Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: YAOI, AU, OOC dan hal absurd lainnya

Pairing: Always NaruSasu, (BoltXMenma)

Rated: M for Mature and Sexual Content

Don't Like Don't Read


Two Love and a Marriage

.

By: CrowCakes

~Enjoy~


.

_Kediaman Uzumaki, pukul 22.00 malam_

.

Sasuke berbaring tenang di atas ranjang. Wajahnya masih terlihat pucat pasi dengan peluh yang menetes dari kening. Di tepi kasur, Naruto duduk sembari menyeka setiap keringat pria raven itu, menunggu Sasuke untuk siuman. Ia mencelupkan kain ke dalam baskom es kemudian mengopres dahi sang Uchiha dengan lembut.

Sensasi dingin di keningnya membuat Sasuke mengernyit pelan, kemudian membuka matanya dengan perlahan. Iris hitamnya sedikit demi sedikit bisa melihat wajah Naruto yang menampilkan ekspresi cemas.

"Dimana aku?" Sasuke berbicara dengan suara yang serak dan parau.

Naruto tersenyum lega melihat kalau pria raven itu akhirnya sadar. "Di rumahku, tepatnya di dalam kamarku." Ia menyeka pipi dan leher Sasuke dengan kain basah sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Kau tiba-tiba saja pingsan dan aku langsung berinisiatif menidurkanmu di ranjangku."

Mendengar kata 'ranjangku' membuat ekspresi Sasuke mengernyit jijik, seakan-akan ia sama sekali enggan untuk bersentuhan dengan benda milik Naruto. Apapun itu.

"Aku baik-baik saja." Sasuke mencoba bangkit untuk duduk, tetapi rasa pening di kepalanya membuat gerakannya langsung terhuyung limbung. Ia meringis pelan.

"Sebaiknya kau tetap istirahat dulu." Naruto menahan bahu Sasuke dan memaksanya untuk berbaring. "Aku sudah membuatkan teh hangat yang dicampur madu, minumlah dulu." Ujarnya lagi seraya meraih cangkir teh panas di atas meja dan menyodorkannya pada pria raven itu.

Sasuke menatap cangkir itu dengan lekat, tidak ada tanda-tanda ia ingin menjamahnya sedikitpun.

Naruto mendesah pelan. "Tenang saja, aku tidak memasukkan obat yang aneh ke dalam teh ini." Ia menyodorkannya lagi, sedikit memaksa. "Cepatlah minum."

Lega dengan ucapan sang Uzumaki, Sasuke segera meraih teh tadi dan menegaknya dengan perlahan. "Terima kasih." Katanya.

"Bagaimana kepalamu? Apakah masih pusing?"

"Sedikit." Sasuke meremas sisi kanan kepalanya yang agak pening. "Tapi akan segera baikan." Ujarnya lagi.

"Baguslah." Naruto mengambil cangkir teh di tangan Sasuke dan meletakkannya kembali ke atas meja. "Sebaiknya kau tidur disini dulu, lagipula ini sudah larut malam." Tawarnya.

Sasuke mendengus tidak suka. "Tidak, terima kasih. Tetapi aku harus pulang sekarang, aku takut mengganggumu dan Hinata."

"Oh jangan cemaskan soal Hinata." Naruto bangkit dari tepi ranjang menuju lemarinya, mengambil beberapa selimut hangat. "Aku dan dia sudah cerai beberapa tahun yang lalu, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan soal itu."

Sasuke melirik sang Uzumaki dengan ekor matanya, tertarik. "Cerai? Kenapa?"

Gerakan Naruto terhenti, namun ia tidak menoleh sedikitpun ke arah sang Uchiha. "Hanya permasalahan rumah tangga biasa. Kami tidak cocok jadi memilih untuk pisah." Pria pirang itu mencoba melempar senyum tipisnya seraya menyerahkan selimut-selimut tadi ke tangan Sasuke. "Malam ini akan dingin, sebaiknya kau tutupi tubuhmu dengan selimut ini."

"Bagaimana denganmu?"

"Aku bisa tidur di sofa." Naruto menampilkan cengiran lebarnya seraya berkacak pinggang. "Aku sudah terbiasa tidur di ruang tengah sambil menonton telivisi, jadi jangan cemaskan aku." Ucapnya lagi.

Sasuke menunduk pelan. "Ngomong-ngomong, dimana anakku?"

"Maksudmu Menma?" Naruto menggaruk pipi kanannya. "Dia—uuh—tidur bersama Boruto."

Sasuke tersentak kaget dan menatap Naruto dengan panik. "Ti—Tidur dengan Boruto?!"

"Jangan cemas, aku sudah memastikan mereka tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh." Ucap Naruto cepat, berusaha menenangkan kekhawatiran pria raven itu. "Lagipula, mereka adalah kakak beradik, jadi aku pikir mereka pasti sudah mengerti posisinya sekarang."

Sasuke mendesah lega, kemudian meremas selimutnya dengan kuat. "Maafkan aku kalau sikapku terlalu over-protective, aku hanya tidak ingin Menma sakit hati saat mengetahui kalau Boruto adalah adiknya."

Naruto menatap sang Uchiha dalam diam. Meneliti kegugupan dan kecemasan di wajah cantik tersebut. "Bolehkan aku bertanya sesuatu?" Ia duduk di tepi ranjang, sembari meraih punggung tangan Sasuke. Menatap lurus ke arah onyx yang tengah memandangnya dengan lekat itu. "Saat itu, apakah kau sudah tahu kalau kau mengandung anakku?"

Pertanyaan itu membuat lidah Sasuke terasa kelu. Ia menunduk dan menarik tangannya dari genggaman sang Uzumaki. "Aku tidak tahu. Aku pikir tubuhku hanya gendut biasa dan bukannya hamil. Tetapi saat aku memeriksakan diri ke nona Tsunade, ia bilang kalau kehamilanku sudah jalan beberapa minggu." Ia menghentikan kalimatnya sejenak. "Dan saat aku ingin memberitahukan kabar ini padamu, kau malah mengatakan padaku kalau kau sudah menghamili Hinata."

Ada raut penyesalan di wajah tan itu. Ia merasa kalau dirinya benar-benar orang yang paling brengsek dibandingkan para brengsek yang lain. "Aku minta maaf, aku tidak tahu kalau kau sedang hamil anakku."

"Sudah aku katakan, kau tidak perlu minta maaf, ini bukanlah kesalahanmu." Sasuke tetap menunduk menatap selimutnya yang bermotif garis-garis, seakan-akan melihat kain itu lebih menyenangkan dibandingkan menatap iris biru yang tengah terluka disana. "Lagipula aku bisa melahirkan Menma dengan selamat adalah hal yang paling membahagiakan untukku." Ujarnya lagi.

Naruto menjulurkan tangannya untuk meraih pipi putih itu, mengelusnya dengan ujung jempolnya. "Kau pasti berat harus melalui ini sendirian."

"Aku bisa hidup mandiri, jadi kau tidak perlu mengasihaniku." Sasuke menjauhkan tangan sang Uzumaki dari wajahnya. "Lagipula sekarang, aku sudah hidup berbahagia dengan istri dan kedua anakku."

"Berbahagia? Kau sama sekali tidak terlihat bahagia. Wajahmu itu kelihatan letih dan stres." Ujar Naruto memotong dengan cepat.

Sasuke mendelik tidak suka dengan pernyataan semena-mena pria pirang itu. "Kau tidak tahu apa-apa, Naruto. Jangan suka mengambil kesimpulan sendiri."

"Aku tidak mengambil kesimpulan sendiri." Ia meraih dagu Sasuke dan memaksa pria itu untuk menatapnya. "Aku bisa mengetahuinya dengan mudah dari raut wajahmu. Kau tidak pernah bisa membohongiku, Sasuke."

"Sudah cukup Naruto, jangan bicara lagi." Sasuke memalingkan wajahnya. "Aku sudah lelah, bisakah aku tidur sekarang?"

"Ya, benar, kau harus istirahat. Maafkan aku" Ucap Naruto seraya bangkit dan berjalan keluar dari kamar. "Selamat malam, Sasuke." Tambahnya sebelum menutup pintu kamar. Meninggalkan Sasuke yang kembali berbaring di atas kasur tanpa menoleh sedikit pun.

.

.

Di tempat lain, tepatnya di kamar Boruto, Menma terlihat duduk gelisah di tepi ranjang sembari meremas kedua tangannya yang gemetar. Matanya memilih fokus pada lantai porcelin dibandingkan menatap iris biru Boruto yang berdiri di depannya.

"Kenapa kau gugup?" Boruto membuka suara setelah lima menit menunggu dalam diam. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Sejak tadi kau hanya diam gemetaran seperti itu, setidaknya katakan sesuatu padaku." Ucap sang Uzumaki sedikit jengah.

Menma meremas buku jarinya semakin kuat. "Kau tidak mengerti." Ia bergumam pelan.

"Apa yang tidak aku mengerti?"

"Semuanya!" Menma tiba-tiba menaikkan nada suaranya, menatap pemuda pirang itu dengan tajam. "Kau tidak mengerti bagaimana rumitnya situasi ini, Boruto!"

"Aku sangat mengerti dengan jelas situasi ini." Boruto menyahut cepat. "Kita kakak beradik sekaligus kekasih."

"Tidak! Tidak!" Menma bangkit dari tepi ranjang kemudian meremas kedua tangannya dengan kuat. "Jelas kau tidak mengerti apapun!" Ucapnya tegas.

