My Enemy?
Casts:
-Jaehyun
-Johnny
Happy Reading
Jemari-jemari kecil putih dan lentik sedang menari diatas tuts berwarna hitam dan putih, menghasilkan nada sederhana yang indah. Senyum mengembang dari pipi chubby nya saat Ia mendengar alunan nada yang dihasilkannya, orang dewasa yang berdiri disampingnya ikut tersenyum bangga mendengarnya. Merasa bangga anak laki-laki yang kisaran umur sepuluh tahun, masih dengan senyum polos yang menggemaskan, terus menggerakkan jemarinya diatas tuts piano, menyelsaikan sebuah lagu, sambil membaca note balok dibuku yang terletak di piano tersebut, menyelsaikannya sampai berakhir lagu yang dimainkannya.
"Kau hebat Jaehyun, itu permainan yang sangat bagus. Kau bisa menjadi pianis yang berbakat jika terus berlatih" pujian dari pria dewasa yang mendengarkan permainan bocah sepuluh tahun bernama Jaehyun itu, sambil mengusap surai lembut anak yang duduk didepan piano hitamnya.
"Terimakasih saem. Eomma dan Appa pasti senang kan? apalagi Grandma" ucapnya antusias yang dibalas anggukan dari gurunya.
"Mereka pasti bangga padamu, kau harus terus berlatih agar bisa membuat mereka lebih bangga lagi nantinya" sang guru berlutut dihapan Jaehyun sambil mencubit gemas pipi chubby bocah sepuluh tahun tersebut.
Mereka melanjutkan lagi kegiatan mereka, mempelajari satu lagi lagu yang akan dimainkan Jaehyun nantinya. Memperlajari note-note baru untuk Jaehyun. Disaat seperti ini adalah saat yang paling menyenangkan untuk Jaehyun, melakukan apa yang paling disukainya. Jaehyun sangat suka bagaimana dentingan piano menghasilkan nada yang sangat indah ditelinganya, apalagi nada tersebut berasal dari jemarinya, Jaehyun benar-benar sangat suka. Bisa dikatakan ini adalah hal yang paling membahagiakan untuknya, pikiran polosnya mengatakan bahwa ini lah yang paling disukainya seperti alasan mengapa dia dilahirkan didunia ini, Jaehyun merasa bahwa Ia lahir untuk menggerakkan jari jemarinya diatas tuts hitam putih seperti sekarang ini.
Suara pintu yang terbuka menginterupsi Jaehyun dan guru piano nya. Jaehyun menoleh kearah pintu dan tersenyum senang saat mengetahui siapa yang baru saja masuk ke ruang latihannya ini. Orang yang selama ini ditunggunya, salah satu orang yang sangat Jaehyun inginkan untuk mendengarkan permainan pianonya.
"Appa"
"Kau sedang apa Jaehyun?" Yunho menghampiri putranya, sang guru membungkukkan badannya ke arah Yunho. Ini adalah pertama kalinya Yunho berkunjung saat Jaehyun sedang berlatih.
"Appa, aku bisa memainkan sebuah lagu untukmu, kau ingin mendengarnya?"
Yunho tersenyum dan mengangguk, Ia tau sudah setahun ini Jaehyun belajar untuk memainkan alat musik piano, neneknya sendiri yang mendatangkan guru privat untuk Jaehyun. Tapi selama satu tahun itu Yunho tidak pernah mendengarkan bagaimana putranya memainkan alat musik tersebut, karena kesibukkannya. Ia baru mendengar dari istrinya bahwa Jaehyun bermain dengan sangat baik. Maka kali ini Yunho tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mendengarkan permainan Jaehyun.
Yunho tersenyum bangga saat Jaehyun memainkan pianonya. Anak iu tidak henti-hentinya menampilkan senyuman menggmaskan dari bibirnya, terlihat jelas dimple di kedua pipi chubby nya. Jaehyun berusaha keras untuk membuat ayahnya senang dan bangga padanya. Eomma nya sudah mendengar permainannya, begitu pula dengan neneknya, hanya Appa nya yang belum pernah sama sekali mengetahui bagaimana Jaehyun memainkan pianonya. Maka dari itu Jaehyun berusaha keras untuk membuat kesan yang baik dimata Appa nya. Hingga dentingan terakhir dari pianonya dan Jaehyun menyelsaikan permainannya.
