Aku mengerjapkan mata—tidak siap dengan semua berkas cahaya yang menyerang mataku. Perlahan tapi pasti, siluet kekuningan yang kutangkap berubah menjadi wajah Naruto seutuhnya. Yang aneh, cengiran tidak ada di wajahnya. Raut usil yang selalu membuatku ingin menamparnya menggunakan buku kamus bahasa asing lengkap itu digantikan oleh kerutan khawatir. Senyum tipis mulai terbentuk di wajahnya, saat kurespon panggilannya dengan anggukan pelan.

"Minum dulu!" ujar Naruto, seraya menyerahkan segelas ocha hangat untukku. Cairan itu setidaknya meredakan rasa nyeri tenggorokan dan pening yang kurasakan.

Sudah lebih 'bangun', kuselidiki sekali lagi di mana aku berada. Kasur putih yang nyaman, gorden kotak-kotak, ruangan serba putih berbau menyengat. UKS, tentu saja.

Niat hati ingin sedikit mengurut pelipis, jari tanganku menyentuh sesuatu yang tak seharusnya ada di kepalaku. Teksturnya seperti…perban? Ah. Aku ingat. Tadi aku sedang memantau anggota klub basket latihan. Aku duduk di kursi cadangan, tak bergeming, bahkan hingga bola oranye melenceng keluar lapangan dan menghantam kepalaku dengan suksesnya.

Aku KO. Kurasa tadi aku sempat menyeberangi sungai akhirat.

"Kau baik-baik saja, Sas?" Naruto bertanya khawatir.

Aku menatapnya datar, lalu berujar, "Aku sekarat." Tentu saja, dia langsung tertawa.

Naruto membuka gorden pembatas kasur yang kutempati dengan yang lainnya. Tertangkaplah olehku, tiga orang adik kelas dengan tampang ketakutan. Satu di antara mereka tampak pucat. Bibirnya terkatup rapat. Tak perlu memicing untuk bisa memastikan bahwa bahunya bergetar.

Dibantu oleh Naruto, aku mendudukan diri. "Apa aku mirip dengan ring basket di matamu?" Tanyaku tanpa basa-basi.

Dua dari tiga menyikut satu yang berdiri di antara mereka. Ah, mana kamera saat dibutuhkan? Wajahnya saat ini seperti seorang narapidana yang hendak dihukum mati.

"MAAF!" koor ketiganya, bersujud di lantai.

Terkutuklah Neji yang bisa-bisanya melimpahkan tanggung jawab klub padaku, sehingga aku terbiasa dengan tampang memelas dan tersiksa dari adik kelas maupun teman seangkatan. Kalau menikmati detik-detik ketakutan mereka bisa disebut sinting, menjadi sinting pun aku rela.

Barangkali hantaman bola basket telah membuat otakku mengalami malfungsi sampai berpikiran seperti ini.

"Sasuke!" tegur Naruto. "Kau akan membiarkan mereka bersujud terus di lantai demi memohon maaf?"

"Hn." Mungkin aku sudah keterlaluan.

"Mana bisa seperti itu! Kalau perlu minta mereka mengepel lantai ruang klub menggunakan kuas lukis!"

…Atau mungkin tidak.

"KAMI MOHON MAAFKAN KAMI!"

Aku menyuruh mereka untuk berdiri dan melupakan segalanya. Tadi itu aku hanya sedang jahil. Tapi, melihat mereka masih tampak ragu-ragu, akhirnya aku tertawa juga.

"Sudah, sekarang kalian pulang saja!"

Pamit—masih dengan nada bergetar ketakutan, tiga juniorku itu akhirnya meninggalkan UKS. Aku memandang keluar jendela—langsung menatap lekat pada bangunan di seberang dan siluet merah muda yang dengan mudah kutangkap. Pukul enam sore—kuterka. Biasanya pukul enam sore Sakura dan rengrengan Pengurus OSIS bubar.

Kalau boleh jujur, aku merindukannya. Sekarang kami tak sekelas. Sepulang sekolah, kegiatan rutinitas Pengurus OSIS seolah mencuri Sakura dariku. Saat Sakura santai, aku yang sibuk mengurusi keperluan klub. Apalagi sebentar lagi kami akan mengikuti kejuaraan Musim Gugur Tahunan antar-SMA. Tak ada waktu untuk berhenti berlatih.