Boruto memutar bola matanya dengan jengah, seolah-olah Menma sedang menjelaskan pelajaran sejarah mengenai betapa mengerikannya perang dunia kedua. "Kau yang tidak mengerti apapun, Menma. Kau bertindak seakan-akan kita sudah melakukan hal yang tabu."

"Kita memang sudah melakukan hal yang tabu!" Menma memotong cepat. "Apa kau tidak mengerti kalau kita adalah kakak beradik?! Apa kau tidak mengerti betapa tabunya hubungan kita ini?!"

Boruto mengerang jengkel. "Kau mempermasalahkan hubungan incest antara kakak dan adik, tetapi tidak mempermasalahkan hubungan gay yang juga tabu?! Sebenarnya kau bisa berpikir atau tidak sih?! Hubungan apapun tetap saja terlihat tabu, lalu apa masalahnya?! Cinta tetap saja cinta!"

"Salah, Boruto! Hubungan kita salah! Incest dan gay adalah hal yang paling tabu diantara yang lain!"

"For god's sake, Menma! Stop talking non sense!" Boruto mencengkram kepalanya dengan kesal. "Harus berapa kali kukatakan, cinta tetaplah cinta! Tidakkah itu cukup?!"

Menma mendelik dengan bengis. "Yang kau pikirkan hanya cinta dan nafsu saja! Apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku?!" Teriaknya marah sembari menunjuk dadanya sendiri dengan emosi. "Papaku baru saja mengatakan kalau dia adalah 'ibu' kandungku! Dan kau adalah adikku! Setidaknya mengertilah situasiku ini!"

Boruto menggeram marah. Ia menyambar lengan Menma dan menyentaknya keras. "KENAPA BUKAN KAU SAJA YANG MENCOBA MENGERTI PERASAANKU!" Raungnya kesal. "AKU INI PACARMU!"

"KAU ITU ADIKKU, BORUTO!" Menma membalas dengan teriakan yang tak kalah kerasnya. Matanya terasa memanas dengan napas yang terengah-engah karena emosi.

"BERHENTI BERSIKAP SEAKAN-AKAN KAU ITU ADALAH KAKAKKU! KITA BUKAN KAKAK-ADIK!" Boruto menyahut dengan raungan yang lebih keras. Sampai-sampai Menma bisa melihat urat nadi yang menonjol di leher pemuda pirang itu karena berteriak dengan nyaring.

Sang onyx terdiam namun tidak menghentikan tatapan kecewa dan marahnya pada Boruto. "Kau benar..." Akhirnya ia berbicara dengan suara yang tercekat lirih. Tangannya menepis genggaman Boruto di lengannya. "...Kita bukanlah kakak-adik." Ucapnya lagi. "...Kita juga bukan sepasang kekasih. Sebaiknya kita sudahi saja hubungan rumit ini." Lanjutnya seraya berbalik untuk duduk di tepi ranjang, tetapi gerakannya langsung terhenti saat Boruto lagi-lagi menyambar pergelangan tangannya dengan cepat.

"Jadi, kau ingin mengakhiri hubungan kita seperti ini? Dengan berkelahi dan berteriak satu sama lain?" Tanya Boruto dengan nada suara yang bergetar. "Apa kau tidak mencintaiku lagi, Menma? Apa bagimu aku hanyalah seorang adik? Ataukah hanya orang lain?"

Menma enggan berbalik untuk menatap wajah Boruto. "Lepaskan aku."

"Jawab aku."

"Lepaskan aku, Bor—"

"JAWAB AKU SEKARANG!" Boruto menghentak tangan Menma dan memaksa pemuda itu untuk berbalik menatapnya.

Sang onyx akhirnya bisa memandang lurus ke arah iris biru yang menatapnya dengan perasaan kecewa dan sedih. Pantulan yang membuat jantung Menma terasa pedih dan nyeri, seolah-olah bagian sel-sel tubuhnya tengah diiris oleh pisau tumpul yang berkarat. Ia tidak ingin membuat pemuda yang disayanginya itu sedih, ia tidak akan tega. Tetapi mengakhiri hubungan mereka adalah hal yang terbaik untuk dilakukan. Ia rela berpisah dengan Boruto untuk kebahagiaan papanya yang masih mencintai Naruto.

Menma memejamkan matanya dengan erat sebelum mengeluarkan perkataannya. "Ya, aku tidak mencintaimu lagi." Suaranya bergetar, tercekat di pangkal tenggorokan.

"Kau bohong... Kau sedang berbohong..." Suara Boruto tak kalah bergetarnya. Matanya memandang manik hitam itu dengan pandangan memohon. "...Tolong katakan yang sejujurnya, Menma... Katakan kalau kau masih mencintaiku." Jari-jarinya bergetar saat mencengkram tangan putih itu.

Menma hanya diam, mengatup rapat-rapat bibirnya. Sedangkan matanya masih terpejam erat, seakan-akan ia jijik untuk bertatapan dengan lawan bicaranya itu.

Boruto menggeram rendah, habis kesabaran. "KATAKAN PADAKU YANG SEJUJURNYA!" Ia meraung keras, membuat paru-parunya terasa sesak.

Menma menampik cengkraman Boruto lalu menatapnya dengan pandangan pedih. "Sudah cukup, Boruto. Jangan bertingkah kekanakan lagi, aku lelah." Sahutnya dengan suara bergetar. Ia mengusap wajahnya sejenak sebelum kembali bicara. "Aku akan menerima tawaran papaku untuk pindah sekolah, jadi aku harap kita bisa mengakhiri hubungan ini secara damai." Pemuda itu meraih bantal dan berbaring di bawah beralaskan lantai. "Selamat tidur." Tambahnya, memunggungi sang Uzumaki.

Boruto terpaku diam, seakan-akan seluruh nyawanya dicabut saat itu juga bersama perasaannya. Ia hanya bisa menatap punggung Menma dengan pandangan terluka sebelum memaksakan bibirnya untuk terbuka.

"Baiklah, aku mengerti." Suara pemuda pirang itu bergetar. Terdengar lirih dan pelan, mirip suara bisikan. "Selamat tidur." Sahutnya seraya naik ke atas ranjang dan bergelung dengan selimut.

Boruto lelah. Benar-benar lelah dengan situasinya ini.

Kalau Menma ingin berpisah, maka ia tidak ada kekuatan untuk menghentikannya lagi. Bila Menma tidak menghendakinya, maka ia akan pergi.

Mungkin semua perkataan Menma benar, mereka sebaiknya berpisah saja.

.

.

.

Tik!Tik!Tik!

Jarum jam bergerak pelan dengan ritme kecil yang konstan. Menunjuk angka 2 dengan jarum panjang yang meliuk elegan dan jarum pendek yang mengarah lurus ke angka 3. Pukul 02.15 dini hari tepat. Tidak ada suara apapun di kamar Naruto selain dengkuran halus milik Sasuke yang tengah tertidur.

Dahi Sasuke berkerut pelan dengan keringat dingin yang menetes, sesekali ia menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan gumaman tanpa arti. Gestur tidurnya jelas menandakan kalau sekarang ia sedang bermimpi buruk.

Detik selanjutnya, matanya terbuka tiba-tiba dengan napas terengah-engah kaget. Ia mengusap wajahnya sejenak sebelum memandang berkeliling ruangan. Tidak ada sosok Naruto maupun bunyi seram. Hanya suara napas dan jantungnya yang berdentum cepat.

"Aku mimpi buruk." Ia bergumam kepada diri sendiri, mencoba menyadarkan otaknya untuk kembali ke realita.

Sasuke menyingkirkan selimut yang berada di atas tubuhnya kemudian bangkit perlahan dari ranjang. Ia benar-benar tidak bisa tidur setelah bermimpi buruk mengenai sesuatu yang abstrak. Ia tidak ingat mengenai apa mimpinya tersebut, yang pasti ia tengah melarikan diri dari sesuatu yang menyeramkan.

Sang Uchiha mengambil napas sejenak sebelum meraih kenop pintu untuk bergerak keluar. Ia berjalan perlahan turun dari anak tangga menuju dapur yang berada di sisi bagian kiri, mungkin segelas air putih bisa membantunya untuk menenangkan diri. Namun tepat ketika kakinya menginjak lantai dasar, tiba-tiba pandangannya terjatuh pada sosok Naruto yang sedang bersandar malas di sofa ruang tamu sembari menonton televisi. Membuat niatnya terhenti sejenak.

Pria pirang itu memencet remote televisi dengan bosan, mengganti beberapa channel secepat yang ia bisa. Tidak ada yang menarik, hanya siaran berita malam, music video, dan beberapa film action.

Menyerah mencari channel yang menarik, ia memilih melempar remote televisi ke atas meja dan terpaksa menonton salah satu acara dengan tampang jenuh. Sesekali menguap lebar karena lelah dan capek.

"Kau bisa beristirahat di kamarmu, dan aku tidur disini." Tawaran itu keluar dari bibir Sasuke yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.

Naruto menoleh dengan tampang terkejut. "Kenapa kau terbangun? Apa kau mimpi buruk?"

Sasuke mengedikkan bahunya, malas. "Ya, begitulah." Ia menatap Naruto dengan lekat sebelum menunjuk sofa dengan dagunya. "Bisakah aku duduk disana juga?"

"Ya, tentu." Naruto menggeser tempat duduknya dan menepuk bantalan sofa di sebelahnya. "Kemarilah, apa kau ingin kubuatkan kopi?" Tawarnya ramah.

"Tidak perlu." Sasuke mengambil tempat di sebelah pria pirang itu lalu menyenderkan punggungnya ke sofa. "Kenapa kau belum tidur?"

