Hunkai / Kaihun / Kaise / Sekai

Friendship / Bromance / Crime / Hurt

Rated T+

Warning! Typo bertebaran! Jadi mohon maaf buat ketidaknyamanannya. Kadang karena kesalahan pengetik tapi kadang karena autocorrect computer yang emang rada kayak yang punya :p

Selamat membaca!

.

.

Wajah Sehun mengeras saat menatap layar televisinya. Tangannya yang mengenggam remote juga mengerat hingga tak ia rasa remote televisinya meretak. Ia tak bermaksud melakukannya. Hanya saja tayangan yang terpampang di hadapannya membuatnya kalap.

Seseorang datang dari lorong depan dengan langkah lesu. Ia memandang Sehun dengan pandangan bingung. Ia lalu memutuskan untuk mendekat dan melempar tas sekolahnya dengan sembarang ke arah sofa.

"Wu Yifan!" celoteh seseorang yang kini sudah berdiri di samping Sehun, ikut menatap layar televisi di depannya, "kau juga mengenal orang itu?"

Sehun tersentak kecil. Ia memandang ke arah sampingnya yang sedang menampakkan sisi wajah Jongin yang sedang memasang wajah berpikir. Sehun menekan tombol pada remotenya ke arah televisi guna mematikanya.

Jongin berkedip ketika mendapati layar televisinya tiba-tiba mati, "kenapa kau matikan?"

Sehun tersenyum tipis, "tidak ada yang penting!" kata Sehun dan melangkah menuju dapur, "kenapa kau sudah pulang?"

"Aku baru saja dari rumah sakit!" Jongin menghempaskan tubuhnya ke arah sofa dan merebahkan tubuhnya senyaman mungkin disana.

Sehun memutar kepalanya secepat mungkin mendengar perkataan Jongin, "kau sakit?"

Jongin yang sudah menemukan posisi tidur yang enak terlihat mulai memejamkan mata, "tidak! Aku kesana karena Xiumin!" kata Jongin melirih dan tak berapa lama terdengar suara napas yang teratur dari arah Jongin.

Sehun menatap sulit ke arah Jongin yang sudah terlelap dengan cepat sebelum ia membuka mulut untuk melontarkan pertanyaan lain. Tapi kurasa ia paham apa yang dilakukan Jongin disana.

-xoxo-

6

.

Sehun menguap saat mengangkut beberapa koper mereka ke dalam bagasi mobil. Liburannya sudah berakhir dan mereka harus kembali. Sesuai janjinya pada Joonmyeon, ia membawa Xiumin ikut serta.

"Bibi Hao, apa benar anda tak mau ikut dengan kami?" tanya Sehun memastikan.

Wanita kepala enam itu tersenyum lembut dan mengusap wajah tampan Sehun, "saya akan disini menjaga rumah Tuan Shixun! Jadi Tuan bisa beristirahat disini kapanpun!"

Sehun mengangguk mengerti, "baiklah!"

Bibi Hao menangkup tangan Sehun dengan kedua tangannya, "terima kasih karena anda sudah hidup, Tuan!" airmata wanita itu meleleh.

Sehun membantu mengusap air mata Bibi Hao, "jika Bibi menangis. Xiumin akan ikut menangis nanti!" ujarnya lalu membuat mereka tertawa.

"Oppa! Tolong aku!" teriak Xiumin membuat Sehun segera beralih menatap ke arah dalam rumah dan menatap Xiumin yang kesusahan membawa kopernya. Ia tersenyum. Sejak suaranya kembali gadis itu menjadi sangat cerewet. Bahkan ia bisa melebihi Jongin.

Belum Sehun sempat melangkah seseorang sudah melingkarkan tangannya pada pinggang Xiumin dan mengangkatnya, di bahunya. Jongin juga tak lupa menggeret koper Xiumin tadi dengan entengnya, menggunakan tangan lainnya.

"Dasar gadis lambat!" kata Jongin yang membuat Xiumin menggelembungkan pipinya.

