Happy Family, Chapter 5 : See You!
Disclaimer : Bungou Stray Dogs bukan milik saya, namun milik Asagiri Kafuka-sensei dan Harukawa35-sensei. Jika Bungou Stray Dogs milik saya ...Ahhh...pasti ceritanya bakalan hancur.
Langit biru cerah terlihat begitu indah dengan dihiasi semburat awan-awan putih yang menggantung. Mentari pagi mengintip malu-malu dari balik awan, memancarkan kehangatan yang bersahabat. Udara pagi terasa sejuk. Angin lembut meniup helaian bunga-bunga sakura yang sedang bermekaran
Kontras sekali dengan keadaan di dalam ruangan ini. Sudah pencahayaannya remang-remang, sempit, berdebu, bau pula. Selain itu, apa yang lebih buruk dari pada terbangun dengan keadaan diikat tali di sebuah kursi? Simpul ikatan tali yang menjerat kedua kaki dan tangan mungil itu sangat kuat.
Padahal baru saja beberapa saat lalu Dazai menikmati udara pagi hari yang segar di bawah naungan pohon-pohon sakura yang saat ini bunganya sedang bermekaran. Tapi semua harus berakhir karena seseorang mengejarnya, menangkap, lalu menyekapnya di sini. Tidak hanya itu, Dazai juga dipukuli.
"Sudah bangun, little boy?" Suara itu adalah suara pria yang kemungkinan besar berusia sekitar 30 tahunan. Suaranya terdengar parau.
"Ahhhhh~" bocah kecil yang terikat di kursi itu menguap. "Kakek Buyut, ruangan ini jelek sekali. Bukan tempat yang nyaman untuk tidur."
Pria itu mendelik tajam saat Dazai memanggilnya dengan sebutan 'Kakek Buyut'.
"Pukulan Kakek Buyut lumayan juga. Kalau Kakek Buyut berlatih keras, mungkin saja bisa menjadi seorang pemain baseball. Minimal tingkat lingkungan," seloroh Dazai dengan nada santai.
Rambut coklat kelam yang biasanya terlihat berantakan itu semakin terlihat berantakan dan sedikit lengket oleh darah yang masih sedikit mengalir dari pelipis. Kepalanya berdenyut-denyut dan pandangan matanya sedikit berkunang-kunang. Pria itu tadi memukul kepala Dazai begitu kuat hingga ia sempat tak sadarkan diri.
"Bocah cerewet! Jangan banyak bicara atau aku akan menghabisimu!" tukas pria itu dengan nada marah. Ia mengacungkan tongkat baseball yang masih digenggamnya ke arah Dazai. Dia siap untuk menghajar Dazai sekali lagi.
Dazai tahu bahwa ia sedang menghadapi marabahaya di depan mata. Pria bertempramen buruk dan sebuah tongkat baseball bukan kombinasi yang bagus. Dazai sudah merasakan pukulan si 'Kakek Buyut' ini beberapa jam yang lalu. Namun, Dazai berusaha tetap tenang. "Apa tidak masalah jika Kakek Buyut menghabisi Dazai sekarang? Nanti bos Kakek Buyut akan marah."
"Cih!" pria itu mendecih kesal. Mukanya merah padam menahan rasa geram. "Jika uang tebusan tidak dipenuhi dalam tempo waktu 1 jam, maka ..." pria itu menyeringai kejam. "...maka aku akan mengirimmu ke suatu tempat bernama akhirat."
"Kill me if you can~" Dazai berdendang riang. "I'm afraid that you can't~"
"Bocah brengsek!"
DUAAAAAAGGGHHHH!
Pria itu melayangkan kepalan tinjunya ke wajah Dazai.
.
.
.
Semua berawal dari sebuah pengumuman super berani dari si kecil Dazai Osamu. Saat itu Atsushi, Kunikida, Akutagawa, dan Dazai sedang makan pagi bersama di kantor Armed Detective Agency. "Dazai ingin kabur dari rumah!" Teriak Dazai dengan semangat yang melampaui tubuh mungilnya.
Tentu saja pengumuman Dazai itu menimbulkan beragam reaksi berbeda dari tiga pria yang ada di ruangan tersebut. Atsushi dengan mulut ternganga menjatuhkan sumpitnya beserta semangkuk chazuke ke meja yang tak berdosa. Akutagawa tetap memasang ekspresi wajah datar seperti biasanya, walaupun sebetulnya ia merasa hatinya seperti sedang naik roller coaster dengan kecepatan 500 km/jam. Wajah pucatnya jadi terlihat semakin pucat, ia sudah seperti vampire yang terkena penyakit anemia berabad-abad. Sedangkan, Kunikida ...
Kunikida melemparkan sendok nasi yang kebetulan sedang digenggamnya ke udara karena tidak mungkin bagi Kunikida untuk melempar meja makan beserta seluruh barang yang ada di atasnya. Ia terlihat sangat antusias. "Habiskan sarapanmu dulu, Dazai. Atsushi, Akutagawa! Kalian bantu untuk siap-siap! Kita akan kabur bersama!" Begitu Kunikida selesai memberi komandonya, ia segera menghilang ke dapur.
Terdengar bunyi-bunyian berisik dari arah dapur. Kunikida berlalu-lalang sambil membawa berbagai barang di tangannya dengan kecepatan ala kereta ekspres bertenaga mesin turbo. Atsushi dan Akutagawa hanya bisa tercengang. Otak mereka masih berusaha untuk mencerna komando dari Kunikida tadi.
"Aku tidak salah dengar, kan?" Atsushi merasa terlalu berat untuk menerima kenyataan.
"...," Akutagawa tidak merespon. Dia sibuk menenangkan rashomonnya yang kini sedang panik.
"Cepat bersiap!" perintah Kunikida sambil berlalu.
"Baik! Baik, Kunikida-san!" Atsushi menyeret Akutagawa menuju ke dapur untuk membantu bersiap-siap sebelum Kunikida mengamuk.
Semua orang terlihat sibuk. Dazai dengan tenang meletakan mangkuk nasi berserta sumpitnya ke atas meja makan. Ia meraih kucing kecil berwarna orange yang sedang tidur di lantai. Kucing kecil itu mengeong pelan. "Ssssttt ..." Dazai memerintahkan kucing kecil itu untuk diam. Lalu, ia menggendongnya.