"Aku belum mengantuk." Jawab Naruto spontan sembari melempar cengirannya.

Sasuke tidak perlu repot-repot menoleh untuk melihat kebohongan pria pirang itu. Ia hanya mendengus pelan. "Kau punya kantung mata. Dan sejak tadi kau menguap terus."

Naruto terkekeh pelan. "Aku merasa tersanjung, ternyata kau memperhatikanku sejak tad—" Kalimatnya langsung terhenti saat Sasuke tiba-tiba melempar death glare ke arahnya dengan sadis.

Sang Uzumaki segera meneguk air liurnya, panik. "Sorry."

"Hn..." Sasuke kembali memperhatikan acara telivisi lagi.

"Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu, kau mimpi buruk tentang apa?" Naruto mencoba membuka pembicaraan, tetapi tanggapan Sasuke hanyalah dengusan malas.

"Bukan urusanmu." Pria raven itu menyahut ketus. "Lagipula mimpiku hanyalah mimpi abstrak biasa tanpa arti."

"Uhh, oke..." Naruto menyenderkan lengannya ke kepala sofa, kemudian kembali menonton acara telivisi yang sangat membosankan itu. Tetapi baru beberapa detik diam, mulutnya kembali membuka suara. "Sasuke, bisakah aku bertanya sesuatu padamu?" Ucapnya seraya menoleh ke pria raven itu.

Sang Uchiha memutar bola matanya malas saat mendengar suara Naruto. Ia tahu betul kalau Naruto adalah tipe orang yang selalu penasaran dan tidak bisa diam, pasti ada saja obrolan yang keluar dari mulut cerewet itu.

"Hn..." Sasuke menyahut pendek.

"Bisakah kau ceritakan apa saja yang terjadi padamu saat... Uhm, kau tahu... Saat kita berpisah." Ucapnya dengan suara gugup.

Sasuke melirik ke arah Naruto dengan ekor matanya sejenak sebelum kembali beralih ke layar telivisi. "Tidak ada yang istimewa. Aku hanya kuliah dan mengontrak rumah di luar negeri."

"Lalu bagaimana dengan kandunganmu? Apa kau terlihat aneh di mata orang lain saat kau hamil? Apa kau selalu check-up rutin ke dokter?" Pria pirang itu bertanya dengan antusias.

"Saat aku hamil, aku mencoba menggendutkan tubuhku agar orang lain tidak curiga dengan perutku yang membesar. Aku juga selalu check-up rutin ke nona Tsunade. Dia selalu mengunjungiku bolak-balik luar negeri, tentu saja itu bukan masalah baginya sebab aku yang membiayai seluruh perjalanannya demi kandunganku." Jelas Sasuke panjang lebar. Ia memeluk lengannya sendiri saat hawa dingin dari AC berhembus ke kulitnya.

Naruto berinisiatif meraih selimut dan menyampirkannya di bahu pria raven itu. "Lalu, apa nona Tsunade juga yang membantu persalinanmu?" Tanyanya lagi, masih penasaran.

Sasuke mengangguk. "Ya, dia membantu persalinanku. Aku juga memohon padanya untuk tidak menyebar luaskan mengenai kehamilan dan kelahiranku. Kalau berita tersebut sampai tersebar, maka reputasiku dan harga diriku pasti menjadi objek lelucon dunia."

"Hmm... Jadi karena itu, makanya aku sulit sekali menemukanmu." Gumam Naruto pelan lalu kembali menatap Sasuke dengan tatapan menyesal. "Maafkan aku karena tidak berada disampingmu saat itu."

Sasuke mendengus pelan, matanya masih terfokus pada layar telivisi. "Sudah kukatakan, tidak ada yang perlu dimaafkan."

"Tapi Sasuke, aku benar-benar menyesal." Tangan tan itu meraih dagu sang Uchiha, menarik wajah itu untuk menoleh menatapnya. "Apakah aku bisa membayar semua kesalahanku padamu?"

"Membayar? Memangnya kau ingin membayar dengan apa?" Tanya Sasuke heran, sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Naruto.

"Mulai sekarang dan selamanya, aku akan terus mendampingimu, bersamamu dan akan mencintaimu." Kata Naruto tegas.

Bola mata Sasuke melebar. "Huh?! Apa kau gila?!" Ucapnya, terkejut sekaligus tidak percaya. "Aku sudah mempunyai keluarga, Naruto. Kau tidak bisa seenaknya masuk ke dalam kehidupan keluargaku setelah meninggalkanku begitu saja." Jelasnya dengan tatapan tajam.

"Aku mengerti kalau kau membenciku, semua itu memang salahku." Sahut Naruto, menyesal. "Tetapi aku ingin menebus kesalahanku karena telah menelantarkanmu. Aku mohon Sasuke, beri aku kesempatan satu kali lagi. Aku bersumpah, apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu dan tidak akan meninggalkanmu." Ucapnya dengan serius.

Sasuke menggigit bibir bawahnya, resah dan ragu. Ia tidak yakin akan ucapan sang Uzumaki, mungkin dirinya masih merasa takut mengalami kekecewaan seperti dulu. Tetapi ia tidak bisa terus-terusan menghindar 'kan? Mungkin saja ini adalah waktunya untuk mencoba memberi kesempatan pada pria pirang itu untuk memenuhi janjinya.

"A—Aku tidak tahu, Naruto. Aku masih tidak yakin padamu." Ucap Sasuke pelan. "Dan kalaupun aku setuju, bagaimana dengan istri dan anak-anakku? Aku tidak bisa berpisah dari mereka."

Naruto menggenggam tangan pria raven itu dengan erat. "Apa kau masih mencintai istrimu, Sasuke?"

"Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Sebab bila kau mencintai istrimu, kau pasti sudah meneleponnya untuk memberitahu keadaanmu. Tetapi sejak tadi kau tidak menelepon siapapun, bahkan saat kau akan menginap disini." Jelas Naruto, masuk akal.

Sasuke mendengus pelan, enggan mengakui kebenaran itu. "Bukan urusanmu, Naruto."

"Tentu saja ini urusanku." Naruto mulai keras kepala. "Aku mohon, ceraikan istrimu dan menikahlah denganku."

"Apa?! Kau mau aku menceraikan istriku dan menikah denganmu?!" Sasuke emosi, ia menepis genggaman tangan Naruto dengan jengkel. "Kau sudah gila! Kau sudah menelantarkanku dan sekarang ingin menikah denganku?!"

"Aku tahu perbuatanku itu salah, Sasuke. Tetapi aku tidak punya pilihan lain." Jawab Naruto cepat. "Kau meninggalkanku tanpa penjelasan sedikitpun mengenai kehamilanmu, kalau saja saat itu kau memberitahuku, maka aku pasti akan memilihmu dibandingkan Hinata." Tambahnya lagi.

Perkataan Naruto masuk akal, Sasuke mencoba menenangkan dirinya sejenak. "Apa kau benar-benar akan memilihku dibandingkan Hinata?"

"Tentu saja. Sudah berapa kali aku katakan kalau aku pasti akan memilihmu dibandingkan wanita itu." Naruto meraih tangan sang raven dan membawanya ke pipinya, merasakan telapak tangan yang hangat itu menyentuh kulit wajahnya. "Aku sangat mencintaimu, Sasuke. Dari dulu aku selalu mencarimu layaknya orang gila, bahkan sampai-sampai tidak mempedulikan Hinata lagi, hingga akhirnya kami memilih bercerai secara damai." Ujarnya.

Sasuke mendesah letih sembari mengusap wajahnya. "Aku tidak tahu, Naruto. Aku masih takut untuk mempercayaimu."

"Aku mohon, beri aku satu kesempatan lagi." Pria pirang itu memaksa. Ia menggenggam tangan Sasuke lebih erat. "Aku sangat mencintaimu. Benar-benar mencintaimu."

Sasuke menatap wajah sang Uzumaki yang menampilkan raut putus asa. "You're really hopeless, huh?" Ucapnya dengan seringai tipis, membuat wajah pria raven itu terlihat dua kali lipat lebih manis dan sangat baby face.

Naruto langsung melebarkan senyumnya saat melihat bahwa gestur Sasuke mulai menunjukkan bahwa ia mau memberi sang Uzumaki kesempatan kedua lagi.

Pria pirang itu mendorong tubuhnya untuk memeluk Sasuke dengan kuat, menindihinya di atas sofa. "Sasuke, aku sangat merindukanmu." Bisik Naruto lembut seraya mengecup pipi dan leher sang Uchiha.

Sasuke sama sekali tidak berontak saat Naruto melandaskan kecupan ringan di wajahnya. Ia hanya menatap iris biru itu dengan lekat, memantulkan perasaannya yang sesungguhnya. "Aku juga... Merindukanmu."

Naruto tersenyum lega, ia menangkup wajah sang Uchiha dengan kedua tangan lalu membawa bibir pink menggoda itu ke arahnya. Mengecup Sasuke dengan sangat lembut.

"Hmphh—Nghmp!" Sang Uchiha mengerang pelan ketika Naruto terus mencumbu bibirnya tanpa henti. Membuat jantungnya kembali merasakan degupan kencang yang tidak pernah dirasakannya selama beberapa tahun ini.

Sasuke sedikit meronta saat sang dominan mulai bergerak menghimpit tubuhnya diantara sofa, sesekali saling menggesekkan selangkangan yang mulai membengkak perlahan. Tangan putih pria raven itu mencengkram erat lengan Naruto, mencoba mendorong tubuh lebar itu untuk mundur perlahan. Namun bukannya menurut, sang Uzumaki semakin mempersempit jarak mereka dengan melepaskan genggaman tangan Sasuke di lengannya.