Sesekali Sakura mengirim pesan singkat. Sepatah dua patah kata motivasi. Tapi, aku malas membalasnya. Kusadari aku ingin berbincang langsung, bukan lewat tulisan.

Lalu, siluet berambut merah membuat indera penglihatanku menajam. Di sana, kulihat Sasori membawa kantong plastik—makanan isinya, aku yakin. Setelah itu mereka tak dapat kulihat lagi.

Kedongkolanku bertambah saat Naruto tiba-tiba mendendangkan lagu OST "Frozen"—Let It Go. Maksud Naruto itu apa? Kucoba untuk mengabaikannya dan meraih sekaleng isotonik yang ditinggalkan juniorku. Naruto terus menyenandungkan Let It Go sampai lagunya habis. Setelah itu, ia menatapku serius.

"Kudengar Sakura dan Sasori balikan,"

Aku tersedak.

"Jangan kaget begitu, Sas! Sasori-senpai pantas, karena dia terus berusaha mengejar kembali cintanya Sakura-chan, saat yang kau lakukan hanyalah merajuk dan menangkis semua perasaan sakral itu."

Tolong beri tahu aku kalau asam sianida dijual bebas. Aku ingin menyuapi Naruto sebotol penuh—kalau perlu dengan botol-botolnya sekalian. Apa-apaan tatapan kecewa itu? Dan apa pula maksud perkataannya?! Siapa yang MERAJUK? Siapa pula yang punya perasaan dengan siapa?

…Okelah, aku mengaku. Belakangan ini rasanya aku tidak semangat. Kalau mencuri dengar soal curhatan anak perempuan mengenai perlakuan kekasih masing-masing, aku mulai membayangkan reaksi Sakura jika kulakukan itu padanya. Setelah berpikir kotor, aku mulai memandangnya lebih. Sahabat macam apa aku ini?

Apakah…semua ini memang normal, seperti yang Itachi dan Naruto katakan?

.

.

.

All of Me

"Five"

Aku pernah membaca sebuah literatur. Katanya, remaja kekinian paling suka menyelam ke dalam timeline sebuah situs motivator sambil memutar lagu-lagu mellow ketika galau. Katanya juga, lirik-lirik lagu yang biasanya dinyanyikan dengan nada melenceng—tidak peduli kalau nyawa gendang telinga tetangga dipertaruhkan, berubah jadi dinyanyikan dengan penuh penghayatan—bahkan tak jarang hingga mewek tersedu-sedu.

Awalnya kupikir penulis literatur itu sedang khilaf. Tapi, ketika kurasakan sendiri—meski tidak sampai mewek tersedu-sedu, kutinjau ulang semuanya adalah fakta. Kalau dalam keadaan normal aku harus meminta Itachi memutar ulang lagu yang dimainkan Music Player hingga paham isi maksudnya, kali ini sekali tancap langsung kena hati dengan kecepatan cahaya.

I never had anybody treat me quite like you do, I love your honesty…

Oh yeah, we met, we clicked, we shared a vibe that was true…

And it was plain to see, it was plain to see, oh yeah…

I did not want to face the truth…

You said you had a man…

And you said you were so in love with him and nobody else…

What do you do when someone don't love you…

They show you all their feelings like you're a friend,

Like you're a friend…

What do you say when things don't go your way…

And you're frozen in a picture like you're a friend,

Like you're a friend…

Aku bingung. Ini pertama kalinya aku merasa begini. Melakukan apa-apa malas, kurang gairah. Yang diinginkan hanya bergumul dalam selimut dan membiarkan diriku ditelan bulat-bulat oleh alunan lagu galau yang tanpa sadar kukoleksi. Bertanya pada Itachi, aku tak tega. Dia sudah ada di semester akhir kuliahnya—mulai menyusun skripsi yang kuyakin dapat membuat keriput dekat hidungnya memanjang. Paman Obito? Gengsi. Harga diri tidak mengizinkan. Bertanya pada Ibu, yang kudapat malah pelukan dan tangis bahagia.

Aku curiga dia itu adalah alien. Bukan bermaksud berlebihan. Tapi, Ibu selalu over-protektif kalau anaknya kenapa-kenapa. Lha ini? Bukannya bantu cari solusi malah menangis bahagia.

Bertanya kembali pada Naruto? Halah. Akhirnya anak itu pasti menyudutkanku dan bilang untuk jujur pada Sakura tentang semuanya.

