Seorang lelaki raven termenung di meja kerjanya, ia hanya menatap kosong foto istrinya yang sengaja diletakkannya di atas meja kerjanya. Meremas rambutnya, lelaki itu menghela nafas jengah. Apa-apaan dirinya tadi malam? Mereka bahkan sudah hampir empat bulan menikah, tapi ia masih belum bisa menceritakan yang dipikirkannya ataupun yang dirasakannya. Dia masih belum bisa terbuka dengan istrinya dan menceritakan masa lalunya itu.

Dia bahkan menjadi manusia es yang terkenal tidak pernah senyum ataupun berekspresi bahagia.

'Kenapa aku sangat bodoh dalam hal seperti ini?' tanyanya dalam hati.


.

.

.

.

.

Haru no Sakura

By: zhaErza

Naruto milik Kishimoto Masashi, saya hanya minjam Charanya.

Haruno Sakura & Uchiha Sasuke

Rate: T

Genre: Family/Romance

Warning: EYD?, OOC, Fluffy, Typo, RnR, Dll.

.

.

.

Selamat Membaca ^.^


Chapter 6

Don't Like Don't Read


Sakura sedang berjalan santai di daerah pertokoan, emerald-nya menyisir seluruh bangunan-bangunan tinggi yang ada di kota itu. Di tangannya terdapat beberapa bungkusan-bungkusan yang isinya adalah bahan makanan untuk makan malam nanti, ia membawa bungkusan-bungkusan itu sambil tersenyum senang, mengingat menu apa saja yang akan ia masak untuk nanti malam.

Sakura memalingkan wajahnya ke samping ketika ia mendengar seseorang menyebutkan namanya, tepatnya memanggilnya dari jarak yang tidak terlalu jauh.

"Sakura-chan." Panggil Hinata dengan agak berteriak.

"Eh?" ada nada tanya pada pekikan keterkejutan Sakura.

Hinata menghapus jarak di antara dirinya dan Sakura, lalu tersenyum kepada gadis gulali itu ketika sudah sampai di depan mata Sakura.

"Hallo, Sakura-chan. Apa kau mengingatku? Aku temannya Sasuke-kun dan t-tunangannya Uzumaki Naruto," Jelas Hinata kepada Sakura karena gadis gulali itu sedikit mengerutkan keningnya untuk mengingat Hinata.

"Ah! Iya, aku ingat. Yang datang dipernikahanku dengan Naruto-san yang merupakan sahabat Sasuke-kun, 'kan? Aku ingat. Hehe," Sakura tersenyum sumringah setelah berhasil mengingat Hinata dan Naruto.

Dan mereka pun memutuskan untuk mengobrol sebentar di suatu tempat yang nyaman.

.

.

.

Sakura dan Hinata memesan kue dan jus masing-masing kepada pelayan cafe yang sedang mencatat menu yang mereka inginkan. Setelah pelayan itu pergi, mereka pun melanjutkan ceritanya yang tadi bertopik tentang pernikahan Sakura dan Sasuke juga Sakura yang menanyakan kapan Hinata dan Naruto akan segera menyusul gadis gulali itu dan pria raven-nya.

"Ahahahh ... jangan malu, Hinata. Jadi, apakah kalian sudah menentukan tanggal pernikahan? Dan rencananya kalian akan berbulan madu ke mana?" Sakura cekikikan saat melihat Hinata yang menjadi merona karena pertanyaannya yang usil itu.

"I-itu ... kami akan m-menikah ... pertengahan tahun nanti, Sakura-chan. Dan ... dan masalah bulan madu, Na-naruto-kun yang akan menentukan." Jawab Hinata malu-malu.

Pembicaraan mereka seperti tidak ada habisnya dan entah bagaimana sekarang malah membahas mengenai Sasuke yang sifatnya sangat dingin. Sakura hanya mendengarkan Hinata saat gadis itu menceritakannya.