"Biarkan—hmphh—aku merasakan—nghmph!—tubuhmu, Sasuke." Pinta Naruto disela ciuman mereka.

"Hentikan—Hmphh!" Sasuke kesulitan bicara ketika Naruto terus mendesak lidahnya dengan ciuman yang penuh nafsu dan brutal. "Bagaimana kalau nanti kita ketahuan—nghmphh!—oleh anak-anak?" Tanyanya lagi.

Naruto melepaskan ciuman mereka sejenak sebelum menjawab. "Tidak akan—hhh—aku yakin mereka berdua sudah tidur." Ucapnya dengan pasti.

Sasuke ingin membuka suara untuk mengeluarkan protesan lagi, tetapi kalimatnya langsung tercekat di tenggorokan saat melihat Naruto membuka baju kaosnya dengan tidak sabaran. Menunjukkan tubuh proposional dengan beberapa otot terlatih. Pundak lebar, leher dan rahang yang kokoh, serta kulit tan menggoda, membuat sosok itu dua kali lipat lebih matang dan menawan dibandingkan dulu.

Sasuke menjulurkan tangannya, menyentuh kulit itu dengan ujung jari-jemarinya yang ramping. Menelusuri setiap otot yang tecetak jelas disana hingga berakhir di bibir menggoda milik sang Uzumaki.

Naruto tersenyum sembari mengecup jari-jari Sasuke yang mengusap bibirnya. "Kau menyukaiku, Sasuke?" Tanyanya nakal.

Sasuke tidak bicara satu patah kata pun, tetapi matanya memantulkan jawaban yang sangat jujur. Iris onyx itu tidak bisa berbohong, ia benar-benar terpesona dengan sosok Naruto.

"Apa kau bermaksud merayuku dan menggodaku?" Sang Uchiha melempar pertanyaan retoris. Membuat Naruto menyeringai tipis.

"Kau tidak perlu bertanya kalau sudah mengetahui jawabannya, Sasuke." Naruto menyentuh baju pria raven itu dan membukanya secara perlahan, membiarkan kulit putih dengan tubuh ramping itu terekspos sempurna.

"Aku hanya memastikan saja." Jawab Sasuke lagi seraya memalingkan wajah dan menunjukkan leher jenjangnya kepada Naruto, seolah-olah ia menawarkan dirinya pada Naruto untuk 'disantap' sebagai cemilan tengah malam.

Tentu saja tawaran menggoda itu tidak akan dilewatkan oleh Naruto. Dengan sigap, sang dominan meraup ganas leher putih Sasuke dan menghisapnya kuat-kuat, meninggalkan kissmark merah yang tidak akan bisa dihilangkan sampai dua hari ke depan.

Sang Uchiha mendesah, merasakan lidah basah dan lunak milik Naruto merayapi bagian leher dan telinganya, meninggalkan sensasi geli sekaligus hangat. Rangsangan itu membuat jantungnya berdetak sepuluh kali lipat lebih cepat, memompa seluruh darah menuju area selatan tubuhnya.

"Naru—hhh—nghhh—" Sasuke membalas perlakuan Naruto dengan erangan kecil yang menggoda. Kedua tangannya melingkar di punggung sang dominan dan mencengkramnya dengan kuat, menandakan libidonya mulai menggelegak naik.

"Sasuke—hhh—celanaku sempit." Naruto berbisik pelan sembari menunjukkan celana pendeknya yang mulai membengkak dengan ujung yang basah.

Sasuke mengerti kode yang diberikan oleh pria pirang itu, dengan tanggap ia segera menurunkan celana Naruto dan membebaskan kejantanan pria itu dari kungkungan fabrik tipis tadi.

"Kau sudah tegang." Ucap Sasuke pelan seraya menggenggam batang penis Naruto dengan lembut. Menatap benda yang menegak gagah itu dengan pandangan kelaparan.

Naruto tersenyum tipis, tangan tan nya menyisir surai hitam itu dengan perlahan. "Kau ingin mencoba penisku, Sasuke?" Godanya.

Sasuke mendongak menatap sang Uzumaki dengan bola mata hitam yang menawan, membuat siapa saja akan terpesona dengan iris onyx yang terbingkai cantik oleh bulu mata yang lentik itu. "Kenapa kau harus bertanya seperti itu? Aku sudah pasti ingin mencoba penismu." Jawabnya nakal seraya mengusap lubang urinal sang dominan dengan ujung jari telunjuknya. Bermain-main dengan cairan precum yang mengalir keluar.

Naruto mendesah rendah, menikmati sentuhan pria raven itu. "Sasuke—hhh—jilat penisku." Bisiknya seraya menggesekkan ujung kejantanannya pada bibir tipis itu, memaksa untuk masuk.

Sasuke merapikan rambutnya ke sisi telinga sebelum membuka mulutnya secara perlahan, menelan organ vital itu dari ujung hingga ke pangkal.

"Ahh—hhh—nikmat." Selangkangan Naruto bergetar saat rasa hangat dan basah menyelimuti penisnya. Sensasi yang tidak pernah dirasakannya beberapa tahun ini. "Sasuke—hhh—kau hebat." Pujinya seraya menyisir pelan poni pria raven itu untuk melihat wajah sang Uchiha yang tengah menikmati kejantanannya.

Sasuke melirik ke arah Naruto dengan pandangan menggoda, sedangkan mulutnya terus mengeluarkan suara seruputan yang nyaring. Menghisap benda besar dan panjang itu kuat-kuat. "Nghmmph—hmphh—mnnhh—" Sesekali mengeluarkan desahan untuk memancing nafsu pria pirang tersebut.

Naruto menggeram rendah, begitu menikmati kejantanannya yang dijilat oleh otot lidah Sasuke yang basah. Tangannya mengusap kepala raven tadi sembari menghentakkan pinggulnya maju-mundur.

"Hhh—Nikmat—" Sang Uzumaki mendesah pelan. Matanya tidak lepas dari aksi Sasuke yang terus mengemut ujung penisnya tanpa henti.

Sasuke melepaskan kulumannya dan mulai mengocok organ vital yang sudah menegang sempurna itu dengan cepat. Sesekali meludahi benda itu agar lebih licin dan mudah untuk dikocok. Mata hitamnya melirik ke atas, dimana Naruto tengah terpejam menikmati sensasi sentuhan pria raven itu.

"Kau suka kocokanku, Naruto?" Tanya Sasuke dengan nada menggoda.

Pria pirang itu mengangguk dengan suara tercekat. "Yeah—hhh—suka sekali." Jawabnya seraya mengusap pipi putih pria raven itu.

Sasuke membalasnya dengan senyuman tipis. Ia kembali membuka bibirnya dan kembali merasakan benda berdenyut itu di dalam rongga mulutnya. Menelannya dalam-dalam hingga ke pangkal tenggorokan.

"Hmhphh!—Nghmphh!" Sang raven menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah, kemudian menggigit kecil penis Naruto, membuat pria pirang itu mendesis karena geli dan sakit.

"Cukup—hhh—aku tidak tahan lagi—hhh—" Naruto menahan kepala Sasuke untuk bergerak dan mengeluarkan kejantanannya dari dalam mulut itu. Ia menarik lengan sang Uchiha untuk duduk di atas tubuhnya. "Buka celanamu—hhh—" Perintahnya tidak sabaran.

Sasuke menuruti perkataan pria itu tanpa membantah sedikit pun. Ia segera menurunkan celana serta boxer-nya dan duduk di selangkangan Naruto, sesekali menggerakkan pinggulnya dengan gerakan menggoda. Menggesek penis Naruto dengan miliknya yang juga sudah menegang. Jari rampingnya membawa kejantanan sang dominan ke bagian lubang pantatnya, menggesek-gesekkannya perlahan sebelum menenggelamkannya ke dalam tubuhnya.

"Ahhhk!—Nghhh!—hhh—" Sasuke mengerang lirih saat batang penis tersebut memenuhi dinding rektumnya. Menggesek bagian dalam tubuhnya.

"Sasuke—hhh—Ghkk!—lubangmu sempit—Akh!—terlalu sempit." Ucap Naruto seraya menggeram pelan dengan napas terengah-engah. Ia mencengkram pinggul ramping itu dengan kuat saat merasakan organ vitalnya sedang dipijat dengan kuat oleh otot anus sang Uchiha.

Sasuke berpegangan pada perut sang dominan sebelum menghentakkan pinggulnya ke ataas dan ke bawah. "Ahhk!—Hhh—Nghhh!" Mata onyx nya terpejam saat menikmati sensasi sodokan itu di dalam tubuhnya. Merasakan ujung penis sang Uzumaki yang tengah menggenjot bagian dinding rektumnya.

Awalnya hanya hentakkan pelan yang terkesan lembut, namun seiring libido yang mulai meningkat, hentakkan tersebut berubah menjadi genjotan cepat yang tidak sabaran. Sasuke bahkan harus berpegangan pada sisi sofa agar tidak limbung jatuh ke lantai, sedangkan Naruto terus menyentak pinggulnya ke atas dan ke bawah dengan ritme yang cepat serta konstan, membuat lubang Sasuke menjadi basah karena precum nya yang terus menetes keluar.

Sasuke mendesah keras, menikmati setiap sodokan dari pria pirang itu. "Naruto—Ahhk!—penismu nikmat—hhh—" Erangnya seraya berpegangan pada bahu lebar sang dominan. Mata onyx nya tidak bisa lepas dari kejantanan besar yang tengah berdenyut di dalam lubangnya itu, melihat setiap detik pergerakan benda panjang itu yang sedang menusuk bagian bawah tubuhnya.

