A Taste of Your Love
Chapter 6
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Drama
Rated : T
Warning :
AU!, Typo(s), gaje
.
Present~
.
.
Bau laut yang selalu disukai Kiba akhirnya masuk indera penciumannya, membuat pemuda itu tersenyum sambil memejamkan mata. Ia berada di jok belakang motor Shino, teman yang ia bawa untuk ikut ke pesta Ino dan teman-teman kuliahnya. Beberapa kali ia hampir terjatuh saking khidmatnya memejamkan mata, seolah sedang berdoa saja.
"Ramai sekali," Komentar Shino tepat ketika ia sedang memarkirkan motor.
Kiba memandangi orang-orang yang sedang menari-nari di pinggiran pantai, segerombolan lelaki dan perempuan. Pemandangan aneh yang baru pertama kali ini ia jumpai, karena di sekolahnya tidak ada hal semacam ini.
"Benar juga, apa kita pulang saja?" Kiba membalas ucapan Shino.
Dengan begitu Shino langsung menyikut perutnya. "Ingat kau punya job malam ini, lagipula buat apa pulang? Sepertinya menyenangkan!"
Kiba berusaha memanggil Shino yang sudah lari duluan, terlalu bersemangat. Ia hanya berjalan pelan sambil menggendong gitarnya, tidak terlalu berminat pada keramaian.
"Wah, siapa ini?" Anak-anak yang sedang memanggang daging menoleh ketika salah satu dari mereka meneriakkan kedatangan anggota baru.
Sayang sekali, mereka tidak tahu kalau anggota baru mereka adalah 2 anak sma tengil di sekolahnya.
Kiba hanya tersenyum kaku, berbeda dengan Shino yang langsung menyalami satu persatu kawan barunya di sana, nampaknya langsung akrab. Shino bahkan tidak tanggung-tanggung dalam sesi perkenalannya, dia ikut membantu acara membakar daging. Entahlah, anak itu mungkin sedang berusaha melancarkan modus pendekatan dengan kakak-kakak cantik di tempat itu.
Kiba hanya geleng-geleng kepala melihatnya, ia lantas minta diantarkan menemui si pengelola acara. Ia ingin segera memainkan gitarnya dan setelahnya ia bisa berduaan saja dengan Ino. Biasalah, pikiran anak laki-laki.
"Jadwal menyanyi masih nanti, saat api unggun. Kau boleh bergabung dulu dengan anak-anak yang lain." Si pengelola acara berambut nanas menggaruk kepalanya, membaca jadwal yang ia pegang kemana-mana.
"Kapan api unggunnya dimulai?"
"Nanti setelah makan."
"Baiklah," Ujar Kiba putus asa.
Ia ingin bergabung dengan Shino, tapi suasana hatinya sedang tidak baik. Kalian pikir mudah bagi Kiba untuk keluar malam? Anak itu tentu harus adu mulut dengan ibunya dulu, bahkan kecurigaan tentang ia yang akan keluar dengan Ino juga disampaikan ibunya. Heran, padahal baru beberapa hari ini ibunya bisa melembut, tapi sekarang sudah berubah lagi.
Kiba berjalan di sepanjang pantai, sesekali tertawa memandangi anak-anak kuliahan yang sedang menari, beberapa juga sedang main limbo. Begitu mendapat tempat yang belum dijamah orang lain, pemuda itu lantas mendudukkan diri.
Kiba sudah pernah bilang suka pada laut lepas bukan? Maka dari itu ia berakhir duduk di sana, memandangi air yang selalu kelihatan gelap. Tapi ngomong-ngomong, dia sedari tadi tidak melihat Ino.
Seseorang mencolek pundaknya, ah yang dipikirkan datang juga.
"Kamu tidak tahu aku membuntutimu sejak tadi?" Ino ikut duduk di sampingnya.
Kiba menggeleng. "Kenapa ramai sekali?"