Dengan langkah mengendap-endap, Dazai menyelinap menuju pintu keluar. Ia membuka pintu dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara. Tak ada yang menyadari hal ini.
.
.
.
Akutagawa merasakan amarahnya semakin memuncak. Emosi yang luar biasa meluap-luap. Orang-orang berpapasan dengannya langsung segera menyingkir karena ketakutan.
Akutagawa tidak sendirian. Atsushi, Kenji, Tanizaki, dan Yosano juga ada bersama Akutagawa. Ranpo Edogawa memimpin di depan. Mereka bergerak dengan cepat.
"Yosh! Belok ke sebelah kanan!" seru Ranpo memberi aba-aba ketika melihat sebungkus permen berwarna merah yang tergeletak di tanah. Ia terlihat bersemangat. Matanya yang biasa tertutup itu terlihat terbuka lebar dan berkilat-kilat di balik kacamata yang ia kenakan. Betul, Ranpo 'menggunakan' ability : Super Deduction-nya. "Gotcha! Itu tempatnya!" Ranpo menunjuk ke sebuah bangunan lusuh di depan mereka.
Bangunan itu, kemungkinan bekas sebuah gudang yang terlantar, terlihat bobrok. Hampir seluruh cat dindingnya yang seharunya berwarna putih itu mengelupas. Sebagian dindingnya terlihat menghitam. Bangunan itu sudah terlihat seperti rumah hantu untuk ajang uji nyali saja.
"Hey, itu dasi bolo si kecil Dazai!" teriak Kenji. Di dekat sebuah pagar besi berkarat, tergeletak sebuah dasi bolo di tanah. Ia berlari mendekati benda itu, lalu memungutnya. "Waaah! Betul! Ini memang dasi Dazai! Eh? Ada berkas darah?"
Mendengar hal itu, Akutagawa bertambah marah. Ia menggeram, amarahnya semakin menjadi-jadi. Dengan gerakan kilat, rashomon menghajar pagar besi tak berdaya itu hingga hancur berkeping-keping. Disertai nafsu membunuh yang semakin menggila, Akutagawa menerjang masuk ke bangunan lusuh itu. Diikuti oleh para anggota Armed Detective Agency
DING DING DING
Ponsel Atsushi berbunyi. Ia menjawab panggilan telepon masuk. Tertera nama 'Kunikida Doppo' pada layar. "Ya, moshi-moshi, Kunikida-san. Kami sudah tiba di lokasi."
Sementara itu …
"Hahaha ...," Dazai tetap tertawa walaupun darah segar mengucur dari hidungnya. "Tujuan penculikan ini bukan hanya uang tebusan, kan? Tujuan utamanya adalah menjatuhkan Armed Detective Agency. Atau lebih tepatnya, Direktur Fukuzawa Yukichi. Karena mustahil untuk mengincar anggota Armed Detective Agency lainnya, Kakek Buyut mengincar anak kecil yang kebetulan tinggal di kantor Armed Detective Agency akhir-akhir ini. Surat-surat ancaman yang dikirim kemarin, semua itu dari Kakek Buyut 'kan? Dazai melihat Kakek Buyut dan komplotan Kakek Buyut mengendap-endap mengamati kantor Armed Detective Agency dari dua hari yang lalu. Karena penasaran, jadi Dazai sengaja bermain ke luar dan memancing Kakek Buyut."
Mata pria itu terbelalak lebar. "Kau sengaja melakukannya?"
"Dazai juga tahu bahwa Kakek Buyut akan membunuh Dazai begitu uang tebusan berhasil didapatkan. Itu karena Kakek Buyut menculik Dazai dengan niat membunuh. Orang yang disebut 'bos' oleh Kakek Buyut itu sepertinya dia punya dendam terhadap Armed Detective Agency. Jika muncul berita bahwa seorang anak kecil tewas karena Armed Detective Agency gagal dalam misi penyelamatan, tentunya hal itu akan berdampak sangat buruk bagi reputasi Armed Detective Agency dan nama baik Direktur Fukuzawa Yukichi. Bukankah itu yang sebetulnya paling diinginkan oleh 'bos'?"
Pria itu menelan ludah. "Padahal kau cuma bocah ingusan ...bagaimana bisa ..."
"Karena Dazai, Dazai Osamu, adalah anggota Armed Detective Agency juga."
"Dazai Osamu?! Kau Dazai Osamu? Mustahil! Dazai Osamu yang anggota Armed Detective Agency itu tidak mungkin anak kecil sepertimu!"
"Hahahaha!" Dazai tertawa. "Terserah Kakek Buyut mau percaya atau tidak. Kenyataannya Dazai ini memang Dazai Osamu yang itu. Walau saat ini Dazai terlihat seperti anak kecil, tapi memory Dazai tetap sama seperti Dazai dewasa." Matanya yang berwarna coklat kemerahan tampak bersinar dalam remang cahaya. "Kalau begitu, Dazai akan memprediksi tiga hal. Pertama, Kakek Buyut tidak akan bisa membunuh Dazai. Kedua, Kakek Buyut beserta komplotan Kakek Buyut tidak akan pernah mendapatkan uang tebusan. Ketiga, Kakek Buyut akan sangat menyesal karena telah menculik Dazai."
"Bicara apa kau, bocah?!" bentak pria itu dengan marah.
"Perdiksi Dazai tidak pernah salah."
"Omong kosong!"
"Jika perhitungan Dazai tepat, maka sebentar lagi …" Dazai tersenyum ganjil. Dalam artian tertentu, senyum itu terlihat mengerikan. Sorot mata Dazai kecil terlihat dingin. "…semuanya akan berakhir," lanjut Dazai
Pria itu bergidik ngeri. Butiran keringat dingin mengalir menuruni dahinya.
"Dudududu, shinju wa hitori ja dekinai~ "Wowowowo, demo, demo futari nara dekiru~" Dazai menyenandungkan lagu kesukaannya. Suara Dazai mengalun lembut di udara. Kali ini lagu bunuh diri ganda yang bernada ceria itu terdengar seperti lagu pertanda akan datangnya malapetaka.