"Bagaimana Appa? Apakah itu keren?"
Yunho mengangguk dan memberikan dua jempolnya kepada Jaehyun "Itu permainan yang bagus Jaehyun"
Tentu saja wajah Jaehyun langsung berseri mendengar pujian dari Appanya, ini lebih membanggakan daripada mendengar seribu kali pujian dari guru pianonya, karena pujian sederhana tersebut terlontar dari mulut ayahnya sendiri.
"Aku ingin menjadi pemain piano yang handal ketika dewasa nanti"
Ekspresi Yunho seketika berubah kala mendengar tutur kata yang polos dari mulut Jaehyun tentang cita-citanya.
"Kau tidak bisa Jaehyun"
Jika semua orang tua akan mengatakan 'Itu cita-cita yang bagus, capailah cita-citamu setinggi langit nak' atau 'Anakku pasti bisa menggapai cita-citanya jika ingin berusaha untuk menggapainya' namun yang didapat Jaehyun adalah satu kalimat yang seakan menjatuhkannya. Sang guru memandang Yunho dengan penuh tanda tanya, menurutnya tidak sepantasnya Yunho berkata seperti itu, akan membuat Jaehyun patah semangat nantinya.
"Kenapa? Apakah permainanku buruk?" Jaehyun kecil mulai memandang ayahnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena baru saja mendengarkan kenyataan jika ayahnya tidak mendukungnya.
Yunho berlutut di depan anaknya dan menatap mata coklat sang putra yang sedikit tertutup dengan air mata yang terbendung "Permainanmu sangat indah, kau sangat luar biasa. Tapi kau tidak bisa menjadi apa yang baru saja kau katakan karena itu bukan tempatmu Jaehyun. kau terlahir bukan untuk itu"
"Lalu?"
"Tempat mu sama sepertiku, dimasa depan nanti kau harus menggantikanku. Kau dilahirkan untuk itu. kau bisa memainkan pianomu, aku tak akan melarangnya tapi kau tidak bisa menjadi apa yang baru saja kau inginkan Jaehyun, karena itu bukan takdirmu"
"Aku tidak mau"
"Jaehyun!" Yunho mulai sedikit menaikkan suaranya. Tidak terdengar lagi nada lembut dari tutur katanya, dengan ekspresi yang berubah jadi sedikit kurang menyenangkan. Sang guru piano tidak berani berkata apapun hanya diam memperhatikan saja kedua bapak dan anak itu.
"Tempat Appa sangat membosankan, aku tidak menyukainya. Aku tidak bisa bertemu Appa setiap hari karena itu. Aku suka jika aku duduk disini, didepan piano ini dan menghasilkan nada yang indah, ini menyenangkan Appa. Jauh seribu kali lebih menyenangkan dari apa yang Appa lakukan sekarang" Jaehyun mungkin tak mengerti apa yang ayahnya lakukan, apa yang ayahnya maksud sebagai 'Tempat' namun Jaehyun sering bertanya kepada neneknya mengapa Ia tidak bisa menemui Appa dan Eomma nya setiap hari. Dan jawaban yang diberikan oleh neneknya selalu sama yaitu 'Bekerja' jika otak polos Jaehyun tidak salah menyimpulkan maka arti dari 'Tempat' yang ayahnya maksud adalah sebuah pekerjaan, pekerjaan yang sekarang ditekuni ayah dan ibunya. Jika memang itu benar maka Jaehyun tidak menginginkannya, karena menurut Jaehyun pekerjaan itu yang membuat dirinya jarang bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Kau belum mengerti, jika sudah dewasa nanti kau baru akan mengerti Jaehyun"
"Aku tetap tidak mau. Biarkan aku menjadi apa yang aku inginkan Appa" Jaehyun mulai meneteskan air matanya, membuat Yunho menghembuskan napasnya dan menghapus air mata yang mengalir di pipi Jaehyun. Yunho tau anaknya ini masih sangatlah muda untuk mengerti apa yang dimaksudnya.