"Ternyata banyak anak dari kelas lain yang datang, maaf hehe." Ino menggaruk kepalanya, merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, mereka asyik kok." Kiba mengelus puncak kepala Ino, agar pacarnya itu tidak melulu merasa bersalah.
"Terus kenapa kau di sini? Itu yang ikut memanggang temanmu?"
Hanya anggukan yang Ino dapat, tapi ia tidak sakit hati karena sudah paham dengan sikap Kiba. Beberapa detik berlalu dan mereka hanya bertatap-tatapan dalam diam. Ketika sadar, mereka berdua malah tertawa. Aneh sekali suasananya.
Sekali lagi Kiba mengelus surai panjang Ino, ia berusaha mendekatkan wajah mereka. Sudah lama ia tidak jalan berdua dengan Ino, jadi ia kangen sekali dengan masa-masa awal pacaran. Ino sekarang juga jadi lebih sibuk dibanding awal semester waktu itu.
Wajah Kiba kian mendekat, dan ia pikir malam ini akan jadi manis karena Ino tidak menolak perlakuaannya. Begitu Ino menutup mata, Kiba sudah merengkuh lehernya. Hanya saja…
"Hayo, sedang apa?!" Segerombolan anak ditambah Shino mengagetkan mereka dari belakang.
Ino dan Kiba kaget setengah mati, tapi mereka menanggapinya dengan balas tertawa juga. Shino yang memang agak kurang waras malam ini memprovokasi para senior untuk menceburkan Kiba ke laut, tapi ide itu ditolak mentah-mentah karena hari sudah malam.
Kasihan Shino.
.
.
.
Orang-orang mulai duduk satu persatu ketika daging yang mereka tunggu sudah hampir selesai dipanggang. Mereka membuka tikar besar yang dibawa oleh beberapa teman. Memang, mereka membuat pesta dengan dana seirit mungkin, untuk urusan daging juga patungan. Pokoknya, tidak terlalu merepotkan si anak yang dapat beasiswa.
Tapi sekali lagi, pekerjaan mereka itu sudah dibagi sejak seminggu sebelum acara dilaksanakan. Jadi, anak-anak yang kedapatan memanggang daging itu adalah mereka yang tidak membawa properti apapun. Shino kan memang tidak membawa apapun, jadi dengan sukarela ia ikut membantu.
Ketika ia kebagian menaruh daging di piring, ia melirik sekilas partner kerjanya. Seorang gadis bercepol dua, sepertinya tomboy. Gadis itu tidak banyak bicara sejak tadi, mungkin dia memang tidak mau bicara dengan Shino karena ia orang asing.
Meski begitu, bukan berarti Shino tidak mengajak gadis itu bicara. Ia bicara kok sejak tadi. Ia memperkenalkan diri, menceritakan pertemanannya dengan Kiba, menceritakan Kiba yang sering bolos kelas hanya untuk menelepon pacarnya. Pokoknya, Shino membicarakan apapun untuk mencairkan suasana, tapi gadis itu menanggapinya hanya dengan 'ya,' 'oh,' 'baguslah,' dan jawaban membosankan lainnya.
"Kau tahu tidak, perempuan itu kelihatan jauh lebih manis saat tersenyum." Shino membenarkan posisi kacamatanya.
Gadis di depannya hanya foku pada daging.
"Tapi yah… kadang bersikap misterius juga kelihatan manis."
Tenten, gadis yang sedari tadi diajak bicara langsung membanting alat pencapit daging, tidak terlalu keras kok. "Apa inti pembicaraanmu sebenarnya?"
Shino mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pantai tempat dimana anak-anak kuliahan beserta Kiba sedang duduk sambil menyanyikan beberapa lagu.
"Kelihatannya semua orang bawa pasangan, tapi kau tidak."
"Ya terus?"
"Aku juga tidak bawa pasangan, kenapa kita tidak mencoba saja?"