Jujur soal apa? Kalau aku pernah berpikir kotor tentangnya? Kalau aku mulai memandangnya sebagai 'cewek' daripada sahabat? Kami tidak mungkin dan tidak boleh saling suka. Itu yang Sakura katakan selepas pentas drama di sekolah dasar kami dulu. Mana mau kukorbankan persahabatan kami?

Selagi aku sibuk dengan monolog batinku yang tidak berawal dan tidak berujung ini, ponselku menerima sebuah pesan singkat.

From : Akasuna Sasori

Bisa kita bertemu di tempat biasa?

.

.

.

Sore itu aku dan Sasori bertemu di kedai kopi cukup terkenal di tengah kota. Seperti biasa, banyak sekali isu-isu politik yang sedang marak di layar kaca kami bicarakan. Bahkan diam-diam kulirik, pelayan kedai menatap kami dengan aneh. Tidak ada yang kami pesan selain bercangkir-cangkir Latte dan Ocha.

Sejak menerima pesan singkat dari seniorku ini, perasaanku tidak enak. Apalagi dengan pembawaan tenang dari wajahnya yang tak luput dari senyum itu. Mungkin kaum hawa di sekitar kami bisa terpesona padanya. Tapi dalam pandanganku, senyum itu menyebalkan. Seolah sedang meremehkan.

Perasaanku terbukti, ketika ia mengakhiri pertemuan ini. Kami keluar kedai bersama, lalu Sasori menahanku untuk pulang duluan.

Ada kilatan berbahaya di matanya.

"Sebelum berpisah, ada yang mau kukatakan," Dia menatapku lurus. "Aku tidak mau menang dari orang yang bahkan tidak melawan."

Raut wajahnya kembali seperti biasanya. Sasori menepuk pundakku, kemudian berbalik dan berlalu dengan sepeda motornya.

Untuk dua menit selanjutnya, aku hanya diam tak berkutik di sana.

Apa maksud Sasori?

.

Niatku untuk menghindar dari Naruto gagal total. Kami bertemu di stasiun kereta. Naruto sedang mengantri minuman hangat, lengkap dengan pakaian hangat rapi. Di bahunya tersampir tas yang cukup gemuk.

"Aku mau pulang ke Tokyo dulu," imbuh Naruto saat aku bertanya.

Di situ aku merasa bodoh. Aku bahkan tidak tahu kalau Naruto berasal dari Tokyo! Aku benar-benar sahabat yang buruk bagi Sakura maupun Naruto.

"Kau dari mana? Sampai-sampai terlihat butuh tempat persembunyian begitu." Naruto tertawa. Tangannya meninju bahuku main-main.

"Terlihat jelas, ya?" tanyaku spontan.

Aku terheran-heran saat senyum Naruto menipis. Dia menggelengkan kepalanya, lalu berucap pelan, "Bagi orang asing, wajahmu mirip papan penggilesan. Tapi, jangan remehkan insting seorang sahabat."

Aku tidak tahu harus merespon apa. Tapi, aku tahu apa yang akan kulakukan selanjutnya.

"Aku ikut."

.

.

.

Sepanjang perjalanan, Naruto menceritakan banyak hal. Pengalaman seru masa kecilnya, kejadian memalukan yang ia alami gara-gara sepupunya, kenakalannya semasa SMP, dan masih banyak lagi. Kurasa dia terlahir sebagai story teller alami. Kudapati ceritanya benar-benar menarik untuk didengarkan. Pantas saja dia sering dikerumuni banyak orang ketika mengoceh. Terkadang aku iri dengan kebebasannya dalam mengekspresikan diri.

Sampai di Tokyo, kami sudah ditunggu oleh sebuah mobil sedan hitam di seberang stasiun. Supirnya berbadan tegap, wajahnya tampak semakin sangar dengan codet di wajahnya. Tatapannya tampak berbahaya. Beradu pandang dengan Naruto, barulah netra hitam itu melembut. Bahkan pria itu tersenyum dan membungkukan badannya.

"Tuan Muda." Sapanya.

"Lama tak berjumpa, Ibiki-san!" Naruto nyengir lebar, melirikku sekilas. "Ini Uchiha Sasuke."

Tadinya aku ingin mengajak pria itu berjabatan tangan. Tapi, begitu matanya memicing berbahaya padaku, aku hanya dapat meneguk ludah. Tatapan pria itu sarat akan ancaman. Berani berulah, kubunuh kau!—begitu yang kubaca dari aura berbahayanya. Benar atau tidaknya, aku tidak yakin.