BRAAAAAAK!
Tiba-tiba, terdengar bunyi hantaman keras dari arah belakang. Pria yang memegang tongkat baseball itu menoleh ke arah belakang. "Apa-apaan itu?!"
"UUUUUAAARRRGGGHHHHH! AAARRRGGGHHH!" Terdengar suara-suara jeritan kesakitan. Tidak hanya satu orang!
"Apa yang terjadi?!"
BRRRUUKKK! DUAGGGHH! DDDDUUUUMMMM! DUUUAAARRR!
"TOLONG! ADA IBLIS!"
Suara jeritan kembali terdengar.
"Iblis?!" tengkuk pria itu merasa merinding.
"Tikus-tikus sudah terjebak~" Dazai menyeringai. "Sebentar lagi giliran Kakek Buyut~"
"DIAAAAMMMMM!" pria itu murka. Ia mengayunkan tongkat baseball-nya ke arah Dazai. Ia berencana untuk menghabisi Dazai sekarang juga. Namun, …
Pria itu terkejut bukan main saat Dazai dengan mudahnya menghindar. Tali yang mengikat pergelangan tangan dan kaki Dazai sudah terlepas. Talinya terpotong!
"Aduh, tangan Dazai jadi terasa kesemutan begini. Kakek Buyut mengikat tali Dazai terlalu kencang," keluh Dazai. Ia mengibas-kibaskan tangannya. Jari telunjuk kanannya terluka. Perban yang melilit lengan kanannya dan leher Dazai tampak lusuh dan kendur. Sedangakan perban yang melilit lengan kirinya sudah tidak ada.
"Bagaimana bisa kau melepaskan ikatan tali itu?!"
"Dengan ini, tentunya~" sahut Dazai dengan ceria seraya memamerkan sebuah pecahan kaca bertepi tajam di tangannya.
Pria itu teringat saat ia memukul Dazai tadi. Kaca jendela yang pecah! Ia menyadari kesalahannya.
"Jadi saat itu, kau memang sengaja membiarkan dirimu menghantam kaca jendela. Kau …bocah sial!"
Dazai tersenyum dan mengangguk. "Oh, ya Kakek Buyut. Coba lihat ke belakang. Ada tamu istimewa yang datang," Dazai menunjuk ke pintu yang terdapat di belakang pria itu. Pintu kayu bobrok itu sedikit terbuka.
Pria itu bergetar, ia merasakan ada aura mengerikan yang mendekat. Ia menatap pintu dengan raut wajah tegang. Buru-buru ia membuang tongkat baseball di tangannya dan meraih sepucuk pistol yang terselip di pinggangnya. Sesuatu muncul dari balik pintu! Sesuatu itu terlihat kecil, berbulu, dan berwarna orange.
"Kucing?!" tanya pria itu keheranan.
"Meeeooongg~" Dazai menirukan suara kucing. Kucing kecil berwarna orange itu berlari ke arah Dazai.
"Dasar, kupikir apa yang …."
BLAAAAAARRRRRR!
Pintu itu hancur seketika oleh sebuah benda aneh berwarna hitam kemerahan. Benda aneh itu seperti makhluk hidup, mengeluarkan geraman seperti anjing liar. Seorang pemuda berwajah pucat, kontras dengan warna jas panjangnya yang berwarna hitam pekat, berjalan masuk. Pemuda itu adalah Akutagawa Ryunosuke.
"Si-si-siapa kau?" tanya pria itu
"Diablo (translate : devil/iblis)," jawab Akutagawa.
"Iblis?!" Pria itu menggengam erat sepucuk pistol di tangannya dengan lebih erat
Beberapa orang menyusul dari belakang Akutagawa. Mereka adalah para anggota Armed Detective Agency, minus Kunikida Doppo yang dengan sangat terpaksa tidak bisa hadir karena ada pesan dari Direktur Fukuzawa bahwa akan ada tamu penting yang akan datang. Namun, dari tadi Kunikida terus menelepon Atsushi menanyakan ini dan itu, terutama perkembangan berita tentang Dazai. Kunikida ternyata memiliki bakat sebagai seorang paparazi yang selalu haus berita.
"Kalian! Bagaimana mungkin kalian bisa menemukan tempat ini? Bukannya kalian seharusnya pergi ke tempat yang kusebutkan di surat ancaman itu?"
Seorang detektif bertubuh mungil dan mengenakan kacamata bernama Ranpo tersenyum bangga. "Dengan ability : Super Deduction, melacak tempat ini sangatlah mudah. Kucing itu yang membawa petunjuk utama. Selain itu, benda-benda yang dijatuhkan Dazai sebagai petunjuk juga sangat membantu."
Ranpo memegang sehelai perban yang terdapat coretan dari darah pada permukaannya. "SOS, X-POD-7. Ini adalah kode yang ditinggalkan Dazai. SOS adalah sinyal yang umum dipergunakan dalam dunia pelayaran sebagai pertanda keadaan gawat darurat dan permintaan pertolongan. X adalah penyingkatan dari 'ex-' yang diartikan sebagai 'bekas'. POD adalah singakatan dari Port Of Discharge yang artinya Pelabuhan Pembongkaran Muatan. Angka 7 merujuk nomor bangunan. Sehingga kode itu dapat diterjemahkan menjadi 'Gawat darurat, bekas Pelabuhan Pembongkaran Muatan bangunan nomor 7'. Itu adalah petunjuk tempat ini."
Ranpo membetulkan letak kacamatanya yang agak menurun. Lalu lanjutnya, "Begitu Dazai mengetahui tempat di mana dia akan disekap, Dazai melukai jarinya sendiri dan buru-buru menuliskan kode itu pada perban yang melilit lengan kirinya. Diam-diam ia menjatuhkan perban itu yang kemudian diambil oleh kucing yang mengikuti Dazai. Kucing itu kembali ke kantor dan kami tahu itu adalah perban milik Dazai. Petunjuk benda-benda yang dijatuhkan Dazai di sepanjang jalan juga sangat membantu. Baiklah, tugasku sudah selesai. Selanjutnya kuserahkan pada kalian." Ranpo melenggang dengan santai keluar ruangan.