"Nini Oppa, turunkan aku!" rengeknya tapi tak dihiraukan oleh Jongin. Sehun menarik langkahnya mundur memberi jalan untuk Jongin keluar. Ia mengambil alih koper Xiumin dan menaruhnya di bagasi. Sedang Jongin memasukan Xiumin pada bangku penumpang di belakang.

"Jonggyu!" teriak Xiumin ketika mendapati boneka beruangnya masih berada di mobil dan sekilas Jongin terlihat tersenyum.

Jongin beralih menatap Sehun dan menengadahkan tangannya ke arah Sehun yang sedang berjalan mendekat ke arahnya, "berikan kuncinya! Aku yang akan menyetir sekarang!" kata Jongin dengan nada menekan dan mau tidak mau Sehun menurut.

Dalam sekejap ia bisa melihat perubahan raut wajah Jongin yang terlihat senang karena mendapati kunci mobil sudah berada di atas telapak tangannya, "ayo kita ke pantai sebelum pulang!" kata Jongin yang disambut sorakan oleh Xiumin. Sehun tersenyum lembut. Ia tidak tahu bagaimana mereka menjadi akrab dan sangat kompak dalam segala hal.

.

Sehun menatap Xiumin yang tertidur di jok belakang. Ia melepas jaketnya lalu menggapai tubuh adiknya, "jika kau lelah bilang padaku!" ucap Sehun masih sibuk berusaha membenarkan letak jaketnya di tubuh Xiumin.

Jongin menggeleng pelan lalu tersenyum lembut, "kau istirahat saja!" Sehun menatap Jongin yang sedang menyetir. Jongin sekarang benar-benar sangat berbeda dari Jongin yang biasanya. Atau ini kepribadian lainnya?

Jongin menatap ke arah Sehun sebentar, memastikan apakah laki-laki pucat itu benar-benar sedang memandangnya ataukah tidak.

"Aku sudah menyusahkanmu beberapa waktu jadi biarkan aku membalas apa yang sudah kau berikan padaku." Ucap Jongin dengan nada cukup serius. Sehun tersenyum. Ia tidak tahu Jongin bisa mengatakan hal-hal melankolis seperti itu.

"Hey, kau tidak salah minum, kan?"

Jongin menatap protes ke arah Sehun sebentar lalu memandang ke arah depan, "kau sedang mengejekku?"

Sehun terkekeh, "aku hanya memastikan saja!"

Jongin merengut, "itu sama saja, Oh Sehun!"

"Benarkah begitu?" tawa Sehun menggelegar.

Sehun bahagia sekarang. Ya, dia sangat bahagia.

-xoxo-

Joonmyeon membenarkan dasinya ketika Sehun mengetuk pintu. Ia tersenyum melihat Sehun yang terlihat berdiri di ambang pintu ruang kerjanya dan segera menyuruhnya mendekat. Sehun mengambilkan mantel Joonmyeon yang tersampir di tangan sofa dan membantu Joonmyeon memakainya.

"Jika kau melakukan ini, aku akan berpikir Yixing yang sedang melakukannya untukku!" kata Joonmyeon yang membuat raut wajah Sehun berubah. Ada sebuah perasan mengganjal di hati Sehun sekarang.

"Apa ayah ada tugas besar?"

Joonmyeon mengangguk, "ya, aku harus menjadi pengawal seseorang!"

Sehun terlihat murung, "kuharap ayah tidak melakukan hal-hal yang membuatmu mendapat masalah!"

Joonmyeon tersenyum, "kau juga! Jangan berpikir melakukan tindakan yang berbahaya untukmu!"

Sehun tahu apa tugas Joonmyeon kali ini dan ini lebih sulit dari tugas yang pernah diampunya. Sehun tersenyum sendu ketika Joonmyeon berlalu pergi, menghilang di balik pintu kayu besar di depannya. Joonmyeon takkan pulang selama dua hari. ia bertugas mengerahkan bawahannya untuk menjaga seseorang yang sebenarnya ingin ia bunuh selama ini.

