia tidak suka, ia tidak suka Chanyeol merasa sedih atau apapun itu, rasanya menyakitkan melihat orang yang ia cintai terlihat menyedihkan seperti itu.

Chanyeol meneratkan pelukannya dipinggang Baekhyun, ia bawa tubuh Baekhyun untuk mendekat dengannya. Ia tersenyum dan membalas lumatan-lumatan yang Baekhyun berikan. Ciuman yang tadinya biasa saja berubah menjadi makin menuntut dan dalam.

Baekhyun bahkan tidak segan-segan untuk menghisap-hisap lidah Chanyeol yang ada didalam mulutnya. Ia menyukai sensasi berciuman seperti ini bersama pamanya, rasanya menggelitik dan Baekhyun menyukainya.

Ia membawa tangannya turun ke dada Chanyeol dan melepaskan kancing kemeja Chanyeol dengan acak. Ia melenguh pelan dan tubuhnya menegang ketika Chanyeol mengusap pahanya dan meremas bokongnya beberapa kali.

"Hmpthhhck, c-chanyeol"

Chanyeol menjauhkan wajahnya dan menatap Baekhyun yang kini terlihat menggoda dengan rambutnya yang acak-acakan dan bibir yang membengkak merah. Nafas keduanya terengah dan mereka saling tersenyum sebelum Chanyeol kembali memeluk Baekhyun dan membawanya untuk kembali berbaring diatas ranjang.

Chanyeol tersenyum miring dan merapikan helaian rambut Baekhyun dikeningnya, ia kecup kening itu sejenak dan kembali memagut bibir mereka. Keduanya benar-benar terhanyut didalam kegiatan mereka masing-masing.

Chanyeol menarik Sweater Baekhyun dan menampilkan leher putih mulus milik Baekhyun yang sangat bersih. Ia membenamkan wajahnya disana dan memberikan beberapa kecupan ringan yang berakhir dengan hisapan disana. Leher yang tadi mulus itu pun sudah dipenuhi dengan bercak merah hanya dalam hitungan kurang dari satu menit.

"A-ahh"

Baekhyun memejamkan matanya dengan mulutnya yang tidak berhenti untuk menggumamkan nama Chanyeol disela-sela desahannya. Ia benar-benar mencintai Chanyeol, rasanya memang keterlaluan karena sudah jatuh cinta dengan pamannya sendiri. Namun ia bisa apa? Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak jatuh cinta pada lelaki yang ia akui sangat tampan itu.

Pakaian Baekhyun sudah menghilang entah kemana, Chanyeol pun demikian. Keduanya masih saling berpagutan dengan tangan Chanyeol yang sibuk mengocok milik Baekhyun dengan perlahan.

"Ahh…l-lebih cepat Yeolhhh"

"Baek, aku sudah tidak tahan lagi arrgh"

Chanyeol menarik kaki Baekhyun untuk megangkang dan langsung melesakkan miliknya yang memang sudah menegang kedalam lubang Baekhyun. Lelaki manis itu merintih, rasanya benar-benar perih ketika Chanyeol memaksakan kejantanan yang Baekhyun yakini sangat besar itu masuk kedalam lubangnya yang sangat sempit.

"C-cepatlah paman!"

Chanyeol menggerakkan tubuhnya perlahan dan kembali membuat Baekhyun mendesah, ia tersenyum dan kembali mencium bibir Baekhyun dan melumatnya. Tubuhnya sudah dibanjiri keringat tapi ia tidak peduli. Ia hanya sibuk memaju mundurkan tubuhnya dan menikmati bagaimana rasa nikmat yang mejalar ditubuhnya ketika hole sempit Baekhyun menjepit miliknya.

"A-ahh aku t-tidak bisa menahan lagihhh paman ahh"

"Bersama sayang"

"Nghh, AKHHH"

Nafas keduanya terengah dengan tubuh mereka yang sudah mengkilat karena keringat, Baekhyun memejamkan matanya dan merasakan bagaimana kejantanan milik Chanyeol yang bahkan masih berada didalam tubuhnya. Ia tersenyum sangat manis dan membuka matanya hingga bertatapan langsung dengan mata Chanyeol.

"Maafkan aku karena melakukan ini padamu Baekkie"

"Tak apa, terimakasih paman"

"Sekarang pakai bajumu. Setidaknya kau harus bersiap untuk pergi ke bandara."

"Ah, kau benar. Kalau begitu menyingkirlah!"

Chanyeol terkekeh sejenak dan memunguti pakaiannya dan juga Baekhyun untuk segera mereka kenakan. Baekhyun membuka lemarinya dan melihat-lihat sejenak lemari yang hampir kosong itu. Ia mengambil sebuah sweater baru untuk ia kenakan, ia mengatakan pada Chanyeol kalau sweater yang tadi ia kenakan terkena spermanya ketika Ia klimaks tadi dan Chanyeol hanya mengangguk dan membiarkan lelaki manis itu berpakaian sesukanya.