"Cepatlah tumbuh dewasa agar kau mengerti maksduku"
Jaehyun menyingkirkan tangan ayahnya dari wajahnya dan turun dari kursi pianonya, pergi meninggalkan Yunho dan guru pianonya disana. Ia kesal, sudah tidak ingin lagi melanjutkan latihannya, ayahnya baru saja menghancurkan mood nya. Memujinya di awal tapi mengatakan sesuatu yang tidak enak didengar oleh Jaehyun setelahnya. Bocah sepuluh tahun itu pergi ke kamarnya sambil menangis.
"Bisakah kau tidak datang lagi besok dan seterusnya" setelah kepergian Jaehyun, Yunho berkata pada sang guru yang membuat guru tersebut terkaget dan menatapnya bingung.
"Maaf tuan tapi apa maksud anda?"
"Jaehyun akan terus seperti itu jika dia terus berlatih, maka mulai besok jangan lagi datang dan mengajarkannya"
"Tapi tuan, bagaimana dengan nyonya besar? Beliau lah yang menyuruhku untuk mengajarkan Jaehyun. dan Jaehyun cukup berbakat untuk..."
"Aku ayahnya" Yunho memotong ucapan sanga guru dengan tegas "Aku yang ber hak mengaturnya, urusan dengan neneknya Jaehyun adalah tanggung jawabku. Ku tegaskan sekali lagi, jangan datang mulai besok dan seterusnya" Yunho pergi meninggalkan guru piano Jaehyun yang hanya bisa terdiam tak berani mengatakan apapun lagi. Sang guru harus menerima kenyataan bahwa baru saja Ia di pecat oleh Yunho.
.
Jaehyun duduk dengan bibir yang ditekuk kebawah di meja makannya, beberapa maid meletakan berbagai jenis makanan diatas meja, sebagian adalah makanan kesukaan Jaehyun namun bocah tersebut sepertinya tidak tertarik sama sekali dengan apa yang tersaji dihadapannya. Biasanya Jaehyun akan sangat antusias jika makanan favorite nya tersaji di atas meja, namun kali ini Jaehyun hanya bisa memandang kosong makanan dihadapannya dengan mulut cemberutnya.
"Kenapa Jaehyun? apa kau tidak suka?" ibunya bertanya padanya, setelah melihat anaknya memandang tidak penuh minat dengan makanan yang tersaji.
Jaehyun hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan ibunya. Seharusnya hari ini Jaehyun senang, bisa makan bersama kedua orang tuanya, jarang sekali kedua orang tuanya ini bisa duduk bersama di meja makan dengannya.
"Lalu kenapa kau cemberut terus dari tadi hm?"
"Appa" kini Jaehyun mengalihkan pandangannya dan menatap ayahnya yang duduk tak jauh darinya, membuat Yunho menatap anaknya penasaran.
"Kenapa Jaehyun?"
"Guru piano ku sudah tidak hadir selama dua hari, ini menyebalkan. Kenapa Ia tidak bisa datang? Apakah Ia sakit?"
Yunho menatap istrinya yang juga memandangnya balik. Ia memang belum memberitahu Jaehyun bahwa pada hari itu Ia memberhentikan guru pianonya, bahkan Yunho juga tidak mengatakan kepada ibunya –neneknya Jaehyun- tentang hal ini. Hanya istrinya yang mengetahui semuanya. Mendengar pertanyaan Jaehyun sepertinya sekarang lah waktu yang tepat untuk memberitahu Jaehyun yang sebenarnya.
"Dia tidak akan datang lagi Jaehyun"
"Kenapa?"