"Sasuke-kun ... dulunya tidak seperti ini, dia memang sulit berekspresi atau berbicara banyak seperti Naruto-kun tapi dia selalu tersenyum dan ramah kepada orang-orang yang terdekat dengannya." Hinata mulai serius dan Sakura mendengarkannya dengan serius pula, " Sasuke-kun dan Naruto-kun seperti saudara, mereka saling melengkapi, seperti gelap dan terang. Semenjak keluarganya meninggal, dia menjadi pendiam dan penyendiri, bahkan dengan kami pun dia selalu menghindar dan memberi jarak,"

Sakura mendengarkan walaupun masa lalu Sasuke sudah pernah didengarnya dari cerita kakek Sasuke, tapi ia tetap mendengarkan apa yang diceritakan Hinata karena ini adalah sesuatu yang cukup jelas mengapa Sasuke berwajah datar seperti itu. Sebelumnya, kakek Sasuke hanya menjelaskan kalau Sasuke berubah sejak meninggalnya keluarga lelaki itu dan cerita itu juga tidak terlalu jelas karena kata kakek lelaki itu, ia tidak ingin menceritakan sesuatu yang buruk dan pahit untuk dikenang.

"Waktu itu, aku sempat takut ketika melihat wajah Sasuke-kun. Kami masih duduk di sekolah dasar dan dia sudah menjadi orang yang sangat berbeda dan selalu menjauhi kami. Tapi, Naruto-kun selalu berusaha mendekati Sasuke-kun ... terus dan terus bersama Sasuke-kun, Naruto -kun selalu berusaha agar bisa tetap bersahabat dengan Sasuke-kun dan aku juga menjadi mengikuti apa yang dilakukan oleh Naruto-kun, dia semakin dingin saat menginjak remaja. Aku , Naruto-kun dan Sasuke-kun, usia kami memang berbeda jauh. Khususnya aku dan mereka berdua tapi kami bisa menjadi teman akrab karena Naruto-kun. Tapi, sekarang aku tidak tahu bagaimana kondisinya, sepertinya dia tetap dingin dan Naruto-kun juga sedang sibuk bekerja, mereka jarang berjumpa." Hinata menghentikan sebentar sesi ceritanya kepada Sakura.

"Bahkan sampai sekarang setelah hampir empat bulan menikah, aku belum pernah melihat Sasuke-kun berekspresi lepas ataupun tersenyum," Ucap Sakura lirih, "Walaupun dia perah menciumku." Ucap Sakura kelepasan saat berbicara dengan dirinya sendiri dan kata-kata Sakura itu cukup jelas untuk didengar Hinata.

Hinata tersenyum tulus ketika mendengar Sakura berbicara kepada dirinya sendiri, mungkin Sakura lah orang yang tepat untuk Sasuke.

"Sakura-chan!" Panggil Hinata dan gadis bermata lembut itu menggenggam tangan Sakura pelan.

"Hmm?" Sakura menjawab dengan ekspresi tanya dan bingung, pasalnya tangannya sedang digenggam lembut oleh gadis di hadapannya ini.

"Berjanjilah untuk membahagiakan Sasuke-kun, Sakura-chan! Aku percaya bahwa hanya Haru no Sakura lah yang bisa mencairkan salju yang membeku." Ucap Hinata sambil tersenyum tulus yang membuat Sakura juga tersenyum dan merona secara bersamaan.

Sakura pun menganggukkan kepalanya dan membalas genggaman tangan Hinata.

.

.

o0o

Sasuke merasa pusing sedari tadi, banyak hal yang sedang dipikirkannya. Mulai dari masalah pekerjaan dan rapat yang berjalan sangat alot, juga masalah keluarga kecilnya.

Masalah pernikahan mereka.

Masalah perasaannya terhadap Sakura, istrinya.

Ini benar-benar baru bagi Sasuke, di mana ia selalu merasa ada getaran aneh di tubuhnya belakangan ini, sesuatu yang belum pernah dirasakannya selama 27 tahun dalam hidupnya. Getaran saat ia berada di sisi istrinya, Sakura.