"Baekhyun! Paman Jung sudan menunggumu!" Baekhyun menghentikan acara berpakaian sejenak ketika mendengar eomma-nya berteriak dengan nyaring. Ia menghela nafas dan tersenyum singkat pada Chanyeol yang menatapnya sendu.

"Aku tidak percaya harus meninggalkan rumah ini lagi. Huft, menyebalkan"

"Hei, jangan seperti itu! Cepatlah lulus dan mintalah pada kakek untuk kuliah disini saja."

"Ne, aku akan berusaha"

"Aku akan menunggumu Baekkie"

"Paman?"

"Ne?"

Baekhyun menghambur kepelukan Chanyeol, ia membenamkan wajahnya didada lelaki tinggi itu dan tersenyum sangat manis. Ia tak tahu kenapa ia malah tersenyum disaat mengharukan seperti ini. Ia hanya mengikuti kata hatinya untuk tersenyum, pelukan keduanya terlepas dan Baekhyun memberikan kecupan singkat dibibir yang lebih tinggi hingga menimbulkan kekehan dari mulut mereka masing-masing.

Cklek

"Kau sudah siap sayang?"

"Ne eomma, aku…..sudah sangat siap"

Baekhyun menarik nafasnya berat dan segera menarik koper besarnya untuk meninggalkan kamarnya. Ia berhenti didepan kamarnya dan menatap kakeknya serta Sandara yang baru saja menghampirinya. Ia tersenyum dan memeluk kakeknya dan sandara bergantian.

"Aku menyayangi kakek."

"Ne, kakek juga menyayangimu"

"Bibi, aku…..titip Chanyeol padamu. Maafkan aku karena…ya pokoknya aku minta maaf. Tolong jaga dia"

Sandara hanya bisa diam, ia tak berniat menjawab apapun. Ia sudah cukup tahu kalau kedua lelaki itu saling mencintai, ia menatap Baekhyun dari bawah sampai atas dan tiba-tiba saja menyeringai melihat ada yang aneh dengan leher Baekhyun.

'Kau pikir aku akan bersikap baik padamu hanya karena kau meminta maaf? Uh maaf saja, aku bahkan tidak berpikir untuk memaafkanmu bocah. Kalau bisa aku akan membuatmu tidak akan pernah kembali kesini lagi'

"Tunggu."

Ia mempersempit jaraknya kepada Baekhyun, tangannya terangkat dan menyentuh salah satu kissmark Baekhyun. Ia bersorak senang didalam hati. Ini kesempatan baginya untuk membuat dua orang lelaki itu tidak akan pernah bertemu lagi.

"Apa yang ada dilehermu itu?"

Bohong kalau Sandara tidak mengetahui apa itu, bohong juga kalau Chanyeol dan Baekhyun tidak terkejut mendengarnya. Kedua lelaki itu saling tatap sejenak sebelum Baekhyun tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"G-gigitan nyamuk hehe"

"Benarkah? Tapi itu terlihat seperti ki-"

"Coba kakek lihat!"

Dan seseorang harus bisa melihat bagaimana Sandara yang menyeringai kala itu, ia mundur selangkah dan membiarkan Minkyung dan Tuan Park melihat kissmark dileher Baekhyun.

Mata kedua orang itu membulat terkejut saat mendapati tidak hanya ada satu tanda seperti itu dileher Baekhyun. Wajah Baekhyun berubah menjadi ketakutan dan Chanyeol dibelakangnya hanya bisa diam tanpa berbuat apapun sambil bertatapan tajam dengan Sandara yang malah menyeringai kearahnya.

" .Sayang"

Chanyeol benar-benar tidak suka dengan Sandara yang seperti itu, apalagi ketika wanita itu bergumam tanpa suara kearahnya. Ingin sekali Chanyeol menyeretnya keluar dan melemparnya ketengah hutan.

"Park Chanyeol!"

Sial, suara Tuan Park benar-benar tidak bersahabat. Chanyeol hanya bisa berharap-harap cemas ayahnya tidak akan mengatakan hal-hal yang bisa membuatnya jantungan sekarang. Seperti ia tidak akan dipertemukan kembali dengan Baekhyun atau lelaki tua itu berniat menikahkan Baekhyun dengan orang pilihannya. Chanyeol tidak akan sanggup mendengarnya jika seperti itu.

"Terkutuklah kau bocah nakal!"

TBC.

Hallo Gaes^^

Segitu aja buat Chap ini? Ini udah 2x lebih panjang dari biasanya hehe

Makasih buat yang review di Chap sebelumnya^^ aku seneng bacanya hehe.

Love Y'all^^

Mind To Review?