"Aku menyuruhnya untuk tidak datang lagi"
Jaehyun menatap ayahnya dengan tidak percaya, "Kenapa Appa menyuruhnya untuk tidak datang lagi?" mata coklat Jaehyun mulai kembali digenangi oleh air.
"Jika kau terus berlatih, kau akan terus bertekad untuk menjadi seorang pianis seperti apa yang kau inginkan waktu itu"
"Kenapa Appa seperti itu? kenapa Appa tak menginginkan apa yang aku inginkan? Kenapa Appa tidak mendukungku?"
"Dengar Jaehyun" Yunho kini bangkit dari tempatnya dan menghampiri Jaehyun, berlutut di depan anaknya dan memegang kedua bahu kecil putranya tersebut "Sudah kukatakan, kau bisa bermain piano sesukamu, aku tak akan melarangnya. Tapi jika kau ingin menjadi seorang pianis maka aku akan melarangnya, kau harus menggantikanku dimasa depan nanti, karena kau satu satunya putraku"
"Aku tidak mau" Jaehyun mulai menangis tidak lagi menahan air matanya.
"Jung Jaehyun!"
"Aku tidak mau Appa...hiks...sudah ku katakan aku tidak mau"
"JUNG YOON OH!" Yunho menghentakan bahu Jaehyun, membuat Jaehyun terkejut dan semakin deraslah airmata yang keluar dari kedua matanya dan mengalir di pipi putih dan chubbynya. Yunho sudah memanggilnya dengan nama legalnya, Jung Yoon Oh. Itu tandanya kali ini ayahnya benar-benar marah padanya.
"Berhentilah menangis, jangan jadi anak cengeng Yoon Oh"
"Aku tidak mau...hiks..Appa jangan memaksaku unuk menjadi apa yang tidak aku inginkan"
Yunho geram, Ia dengan seketika mencengkram pergelangan tangan Jaehyun memaksa Jaehyun untuk berdiri. Menyeretnya menjauh dari meja makan, para maid yang sedari tadi menyaksikan interaksi Yunho dan Jaehyun hanya diam dan menundukkan kepalanya tidak berani melihat lebih jauh lagi.
"Honey.." sang ibu yang juga hanya terdiam melihat suaminya kini bangkit mengikuti kemana Yunho membawa Jaehyun.
Yunho terus menarik Jaehyun yang menangis ke ujung rumah besarnya. Jaehyun yang tidak punya tenaga yang cukup besar hanya pasrah saja tak bisa melakukan apapun. keduanya berhenti didepan suatu pintu,Yunho kini melirik putranya yang masih menangis.
"Appa benar-benar marah padamu. Katakan jika kau tidak akan membantahku Jaehyun"
Jaehyun kecil masih tetap teguh pada pendririannya, Ia menggelengkan kepalanya menandakan bahwa Ia masih tidak ingin menjadi apa yang ayahnya katakan.
"Itu kesempatan terakhirmu" Yunho membuka pintu dihadapannya, terlihat ruangan yang gelap, dan sempit. Menarik Jaehyun dan memaksanya masuk kesana. Jaehyun melebarkan kedua matanya saat tersadar bahwa ayahnya baru saja mendorongnya ke dalam gudang dan menutup pintunya, menguncinya membuat Jaehyun tak bisa membukanya.
"Appa buka pintunya" Jaehyun menggedor pintu gudang tersebut dari dalam berharap ayahnya akan membuka pintu ini untuknya "Kumohon buka pintunya Appa"
"Apa yang kau lakukan? Dia masih sepuluh tahun dan tidak mengerti apapun" sang ibu mengeluarkan protesannya kepada Yunho karena tidak tega melihat anaknya dikunci didalam sana.
"Justru karena dia masih belum mengerti apapun, tetapi dia sudah berani membantahku, aku ingin dia berpikir disana bahwa apa yang dia lakukan salah"
"Tapi Jaehyun masih kecil, jangan memperlakukannya seperti ini"
"Dengar, semua kebiasaan bermula dari kecil, jika kebiasaan itu dibiarkan maka saat dewasa nanti tidak akan pernah hilang. Jangan berani untuk membuka pintu itu tanpa seijinku,biarkan dia berpikir didalam sana, aku akan membukanya sampai dia mengakui kesalahannya" Yunho pergi meninggalkan istrinya, suara gedoran pintu yang disebabkan oleh Jaehyun dan tangisan anak sepuluh tahun itu masih terdengar. Ia tidak peduli dan tetap berjalan menjauh dari sana.