Naruto menjilat bibir bawahnya, kemudian mencengkram pinggang sang Uchiha semakin kuat. Memaksa tubuh ramping itu untuk bergerak cepat memanja penisnya. "Terus Sasuke—hhh—buat penisku nikmat—Akh!—jepit yang kuat, sayang." Perintahnya dengan suara serak.

Tubuh Sasuke terhentak semakin cepat, ia mengangkat sedikit pantatnya dan membiarkan kejantanan sang dominan mengocok lubang anusnya dengan brutal. Deru napasnya tersengal-sengal tidak terkendali dan peluh mulai membanjiri tubuhnya yang putih mulus, membuatnya semakin terlihat menggoda dan menggairahkan.

Rambut hitamnya mulai basah akibat keringat, tertempel di sisi kening dan dahi. Sedangkan mulutnya terbuka dengan air liur yang menetes di sela dagu, menunjukkan wajah erotis yang sangat memukau.

"Naru—hhh—fuck!—hhh—" Tangan Sasuke bermain di kejantanannya sendiri. Menggesek lubang urinalnya dengan jari telunjuk, membuat cairan precumnya menetes keluar perlahan.

Naruto terangsang. Pria itu menghentikan gerakan Sasuke dan mendorong tubuh putih itu untuk berbaring di atas sofa, membalikkan posisi mereka. "Buka pahamu—hhh—lebarkan kakimu juga." Perintahnya tegas.

Sasuke tipe pria yang tidak banyak bicara. Ia mengikuti setiap suruhan pria pirang itu tanpa protes sama sekali. Bahkan kalau Naruto menyuruhnya untuk memasukkan dua dildo sekaligus ke dalam lubang analnya, maka pria raven itu akan menurut layaknya anjing peliharaan. Nafsu memang membuat semua orang tidak berpikir panjang lebar lagi.

"Seperti ini?" Tanya Sasuke seraya mengangkat kakinya dan melebarkan pahanya, menunjukkan lubang anusnya yang menganga basah serta berwarna pink kemerahan.

"Ya, seperti itu." Sahut Naruto sambil menggesek-gesekkan kepala penisnya ke lubang tadi. "Aku akan masuk—hhh—tahanlah sedikit, oke?" Tambahnya lagi.

Sasuke mengangguk. Suaranya tercekat di tenggorokan saat benda panjang, besar dan berotot itu kembali menusuk liang analnya. Sekali lagi memenuhi dinding rektumnya dengan penis yang ereksi.

"Aghk!—Ahhk!" Sang Uchiha mengerang pelan sembari menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

Sedangkan Naruto masih berkonsentrasi pada hentakan serta sodokannya. Pria pirang itu mencoba sekuat tenaga untuk tidak mendesah nikmat dan tetap mempertahankan gerakan konstan pinggulnya yang maju-mundur.

Peluh membanjiri tubuh sang Uzumaki, rambut spiky pirangnya juga basah karena keringat, membuat sosok itu terlihat menakjubkan dengan kulit tan eksotis yang licin.

Sasuke mencengkram otot lengan Naruto, mencoba berpegangan pada tubuh kokoh itu saat dirinya terhentak keras oleh sodokan sang dominan. Ia menggelinjang ketika merasakan penis Naruto mulai menyodok bagian prostatnya.

"Ahhk!—Yeah!—Sshh—disitu, Naruto—Ahhk!—Sodok bagian itu—Nghh!" Desah Sasuke rendah, mencoba tidak membuat banyak keributan.

Naruto semakin menghentak lebih cepat. "Apakah—hhh—disini?" Tanyanya lagi seraya membuat gerakan memutar dan menyodok lebih dalam.

Sasuke mengangguk dengan napas tercekat. "Yeah—Sshh!—Terus!"

Sang dominan yang sudah mendapatkan bagian titik sensitif Sasuke mulai mempercepat genjotannya lagi. Ia mencengkram paha putih itu dan melebarkannya lebih luas, membiarkan kejantanan sang Uchiha terekspos sempurna bersama lubang anus yang kini sedang disodoknya.

"Sasuke—hhh—jepit penisku lebih kuat." Pinta Naruto seraya mengusap bagian perut sang kekasih dan merasakan luka bekas jahitan operasi itu di tangannya.

Mata biru cerahnya menatap sosok sang Uchiha yang kini sedang mengerang kecil sembari bersandar pada lengan sofa. Mata onyx itu terpejam sayu menikmati sensasi nikmat di lubangnya. Ia berusaha kuat menggerakkan otot anusnya untuk terus menjepit batang kejantanan Naruto tanpa henti, memberikan sensasi remasan yang membuat pria pirang itu menggeram rendah.

"Ahh—Sasuke—Ghkk!—Nikmat—" Desah Naruto sembari memperdalam genjotannya di lubang anus yang becek itu.

Erangan Sasuke tercekat di tenggorokan saat ia merasakan tangan sang dominan bermain-main di dua buah bola testikelnya. Meremasnya dengan lembut. "Ahkk!—yess!—nghh!"

Sang Uchiha bergerak seduktif sambil mengocok batang penisnya sendiri. Membiarkan cairan precumnya terciprat keluar membasahi sisi perutnya.

Erangan dan desahan kedua pria itu menggema keras di ruang tamu. Memeriahkan ruangan yang tadinya sunyi senyap menjadi bunyi vulgar yang menggairahkan. Tidak ada satu pun dari mereka yang ingin berhenti, keduanya sibuk saling memanja dan bersetubuh.

Naruto masih dengan kegiatan menghentak pinggulnya, sedangkan Sasuke terus mendesah tanpa henti, mengeluarkan suara menggoda yang memacu libido pria pirang itu.

"Naruto—hhh—sodok anusku lebih dalam." Sasuke membuka belahan pantatnya, memberikan akses bagi kejantanan Naruto untuk terus menggagahinya.

Pria pirang itu menggeram rendah, menghentak liang anal tadi lebih liar dan brutal. Sodokan dilakukan terus menerus tanpa henti, membuat sang Uchiha mengerang keras sembari mencengkram lengannya dengan kuat.

"Sasuke—hhh—aku tidak tahan lagi—Ahhh—" Keringat Naruto menetes dari sisi kening. Napasnya terengah-engah tidak karuan saat kejantanannya mulai berdenyut tidak terkendali. Memompa cairan putih kentalnya dari testikel untuk menuju keluar.

Sasuke mendorong pinggul sang dominan dengan perlahan, menyuruhnya untuk berhenti bergerak. "Jangan keluar dulu—hhh—aku masih ingin terus disetubuhi olehmu." Ucapnya dengan suara parau.

Naruto menelan ludahnya dengan penuh nafsu saat melihat Sasuke membalikkan tubuhnya dan menunggingkan pantatnya ke arah sang Uzumaki. Pria raven itu membuka belahan pantatnya yang putih untuk menunjukkan lubang anusnya yang menganga lebar dan basah.

"Masukkan lagi, Naruto—hhh—penuhi lubangku dengan penismu." Pintanya dengan suara menggoda.

Naruto menjilat bibir bawahnya, terangsang. Ia meringsek maju dan kembali menepuk-nepukkan penisnya ke bongkahan pantat kenyal itu sebelum memasukkannya ke dalam lubang tadi.

Punggung Sasuke melengkung saat merasakan kejantanan besar itu kembali menerobos tubuhnya. Menggesek-gesek dinding rektumnya dengan gerakan kasar dan sedikit liar.

"Ahhhk!—Naruto—Nghh!—hhhh—" Pria raven itu meremas bantalan sofa dengan kuat, bertumpu pada kedua lututnya yang mulai goyah karena terus dihentak oleh sang dominan.

Kedua tangan tan itu mencengkram pinggang Sasuke dengan kuat, menarik dan mendorong tubuh putih itu untuk memanja selangkangannya yang bergerak keluar-masuk di lubang anus tersebut. Sesekali mencondongkan wajahnya untuk mengecup punggung dan bahu Sasuke penuh sayang.

Sasuke melebarkan pahanya, memberikan akses bagi Naruto untuk terus menyodok liangnya tanpa henti. "Ahhk!—Nghhh!—Naruto, penismu nikmat—Ahhhk!" Desahnya sembari berpegangan pada sisi sofa. Ia membuka mulutnya dan menjulurkan lidahnya yang licin untuk menyuplai oksigen ke paru-parunya. Jujur saja, sodokan Naruto membuat otaknya kehilangan akal, yang ada dipikirannya hanyalah rangsangan dan nafsu yang hampir membuatnya gila.

Naruto menggeram rendah. Napasnya terengah-engah tidak karuan dengan degup jantung yang cepat saat merasakan betapa nikmat dan hangatnya lubang pantat Sasuke. Ia benar-benar ketagihan akan pijatan serta remasan otot anus tersebut.

"Ghhk!—hhh—Sasuke, aku tidak tahan lagi—hhh—" Suara pria pirang itu tercekat di tenggorokan. Kejantanannya berdenyut tidak terkendali saat ia merasakan hampir mencapai titik kepuasannya.

Sasuke mengangguk paham. Ia menggerakkan pantatnya dengan cepat, membantu sang dominan untuk segera ejakulasi. "Ahhhk!—semprotkan di dalam anusku—Ahh!—Aku ingin spermamu." Racaunya lagi.

Naruto menghajar lubang itu lebih liar dan brutal. Menyodok titik prostat sang Uchiha tanpa henti. "Sasuke—hhh—tidak tahan—Aghk!" Ia menggeram rendah sembari bernapas cepat. Mencoba mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.