Pria itu tertegun. Jangan-jangan bocah bernama Dazai itu memang Dazai Osamu yang merupakan anggota Armed Detective Agency seperti orang-orang yang ada di hadapannya. Jika bocah itu memang Dazai Osamu yang itu, bukan hal mustahil untuk bocah sekecil itu memiliki pemikiran yang sedemikian cerdasnya.
Kini para anggota Armed Detective Agency dan Akutagawa menatap ke arah pria itu. Ia tahu bahwa ia sudah tersudut. Tidak mungkin lagi ia mengharapkan bantuan. Sepertinya komplotannya sudah terlebih dahulu dihabisi. Ia tak habis akal. Dengan cekatan ia menarik tubuh Dazai. Ia menodongkan pistolnya kepada Dazai.
"Hentikan!" teriak Atsushi. "Jangan sakiti Dazai!" Atsushi bergerak maju.
"Jangan mendekat! Jika kalian berani mendekat, maka akan kubunuh dia!" ancam pria itu.
Atsushi tak berani mendekat. Begitu pula yang lain. Mereka khawatir pria itu bertindak neka lalu menarik pelatuk pistol dan melukai Dazai. Akutagawa terlihat murka. Ia tak ingin hal yang buruk terjadi pada Dazai kecil kesayangannya.
"Hwaaaaaangggg!" Jeritan Dazai yang menyaingi suara take off pesawat Boeing 737 dari jarak 200 feet mulai mengudara. Kira-kira tingkat kebisingannya mencapai 130 decibel! Padahal toleransi pendengaran manusia normal paling maksimal hanya sekitar 85 decibel. Berpasang-pasang telinga di sini mulai terasa sakit.
"Papa! Nii! Dazai takut! Hwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnngggg! Tolong Dazaaaaaiiii, hwwwwwaaaaaannnnngggg!" Jeritan Dazai semakin menjadi-jadi. Para pemilik berpasang-pasang telinga di sini mulai merasa telinga-telinga mereka seakan mau rontok. Yakinilah satu hal, ancaman jeritan dan tangisan Dazai jauh lebih menakutkan dari ancaman sebuah pistol.
"Diam kau, cengeng!" bentak pria itu sembari menahan rasa sakit di telinganya. Ia jadi menyangsikan kesimpulan sementaranya tadi bahwa bocah cengeng ini adalah 'Dazai Osamu'.
"Hwaaaaaaaaaaaaanggggggg! Papa! Nii! Dazai dibentak! Hwaaaaangggggg!" jerit Dazai lebih dahsyat lagi sambil menarik pistol dari tangan pria itu.
Pria itu terkaget. Ia tak sengaja menarik pelatuk pistolnya.
"DAZAAAAAAIIIIII!" seru Atsushi dan Akutagawa bersamaan.
CLACK!
Pistol itu macet, tak bisa mengeluarkan peluru. Pistol itu safety lock-nya terpasang. Pria itu merasa yakin betul bahwa ia sama sekali tak memasang safety lock pistolnya. Kecuali jika ada yang diam-diam menarik safety lock. Ia memandang tajam ke arah Dazai. Ia mengacungkan tanda 'peace' dengan dua jari mungilnya. Senyum lebar yang memamerkan deretan gigi putih dan rapi itu terpampang di wajah Dazai. Memang Dazai yang melakukannya saat ia menarik pistol itu tadi. Tangisan dan jeritan Dazai tadi hanya sebagai pengalih perhatian semata.
Akutagawa menggeram, "Beraninya kau menyentuh Dazai dengan tangan kotormu itu!"
Rashomon mulai berubah bentuk. Kali ini membentuk sulur-sulur berujung tajam seperti ujung tombak. Akutagawa memandang pria itu dengan tatapan penuh nafsu membunuh. Ia menghujamkan rashomon ke arah pria itu dengan kecepatan tinggi.
Demi menghindari rashomon, akhirnya ia melepaskan Dazai. Rashomon menjerat pria itu dan mengangkat tubuhnya ke udara. Salah satu sulur berubah bentuk lagi. Kali ini membentuk sebuah sabit besar bertepi sangat tajam seperti sabit kematian milik para shinigami. "Aku tidak punya rencana untuk menghabisimu secara perlahan." Rashomon yang berbentuk sabit itu melesat. Sasarannya adalah leher pria itu!
"Hwaaaaaaangggg, Papa!" panggil Dazai.
Akutagawa mendapati ada sepasang lengan mungil yang mendekap erat dirinya. Akutagawa menghentikan gerakan rashomonnya. Leher pria itu selamat.
"Papa! Dazai takut," kata Dazai. Sepasang mata berwarna coklat kemerahan yang berlinang-linang air mata itu menatap Akutagawa. Akutagawa melupakan mangsanya. Kini seluruh perhatiannya langsung teralihkan pada Dazai.
Ia menarik rashomon-nya, membuat pria itu terjatuh ke lantai dan memimbulkan bunyi 'DUMMM' yang cukup keras. Akutagawa tak peduli pria itu meringis kesakitan. Setidaknya, pria itu harus merasa bersyukur Akutagawa mengampuni dirinya.
Akutagawa memilih untuk memberikan sebuah pelukan hangat pada Dazai kecil yang sedang menangis ketakutan. "Hush, hush. Dazai, jangan menangis. Papa ada di sini," ucap Akutagawa lembut sambil mengusap-usap kepala Dazai dengan penuh kasih sayang. Isakan Dazai teredam oleh jas Akutagawa yang kini tampak basah kuyup dan kusut oleh air mata Dazai.
"Papa, boleh nanti Dazai minta es krim?"
"Tentu. Papa akan belikan yang banyak."
Bersyukurlah penghasilan Akutagawa sebagai anggota mafia terhitung lebih dari sekedar cukup untuk biaya dry cleaning jasnya di laundry dan membeli banyak es krim untuk Dazai.
"Yes! Papa Ryu memang yang terbaik!"