"Appa maafkan aku...hiks..maafkan aku, kumohon buka pintunya"
"Maafkan Eomma" wanita tersebut menyentuh pintu kayu dihadapannya, membayangkan betapa ketakutannya Jaehyun didalam sana "Eomma akan membujuk Appa mu, bersabarlah Jaehyun"
.
Seharian penuh Jaehyun berada didalam sana, dan hari ini adalah hari keduanya. Yunho selalu datang dan berdiri di depan pintu gudang tersebut tanpa berniat untuk membukanya, menanyakan hal yang sama pada Jaehyun "Apa kah kau masih tidak ingin mendengar kata-kataku? Kau masih ingin membantahku" dan jawaban yang sama juga terus didapat Yunho "Aku tidak mau Appa" tekad yang cukup besar untuk anak sepuluh tahun yang belum mengerti apapun, bahkan disaat yang terdesak sekalipun Jaehyun masih mengatakan hal yang sama. Sudah tidak lagi terdengar gedoran keras dari dalam gudang, sudah tidak lagi terdengar tangisan dari bibir Jaehyun. Jaehyun hanya menangis ketika ayahnya datang sambil memohon untuk dibukakan pintu, walau tak pernah terkabulkan permintaannya itu. ibunya juga selalu membujuk Yunho setiap detik untuk menghilangkan sedikit ego nya dan mau membebaskan anaknya. Wanita itu tidak habis pikir, suami dan anaknya benar-benar keras kepala, Yunho yang tidak ingin membukakan pintu untuk Jaehyun sampai Jaehyun mengatakan apa yang ingin Ia dengar dan Jaehyun yang tetap keras kepala berkata 'tidak' kepada ayahnya, keduanya benar-benar bapak dan anak yang sangat mirip wataknya.
Puncaknya adalah ketika ibunya Yunho –neneknya Jaehyun- datang berkunjung untuk menemui cucu satu-satunya itu. Ia terheran ketika tidak menemukan Jaehyun di sana, yang mungkin seharunya sedang berlatih piano. Alasan Ia berkunjung juga dikarenakan karena sang guru piano yang diutusnya mengatakan sudah berhenti dan tak akan mengajari Jaehyun lagi. Wanita tua itu ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Eommonim, kumohon bantu aku membujuk Yunho untuk mengeluarkan Jaehyun"
Permintaan yang terlontar dan terdengar nada yang penuh putus asa dari mulut menantunya membuat wanita tua itu merasa curiga. Langsung dihampirinya Yunho untuk meminta kepastian darinya, ini tidak beres, sudah jelas-jelas pasti ada sesuatu yang terjadi, wanita tua itu yakin akan feelingnya.
"Dimana Jaehyun?"
Yunho tak mengatakan apapun saat ibunya masuk ke ruang kerja di rumahnya, tak menjawab pertanyaan ibunya. Menghindari tatapan sang ibu.
"Yunho, dimana Jaehyun?"
"Jaehyun ada"
"Iya dimana?"
"Gudang"
Wanita tua itu melebarkan matanya dan menatap Yunho tidak percaya. Langsung menuju gudang yang dimaksud, membuka pintunya. Betapa terkejutnya Ia saat menemukan Jaehyun meringkuk tepat disamping pintu.
"Jaehyun?"
Jaehyun perlahan mengangkat wajahnya. Matanya terlihat sembab karena menangis, bibirnya pucat. Wanita tua itu berlutut di hadapan Jaehyun, mengusap dengan pelan kedua pipi Jaehyun, Yunho dan istrinya juga memperhatikan dari luar.