Karena hal aneh inilah, Sasuke waktu itu mencium Sakura dan selalu ingin menyentuh gadis gulali itu. Tapi, ketika ia ingin menyentuh gadis itu hanya sekedar ataupun lebih, hati Sasuke selalu berteriak bahwa dirinya bukanlah seorang yang pantas untuk gadis seperti Sakura.

Ia takut jika terlalu dekat dengan gadis yang telah dipersuntingnya itu, ia akan kehilangan gadis itu seperti keluarganya. Ia tidak mau merasakan hal mengerikan itu lagi, ia tidak mau sesuatu yang paling berharga seperti Sakura akan meninggalkannya kelak.

Menghela nafas, Sasuke masuk ke kediamannya dengan wajah datar yang terlihat lelah.

"Tadaima." Ucap lelaki itu dengan tenang.

"Okaerinasai, Sasuke-kun~" Teriak manja Sakura dari dapur dan bergegas menuju ke arah Sasuke berada.

Brukk ...

Sakura memeluk Sasuke untuk menyambut lelaki yang baru saja tiba di rumah mereka.

Sasuke sempat terkejut dan kemudian kembali ke wajah dinginnya.

"Sasuke-kun, wajahmu kelihatan lelah sekali? Sebaiknya kaumandi lalu kita makan malam bersama, ok." Ucap Sakura riang masih memeluk pinggang Sasuke.

Sasuke merasakan kembali perasaan aneh dan hangat menyebar di dadanya saat ia melihat senyum riang nan tulus yang diberikan Sakura untuknya. Ia tidak bisa menahannya, Sasuke pun memeluk Sakura kuat lalu menghirup wangi khas cherry yang ada pada diri istrinya.

Selanjutnya, Sasuke mencium pelah bahu mungil Sakura dan mengucapkan kata 'Terimakasih' untuk gadis gulali itu.

Memegang pucuk kepala Sakura dengan jemari kokohnya, Sasuke tersenyum kecil dan tulus untuk Sakura. Dan seketika, wajah Sakura pun menjadi sewarna dengan rambut gulalinya.

.

Sejak tadi setelah Sasuke naik ke lantai dua menuju kamar mereka, Sakura tidak henti-hentinya tersenyum sumringah. Baru pertama kali ia melihat senyum irit Sasuke yang menawan tetapi tulus dan yang membuatnya semakin memerah adalah senyum itu diberikan Sasuke hanya untuknya.

Sakura menutup wajahnya yang kemerahan dengan kedua tangannya, ia benar-benar merasa malu juga senang. Gadis berusia 22 tahun itu menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan cepat, tiba-tiba saja ia melihat bayangan Sasuke yang sedang mencium dirinya seperti saat di kediaman musim panas keluarga Uchiha dulu, saat mereka liburan ke sana.

Sakura masih ingat dengan jelas bagaimana lelaki itu menciumnya dengan lembut dan pelan selama 10 detik kemudian melepasnya lalu lelaki Uchiha itu kembali mencium dirinya dengan lebih dalam dan lama sampai ia merasakan kekurangan oksigen. Belum lagi ketika tadi Sasuke memeluknya kuat lalu mengecup pelan bahunya yang seketika membuatnya merinding dan berdebar-debar.

Dan sekarang wajah Sakura benar-benar memerah sempurna.

Sakura kemudian memukul-mukul pelan kepalanya yang tiba-tiba berpikiran ke hal yang tidak-tidak, bisa-bisanya di depan meja makan ia sempat memikirkan hal itu. menggerutu pelan kepada dirinya yang mesum mendadak, Sakura kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Sakura?" Sasuke memanggil Sakura dengan wajah heran saat melihat gadis itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Lelaki itu menuju ke dekat Sakura lalu menyentuh pipinya pelan.

"Eh," dan Sekarang Sakura benar-benar menjadi gugup dan berdebar.

"Hn?" Nada tanya itu jelas terdengar di gumaman Sasuke.

"Sasuke-kun, sudah mandi?" pertanyaan bodoh, Sakura merutuki dirinya sendiri.