Dazai bersorak kegirangan. Sementara Akutagawa merasa seakan hatinya terbang ke sana ke mari di taman bunga khayalan bersama ratusan kupu-kupu berwarna-warni karena pujian Dazai. Akutagawa merasa bahagia!
"Dazaiiii! Syukurlah kau selamat ...hyaaaaahhh!" Awalnya Atsushi berniat untuk memberikan pelukan hangat. Tapi apa daya, langkahnya terhenti oleh rashomon yang nyaris menghujam kakinya. Akutagawa memberikan tatapan maut -jangan mendekat, jinko. Dazai miliku-. Atsushi hanya bisa pasrah dan tertunduk lesu di pojok ruangan. Awan mendung emo muncul di atas kepala Atsushi.
"Wah, sayang sekali jika dia dibiarkan lolos tanpa hukuman. Biarkan aku memberinya sedikit pelajaran." Yosano melangkah maju. Ia terlihat sangat antusias untuk segera menggunakan parang yang ada di tangannya. "Ohhh~ Tenang saja, aku hanya akan membuatku setengah mati. Hehehehe~" Yosano terkekeh. Ia mengayun-ayunkan sebilah parang dengan semangat.
"Yosano-sensei. A-a-apa Anda tidak terlalu ber-ber-lebihan?" tanya Tanizaki takut-takut.
Yosano mendelik ke arah Tanizaki. "Kau mau juga merasakan tebasan parangku?"
"HIIIIIIHHHH! TIDAK, TERIMA KASIH!" Tanizaki berlari tunggang-langgang ke luar ruangan karena ketakutan.
"Yosano-sensei. Biarkan aku membantumu untuk memberikan hukuman pada 'sapi' yang nakal. Akan kutunjukan bagaimana cara mendidik 'sapi' yang baik ala keluarga Miyazawa!" Kenji juga terlihat bersemangat. Ia mengibas-kibaskan pipa besi di tangannya dengan liar.
Mereka berdua pasangan penghukum yang cocok. Pria itu tampaknya hanya bisa pasrah dalam ketakuan dan siap menjerit-jerit kesakitan untuk beberapa waktu ke depan. Ini adalah sebuah petaka untuknya. Ia benar-benar merasa menyesal telah menculik Dazai Osamu. Seluruh prediksi Dazai memang menjadi kenyataan.
Namun, ia masih bingung akan suatu hal. Jika bocah bernama Dazai yang ia culik memang Dazai Osamu yang itu, mengapa ia tadi bertindak seperti anak kecil? Apa bocah bernama Dazai itu telah menipunya? Atau malah orang-orang itu yang ditipu Dazai Osamu?
30 menit kemudian, polisi tiba di tempat kejadian. Mereka memborgol seluruh komplotan itu. 'Bos' dalang utamanyapun tak bisa lolos dari belenggu besi. Ia ditangkap di tempat yang dibocorkan oleh pria yang disebut 'Kakek Buyut' oleh Dazai. Para polisi berterima kasih kepada anggota Armed Detective Agency dan Akutagawa.
Akutagawa terlihat tidak begitu peduli. Dia terlalu berfokus kepada Dazai dalam gendongannya. Ia hanya ingin sesegera mungkin 'pulang' untuk membersihkan dan merawat luka-luka Dazai.
Setelah semua selesai, akhirnya mereka bisa kembali ke kantor. Namun, begitu mereka menginjakan kaki di kantor, mereka merasakan aura mengerikan yang luar biasa. Kucing kecil yang dibawa Dazai terlihat ketakutan. Ia bersembunyi di dalam vest Dazai yang kini tampak lusuh.
"Kenapa suasananya terasa begitu mengerikan seperti film horor, ya?" Atsushi bertanya sembari memutar knop pintu masuk dengan penuh keraguan. Ia merasakan adanya hal yang gawat di balik pintu ini.
Mereka semua terkejut dengan pemandangan yang tersaji di depan mereka. Aura mengerikan memenuhi ruang tamu dan penuh percikan api. Direktur Fukuzawa Yukichi dan Kunikida Doppo duduk berhadap-hadapan dengan Mori Ougai dan Nakahara Chuuya.
Ini 'tamu penting'-nya? Sepertinya telah terjadi kesalahpahaman di sini.
Bisa kebetulan sekali dua orang penting dari Port Mafia bisa bertamu di kantor Armed Detective Agency. Baiklah ...sebutlah ini sebagai kebetulan yang mengerikan. Ini hanya alibi Author Fanfic ini yang begitu sengaja mengulur-ulur plot karena sudah kehabisan ide. Tolong kasihanilah Author yang rela mengetik ini sampai lewat tengah malam. Ok, cukup basa-basinya. Mari kita lanjutkan.
"Fukuzawa Yukichi-donno, senang bertemu lagi dengan Anda. Tentunya, pertemuan kita yang terakhir cukup 'menyenangkan', bukan?" Nada sinis membayangi kata-kata yang diucapkan oleh Mori Ougai. Sebuah seringai terpampang jelas di bibir Mori.
"Mori Ougai-donno, saya juga merasa senang dapat berjumpa lagi dengan Anda. Betul kata Anda. Pertemuan terakhir kita memang cukup 'menyenangkan'," balas Fukuzawa tak kalah sinisnya.
Mereka berdua menggenggam erat senjata masing-masing, Mori dengan pisau bedahnya dan Fukuzawa dengan samurainya. Mereka siap menghunus senjata tajam yang ada dalam genggaman mereka dalam hitungan detik. Aura mengerikan menguar dari dua sosok pemimpin ini.
Sepertinya, aura mengerikan ini tidak hanya muncul karena dua sosok pemimpin yang saling bersebrangan paham itu. Namun, juga ada dua orang lain lagi yang terlibat di dalamnya. Mereka adalah Nakahara Chuuya dan Kunikida Doppo.
"Merupakan suatu kehormatan bisa duduk bersama dengan detektif dari Armed Detective Agency yang terkenal itu. Kudengar kau adalah partner Dazai sekarang. Turut berduka cita atas kemalanganmu." Chuuya memulai pembicaraan. "Kuharap Dazai tidak terlalu membuat banyak masalah," lanjut Chuuya sembari memandang secangkir teh yang disajikan dengan tatapan meremehkan.