"Grandma" senyum tipis keluar dari bibir Jaehyun dan setelahnya Jaehyun jatuh pingsan dipelukan sang nenek.
"Jaehyun" ibunya Jaehyun kini menghampiri Jaehyun terlihat panik saat melihat anaknya yang pingsan di pelukan neneknya.
"Jongin...Jongin...bantu aku"
Remaja berumur sekitar delapan belas tahun langsung menghampiri wanita tua tersebut saat namanya dipanggil. Ia meraih tubuh Jaehyun dan menggendongnya, membawa Jaehyun ke rumah sakit sesuai dengan permintaan sang wanita tua diikuti dengan ibunya Jaehyun dibelakangnya. Wanita tua itu kini berdiri dihadapan Yunho dan menatapnya marah.
"Apa yang kau lakukan pada anak sepuluh tahun sepertinya? Apa ini caramu mendidiknya? Dia masih kecil, tak mengerti apapun, dan kau dengan teganya mengurung Jaehyun didalam sana. APA YANG ADA DIDALAM PIKIRANMU ITU JUNG YUNHO?" wanita tua tersebut menaikkan nada suaranya dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya. Yunho hanya memalingkan wajahnya dan tak berani menatap ibunya, wajahnya terlihat datar tidak terlihat menyesal.
"Jangan kau didik Jaehyun seperti Appa mu mendidikmu Setidaknya perlakukanlah dia seperti kau menginginkan Appa mu memperlakukanmu. Jangan kau balas apa yang telah Appa mu lakukan kepada Jaehyun, Ia tidak mengerti apapun. Biarkan Jaehyun tinggal bersamaku, aku tidak ingin hal ini terjadi lagi padanya. kau sungguh sangat keterlaluan Yunho"
Wanita tua tersebut kemudian pergi meninggalkan Yunho yang masih terdiam, sambil mengepalkan sebelah tangannya. Tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakan ibunya, karena sebagian besar apa yang dikatakan oleh ibunya dalah benar.
.
.
.
Pintu terbuka membuat cahaya masuk kedalam ruangan gelap nan sempit. Lelaki tinggi yang baru saja membuka pintu tersebut menoleh kearah samping dan menemukan Jaehyun yang sedang meringkuk tepat disamping pintu. Johnny mengambil kursi untuk mengganjal pintu agar tak tertutup kembali. Kini Ia menghampiri Jaehyun dan berlutut dihadapannya.
"Hey...Jaehyun" Johnny menyentuh pelan pundak Jaehyun yang terlihat bergetar membuat Jaehyun mengangkat wajahnya, terlihat jelas airmatanya yang masih mengalir. Johnny cukup terkesima melihat pemandangan dihadapannya ini, Jaehyun yang biasa terlihat angkuh sekarang sedang menangis. Dengan pelan Ia menepuk pundak Jaehyun untuk menenangkannya, entah dapat darimana pemikiran ini, Johnny dengan perlahan menarik Jaehyun kedalam pelukannya. Membiarkan Jaehyun menangis di pundaknya, sambil mengelus pelan punggung Jaehyun yang bergetar. Mereka berada di posisi seperti itu selama beberapa saat, sampai dirasa tangisan Jaehyun sudah mereda. Johnny membantu Jaehyun untuk berdiri.
"Kau bisa berdiri?" Johnny mengulurkan tangannya, disambut oleh Jaehyun yang mencoba untuk berdiri dengan sisa tenaganya. Tubuhnya yang lemas ditambah kaki terkilirnya membuat Jaehyun kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh jika saja Johnny tidak menahannya.
Johnny membawa Jaehyun keluar dari gudang, membopoh tubuh Jaehyun dengan sebelah tangan Jaehyun yang melingkar di pundaknya. Dengan langkah perlahan Johnny membawa Jaehyun duduk di salah satu kursi di taman belakang sekolah yang tidak jauh dari gudang tersebut. Johnny tau saat ini Jaehyun tidak ingin dilihat oleh siapapun, maka dari itu Johnny lebih memilih tempat yang sepi ini dibandingkan dengan uks. Ia memperhatikan Jaehyun yang terduduk disampingnya masih dengan tubuh yang sedikit bergetar. Johnny tidak mau repot-repot mengeluarkan banyak pertanyaan disaat seperti ini, biarkan Jaehyun menenangkan dirinya terlebih dahulu.