Ya, orang itu Wu Yifan.

Laki-laki China itu menjadi orang berpengaruh sekarang. Ia menjadi duta perlindungan anak dan wanita di Negara asalnya dan itu cukup membuat miris. Bagaimana bisa laki-laki seperti itu dinobatkan menjadi duta perlindungan? Sedang melindungi wanita yang ia cintai dan anaknya saja ia tak pernah bisa melakukannya.

Sehun mengepalkan tangannya erat dan memukul meja ayahnya, melampiaskan amarahnya. Tangannya memerah karena pukulan tersebut. meski begitu hatinya masih tetap mengganjal.

Sebuah bunyi ponsel terdengar dari luar ruangan, "hey, cepat angkat teleponmu, Bodoh! Apa kau tuli! Angkat cepat!" Sehun memiringkan kepalanya ketika mendengar suara dirinya sendiri meraung-raung. Ia tahu bunyi ponsel siapa itu. Ia melangkah keluar dan mendapati Jongin sedang menerima telepon dengan wajah serius.

"Ada apa?" tanya Sehun ketika sudah berada di depan Jongin.

Wajah Jongin mengeras, "kelompok Naga Timur kembali berulah!"

Mata Sehun memicing, "bukankah mereka sudah bubar?"

Jongin menimang ponselnya dengan tak tenang, "seharusnya. Lalu kenapa tiba-tiba mereka menyerang distrik timur?"

Sehun yang mendengar tempat yang barusaja disebut Jongin terkejut. Itu adalah bekas tempat tinggalnya dulu dan sudah disebutkan kemarin bahwa ia punya list orang-orang yang ia lindungi. Salah satunya adalah Paman Restoran yang berada di distrik itu.

"Ayo, Jongin! Kita harus membantu Jongdae."

Jongin terkesiap. Ia sedikit ragu untuk melangkahkan kakinya. Sebelum berangkat Joonmyeon sudah mengatakan padanya untuk menjaga Sehun dan tak melakukan apapun untuk dua hari ke depan apapun yang terjadi.

Ini sesuatu yang aneh baginya. Memang benar ayahnya selalu mengkhawatirkan semua anak buahnya tapi Jongin yakin ada hal yang sedang ditutupi ayahnya. Dan hati Jongin hari ini terasa tidak enak. Ada yang begitu mengganjal di hatinya. Ia hanya dapat berharap bahwa tidak akan ada hal buruk yang terjadi.

-xoxo-

Kejadian itu sangat sekejap mata. Joonmyeon masing tidak paham. Kejadian masalalu tiba-tiba berkelebat di depan matanya secara kilat. Matanya yang lembut menatap Mata Sehun yang memicing sendu. Kejadian yang sama terulang kembali.

"Ayah, kau baik-baik saja?" tanya Sehun dengan suara melemah. Tangan Joonmyeon bergetar saat mengusap wajah pucat Sehun yang semakin pucat, "kurasa aku datang tepat waktu!"

Sehun tersenyum tanggung lalu luruh terjatuh di tubuh Joonmyeon. Joonmyeon terkesiap ketika mendapati sesuatu yang terasa kental membasahi tangannya. Ini darah Sehun? Kenapa bisa Sehun berdarah?

Ingatannya kembali saat Yixing juga meregang nyawa di pelukannya. Ia berteriak histeris memanggil nama Sehun, "sadarlah! Kau harus tetap sadar, Sehun!" teriaknya khawatir.

"Siapapun! Panggilkan ambulan segera! Aku mohon!" Joonmyeon terus berteriak hingga salah satu dari bawahannya menyahut dan melakukan apa yang diperintahkannya. Darah Sehun merembes dengan cepat membasahi sebagian baju kemeja yang ia gunakan.

Joonmyeon makin ketakutan, "kau harus bertahan, Sehun!"