Mobil mulai berjalan, barulah aku berani membuka mulutku. Setidaknya aku tak dapat melihat langsung lirikan tajam pria bernama Ibiki itu. Hanya merasakannya.

"Tuan Muda?" tanyaku atas panggilan pria bernama Ibiki itu.

"Kau benar-benar tidak tahu?" Naruto berdecak takjub.

Okelah, aku memang sahabat yang buruk. Aku tidak tahu-menahu soal sahabatku, pun bertanya padanya. Tapi, untuk yang satu ini kurasa bisa dimaklumi. Sekalipun Naruto membeberkan bahwa dia seorang tuan muda, aku tidak akan percaya. Biaya sewa apartemennya lebih murah dari Sakura. Meski pintar memasak, Naruto lebih sering makan ramen instan. Sikapnya yang suka berbuat ulah tidak mencerminkan dia berasal dari keluarga terpandang. Maaf, bukan maksudku membeda-bedakan. Tapi, kalau tuan muda yang cukup kau tahu hanyalah Hyuuga Neji, Naruto sama sekali tidak termasuk kriteria tuan muda.

Yang aku tidak mengerti, ketidaktahuanku mengundang tawa dari supir sangar yang sejak awal tampak berniat memutilasiku.

Memangnya Naruto siapa? Sebegitu konyolnya jika aku tidak tahu, heh?

Tak jauh dari stasiun, mobil sedan yang kami duduki berbelok masuk ke areal khusus yang tidak sembarang orang bisa memasukinya. Hamparan rumput hijau menyambut sebelum mulai memasuki taman yang dipenuhi pohon-pohon menyejukkan. Areal ini juga dikelilingi oleh aliran sungai.

Kalau Naruto tidak menyikut dan menertawaiku, mungkin aku tidak sadar tengah melongo.

Mendadak, aku merasa bodoh. Pantas saja pertama kali Naruto memperkenalkan diri, aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Teguran rutin yang kudapat dari Sakura dan Ino untuk menjaga sikap. Tatapan segan dari hampir semua lapisan siswa, maupun orang yang berpapasan dengannya.

Aku dibawa ke Imperial Palace, oleh sahabat yang aku tidak sadari ternyata ialah Putera Mahkota.

"Ayahku seorang Perwira, Ibuku aktivis LSM, tapi aku bukan warga Negara yang baik? Tuhan…" aku meratapi kebodohanku. Bukan bodoh lagi. Aku tolol.

Aku tidak berani melirik ke samping. Bahkan kalau boleh aku ingin pulang sekarang juga dan mengubur diri hidup-hidup. Aku merasa malu. Pantaskah aku duduk di samping Naruto—bahkan aku tidak tahu harus memanggilnya apa—seperti ini?

Lalu kekehan Naruto menarik perhatianku. "Aku tidak peduli kalau kau adalah warga Negara yang buruk. Kau sahabat yang baik, tidak berteman denganku karena suatu keharusan atau takut akan statusku, Sasuke. Itu sudah cukup." Katanya.

Aku mendadak canggung. "Bisakah kau tidak mengatakan hal memalukan seperti itu?"

Naruto mengerling, senyum di wajahnya terlihat…letih? Kudengar, kehidupan sosialita itu penuh dengan pencitraan. Pastilah Naruto jengah dengan semua itu, kan?

"Bisakah kau tidak menganggapku berbeda?" Naruto balik bertanya.

Saat aku mengangguk, cengiran kembali di wajahnya.

.

Awalnya agak sulit menghilangkan kecanggungan dan kegugupan. Apalagi selama di Imperial Palace, Kaisar bergabung denganku dan Naruto. Tapi, lama-lama aku bisa mengesampingkan fakta bahwa mereka adalah pemimpin yang harus dihormati, lalu hanya memandang mereka sebagai pasangan ayah-anak biasa.

Kurasa…aku bisa memakai metode yang sama untuk menyelamatkan persahabatanku dengan Sakura. Semoga saja…aku bisa tetap menekan ambisi dan kebencian asing yang kurasakan saat perpisahanku dengan Sasori dari pertemuan kami.

Aku yakin, rasa 'suka'ku pada Sakura masih dasar. Aku harus mempertahankan tanggapan bahwa Sakura itu sahabatku, sebelum semuanya terlambat.