"Changmin saem, menyuruhku untuk mengambil net volly didalam sana" ucap Jaehyun dengan suara pelannya.
"Apa?"
"Net volly didalam sana, Changmin saem memintaku untuk mengambilnya" ucap Jaehyun sekali lagi dan kali ini dengan suara yang lebih jelas yang bisa didengar oleh Johnny.
"Ah..begitu. tunngu disini" Johnny bangkit dari duduknya, kembali lagi kedalam gudang untuk mengambil net volly didalam sana. Menggantikan tugas Jaehyun untuk meletakkan net tersebut dilapangan volly. Setelah itu Ia kembali ke kelas mencari seseorang disana.
"Winwin, ikut denganku" Johnny menarik Winwin bangkit dari tempatnya, menyeretnya kearah kantin. Yang ada dipikaran Winwin pasti Johnny akan menjahilinya lagi, dan Winwin hanya bisa pasrah karena Jaehyun saat ini sedang tidak berada disekitarnya. Johnny berhenti didepan kulkas dengan pintu kaca di kantin, membuat Winwin menatap Johnny dengan penuh tanda tanya.
"Yang mana yang paling Jaehyun suka?"
"Apa?"
"Kau kan teman dekatnya, maka kau pasti tau diantara semua ini mana yang paling Jaehyun suka?" Johnny menunjuk semua minuman yang terdapat didalam kulkas tersebut.
"Jaehyun hampir menyukai semuanya. Tapi yang menjadi favoritenya adalah susu coklat" jawab Winwin ragu.
"Kalau kau suka yang mana?"
Winwin menautkan keningnya mendengar pertanyaan Johnny yang dirasanya semakin aneh.
"Aku suka yang ini" Winwin menunjuk salah satu minuman kaleng didalam sana.
Johnny membuka kulkas tersebut dan mengambil susu coklat dan minuman kaleng yang dimaksud. Menyerahkan minuman kaleng tersebut kepada Winwin yang semakin terlihat seperti orang bodoh karena perlakuan Johnny yang membingunkan.
"Terimakasih, dan itu untukmu" ucap pria tersebut sebelum berlalu meninggalkan Winwin.
Johnny kembali lagi ke taman belakang, Ia melihat Jaehyun yang masih terduduk disana. Menghampiri Jaehyun dan menempelkan susu coklat dingin di pipi Jaehyun membuat Jaehyun tersentak kaget.
"Minumlah"
Jaehyun menerima susu coklat tersebut dengan senang hati, kebetulan ini adalah minuman favoritenya. Menusuk sedotan ke karton susu tersebut, sambil menyedot susunya pandangan Jaehyun mengikuti Johnny yang tadinya berdiri sampai duduk disampingnya. Rasa coklat yang melewati tenggorokannya membuat perasaannya menjadi lebih baik.
"Aku sudah meletakkan net volly tersebut dilapangan"
"Terimakasih"
Keduanya kini terdiam, Jaehyun masih asik dengan susu coklatnya sementara Johnny hanya diam memperhatikan. Sebenarnya Johnny ingin bertanya, mengapa Jaehyun sampai menangis sebegitunya hanya karena terkurung untuk sementara didalam gudang sana, Jaehyun mampu membuat wajahnya babak belur tapi kenapa hanya dengan hal sepele seperti itu Jaehyun terlihat sangat ketakutan. Johnny masih tau diri, Ia bukanlah Winwin teman dekat Jaehyun yang bisa bertanya seenaknya tentang Jaehyun secara langsung kapada orangnya jadi Johnny biarkan saja rasa penasarannya tersimpan di benaknya.
"Johnny..."
"Aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun" Johnny memotong ucapan Jaehyun seakan bisa membaca apa yang akan Jaehyun katakan setelahnya.