Terdengar suara hembusan napas dan kekehan yang terdengar tersendat, "ayah, kau benar-benar seperti wanita! Aku tidak apa-apa! Kau tenanglah! Terluka seperti ini sudah biasa bagiku!" Mata Joonmyeon berkaca, ia benar-benar tak ingin kehilangan orang-orang yang berharga untuknya sekali lagi.

"Jika kau tak ingin melihatku menderita, kau harus bertahan Sehun!"

.

Dua jam sebelum kejadian.

Jongin menatap Sehun yang terlihat mengendarai mobil dengan sedikit urakan. Ia tidak tahu kenapa Sehun menjadi sedikit tak terkontrol. Biasanya Jonginlah yang selalu gelap mata, "kau baik-baik saja?"

Sehun hanya mengangguk sekilas.

Jongin beringsut memandang jalanan di depan, "apakah ada hal yang tidak aku ketahui, Sehun? Antara kau dan ayah? Padahal langit begitu cerah tapi aku merasa tidak tenang."

Sehun menatap sekilas Jongin. ia ingin memastikan bagaimana raut wajah Jongin saat ini. sehun mengangkat tangannya yang bebas lalu mengusap surai Jongin, "semua akan baik-baik saja! percayalah padaku!"

Jongin menengok memandang sisi wajah Sehun yang masih serius menatap jalanan, "bisakah kau berjanji tak akan pergi meninggalkanku, Oh Sehun?"

Sehun terdiam lama sebelum menjawab pertanyaan Jongin. Ia sendiri tak yakin dengan perasaannya kini. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi lima menit kemudian, mungkin saja ada hal yang membuatnya harus benar-benar meninggalkan Jongin secara tiba-tiba.

Sehun menarik tangannya dari kepala Jongin dan membanting kemudinya ke kiri dengan cepat guna melewati mobil yang menghalangi jalannya di depan.

"Aku janji!" kata Sehun akhirnya tapi tak merubah raut wajah Jongin yang mendung sekalipun. Jongin juga heran kenapa ia merasa semakin tak tenang ketika Sehun mengatakan hal itu. Sehun yang mendapati Jongin yang terdiam akhirnya membuka mulutnya kembali, "kau tak percaya padaku?"

Jongin menghela napas, "kau hanya perlu membuktikannya padaku, Oh Sehun!" kata Jongin dan Sehun tertawa.

Butuh waktu empat puluh lima menit hingga sampai ke tempat kejadian. Terlihat Jongdae sudah penuh dengan luka ketika mereka sampai disana. Beruntungnya Namjoon sudah ada disana membantu anaknya, Kim Jongdae.

"Kau sendirian, mana yang lain?" tanya Jongin dan memeriksa tubuh Jongdae secara teliti. Sepupunya itu selalu saja memaksakan dirinya.

Suara Jongdae lemah sebelum akhirnya terdengar sayup, "…diserang semalam."

Jongin mengerti mungkin itu menjadi alasan kenapa Pamannya, Namjoon, sekarang berada disana membantu Jongdae dan tidak berada disisi Ayahnya.

Ia memandang ke arah Sehun, "bisakah kau bawa Jongdae ke tempat yang aman? Kau yang lebih mengenal tempat ini. Biar aku mengatasi masalah disini bersama Paman Namjoon!" Sehun mengerti dan segera memapah tubuh Jongdae menjauh.

Tapi belum Sehun melangkah sejauh sepuluh meter beberapa orang pria menghadang mereka dengan pakaian jas yang rapi. Sehun mendesis. Ia mengenal salah satu dari mereka dan itu mengejutkannya, "lama tidak berjumpa, Shixun! Ini sudah tiga tahun sejak kita terakhir bertemu. Sayangnya kita selalu bertemu dalam kondisi yang tak baik."

Sehun menggertakkan giginya, "kurasa begitu, Kim Taehyung!"

Ia ingat laki-laki di depannya itu. Ia adalah teman sekamarnya saat di panti asuhan dulu. Dia adalah penghuni panti yang menerimanya pertama kali. Sehun senang ia mendapat teman saat itu tapi ia selalu dikhianati oleh laki-laki itu.