"Hn, kaumasak apa?" dan Sakura bersyukur kepada Tuhan karena Sasuke tidak menanyakan apa yang sedang dilakukannya tadi.

Sakura tersenyum canggung dan menyebutkan apa yang ia masak satu persatu.

Mereka pun akhirnya menyantap hidangannya dengan tenang dan gugup untuk Sakura.

Setelah makan malam mereka selesai, Sakura membersihkan sisa makan mereka dan Sasuke berpamitan untuk ke kamar karena ingin istirahat. Hari ini pria Uchiha itu memang benar-benar sibuk, sejak semalam banyak sekali pekerjaan yang menyita waktu istirahatnya.

Sasuke berjalan pelan menaiki tanggal, ini menyebalkan, kepalanya berdenyut lagi. Ia mempercepat langkahnya untuk langsung merenggangkan tubuhnya di atas ranjang nyaman mereka.

Sasuke memijat pelipisnya pelan, sejak tadi sore ia sakit kepala dan itu semakin memperburuk keadaannya yang sedang lelah.

Lelaki Uchiha itu kemudian menutup kepalanya dengan bantal dan tidur dengan cara menelungkupkan badannya.

Tap.

Tap.

Tap.

Suara langkah Sakura terdengar samar di telinga Sasuke, tapi ia tidak memedulikannya karena memang sudah dalam keadaan yang lelah, ditambah lagi dengan sakit kepala yang sedang ia derita.

Sakura menaikkan alisnya ketik melihat posisi tidur suaminya yang asing dan kelihatan tidak nyaman. Sebentar-sebentar lelaki itu membalikkan tubuhnya dan kemudian berguling lagi ke keadaan menelungkup seperti tadi.

Sakura duduk di pinggir ranjang dan menyentuh punggung Sasuke.

"Sasuke-kun?" Panggil Sakura dengan nada tanya dalam ucapannya.

"Hn ..."

Sasuke membalikkan tubuhnya dan tidur menelentangkan diri sekarang. Sakura melihat jelas alis Sasuke yang berkerut walau matanya masih setia terpejam dengan eratnya.

"Ada apa?"

"Tak apa, hanya pusing." Sasuke sudah menampakkan oniyx-nya yang seperti jelaga. Tatapan mata lelaki itu sendu dan lelah.

Sakura mendekat kemudian menyuruh Sasuke untuk menaikkan kepalanya ke bantal, dan Sakura memijat pelan kepala Sasuke.

"Jangan terlalu memaksakan diri, istirahatlah yang cukup, Sasuke-kun."

Sasuke mendengar ucapan Sakura tetapi ia hanya menutup matanya karena telah merasakan pijatan lembut yang membuat kepalanya yang terasa berat karena pusing berangsur-angsur menjadi ringan. Sakura kemudian berhenti setelah melihat Sasuke tidak mengerutkan alisnya lagi, gadis gulali itu kemudian mengambil obat untuk meredakan pusing lalu menyuruh Sasuke untuk meminumnya.

Sasuke meminum obat itu lalu kembali berbaring. Sementara Sakura, istri dari Uchiha Sasuke itu kembali membelai kepala raven Sasuke dan menidurkan diri di samping Sasuke.

Sasuke tersenyum sebelum menutup matanya yang telah mengantuk setelah mendengar dengkuran halus dari bibir Sasuke, menandakan pria itu telah tertidur pulas.

.

.

.

o0o

Sasuke merasa hari-harinya bersama Sakura sangat indah, berjalan hangat dan sempurna, ia bahkan sekarang selalu mengecup dahi Sakura ketika pergi kerja dan mengecup bahunya ketika pulang kerja. Ia merasa nyaman bersama Sakura dan tentunya di dalam benaknya Sasuke merasakan desiran hangat yang membuatnya kembali bingung. Apakah ini yang dinamakan 'cinta'? Ia tidak tahu, dulu saat ia masih remaja, banyak teman-temannya yang selalu mengatakan tentang cinta dan cinta, bahkan Naruto juga pernah menceritakan hal yang sama ketika ia merasakan jatuh cinta kepada gadis yang menjadi sahabat mereka sedari kecil, Hinata.