"Terimakasih, dan juga terimakasih karena telah menolongku"
"Sama-sama"
Bel sekolah berbunyi, menandakan waktu istirahat sudah habis. Jaehyun memandang heran Johnny yang juga tidak bangkit dari tempatnya. Jika dirinya sudah dipastikan tidak akan mengikuti jam pelajaran setelah ini, Ia masih sedikit shock dan tidak akan fokus dengan pelajaran tapi mengapa pria tinggi disampingnya ini tak bangkit juga dari tempatnya untuk mengikuti pelajaran selanjutnya?
"Aku akan membolos, pelajaran sejarah membosankan" dusta Johnny, alasan sesungguhnya Johnny tetap duduk disini adalah Ia ingin menemani Jaehyun. Johnny merasa jika Jaehyun membutuhkan teman saat ini. Ia tidak akan banyak bicara yang penting Jaehyun merasakan ada kehidupan disampingnya.
Jaehyun hanya mengangguk saja menanggapi Johnny. Keduanya duduk dalam suasana yang aneh, karena ini pertama kalinya mereka berada sedekat ini tanpa adanya pertengkaran. Jaehyun tidak ada niatan untuk mengusir Johnny, justru dia senang ada yang menemaninya disini, walaupun Johnny tidak mengatakan apapun tidak seperti Winwin yang mungkin akan terdengar berisik karena temannya yang satu itu cukup cerewet.
"Jaehyun"
Jaehyun menoleh kearah Johnny yang memannggil namanya.
"Kau masih sering datang ke club malam yang waktu itu?"
"Ya, hampir setiap malam"
"Walau dengan kaki seperti itu?" Johnny melirik kaki terkilir Jaehyun yang diperban.
Jaehyun mengangguk "Aku tetap datang walau tidak berdansa disana"
"Kalau begitu nanti malam bagaimana jika kita ketemuan disana?"
Jaehyun melebarkan kedua matanya mendengar pertanyaan Johnny, sedikit tidak mengerti dengan maksud pria tinggi dihadapannya ini.
"Kau bilang jika hampir setiap malam kesana bukan? Maka nanti malam aku akan menemuimu di club itu"
Jaehyun sedikit membuka mulutnya terheran dengan maksud Johnny. Jaehyun tidak salah dengar kan? barusan Johnny mengajaknya untuk bertemu di club malam. Kerasukan apa musuhnya ini hingga mau bertemu dengan dirinya disana? Jaehyun hanya tidak tau jika Johnny memiliki maksud lain dibalik semuanya, Johnny hanya ingin memenuhi rasa penasarannya, dan Johnny rasa jika semua itu akan terjawab jika Johnny melihat sisi lain dari Jaehyun yang sesungguhnya yang mungkin saja akan terlihat ketika Ia menemuinya di club malam nanti, dan Johnny juga ingin bertemu dengan seseorang yang akan menjawab rasa penasarannya ini, Jongin. Seseorang yang pernah mengancamnya, dan orang yang secara tidak langsung membuatnya menjadi jauh lebih penasaran dengan siapa sesungguhnya Jung Jaehyun atau Jung Yoon Oh musuh besarnya yang semakin lama terlihat semakin menarik dimata Johnny.
TBC
Annyeonghaseyo~
Ada yang masih ingat cerita ini? hahaha, akhirnya bisa update juga, maaf yah dikarenakan uas baru bisa di update sekarang, dan chapter ini minim JohnJae. karena di chapter ini lebih berfokus kepada masa lalu Jaehyun, kalimat-kalimat bercetak miring itu adalah flashback untuk masa kecilnya Jaehyun. maaf jika menemukan banyak typo. diusahakan chapter depan akan star perbanyak moment johnjae nya
seperti biasa, terimakasih sudah memberikan fav dan follow kalian, terimakasih yang cukup besar untuk kalian yang memberikan review. ditunggu kritik dan sarannya, sampai jumpa di chapter depan. Annyeong~
-100BrightStars-