"Dan aku tak bisa membiarkanmu pergi sekarang!"

"Aku juga tahu itu!"

Belum sempat Sehun menurunkan tubuh Jongdae. Jongin sudah muncu di depannya. Laki-laki itu selalu datang disaat Sehun benar-benar butuh meski tanpa ia minta, "pergilah! Bala bantuan akan segera datang dari Selatan!"

Sehun mengangguk dan pergi. Taehyung berdecak dan menyuruh beberapa orang yang berada di dekatnya utnuk menyusul Sehun tapi gerakan Jongin menghalanginya.

"Lawanmu adalah aku, Kim Taehyung! Sudah lama juga aku ingin bertemu denganmu! Aku mendengar banyak hal tentangmu!"

Taehyun tersenyum miring, "aku tak menyangka Shixun adalah pengadu yang baik!" terlihat Taehyun masih berdiri tak jauh darinya. Jongin menangkis beberapa pukulan orang-orang yang datang menyerangnya.

Jongin tersenyum remeh saat menjatuhkan orang terakhir dan kini mereka saling berhadapan satu sama lain, "tentu saja dia tak akan bercerita apapun! Kuharap kemampuan beladirimu cukup untuk menandingiku!"

"Kau terlalu sombong, Kai!"

Disisi lain Sehun berjalan mendekati sebuah restoran yang terlihat sudah berantakan. Sehun membenarkan letak meja dan kursi lalu mendudukan Jongdae disana.

"Paman Lee!" panggil Sehun dan tak berapa lama bunyi barang jatuh terdengar dari arah dapur. Ia tersenyum ketika mendapati orang tua itu terlihat sibuk merangkak di atas lantai menyusurinya dengan sudut lantai dengan tangannya,

Sehun mengambil apa yang dicari orang itu dan langsung menyisipkan gagang kacamata itu pada daun telinganya. Senyum Sehun makin terkembang saat pria tua itu bersorak masih mengenalinya.

"Kau harus cepat pergi! Ini jebakan!" ucap Paman Lee, "target tuan Wu adalah laki-laki itu! Orang yang dulu sering berpatroli disini! Kalau tidak salah ia bernama Suho."

"Maksud Paman ini hanya jebakan untuk menarik kami kemari?" wajah Sehun mengeras saat mendengar ucapan Paman Lee yang terburu-buru dan terlihat tak tenang.

"Aku menguping pembicaraan mereka saat berpura-pura menjatuhkan kacamataku tapi malah benar-benar menghilang!" keluh Paman Lee yang menuai senyum dari Sehun.

"Paman, bisakah aku menitipkan temanku? Ia sedang terluka sekarang!" Paman Lee melihat seseorang yang lain yang terduduk di salah satu mejanya. Ia mengenal wajah itu.

"Kau bisa meninggalkannya bersamaku. Dia beberapa kali membantuku membenarkan pintu!" kata Paman Lee sambil mendekat ke arah Jongdae. Sehun tersenyum lalu bergegas pergi menuju ke arah mobilnya terparkir.

Dia hanya berharap. Ia tidak terlambat sampai ke tempat Joonmyeon berada.

-xoxo-

A/N :

Hemm, masihkah ada yang menanti kelanjutan FF ini?

Terima kasih untuk review kalian,

Nadia / ulfah-cuittybeams / fishyhaerin / Nisrinahunkai99 / Maiku82 / sejin kimkai / HK / Robiatunohsehoon952

Maiku82 / /Login / fishyhaerin / Park Rinhyun-Uchiha / dearkimkai / ulfah-cuittybeams / kakaohun / JRenTastic / cute / Guest / Robiatunohsehoon952 / Enchris-727 / Kim Hyomi

Kim Hyomi / Cho Hyunjo / Maiku82 / winda-ii-5 / enchris-727 / kakaohun / coffe latte / Park Rinhyun-Uchiha

Buat Favourite dan Follow kalian juga makasih banyak.