"Naruto—Ahhk!—Nghhh!—sedikit lagi—Ahh!—aku hampir keluar!" Desah sang Uchiha seraya mengocok kejantanannya sendiri.

Sang dominan menghentak lebih kuat, menghajar lubang anus itu tanpa ampun, membuat tubuh ramping Sasuke tersentak berkali-kali. "Ahhk!—Fuck!—Ghkk!" Naruto mengerang keras, peluh mulai membanjiri kening dan punggungnya. "Shit!—Ahhk!—Sasuke!" Ritme sodokannya semakin cepat, membuat lubang tersebut mengeluarkan suara becek yang sangat merangsang.

Suara Sasuke tercekat di tenggorokan, tubuhnya mulai bergetar hebat saat cairan putih hampir keluar dari ujung lubang urinalnya. "Naruto—Ahhhk!—tidak sanggup lagi—Ahhhk!—Aku keluar!—AHHKK!" Detik selanjutnya, sperma miliknya menyembur keluar membasahi bantalan sofa. Sasuke harus memeras cairannya hingga ke titik terakhir sebelum terengah-engah kelelahan.

Di belakang tubuhnya, Naruto terus menghajar lubang itu tanpa henti. Sang dominan menyentak terakhir kali sebelum menenggelamkan seluruh batang penisnya ke dalam rektum anus tersebut. "Ahhk!—Fuck!—Keluar!" Ia menggeram rendah. Pinggulnya bergetar saat seluruh benihnya mendesak keluar, menyemprot ganas dinding rektum sang Uchiha.

Naruto terengah-engah sejenak sebelum mengeluarkan seluruh batang kejantanannya dari lubang basah itu, membiarkan anus sang Uchiha menganga lebar dengan cairan sperma yang mulai menetes jatuh.

Sang Uzumaki memberikan kecupan lembut di punggung serta bahu Sasuke sebelum membalikkan badan ramping itu. Memaksa pria raven itu untuk berbaring telentang di atas sofa.

"Terima kasih—hhh—" Naruto meraih tangan Sasuke dan mengecupnya lembut. "Aku sangat mencintaimu." Ucapnya.

Sasuke tersenyum simpul, kemudian mengusap pipi tan itu penuh sayang. "Aku tahu, aku juga mencintaimu." Jawabnya seraya menyamankan posisi berbaringnya di atas sofa.

Naruto bangkit dan segera memakai celananya dengan cepat. "Ngomong-ngomong Sasuke, apa kau tidak ingin memberi kabar pada istrimu kalau sedang menginap di tempatku?" Tanyanya penasaran.

Sasuke mengerang pelan. "Tidak perlu, lagipula aku tidak mencintainya. Kami menikah hanya karena perjodohan yang dilakukan ayahku." Jelas pria itu.

Naruto duduk di tepi sofa sembari mengusap peluh yang ada di kening Sasuke. "Apa kau berniat untuk bercerai dengan istrimu?"

"Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Aku hanya..." Ada jeda sejenak dari kalimat sang Uzumaki sebelum ia berdehem kecil dan melanjutkan ucapannya. "...Aku hanya ingin tahu saja."

"Benarkah? Apa kau ingin aku bercerai dengan istriku?" Tanya Sasuke lagi, penasaran.

"Tidak... Well, kalau kau ingin bercerai maka aku tidak bisa menolak... Jadi, yeah... Aku harap kau cepat bercerai dengan istrimu." Kata Naruto salah tingkah.

Sasuke mengulum senyum. "Kau sama sekali tidak bisa berbohong, huh? Wajahmu itu ketahuan sekali menginginkanku untuk bercerai dengan istriku."

"Uhm, maaf."

"Tidak perlu minta maaf, lagipula aku memang berencana untuk bercerai dengan istriku." Sasuke mengangkat kedua tangannya, meminta digendong oleh Naruto.

Sang Uzumaki menuruti keinginan pria raven itu dan segera menggendongnya ala bridal style. "Kalau begitu, besok kita langsung mengurus surat perceraianmu dan setelah itu kita akan bicara dengan istrimu mengenai hal ini." Usul Naruto cepat.

Sasuke hanya mengangguk setuju. "Baiklah, tetapi sekarang aku ingin istirahat. Badanku pegal dan pantatku sakit. Aku ingin tidur di kamar bersamamu." Pintanya manja.

Naruto terkekeh kecil sembari menggendong tubuh ramping sang Uchiha untuk masuk ke dalam kamarnya. "Dengan senang hati, my precious king."

.

.

.

Kriiing!Kriing!

Jam weker berbunyi nyaring tepat di angka 7 pagi, membuat Menma yang sedang tertidur mulai membuka matanya perlahan. Ia merenggangkan otot sejenak sebelum bangkit dari lantai, memang tidur di bawah bukanlah pilihan yang bagus, seluruh persendiannya menjadi kaku dan nyeri.

Menma melirik ke atas ranjang, berharap menemukan sosok Boruto yang tengah tertidur, tetapi yang ditemukannya hanyalah kasur kosong yang sudah tertata rapi. Sepertinya pemudaa pirang itu sudah berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali tanpa membangunkannya. Menma memaklumi sikap Boruto yang marah dengannya, tadi malam ia memang terlalu egois untuk mengakhiri hubungan mereka, tetapi memang hanya itulah satu-satunya cara untuk berpisah.

Menma menggaruk rambut hitamnya sejenak sebelum berjalan keluar kamar menuruni anak tangga, namun langkahnya langsung terhenti saat melihat sang ayah yang sedang tertawa kecil karena digelitiki oleh Naruto.

Kedua pria dewasa itu tengah bercanda di ruang tamu. Naruto terlihat sudah memakai jas rapi dengan secangkir kopi hangat di tangannya, sedangkan Sasuke masih memakai piyama dan sibuk merapikan dasi pria pirang itu. Sesekali Naruto bertingkah jahil dengan menciumi leher dan pipi Sasuke, membuat sang Uchiha tertawa geli.

"Hentikan, Naruto. Menma bisa melihat kita." Ucap Sasuke seraya menghentikan sikap kekanakan pria tersebut.

"Aku yakin Menma masih tertidur di dalam kamar." Sahut Naruto lagi seraya menyesap kopi hangatnya. "Ngomong-ngomong, apa kau melihat Boruto?"

"Boruto sudah berangkat pagi-pagi sekali." Jawab Sasuke. Pria itu beralih untuk merapikan kerah kemeja Naruto. "Aku sudah membuatkannya sarapan tetapi ia menolak dan ingin segera pergi ke sekolah."

"Hmm, apa dia berangkat sekolah sendiri?"

"Ya, saat aku bertanya kenapa tidak berangkat bersama Menma, ia hanya menjawab kalau tidak enak membangunkannya." Sasuke menepuk jas Naruto dengan pelan sebelum tersenyum puas. "Sudah selesai." Ucapnya bangga.

Naruto melirik ke arah jas dan dasi nya. "Dari dulu kau memang selalu hebat soal urusan kerapian."

Sasuke tersenyum tipis kemudian mendorong bahu Naruto menuju dapur. "Sudahlah, cepat sarapan dan berangkat kerja sana." Perintahnya lagi.

Di dekat tangga, Menma hanya melihat hal itu tanpa berpaling sedikitpun. Ia tersenyum saat melihat wajah gembira sang ayah yang tidak pernah dilihatnya beberapa tahun ini. Selama menikah dengan Sakura, Sasuke selalu menunjukkan ekspresi marah dan kesal, tidak ada satu kesempatan pun ia memperlihatkan wajahnya yang tersenyum malu-malu.

Dan sekarang, saat melihat wajah sang ayah, Menma yakin kalau tindakannya untuk putus dengan Boruto tidaklah salah. Ia akan melakukan apapun untuk membuat sang ayah terus tersenyum lebar seperti itu, walaupun harus pindah sekolah ke luar negeri dan tidak akan bertemu Boruto lagi.

Menma mengusap wajahnya sejenak, mencoba merapikan raut wajah sedihnya. Ia tidak ingin membuat sang ayah khawatir. Ia harus tetap tersenyum lebar bagaimana pun caranya.

Pemuda berambut hitam itu berdehem kecil sebelum menyapa Sasuke. "Selamat pagi, Papa." Ia tersenyum lebar, berusaha memperlihatkan wajah berseri-seri.

Sasuke menoleh dan membalas sapaan itu dengan senyuman yang tak kalah ramahnya. "Pagi, Sayang. Bagaimana tidurmu?" Tanyanya.

Sepertinya akting Menma berhasil, sang ayah tidak mencurigai ekspresinya sama sekali. "Sangat nyenyak." Ia menuju ke arah dapur untuk sarapan.

Naruto yang tengah menikmati rotinya langsung menoleh saat langkah Menma bergerak mendekat. Ia tertawa lebar menampilkan senyuman menawan. "Pagi, Menma."

"Pagi, Ayah." Menma menjawab tanpa ragu, membuat Naruto dan Sasuke tersentak kaget.

Dua pria dewasa itu saling menatap satu sama lain, bertukar pandangan heran. Mereka pikir Menma tidak akan semudah itu menerima kenyataan kalau ayah kandungnya adalah Naruto, tetapi sepertinya pemikiran mereka berdua salah. Buktinya, sang anak dengan mudahnya memanggil Naruto dengan sebutan 'ayah'.

Menma melirik Naruto dan Sasuke bergantian. "Kenapa kalian melihatku seperti itu? Apa ucapanku ada yang salah?" Tanyanya heran.