"Saat ini Dazai bukan hanya sekedar partner bagiku. Dia, si kecil Dazai, saat ini adalah anak asuhku. Untungnya, saat ini dia sudah tidak berada di mafia lagi. Tak bisa kubayangkan bagaimana jika Dazai kecil diasuh di lingkungan mafia." Kunikida menambahkan, "Kudengar hubunganmu tidak terlalu baik dengan Dazai. Benarkah?" Daripada pertanyaan, itu lebih tepat jika dibilang sebuah pernyataan.
Kedua orang ini, mantan partner dan partner Dazai Osamu saat ini, sesama tipe tempramental. Amarah mereka gampang tersulut. Urat-urat kemarahan di pelipis mereka menunjukan bahwa mereka saat ini sedang berusaha mati-matian menahan emosi yang sebetulnya siap meledak kapanpun.
"Mohon tenangkan diri kalian!" Atsushi mencoba melerai perselisihan tersebut.
"Orang di luar, diam saja!" keempat orang yang terlibat perselisihan tersebut menghardik Atsushi dengan kompak. Hardikan orang-orang itu sukses membuat keberanian Atsushi mengkerut dan memilih untuk berlindung di balik Tanizaki yang saat ini sedang berlindung di balik Ranpo. Sedangkan Yosano? Yosano sedang menatap ke arah area konflik sambil memegang sebuah parang. Ah, dokter Yosano memang orang yang seperti itu~
"Bos. Chuuya-san." Akutagawa membungkukan tubuhnya sebagai salam hormat kepada bos dan salah satu petinggi Port Mafia. Bagaimanapun Akutagawa harus menghormati sistem hirarki Port Mafia.
"Oh, Akutagawa-kun!" Mori menyapa Akutagawa. "Apa Dazai-kun ada bersamamu? Saya membawa beberapa hadiah untuknya." Mori terlihat begitu antusias meletakan sebuah kantung kertas super jumbo ke atas meja. "Dazai pasti ...!" Mori terkejut melihat Dazai yang muncul dari balik tubuh Akutagawa. Wajah serta pelipisnya memar dan berdarah. Rambutnya kusut dan tampak sedikit lengket oleh darah. Bajunya terlihat kotor dan lusuh.
Mori bergegas mendekati Dazai. Ia memeriksa dengan sesama kondisi Dazai. "Bagaimana kau bisa sampai terluka seperti ini, Dazai-chan?"
Dazai tidak menjawab pertanyaan Mori. Ia hanya merunduk.
Mori menggendong Dazai. "Chuuya-kun, tolong ambilkan kotak P3K di mobil, luka Dazai harus segera dirawat."
.
.
.
30 menit kemudian, kondisi Dazai sudah terlihat agak sedikit lebih baik. Tubuhnya sudah dibersihkan, pakaiannya sudah diganti, dan luka-lukanya sudah dirawat. Perban yang melilit tubuh Dazai jadi semakin bertambah banyak dibanding biasanya.
"Fukuzawa-donno, sepertinya Anda sudah mengetahui maksud kedatangan saya kemari," kata Mori dengan tenang.
"Jika Anda bermaksud untuk mengambil Dazai, maka saya tidak akan mengizinkan." Fukuzawa menjawab dengan nada tegas
"Berikan Chibi Dazai pada kami!" Chuuya ikut bicara.
"Enak saja kau bicara! Tidak akan pernah! Organisasi Port Mafia bukan lingkungan yang ideal untuk tempat tinggal anak kecil!" Kunikida menimpali
"Kenyataannya Dazai dulu tumbuh berkembang sebagai mafia. Dazai adalah murid kesayangan saya." Mori mengatakan hal ini dengan nada bangga.
"Chibi Dazai bahkan telah tinggal lebih lama di Port Mafia daripada Armed Detective Agency!" sambung Chuuya.
Kata-kata Mori dan Chuuya membuat Kunikida terdiam. Benar, kenyataannya Dazai memang seorang mafia. Dulu ...
"Fukuzawa Yukichi-donno, melihat kondisi Dazai saat ini saya menjadi sangat mencemaskan Dazai. Saya sama sekali tidak bisa mempercayakan Dazai pada Anda. Saya bermaksud mengambil Dazai kembali."
Fukuzawa menatap tajam lawan bicaranya. "Itu tidak bisa. Dazai Osamu saat ini adalah bagian dari Armed Detective Agency, bukan lagi bagian Port Mafia. Saat ini, dia ada dalam perlindungan saya.
"Perlindungan Anda? Nyatanya Anda sudah gagal dalam melindunginya. Saya adalah orang yang membesarkan dan mendidik Dazai selama belasan tahun. Dibandingkan Anda yang baru mengenalnya selama 2 tahun terakhir ini, secara logika saya punya hak lebih untuk mengambil kembali Dazai."
Mori Ougai dan kelicikannya ...opppssss ...ehem, logikanya adalah kombinasi yang fantastis. Percayalah, Mori terdiri dari 90% evilish logic, 5% psychopath, dan 5% sadism.
"Tidak ingatkah Anda dengan perlakuan buruk Anda pada Dazai sehingga membuatnya memilih untuk meninggalkan Port Mafia?"
Pertanyaan itu sukses membuat Mori kesal.
"Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan sebagai mentor Dazai. Ia juga sedikit banyak sudah memahami alasan saya."
"Sepertinya adu argumen ini tidak akan ada habisnya. Bagaimana jika kita selesaikan saja?" tawar Fukuzawa. Ia menggengam hulu samurainya.
"Ide yang tidak terlalu buruk." Mori bersiap dengan pisau bedahnya.
Chuuya dan Kunikida juga bersiap-siap untuk berhadapan satu sama lain.
Akutagawa? Dia tak begitu ambil pusing dengan silang sengketa ini. Dazai dibawa pulang ke Port Mafia ataupun tetap berada di Armed Detective Agency, Akutagawa tetap bisa berada dekat dengan Dazai-nya. Saat inipun Akutagawa tak bisa jauh-jauh dari Dazai. Ia membantu Dazai untuk minum susu dengan memegangi gelas susunya, sementara Dazai sibuk bermain dengan kucing di pangkuannya. Momen Papa-Anak yang sungguh manis.