"Mati saja kau!" Tenten melangkah menjauhi Shino.
Sementara itu tepat di tengah-tengah kerumunan, ada anak lain yang tengah meminjam gitar Kiba, berusaha mengiringi lagu yang sedang dinyanyikan.
"Ngomong-ngomong, aku tidak melihat temanmu yang kemarin itu." Kiba berbisik di telinga Ino.
"Maksudmu Tenten?"
Kiba mengangguk. "Aku takut temanku mengganggunya, dia anaknya tidak bisa diam."
Ino lantas mengerutkan dahinya. "Memangnya temanmu kenal Tenten?"
"Belum lama saat kau mengirim fotomu yang sedang nonton dengan Tenten, Shino melihatnya dan bilang minta dikenalkan."
Ino kehilangan kata-kata.
.
.
.
Ketika acara inti sudah selesai, dan sambutan oleh si penerima beasiswa luar negeri juga sudah terdengar mengharu biru, kini giliran Kiba untuk beraksi. Ia mulai mencari-cari nada, karena tadi sudah ada anak perempuan yang merequest minta diiringi. Ia akan menyanyikan lagu populer, stand by you milik Rachel Platten.
Shino bertepuk tangan diantara para senior, ia yang paling bersemangat ketika Kiba mulai memetikkan gitarnya. Ino juga sedang deg-degan melihat Kiba duduk di barisan paling depan, menghadap puluhan orang yang sedang menonton. Semoga Kiba tidak grogi.
Hands, put your empty hands in mine
And scars, show me all the scars you hide
And hey, if your wings are broken
Please take mine so yours can open too
Cause I'm gonna stand by you
Entah Ino yang terlalu perasa atau bagaimana, tapi ia merasa lagu ini menggambarkan keadaannya dengan Kiba. Ia bahkan menyadari ketika mata Kiba beradu dengan matanya, dan hanya mereka yang tahu apa yang mereka rasakan. Karena perasaan mereka saat ini sama.
Oh, tears make kaleidoscopes in your eyes
And hurt, I know you're hurting, but so am I
And love, if your wings are broken
Borrow mine so yours can open too
Cause I'm gonna stand by you
Ino sudah cukup sakit hati ketika harus pacaran sembunyi-sembunyi, belum lagi ditambah penolakan oleh ibu Kiba yang selama ini menjadi ketakutan tersendiri bagi Ino. Ternyata, ketakutan itu berubah nyata. Kiba mungkin tidak bisa ia raih lebih jauh lagi.
Even if we're breaking down, we can find a break through
Even if we can't find heaven, I'll walk through hell with you
Love, you're not alone, cause I'm gonna stand by you
Ino sadar Kiba jadi yang selalu terluka setiap harinya, tapi di sini ia juga terluka oleh kalimat ibunya. Ia ingin Kiba menjalani hari yang baik meski itu tidak ia dapatkan ketika di rumahnya sendiri, tapi mungkin ini sudah saatnya untuk mengucapkan perpisahan. Ino tidak bisa berdiri di samping Kiba lagi.
Ia sudah ditolak.
"Aku takut kita tidak punya waktu berdua lagi." Ino bergumam seorang diri.
.
TBC
.
.
A/N : Yak selamat, kalian baru saja menemukan crack couple. Aku nggak tau couple satu itu ada atau enggak, ehe. :( Cuma kebutuhan alur doang kok, serius. :(
Btw ya gaess, aku minta hiatus bentar. Aku mau pulang kampuang buat beberapa hari, mau nengokin mama. Jangan cari diriku dulu ya. babaii :"
Lin Xiao Li : selamat menikmati, hehehe. Btw, itu film china judulnya apa? Kayaknya seru, ehe. :D
Jeanne : Yaps, ini sudah dilanjut. Selamat menikmat, heheheh. :p
.
.
RnR, dong gaess :(
.
I'll be back soon.
Hang in there, guys.