"Tidak... Tidak ada yang salah." Sahut Naruto cepat dengan wajah memerah malu. "Aku hanya senang kau mau memanggilku 'ayah'." Lanjutnya lagi seraya menggaruk belakang kepalanya, salah tingkah.

Menma tersenyum tipis lalu duduk disebelah Naruto untuk mengambil rotinya, namun tangannya langsung dipukul oleh Sasuke dengan cepat saat ia mencoba menyambar roti bakarnya.

"Cuci muka, cuci tangan, dan gosok gigi dulu, setelah itu baru sarapan." Tegas sang raven.

Menma memasang tampang cemberut, berpura-pura kesal. Ia menatap Naruto meminta bantuan. "Ayah, aku lapar. Boleh 'kan kalau aku makan sekarang?"

Naruto mengusap kepala sang anak dengan lembut. "Tentu saja boleh." Kemudian pandangannya beralih pada Sasuke. "Sayang, biarkan anak kita sarapan. Lagipula tidak ada salahnya melonggarkan sedikit peraturan, ya 'kan?"

Sasuke mendesah kalah. "Baiklah, tetapi hanya untuk kali ini saja."

Menma dan Naruto bersorak senang sembari ber-high five merayakan kemenangan mereka.

Naruto mengacak rambut hitam sang anak sebelum tersenyum lebar. "Makanlah yang banyak, oke? Ayah harus segera berangkat kerja."

Menma mengangguk, memasukkan potongan roti ke mulutnya. "Hati-hati, Ayah." Ucapnya.

Sang Uzumaki mengangguk lalu mencium kening Menma penuh sayang. Ia kembali beralih pada Sasuke lalu mengecup lembut bibir itu. "Aku pergi dulu."

"Ya, hati-hati di jalan." Sasuke membalas kecupan Naruto dengan ciuman yang tak kalah mesranya. Kemudian melambai pelan saat pria pirang itu keluar dari rumah.

Setelah kepergian Naruto, Menma menghentikan menyantap rotinya dan berpaling ke arah Sasuke. "Papa, aku ingin berbicara sesuatu padamu."

Sasuke menoleh heran. "Berbicara denganku?" Tanyanya seraya mengambil tempat duduk dihadapan sang anak. "Memangnya kau ingin berbicara apa?"

"Ini soal kepindahan sekolahku." Menma mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya. "Aku setuju untuk pindah sekolah." Ucapnya akhirnya.

Sasuke mengerjap kaget. "Huh? Kau setuju?" Dahi pria raven itu berkerut heran. "Tetapi kenapa? Padahal papa bermaksud mencabut kepindahanmu."

"Tidak, jangan dicabut." Ucap Menma cepat seraya menggigit bibir bawahnya sebentar. "Aku ingin pindah sekolah, kalau bisa ke tempat yang jauh dari sini."

"Kemana? Apa kau ingin pindah ke luar kota?"

"Lebih jauh dari luar kota." Jelas Menma lagi. "Aku ingin pindah ke luar negeri."

Pernyataan sang anak sekali lagi membuat mata Sasuke membelalak kaget. "Tapi kenapa? Apa karena kau tidak menyukai Naruto? Ataukah karena bertengkar dengan Boruto?"

"Tidak keduanya. Aku hanya merasa sekolah ke luar negeri sangat bagus untuk pendidikanku." Bohongnya. Ia meraih segelas susu dan menegaknya dengan cepat, mencoba menetralisir kegugupannya.

Sasuke segera menyambar tangan sang anak untuk menghentikan kegiatan pemuda itu. "Katakan pada papa yang sejujurnya, kenapa kau ingin pindah sekolah?" Paksanya lagi.

Menma meletakkan gelas susunya di atas meja. Kemudian menggigit bibirnya kuat-kuat, masih enggan untuk berbicara jujur.

"Menma, jawab pertanyaan papa." Desak Sasuke, agak memaksa.

Pemuda itu menyerah dan akhirnya berbicara juga. "Aku hanya ingin berpisah dengan Boruto."

"Apa itu semua karena papa?" Tanya Sasuke, merasa bersalah pada sang anak.

Menma memalingkan wajahnya, enggan menatap sang ayah. "Ini bukan karena papa." Bohongnya lagi. "Semua ini karena kebodohanku karena tidak mengetahui bahwa Boruto adalah adikku, jadi papa tidak perlu khawatir."

Sasuke menyentuh pipi sang anak, mengusapnya dengan lembut. "Maafkan papa karena sudah membuat kalian berpisah." Ucapnya lirih. "Kalau kau memang ingin pindah sekolah, maka papa akan segera mempersiapkan dokumen kepindahanmu."

Menma meremas kedua tangannya dengan erat, bibirnya yang bergetar mencoba tersenyum tipis. "Terima kasih, papa."

.

.

_Konoha Gakuen, pukul 11.00 pagi_

.

Ruang kelas Boruto terlihat sunyi senyap. Tidak ada satu pun murid yang berada di dalam ruangan saat jam istirahat, kecuali Boruto seorang.

Pemuda pirang itu duduk di kursinya sembari menelungkupkan wajahnya. Sesekali mendesah berat dengan helaan napas panjang. Permasalahan cintanya membuat otaknya benar-benar stres. Boruto merasa Tuhan benar-benar mempermainkan dirinya. Bagaimana tidak? Saat ia mulai menerima dirinya sebagai seorang gay, tiba-tiba saja, kenyataan pahit menampar wajahnya dengan sangat telak. Sang 'mantan' kekasih yang selama ini dicintainya ternyata adalah kakaknya sendiri, bukankah itu realita yang sangat menyedihkan? Bahkan drama di televisi pun kalah menyedihkannya dibandingkan kehidupannya ini.

Boruto mengerang lirih sembari mengacak rambut pirangnya, jengkel. Seandainya saja ia bisa memutar waktu, mungkin ia tidak ingin hidup bersama sang ayah dan pindah ke sekolah ini, dengan begitu ia tidak perlu bertemu Menma.

"Kau terlihat depresi. Apa ada masalah menyangkut kakakku?" Suara Sarada dari ambang pintu membuat Boruto mendongakkan wajah dari meja.

"Oh, hai." Pemuda itu menyahut singkat.

Sarada berjalan masuk ke dalam ruang kelas dan duduk dihadapan Boruto. Gadis itu menepuk lengan sang Uzumaki dengan pelan. "Hei, katakan padaku, ada apa? Kenapa papa dan kak Menma tidak pulang tadi malam?"

Boruto melirik gadis berkacamata itu sejenak, kemudian bergumam lirih. "Mereka menginap di rumahku."

"Oh ya? Memangnya ada apa sampai menginap di rumah Boruto-senpai?" Tanya Sarada masih penasaran.

"Ceritanya panjang." Sahut Boruto malas.

"Persingkat saja." Desak gadis itu lagi. "Aku ingin tahu apa yang terjadi disana."

Boruto menopang wajahnya dengan malas sembari mengetuk-ngetuk meja. "Papamu, Uchiha Sasuke, adalah 'ibu' kandung Menma. Dia merahasiakan ini semua dari ayahku, yang ternyata adalah ayah dari Menma." Jelasnya sangat singkat.

Sarada terlihat terkejut. Matanya mengerjap cepat. "Ka—Kau serius?"

"Aku tahu ini terdengar gila, maksudku, siapa yang akan percaya kalau seorang pria bisa hamil dan melahirkan? That's fucking ridiculous."

"Yeah, inded. But is it really the truth? You're not joking, right?"

Boruto berdecak kecil. "Apa aku kelihatan sedang bercanda, Sarada-chan?" Tanyanya seraya menunjuk wajahnya yang jengkel.

"Jangan marah, aku hanya bertanya." Sahut Sarada lagi. Gadis itu membetulkan posisi kacamatanya sebelum kembali bicara. "Lalu setelah tahu hal tersebut, apa kau dan kak Menma masih pacaran?"

Ditampar dengan pertanyaan seperti itu membuat Boruto kembali memasang ekspresi putus asa. "Kami putus. Dia ingin kami berpisah saja. Menma bahkan mengatakan akan pindah sekolah secepatnya."

"Benarkah?" Sarada menatap pemuda pirang itu dengan kaget. "Wow, kisah percintaan kalian ternyata lebih rumit dibandingkan Romeo and Juliet."

Boruto hanya menanggapinya dengan desahan berat. "Kalau tahu begini, sejak awal aku tidak akan jatuh cinta pada kakakmu." Lirihnya.

Sarada tidak bisa bicara apa-apa lagi selain menepuk bahu Boruto dengan lembut, mencoba menyemangati pemuda pirang itu.

.

.

.

_Kediaman Uzumaki, pukul 13.00 siang_

.

Siang ini Naruto memiliki waktu bebas sehingga berencana untuk menjemput Sasuke, kemudian pergi ke kediaman pria Uchiha itu. Mereka berdua sepakat untuk berbicara dengan Sakura mengenai surat perceraian Sasuke dengan wanita itu. Sejujurnya saja, Sasuke yang bermaksud untuk menceraikan istrinya tersebut, sebab ia ingin hidup bersama dengan pria yang dicintainya.

Naruto memarkirkan mobilnya tepat di depan rumahnya, matanya melirik ke arah Sasuke yang tengah keluar dari pintu gerbang dengan berpakaian jas rapi.

"Apa kau sudah mengunci semua pintu?" Tanya Naruto sembari membuka pintu mobil, mempersilahkan pria raven itu untuk masuk.

Sasuke mengangguk dan duduk di jok samping kemudi. "Semua sudah ku kunci, tidak perlu khawatir." Ucapnya lagi. "Jadi, apa kau siap untuk bertemu istriku?" Tanyanya seraya melirik ke arah sang Uzumaki.