"Ranpo-san, lakukan sesuatu!" Atsushi mempertaruhkan kepercayaannya kepada seniornya itu. Sementara seniornya itu terlihat ogah-ogahan.
"Tunggu. Daripada berduel, bukankah lebih baik bertanya langsung pada Dazai? Dia yang paling berhak menentukan ia akan ikut dengan pihak mana."
Empat pasang mata tertuju ke arah Dazai. "Dazai, tentukan dengan pihak mana kau akan ikut?" tanya mereka berempat dengan kompak.
"Kembalilah ke Port Mafia. Kau bebas melakukan apapun yang kau mau." Lalu Mori tampak mengeluarkan beberapa barang dari kantung kertas jumbo yang di bawanya. "Dazai-chan, lihat ini. Ini satu set papan catur yang bidak-bidak caturnya diukir satu-persatu dan buku-buku langka Game Theory cetakan pertama, ini hadiah dariku. Boneka Ken ini adalah hadiah dari Elise-chan, dia bilang bahwa ia ingin bermain denganmu. Uchigi (kimono yang dipakai di atas kimono) bermotif burung bangau putih yang indah dan permen-permen ini adalah hadiah dari Koyou. Kepiting-kepiting mainan dari kayu ini adalah hadiah dari Black Lizard. Lalu, topi beanie berbentuk kepala kucing lucu berwarna hitam ini adalah hadiah dari ..."
"Itu hadiah dariku," potong Chuuya. "Dua hari yang lalu aku melihat topi itu saat aku sedang dalam perjalanan untuk sebuah misi. Kupikir topi itu terlihat cukup manis dan cocok bila dipakai Chibi Dazai." Chuuya memalingkan wajahnya yang mulai memerah. "Kembalilah ke Port Mafia, Chibi Dazai."
"Momo-san. Chuchu-san." Dazai memandang ke arah Mori dan Chuuya. Perlahan ia mendekat. Perhatiannya tertuju pada kotak papan catur, ia menumpahkan bidak-bidak catur yang tersimpan di dalamnya. Kemudian ia mengambil satu-persatu bidak catur dan menyusunnya di papan. Melihat hal itu, Mori tersenyum puas.
Kunikida merasa posisi Armed Detective Agency terancam. Kunikida segera berlari ke ruangan dalam lalu kembali lagi dengan kecepatan luar biasa. "Dazai! Kau boleh mencoret-coret buku ini sesuka hati ...tapi kumohon pertimbangkan untuk tetap tinggal di sini."
Kunikida membuka buku catatannya yang sudah lusuh. Permukaannya sedikit menggelembung dan tidak rata. Di salah satu lembar buku catatan itu ada coretan dari crayon membentuk gambar empat orang yang tersenyum dan tulisan 'Papa, Nii, dan Jiji sayang Dazai' di bawah gambar itu. Di bawahnya lagi, terdapat tulisan tangan Kunikida. Tertera tanggal dua hari yang lalu dan memo :
'Jika Dazai ingin kabur dari rumah, pastikan Dazai memberi tahu ke mana ia akan pergi. Pastikan juga bahwa Akutagawa Ryunosuke dan Nakajima Atsushi ada bersama Dazai. Termasuk aku.'
'Jangan pernah tinggalkan si kecil Dazai sendirian.'
Kunikida menggenggam buku catatannya itu dengan erat sambil berkata, "Aku juga akan selalu memasak makanan yang enak untukmu. Aku juga akan menyanyikan lagu nina bobo untukmu sebelum tidur."
Kunikida tidak ingin kehilangan Dazai. Kunikida sangat menyayangi si kecil Dazai. Atushi mengerti itu. Sama seperti Atsushi. Atsushi sangat menyayangi si kecil Dazai. Atsushi akhirnya juga ikut buka suara, "Dazai suka bermain kucing-kucingan 'kan? Nii akan jadi kucing tunggangan Dazai sehari penuh, kita akan berkeliling kantor!" Atsushi berusaha membujuk Dazai. Walau ia tahu nanti ia harus berjuang dengan tulang-belulangnya yang menderit-derit, tapi asalkan Dazai tetap mau tinggal di sini ...
Ranpo mengamati gerakan tangan Dazai yang menyusun bidak-bidak catur pada papan yang di arahkan ke dua orang mafia di hadapannya. Itu bukan susunan bidak biasa. Ranpo menyipitkan matanya.
Baris pertama :
'Satu kotak kosong tanpa pion, berikutnya pion putih, kemudian pion-pion hitam memenuhi kotak-kotak berikutnya'
Baris kedua :
'Tiga kotak kosong tanpa pion, kemudian kotak-kotak selanjutnya diisi oleh pion-pion hitam'
Ranpo tersenyum. Ia mengerti maksud Dazai. 'Begitu rupanya,' gumam Ranpo dalam hati. "Dazai sudah memutuskan untuk tetap berada di sini," kata Ranpo tiba-tiba.
"Hey, detektif cebol mata empat! Bagaimana kau bisa yakin Chibi Dazai tidak akan ikut dengan kami?" tanya Chuuya ketus. Terus terang, ia merasa sangat marah.
Ranpo terlihat tetap tenang, ia bersandar pada kursinya. Ia mengarahkan telunjuknya ke arah papan catur di hadapan Dazai. "Lihat baik-baik susunan bidak catur itu. Biasanya memberi tanda 'strip' pada kotak isian formulir untuk jawaban yang kosong, jadi kotak pada papan catur kosong dalam hal ini melambangkan strip. Pion putih melambangkan titik. Pion hitam melambangkan blockade, jadi cukup berfokus pada kotak kosong dan pion putih. Strip dan titik, apa dua hal itu tidak membuat kau teringat akan sesuatu, Tuan Mafia Cebol?"
"MAFIA CEBOL, KATAMU?! AKAN KUHAJAR, KAU!" Chuuya mengepalkan tinjunya.
Mori menarik jubah Chuuya, "Tahan dirimu, Chuuya-kun." Mau tidak mau, Chuuya menuruti perintah Mori. Ranpo menjulurkan lidahnya untuk mengejek Chuuya. Amarah Chuuya naik lagi.