Jujur saja, Sasuke suka dengan kehidupannya yang sekarang. Ia merasakan yang namanya bahagia bersama Sakura, gadis gulali itu selalu saja tersenyum tulus saat Sasuke merasa sesuatu yang buruk, selalu ada dan memberikan hal yang positif untuk kehidupannya. Ia selalu berpikir ingin menceritakan apa yang selama ini selalu di pendamnya dan membuatnya terjerumus kedalam mimpi yang mengerikan tentang masa lalunya. Ia ingin membagi beban hatinya kepada gadis gulali itu, tapi ia takut ... takut jikalau Sakura membencinya atau meninggalkannya saat gadis itu tahu mengenai masa lalunya.

Sasuke menatap Sakura yang sedang asik menonton siaran televisi kesukaannya, lelaki itu menatap istrinya dengan tatapan nanar dan sedih.

Sasuke menyentuh jemari Sakura lalu meremasnya pelan, membawa tangan kiri Sakura ke dalam genggaman tangan Sasuke.

Sakura memalingkan wajahnya ke arah samping, di sebelah dirinya Sasuke duduk.

Sasuke memegang jemari tangan kiri Sakura dengan tatapan mata sedih dan nanar, lelaki Uchiha itu menyentuhkan jari telunjuknya di cincin pernikahan Sakura dengannya. Jemari Sasuke memutari cincin itu dengan pelan.

Sakura membulatkan matanya saat melihat tatapan mata Sasuke yang masih memperhatikan cincin pernikahan mereka yang ada di jemari Sakura, entah kenapa? Sakura merasakan perasaan tersayat saat melihat tatapan mata Sasuke.

Sakura menyentuh pelan wajah Sasuke dengan tangan kanannya. Lelaki itu masih diam saja dan tetap menatap ke arah jemari manis Sakura.

"Sakura, kau ... tidak akan meninggalkanku, bukan?" suara Sasuke lirih berbicara, "Aku merasa hidup dan diinginkan di dunia ini ... saat bersamamu." Suara Sasuke sekarang bergetar saat mengucapkan serangkaian kalimat itu.

Sakura meneteskan air matanya saat mendengar perkataan Sasuke saat pria itu mengutarakan apa yang ia rasakan.

Dan gadis gulali itu langsung memeluk Sasuke dan menangis sesegukan sambil membisikkan sesutu.

"Tidak ... aku akan selalu ... di sisimu, Sasuke-kun ... hiks." Suara Sakura lirih bahkan seperti bisikan saat mengucapkan kalimat jawaban untuk Sasuke.


.

.

.

TBC


A/N:

Entah kenapa? Aku sampe nangis waktu nulis Fis HnS chap 6 ini ... pas scene terkhirnya ... hiksss ... :'( Aduhhhh ... Sasu OOC banget. :v

Ok, Makasihhhhh ... :D

Balasan, review yg siders, ya. Yang ada akun cek PM. :)

QRen: Terimakasih, ini udah lanjut. :)

Lynn Sasuke: Ahahha iya, kak. Emang gituuu ... biar romancenya berasa. :*

Uchiha Sakura: Terimakasih, chap 6 udah lanjut, nih. :)

Guest: Aku juga iriiiii ... :)

Asukasouryou: Salam kenal juga, ya. :) Panggil aku Zha. Heheh ... iya gomen, soalnya lagi sibuk dan nulisnya juga nyempet2in nih ... tapi ini udah kubuat rada panjang. :) Makasih, ya.

sami haruchi 2: Iya, gak papa kok. Dan makasih ya semangatnya. Ini udah lanjut. :)

karisaardelia: Makasih, ya. Dan udah lanjut nih. :)


Ok, Semoga pada suka ... yaaaa ... :)

Salam Sayang,

zhaErza

Medan, 23 May 2014