"Tentu saja aku harus siap." Naruto menarik persneling kemudian mengemudikan mobilnya dengan perlahan. "Lagipula kita harus membicarakan mengenai hubungan kita pada istrimu 'kan?"

"Apa kau yakin Sakura akan setuju mengenai perceraian ini?"

"Kenapa? Apa kau tidak ingin bercerai darinya?" Tanya Naruto melirik sang kekasih.

"Bukan itu, hanya saja, Sakura adalah tipe wanita yang sangat mengerikan. Ia akan melakukan apa saja untuk kepentingannya sendiri." Jelas Sasuke sembari menatap keluar jendela, memandangi padatnya lalu lintas di jalan raya.

Naruto menginjak pedal gas semakin kencang, melajukan kecepatan mobilnya. "Aku juga akan melakukan apapun untuk bisa bersamamu." Ujar pria itu. "Walaupun harus memaksa Sakura untuk menandatangi surat perceraiannya." Tegasnya lagi.

Sasuke mendengus geli. "Ya, aku tidak keberatan kau memaksanya dengan kekerasan. Lagipula aku juga sudah tidak tahan hidup bersama dengan wanita pemboros sepertinya."

Naruto tersenyum kecil, kemudian meremas tangan Sasuke penuh sayang. "Tenang saja, aku yakin semua bisa diatasi dengan baik."

.

Sayangnya, tidak semua permasalahan bisa diatasi dengan baik seperti yang dikatakan Naruto. Ada kalanya rencana mereka tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Seperti sekarang ini, saat Sasuke dan Naruto datang, Sakura menyambut mereka dengan pandangan heran sekaligus bingung, terlebih lagi sang suami menggandeng tangan pria pirang itu dengan sangat romantis. Membuat wanita berambut pink itu mengerutkan dahinya tidak suka.

"Sayang, kau darimana saja semalaman?" Tanya Sakura mencoba bersikap romantis seraya menggamit lengan Sasuke, tetapi pria raven itu segera menepisnya dengan cepat.

"Ada yang harus aku bicarakan padamu." Ujar sang Uchiha serius seraya masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu. Sakura mengikutinya dan duduk didepan sang suami dengan tampang heran, masih tidak mengerti situasi yang tengah dihadapinya itu.

Sasuke berdehem sejenak sebelum angkat suara. "Sakura, sebaiknya kita berpisah saja." Ujarnya mengeluarkan kalimat ultimatum. "Aku ingin bercerai denganmu dan hidup bersama pria ini. Dia adalah Uzumaki Naruto, kekasihku." Lanjutnya seraya menggandeng tangan Naruto dengan kuat.

Iris hijau itu terbelalak lebar. "Kau bilang apa, Sasuke?" Suara Sakura tercekat di tenggorokan saat mendengar permintaan suaminya itu. Ia tidak menyangka kalau pria yang dicintainya akan tega mengeluarkan surat cerai demi seorang—pria? Itu sangat tidak masuk akal dan konyol!

Terlebih lagi, Sasuke dan pria tersebut mendatangi rumahnya dan langsung berbicara tanpa basa-basi mengenai perceraian itu. Dan sekarang, Sakura harus terjebak di ruang tamu bersama sang suami dan pria yang bernama Uzumaki Naruto.

Sasuke berdehem sejenak. "Seperti yang kukatakan tadi, aku ingin bercerai denganmu." Ucapnya tegas, tidak merasa gentar saat manik hijau itu menatapnya tajam.

"Kau ingin bercerai denganku hanya untuk bersama pria ini?!" Sakura menaikkan intonasi suaranya seraya menunjuk Naruto dengan penuh benci.

"Ya, aku ingin bercerai denganmu karena Naruto." Jawab Sasuke tenang, sama sekali tidak mempedulikan wajah Sakura yang memerah murka.

"KAU TIDAK BISA MELAKUKAN HAL ITU PADAKU, SASUKE! AKU ISTR—!"

"DAN NARUTO ADALAH AYAH DARI ANAKKU MENMA!" Sasuke memotong teriakan Sakura dengan raungan yang tak kalah kerasnya. Membuat mata wanita itu membulat lebar.

"Ka... Kau bilang apa?"

Sasuke mengusap wajahnya sebentar sebelum menjawab. "Naruto... Dia adalah ayah kandung Menma, dan aku adalah 'ibu' yang melahirkan Menma."

Sakura merasa kepalanya terhantam oleh sepuluh ton batu besar, ia duduk terhuyung di sofa sembari menatap sang suami tidak percaya. "Kau bohong..." Suaranya tercekat. "Kau adalah pria, kau tidak bisa hamil begitu saja. Jangan coba membodohiku, Sasuke."

"Aku tidak membodohimu ataupun membohongimu, yang aku katakan adalah kenyataannya." Sasuke menjawab tenang. "Selama ini, aku tidak pernah menghamili wanita lain saat aku kuliah di luar negeri. Aku kuliah ke luar negeri semata-mata hanya untuk menutupi kehamilanku." Jelasnya.

Sakura memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut sakit. "Kau bohong... Pria tidak bisa hamil... Kau tidak mungkin hamil..."

"Kalau kau tidak percaya, aku bisa membuktikannya dengan tes DNA." Tantang Sasuke tanpa takut. "Aku tidak peduli mengenai pemikiranmu, yang aku pedulikan sekarang adalah menceraikanmu."

Bahu Sakura bergetar, kilat benci terpantul di mata hijau itu. "Aku tidak akan menandatangi surat perceraian." Ia mendesis rendah. "Dan kau tidak berhak memaksaku melakukan itu."

Sasuke mendelik ganas. Ia menyambar lengan sang istri dan menyentaknya keras. "Dengar Sakura, aku bisa melakukan kekerasan dan memaksamu untuk menandatangi surat perceraian."

"Coba saja kalau berani!" Sakura menantang. Ia menyentak genggaman pria raven itu dari lengannya. "Dan bila kau memaksa untuk melakukan perceraian, maka hak asuh anak berada di tanganku. Kau tidak bisa memiliki Menma karena tidak ada satu orang pun yang percaya kalau kau yang melahirkan Menma. Kau hanya akan dianggap sebagai suami yang tidak bertanggung jawab dan berselingkuh dengan seorang gay!" Ucap wanita itu lagi.

Sasuke menggeram murka. "Kau tidak bisa melakukan it—"

"YA, AKU BISA MELAKUKAN APA SAJA!" Sakura berdiri dengan cepat, wajahnya terdongak angkuh. "AKU AKAN MENGAMBIL MENMA DARIMU DAN MENYIKSA ANAKMU SAMPAI MATI!"

Wajah Sasuke mengeras mendengar kalimat wanita itu. Ia mengepalkan tangannya, bersiap untuk memukul wajah pongah sang istri. Namun aksinya tersebut segera dicegah oleh Naruto.

Sang Uzumaki menggenggam tangan Sasuke dan meremasnya lembut, mencoba menenangkan sang kekasih.

"Sasuke, jangan terbawa emosi." Naruto berbisik pelan. "Kalau kau memukulnya, maka wanita itu akan menang. Ia bisa menuntutmu dan mengambil hak asuh Menma." Tegas pria pirang itu lagi.

Sasuke mengangguk paham. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya sejenak sebelum menatap Sakura penuh kebencian. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk menandatangi surat perceraian itu." Ucapnya akhirnya.

Naruto melirik sang raven dengan mata mengerjap kaget. "Sasuke, apa maksu—"

"Sebagai gantinya..." Sasuke kembali bicara, memotong kalimat pria pirang itu. Matanya masih menatap tajam ke arah sang istri. "... Naruto dan anaknya akan hidup bersama kita di rumah ini... Selamanya." Tegasnya.

Sakura terperangah, terkejut. "Kau tidak bisa melak—"

"Kalau begitu tanda tangani surat perceraiannya." Paksa Sasuke lagi. "Kau hanya punya dua pilihan, Sakura. Memilih bercerai atau tinggal bersama Naruto dan anaknya di rumah ini."

Wanita berambut pink itu menggeram kesal. Matanya melirik Sasuke dan Naruto bergantian dengan tatapan bengis. "Lakukan apapun yang kalian suka, aku tetap pada pendirianku untuk tidak bercerai."

"Bagus, kalau begitu jangan merengek meminta apapun dariku, sebab aku tidak akan mau membiayai hidupmu satu peser uang pun." Balas Sasuke lagi. "Ayo Naruto, kita ambil barang-barangmu dan pindah ke rumahku." Jelasnya seraya menggandeng tangan sang Uzumaki menjauh, meninggalkan Sakura yang masih berdiri dengan tubuh gemetar penuh emosi.

Mata hijau zamrud itu berkilat memantulkan kebencian. 'Jadi begini caramu bermain, Uchiha Sasuke? Kalau begitu aku tidak akan segan-segan lagi melakukan apapun untuk menyingkirkan anakmu beserta pria brengsek itu.' Ucapnya dalam hati. 'Lihat saja, Sasuke, akan kupastikan kau bersujud meminta ampun di bawah kakiku.'

.

TBC

.

.

Yuhuuu~~ Maaf telat update... Entah kenapa sekarang ini, aku lagi kena demam WB, tapi aku berusaha menyelesaikan fic ini sampai tamat kok... Semoga dua chapter lagi selesai... Doain ya, teman!

Btw, kalau ada typo dan sejenisnya tolong diberitahu ya, soalnya aku cepat-cepat update sampai-sampai gak memperhatikan yang lainnya lagi... hehehe

.

RnR!