Akan kubuktikan bahwa teori Itachi itu salah!

.

.

.

Bersambung

[A/N]

.1 Penggalan lirik di atas adalah lagunya Blue-Like A Friend.

.2 Ditegaskan kembali, Possible! PLOT BUNNY! Tidak seperti karya lain yang membuat neuron otak mengkerut demi revisi dan segala tetek-bengeknya, yang satu ini saya bebaskan mengikuti kata hati dan jari. #abaikan

.3 Naruto adalah Putera Mahkota Kekaisaran Jepang. Dengan alasan ingin mandiri, ia hijrah ke Konoha dan tinggal di apartemen sederhana. Sengaja memakai nama 'Uzumaki' di samping 'Namikaze' untuk mengelabui para social-climber yang hobi mengorbankan sosialita sebagai umpan mereka pada ketenaran. #apaansih

[Re-review arena]

Shofie Kim

Tidak apa-apa, terima kasih sudah meninggalkan jejak :D

Crystal Sheen

Hahaha awas badannya sakit pake jungkir balik segala :v

Terima kasih mau menunggu ahahay!

echaNM

Iya kali, hahaha! Bayangin aja, gak susah kok :v

Raizel's wife

Haha senang telah membuatmu senang (:

Favorite-mu juga? #toss Iya sama-sama haha…

Wokkeee~

Williewillydoo

Hahaha… Tau nih si ayam! #lujugaayam

Runa Hikari

Haha… Mungkin nanti saya bikin side-story. Mungkin, ya. Mungkin. Haha

Uchiha Junkie

Disadarin dia malah ngeyel. Gimana dong? :

Naya Aditya

Semoga makin suka^^

Hyuugadevit-Chery

Iya pasti hahaha… Hubungan mereka complicated tapi cetek. Gara-gara Sasunya gitu *lol*:v

Bang Kise Ganteng

Hai juga kakak. Dipersilakan, tidak akan dilarang kok, haha!

Suka? Syukur deh. Oke siap~! SasoSaku muncul chapter depan.

Doumo^^

Da Discabil Worm N A

Jangan panggil ana tante, kamvret. Punya KTP aja saya belum :'v

Karena saya baik, jadinya saya balas review punyamu. Padahal aslinya males *ehh hahahaha

Semoga saja (':

Iya ini sudah dibalas.

Lalat BAWEL! :v

Blackchiatto

Haha… Nggak tahu. Niat nembak aja nggak sepertinya.

Hmm… ojekzone? Boleh juga *lol*

Sip. Terima kasih^^

Mustika 447

Setelah nyanyi, cek pendengaran orang-orang di sekitar Anda. Siapa tahu butuh biaya periksa THT *ehh hahaha

Ranraihan 03

Yaelah baru gitu doang sih gak bisa dibilang mesum. Coba bandingkan dengan isi otak anak laki-laki jaman sekarang, apalagi yang doyan JAV. Bhakss :v

Annis 874

Hai reader, ihh saya suka kalau kau suka, wkwkwk

Iya saya lanjut selama jantung ini masih berdetak. #azeek

Zarachan

Sudah di lanjut~

Honey-Sweatpea

Hai hallo Kak Chacha^^

Hahaha… Yup. He's doing it. So stupid yet gorgeous, isn't he? Oh, don't worry. Sasuke will always have that stupid pure side of his. Hahaha…

Lah kan kasian :v Mereka udah berencana mau married lho! #niatbikinmakinpatahhaticeritanya

Aye-aye!

Afwan!

Chic White.

Ada yang terlewat atau salah penulisan ID? Semoga tidak.

Ada kritik/saran/pertanyaan? Kolom review selalu tersedia (:

Thanks for all kind of supports! I appreciate it (:

Sekian terima gaji,

Chic White

(Your Possible!Chic-ken *roosting*)

Catatan tambahan : Untuk yang protes mengapa ff ini saya up lebih cepat dari UP maupun TT, jawabannya simpel saja. Bobot ceritanya berbeda. Yang ini ringan, tidak seperti dua ff itu yang butuh banyak pertimbangan. Kalian mau yang terbaik dari saya? Kalau begitu tunggu dengan tenang. Tidak mau menunggu dan tetap menuntut untuk cepat update? Saya tidak memaksa kalian untuk membaca cerita buatan saya. Kalau sikap saya yang begini kalian anggap sebuah keangkuhan, saya tidak peduli. Keep calm and love yourself~