"KUHAJAR, KAU!" teriak Chuuya sambil melayangkan kepalan tinju-tinjunya ke udara.
"Chuuya-kun, tenanglah!" Mori kembali menenangkan Chuuya yang sedang mengamuk.
Mori mengamati pion-pion catur yang berdiri di atas papan catur.
Baris pertama :
_ . = N
Baris kedua :
_ _ _ = O
'NO'
Senyum Mori memudar. Dia tak dapat menyembunyikan rasa kecewanya. Terpampang jelas penolakan Dazai dari Sandi Morse yang diberikan Dazai melalui bidak-bidak catur. Ironis, memang. Itu adalah salah satu hadiah dari Mori sendiri.
"Saya mengerti. Baiklah, saya permisi dulu, Fukuzawa-donno." Mori beranjak dari tempat duduknya. Ia menyempatkan diri untuk membelai kepala Dazai dengan lembut. "Jaga dirimu baik-baik, Dazai-chan."
Mori memerintahkan Akutagawa, "Akutagawa-kun, aku percayakan Dazai padamu. Jaga Dazai baik-baik."
"Baik, Bos," kata Akutagawa dengan penuh keyakinan.
"Ayo pergi, Chuuya-kun."
Mori melewati Fukuzawa. Ia berjalan lurus menuju pintu keluar tanpa menoleh. Chuuya mengikuti Mori di belakang, sambil sesekali menoleh ke belakang. Dazai terlihat sangat bahagia di tengah-tengah Armed Detective Agency. Chuuya menghela nafasnya.
"Silahkan datang lagi jika Anda ingin menjenguk Dazai kecil."
Kata-kata Fukuzawa membuat langkah Mori terhenti sejenak. "Akan kupertimbangkan," jawab Mori tanpa menoleh sedikitpun. Lalu ia melangkah keluar dari kantor. Ia berusaha mengabaikan sorak-sorai kegirangan orang yang bernama Kunikida dan Atsushi yang terdengar hingga keluar, juga tawa ceria Dazai. Mori memang sudah menduga dari awal bahwa Dazai akan menolak keinginan Mori untuk membawanya kembali ke Port Mafia. Namun, entah mengapa ia masih saja merasa kecewa.
Hal yang sama sebetulnya juga terjadi pada Chuuya. Ia kecewa karena gagal membawa pulang Chibi Dazai. "Bos, apa tidak apa-apa kalau begini?"
Mori tidak tahu harus menjawab apa. Sangat tidak mungkin baginya untuk menjawab 'tidak apa-apa' saat ini. Mori menatap langit biru. Angin berhembus, menerpa lembut wajahnya.
Di saat yang bersamaan, sebuah pesawat kertas melayang di udara. Tak lama kemudian pesawat kertas itu mendarat di tanah, tergeletak di dekat kaki Mori. Mori memungutnya. "Hehehe," Mori tertawa terkekeh.
"Bos?!" Chuuya menatap Mori heran.
Mori menyelipkan pesawat kertas itu di saku bagian dalam mantelnya. "Tidak apa-apa. Ayo kita pergi sekarang, Chuuya-kun."
Mori dan Chuuya memasuki mobil mewah berwarna hitam yang telah siap untuk membawa mereka kembali ke Port Mafia. Mori tidak menutup jendela mobilnya. Ia memandang lama ke gedung Armed Detective Agency.
Terlihat jelas seorang anak kecil berdiri di beranda. Ia mengenakan topi berbentuk kepala kucing berwarna hitam dan uchigi bermotif bangau putih. Di tangannya tergenggam sebuah kepiting mainan dari kayu. Anak kecil itu tersenyum. Ia melambaikan tangan mungilnya. "Sampai jumpa lagi Momo-san dan Chuchu-san!" teriak Dazai.
Chuuya tidak dapat menahan tawanya. Ia melongok keluar jendela mobil dan meneriakan, "Sampai jumpai, Chibi Dazai!" Ia melambaikan tangannya dengan penuh semangat. Rasa kecewanya sedikit terobati.
Mori tersenyum seraya menyentuh pesawat kertas yang berada aman di balik mantel hitamnya. "Mungkin beberapa hari lagi kita akan kembali ke sini untuk menjenguk Dazai-chan lagi," kata Mori.
'Sampai jumpa, Dazai Osamu.'
XXX
Curhatan iseng dari Author : Maaf saya terlambat untuk publish chapter ini (biasanya jadwal publish adalah hari Jumat). Sebetulnya, chapter ini sudah selesai dari beberapa hari lalu. Namun, berhubung saya berusaha memenuhi request dari readers untuk memunculkan Ranpo dan Chuuya, saya akhirnya melakukan perombakan besar-besaran pada chapter ini. Tantangan terbesar dalam mengerjakan chapter ini adalah 'bagian teka-tekinya'. Saya pikir suatu cerita detektif tidak akan seru apabila tidak ada sama sekali teka-teki di dalam ceritanya. Terutama karena saya memunculkan Ranpo Edogawa. Untuk hal ini, saya benar-benar memutar otak dan mencoba bermain dengan kode. SOS, X-POD-7. Kode tersebut sebetulnya ide awalya karena saya gak sengaja melihat merk bungkus pembersih lantai, tipe-X, dan tulisan di sebuah tanda terima expedisi pengiriman barang jalur laut. Sedangkan, untuk sandi Morse dan bidak catur, saya membuatnya berdasarkan keisengan saya bermain catur (saya lebih suka menyusun bidak catur menjadi huruf tertentu daripada betul-betul memainkannya) dan kebiasaan saya dalam mengisi formulir (kalau kosong, biasanya saya beri tanda strip). Hahahaha, kalau baca penjelasan saya di sini, akan terlihat jauh berbeda daripada penjelasan pada ff di atas 'kan? :D Khusus untuk fans Chuuya, saya beneran gak bermaksud jahat dengan memakai istilah 'Tuan Mafia Cebol'. Lagipula, Chuuya bisa puas dengan 'Chibi Dazai'. Dazai lebih chibi~
